Anda di halaman 1dari 5

BAB 3.

APLIKASI TEORI
1 Gambaran Kasus
Seorang laki-laki tidak menyadari bahwa mengalami gangguan pada
prostat. Laki-laki tersebut mengalami keluhan seperti rasa sakit perut,
terbakar, tidak nyaman ketika BAK dan menyebutkan bahwa jumlah air
minum yang dikonsumsi dalam sehari tidak mencapai 8 gelas. Laki-laki
tersebut didiagnosa oleh dokter terkena kanker prostat maka tindakan yang
dilakukan untuk mengangkat kanker tersebut dilakukan prostatektomi radikal
yaitu pembedahan untuk mengangkat kelenjar prostat yang merupakan sistem
reproduksi laki-laki untuk menyimpan cairan mani. Pengangkatan dilakukan
penghapusan kelenjar prostat dan beberapa jaringan disekitarnya. Setelah
dilakukan operasi laki-laki dipasang kateter selama 2 minggu dan laki-laki
tersebut masih tidak dapat mengontrol keluarnya urin, keluar urin tiba-tiba
dan sering ngompol. Perawat melihat keadaan pasien kemudian memberikan
terapi latihan aktivitas untuk pemulihan inkontinensia urin pada pasien.

1 Pengkajian Perkemihan Pada Lansia


Pertanyaan Wawancara Untuk Mengkaji Faktor Resiko Yang
Mempengaruhi Eliminasi Urin
1 (Pria) apakah Anda pernah menjalani operasi gangguan pada
prostat atau pada kandung kemih? pernah
2 (Pria) apakah Anda pernah terpikir bahwa Anda memiliki masalah
prostat? (atau, Apakah Anda pikir Anda memiliki masalah prostat?)
tidak
3 Apakah Anda memiliki rasa sakit, terbakar, atau ketidaknyamanan
ketika anda kencing? iya
4 Apakah Anda memiliki penyakit kronis? tidak
5 Pengobata apa yang Anda lakukan? tidak memberikan obat apa-apa
6 Apakah Anda memiliki masalah dengan perut Anda? iya
7 Berapa banyak air dan cairan lain yang Anda minum selama satu
hari? (Mintalah rincian tentang waktu dan jumlah konsumsi
alkohol, minuman bersoda dan berkafein) tidak mencapai 8 gelas
dalam sehari

Pertanyaan Wawancara Untuk Mengkaji Faktor Resiko Pada


Eliminasi Urin Secara Tepat
1. Apakah Anda memiliki kesulitan berjalan atau kesulitan dengan
keseimbangan? iya
2. Apakah Anda memiliki kesulitan membaca tanda-tanda atau
menemukan toilet ketika Anda berada di tempat umum? iya

Pertanyaan Wawancara Untuk Menilai Tanda Dan Gejala Dari


Disfungsi kemih
1. Apakah anda pernah mengalami urin yang merembes? iya
2. Apakah Anda pernah memakai pembalut atau pelindung untuk
melindungi pakaian Anda dari kebasahan? tidak
3. Apakah Anda pernah mengalami kesulitan menahan kencing yang
cukup lama untuk mendapatkan toilet? iya kesulitan
Untuk, berapa lama Anda bisa menahan kencing Anda setelah Anda
pertama kali merasa perlu untuk pergi ke kamar mandi? Tidak bisa
4. Apakah Anda memiliki kesulitan menahan kencing Anda (urine)
ketika Anda batuk, tertawa atau membuat gerakan tiba-tiba? iya
5. Apakah Anda bangun di malam hari karena Anda harus pergi ke
kamar mandi untuk buang air kecil? iya
6. Segera setelah buang air kecil , apakah anda merasakan seperti
kandung kemih anda belum dikosongkan sepenuhnya? tidak
7. Apakah Anda harus memberikan tekanan saat buang air kecil untuk
merasa seperti kandung kemih Anda sudah benar-benar
dikosongkan? tidak
8. (Pria) Ketika Anda buang air kecil, apakah Anda memiliki kesulitan
aliran atau terjadi tahanan aliran? tidak

Pertanyaan Wawancara Jika Inkontinensia Telah Diketahui


1. Kapan anda mulai mengalami inkontinensia? Setelah kateter
dilepas
2. Apa yang telah Anda lakukan untuk mengatasi masalah
tersebut? (Apakah Anda mengurangi jumlah cairan minuman
Anda? Apakah Anda mengosongkan kandung kemih Anda pada
interval yang sering sebagai tindakan pencegahan? iya
3. Apakah ada hal-hal tertentu yang membuat masalah lebih buruk
atau lebih baik? tidak
4. Apakah itu terjadi sepanjang waktu, atau hanya pada waktu
tertentu? Sepanjang waktu
Pertanyaan Wawancara Pertanyaan untuk Menilai Ketakutan,
Sikap, dan Dampak Psikososial dari Inkontinensia
1. Apakah Anda pernah meminta bantuan atau berbicara dengan
penyedia perawatan primer atau perawatan kesehatan profesional
lainnya tentang masalah ini? iya
2. Apakah Anda mengubah beberapa kegiatan Anda karena Anda
perlu untuk tetap dekat dengan toilet? iya
3. Apakah Anda menghindari pergi ke tempat-tempat tertentu karena
kesulitan menahan kencing Anda? iya

2 Diagnosa
Inkontinensia urin berhubungan dengan pasca operasi prostatektomi

3 Intervensi
Pada penelitian ini dilakukan beberapa intervensi pada kelompok
perlakuan dan kelompok kontrol yaitu :
1 Pasien diberikan informasi terkait dengan saluran perkemihan dan
program terstruktur untuk latihan menangani masalah perkemihan
serta informasi tentang melakukan tes pad 1 jam untuk mengetahui
jumlah cairan yang keluar sebelum terapi fisik dimulai. Langkah-
langkah tes pad :
a Pasien diminta untuk minum air sebanyak 500 ml
b Timbang berat badan pasien
c Lakukan kegiatan bangun dan duduk, batuk, berjalan,
membungkuk, dan mencuci tangan di air mengalir
d Timbang pasien kembali setelah melakukan kegiatan tersebut
2 Berikan terapi fisik
Pada kelompok perlakuan diberikan terapi fisik berupa Pelvic
Floor Exercises (PFE) dan Biofeedback Training (BFB).
Sedangkan pada kelompok kontrol hanya diberikan PFE saja
3 Berikan discharge planning pada kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol untuk dapat melakukan terapi tersebut dalam
kesehariannya di rumah dengan cara duduk, berbaring, dan berdiri.
Terapi ini dilakukan kurang lebih selama delapan minggu atau dua
bulan.

4 Implementasi
1 Memberikan informasi terkait dengan persiapan sebelum terapi
dilakukan.
2 Memberikan terapi fisik berupa PFE dan BFB pada kelompok
perlakuan, dan memberikan terapi PFE saja pada kelompok kontrol
3 Memberikan discharge planning terkait dengan terapi yang sudah
dibelikan

5 Evaluasi
Setelah dilakukan terapi PFE dan biofeedback pada kelompok
perlakuan dan terapi PFE saja pada kelompok kontrol memberikan
hasil yang menguntungkan pada keduanya. Jadi tidak ada perbedaan
antara terapi fisik PEE yang ditambah biofeedback dengan terapi PEE
tanpa biofeedback.

BAB 4. PEMBAHASAN

Inkontinensia urin adalah gangguan pada susunan saraf sehingga seseorang


tidak dapat mengontrol keluaran urin secara tidak sadar terjadi ketika tekanan di
dalam kandung kemih melebihi tekanan uretra. Penyebab terjadinya inkontinensia
urin ini adalah karena kelainan traktus urinearius bagian bawah terjadi infeksi,
obstruksi, kontraktilitas kandung kemih berlebihan kelemahan springter, adanya
kelainan di otak, dan kelainan sistemik. Seseorang yang mengalami inkontinensia
urin biasanya sering berkemih, frekuensi berkemih menjadi lebih sering dari
biasanya, sering bangun dimalam hari dan keinginan yang tiba-tiba untuk
berkemih.

Inkontinensia urin menurut jurnal membahas mengenai komplikasi dari


prostatektomi radikal. Penatalaksanaan inkontinensia urin dapat dengan PFE atau
latihan dasar panggul yang merupakan latihan fisik setelah dilakukan operasi.
Selain itu juga dapat ditambah dengan terapi biofeedback yang juga merupakan
salah satu terapi untuk mengatasi masalah inkontinensia urin pada pasien pasca
operasi prostatektomi. Proses melakukan latihan fisik untuk mengatasi
inkontinensia urin pada pasien prostatektomi diambil secara acak dan dibagi
menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Pada
kelompok perlakuan dilakukan latihan fisik panggaul dan pelatihan biofeedback,
sedangkan pada kelompok kontrol hanya dilakukan latihan fisik saja. Konsultasi
pertama pasien diberikan informasi mengenai saluran kemih dan program latihan
terstruktur dan konsultasi kedua baru dimulai untuk terapi fisik.

Pada jurnal membahas menegenai terapi yang digunakan untuk mengontrol


inkontinensia urin dengan terapi fisik PEE dengan pelatihan Biofeedback maupun
tidak menggunakan Biofeedback. Hasil dari penelitian tersebut mempunyai efek
yang menguntungkan pada kedua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol. Pada kedua kelompok tersebut dapat mengurangi tingkat dan
durasi inkontinensi urine setelah operasi Prostatektomi Radikal. Penelitian pada
jurnal menyatakan bahwa dengan terapi fisik dan BFB dapat memulihkan
penahanan BAK di awal, dapat memperbaiki nokturia, dan menurunan
penggunaan pembalut.

Mufreda Yuliana Indriani 142310101008


Niken Oktaviani 142310101059
Dapusnya pakek dapus jurnal meg