Anda di halaman 1dari 11

Hidung dan Sinus Paranasal serta Ruang Rugi Pernapasan

Kelompok C2
Dika Ingriyana 102012377
Nicky Sanita 102014193
Rayhand Mubarakh 102015013
Fransiska Elviana Arly 102015063
Olivia Bernadi 102015159
Yulianto Sanjaya 102015164
Priska Febriandini Putri 102015196
Shakti Velan 102015230
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi: Jl. Arjuna Utara No. 06, Jakarta Barat 11510, Indonesia

Abstrak
Tulang tengkorak mempunyai komponen yang berfungsi untuk meringankan bebannya,
komponen itu dikenal dengan sebutan sinus paranasal. Sinus paranasal merupakan rongga udara
yang terdapat pada bagian padat dari tulang tengkorak di sekitar wajah. Sinus ini terbagi atas 4
bagian, yaitu sinus frontalis yang terletak di bagian dahi, sinus maxilaris yang terletak di
belakang pipi. Sementara itu, sinus sphenoidalis dan sinus ethmoidalis terletak agak lebih dalam
di belakang rongga mata dan di belakang sinus maxilaris. Sinus sinus tersebut dihubungkan
oleh lubang kecil (ostia) dengan rongga hidung (cavum nasi). Pada rongga hidung, mempunyai
beberapa perdarahan arteri yang disebut dengan plexus Kiesselbach dan vena yang mengikutinya
serta terdapat beberapa saraf. Selain itu, rongga hidung merupakan salah satu dari ruang rugi.
Ruang rugi merupakan saluran pernapasan dari rongga hidung sampai bronkiolus terminalis yang
tidak terlibat dalam pertukaran gas (ruang rugi anatomi). Namun jika alveoli tidak befungsi,
maka dapat disebut dengan ruang rugi fisiologi. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui
struktur-struktur hidung dan sinus paranasalis secara makroskopis dan mikroskopis, sistem
drainase sinus paranasalis dan ruang rugi pernapasan.
Kata kunci: sinus paranasal, rongga hidung dan ruang rugi

Abstract
Skull has a component that functions to ease the burden, the component known as paranasal
sinuses. Paranasal sinuses are air cavities contained in the solid part of the bone of the skull
around the face. Sinus is divided into four parts, namely the frontal sinuses are located in the
forehead, sinus maxilaris which is located behind the cheek. Meanwhile, sinuses and sinus
ethmoidalis sphenoidalis lies somewhat deeper behind the eye sockets and behind the sinus
maxilaris. Sinus - sinuses are connected by small holes (ostia) the nasal cavity (cavum nasi). In
the nasal cavity, has some bleeding artery called kiesselbach and venous plexus that follow and
there are some nerves. In addition, the nasal cavity is one of the dead space. Dead space is the
1
respiratory tract of the nasal cavity to the terminal bronchioles are not involved in gas exchange
(anatomic dead space). However, if the alveoli does not operate, then it can be called a dead
space physiology. This paper aims to determine the structures of the nose and paranasal sinuses
macroscopic and microscopic, drainage systems paranasal sinus and respiratory dead space.
Keyword: paranasal sinuses, nasal cavity and dead space

Pendahuluan
Tulang tengkorak memiliki sejumlah ruang yang berisi udara yang disebut sinus. Ruang ini
membantu mengurangi berat tengkorak dan memberikan perlindungan daerah tengkorak dan
membantu dalam resonansi suara. Terdapat empat pasang sinus, yang dikenal sebagai sinus
paranasalis, yaitu sinus frontalis di daerah dahi, sinus maxillaries di belakang tulang pipi, sinus
ethmoidalis di antara kedua mata dan sinus sphenoidalis di belakang bola mata. Sampai saat ini,
sinus paransal merupakan salah satu organ tubuh pada manusia yang sulit dideskripsikan karena
bentuknya bervariasi pada tiap individu. Terdapat membran yang melapisi sinus tersebut yang
mensekresi mucus, yang mana akan mengalir ke rongga hidung (cavum nasi) melalui sebuah
saluran kecil pada setiap sinus tersebut. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi
tulangtulang kepala, sehingga terbentuk rongga dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara
(ostium) ke dalam rongga hidung.

Struktur Makroskopik Hidung dan Sinus Paranasal


Dilihat dari bagian luar, hidung berbentuk pyramid di mana pangkalnya berhubungan
dengan dahi manakala ujung bebasnya pula disebut sebagai puncak hidung atau apex. Di bagian
inferior hidung terdapat dua nostril atau nares nasi, yaitu dua pintu masuk berbentuk bulat
panjang yang dipisahkan oleh septum nasi menjadi bagian kanan dan kiri. Permukaan infero
lateral hidung berakhir sebagai alae nasi yang bulat di mana ke arah medial, permukaan lateral
ini akan berlanjut pada dorsum nasi di tengah. 1-2, 4 (Lihat gambar 1)

Gambar 1. Hidung bagian luar1

2
Penyangga hidung tersusun atas tulang yang terdiri daripada os nasale, processus frontalis
maxillae dan bagian nasal ossis frontalis dan tulang rawan yaitu cartilago septi nasi, cartilago
nasi lateralis dan cartilago ala nasi major dan minor. (Lihat gambar 2)

Gambar 2. Tulang dan Tulang Rawan pada Hidung1

Otot yang melapisi hidung adalah bagian daripada otot wajah, yaitu musculus nasalis dan
musculus depressor septi nasi. Bagian atas rongga hidung berasal dari a.ethmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmika dari a.karotis interna. Bagian bawah rongga
hidung mendapat perdarahan dari cabang a.maksilaris interna, diantaranya ialah hujung
a.palatina mayor dan a.sphenopalatina yang keluar dari foramen sphenopalatina dan memasuki
rongga hidung di belakang hujung posterior concha media. Manakala bagian depan hidung
mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian depan septum terdapat
anastomosis dari cabang-cabang a.sphenopalatina, a.ethmoid anterior, a.ethmoid posterior,
a.labialis superior dan a.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus
ini terletak superficial dan mudah cedera oleh trauma sehingga sering menjadi sumber epistaksis
terutama pada anak. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan
dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang
berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak mempunyai katup sehingga
merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.7
Bagian depan dan atas ringga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.ethmoidalis
anterior yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris yang berasal dari n.oftalmikus (N.V-1).
Rongga hidung lainnya sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui
ganglion sphenopalatina. Ganglion sphenopalatina selain memberikan persarafan sensoris juga

3
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima
serabut saraf sensoris dari n.maksila (N.V-2), serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis
mayor dan serabut saraf simpatis dari n.petrosus profundus. Ganglion sphenopalatina terletak di
belakang dan sedikit di atas hujung posterior konka media. Untuk fungsi penghidu pula berasal
dari n.olfaktorius. saraf ini turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah bulbus
olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di
daerah sepertiga atas hidung.8
Dinding lateral hidung memperlihatkan tiga elevasi, yaitu concha nasalis superior, medius
dan inferior. Inferolateral terhadap masing masing concha nasalis ini terdapat meatus nasi yang
sesuai; meatus nasi superior, medius dan inferior. Di sebelah cranial dan dorsal terhadap concha
nasalis superior terdapat recessus spheno ethmoidalis yang mengandung muara sinus
sphenoidalis. Pada recessus ini juga terdapat concha nasalis suprema. Meatus nasi superior yang
terletak inferior terhadap concha nasalis superior ini memperlihatkan sebuah lubang sebagai
muara sinus ethmoidalis posterior.2
Meatus nasi medius berada inferolateral terhadap concha nasalis medius. Ke arah anterior
meatus nasi medius berkesinambungan dengan fossa dangkal di sebelah cranial vestibulum dan
limen nasi, yaitu agger nasi yang melandai ke arah bawah dan depan, mulai dari ujung atas tepi
bebas bagian anterior concha nasalis medius.2
Setinggi meatus nasi medius ini dinding lateral rongga hidung memperlihatkan sebuah
elevasi bulat; bulla ethmoidalis. Bulla ethmoidalis dibentuk oleh pembengkakan sinus
ethmoidalis medius yang bermuara pada bulla ethmoidalis tersebut. Di sebelah bawah bulla
ethmoidalis terdapat celah berbentuk lengkung yang meluas ke atas sampai di sebelah depan
bulla, yaitu hiatus semilunaris.1 Hiatus semilunaris dibatasi oleh rigi konkaf yang dibentuk oleh
processus uncinatus ethmoidalis di sebelah inferior, dan ke arah depan dan atas hiatus ini
menjadi sebuah saluran lengkung, yaitu infundibulum ethmoidale yang bermuara dengan sinus
ethmoidalis anterior. Pada umumnya, infundibulum ethmoidale ini berkesinambungan dengan
ductus nasofrontalis. Ke sebelah ventral, infundibulum ethmoidale berakhir pada sinus
ethmoidalis anterior dan ductus nasofrontalis bermuara lewat infundibulum ini ke dalam ujung
anterior meatus nasi medius. Meatus sinus inferior, di caudal dan lateral terhadap concha nasalis
inferior, berisi muara ductus nasolakrimalis.1-2 (Lihat gambar 3)

4
Gambar 3. Rongga Hidung1
Sinus Paranasal
Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus
frontal, sinus etmoid, dan sinus sfenoid kiri dan kanan. Sinus paranasal merupakan hasil
pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus
mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung.5 (Lihat gambar 4)

Gambar 4. Sinus Paranasal1

Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila
bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran
maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maksila berbentuk pyramid. Dinding anterior sinus
ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah
permukaan infratemporal maksila, dinding medialnya iala dinding lateral rongga hidung, dinding
superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveeolaris dan palatum.
Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus
semilunaris melalui infundibulum etmoid. Cabang dari arteri maxillaris internal mendarahi sinus

5
ini. Termasuk infraorbital (yang berjalan dengan nervus infraorbital), cabang lateral dari
sphenopalatine, palatina mayor, vena axillaris dan vena jugularis sistem dural sinus. Sinus
maxilla disarafi oleh cabang dari V.2. yaitu nervus palatina mayor dan cabang dari nervus
infraorbital.3
Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1
dan P2), molar (M1 dan M2), kadang-kadang gigi taring (C) dan gigi molar M3, bahkan akar
gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi mudah naik ke atas
menyebabkan sinusitis.1
Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase tergantung
dari gerak silia, lagipula darinase harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah
bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang dan alergi pada daerah ini
dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.4
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini
dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada
orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti pyramid dengan dasarnya di bagian posterior. Ukuran
dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm, dan lebarnya 0,5 cm di bagian anterior dan 1,5
cm di bagian posterior.2
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang
terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara media dan dinding
medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi. Berdasarkan letaknya sinus, sinus etmoid dibagi
menjadi sinus etmoid anterior dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sel-
sel sinus etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya di depan lempeng yang
menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding lateral (lamina basalis),
sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan
terletak di posterior dari lamina basalis.3
Di bagian depan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal,
yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Di daerah
etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuaranya
sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis
frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila. Atap sinus
etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribosa. Dinding lateral sinus

6
adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di
bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasn denga sinus sfenoid.4
Sinus ethmoid mendapat aliran darah dari arteri carotis eksterna dan interna . Arteri
sphenopalatina dan juga arteri opthalmica mendarahi sinus. Pembuluh vena mengikuti arterinya
dan dapat menyebabkan infeksi intracranial. Dipersarafi oleh nervus V.1 dan V.2, nervus V.1
mensarafi bagian superior sedangkan sebelah inferior disarafi oleh nervus V.2. Persarafan
parasimpatis melalui nervus Vidian, sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion sympathetic
cervical dan berjalan bersama pembuluh darah menuju mukosa sinus.4
Sinus frontal terletak di os frontal, mulai terbentuk sejak bulan keempat fetus, berasal dari
sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai
berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun.
Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari pada yang lainnya dan
dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya
mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang.3,4
Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm, dan dalamnya 2 cm. Sinus
frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya gambaran septum-
septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen merupakan adanya infeksi sinus. Sinus
frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga
infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui
ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang berhubungan dengan infundibulum etmoid.5
Sinus frontalis mendapat perdarahan dari arteri opthalmica melalui arteri supraorbita dan
supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui vena opthalmica superior menuju sinus cavernosus
dan melalui vena-vena kecil didalam dinding posterior yang mengalir ke sinus dural. Sinus
frontalis dipersarafi oleh cabang nervus V.1. Secara khusus, nervus-nervus ini meliputi cabang
supraorbita dan supratrochlear.6
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid
dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya,
dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5-7,5 ml. Saat sinus
berkembang, pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus sfenoid. Batas-
batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa, sebelah

7
inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus cavernosus dan arteri karotis
interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa
serebri posterior dan pons.1
Arteri ethmoid posterior mendarahi atap sinus sphenoidalis. Bagian lain dari sinus
mendapat aliran darah dari arteri sphenopalatina. Aliran vena melalui vena maxillaris ke vena
jugularis dan pleksus pterigoid. Sinus sphenoidalis disarafi oleh cabang nervus V.1 dan V.2.
Nervus nasociliaris (cabang nervus V.1) berjalan menuju nervus ethmoid posterior dan mensarafi
atap sinus. Cabang-cabang nervus sphenopalatina (V.2) mensarafi dasar sinus.3

Struktur Mikroskopik Hidung dan Sinus Paranasal


Rongga hidung dan sinus paranasalis dilapisi oleh mukosa pernapasan atau mukosa
respiratorik yang fungsi utamanya adalah untuk menyaring benda benda renik dan untuk
menyesuaikan suhu serta kelembaban udara inspirasi. Mukosa ini tersusun atas epitel bertingkat
torak bersilia bersel goblet yang diperkuat oleh vaskular lamina propria. Silia yang terdapat pada
lapisan mukosa ini berfungsi untuk mendorong lendir ke arah belakang, yaitu ke arah nasofaring
sehingga kemudian lendir tertelan atau dibatukkan.6 Pada lamina propria terdapat kelenjar
mukosa dan serosa yang mensekresikan mukosa dan serosa. Fungsi sekret ini adalah untuk
melembabkan udara inspirasi dan menangkap partikel partikel debu yang halus dalam udara
inspirasi. Lamina propria ini menjadi satu dengan periosteum atau perikondrium; membran
mukosa di hidung sering disebut mukoperiosteum atau mukoperikondrium atau membrana
Schneider. Pada lapisan mukosa ini juga terdapat serat kolagen, serat elastin, limfosit, sel plasma
dan sel makrofag.6,7 (lihat gambar 5)

8
Gambar 5. Epitel Olfaktorius

Seterusnya, terdapat mukosa penghidu atau mukosa olfaktoris yang tersusun atas epitel
olfaktori dan lamina propria. Mukosa olfaktoris juga mempunyai epitel bertingkat kolumnar
bersilia, yang mensekresikan mukosa yang cukup banyak. Epitel ini dimodifikasi untuk
penghiduan. Epitel olfaktoris terdiri daripada empat jenis sel, yaitu sel olfaktoris, sel
sustentakular, sel basal dan sel sikat.3,5
Sel olfaktoris mempunyai silia yang snagat panjang, non motil yang mengandung
kemoreseptor. Kelenjar serosa atau kelenjar Bowman di mukosa ini yang terdapat pada lamina
propria melembabkan silia ini untuk melarutkan bauan dalam udara inspirasi. Interaksi reseptor
dengan molekul perangsang menyebabkan depolarisasi membran sel olfaktoris, diikuti timbulnya
potensial aksi.7 Sel olfaktoris adalah modifikasi neuron. Sel ini mempunyai Dendron dan
bersinaps dengan neuron di bulbus olfaktorius. Sejumlah sel akan bergabung bersama sama
menjadi filia olfaktoria, yang membawa potensial aksi dari lamina kribriformis tulang ethmoid
ke lobus olfaktorius sistem saraf.6
Sel sustentakular pula mempunyai mikrovili apical dan kompleks Golgi yang berkembang
baik, sehingga tampak seperti sel sekretoris. Sel basal adalah sel tidak berdiferensiasi tetapi
mempunyai kemampuan untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel olfaktoris dan sel
sustentakuler manakala sel ikat adalah sel dengan mikrovili di apikal.6
Sinus paranasal adalan rongga yang berisi udara yang terdapat dalam tulang tengkorak dan
berhubungan dengan rongga hidung. Terdapat empat tempat sinus, yaitu sinus maxillaries, sinus
frontalis, sinus ethmoidalis dan sinus sphenoidalis. Epeitel yang membatasi sinus sinus

9
paranasal ini adalah epitel bertingkat silindris bersilia dengan sedikit sel goblet. Epitel sinus
paranasalis ini merupakan kelanjutan epitel hidung dan epitel bertingkat silindris bersilia.
Lamina propria juga adalah lebih tipis dan mengandung sedikit kelenjar. Kelenjar kelenjar ini
memproduksi mukus yang akan dialirkan ke cavum nasi oleh gerakan silia.6,7
Sinus-sinus dilaisi oleh epitel pseudostratified ciliated columnar yang berkesinambungan
dengan mukosa di rongga hidung. Epitel sinus ini lebih tipis dari epitel hidung. Ada 4 tipe sel
dasar, yaitu epitel ciliated columnar, non ciliated columnar, sel basal dan sel goblet. Sel-sel
ciliated memiliki 50 - 200 silia per sel dengan struktur dari 9+2 mikrotubulus dengan dynein
lengan. Data penelitian menunjukkan sel ini berdetak 700-800 kali per menit, pergerakan mucosa
pada suatu tingkat 9 mm per menit. Sel yang nonciliated ditandai oleh microvilli yang menutupi
daerah apikal sel dan bertugas untuk meningkatkan area permukaan ( mungkin memudahkan
pembasahan dan kehangatan dari udara inspirasi ). Ini penting untuk meningkatkan konsentrasi
(sampai 50%) dari ostium sinus. Fungsi sel basal belum diketahui, sangat bervariasi baik dalam
bentuk dan jumlah.1-4
Beberapa teori menjelaskan bahwa sel basal dapat bertindak sebagai suatu stem cell yang
dapat membedakan jika dibutuhkan. Sel goblet memproduksi glikoprotein yang berfungsi untuk
viskositas dan elastisitas mukosa. Sel goblet ini disarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis.
Rangsangan saraf parasimpatis menghasilkan mucous yang lebih kental dan dengan rangsangan
saraf simpatis pengeluaran mucous lebih encer. Lapisan epitel disokong oleh suatu basement
membran yang tipis, lamina propia, dan periosteum. Keduanya baik kelenjar serous dan
mucinous mengalir ke dalam lamina propia. Studi anatomi menunjukkan tentang sel goblet dan
kelenjar submucosal di sinus dibandingkan di mukosa hidung. Pada studi tersebut, sinus
maxillaris mempunyai sel goblet yang paling tinggi. Ostia dari rahang, sphenoid dan sinus
ethmoid anterior meningkat dalam jumlah submucosal yang mengandung kelenjar serous dan
mucinous.11

Ruang Rugi Pernapasan


Ruang rugi merupakan ruangan dari hidung/ mulut sampai dengan bronkiolus terminalis
yang terdiri dari rongga hidung (cavum nasi)/rongga mulut, nasofaring, faring, laring, trakea,
bronkus (primer, sekunder, dan tersier), bronkiolus, dan bronkiolus terminalis atau serin disebut
dengan ruang rugi anatomi. Ruang rugi tidak terlibat pada pertukaran gas dan hanya sebagai

10
saluran dari pernapasan. Jika terdapat alveol yang tidak berfungsi, maka dapat disebut dengan
ruang rugi fisiologi yang mana terdiri dari ruang rugi anatomi dan ruang rugi alveoler.12

Kesimpulan
Sinus paranasalis merupakan rongga udara yang terdapat pada bagian padat dari tulang
tengkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk memperingankan tulang tengkorak. Sinus ini
terdiri atas sinus frontalis, sinus sphenoidalis, sinus ethmoidalis, dan sinus maxillaris. Udara
masuk ke dalam sinus melalui sebuah lubang kecil yang menghubungkan antara rongga sinus
dengan rongga hidung (cavum nasi) yang disebut dengan ostia. Pada cavum nasi terdapat banyak
pembuluh darah dan saraf, selain itu cavum nasi juga merupakan salah satu dari ruang rugi yang
artinya saluran dari pernapasan dan tidak terlibat dalam pertukaran gas.

Daftar Pustaka
1. Snell RS. Clinical anatomy by regions. 9th ed. United States: Wolters Kluwer
Health/Lippincott Williams & Wilkins; 2012:p.641 4.
2. Faiz O, Moffat D. Anatomy at a glance. 2nd ed. United States: Blackwell Science Ltd;
2002:p.145 7.
3. Guyton AC, Hall JE. Guyton and hall textbook of medical physiology. 12th ed. United
States: Saunders Elsevier; 2011:p.465 6, 488 91, 495 500, 502.
4. Feneis H, Dauber W. Pocket atlas of human anatomy based on the international
nomenclature. 4th ed. New York: Thieme Stuttgart; 2000:p.135 6.
5. Putz R, Pabst R. Sobotta atlas of human anatomy: head, neck and upper limb. 14th ed.
Munich: Elsevier Urban & Fischer; 2006:p.86 91.
6. Mescher AL. Junqueiras basic histology: text & atlas. 12th ed. United States: McGraw Hill
Companies; 2010:p.292 5.
7. Wheater PR, Burkitt HG, Daniels VG. Wheaters functional histology: a text
and colour atlas. 3rd ed. UK: Longman Group Ltd; 2010:p.295 8.
8. Sherwood L. Fundamentals of human physiology. United States: Brooks/Cole CENGAGE
Learning; 2012.
9. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2010:h.154-68
10. Marks, DB, dkk. Biokimia Kedokteran Dasar Sebuah Pendekatan Klinis. Jakarta: EGC;
2011:h.35-40.
11. Junqueira, Carlos L,Carneiro J. Histologi dasar, teks dan atlas. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; (10)2007:h.69-71.
12. Salim D, Winata H, Gunardi S, Husin E, Maria A, et al. Sistem respiratory 1. Jakarta:
Universitas Kristen Krida Wacana; 2016.

11