Anda di halaman 1dari 10

o .

Pengertian Bai as Salam[1]

Menurut ulam fiqih salam adalah menjual suatu barang yang penyarehanya ditunda,
atau menjual sustu (barang) yang ciri-cirinya jelas, dengan pembayaran modal lebih awal,
sedangkan barangnya diserahkan kemudian hari.
Sesuai fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 05/DSN-
MUI/IV/2000, jual beli salam diartikan sebagai jual beli barang dengan cara pemesanan dan
pembayaran harga lebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu. Dalam hal pembiayaan oleh
perbankan syariah, pembiayaansalam adalah transaksi jual beli dan barang yang
diperjualbelikan akan diserahkan dalam waktu yang akan datang tetapi pembayaran kepada
nasabah dilakukan secara tunai.
Dalam pengertian yang sederhana, bai as-salam berarti pembelian barang yang
diserahkan dikemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan dimuka.
Salam Paralel adalah salam yang berjalan secara serempak. Misalnya transaksi I
antara pembeli dengan bank syariah (selaku penjual), dan transaksi II antara bank syariah
(sebagai pembeli) dengan produsen selaku penjual.
Salam paralel, implementasinya dalam perbankan dapat diilustrasikan sebagai
berikut:
1. Nasabah memerlukan suatu barang yang harus diproduksi dahulu
2. Nasabah menghubungi bank
3. Bank menyanggupi untuk membiayai pemesanan barang tersebut
4. Bank memesan barang pada produsen sesuai permintaan nasabah
5. Harga jual barang disepakati di awal, dan tidak berubah sampai barang selesai dibuat
6. Jangka waktu pembuatan barang disepakati bersama antara bank, produsen dan nasabah
7. Nasabah berjanji untuk membeli barang tersebut setelah selesai dibuat
8. Nasabah dapat membayar sebagian harga jual barang di awal kontrak dan melunasi sisa
harga jual sebelum barang diterima
9. Setelah barang selesai dibuat diserahkan kepada nasabah
B. Landasan Hukum[2]
Dalam surat Al-Baqarah ayat 282 Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai
untuk waktu yang telah ditetapkan, maka hendakalah kamu menuliskannya
Ibnu Abbas, sahabat Rasulullah SAW, menyatakan bahwa ayat ini mengndung hukum
jual beli pesanan yang ketentuan waktunya harus jelas. Alasan lainnya adalah seperti sabda
Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut.
Jika kamu melakukan jual beli salam, maka lakukanlah dalam ukuran tertentu,
timbangan tertentu, dan dalam waktu tertentu. (HR. al-bukhari, Musylim, Abu Daud, an-
Nasa at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas.
Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 280 :
Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai ia
berkelapangan
Dalil hadist lainnya:
Ibnu abbas mwriwayatkan bahwa Rasulullah SAW datang ke Madinahdimana
penduduknya melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu tertentu)
satu, dua, dan tiga tahun. Beliau berkata: Barang siapa yang melakukan sa;am, hendaknya
ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka wajtu
yang diketahui. (HR. Thabrani).
C. Apikasi Produk
Bai as-salam biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka
waktu yang relatif pendek, yaitu 2-6 bulan, karena yang dibeli oleh bank adalah barang
seperti padi, jagung, dan cabai, dan bank tidak berniat untuk menjadikan barang-barang
tersebut sebagai simpanan atau inventory.maka, dilakukan akad baias-salam kepada pembeli
kedua, minsalnya kepada bulog, padagang pasar induk atau grosir. Inilah dalam perbankan
dikenal sebagai salam paralel. Dan bai salam juga dapat diaplikasikan pada pembiayaan
barang-barang industry.
Contoh konkretnya adalah misalkan seorang pebisnis petani sayuran organik
membutuhkan dana untuk membeli peralatan budidaya, namun masa panen yang dinanti
untuk menghasilkan uang pembeli peralatan masih akan memakan waktu satu bulan ke
depan. Pebisnis tersebut dapat meminjam sejumlah dana ke bank dengan meminta kepada
bank syariah untuk membeli hasil panen yang akan datang yang kemudian bank akan
menjualnya kembali kepada petani tersebut dengan cicilan yang disepakati dalam jangka
waktu tertentu. Untuk ini bank syariah akan menerapkan persentase keuntungan tertentu
sesuai kesepakatan.[3]
Namun pada pembiayaan salam ini pada dasarnya bank dapat bertindak sebagai
pembeli atau penjual. Jika bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain
untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam paralel.
Masih melanjutkan contoh di atas, jika petani ingin menjual hasil panen yang diperkirakan
bisa dipetik satu bulan mendatang tersebut kepada seorang pedagang namun pedagang belum
memiliki uang, maka salam paralel bisa diterapkan. Caranya adalah, kedua pihak yaitu petani
dan pedagang bisa pergi ke bank syariah dan mengajukan pembiayaan salam. Bank Syariah
akan memberikan uang tunai kepada petani dan pedagang tersebut yang otomatis keduanya
memiliki hutang kepada bank syariah, dan sesuai kesepakatan akan dicicil dan dilunasi dalam
jangka waktu tertentu. Bank akan menambahkan sejumlah persentase keuntungan yang
disepakati.[4]
Dengan demikian Lembaga keuangan syariah dapat bertindak sebagai pembeli dan
atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika lembaga keuangan syariah bertindak sebagai
penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan
cara salammaka hal ini disebut salam paralel.

SKEMA SALAM

1. Negosiasi pesanan dengan


kriteria
4. Kirim
pesanan

D. Pengakuan dan Pengukuran Salam[5]


Akuntansi untuk Pembeli (Jika Bank sebagai Pembeli)

1. Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada penjual.
2. Modal usaha salam dapat berupa kas dan asset nonkas. Modal usahasalam
dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan, sedangkan modal
usaha salam dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai ED Syariah No. 103ok.pmd
11/15/2006, 3:43 PM 3 wajar. Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat modal usaha nonkas
yang diserahkan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan modal usaha
tersebut.
Pada saat bank memberikan modal salam kepada penjual untuk membayar pesanan nasabah
maka bank mancatat:
D. Piutang salam xxx
K. Kas/rekening penjual xxx
3. Penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut:
a. Jika barang pesanan sesuai dengan akad dinilai sesuai nilai yang disepakati, maka jurnalnya:
pada saat bank menerima barang dari penjual:
* Sesuai akad
D. Persediaan (aktiva salam) xxx
K. Piutang salam xxx
b. Jika barang pesanan berbeda kualitasnya, maka:
1) Barang pesanan yang diterima diukur sesuai dengan nilai akad, jika nilai pasar (nilai wajar
jika nilai pasar tidak tersedia) dari barang pesanan yang diterima nilainya sama atau lebih
tinggi dari nilai barang pesanan yang tercantum dalam akad;
2) Barang pesanan yang diterima diukur sesuai nilai pasar (nilai wajar jika nilai pasar tidak
tersedia) pada saat diterima dan selisihnya diakui sebagai kerugian, jika nilai pasar dari
barang pesanan lebih rendah dari nilai barang pesanan yang tercantum dalam akad;
* Berbeda kualitas dan nilai pasar lebih rendah dari nilai akad
D. Persediaan (aktiva salam) xxx
K. Kerugian salam xxx
K. Piutang salam xxx
c. Jika pembeli tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal jatuh tempo
pengiriman maka ketentuan dan jurnalnya, sebagai berikut:
1) Jika tanggal pengiriman diperpanjang, nilai tercatat piutangsalam sebesar bagian yang belum
dipenuhi tetap sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad.
Jurnal yang dibuat dengan jumlah sebesar yang diterima:
D. Persediaan (aktiva salam) xxx
K. Piutang salam xxx
2) Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya, maka piutang salam berubah menjadi
piutang yang harus dilunasi oleh nasabah (penjual) sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi.
Bank akan menjurnal:
D. Piutang salam kepada penjual (supplier) xxx
K. Piutang salam xxx
3) Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan pembeli(bank) mempunyai jaminan
atas barang pesanan serta hasil penjualan jaminan tersebut lebih kecil dari nilai piutangsalam,
maka selisih antara nilai tercatat piutang salam dan hasil penjualan jaminan tersebut diakui
sebagai piutang kepada penjual yang telah jatuh tempo. Sebaliknya, jika hasil penjualan
jaminan tersebut lebih besar dari nilai tercatat piutang salam maka selisihnya menjadi hak
nasabah (penjual).
Pencacatan yang dibuat bank bila nilai penjualan jaminan lebih kecil dari nilai piutnag salam:
D. Kas xxx
D. Piutang salam kepada penjual xxx
K. Piutang salam xxx
Bila penjualan jaminan lebih besar dari pada piutang salammaka bank akan mencatat
jurnalnya sebagai berikut:
D. Kas xxx
K. Rekening penjual xxx
K. Piutang Salam xxx
Selisih lebih hasil penjualan jaminan yang telah digunakan untuk melunasi
piutang salam diserahkan kepada supplier. Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:
D.Rekening penjual xxx
K. Kas xxx
4) Pembeli (Bank) dapat mengenakan denda kepada penjual, denda hanya boleh dikenakan
kepada penjual yang mampu menyelesaikan kewajibannya, tetapi sengaja tidak
melakukannya. Hal ini tidak berlaku bagi penjual yang tidak mampu menunaikan
kewajibannya karena force majeur. Denda dikenakan jika penjual lalai dalam melakukan
kewajibannya sesuai dengan akad, dan denda yang diterima diakui sebagai bagian dana
kebajikan. Jurnarnya sebagai berikut:
D. Kas xxx
K. Rekening Wadiah-dana kebajikan xxx
5) Barang pesanan yang telah diterima diakui sebagai persediaan. Pada akhir periode pelaporan
keuangan, persediaan yang diperoleh melalui transaksi salam diukur sebesar nilai terendah
biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi. Apabila nilai bersih yang dapat
direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui sebagai kerugian.
Atas kerugian ini bank akan membuat ayat penyesuaian pada akhir periode sebagai berikut:
D. Kerugian penurunan nilai
persediaan barang salam xxx

K. Penyisihan penurunan nilai


Persediaan barang salam xxx

Akuntansi untuk Penjual (Jika Bank sebagai Penjual)

1. Kewajiban atau hutang salam diakui pada saat penjual menerima modal usaha salam sebesar
modal usaha salam yang diterima.
2. Modal usaha salam yang diterima dapat berupa kas dan aset nonkas. Modal
usaha salam dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang diterima, sedangkan modal
usaha salam dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai wajar (nilai yang disepakati antara
bank dan nasabah).
Dalam hal ini bank akan mencatat dalam pembukuannya sebagai berikut:
D. Kas xxx
K. Hutang salam xxx
3. Apabila bank melakukan transaksi salam paralel, selisih antara jumlah yang dibayar oleh
nasabah dan biaya perolehan barang pesanan diakui sebagian keuntungan atau kerugian pada
saat pengiriman barang pesanan oleh bank kenasabah.
Mekanisme pencatatan dalam pembukuan bank adalah sebagai berikut.
a) Pada saat bank memesan barang dan membayarnya:
D. Piutang salam xxx
K. Kas xxx
b) Pada saat bank menerima barang pesanan dari supplier:
D. Persediaan barang salam xxx
K. Piutang salam xxx
c) Apabila barang pesanan tidak sama dengan jumlah kas yang dibayarkan bank kepada
supplier maka bank akan mencatat pada saat penyerahan barang kepada nasabah pembeli
sebagai berikut:
D. Hutang salam xxx
K. Persediaan barang salam xxx
K. Pendapatan bersih salam xxx
Jurnal ini dibuat apabila biaya barang yang dipesan lebih kecil daripada jumlah yang dibayar
nasabah, sedangkan apabila biaya barang lebih besar dari jumlah yang dibayar nasabah maka
bank akan mencatat sebagai berikut:
D. Hutang salam xxx
K. Kerugian salam xxx
K. Persediaan barang salam xxx
E. Contoh Kasus Akuntansi Salam[6]
Pada tanggal 20 desember 2009, seorang petani yang bernama Pak Rifki datang ke
bank syariah untuk mendapatkan pembiayaan. Beliau memiliki sawah seluas 2 hektar yang
ditanami padi. Beliau mengajukan pembiayaan sebesar Rp. 10.000.000,- untuk membiayai
persiapan tanam bibit padi rojolele, pemeliharaan, dan sebagainya. Perkiraan hasil padi dari 2
hektar sawah tersebut adalah 6 ton beras sudah digiling, bila dijual per kilonya Rp. 4000,-.
Beliau akan menyerahkan beras setelah 3 bulan kemudian, yaitu setelah panen. Dalam hal ini
bank akan memberikan pendanaan dengan akad as-salam. Bagaiman perhitungan dan
pencatatannya?
Penyelesaian:
Bank akan mendapatkan beras sebanyak = Rp. 10.000.000/ Rp. 4.000 = Rp. 2.500 kg.
Beras tersebut kemudian dijual kembali kepada pembeli berikutnya, misalnya Bulog dengan
harga Rp.4.400 sehingga total pendapatan dari penjualan beras tersebut adalah = 2500 X
Rp.4.400 = Rp. 11.000.000, jadi keuntungannya adalah Rp. 11.000.000 Rp. 10.000.000 =
Rp.1.000.000
1. Jurnal yang dibuat bank syariah
Saat bank membayar pembiyaan kepada Pak Rifki

Piutang As-salam Rp. 10.000.000 -


Kas - Rp. 10.000.000

b) Pada saat menerima barang beras Rojolele 2500 Kg dengan harga Rp. 4.000,- per Kg

Barang dagangan As-salam Rp. 10.000.000 -


Piutang as salam - Rp. 10.000.000

Pada saat penjualan kepada Bulog dengan Harga Rp. 4.400,- per kg

Total penjualan = Rp. 11.000.000,- maka jurnalnya adalah sebagai berikut:

Kas Rp. 11.000.000 -


Barang dagangan as - Rp. 10.000.000
salam - Rp.1.000.000
Keuntungan as salam

2. Penyajian di laporan keuangan

a. Laporan Laba Rugi

Dari transaksi Bai as salam tersebut maka laporan laba rugi bank syariah akan
melaporkan keuntungan as salam sebesar Rp. 1.000.000,-
b. Neraca

Dengan selesainya pencatatan transaksi as salam maka neraca bank syariah akan terpengaruh
seperti dalam persamaan neraca, sebagai berikut :

AKTIVA KEWAJIBAN EKUITAS

1. Kas - 10.000.000,- - -
+ 11.000.000,- - -
+ 1.000.000,- - -
2. Piutang
as salam + 10.000.000,- - -
- 10.000.000,- - -
- 0 - -
3. Barang
Dagangan As salam + 10.000.000,- - -
- 10.000.000,- - -
0 - -
4. Keuntungan
As salam - 10.000.000,-

Total =
Rp.1.000.000,- 0 Rp.1000.000,-

F. Kelebihan dan Kelemahan Produk


Kelebihan produk salam antara lain: [7]
1. Bagi Bank;
a. Sebagai salah satu bentuk penyaluran dana sekaligus membantu bagi para pebisnis seperti
petani yang kesulitan mendapatkan dana atau bagi nasabah yang ingin memperoleh barang
dengan .
b. Memperoleh peluang untuk mendapatkan keuntungan apabila harga pasar barang tersebut
pada saat diserahkan ke bank lebih tinggi daripada jumlah pembiayaan yang diberikan.
c. Memperoleh pendapatan dalam bentuk margin atas transaksi pembayaran barang ketika
diserahkan kepada nasabah akhir.

2. Bagi Nasabah
Memperoleh dana di muka sebagai modal kerja untuk memproduksi barang.
Kelemahan produk salam antara lain:
Pada saat bank sebagai mudharib, jual beli barang pesanan dengan akadsalam tidak
menguntungkan karena bank baru boleh mengenakan margin pada saat penjualan kepada
pembeli akh

Anda mungkin juga menyukai