Anda di halaman 1dari 10

1

2
PERPAJAKAN INTERNASIONAL

BAB 4

Disusun Oleh :

Nama : Surya Indah Yani


NIM : 1406020014
Kelas : Akuntansi 6-B (Sore)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM SYEKH-YUSUF


TANGERANG2017

3
PERPAJAKAN INTERNASIONAL

BAB IV

PEMAJAKAN WAJIB PAJAK LUAR NEGERI

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak


luar negeri dari Indonesai, Undang-Undang PPh menganut dua
sistem pengenaan pajak berikut.
1. pemenuhan sendiri (self assessment system) kewajiban
perpajakannya bagi wajib pajak luar negeri yang menjalankan
usaha/melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia.
2. Pemotongan (witholding system) oleh pihak yang wajib
membayar bagi wajib pajak luar negeri yang menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia.

Pada bagian ini dibahas mengenai pemajakan wajib pajak luar


negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia
tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui
bentuk usaha tetap di Indonesia.

Ketentuan yang mengatur mengenai pemotongan atas


penghasilan yang bersumber di Indonesia yang diterima atau
diperoleh wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap diatur di
Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang PPh.

A. PPh atas Deviden, Bunga, Royalti, dan Penghasilan


Lainnya

Atas penghasilan berupa berikut ini.


a. Dividen
b. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan
dengan jaminan pengembalian utang.
c. Royalty, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta.
d. Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan.
e. Hadiah dan penghargaan.
f. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya.
g. Premi sewa dan transaksi lindung nilai lainnya.
h. Keuntungan karena pembebasan utang.

Dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang dibayarkan,


disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo
pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan
perusahaan luar negeri lainnya kepada wajib pajak luar negeri selain

4
bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak PPh Pasal 26
sebesar 20% dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan.
23

Dengan demikian, misalnya suatu badan subjek pajak dalam


negeri membayarkan royalti sebesar Rp 100.000.000 kepada wajib
pajak luar negeri, maka subjek pajak dalam negeri tersebut
berkewajiban untuk memotong pajak penghasilan sebesar 20% dari
Rp 100.000.000 = Rp 20.000.000.

Sebagai contoh lain, seorang atlet dari luar negeri yang ikut
mengambil bagian dalam perlombaan lari marathon di Indonesia,
dan kemudian merebut hadiah uang Rp 200.000.000, maka atas
hadiah tersebut dikenai pemotongan pajak penghasilan sebesar
20% dari Rp 200.000.000 = Rp 40.000.000. pemotongan pajak
penghasilan oleh pemotong pajak, dilakukan pada akhir bulan. 24
a. dibayarkannya penghasilan;
b. disediakan untuk dibayarkannya penghasilan; atau
c. jatuh temponya pembayaran penghasilan yang bersangkutan,
tergantung peristiwa yang terjadi terlebih dahulu.

Dengan demikian, maka saat terutang pajak penghasilan


adalah pada saat pembayaran, saat disediakan untuk dibayarkan
(seperti: dividen) dan jatuh tempo (seperti: bunga dan sewa), saat
yang ditentukan dalam kontrak atau perjanjian atau faktur (seperti:
royalti, imbalan jasa teknik atau jasa manajemen atau jasa lainnya).

Yang dimaksud dengan saat disediakan untuk dibayarkan


adalah seperti berikut.
a. Untuk perusahaan yang tidak go public, adalah saat dibukukan
sebagai utang dividen yang akan dibayarkan, yaitu pada saat
pembagian dividen diumumkan atau ditentukan dalam Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Demikian pula apabila
perusahaan yang bersangkutan dalam tahun berjalan
membagikan dividen sementara (dividen interim), maka PPh
Pasal 26 terutang pada saat diumumkan atau ditentukan dalam
rapat direksi atau pemegang saham sesuai dengan anggaran
dasar perseroan yang bersangkutan.
b. Untuk perusahaan yang go public adalah pada tanggal
penentuan kepemilikan pemegang saham yang berhak atas
dividen (recording date). Dengan perkataan lain, pemotongan
PPh Pasal 26 atas dividen baru dapat dilakukan setelah para
pemegang saham yang berhak menerima atau memperoleh
dividen tersebut diketahui, meskipun dividen tersebut belum
diterima secara tunai.

Yang dimaksud dengan saat jatuh tempo pembayaran adalah


saat kewajiban untuk melakukan pembayaran yang didasarkan atas
kesepakatan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis dalam kontrak
atau perjanjian atau faktur.

5
Sebagai catatan, dalam hal wajib pajak luar negeri tersebut
berdomisili di Negara mitra P3B (treaty partner) maka pengenaann
pajak dan termasuk tarif pajaknya tunduk pada ketentuan P3B.
Berdasarkan Pasal 26 ayat (1a) diatur bahwa Negara domisili dari
wajib pajak luar negeri yang sebenernya menerima manfaat dari
penghasilan tersebut (beneficial owner).

B. PPh Atas Premi Asuransi

Berdasarkan Pasal 26 ayat (2) atas penghasilan dari premi


asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri
dipotong pajak 20% dari perkiraan penghasilan neto. Besarnya
perkiraan penghasilan neto adalah sebagai berikut. 25
a. atas premi dibayar tertanggung kepada perusahaan asuransi di
luar negeri, baik secara langsung maupun melalui pialang,
sebesar 50% dari jumlah premi yang dibayar.
b. Atas premi yang dibayar oleh perusahaan asuransi yang
berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar
negeri, baik secara langsung maupun melalui pialang, sebesar
10% dari jumlah premi yang dibayar.
c. Atas premi yang dibayar oleh perusahaann reasuransi yang
berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar
negeri, baik secara langsung maupun melalui pialang, sebesar
5% dari jumlah premi yang dibayar.

Dengan demikian, besarnya perkiraan penghasilan neto


perusahaan asuransi luar negeri serta tarif efektif PPh Pasal 26
adalah sebagai berikut.

N Pembayaran Premi Perkiraan Tarif Efektif PPh


o di Indonesia Penghasilan Neto Pasal 26 dari Jumlah
dari Jumlah Premi Premi yang Dibayar
yang Dibayar
1 Tertanggung 50% 10%
2 Perusahaan 10% 2%
Asuransi
3 Perusahaan 5% 1%
Reasuransi

Contoh :
Suatu perusahaan penyewaan gedung kantor, PT A,
mengasuransikan bangunan bertingkat langsung ke
perusahaan asuransi di luar negeri dengan membayar jumlah
premi selama tahun 2015 sebesar Rp 1 miliar. Besarnya
perkiraan panghasilan neto perusahaan asuransi luar negeri
adalah: 50% x Rp 1 miliar = Rp 500.000.000. Besarnya PPh
Pasal 26 yang harus dipotong oleh PT A selama tahun 2015

6
adalah: 20% x Rp 500.000.000 = Rp 100.000.000 atau (10% x
Rp 1 miliar).

Jika PT A mengasuransikan kepada perusahaan asuransi di


dalam negeri, PT B, dengan membayar jumlah premi yang
sama sebesar Rp 1 miliar, dan kemudian PT B mere-
asuransikan sebagian polis asuransi tersebut kepada
perusahaan asuransi luar negeri dengan membayar premi
sebesar Rp 500 juta, maka besarnya perkiraan penghasilan
neto perusahaan asuransi di luar negeri adalah: 10% x Rp 500
juta = Rp 50.000.000 dan PPh Pasal 26 yang wajib dipotong
oleh PT B adalah 20% x Rp 50 juta = Rp 10.000.000 (2% x Rp
500.000.000).

Pembayaran premi asuransi atau premi reasuransi dapat


dilakukan oleh pembayar premi di Indonesia secara langsung
kepada perusahaan asuransi di luar negeri atau melalui pialang.
Pihak pembayar premi atau pemotong pajak di Indonesia wajib
memotong PPh Pasal 26 atas premi asuransi atau premi reasuransi
yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi atau perusahaan
reasuransi di luar negeri. Dengan demikian, yang dimaksud dengan
pihak pembayar premi atau pemotong PPh Pasal 26 adalah:
a. tertanggung, yaitu pemegang polis yang membayar premi
suransi kepada perusahaan asuransi di luar negeri; atau
b. perusahaan asuransi di Indonesia yang mereasuransikan
sebagian atau seluruh tanggungannya kepada perusahaan
asuransi di luar negeri; atau
c. perusahaan reasuransi di Indonesia yang mereasuransikan
kembali sebagian atau seluruh tanggungannya kepada
perusahaan asuransi di luar negeri.

Pada saat melakukan pemotongan PPh Pasal 26, pihak membayar


premi tersebut wajib membuat Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan
Pasal 26 dalam rangkap 3; yaitu lembar pertama diberikan kepada
perusahaan asuransi di luar negeri, lembar kedua untuk dikirimkan
kepada kantor pelayanan pajak setempat, dan lembar ketiga untuk
arsip pemotong pajak. Pemotong pajak tersebut wajib menyetor PPh
Pasal 26 setiap bulan kepada bank persepsi atau kantor pos dan giro
selambat-lambatnya tanggal 10 (sepuluh) bulan takwim berikutnya
setelah bulan saat terutangnya pajak. Pemotong pajak wajib
melaporkan pemotongan serta penyetoran PPh Pasal 26 yang telah
dilakukan selambat-lambatnya tanggal 20 (dua puluh) bulan takwim
berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak dengan
menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 26
dengan melampirkan:
a. Daftar Bukti Pemotongan PPh Pasal 26;
b. Lembar kedua Bukti Pemotongan PPh Pasal 26;
c. Lembar ketiga Surat Setoran Pajak (SSP).

7
C. Pasal Atas Penjualan Harta

Berdasarkan Pasal 26 ayat (2) atas penghasilan dari penjualan


atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal
4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh wajib pajak luar negeri
selain bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak 20% dari
perkiraan penghasilan neto. Lebih lanjut dalam pengenaan PPh
tersebut bersifat final. 26 Terhadap wajib pajak luar negeri yang
berkedudukan di Negara-negara yang telah mempunyai Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan Indonesia, pemotong
pajak hanya dilakukan apabila berdasarkan P3B yang berlaku, hak
pemajakannya ada pada pihak Indonesia.

Besarnya perkiraan penghasilan neto adalah 25% dari harga jual,


sehingga tarif efektifnya sebesar 5% dari harga jual. Penjualan atau
pengalihan harta tersebut adalah penjualan atau pengalihan harta
berupa perhiasan mewah, berlian, emas, intan, jam tangan mewah,
barang antic, lukisan, mobil, motor, kapal pesiar, dan/atau pesawat
terbang ringan.

Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia


yang diterima atau diperoleh wajib pajak luar negeri dipotong pajak
penghasilan Pasal 26 oleh pembeli yang ditunjuk sebagai pemotong
pajak dan kepada wajib pajak luar negeri selaku penjual diberikan
bukti pemotongan pajak penghasilan Pasal 26. Bagi wajib pajak
orang pribadi luar negeri yang menerima atau memperoleh
penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta yang besarnya
tidak melebihi Rp 10.000.000 untuk setiap jenis transaksi,
dikecualikan dari pemotongan pajak penghasilan Pasal 26. Pembeli
yang ditunjuk sebagai pemotong pajak adalah badan pemerintah,
subjek pajak badan dalam negeri yang ditunjuk sebagai pemotong
pajak. Orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk
sebagai pemotong pajak adalah:
a. pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai,
dan aktuaris, yang melakukan pekerjaan bebas;
b. orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan
pembukuan.

Kepala kantor pelayanan pajak tempat orang pribadi wajib pajak


dalam negeri terdaftar menerbitkan Surat Keputusan Penunjukan
Orang Pribadi Wajib Pajak Dalam Negeri sebagai Pemotong Pajak
Penghasilan Pasal 26. Pemotong pajak pengahasilan Pasal 26 wajib:
a. memotong pajak penghasilan Pasal 26 yang terutang pada saat
dilakukan pembayaran atau saat terutangnya penghasilan,
tergantung peristiwa mana yang terjadi lebih dahulu; dan
b. menyetorkan pajak penghasilan Pasal 26 dengan menggunakan
nama wajib pajak luar negeri yang berikutnya setelah bulan
terjadinya transaksi ke kas Negara melalui kantor pos atau bank
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

8
Dalam hal tanggal jatuh tempo penyetoran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) bertepatan dengan hari libur, termasuk hari
Sabtu atau hari libur nasional, maka saat penyetoran dapat
dilakukan pada hari kerja berikutnya. Penyetoran pajak penghasilan
dilakukan dengan menggunakan surat setoran pajak atau sarana
administrasi lain yang disamakan dengan surat setoran pajak.
Pemotong pajak penghasilan Pasal 26 memberikan tanda bukti
pemotongan kepada wajib luar negeri selain bentuk usaha tetap
(BUT) yang dipotong pajak penghasilan setiap melakukan
pemotongan.

Pemotong pajak penghasilan Pasal 26 wajib melaporkan pajak


penghasilan Pasal 26 yang dipotong dengan surat pemberitahuan
masa kepada kantor pelayanan pajak tempat wajib pajak terdaftar
paling lama tanggal 20 bulan berikutnya. Dalam hal tanggal jatuh
tempo pelaporan bertempat dengan hari libur termasuk hari Sabtu
atau hari libur nasional, maka saat pelaporan dapat dilakukan pada
hari kerja berikutnya.

D. PPh Atas Penjualan Saham

Atas penghasilan dari penjualan saham Perseoran yang diperoleh


wajib pajak luar negeri (WPLN) selain Bentuk Usaha Tetap (BUT)
dipotong PPh Pasal 26 sebesar 20% dari perkiraan penghasilan neto.
27
Besarnya perkiraan penghasilan neto sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) adalah 25% (dua puluh lima persen) dari harga jual,
sehingga besarnya PPh Padal 26 adalah 20% x 25% atau 5% dari
harga jual. Pembayaran PPh tersebut bersifat final.

Penghasilan dari penjualan saham di dalam negeri yang


diperoleh atau diterima WPLN dipotong pajak oleh pembeli yang
ditunjuk sebagai pemotong pajak dan kepadanya diberikan bukti
pemotongan PPH Pasal 26. Perseroan hanya mencatat akta
pemindahan hak atas saham yang dijual apabila kepadanya
dibuktikan oleh WPLN bahwa PPh Pasal 26 yang terutang telah
dibayar lunas dengan menunjukkan aslinya. Dalam hal
pembeliannya adalah WPLN, maka yang ditunjuk sebagai pemungut
pajak adalah perseroan.

Pemotongan pajak wajib memotong dan menyetorkan PPh Pasal


26 yang terutang selambat-lambatnya tanggal 10 bulan takwim
berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak di bank persepsi
atau kantor pos, dan melaporkannya kepada Direktur Jenderal Pajak
selambat-lambatnya 20 hari setelah masa pajak berakhir.
Pelaksanaan pemungutan dan penyetoran pajak dilakukan oleh
perseroan dengan menggunakan nama WPLN pemegang saham
selambat-lambatnya tanggal 10 bulan takwim berikutnya setelah
bulan saat terutangnya pajak di bank persepsi atau kantor pos, dan

9
melaporkannya kepada Direktur Jenderal Pajak selambat-lambatnya
20 hari setelah masa pajak berakhir.

10