Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Lebih dari 80% dari keseluruhan penduduk di daerah pedesaan
mengandalkan sektor pertanian. Ketersediaan air merupakan salah satu unsur
pokok bagi pertumbuhan tanaman, dan juga merupakan salah satu faktor
terpenting peningkatan produksi pangan dalam bidang pertanian. Khususnya
penentuan banyaknya air yang dibutuhkan tanaman perlu diketahui dengan pasti
secara baik dan teliti. Maka dari itu penggunaan air irigasi selayaknya dilakukan
secara efektif dan efisien.
Selain kebutuhan air, padi membutuhkan tempat untuk tumbuh yaitu lahan
atau sawah. Lahan atau sawah yang baik untuk pertanian ialah tanah yang mudah
dikerjakan, bersifat produktif, serta subur dan cukup akan ketersediaan air. Dalam
memilih tempat penanaman padi, faktor topografi sangat berpengaruh. Dalam
pemberian air dipengaruhi elevasi tempat dimana tanaman tumbuh, maka
pengaturan sistem irigasi harus disesuaikan dengan kondisi topografi daerah
tersebut. Kelebihan atau kekurangan air di suatu daerah pertanian dapat
menyebabkan pertumbuhan tanaman pada areal tersebut terganggu.
Pada lahan pertanian di RT 13 Kelurahan Makroman, Kecamatan
Sambutan terdapat 1.800 meter saluran irigasi primer yang mengaliri sebesar 280
Ha area persawahan. Sumber air utama yang dimanfaatkan oleh kelompok-
kelompok tani berasal dari air hujan yang ditampung pada dua folder sebagai
embung atau daerah penampungan air untuk selanjutnya disaluran ke petak-petak
sawah warga.
Tanaman padi merupakan tanaman yang membutuhkan air, khusus nya
pada saat tumbuh mereka harus selalu tergenangi air. Agar produktfitas padi dapat
efektif dalam satu satuan luas lahan maka dibutuhkan pasokan air yang cukup
melalui saluran irigasi. Tersedianya air yang cukup dan terkontrol merupakan
input untuk meningkatkan produksi padi. Luas lahan atau sawah di dalam daerah
pengairan dibagi bagi sedemikian rupa sehingga memudahkan pembagian air nya.

1
Untuk negara agraris seperti Indonesia yang hanya memiliki dua musim,
yaitu musim hujan dan kemarau, pengelolaan air sangat penting. Saat musim
hujan petani harus dapat mengatur debit air yang melimpah agar tanaman tidak
terendam dan akhirnya mati. Begitu pula saat musim kemarau, sumber air yang
mengering sering menjadi kendala. Dalam kata lain di Indonesia sepanjang tahun
ketersediaan air tidak merata. Kebutuhan air cenderung meningkat sementara di
sisi lain ketersediaan air kurang terpenuhi karena secara kuantitas ketersediaan air
relatif konstan dan menunjukkan tingkat kecenderungan menurun.
Irigasi merupakan sistem penghematan air dan secara langsung
ditunjukkan untuk meningkatkan produksi pangan. irigasi adalah suatu usaha
pengendalian, penyaluran dan pembagian air. Pola pendistribusian air yang
seimbang sangat diperluan, oleh karena itu perhitungan mengenai besar air yang
tersedia, jumlah tanaman yang memerlukan air, dan jalur pendistribusian airnya
harus dilakukan secara cermat dan teliti. Hal ini juga tidak terlepas dari adanya
faktor seperti jenis tanaman, kebutuhan air setiap tanaman, ketersediaan air, serta
luas daerah aliran air.
Dalam perkembangannya, pengoperasian jaringan irigasi mengalami
banyak perubahan. Penurunan kapasitas sebagai akibat dari endapan sedimen dan
sampah dari masyarakat sekitar yang menumpuk di saluran primer. Selain itu
pembagian air yang kurang proporsinal mengakibatkan kekurangan air terutama
pada saluran sekunder yang berada paling ujung atau hilir.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Irigasi merupakan prasarana untuk meningkatkan produktifitas lahan atau
sawah. Mengingat begitu pentingnya irigasi bagi tanaman padi maka perlu
diadakan pengkajian tentang irigasi agar persoalan-persoalan yang beragam dapat
terselesaikan.
Sehubungan dengan hal tersebut, berasarkan uraian dari latar belakang
diatas maka permasalahan yang dirumuskan peneliti adalah :
1. Berapakah kebutuhan air yang diperlukan untuk dapat mengaliri seluruh
petak sawah?
2
2. Berapa besar debit aliran pada saluran primer saat musim hujan dan
kemarau?
3. Seberapa besar tingkat efisiensi jaringan irigasi dalam menyalurkan air ke
petak sawah?
4. Dengan terbatasnya sumber air, apakah mampu memenuhi kebutuhan
tanaman?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti dalam permasalahan ini adalah :
1. Mengetahui kebutuhan air untuk dapat mengaliri seluruh petak sawah
2. Dapat diketahui besar debit aliran pada saluran primer saat musim hujan
dan kemarau
3. Menghitung tingkat efisiensi pada jaringan irigasi dalam menyalurkan air
ke petak sawah.
4. Memaksimalkan keterbatasan sumber air untuk memenuhi kebutuhan
tanaman

1.4 BATASAN MASALAH


Masalah-masalah yang telah berhasil di identifikasi selanjutnya akan
dibatasi pada masalah-masalah pokok saja. Masalah yang menjadi fokus
perhatian pada lingkup penelitian adalah :
1. Studi ini hanya membahas kebutuhan air untuk 280 Ha sawah di RT 13
Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan
2. Data yang digunakan adalah data sekunder yang ada dilapangan
3. Faktor kehilangan air akibat endapan lumpur atau tumpukan sampah
ruman tangga dari warga sekitar tidak ditinjau.
4. Jenis tanaman yang diteliti adalah padi

1.5 MANFAAT PENELITIAN


Studi efisiensi pengelolaan air melalui jaringan irigasi ini diharapkan dapat
memberikan sejumlah manfaat, diantaranya :

3
1. Memberikan sumbangan dalam ilmu pengetahuan dalam bidang irigasi dan
pengairan sebagai acuan peneliti selanjutnya
2. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi masyarakat guna
menyikapi serta mengelola kebutuhan air ditengah tidak meratanya
ketersediaan air
3. Bahan informasi dan pengetahuan bagi mahasiswa teknik sipil pada
khususnya, serta mahasiswa jurusan lain pada umumnya mengenai
jaringan irigasi, perhitungan debit secara aktual, dan pemanfaatannya
secara optimal
4. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi masyarat dalam upaya
pengelolaan jaringan irigasi guna mendukung keberhasilan panen

BAB II
STUDY LITERATUR
2.1 IRIGASI

4
Menurut peraturan pemerintah No. 25 Tahun 2001, pada BAB 1 Pasal 1
tentang irigasi, yang dimaksud irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air
untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi air permukaan, irigasi
air tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak.
Sedangkan menurut Mawardi Erman, irigasi adalah usaha untuk
memperoleh air yang menggunakan bangunan dan saluran buatan untuk keperluan
penunjang produksi pertanian.
Ditinjau dari pengelolaannya, sistem irigasi dibagi menjadi :
1. Sistem irigasi non teknis
Yaitu irigasi yang dibangun oleh masyarakat dan pengelolaan sepenuhnya
dilakukan oleh masyarakat setempat.
2. Sistem irigasi teknis
Suatu sistem yang dibangun oleh pemerintah dan pengelolaan jaringan
utama seperti bendung saluran primer, saluran sekunder, dilakukan oleh
pemerintah. Sementara untuk saluran tersier dilakukan oleh masyarakat.

Tersedianya air irigasi pada peraturan pemerintah No. 25 tahun 2001 pada
Bab 1 pasal 2 memberikan manfaat dan kegunaan, antara lain :
1. Mempermudah pengolahan pertanian
2. Memberantas tumbuhan pengganggu
3. Mengatur suhu tanah
4. Memperbaiki kesuburan tanah

Dalam pemenuhan air irigasi perlu diusahakan secara menyeluruh dan


merata, khususnya apabila ketersediaan air terbatas. Pada musim kemarau
misalnya banyak areal pertanian yang tidak ditanami karena air yang dibutuhkan
tidak mencukupi.

5
Persamaan Kontinuitas
Q1 = Q2 = Q3 + Q4 Atau,
A1 x V1 = A2 x V2 = (A3 x V3) + ( A4 x V4 )

Sementara itu untuk menghitung debit aktual adalah :


Q = Vav x A
A = Luasan Saluran
Vav = Kecepatan Rata-Rata

2.1.1 JARINGAN IRIGASI


Jaringan irigasi menurut peraturan pemerintah No. 25 tahun 2001 tentang
irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkap yang merupakan satu
kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan irigasi mulai dari penyediaan,
pengambilan, pembagian, penggunaan dan pembuangan.
Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan
jaringan tersier. Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran
sekunder. Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang
berada dalam petak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari
suatu jarigan irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.
Jaringan irigasi yaitu prasarana irigasi, yang terdiri dari bangunan air
dan saluran pemberi air pengairan pertanian beserta perlengkapnya. Dalam suatu
jaringan irigasi dapat dibedakan adanya 4 (empat) unsur fungsional pokok,
yaitu:
1. Bangunan-bangunan utama (headworks) di mana air diambil dari
sumbernya, umumnya sungai atau waduk.
2. Jaringan pembawa berupa saluran yang mengalirkan air irigasi ke petak-
petak tersier,
3. Petak-petak tersier dengan sistem pembagian air dan sistem
pembuangan kolektif, air irigasi dibagi-bagi dan dialirkan ke sawah-
sawah dan kelebihan air ditampung di dalam suatu sistem pembuangan
di dalam petak tersier

6
4. Sistem pembuang berupa saluran dan bangunan bertujuan untuk
membuang kelebihan air dari sawah ke sungai atau saluran-saluran
alamiah.

Dalam pemeliharaan jaringan irigasi dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :


1. Pemeliharaan rutin, yaitu pemeliharaan ringan yang dilakukan pada
bagunan maupun saluran irigasi
2. Pemeliharaan berkala, pemeliharaan yang dilakukan pada bagian bangunan
maupun saluran irigasi yang berada dibawah permukaan air. Saat
pemeliharaan ini berlangsung, saluran dikeringkan terlebih dahulu.
3. Pemeliharaan pencegahan, adalah usaha untuk mencegah terjadinya
kerusakan pada jaringan irigasi
4. Pemeliharaan darurat, yaitu pekerjaan yang dilakukan untuk memperbaiki
akibat kerusakan yang tidak terduga sebelumnya, misal karena banjir atau
gempa bumi.

2.1.1.1 Jaringan Irigasi Sederhana


Jaringan irigasi sederhana biasanya diusahakan secara mandiri
oleh suatu kelompok petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun
kemampuan dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas.
Ketersediaan air biasanya melimpah dan mempunyai kemiringan yang
sedang sampai curam, sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air.
Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai
air dari latar belakang sosial yang sama.

Namun jaringan ini masih memiliki beberapa kelemahan antara lain :


1. Terjadi pemborosan air karena banyak air yang terbuang.
2. Air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah
bawah yang lebih subur.
3. Bangunan penyadap bersifat sementara, sehingga tidak mampu
bertahan lama.

2.1.1.2 Jaringan Irigasi Semi Teknis

7
Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap yang
permanen ataupun semi permanen. Bangunan sadap pada umumnya sudah
dilengkapi dengan bangunan pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah
terdapat beberapa bangunan permanen, namun sistem pembagiannya belum
sepenuhnya mampu mengatur dan mengukur karena belum mampu mengatur
dan mengukur dengan baik, sistem pengorganisasian biasanya lebih rumit.
Gambar berikut memberikan ilustrasi jaringan irigasi semi teknis sebagai
bentuk pengembangan dari jaringan irigasi sederhana.

2.1.1.3 Jaringan Irigasi Teknis


Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang
permanen. Bangunan sadap serta bangunan bagi mampu mengatur dan
mengukur. Disamping itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan
pembuang. Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap
sampai ke petak tersier.
Untuk memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian,
disusun suatu organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder,
petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil. Gambar
berikut memberikan ilustrasi jaringan irigasi teknis sebagai pengembangan dari
jaringan irigasi semi teknis.

2.1.2 BANGUNAN IRIGASI


Keberadaan bangunan ingasi diperlukan untuk menunjang pengambilan
dan pengaturan air irigasi. Bangunan irigasi mulai awal pengambilan sampai
penyaluran air dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Bangunan untuk pengambilan, penyadapan, pengukuran, dan pembagian


air, yang meliputi :
a. Bangunan pengambilan pada jaringan induk

8
b. Bangunan penyadap yaitu bagunan untuk keperluan penyadapan air
dari saluran primer dan sekunder
c. Bangunan pengukur, untuk mengetahui banyak nya air / debit yang
masuk ke jaringan irigasi dari sumber air
2. Bangunan pelengkap untuk mengatasi halangan atau rintangan sepanjang
saluran dan bangunan irigasi. Seperti :
a. Kantong lumpur, sebagai tempat jebakan untuk lumpur (Endapan)
yang ikut bersama air, sehingga tidak masuk ke areal persawahan.
b. Bangunan pelimpah samping, untuk mebuang air yang berlebih ke
saluran.
c. Bangunan persilangan antara selokan, jalan, gunung dan bukit
disekitarnya.
d. Bangunan untuk mengurangi kemiringan dasar saluran yaitu
bangunan terjun.

2.1.2.1 Bangunan Utama


Bangunan utama dimaksudkan sebagai penyadap dari suatu sumber air
untuk dialirkan ke seluruh daerah irigasi yang dilayani berdasarkan sumber
airnya, bangunan utarna dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori,
1. Bendung
2. Pengambilan bebas
3. Pengambilan dari waduk
4. Stasiun pompa
2.1.2.2 Bangunan Pembawa
Bangunan pernbawa mempunyai fungsi mernbawa/mengalirkan air dari
surnbemya menuju petak irigasi. Bangunan pernbawa meliputi saluran primer,
saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kwarter. Termasuk dalam
bangunan pernbawa adalah talang, gorong-gorong, siphon, tedunan dan got
miring. Saluran primer biasanya dinamakan sesuai dengan daerah irigasi yang
dilayaninya.

Sedangkan saluran sekunder sering dinamakan sesuai dengan nama desa


yang terletak pada petak sekunder tersebut. Berikut ini penjelasan berbagai
saluran yang ada dalam suatu sistern irigasi.

9
a. Saluran primer membawa air dari bangunan sadap menuju saluran
sekunder dan ke petak-petak tersier yang diairi. Batas ujung
saluran primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir.
b. Saluran sekunder membawa air dari bangunan yang menyadap dari
saluran primer menuju petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran
sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah
bangunan sadap terakhir
c. Saluran tersier membawa air dari bangunan yang menyadap dari
saluran sekunder menuju petak-petak kuarter yang dilayani oleh
saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah
bangunan boks tersier terkahir
d. Saluran kuarter mernbawa air dari bangunan yang menyadap dari boks
tersier menuju petak-petak sawah yang dilayani oleh saluran sekunder
tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks kuarter
terkahir

2.1.2.3 Bangunan Bagi dan Sadap


Bangunan bagi merupakan bangunan yang terletak pada saluran primer,
sekunder dan tersier yang berfungsi untuk membagi air yang dibawa oleh
saluran yang bersangkutan. Khusus untuk saluran tersier dan kuarter
bangunan bagi ini masing- masing disebut boks tersier dan boks kuarter.
Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer atau sekunder
menuju saluran tersier penerima. Dalam rangka penghematan bangunan bagi dan
sadap dapat digabung menjadi satu rangkaian bangunan.

Bangunan bagi pada saluran-saluran besar pada umumnya mempunyai 3


(tiga) bagian utama, yaitu:
a. Alat pembendung, bermaksud untuk mengatur elevasi muka air sesuai
dengan tinggi pelayanan yang direncanakan
b. Perlengkapan jalan air melintasi tanggul, jalan atau b a n g u n a n
l a i n m e n u j u saluran cabang. Konstruksinya dapat berupa saluran

10
terbuka ataupun gorong-gorong. Bangunan ini dilengkapi dengan pintu
pengatur agar debit yang masuk saluran dapat diatur.
c. Bangunan ukur debit, yaitu suatu bangunan yang dimaksudkan untuk
mengukur besarnya debit yang mengalir.

2.1.2.4 Bangunan Pengatur dan Pengukur


Agar pemberian air irigasi sesuai dengan yang direncanakan,
perlu dilakukan pengaturan dan pengukuran aliran di bangunan sadap
(awal saluran primer), cabang saluran jaringan primer serta bangunan sadap
primer dan sekunder.
Bangunan pengatur muka air dimaksudkan untuk dapat mengatur muka
air sampai batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan debit yang
konstan dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Sedangkan bangunan pengukur
dimaksudkan untuk dapat memberi informasi mengenai besar aliran yang
dialirkan.

2.1.2.5 Bangunan Drainase

Bangunan drainase dimaksudkan untuk membuang kelebihan air di


petak sawah maupun saluran. Kelebihan air di petak sawah dibuang melalui
saluran pernbuang, sedangkan kelebihan air disaluran dibuang melalui bengunan
pelimpah.

Terdapat beberapa jenis saluran pembuang, yaitu saluran pembuang


kuerter, saluran pernbuang tersier, saluran pernbuang sekunder dan saluran
pernbuang primer.

Jaringan pembuang tersier dimaksudkan untuk :


a. Mengeringkan sawah
b. Mernbuang kelebihan air hujan
c. Mernbuang kelebihan air irigasi

11
Saluran pernbuang kuarter menampung air langsung dari sawah di daerah
atasnya atau dari saluran pernbuang di daerah bawah. Saluran pernbuang
tersier menampung air buangan dari saluran pernbuang kuarter. Saluran
pernbuang primer menampung dari saluran pernbuang tersier dan
membawanya untuk dialirkan kernbali ke sungai.

2.1.2.6 Bangunan Pelengkap


Sebagaimana namanya, bangunan pelengkap berfungsi sebagai pelengkap
bangunan-bangunan irigasi yang telah disebutkan sebelumnya. Bangunan
pelengkap berfungsi sebagai untuk memperlancar para petugas dalam
eksploitasi dan pemeliharaan.
Bangunan pelengkap dapat juga dimanfaatkan untuk pelayanan umum.
Jenis-jenis bangunan pelengkap antara lain jalan inspeksi, tanggul, jernbatan
penyeberangan, tangga mandi manusia, sarana mandi hewan, serta bangunan
lainnya.

2.2 CURAH HUJAN


Dalam studi ini sumber air yang dimanfaatkan oleh warga untuk mengaliri
petak-petak sawah Pada lahan pertanian di RT 13 Kelurahan Makroman,
Kecamatan Sambutan berasal dari hujan. Besarnya curah hujan yang terjadi dapat
dimanfaat kan untuk memenuhi kebutuhan air warga. Curah hujan yang efektif
dapat membantu petani akan ketersediaan air.

2.2.1 CURAH HUJAN HARIAN


Curah hujan harian adalah hujan yang dinyatakan dengan jumlah atau
volume dalam satuan waktu. Dengan menggunakan rumus Mononobe, kita dapat
menghitung intensitas hujan dalam durasi yang sebentar / pendek.
I = ( R24 x 242/3 ) / 24 x T

Dimana I = Intensitas curah hujan ( mm/jam )


R24 = Curah hujan maksimum dalam 24 Jam ( mm )
12
T = Durasi Hujan ( menit, jam, atau detik )

2.2.2 CURAH HUJAN EFEKTIF


Yang dimaksud dengan curah hujan efektif adalah bagian dari keseluruhan
curah hujan yang secara efetif tersedia untuk kebutuhan tanaman. Untuk daerah
irigasi pertanian, curah hujan efektif diambil 70% dari periode bulanan dengan
kemungkinan kegagalan 20%.

R80 = M/(n+1)

Dimana R80 = Curah Hujan 80 %


n = Jumlah Data
m = Rangking Curah Hujan

Re = ( R80 x 70% ) / Periode Pengamatan

Dimana Re = Curah Hujan Efektif ( mm/hari )

2.2.3 CURAH HUJAN RATA-RATA


Curah hujan rata-rata dapat dihitung dengan 3 cara
1. Metode aritmatik
Persamaan untuk menghitung curah hujan rata-rata :

R = ( R1 + R2 + R3 + ....Rn ) / n

Dimana R = Curah Hujan Rata-rata


R1,R2 = Data 1, Data 2, ........dst
n = Jumlah Data
2. Metode thiessen poligin
Persamaan untuk menghitung curah hujan rata-rata :

R = ( R1 x (a1 / A)) + ( R2 x (a2 / A)) +


( R3 x (a3 / A)) + ......( RN x (aN / A))
13
Dimana R = Curah Hujan Rata-rata
R1,R2 = Data 1, Data 2, dst
a = Luas area 1, Luas area 2, ......dst
A = Jumlah Luasan Total

2.3 EMBUNG
Embung adalah daerah tangkapan air dari sumber air sebelum dialirkan ke
saluran primer, sekunder dan tersier kemudian ke petak-petak sawah. Dalam studi
ini di RT 13 Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan terdapat 2 embung yang
digunakan untuk menampung air hujan. Saat musim hujan ketersedian air akan
melimpah. Berbeda jika memasuki musim kemarau, apalagi di samarinda musim
hujan dan kemarau susah untuk diprediksi. Saat musim kemarau warga RT 13
Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan akan kesulitan mencari air. Saat
musim kemarau inilah air yang terkumpul di polder dialirkan ke petak sawah
warga.
2.4 KEBUTUHAN AIR
Kebutuhan air disawah untuk tanaman padi dapat ditentukan oleh beberapa
faktor sebagai berikut :
1. Cara penyiapan lahan
2. Kebutuhan air untuk tanaman
3. Curah hujan efektif

Angka kebutuhan air beradarkan Dirjen Pengairan, Bina program PSA 010 1985
yaitu :
1. Pengelolaan sawah dan penyemaian selama 1-1,5 bulan dengan kebutuhan
air 10-14 mm/hari
2. Pertumbuhan pertama (vegetatif), selama 1-2 bulan dengan kebutuhan air
sebesar 4-6 mm/hari
3. Pertumbuhan kedua (vegetatif), 1-1,5 bulan dengan kebutuhan air sebesar
6-8 mm/hari
4. Pemasakan selama 1-1,5 bulan dengan kebutuhan air 5-7 mm/hari

14
Selama ini warga mengairi sawah dengan ketinggian air sekitar 5-10 cm
dimaksudkan untuk menghambat / meniadakan pertumbuhan ruput / gulma.

Tabel Kebutuhan Air Untuk Padi Menurut Nedeco/Prsida

2.5 PEMBERIAN AIR


Dalam peraturan pemerintah tahun 2001 disebutkan pemberian air irigasi
adalah penyaluran alokasi air dari jaringan utama ke petak sawah melalui saluran
tersier dan kuarter. Irigasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, namun pada
kenyataannya masyarakat sering mengabaikan pemeliharaan akan bangunan fisik
irigasi, sehingga muncul berbagai permasalahan. Oleh karena itu dalam penelitian
ini akan mengupayakan peningkatan efisiensi jaringan irigasi dalam memenuhi
kebutuhan air pada areal pertanian di kelurahan makroman.

2.6 EFISIENSI IRIGASI


Efisiensi pemakaian air adalah perbandingan antara jumlah air sebenarnya
yang dibutuhkan tanaman untuk evapotranspirasi dengan jumlah air pada inlet
jalur irigasi. Pada pemberian air terhadap efisensi saluran irigasi akan berdampak
pada :
1. Luas areal daerah irigasi
2. Metode pemberian air
3. Luasan dalam unit rotasi

15
Apabila air diberikan secara berelanjutan, dengan debit kurang lebih konstan
maka tidak akan timbul masalah dalam pengorganisasian. Kehilangan air pada
setiap saluran terjadi akibat adanya rembesan dan evaporasi.

Menurut DPU RI KP-03 pada umumnya kehilangan air di jaringan irigasi


di bagi-bagi sebagai berikut :
1. 12,5% - 20% hilang di saluran tersier
2. 5% - 10% hilang di saluran sekunder
3. 5% - 10% hilang di saluran primer

Sementara itu menurut Direktorat Jendral Pengairan standar efisiensi untuk


aliran irigasi adalah :
1. Type saluran tersier, tingkat standar efisiensinya adalah 80%
2. Type saluran sekunder, tingkat standar efisiensinya adalah 90%
3. Type Saluran primer, tingkat standar efisiensinya adalah 90%
4. Type saluran keseluruhan, tingkat standar efisiensinya adalah 65%

Pemakaian air hendaknya diusahakan seefisien mungkin, terutama untuk daerah


dengan ketersediaan air yang terbatas, serta curah hujan yang tidak menentu.

Rumus yang digunakan untuk menentukan efisiensi pemberian air dari


saluran primer ke petak sawah adalah sebagai berikut :

E = ( Asa / Adb ) x 100%

Dengan : E = Efisiensi pemberian air


Asa = Air yang sampai di areal irigasi
Adb = Air yang diambil dari bangunan sadap

16
BAB III
METODOLOGI

3.1 LOKASI PENELITIAN


Pada studi ini peneliti mengambil lokasi penelitian pada saluran irigasi di
lahan pertanian di RT 13 Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan dengan
panjang saluran primer 1.800 meter yang mengaliri 280 Ha area persawahan.

3.2 JADWAL PENELITIAN


Penelitian ini akan dilakukan dalam dua tahap. Pertama ketika musim
hujan, dan yang kedua ketika kemarau. Dari penelitian ini nantinya dapat
diketahui apakah debit aliran irigasi dapat mengaliri seluruh petak sawah saat
musim hujan maupun kemarau di tengah terbatasnya sumber air.

3.3 INSTRUMEN PENELITIAN


Dalam pengambilan data kecepatan aliran irigasi, digunakan alat uji
sederhana yang diletakkan pada beberapa titik secara acak pada saluran primer.
Adapun alat yang digunakan untuk peneltian ini adalah :
a. Stopwatch, untuk mengukur waktu
b. Meteran, mengukur panjang jalur alat uji dan lebar saluran
c. Alat tulis, untuk mencatat hasil pengujian

17
d. Papan ukur, untuk mengukur kedalaman saluran
e. Kamera, untuk doumentasi

3.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA


3.4.1 OBSERVASI LAPANGAN

Dalam pengumpulan data dilapangan peneliti mengusahaan data yang di


dapat dilapangan bersifat deskriptif faktual, cermat dan terperinci mengenai
keadaan lapangan.

Observasi dalam peneltian ini digunakan untuk mendapatkan informasi


yang tidak ada di pustaka serta membuktikan kebenaran data-data umum yang
diperoleh dari pustaka.

3.4.2 WAWANCARA

Bentuk pengumpulan data ini dilakukan guna mendapatkan keterangan,


saran, dan tanggapan secara langsung dari pihak-pihak yang bersedia
diwawancarai, diantaranya :

1. Ketua kelompok tani di RT 13 Kelurahan Makroman, Kecamatan


Sambutan
2. Petani di RT 13 Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan
3. Perangkat desa terkait
4. Warga sekitar RT 13 Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan

3.4.3 DOKUMENTASI
Bentuk dokumen yang digunakan meliputi data-data dari peneliti
sebelumnya, catatan, dokumen, dan sebagainya
Metode ini dapat depelajari dari buku dan referensi yang ada hubungannya
dengan materi dalam penelitian ini. Data-data yang didapat mengenai debit, hasil
pertanian, pembagian air untuk petak-petak sawah.

3.5 TEKNIK ANALISIS DATA

18
Analisis data dalam penelitian ini meliputi :

1. Perhitungan kecepatan rata-rata, dengan rumus :


Vav = KxV
Vav = Kecepatan rata-rata
V = Kecepatan air
K = Panjang saluran

2. Perhitungan luas penampang saluran berbentuk trapesium, dengan rumus :


A = x (ba+bb) x hp
A = Luas penampang saluran
Ba = Lebar atas saluran
Bb = Lebar saluran bawah
Hp = Tinggi permukaan air

3. Perhitungan debit aliran saluran, rumus yang digunakan :


Qaktual = Vav x A
Qaktual = Debit aktual aliran
Vav = Kecepatan air rata-rata
A = Luas penampang saluran

4. Menghitung kebutuhan air tiap area irigasi


5. Perhitungan efisiensi pemberian air, dengan rumus :
E = ( Asa / Adb ) x 100
E = Efisiensi pemberian air
Asa = Air yang sampai di petak sawah
Adb = Air yang diambil dari bangunan sadap

3.6 BAGAN ALUR PENELITIAN


Mulai

19
Studi Pustaka

Pengumpulan Data

Wawancara Observasi Lapangan Dokumentasi

Analisa Data

Hasil

Pembahasan

Kesimpulan Saran

Selesai

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 1986. Standar Perencanaan Irigasi. Jakarta

DPU Pengairan. 2004. UU No. 7 Tentang Sumber Daya Air. Jakarta

20
Mawardi. Erman. 2007. Desain Hidrolik Bangunan Irigasi. Jakarta: Alfabeta

Peraturan Pemerintah No. 25, 2001. Tentang Sumber Daya Air. Jakarta.

Sosrodarsono, S. 2003. Hidrologi untuk Pertanian. Jakarta: Pradya Paramita.

21