Anda di halaman 1dari 8

METODE PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN

Kebuntingan adalah periode dari mulai terjadinya fertilisasi sampai


terjadinya kelahiran normal (Soebandi, 1981) sedangkan menurut Frandson
(1992) menyatakan kebuntingan berarti keadaan anak sedang berkembang
didalam uterus seekor hewan. Kebiasaan peternak, periode kebuntingan pada
umumnya dihitung mulai dari hari pertama perkawinan.

Tujuan lain dalam melakukan diagnosa kebuntingan sedini mungkin


adalah untuk menghindari : anestrus berkepanjangan yang diakibatkan oleh
gangguan fungsi atau penyakit di dalam ovarium dan uterus
seperti :hypofungsi, cystic ovarium yaitu kista CL, luteal cyst dan kista folikel
ataupun pyometra, dimana semuanya dapat menutupi gejala kebuntingan. Jika
gangguan fungsi atau penyakit di atas dapat dikendalikan sedini mungkin, maka
reproduktifitas tetap diharapkan seoptimal mungkin. (Elzida,2013)

Deteksi kebuntingan merupakan salah satu tindakan yang penting


dilakukan untuk mengetahui bunting atau tidaknya seekor sapi atau untuk
mengetahui normal tidaknya saluran reproduksi ternak tersebut. Pemeriksaan
kebuntingan ini juga merupakan salah satu cara untuk memonitor dan
membuktikan basil Inseminasi Buatan secara cepat dan layak. Siklus berahi yang
dipergunakan sebagai dasar diagnosa hasil IB adalah berkisar antara 28-35 hari.
Pemeriksaan kebuntingan sebaiknya dilakukan setelah 60 hari pasca Inseminasi
Buatan, dikhawatirkan terjadi keguguran.

Tujuan Pemeriksaan Kebuntingan


Pemeriksaan kebuntingan pada sapi ini memiliki suatu tujuan, diantaranya yaitu:
1. Untuk menentukan bunting tidaknya sapi sedini mungkin
2. Untuk mengetahui adanya kelainan di saluran reproduksi yang dapat menjadi
penyebab sapi sulit bunting
3. Untuk meningkatkan efisiensi manajemen peternakan melalui identifikasi sapi
yang tidak bunting dapat segera dikawinkan kembali dengan penundaan waktu
seminimal mungkin.
4. Mengindentifikasi ternak yang tidak bunting segera setelah perkawinan atau IB
sehingga waktu produksi yang hilang karena infertilitas dapat ditekan dengan
penanganan yang tepat.
5. Sebagai pertimbangan apabila ternak harus dijual atau di culling
6. Untuk menekan biaya pada breeding program yang menggunakan teknik
hormonal yang mahal
7. Membantu manajemen ternak yang ekonomis

Metode Pemeriksaan Kebuntingan

1. Palpasi Rektal

Palpasi Rektal merupakan salah satu cara untuk melakukan diagnosis


kebuntingan dengan cara tangan dimasukkan lewat rektum untuk melakukan
perabaan terhadap uterus ataupun ovarium. Prosedur ini paling tepat dilakukan
oleh Dokter Hewan, setidaknya karena penanganan uterus yang tidak benar pada
masa awal kebuntingan dapat mengganggu perkembangan fetus dan kadang
kadang dapat mengakibatkan kematian fetus.Tujuan dari palpasi ini adalah untuk
mendeteksi adanya pembesaran uterus yang bunting dengan ditandai adanya isi
fetus, dengan hati hati diraba rasakan diantara telunjuk dan ibu jari. Pada palpasi
ovarium untuk mengetahui adanya korpus luteum yang masak.

Prosedurnya adalah palpasi uterus melalui dinding rektum untuk meraba


pembesaran yang terjadi selama kebuntingan, fetus atau membran fetus. Teknik
ini baru dapat dilakukan pada usia kebuntingan di atas 30 hari.

Umur Kebuntingan
Perubahan yang Terjadi
(Bulan)

Pertama Uterus statis dengan CL yang tumbuh pada satu ovarium


Kedua Pembesaran tanduk uterus karena adanya cairan fetus

Ketiga Uterus mulai turun, fetus teraba

Uterus berada pada lantai abdominal, fetus sulit teraba,


Keempat-Ketujuh cotiledon:diameter 2-5cm teraba pada dinding uterus, arteri
uterinamedia hypertrofi dan terjadi fremitus

Ketujuh-menjelang akhir Cotyledon, fremius dan bagian dari fetus dapat diraba
Tabel 1. Diagnosa Kebuntingan pada Sapi dengan Palpasi Rectal

Pada umur kebuntingan muda dapat ditemukan beberapa perubahan di


dalam uterus yang meliputi penipisan dinding uterus, pengumpulan cairan
allantois di dalam kedua tanduk kornua yang mulai dapat ditemukan pada umur
kebuntingan 8 minggu, dan hilangnya bagian runcing di ujung tanduk kornua.
Pada sapi dara fremitus dalam arteri uterina media mulai dapat dideteksi pada
umur kebuntingan 13 minggu. Kotiledon mulai dapat ditemukan pada umur
kebuntingan 13 - 16 minggu. Kotiledon pertama kali dapat dikenali melalui
palpasi rektal pada umur kebuntingan antara 3t - 4 bulan, dengan cara meraba
garis tengah sepanjang 8 - 10 em di depan agak ke bawah pinggir pelvis. Bahwa
ketrampilan seseorang untuk dapat melalui diagnosa kebuntingan secara tepat
hanyalah mungkin setelah umur kebuntingan mencapai 60 hari atau lebih.

Tanda-tanda yang sering dipakai selama memeriksa kebuntingan pada sapi


dengan palpasi rektal yaitu beberapa ukuran dan posisi uterus dapat dipakai juga
membantu menentukan umur kebuntingannya antara lain :

Kebuntingan 3,5-4 bulan

Kedudukan uterus yang bunting belum mencapai dasar rongga abdominal


sehingga masih bisa dirangkul dengan 1 telapak tangan dengan masing-masing
jari tangan terbuka ditambah pula masih terdapat kelebihan uterus bunting yang
tidak terangkul oleh telapak tangan. Plasentum sebesar 1 ruas jari telunjuk dapat
diraba dan fetus yang semakin aktif bergerak menyentuh-nyentuh telapak tangan
kita betul-betul dapat dirasakan fremitus arteri uterine media untuk pertama
kalinya dapat dirasakan hingga akhir kebuntingan.

Kebuntingan 5 bulan

Fetus tidak bisa diraba keseluruhan tubuhnya, hanya bagian anteriornya


saja kalau situs longitudinal anterior dan bagian posteriornya saja bila situsnya
longitudinal posterior. Kedudukan fetus didasar abdomen sebelah kanan, tapi
belum mencapai kedudukan paling jauh dari aboral. Placentum teraba sebesar
buah kemiri, fremitus arteri uterine terasa semakin deras.

Kebuntingan 6 bulan

Fetus paling sering tidak dapat diraba sebab kedudukannya paling jauh ke
oral didasar abdominal sebelah kanan. Placentom (karunkula dan kotiledon) terasa
semakin besar (1 buah pala) setiap placentom yang berjumlah 80-100 buah.
Demikian pula fremitus (arterial thrill) akan terasa semakin keras. Walaupun
hanya 2 gejala klinis yang dapat diraba tanpa dapat meraba foetus, ini sudah suatu
pertanda bahwa kebuntingan berumur 6 bulan, sebab false positif sangat jarang
tejadi pada sapi.

Kebuntingan 7-9 bulan

Pada umur 7 bulan hingga 9 bulan tidak banyak tanda-tanda kebuntingan


yang bisa dipakai untuk memisahkan diagnosa umur kebuntingan 7 bulan, 8
bulan, dan 9 bulan kecuali tanda-tanda letak foetus pada 7 bulan, sudah kembali
ke bagian anterior atau posterior dapat diraba. Proporsi bagian foetus ini akan
bertambah banyak dapat diraba bila kebuntungan sudah mencapai 8 bulan, dimana
kaki dan kepala fetus sudah mengarah ke pelvic brim, dan umur 9 bulan kaki
depan (posisi anterior) sudah berada di rongga pelvis, disamping itu dagu sudah
mendarat diatasnya os pubis yang paling anterior. Fremitus dan placentom dapat
diraba masing-masing makin kuat dan makin besar. Selain itu pada periode umur
kebuntingan 8-9 bulan, vulva sangat membengkak diikuti oleh keluarnya lendir
transparan dari vulva, dan pada waktu dalam keadaan berbaring labia mayor vulva
akan terbuka

Metode klinik sangat memuaskan untuk mendiagnosa kebuntingan apabila


dalam palpasi dapat ditemukan kantong amnion di dalam uterus. Kantong amnion
dapat dipalpasi pada umur kebuntingan 5 minggu dan cara ini telah digunakan
oleh beberapa operator dalam mendeteksi kebuntingan dan menentukan umur
kebuntingan.

Perubahan yang terjadi di dalam uterus pada umur kebuntingan diatas tiga
bulan, bahwa serviks dalam keadaan tertarik ke arah pinggir pelvis dan sementara
karena berat turun ke lantai pelvis. Fetus mencapai abdomen pada umur
kebuntingan antara 5- 7 bulan. Fetus dapat dipalpasi pada umur kebuntingan 120 -
160 hari dan dalam prakteknya lebih dari 50% dapat dilakukan, walaupun dalam
kasus lain mungkin fetus tidak dapat dipalpasi.

2. Diagnosa Kebuntingan berdasarkan Konsentrasi Hormon

Pengukuran hormon-hormon kebuntingan dalam cairan tubuh dapat


dilakukan dengan metoda RIA dan ELISA. Metoda-metoda yang menggunakan
plasma dan air susu ini, dapat mendiagnosa kebuntingan pada ternak lebih dini
dibandingkan dengan metoda rectal. Sedangkan metode RIA mempunyai
kemampuan untuk menentukan zat-zat fisiologis sampai konsentrasi yang sangat
rendah sekali mencapai konsentrasi pictogram (1 pg = 10-12 gram) untuk setiap
satuan ml. Dengan metode ini hampir semua hormon dapat diukur kadarnya. Akan
tertapi secara komersil, metoda RIA terlalu mahal untuk digunakan sebagai
metoda diagnosis kebuntingan.

Progesteron

Progesteron dapat digunakan sebagai test kebuntingan karena CL hadir


selama awal kebuntingan pada semua spesies ternak. Level progesteron dapat
diukur dalam cairan biologis seperti darah dan susu , kadarnya menurun pada
hewan yang tidak bunting. Progesteron rendah pada saat tidak bunting dan tinggi
pada hewan yang bunting. Test pada susu lebih dianjurkan dari pada test pada
darah, karena kadar progesteron lebih tinggi dalam susu daripada dalam plasma
darah. Lagi pula sample susu mudah didapat saat memerah tanpa menimbulkan
stress pada ternaknya. Sample susu ditest menggunakan radio immuno assay
(RIA). Sample ini dikoleksi pada hari ke 22 24 setelah inseminasi. Teknik
koleksi sample bervariasi namun lebih banyak diambil dari pemerahan sore hari.
Bahan preservasi seperti potasium dichromate atau mercuris chloride ditambahkan
untuk menghindari susu menjadi basi selama transportasi ke laboratorium.
Metoda ini cukup akurat, tetapi relatif mahal, membutuhkan fasilitas laboratorium
dan hasilnya harus menunggu beberapa hari. Kit progesteron susu sudah banyak
digunakan secara komersial di peternakan-peternakan dan dapat mengatasi
problem yang disebabkan oleh penggunaan RIA yaitu antara lain karena
keamanan penanganan dan disposal radioaktivnya.. Test dapat dilakukan baik
dengan enzyme-linked immuno assay (ELISA) maupun latex aggluination assay.

Estrone Sulphate

Pada usia kebuntingan 4 bulan akhir sapi akan mengekskresikan 10 X lipat


hormone esterogon didalam air seninya dibanding sesudah melahirkan. Estrone
sulphate adalah derifat terbesar estrogen yang diproduksi oleh konseptus dan
dapat diukur dalam plasma maternal, susu atau urine pada semua species ternak.
Estrone sulphate dapat dideteksi dalam plasma lebih awal pada sapi hari ke 72.

Gonadotropin

Equine chorionic gonadotropin (eCG atau PMSG) muncul dalam darah


sapi 40 hari setelah konsepsi dan deteksi kehadirannya merupakan bukti
terjadinya kebuntingan. Diagnosa kebuntingan secara imunologi pada sapi
berdasarkan pada eCG tersebut, dimana kehadirannya dalam sampel darah
diperiksa dengan hemagglutination inhibition ( HI ) test. Bila terjadi aglutinasi
dari sel darah merah berarti negative (yaitu tidak bunting) dan apabila terjadi
inhibisi dari aglutinasi, artinya hasilnya positive. Test ini akan lebih akurat apabila
dilakukan antara hari ke 50 dan 100 kebuntingan. Pada kejadian fetus yang mati
dalam periode ini, plasma eCG akan tetap tinggi. Oleh sebab itu apabila
pengukuran eCG dilakukan setelah fetus mati, maka akan menghasilkan false
positive.

3. Non Return to Estrus (NR)

Selama kebuntingan, konseptus menekan regresi corpus luteum (CL) dan


mencegah hewan kembali estrus. Oleh sebab itu, apabila hewan tidak kembali
estrus setelah perkawinan maka diasumsikan bunting.
Pada sapid an kerbau,ketidakhadiran estrus setelah perkawinan digunakan
secara luas oleh peternak dan sentar-sentra IB sebagai indicator terjadinya
kebuntingan, tetapi ketepatan metode ini tergantung dari ketetapan deteksi
estrusnya. Pada kerbau, penggunaan metode NR ini tidak dapat dipercaya karena
sulitnya mendeteksi estrus.