Anda di halaman 1dari 7

Organisasi internasional dalam arti yang luas pada hakikatnya meliputi tidak saja organisasi

internasional public (Public International Organization) tetapi juga organisasi privat (Privat
International Organization). Organisasi semacam itu meliputi juga organisasi regional dan
organisasi sub-regional. Ada pula organisasi yang bersifat universal (organization of universal
character).

Organisasi Internasional publik juga disebut sebagai organisasi Antar-


Pemerintah (Intergovernmental Organization). Tetapi karena keanggotaanya adalah negara
maka organisasi tersebut lazim disebut hanya organisasi internasional. Tindakan-tindakan
yang dilakukan oleh pemerintah adalah mewakili negaranya sebagai pihak dari organisasi
internasional tersebut.

Organisasi Internasional Privat (Private Internasional Organization) merupakan organisasi


yang dibentuk atas dasar non pemerintah, kerena itu sering disebut Organisasi Non
Pemerintah (Non Governmental Organization, NGO) atau yang kita sebut sebagai lembaga
swadaya masyarakat yang anggotanya badan-badan swasta atau perorangan.

Organisasi regional atau sub-regional Pembentukan organisasi regional maupun sub-regional


anggotanya didasarkan atas prisip kedekatan wilayah seperti South Pasific Forum, South
Asian Regional Cooperation, Gulf Cooperation Council, Union Arab Maghreb, OAU dan
lain-lain.

Organisasi yang bersifat universal pada umumnya organisasi internasional yang bersifat
universal lebih memberikan kesempatan kepada anggota-anggotanya seluas mungkin tidak
peduli apakah negara itu besar atau kecil, kuat atau lemah, karena itu perinsip persamaan
kedaulatan merupakan faktor penting dengan menggunakan hak suara yang sama (Sumaryo
Suryokusumo, 1997: 37-40).

2. Pembentukan Organisasi Internasional

Dilihat dari pembentukannya, organisasi internasional mempunyai tiga aspek yaitu


administrasi, aspek filosofis, dan aspek hukum:

Aspek administrasi

Menyangkut perlunya dibentuk suatu sekretariat tetap (permanent secretariat) yang lokasinya
berada di wilayah salah satu negara anggotanya yang ditetapkan melalui persetujuan antara
organisasi internasional tersebut dengan negara tuan rumah (Head quarters Agreement). Di
samping itu juga diperlukan adanya staf personalia (International civil servant) (Sumaryo
Suryokusumo, 1997: 41).

Dari aspek administrasi ini organisasi juga membutuhkan anggaran belanja yang akan
ditanggung bersama oleh semua anggota. Pasal 17 piagam PBB misalnya menyebut bahwa
pembiayaan PBB akan di tanggung oleh anggotanya sesuai dengan skala penilaian (Scale of
Assessment) yang akan ditetapkan oleh Majelis Umum PBB yang menurut pasal 18 melalui
2/3 suara (Sumaryo Suryokusumo, 1997: 41).
Aspek filosofi

Pembentukan organisasi internasional akan dipengaruhi oleh filsafah kehidupan bangsa-


bangsa di sesuatu kawasan dimana organisasi tersebut akan didirikan. Misalnya dalam
pembentukan Organisasi Persatuan Afrika juga telah melihat sejarah bangsa afrika yang
berasal dari penjajahan, karena itu tema yang diambil adalah kerjasama untuk membebaskan
belenggu penjajahan, masalah penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan nasional maupun
dasar falsafah organisasi tersebut (Sumaryo Suryokusumo, 1997: 42).

Aspek hukum

Organisasi internasional dibentuk melalui suatu perjanjian dari tiga negara atau lebih sebagai
pihak. Suatu organisasi hakekatnya merupakan suatu kesatuan yang menurut hukum
dipisahkan dari setiap organisasi lainnya dan akan terdiri dari satu badan atau lebih. Badan-
badan tersebut merupakan suatu kumpulan berbagai wewenang yang dikelompokkan di
bawah satu nama. Misalnya: Majelis Umum, Dewan Perwakilan, Mahkamah Internasional
dan sekretariat merupakan badan-badan utama yang mempunyai wewenang sendiri tetapi
semuanya dikelompokkan dalam suatu organisasi yang disebut PBB (Sumaryo Suryokusumo,
1997: 43).

3. Prinsip- Prinsip yang Dianut dalam pembentukan Organisasi Internasional

Organisasi internasional pada hakikatnya merupakan organisasi yang dibentuk melalui suatu
perjanjian atau instrumen lainnnya oleh tiga atau lebih Negara sebagai pihak. Sebuah
organisasi adalah suatu kesatuan yang secara hukum dibedakan dengan kesatuan yang secara
hukum dibedakan dengan kesatuan lainnya dan terdiri dari satu atau beberapa badan.

Badan-badan utama PBB seperti Majelis Umum. Dewan Keamanan, Dewan Ekonomi dan
Sosial, Dewan Perwakilan, Mahkamah Internasional dan Sekretariat. Walaupun masing-
masing mempunyai wewenang sendiri tetapi dikelompokkan di bawah satu nama yaitu PBB.

Suatu Negara yang menjadi pihak dalam perjanjian untuk membentuk organisasi
internasional wajib menerima kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan dalam perjanjian
yang lazim di sebut instrument pokok. Bagi organisasi internasional instrument pokoknya
banyak beraneka, dari Convenant, piagam, accord, statuta, sampai kepada deklarasi seperti
halnya ASEAN.

Agar dapat diakui statusnya di dalam hokum internasional , organisasi internasional harus
memenuhi 3 syarat:

Adanya persetujuan internasional seperti instrument pokok itu akan membuat prinsip-prinsip
dan tujuan, struktur maupun cara organisasi itu bekerja.

Organisasi internasional haruslah mempunyai paling tidak satu badan.

Organisasi internasional haruslah dibentuk dibawah hukum internasional.

4. Organisasi Internasional sebagai Subjek Hukum Internasional


Yang dimaksud dengan subjek dari suatu sistem hukum diakui mempunyai kemampuan untuk
bertindak. Di dalam hukum internasional subjek-subjek tersebut termasuk negara organisasi
internasional dan kesatuan-kesatuan lainnya. karena itu kemampuan untuk bertindak
hakikatnya merupakan personalitas dari suatu subjek hukum internasional tersebut. Tiap
organisasi internasional mempunyai personalitas hukum dalam hukum internasionl. Tanpa
personalitas hukum maka suatu organisasi internasional tidak akan mampu untuk melakukan
tindakan yang bersifat hukum. Subjek hukum dalam jurisprudensi secara umum dinggap
mempunyai hak dan kewajiban yang menurut ketentuan hukum dapat dilaksanakan. Dengan
demikian subjek hukum yang ada di bawah sistem hukum internasional merupakan
personalitas hukum yang mampu untuk melaksanakan hak dan kewajiban tersebut (Sumaryo
Suryokusumo, 1997: 45).

Organisasi internasional sebagai subjek hukum internasional memang sudah dapat diterima
secara luas oleh banyak wewenang hukum (Sumaryo Suryokusumo, 1997: 45). Organisasi
internasional baru muncul pada abad 19, yaitu yang di tandai lahirnya International Telegrafik
Union pada tahun 1865 (Ekram Pawiroputro, 2007: 29).

Dewasa ini sudah tidak di ragukan lagi bahwa organisasi internasional itu merupakan subjek
hukum internasional. Sejumlah praktik yang dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran
bahwa organisasi internasional merupakan subjek hukum internasional, antara lain:

1) Mahkamah Internasional dalam kasus Reparation For Injuries Suffered in the Service of
the United Nations Case tahun 1949 yang antara lain dinyatakan bahwa PBB merupakan
subjek hukum internasional dan mampu untuk melaksanakan hak dan kewajiban internasional
dan karen itu badan tersebut mempunyai kapasitas untuk mempertahankan haknya dalam
rangka mengajukan tuntutan internasional.

Anggapan semacam itu juga telah ditekankan lagi dalam international Court of Justice
Advisory Opinion interpretation of the Agreement of 25 March 1951 betwen WHO and
Egypt dalam tahun 1980 yang menyatakan bahwa organisasi internasional adalah subjek
hukum internasional yang dengan sendirinya terikat oleh kewajiban-kewajiban yang terletak
padanya di bawah aturan-aturan umum dalam hukum internasional, konstitusinya maupun
persetujuan-persetujuan internsional dimana organisasi itu sebagai pihak (Sumaryo
Suryokusumo, 1997: 45-46).

2) Pada tanggal 26 Juni 1946 PBB mengadakan perjanjian bilaeral dengan pemerintah
Amerika Serikat mengenai status markas besar PBB di New York (Sumaryo Suryokusumo,
1997: 29). .

3) Pada tanggal 16 November 1946 PBB mengadakan perjanjian bilateral dengan Swiss
mengenai status gedung PBB di Jenewa. Bahkan di dalam pasal 1 perjanjian tersebut
ditegaskan bahwa pemerintah Swiss mngakui bahwa PBB sebagai suatu International
Personality (Sumaryo Suryokusumo, 1997: 29).

5. Personalitas Hukum Organisasi Internasional


Suatu organisasi internasional yang di bentuk melalui suatu perjanjian dengan bentuk
instrumen pokok apapun akan memiliki suatu personalitas hukum di dalam hukum
internasional. Personalitas hukum ini mutlak penting guna memungkinkan organisasi
internasional itu dapat berfungsi di dalam hubungan internasional, khususnya kapasitasnya
untuk melaksanakan fungsi hukum seperti membuat kontrak, membuat perjanjian dengan
suatu negara atau mengajukan tuntutan dengan negara lainnya.

Personalitas hukum bagi sesuatu organisasi internasional itu tidak dicantumkan dalam
instrumen pokoknya, sebagai subjek hukum internasional, organisasi internasional tersebut
tidak perlu kehilangan personalitas hukum, karena organisasi internasional akan mempunyai
kapasitas untuk melakukan prestasi hukum sesuai dengan aturan dan prinsip-prinsip hukum
internasional. Dengan adanya personalitas hukum itu maka organisasi internasional akan
dapat mengembangkan dan memperluas fungsinya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan
utamanya.

Dalam hal pembentukan organisasi internasional seperti PBB pada waktu merumuskan
piagam dalam konferensi internasional mengenai organisasi internasional di San Fransisco
pada bulan April 1945, tidak secara khusus dicantumkan masalah personalitas hokum kecuali
yang termuat dalam pasal 104 piagam, yaitu bahwa badan PBB jika perlu dapat memiliki
kapasitas hukum di wilayah setiap Negara anggotanya dalam rangka melaksanakan fungsi
dan mencapai tujuan badan tersebut.

Kapasitas hukum yang diartikan dalam pasal 104 tersebut kemudian diberi batasan dalam
kaitannya dengan Juridical Personality dalam general Convention on Privileges and
Immunities of the United Nations.

Dari uraian tersebut maka personalitas hukum organisasi internasional dapat dibedakan dalam
dua pengertian, yaitu personalitas hukum dalam kaitannya dengan hukum Negara dimana
Negara itu menjadi tuan rumah atau markas besar organisasi internasional (personalitas
hukum dalam kaitannya dengan hukum nasional), dan personalitas hukum dalam kaitannya
dengan Negara-negara atau subjek hukum internasional lainnya (personalitas hukum dalam
kaitannya dengan hukum internasional) (Sumaryo Suryokusumo, 1997: 46-50).

Personalitas hukum yang dimiliki oleh organisasi internasional dapat dibedakan menjadi dua
pengertian, yaitu personalitas hukum dalam kaitannya dengan hukum nasional, dan
personalitas hukum dalam kaitannya dengan hukum internasional.

Personalitas Hukum dalam Kaitannya dengan hukum Internasional

Personalitas hukum dari sesuatu organisasi internasional dalam kaitannya dengan hukum
internasional tersebut dalam memiliki sesuatu kapasitas untuk melakukan prestasi hukum,
baik dalam kaitannya dengan negara lain maupun dengan Negara-negara anggotanya,
termasuk kesatuan (entity) lainnya. Kapasitas itu telah diakui dalam hukum (international
legal capacity)pengakuan tersebut tidak saja melihat bahwa organisasi internasional itu
sendiri sebagai subjek hukum internasional, tetapi juga karena organisasi itu harus
menjalankan fungsinya secara efektif sesuai dengan mandat yang dipercayakan oleh para
anggotanya.

Dalam segi hukum organisasi sebagai kesatuan (entity) yang telah memiliki kedudukan
personalitas tersebut, sudah tentu akan mempunyai wewenang sendiri untuk mengadakan
tindakan-tindakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam instrument pokoknya
maupun keputusan organisasi internasional tersebut, yang telah disetujui oleh para
anggotanya. Namun hal ini banyak menimbulkan perselisihan karena secara eksplisit tidak
disebutkannn di dalam instrument pokok.

Personalitas hukum di dalam kaitannya dengan hukum nasional lebih banyak menyangkut
masalah keistimewaan dan kekebalan organisasi internasional, termasuk wakil-wakil Negara
anggotanya dan para pejabat sipil internasional yang bekerja pada organisasi internasional
tersebut. dalam rangka perkembangan personalitas hukum, khususnya dalam organisasi
internasional saperti PBB, telah terjadi suatu proses evolusi yang sangat penting, terutama
sekali hal-hal yang tidak termuat secara eksplisit di dalam ketentuan-ketentuan organisasi
internasional atau kesatuan lain mengenai kebebasan di dalam kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh pejabat-pejabatnya, termasuk kewajiban organisasi itu melindungi mereka.
(Sumaryo Suryokusumo, 1997: 58-59).

Mahkamah internasional menganggap bahwa personalitas hukum secara


internasional (international legal personality) dari organisasi internasional merupakan sifat
yang mutlak diperlukan guna mencapai tujuan-tujuan piagam, sehingga memungkinkan
kesatuan itu menggunakan kesempatan kewajiban yang menjadi tanggung jawab para
anggota (Sumaryo Suryokusumo, 1997: 67).

Personalitas hukum dalam kaitannya dengan hukum internasional dapat diartikan bahwa
organisasi internasional memiliki hak dan kewajiban berdasarkan hukum internasional. Hak
dan kewajiban ini antara lain mempunyai wewenang untuk menuntut dan dituntut di depan
pengadilan, memperoleh dan memiliki benda-benda bergerak, mempunyai kekebalan
(immunity), dan hak-hak istimewa (privileges). Permasalahan mengenai personalitas yuridik
yang dimiliki oleh organisasi internasional, pertama kali mencuat pada kasus Reparation for
Injuries Suffered in the Service of the United Nations (Reparation for Injuries Case). Dengan
munculnya kasus ini, personalitas yuridik yang dimiliki oleh organisasi internasional menjadi
tidak diragukan lagi.

Personalitas hukum dalam kaitannya dengan hukum nasional

Dapat dilihat khususnya apabila sebuah organisasi internasional akan mendirikan sekretariat
tetap ataupun markas besar organisasi tersebut melalui headquarters agreement. Contohnya,
headquarters agreement yang dibuat oleh PBB dengan Amerika Serikat, Belanda, Swiss, dan
Austria; ASEAN dengan Indonesia. Pada umumnya headquarters agreement mengatur
mengenai keistimewaan dan kekebalan diplomatik yang dimiliki oleh pejabat sipil
internasional, pembebasan pajak, dan lainnya.

6. Studi Kasus Reparation for Injuries Case


Reparation for Injuries Case merupakan kasus yang melahirkan penegasan terhadap
personalitas hukum organisasi internasional. Kasus ini terjadi pada tahun 1948 dan kemudian
Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) memberikan advisory opinion
pada tahun 1949. Dengan adanya kasus ini, organisasi internasional yang ada di dunia
mendapatkan penegasan mengenai status yuridiknya. Meskipun sebenarnya status hukum dari
organisasi internasional telah ada, namun sampai sebelum adanya kasus ini, masih belum ada
kepastian hukum mengenai bisa atau tidaknya sebuah organisasi internasional untuk bisa
berperkara sebagaimana layaknya subyek hukum internasional lainnya. ICJ telah membuat
suatu terobosan hukum dengan mengeluarkan advisory opinion berkenaan dengan kasus ini.

7. Ringkasan Kasus

Pada tahun 1948, tepatnya tanggal 17 September, seorang mediator PBB bernama Count
Folke Bernadotte dan ajudannya Kolonel Serot, terbunuh dalam perjalanan dinas ke
Yerusalem. Mereka dibunuh oleh anggota dari kelompok Lehi, yang terkadang disebut
dengan Stern Gang. Kelompok ini merupakan organisasi radikal zionis yang telah
melakukan beberapa serangan terhadap warga Inggris dan Arab. Pembunuhan terhadap
Bernadotte ini, telah disepakati oleh ketiga pemimpin kelompok Lehi, yaitu : Yitzhak Shamir,
Natan Yelli-Mor, dan Yisrael Eldad, dan direncanakan oleh kepala operasi Lehi di Yerusalem,
Yehoshua Zetler.Empat orang yang dipimpin oleh Meshulam Makover, kemudian menyerang
kendaraan yang ditumpangi oleh Bernadotte, dan salah satu diantara mereka yaitu Yehoshua
Cohen menembak Bernadottehttp://pirhot-nababan.blogspot.com/2007/09/personalitas-
yuridik-organisasi.html Diakses tanggal 13 Desember pukul 08.40 wib.

Fakta Hukum

Dari kasus tersebut, terdapat empat permasalahan hukum yang muncul :

Count Folke Bernadotte adalah pejabat sipil internasional yang bekerja untuk PBB

Count Folke Bernadotte adalah warga negara Swedia

Pembunuh Bernadotte, Yehoshua Cohen, adalah warga negara Israel

Pembunuhan terhadap Bernadotte terjadi di wilayah pengawasan Israel. http://pirhot-


nababan.blogspot.com/2007/09/personalitas-yuridik-organisasi.html Diakses tanggal 13
Desember pukul 08.40 wib.

8. Pembubaran Organisasi Internasional

Pembubaran (Dissolution)

Organisasi internasional bubar:

Apabila dibentuk hanya untuk jangka waktu terbatas, setelah berakhirnya jangka waktu
tersebut.
Apabila sifatnya transisi, setelah situasi transisi itu dilampaui atau dipenuhinya tujuan untuk
mana organisasi internasional dibentuk.

Melalui keputusan dari para anggota, secara tegas maupun implisit.

Tampak bahwa keputusan tersebut tidak perlu dengan melalui suara bulat (unanimity), tetapi
cukup sebagai masalah praktis apabila keputusan demikian diputus berdasarkan suara
mayoritas besar, termasuk suara dari Negara-negara besar (J.G Starke, 2007: 826).