Anda di halaman 1dari 31

HALAMAN PENGESAHAN

Kelompok : 3-Senin
Anggota : 1. Aryadita Ayu Pratama
2. Rafieta Hyda
3. Agum Mahatma
4. Valeria Irma

Telah disahkan pada,


Hari :
Tanggal :

Semarang, 2017

Mengesahkan
Asisten Pengampu,
RINGKASAN

Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan makhluk hidup. Dalam menentukan
kualitas air telah ditetapkan standar baku mutu air di Indonesia, baik standar baku mutu air
minum, air industri, dan sebagainya. Secara umum, kualitas air dapat ditinjau dari segi
biologis, fisis, dan kimia yang merupakan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Oleh karena itu,
percobaan ini penting untuk dilakukan, yaitu untuk melakukan pemeriksaan terhadap suatu
sampel air. Tujuannya adalah mengetahui pengaruh media terhadap jumlah koloni,
menentukan growth rate dan doubling time dan membandingkan radius perkembangan
mikroba dengan desinfektan yang berbeda

Metode praktikum ini diawali dengan langkah pendahuluan. Kemudian dilanjut dengan
langkah percobaan PA. meliputi uji koloni dan uji desinfektan. Praktikum ini menggunakan
variabel suhu penyimpanan. Suhu penyimpanan yang digunakan yaitu safety cabinet, kulkas,
dan inkubator.
PRAKATA

Puji syukur senantiasa dihaturkan untuk Tuhan yang Maha Esa, karena berkat nikmat
dan rahmat-Nya, laporan dapat diselesaikan sesuai harapan. Penyusunan Laporan ini
ditujukan sebagai syarat untuk melaksanakan praktikum mikrobiologi industri. Laporan ini
berisi materi pemeriksaan air. Dalam laporan ini, dijelaskan mengenai pengertian dan metode
yang tepat untuk pemeriksaan air. Dengan tujuan mahasiswa mampu melakukannya dengan
baik.
Terselesaikannya laporan ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak. Oleh karena itu,
ucapan terima kasih diucapkan kepada asisten Laboratorium mikrobiologi industri. Tidak lupa
terima kasih kepada teman-teman atas dukungan dan bantuannya dalam bentuk apapun.
Dalam penyusunan laporan ini, usaha semaksimal mungkin telah dilakukan untuk
menyusun laporan ini sebaik mungkin. Namun, disadari bahwa tidak ada suatu apapun yang
sempurna. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.

Semarang,

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
RINGKASAN iii
PRAKATA v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR GAMBAR x
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Perumusan Masalah
1.3 Tujuan Praktikum 2
1.4 Manfaat Praktikum 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Mikroorganisme Air
2.2 Persyaratan Standarisasi Kualitas Air 3
2.3 Sifat Koloni 4
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Mikroorganisme 4
2.5 Perhitungan Jumlah Koloni 5
2.6 Jenis jenis Pengolahan Air.
2.7 Deskripsi Sampel Air
BAB III METODE PRAKTIKUM 8
3.1 Alat dan Bahan 8
3.2 Prosedur Praktikum 9
DAFTAR PUSTAKA 11
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Contoh perhitungan manual koloni pada petridish 4


Gambar 2.2 Pengambilan air sampel di Masjid Agung Jawa Tengh 5
Gambar 2.3 Bakteri Aspergillus niger 6
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan makhluk hidup. Akan tetapi
dapat juga merupakan suatu substansi yang membawa malapetaka, karena air dapat
membawa mikroorganisme patogen dan zat-zat kimia yang bersifat racun. Dalam air baik
yang kita anggap jernih sampai air yang sudah kotor atau tercemar. Kebutuhan air bersih
semakin lama semakin meningkat sesuai dengan kenaikan jumlah penduduk dan
keperluan penduduk itu sendiri. Selama ini kebutuhan akan air dipenuhi dari berbagai
sumber di antaranya air sungai, danau, laut, dan sumur.
Dalam menentukan kualitas air telah ditetapkan standar baku mutu air
di Indonesia, baik standar baku mutu air minum, air industri, dan sebagainya. Secara
umum, kualitas air dapat ditinjau dari segi biologis, fisis, dan kimia yang merupakan
syarat-syarat yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, percobaan ini penting untuk
dilakukan, yaitu untuk melakukan pemeriksaan terhadap suatu sampel air.

1.2 Rumusan Masalah


Air adalah hal yang paling penting bagi keberlangsungan kehidupan makhluk
hidup. Mengingat urgensi air bagi kehidupan, menjadi suatu keharusan untuk selalu
menjaga kualitas air. Maka dari itu, standar baku mutu air ditentukan sebagai parameter
layak tidaknya air dikonsumsi untuk kehidupan. Secara umum, kualitas air bisa ditinjau
dari segi biologis, fisis, dan kimia.
Dalam praktikum ini, akan mencari pengaruh media dan factor pengenceran
terhadap jumlah koloni, menentukan growth rate dan doubling time, serta perbandingan
radius mikroba dengan desinfektan yang berbeda. Sebagai sarjana teknik kimia, harus
mampu melakukan pemeriksaan air secara tepat, efektif, efisien.

1.3 Tujuan Percobaan


1. Mengetahui pengaruh suhu terhadap jumlah koloni.
2. Menentukan growth rate dan doubling time pertumbuhan koloni.
3. Membandingkan radius perkembangan mikroba dengan desinfektan yang berbeda.

1.4 Manfaat Percobaan


1. Mahasiswa mampu mengetahui pengaruh suhu terhadap jumlah koloni.
2. Mahasiswa mampu menghitung pertumbuhan koloni.
3. Mahasiswa mampu membandingkan radius perkembangan mikroba dengan desinfektan
yang berbeda

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mikroorganisme Air
Perairan alami memiliki sifat yang dinamis dan aliran energi yang kontinyu hal
ini terjadi selama sistem di dalamnya tidak mendapatkan gangguan atau hambatan,
antara lain dalam bentuk pencemaran. Di lingkungan laut lepas memiliki populasi
mikroorganisme yang relatif lebih rendah, di lingkungan pantai populasi
mikroorganisme terdapat lebih banyak, hal ini karena lingkungan pantai kaya akan
nutrien yang berasal dari daratan. Kelompok mikroorganisme yang hidup di dalam air
adalah bakteri, alga biru-hijau, fungi, microalgae virus, dan protozoa.
Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan jasad hidup. Akan tetapi
dapat juga merupakan suatu substansi yang membawa malapetaka, karena air
dapat membawa mikroorganisme patogen dan zat-zat kimia yang bersifat racun
(Tarigan, 1988). Dalam air di dalamnya akan terkandung sejumlah kehidupan.
Didalamnya terdiri dari bakteri, yaitu :
a. Kelompok bakteri besi (misalnya Crenothrix dan Sphaerotilus) yang
mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Akibat kehadirannya, air
sering berubah warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitam-hitaman,
kecoklat-coklatan, dan sebagainya.
b. Kelompok bakteri belerang (antara lain Chromatium dan Thiobacillus) yang
mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S. Akibatnya kalau air disimpan lama
akan tercium bau busuk seperti bau telur busuk.
c. Kelompok mikroalge (misalnya yang termasuk mikroalga hijau, biru dan kersik),
sehingga kalau air disimpan lama di dalamnya akan nampak jasad-jasad yang
berwarna hijau, biru atau pun kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi
jasad- jasad tersebut serta lingkungan yang mempengaruhinya.
Mikroorganisme di perairan berdasarkan sifat tropiknya meliputi :
a. Mikroba autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis
makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan
energi seperti matahari dan kimia. Contohnya : Thiobacillus, Nitrosomonas,
Nitrobacter.
b. Mikroba heterotrof adalah organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik
sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Contohnya
antara lain : Saprolegnia sp., Candida albicans, Trichopnyton rubrum.

2.2 Persyaratan Standarisasi Kualitas Air


Pemerintah telah mengatur standarisasi kualitas air yang diatur dalam PP RI
No. 20 Tahun 1990. Di dalamnya, disebutkan persyaratan-persyaratan untuk kualitas
air yang layak. Persyaratannya meliputi :
a. Persyaratan
Biologis
Tidak mengandung kuman penyakit dan bakteri patogen.
b. Persyaratan Fisis
Jernih atau tidak keruh
Tidak berwarna
Rasanya tawar
Tidak berbau
Temperature normal
Tidak mengandung padatan
c. Persyaratan Kimia
Derajat keasaman (pH) (antara 6,5 9,2
Kesadahan
Tidak mengandung zat organic
Tidak mengandung besi (maksimal 1 mg/l),
alumunium (maksimal 0,2 mg/l), sulfat, nitrat,
dan nitrit
2.3 Sifat Koloni
a. Sifat Umum Koloni
Ukuran ; berupa titik hingga melebar menutupi permukaan medium
Bentuk ; buat, memanjang, tepinya rata, tepinya tidak rata
Kenaikan permukaan ; rata dengan medium, menjulang tebal di atas permukaan
Halus kasarnya permukaan ; halus, kasar, tidak rata, kasar
Wajah permukaan ; mengkilat, suram
Warna ; keputihan, kekuningan, kemerahan, coklat, jingga, biru, hijau, ungu
Kepekatan ; lunak seperti lendir, lunak seperti mentega, keras, kering
b. Sifat Khusus Koloni
Dalam medium padat
Pada agar-agar lempengan
Dilukiskan sebagai titik-titik, bulat, berbenang, tidak teratur, mirip akar dan
kumparan, permukaan datar, timbul mendatal, timbul melengkung/mencekung.
Pada agar-agar miring
Bentuk mirip seperti pedang, duri, tasbih, titik-titik, batang, atau akar.
Pada tusukan gelatin
Ada bakteri yang mampu mengencerkan gelatin (bentuknya kawah, mangkuk,
acorong). Ada bakteri yang tidak mampu mengencerkan gelatin (bentuknya
pedang, tasbih, atau batang).
Dalam medium cair
Bakteri dapat diketahui sifatnya terhadap udara.
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Mikroorganisme
1. Temperatur
Pertumbuhan tergantung pada laju reaksi kimia yang dipengaruhi oleh suhu.
Berdasarkan suhu, bakteri dibagi menjadi :
Psikrofil
Bakteri yang tumbuh pada suhu 0-300C
Mesofil
Bakteri yang tumbuh pada suhu 25-400C Termofil, bakteri yang tumbuh pada
suhu 500C atau lebih
2. Medium
Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan dengan isolasi mikroorganisme
menjadi kultur murni. Ada beberapa medium yang umum digunakan untuk
pertumbuhan koloni, salah satunya adalah Potato Dextrose Agar (PDA). Pada medium
PDA, nutrien utama penyusunnya terdapat pada kentang. Medium PDA berfungsi
untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan fungi atau jamur.
3. Pengaruh sinar
Sinar yang mempunyai gelombang pendek (sinar, UV, gamma), mempunyai
daya penetrasi yang cuku besar tehadap mikroba. Seinar tersebut dapar
mengakibatkan kematian, mutasi, atau penghambatan pertumbuhan mikroba.
4. Pengaruh mekanik

Beberapa mikroorganisme dapat hidup pada tekanan lebih dari 1208 kg/cm2
(Barofilik). Tekanna yang tinggi akan enybabkan adanya peningkatan reaksi kimia.

Sedangkan tekanan diatas 7500 kg/cm2 dapat menyebabkan denaturasi protein.


5. Faktor kimia
Keberadaan oksigen juga mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Berdasarkan
kebutuhannya, dibagi menjadi bakteri anaerob obligat, anaerob fakultatif, aerob
obligat, mikroaerofilik. Selain itu, ada tidaknya desinfektan juga memengaruhi
pertumbuhan bakteri. Pada umumnya, bakteri muda daya tahan terhadap desinfektan
lebih lemah daripada bakteri yang tua. Sedangkan kenaikan suhu akan menahmbah
daya desinfektan.
6. PH
pH optimum yaitu 6,5-7,5. Tetapi ada bakteri yang tumbuh pada suasana
asam/basa.

2.5 Perhitungan Jumlah Koloni


2.5.1 Perhitungan Dengan SPC
Standart Plate Count (SPC) digunakan untuk menemukan kepadatan bakteri
heterotrof dan fakultatif aerob. Dalam percobaan ini pengukuran secara empiris
karena bakteri dapat membentuk koloni rantai kelompok. Dasar SPC adalah
membuat suatu seri pengenceran bahan dengan kelipatan 10. Setelah inkubasi,
dilihat jumlah koloni tiap periode dapat digunakan coloni encounter yang
dilengkapi dengan register. Perhitungandan pencatatan koloni pada plate
dilakukan sesegera mungkin setelah periode inisampai selesai. Bila perhitungan

ditunda, plate harus disimpan pada suhu 5-100C dan tidak boleh lebih dari 21 jam.
2.5.2 Perhitungan Manual
Perhitungan koloni secara manual dilakukan dengan menghitung jumlah
koloni terbanyak dan tersedikit. Sampel diencerkan hingga 2x pengenceran,
setelah waktu inkubasi, jumlah koloni dalam petridish dapat dihitung secara
manual (dihitung biasa), jumlah koloni terbanyak dan tersedikit, kemudian dicari
rata- ratanya.
Jumlah koloni dalam petridish = rata-rata jumlah koloni x luas petridish x fp
Keterangan :

Luas petridish = 63,585 cm Fp = 10

Gambar 2.1 Contoh perhitungan manual koloni pada petridish

2.5.3 Growth Rate dan Doubling Time


Growth rate adalah perubahan jumlah atau massa sel persatuan waktu.
Generation time (doubling time) adalah interval saat formasi 2 sel dari 1 sel.
Perumusan untuk doubling time ini adalah sebagai berikut :

N = N0.2n

N = jumlah akhir
N0 = jumlah sel awal
n = jumlah generasi

2.5.4 Desinfektan
Desinfektan adalah bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk
mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus
(Rismana, 2002). Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat
digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptic. Macam-macam desinfektan yang
digunakan :
1. Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi
kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran
gigi unguk mendesinfeksi permukaan.

2. Aldehid
Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada
kedokteran gigi. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat
yang tidak dapat disterilkan. Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri
M. tuberculosis, fungi, dan virus.
3. Biguanid
Klorheksidin merupakan contoh biguanid yang digunakan secara luas
dalam kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrol plak. Efektivitasnya pada
rongga mulut disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary
mucus.
4. Senyawa halogen.
Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion
halide.
5. Fenol
Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk
membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh
zat organik. Zat ini banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.
6. Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak
digunakan sebagai antiseptik.
2.6 Jenis jenis Pengolahan Air
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah
dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik teknik pengolahan air buangan yang telah
dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan :
- pengolahan secara fisika
- pengolahan secara kimia
- pengolahan secara biologi
Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan
secara sendiri sendiri atau secara kombinasi .
2.6.1 Pengolahan Secara Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan,
diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap
atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening)
merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang
berukuran besar . Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara
mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses
pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di
dalam bak pengendap . Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan
yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan
berikutnya Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan
tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan
memberikan aliran udara ke atas (air flotation). Proses filtrasi di dalam pengolahan air
buangan , biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse
osmosisnya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel
tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat
membran yang dipergunakan dalam proses osmosa. Proses adsorbsi , biasanya dengan
karbon aktif , dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya : fenol ) dan
senyawa organik terlarut lainnya , terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali
air buangan tersebut. Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan
untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk
menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

2.6.2 Pengolahan Secara Kimia


Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa
fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang
diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui
perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah
diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi reduksi, dan
juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. Pengendapan bahan tersuspensi yang tak
mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang
berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut,
sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor
dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk
endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam
tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5.
Khusus untuk krom heksavalen , sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida
[Cr( OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan
reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5). Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti
fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya
dengan klor (Cl), 2kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida. Pada dasarnya
kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia tetapi biaya
pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia .

2.6.3 Pengolahan Secara Biologi


Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai
pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang
paling murah efisien.
Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi
dengan segala modifikasinya. Pada dasarnya , reaktor pengolahan secara biologi dapat
dibedakan atas dua jenis , yaitu :
1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi(suspended growth reaktor);
2. Reaktor pertumbuhan lekat(attached growth reaktor).
Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan
berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal
berlangsung dalam reaktor jenis ini Proses lumpur aktif terus berkembang dengan
berbagai modifikasinya , antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional oxidation ditch mempunyai
beberapa kelebihan , yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90%
(dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit . Selain efisiensi
yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu
waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat pula
menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga
tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan . Kolam
oksidasi dan lagoon baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk dalam jenis
reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu detensi
hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak
diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang
ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja. Di
dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung
dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi telah
banyak dikembangkan selama ini , antara lain:
a. trickling filter
b. cakram biologi
c. filter terendam
d. reaktor fludisasi
Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar
80%-90%. Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara
biologi , proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis :
a. Proses aerob , yang berlangsung dengan hadirnya oksigen ;
b. Proses anaerob , yang berlangsung tanpa adanya oksigen .
Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap
lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses anaerob
menjadi lebih ekonomis (Hafni, 2012).

2.7 Sampel Air


Sampel yang digunakan untuk praktikum ini adalah air yang didapat dari :
Tempat : Masjid Agung Jawa Tengah
Waktu :

Dokumentasi :

Deskripsi singkat :

Masjid Agung Jawa Tengah adalah Masjid yang terletak di jalan Gajah Raya, Kelurahan
Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang Jawa Tengah. Masjid ini sangat megah
dengan luas lahan mencapai 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk shalat 7.669 meter
persegi tersebut bargaya arsitektur perpaduan antara Jawa, Jawa Tengah dan Yunani. Dilengkapi
dengan 6 buah payung elektrik ukuran besar yang dibuka jika jemaah sholat cukup banyak.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Rancangan Praktikum

3.1.1 Skema Rancangan Percobaan


a. Pendahuluan

Menyiapkan petridish dan tabung reaksi yang disterilisasi

Mengencerkan sampel

Menyiapkan media

Membagi media ke petridish dan tabung reaksi secara merata

Gambar 3.1 Alur praktikum uji pendahuluan

b. Uji koloni
Membiarkan media dalam petridish setengah padat

Menaburkan sampel yang sudah diencerkan

Menyimpan dalam ruang inkubasi dan dibalik peletakannya

Mengamati dan menghitung koloni

Gambar 3.2 Alur praktikum uji koloni


c. Uji Desinfektan

Membiarkan media dalam petridish memadat kemudian


membuat lubang di tengah

Meneteskan sampel desinfektan

Menyimpan dalam ruang inkubasi selama waktu


yang ditentukan

Mencatat radius pertumbuhan

Gambar 3.3 Alur praktikum uji desinfektan

3.1.2 Variabel Operasi


a. Uji Koloni = Air Masjid Agung Jawa Tengah
Media uji koloni = PDA
Suhu Pengimpanan = safety cabinet, kulkas, incubator

3.2 Bahan dan Alat yang Digunakan


3.1.1 Bahan
1. Sampel Air Masjid Agung Jawa Tengah
2. Aquadest
3. PDA
4. Jeruk Lemon
5. Jeruk Nipis
6. Jeruk Manis
3.1.2 Alat
1. Beaker glass 4. Pipet tetes
2. Petridish 5. Pengaduk
3. Erlenmeyer 6. Kompor listrik
3.4 Prosedur Praktikum
Langkah-langkah pendahuluan :
a. Menyiapkan petridish yang sudah disterilisasi.

b. Mengencerkan sampel (2x, 3x, 4x faktor pengenceran), mengambil 10 ml


sampel kemudian diencerkan 100 ml, dan dari 100 ml diambil 10 ml lalu
diencerkan lagi menjadi 100 ml.

c. Lanjutkan sampai didapatkan 2x, 3x, 4x pengenceran (10-2, 10-3, 10-4).

d. Menyiapkan media, mengambil 3,9 gram PDA kemudian masukkan ke dalam


kurang lebih 80 ml.
e. Tambahkan aquadest kemudian dipanaskan hingga
mendidih. f. Membagi media ke dalam petridish secara
merata.

Langkah-langkah percobaan PA :
1. Uji Koloni
a. Biarkan media dalam petridish sampai setengah padat kemudian taburi
dengan sampel yang sudah diencerkan secara merata ke permukaan media
menggunakan pipet tetes yang sudah disterilisasi.
b. Simpan dalam ruang inkubasi dengan cara dibalik peletakannya selama
waktu inkubasi yang ditentukan. (Biasanya 2 hari) .
c. Menghitung jumlah koloni terbanyak dan tersedikit (dihitung biasa),
kemudian dicari rata-ratanya.
Rata-Rata jumlah koloni = (terbanyak+tersedikit)/2

Jumlah koloni dalam petridish = rata-rata jumlah koloni x luas petridish x fp

Keterangan : Luas petridish = 63,585 cm

Fp

=10-4

Menghitung growth rate atau nilai laju pertumbuhan spesifik () dengan


persamaan : Keterangan :
= laju pertumbuhan spesifik

xt = konsentrasi sel pada t


tertentu x0 = konsentrasi sel
awal
t = waktu yang dibutuhkan

Sedangkan doubling time tersebut dapat dirumuskan menjadi :


= ln x - ln x0

=
2/

2. Uji Desinfektan

1. Biarkan media dalam petridish memadat kemudian buat lubang kecil pada
tengah- tengah media tersebut. Kemudian teteskan contoh desinfektan ke dalam
lubang tersebut menggunakan pipet tetes.
2. Simpan dalam ruang inkubasi selama waktu yang telah ditentukan (biasanya
2 hari).
3. Mencatat radius pertumbuhan diukur dari lubang yang dibuat (radius terjauh,
radius terdekat, dan rata-rata)
DAFTAR PUSTAKA

Hafni. 2012. Proses Pengolahan Air Bersih Pada PDAM Padang. Institut Teknologi Padang.
Padang.
Rismana, E. 2002. Modifikasi Pati untuk Farmasi. Pikiran Rakyat Cyber Media. Hal: 3-5.
Tarigan, J., 1988, Pengantar Mikrobiologi Umum. Departemen Pendidikan dan. Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta.
RINGKASAN

Pemindahan atau pembiakan mikroba sangat penting dilakukan, hal ini dimaksudkan
agar ketika kita membutuhkan suatu mikroba kita tidak perlu mencari dengan susah payah
lagi. Karena kita sudah bisa membiakannya. Dalam melakukan pemindahan biakan mikroba
haruslah dilakukan dengan cara steril, hal ini bertujuan agar tidak terjadi kontamian pada
bakteri yang kita pindahkan ataupun pada bakteri yang akan kita kultur. Sterilisasi adalah
suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu
benda. Beberapa metode sterilisasi seperti autoclave, oven, cara kimiawi, sinar ultraviolet,
dan pendidihan. Aspergillus niger Merupakan jamur multiselluler (mempunyai inti lebih dari
satu) yang membentuk benang-benang hifa/filament. Penggunaan utama dari Aspergillus
niger adalah untuk produksi enzim dan asam organik dengan cara fermentasi.

Langkah percobaan PSA adalah dengan biarkan media dalam tabung memadat.
Kemudian menyiapkan kawat osse, mensterilkan kawat osse, memindahkan mikroorganisme
dari biakan murni. Lalu simpan dalam ruang inkubasi. Terakhir mengamati kenampakan
setelah waktu inkubasi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sterilisasi
Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua
organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda (Purnawijayanti, 2011).
Ketika untuk pertama kalinya melakuka pemindahan biakan bakteri secara aseptic,
sesungguhnya hal itu telah menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran.
Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan
mikrobiologi akan menjadi rusak bila dibakar. Ada beberapa metode sterilisasi, yaitu :
a. Autoclave
Adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda

menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang
lebih
15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh
mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi
inilah yang akan membunuh microorganisme. Autoclave terutama ditujukan untuk
membunuh endospora, yaitu sel dari mikroorganisme yang tahan terhadap pemanasan,
kekeringan, dan antibiotik. Pada spesies yang sama, endospora dapat bertahan pada
kondisi lingkungan yang dapat membunuh sel vegetatif bakteri. Endospora dapat
dibunuh pada suhu 100 C, yang merupakan titik didih air pada tekanan atmosfer
normal. Pada suhu 121 C, endospora dapat dibunuh dalam waktu 4-5 menit, di mana

sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya dalam waktu 6-30 detik pada suhu 650C.

b. Oven
Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi
dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak,
paraffin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin
dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering
adalah metode yang paling efektif untuk alat-alat gelas dan banyak alat-alat bedah.
Waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah

tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 1210C selama 12
menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu

1500C sampai

1700C selama 1-4 jam.

c. Cara Kimiawi
Biasanya sterilisasi secara kimiawi menggunakan senyawa desinfektan antara lain
alkohol. Antiseptik kimia biasanya dipergunakan dan dibiarkan menguap seperti
halnya alkohol. Umumnya isopropil alkohol 70-90% adalah yang termurah namun
merupakan antiseptik yang sangat efisien dan efektif. Penambahan yodium pada
alkohol akan

meningkatkan daya disinfeksinya. Dengan atau iodium, isopropil tidak efektif terhadap
spora. Solusi terbaik untuk membunuh spora adalah campuran formaldehid dengan
alkohol, tetapi solusi ini terlalu toksik untuk dipakai sebagai antiseptik. Pemilihan
antiseptik terutama tergantung pada kebutuhan daripada tujuan tertentu serta efek yang
dikehendaki. Perlu juga diperhatikan bahwa beberapa senyawa bersifat iritatif, dan
kepekaan kulit sangat bervariasi. Zat-zat kimia yang dapat dipakai untuk sterilisasi
antara lain yaitu halogen (senyawa klorin, iodium), alkohol, fenol, hidrogen feroksida,
zat warna ungu kristal, derivat akridin, rosanalin, detergen, logam berat, aldehida, dll.

d. Sinar Ultraviolet
Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di
udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang bersifat membunuh
mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan
secara eksklusif pada 253,7 nm.

e. Pendidihan
Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi
jarum spoit, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. Bahan-bahan ini harus benar-
benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit. Setelah
sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi
menggunakan pemijaran. Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air, 5 %
fenol, 1-2% Na-carbonat atau 2-3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat
kondisi bahan-bahan logam.

2.2 Aspergillus Niger

Gambar 2.3 Bakteri Aspergillus niger


Aspergillus niger Merupakan jamur multiselluler (mempunyai inti lebih dari satu)
yang membentuk benang-benang hifa/filament. Kumpulan dari hifa disebut misellium
yang membentuk suatu anyaman. Hifa yang dibentuk ada yang bersekat ataupun tidak
bersekat. Hifa yang berada di atas permukaan media disebut hifa aerial yang berfungsi
sebagai alat perkembangbiakan. Hifa yang berada di dalam media disebut hifa
vegetative berfungsi sebagai alat untuk menyerap makanan Aspergillus niger termasuk
kedalam jamur jenis kapang.

Aspergillus niger mempunyai kepala konidia yang besar, bulat dan berwarna hitam,
coklat hitam atau ungu coklat. Konidianya kasar dan mengandung pigmen, hifa septat

dan miselium bercabang. Konidiofora membengkak membentuk vesikel pada ujungnya


membawa sterigmata dimana tumbuh konidia. Konidia membentuk rantai berwarna
hijau, coklat atau hitam, Jamur ini tumbuh baik pada suhu kamar dan pada medium pH
asam. Spora-spora yang dibentuk didalam askus atau kotak spora (Rapper dan Fennel,

1977). Aspergillus niger dapat tumbuh pada suhu 350C-370C (optimum), 60C-

80C

(minimum), 450C-470C (maksimum). Kisaran pH yang dibutuhkan 2,8-8,8 dengan


kelembaban 80-90%. Habitat Aspergillus niger kosmopolit di daerah tropis dan
subtropis, mudah didapatkan dan di isolasi dari udara, tanah dan air (Fardiaz, 1989).
Kebanyakan jamur dapat tumbuh pada kisaran pH yang luas yaitu pH 2-8,5 tetapi
biasanya pertumbuhannya akan lebih baik pada kondisi asam atau pH rendah.
Penggunaan utama dari Aspergillus niger adalah untuk produksi enzim dan asam
organik dengan cara fermentasi. Sementara makanan, yang beberapa enzim dapat
digunakan dalam persiapan, tidak tunduk pada TSCA, enzim ini dapat memiliki
kegunaan ganda, banyak yang tidak diatur kecuali dalam TSCA. Fermentasi untuk
menghasilkan enzim ini dapat dilakukan dalam pembuluh sebesar 100.000 liter
(Finkelstein, F.O. et al, 2009). Aspergillus niger juga digunakan untuk menghasilkan
asam organik seperti asam sitrat dan asam glukonat. A. niger memiliki beberapa
kegunaan sebagai organisme itu sendiri, selain produk fermentasi. Misalnya, karena
kemudahan visualisasi dan resistensi terhadap agen antijamur. Beberapa Aspergillus
niger digunakan untuk menguji kemanjuran pengobatan pengawet (Jong dan Gantt,
1987).

2.3 Medium Pertumbuhan


Medium adalah suatu bahan terdiri atas campuran nutrisi atau zat hara (nutrien) yang
digunakan menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya. Selain itu, medium dapat
dipergunakan pula untuk isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis, dan penghitungan
jumlah mikroorganisme. Hal ini erat kaitannya dengan postulat koch; untuk menetapkan suatu
jenis mikroba sebagai penyebab penyakit harus terlebih dahulu harus mendapatkan mikroba
dalam keadaan murni (pure culture) untuk diselidiki sifat-sifatnya. Untuk tujuan tersebut sangat
diperlukan suatu medium (perbenihan) sebagai tempat tumbuh dan isolasi mikroorganisme.
(Waluyo, 2008)
2.3.1 Penggolongan Medium Biakan
Perbedaan sifat-sifat mikroba terhadap induk semangnya akan berpengaruh terhadap
medium apa yang akan dipakai. Berdasarkan sumber karbon yang digunakan, mikroba dibagi
menjadi dua kelompok. Mikroba yang mensintesis semua komponen sel dari karbon dioksida
dinamakan ototrof, sedangkan mikroba yang memerlukan satu atau lebih senyawa organik
sebagai sumber karbon disebut heterotrof. Namun disamping sumber karbon organik,
heterotrof juga memerlukan karbon dioksida. Macam zat organik yang diperlukan 10 macam
atau lebih senyawa organik dari yang sederhana sampai kompleks.
Berdasarkan keheterotrofannya mikroba dapat digolongkan beberapa kelompok besar medium,
yakni:
a. Media Hidup
Media hidup pada umumnya dipakai dalam laboratorium virologi untuk pembiakaan
barbagai virus, sedangkan dalam laboratorium bakteriologi hanya beberapa kuman tertentu saja,
dan terutama pada hewan percobaan.
b. Media Mati
Pada media mati juga dikenal adanya media sintesis. Media sintesis merupakan media yang
mempunyai kandungan dan isi bahan yang telah diketahui secara terperinci. Media sintesis
sering digunakan untuk mempelajari sifat faali dan genetika mikroorganisme.
Medium mati berdasarkan konsistensinya terbagi manjadi beberapa macam, yakni:
1) Media Padat
Media padat diperoleh dengan cara menambahkan agar-agar. Agar berasal dari
ganggang merah yang berfungsi sebagai bahan pemadat. Alga digunakan karena bahan ini
tidak diuraikan oleh mikroorganisme, dan dapat membeku pada suhu diatas 45C. Media
padat terbagi menjadi media agar miring, dan agar deep.
Medium padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau morfologi
koloni dan untuk mengisolasi biakan murni. Bahan membuat medium menjadi padat ini
dapat agar-agar, gelatin atau silika gel. Namun yang paling sering agar-agar. Bahan utama
agar-agar adalah galaktan, yakni kompleks karbohidrat yang diekstraksi dari alga laut genus
gelidium, namun sebagian mikroba tidak dapat menggunakan agar-agar sebagai
makanannya. Sehingga dapat semata-mata sebagai bahan pemadat.
2) Media Setengah Padat (Semi Solid Medium)
Media setengah padat dibuat dengan bahan sama dengan media padat, akan tetapi
yang berbeda adalah komposisi agarnya. Media ini digunakan unuk melihat gerak kuman
secara mikroskopik dan kemapuan fermentasi. Medium setengah padat dalam keadaan panas
berentuk cair, tetapi dalm keadaan dingin berbentuk padat. Berdasarkankeperluannya
medium ini dapat dibuat tegak atau miring.
3) Media Cair
Secara umum medium cair adalah medium yang berbentuk cair medium cair
digunakan untuk berbagai tujuan seperti pembiakan mikroba dalam jumlah besar, penelaahan
fermentasi, dan berbagai macam uji. Beberapa macam medium cair adalah kaldu nutrien,
kaldu glukosa, air pepton, perbenihan kauffmann, medium deret gula-gula, kaldu laktosa,
BGLBB (Brilliant Green Lactosa Bile Broth), air bulyon, dan lain sebagainya.
(Waluyo,2008)
2.4 Langkah-Langkah Pemindahan Bakteri
Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan pemindahan biakan segar
tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan biakan dilakukan dengan teknik aseptik dengan
mempertahankan kemurnian atau kesterilan biakan selama pemindahan berulang kali (W. Lay
Bibian). Teknik pemindahan biakan mikroba secara aseptik :
A . Teknik penggoresan agar
Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Untuk mendapatkan
koloni yang terpisah sewaktu penggoresan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Dinginkan lup inokulasi setelah dipijarkan. Lup inokulasi yang panas akan
mematikan mikroorganisme sehingga tidak terjadi pertumbuhan pada bekas goresan.
Lup inokulasi disentuhkan pada lempengan agar, sewaktu disentuhkan biakan akan
meluncur diatas permukaan lempengan. Agar yang lunak dapat mengganggu
pertumbuhan mikroorganisme sehingga sulit diperoleh koloni yang terpisah.
Pijarkan lup inokulasi setelah penggoresan satu daerah, tujuannya untuk mematikan
organisme yang melekat dan mencegah pencemaran pada penggoresan berikutnya.
Gunakan tutup cawan petri untuk untuk melindungi permukaan agar dari
pencemaran.
Balikkan lempengan agar untuk mencegah air kondensasi jatuh ke atas agar yang
dapat meruak permukaan agar.
B Teknik agar miring Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran.
Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan dalam mikroorganisme sehingga pada
suatu saat hanya ditemukan satu sel dalam satu lubang. Pada cara agar tulang dilakukan
pengenceran satu meta lup inokulasi suspensi bakteri ke dalam tiga tabung agar tuang, sehingga
akan diperoleh lempengan dengan jumlah mikroba yang optimum untuk isolasi. c. Teknik agar
sebar Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan pemindahan biakan segar
tanpa pembiakan tercemar. Untuk mempertahankan kemurnian teknik pemindahan berulang-
ulang mikroorganisme dapat ditumbuhkan dalam media cair dan padat. Dalam media cair
maupun padat, bakteri dapat tumbuh secara menyebar pada seluruh permukaan medium (W.
Lay Bibian, 1994).

BAB III

METODE PRAKTIKUM
3.1 Rancangan Praktikum

3.1.1 Skema Rancangan Percobaan

membiarkan media dalam


tabung reaksi memadat

menyiapkan kawat osse,


bunsen, HCl

Sterilisasi kawat osse

memindahkan mikroorganisme
dari biakan murni

menyimpan dalam ruang


inkubasi selama waktu
inkubasi

Mengamati kenampakannya

3.1.2 Variable Proses

Aspergillus niger tanpa di celup ke HCl dan tanpa pembakaran

3.2 Bahan dan Alat yang Digunakan


3.1.1 Bahan yang digunakan
1. Aspergillus niger
2. Sampel Jamur
3.1.2 Alat yang digunakan
1. Tabung Reaksi 5. Gelas ukur
2. Inokulum 6. Kompor Listrik
3. Beaker glass 7. Petri dish
4. Pipet tetes

3.4 Prosedur Praktikum


Langkah-langkah percobaan PSA :
1. Biarkan media dalam tabung memadat (untuk media miring, sebelum memadat

kedudukan tabung reaksi dibuat miring di bawah 450, kemudan dibiarkan sampai
memadat). Apabila menggunakan petridish maka masukkan media ke dalam petridish
kemudian birkan sampai menjadi padat.
2. Menyiapkan kawat osse, Bunsen dan HCl (sesuaikan variabel)
3. Mensterilkan kawat osse: Panaskan kawat osse menggunakan bunsen kemudian
memasukkan ke larutan HCl kemudian panaskan kawat osse lagi.
4. Memindahkan mikroorganisme dari biakan murni yang tersedia menggunakan kawat
osse yang sudah di sterilisasi ke media baru dalam tabung/petridish.
5. Untuk media dalam tabung, gunakan penutup (sesuaikan variable) atau tanpa penutup
tabung.
6. Simpan dalam ruang inkubasi selama waktu inkubasi yang telah ditentukan
7. Mengamati kenampakan setelah waktu inkubasi.
DAFTAR PUSTAKA
Jong, S.C. and M.J. Gantt, (eds.) 1987. Catalogue of fungi and yeasts, 17th edition. American

Type Culture Collection, Rockville, MD

Purnawijayanti, H, 2001. Sanitasi Higiene dan Keselamatan Kerja dalam


Pengelolaan

Makanan. Kanisius. Yogyakarta.


Waluyo.2008.Dasar Dasar Mikrobiologi. Malang:UMM Press.