Anda di halaman 1dari 90

FORMULASI KEBIJAKAN

INTEGRASI JAMINAN KESEHATAN DAERAH


KE SISTEM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL
MENUJU UNIVERSAL HEALTH COVERAGE

RINGKASAN DISERTASI

untuk memperoleh
Derajat Doktor dalam Ilmu Kedokteran dan Kesehatan pada
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta

Oleh:
SUPRIYANTORO
09/302532/SKU/00348

PROGRAM DOKTOR
ILMU KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
Disertasi untuk memperoleh
Derajat Doktor dalam Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
pada
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta

Dipertahankan pada Ujian Terbuka dihadapan


Dewan Penguji Program Doktor
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada - Yogyakarta
Pada tanggal 25 Nopember 2014

Promotor :
Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., PhD
Co promotor :
Prof. dr. Hari Kusnanto. SU, Dr.PH

Dewan Penguji :
Prof. Dr. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K). Onk.
Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., PhD
Prof. dr. Hari Kusnanto. SU, Dr.PH
Prof. dr. Mohammad Hakimi, SpOG(K)., Ph.D
Dr. Fitri Haryanti, SKp., M.Kes
Prof. dr. Budi Mulyono, MM., Sp.PK(K)
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D
Dra. RA. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D
Prof. Budi Hidayat, SKM., MPPM., Ph.D

Oleh:
Supriyantoro

Nopember 2014
PROMOSI DOKTOR

P-pada dasarnya manusia hidup bagaikan melakukan suatu perjalanan


R-rahim Ibu kita merupakan awal dimana kita menyiapkan bekal
O-oleh perjalanan waktu, detik demi detik proses perjalanan khan berlalu
M-mungkin ada yang menempuh perjalanan singkat, atau ada yang lama
O-rang tua, istri/suami, anak, saudara, serta semua kerabat,sahabat dan mitra
S-semuanya menyayangi dengan restu, doa dan peran sertanya
I-insya Allah dilalui atas berkah, rahmat,taufiq serta hidayahNya

D-dari TK, SD, SMP,SMA, S1, S2 sampai Alhamdulillah di jenjang S3


O-ohbetapa luar biasa karunia yang telah aku terima dariNya
K-kulalui perjalanan karir dan hidup ini dengan limpahan sukses dan bahagia
T-tapi kusadari sepenuhnya, apa yang kubaktikan belum ada apa-apanya
O-oleh karena ituijinkan saya dengan segala kerendahan diri , mengungkapkan rasa.
R-rasa terima kasih dan syukur kepada Allah swt serta semuanya yang telah berjasa..

Yogyakarta, akhir Nopember 2014


Supriyantoro

iii
PRAKATA

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah swt atas segala limpahan rahmat,
nikmat dan karuniaNya yang tiada tara, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian dan penyusunan disertasi ini.
Penelitian ini dilakukan seiring dengan di berlakukannya Sistem Jaminan
Sosial Nasional di bidang Kesehatan sejak 1 januari 2014, yang antara lain
mewajibkan seluruh Jaminan Kesehatan Daerah secara bertahap , harus
terintegrasi ke dalam satu sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Namun karena
dalam perkembangannya program jaminan kesehatan yang selama ini
diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, telah berkembang dengan pelbagai
variasi, serta dihadapkan pada kapasitas fiskal daerah yang kemampuannya juga
bervariasi, maka diperlukan suatu formulasi kebijakan yang di satu sisi harus
sesuai dengan amanat UU SJSN 40/2014 dan UU BPJS 24/2011, namun disisi
lain juga harus mengakomodasi kewenangan daerah dalam kerangka otonomi
daerah melalui desentralisasi.
Penelitian dan penulisan disertasi ini tidak akan dapat diselesaikan, tanpa
dukungan dari pelbagai pihak. Oleh karena Itu, dalam kesempatan ini, ijinkan
penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada yang
saya hormati:
1. Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph,D, selaku promoter utama yang
telah memberikan bimbingan, nasehat, petunjuk, dorongan moril dan
semangat, serta memberikan akses maupun referensi yang sangat berguna
dalam melaksanakan penelitian serta menyelesaikan penyusunan disertasi
ini.
2. Prof. dr. Hari Kusnanto. SU., Dr.PH, selaku co promotor yang telah
memberikan bimbingan, nasehat, petunjuk, dorongan moril dan semangat,
serta memberikan referensi yang sangat berguna dalam melaksanakan
penelitian serta menyelesaikan penyusunan disertasi ini.
3. Prof. Dr. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K). Onk, selaku Ketua Tim Penguji,
yang telah memberikan kesempatan, bimbingan, arahan dan koreksi
selama berlangsungnya ujian , sehingga penulis dapat lebih
menyempurnakan penyusunan disertasi ini.
4. Prof. dr. Mohammad Hakimi, SpOG(K)., Ph.D, selaku Ketua Tim Penilai
dan Tim Penguji yang telah memberikan bimbingan, koreksi, referensi
serta memimpin tim penilai sehingga penulis memperoleh kesempatan
untuk meneruskan tahapan dalam proses penyusunan disertasi ini dapat
diselesaikan.
5. Prof. dr. Budi Mulyono, Sp.PK(K), selaku Tim Penilai dan Tim Penguji
yang telah melakukan penilaian terhadap kelayakan disertasi ini dan
memberikan koreksi serta saran dalam proses perbaikan disertasi ini.
6. Dr. Fitri Haryanti, SKp., M.Kes, selaku Tim Penilai dan Tim Penguji
yang telah melakukan penilaian terhadap kelayakan disertasi ini dan
memberikan koreksi serta saran untuk perbaikan disertasi ini.

iv
7. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D, selaku Tim Penguji yang
telah memberikan masukan dan koreksi selama proses ujian guna
perbaikan dan penyempurnaan disertasi ini.
8. Prof. Budi Hidayat, SKM., MPPM., Ph.D, selaku Tim Penguji yang
telah memberikan masukan dan koreksi selama proses ujian guna
perbaikan dan penyempurnaan disertasi ini.
9. Dra. RA. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D, selaku Tim Penguji yang
telah memberikan masukan dan koreksi selama proses ujian guna
perbaikan dan penyempurnaan disertasi ini.
10. Prof. dr. Sofia Mubarika, M.Med.Sc, PhD, selaku Ketua pengelola
program S3 FK-UGM, yang telah banyak memberikan petunjuk, arahan ,
koreksi serta dukungan moril, sehingga penulis mampu melaksanakan
penelitian dan menyusun disertasi ini hingga dapat diselesaikan.
11. Dr. Med. dr. Indwiani Astuti dan seluruh staf pengelola program S3 FK-
UGM, yang telah banyak memberikan dukungan adminsitrasi,
komunikasi dan informasi pelbagai persyaratan dan kelengkapan dalam
mempersiapkan disertasi ini, termasuk juga pada penyiapan sarana
prasarana dalam setiap tahapan proses pendidikan ini.
12. Almarhumah dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH dan dr.
Nafsiah Mboi, SpA, MPH, selaku Menteri Kesehatan RI pada saat itu,
beserta seluruh pejabat terkait di Kemenkes RI (khususnya Wamenkes
dan para pejabat Eselon 1-4) yang telah mengijinkan penelitian dan
pengambilan data , serta memberikan dukunagan moril selama penulis
melaksanakan tugas di Kemenkes RI, sehingga mampu menyelesaikan
disertasi ini.
13. Para Gubernur, Bupati/Walikota dan para Kadinkes Provinsi/
Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, yang telah mendukung ketersediaan
data dan pelbagai informasi khususnya dalam pelaksanaan Jamkesda di
daerah masing masing sehingga sangat bermanfaat bagi penulis dalam
menyelesaikan penelitian ini.
14. Semua institusi antara lain pimpinan/anggota/staf DJSN dan BPJS, yang
telah memberikan dukungan dan kelengkapan data serta serta pelbagai
informasi guna penyusunan hasil penelitian serta disertasi ini.
15. Redaksi Bulletin Penelitian Sistem Kesehatan dan Redaksi Jurnal Ekologi
Kesehatan, dan secara khusus kepada Prof.dr. Agus Suwandono, MPH,
Dr.PH, Dr.Dede Anwar Musadad, SKM, Drg. Agus Suprapto, M.Kes,
yang telah mendukung dan memberi kesempatan mempublikasikan hasil
penelitian ini di bulletin dan jurnal tersebut.
16. Dr. dr. Harimat Hendarwan, MKes, Dr. dr. Yout Savithri MARS dan Tb.
Adi Satria, SE, ME beserta tim pendukungnya, yang telah banyak
membantu dalam proses pengumpulan data dari seluruh Indonesia serta
proses administrasinya sehingga pelaksanaan penelitian dan penyusunan
disertasi ini dapat diselesaikan.
17. Almarhum Ayahanda R.Suratto, Ibunda Ny. R. Indarsih yang telah
membesarkan ,mendidik,membiayai, memberikan doa restu serta banyak

v
hal lainnya yang tidak bisa diuraikan satu persatu. Karena jasa beliau
yang tak ternilailah, maka sukses ini dapat tercapai.
18. Istri Ny. Lien Waspaningsih, anak-anak Deta-Bayu, Rezama-Meutia, Sesa
Shendi beserta para cucu, kakak-adik, saudara dan para sahabat/rekan/
mitra yang sangat banyak dan tidak bisa disebut satu persatu, yang telah
turut mendoakan, mendukung serta memberikan simpati serta
perhatiannya sejak awal sampai dengan terlaksananya ujian terbuka
Doktor di FK-UGM .
Penulis menyadari bahwa disertasi ini masih belum sempurna dan masih
ada kelemahan/kekurangan, oleh karena keterbatasan penulis selaku mahkluk
Allah swt baik dalam pengetahuan maupun kemampuan penulisannya. Untuk itu
penulis mohon maaf serta mengharapkan koreksi dan saran dari semua pihak,
guna perbaikan disertasi ini. Semoga hasil penelitian dalam disertasi ini dapat
bermanfaat khususnya dalam mensukseskan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial
Nasional Bidang Kesehatan menuju pencapaian Universal Health Coverage, serta
dapat mendorong dan mengilhami peneliti lain untuk melakukan kajian yang lebih
dalam dan spesifik.
Demikian prakata dari penulis, atas perhatian dan dukungan Bapak Ibu,
sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya.
Yogyakarta, November 2014
Penulis

Supriyantoro

vi
DAFTAR ISI

Abstrak ....................................................................................................... ii
Promosi Doktor ........................................................................................... iii
Prakata ......................................................................................................... iv
Daftar isi ...................................................................................................... vii
Daftar tabel .................................................................................................. ix
Daftar gambar.............................................................................................. x
Daftar singkatan .......................................................................................... xi

BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................ 1


1.1. Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2. Perumusan Masalah ...................................................................... 2
1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................... 2
1.3.1. Tujukan umum .................................................................... 2
1.3.2. Tujukan khusus ................................................................... 2
1.4. Keaslian Penelitian ........................................................................ 4
1.5. Manfaat Penelitaian ...................................................................... 5
1.5.1. Manfaat praktis ................................................................... 5
1.5.2. Manfaat teoritis ................................................................... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 6


2.1. Kerangka Pemikiran ...................................................................... 6
2.2. Hipotesis ....................................................................................... 9

BAB III. METODE PENILITIAN ......................................................... 10


3.1. Desain Penelitian .......................................................................... 10
3.2. Waktu Penelitian ........................................................................... 11
3.3. Keterbatasan Penelitian ................................................................. 11
3.4. Pengumpulan Data ........................................................................ 11
3.5. Langkah-langka Penelitian............................................................ 12

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 16


4.1. Gambaran hasil pemetaan kondisi di 33 provinsi ......................... 16
4.1.1. Kapasitas Fiskal Daerah ...................................................... 16
4.1.2. Anggaran ............................................................................. 19
4.1.3. Pelaksanaan Jamkesda di Daerah Terpencil, Perbatasan
dan Kepulauan (DTPK) ....................................................... 22
4.2. Aspek Pengelolaan ........................................................................ 24
4.3. Aspek Manfaat .............................................................................. 26
4.4. Penerima Bantuan Iuran ................................................................ 28
4.5. Analisi Pola Manajemen Pengelolaan, Paket Manfaat, dan
Sasaran Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Daerah ...... 34
4.5.1. Kebijakan pola manajemen pembiayaan ............................ 35
4.5.2. Kebijakan pola paket manfaat ............................................. 37

vii
4.5.3. Kebijakan pola sasaran penerima bantuan iuran ................. 39
4.6. Analisis perbandingan karakteristik dan kelayakan kebijakan
jamkesda di 6 provinsi terpilih ...................................................... 40
4.7. Perbandungan sistem jaminan kesehaan bebarapa negara ............ 43
4.7.1. Perbandingan jaminan kesehatan Amerika Serikat dengan
Indonesia............................................................................. 43
4.7.2. Perbandingan sistem jaminan kesehatan Filipina dengan
Indonesia............................................................................. 45
4.8. Formulasi Kebijakan integrasi Jamkesda Ke dalam JKN ............. 46
4.8.1. Dasar Penyusunan Skenario Formulasi Kebijakan ............. 47
4.8.2. Formulasi Kebijkanan Sentralisasi Dinamis ....................... 48
4.8.3. Agenda Setting penerapan model Integrasi sentralisasi
dinamis ............................................................................... 53

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 59


5.1. Simpulan ...................................................................................... 59
5.1.1. Gambaran hasil pemetaan kondisi di 33 provinsi ............... 59
5.1.2. Aspek Pengelolaan .............................................................. 59
5.1.3. Aspek manfaat .................................................................... 60
5.1.4. Aspek penerima bantuan iuran............................................ 60
5.1.5. Formulasi kebijakan integrasi ............................................. 61
5.2. Saran ............................................................................................ 61
5.2.1. Aspek teoritis (keilmuan).................................................... 61
5.2.2. Aspek praktis (guna laksana) .............................................. 62

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Matriks informan penelitian ..................................................... 12


Tabel 3.2. Alur Langkah Penelitian........................................................... 15
Tabel 4.1. Klasifikasi provinsi berdasarkan indeks kapasitas fiskal ......... 18
Tabel 4.2. Persentase Kab/kota berdasarkan pengelompokan kapasitas
fiskal (N=242) .......................................................................... 19
Tabel 4.3. Karakteristik anggaran kesehatan dalam APBD Provinsi
berdasarkan Klasifikasi kapasitas fiskal ................................... 21
Tabel 4.4. Karakteristik Anggaran APBD Provinsi dari 6 provinsi yang
di analisa khusus....................................................................... 22
Tabel 4.5. Persentasse kabupaten./kota berdasarkan pengelenggaraan
jaminan kesehatan daerah, 2013 (N=240) ................................ 25
Tabel 4.6. Persentase kabupaten/kota berdasarkan manfaat jaminan
kesehatan daerah (N = 240)...................................................... 27
Tabel 4.7. Distribusi kabupaten/kota berdasarkan klasifikasi
pengelenggaran jaminan kesehatan daerah .............................. 27
Tabel 4.8. Distribusi kabupaten/kota berdasarkan manfaat jaminan
kesehatan daerah, tahun 2013................................................... 28
Tabel 4.9. Jumlah Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN dan usulan daerah
yang tidak sesuai kuota PBI ..................................................... 29
Tabel 4.10. Cakupan kepesertaan jamkesda per provinsi tahun 2014 ........ 31
Tabel 4.11. Pola Pembiayaan Jamkesda di enam provinsi.......................... 35
Tabel 4.12. Nilai Karakteristik Kebijakan Jamkesda di beberapa provinsi 41
Tabel 4.13. Perbandungan Pola JKN saat ini dengan jaminan kesehatan di
AS dan Philipina....................................................................... 45
Tabel 4.14. Skema Perbandingan pola JKN saat ini dan model sentralisasi
Dinamis .......................................................................... 50

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Kerangka Teori ................................................................... 8


Gambar 2.2. Kerangka konsep ................................................................. 9
Gambar 3.1. Desain studi kasus penelitian : studi multikasus terjalin
(Diolah dari : Yi, 2008) ....................................................... 11
Gambar 4.1. Proporsi provinsi menurut indeks kapasitas fiskal .............. 17
Gambar 4.2. Proporsi kabupaten/kota menurut indeks kapasitas fiskal ... 18
Gambar 4.3. Persentase anggaran kesehatan berbangdingan total
APBD provinsi dan kabupaten/kota di masing-masing
pronvinsi, tahun 2013 .......................................................... 19
Gambar 4.4. Anggaran kesehatan APBD 2013 perkapita per provinsi .... 20
Gambar 4.5. Anggaran kesehatan APBD 2013 perkapitas 6 provinsi
yang dianalisa khusus .......................................................... 21
Gambar 4.6. Persentase anggaran kesehatan berbanding total APBD
provinsi di 6 provinsi yang dianalisa khusus ...................... 22
Gambar 4.7. Proporsi Provinsi menurur pengelolaan pembayaran
(pembiayaan dan cost sharing) ............................................ 26
Gambar 4.8. Proporsi provinsi menurut besaran pembayaran iuran
Jamkesda .......................................................................... 32
Gambar 4.9. Proporsi provinsi menurut cara pembayaran klaim Layanan
dasar dan layanan rujukan ................................................... 32
Gambar 4.10. Pola Jamkesda di 33 provinsi .............................................. 33
Gambar 4.11. Formulasi kebijakan sentralisasi dinamis dalam integrasi
Jamkesda ke JKN ................................................................ 49
Gambar 4.12. Skema Perbandingan model sentralisasi dinamis dan model
desentralisasi terintegrasi..................................................... 52
Gambar 4.13. Skema Time Frame integrasi Jamkesda Dalam JKN ........ 53

x
DAFTAR SINGKATAN

A
ADB = Asian Development Bank
AIDS = Acquired Imunodeficiency Syndrome
APBA = Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh
ASABRI = Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Askes = Asuransi Kesehatan
Askeskin = Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin
APBD = Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN = Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional

B
Bappenas = Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BHP = Bahan Habis Pakai
BKKBN = Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
BPK = Badan Pemeriksa Keuangan
BPJKD = Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Daerah
BPKKD = Badan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah
BPS = Badan Pusat Statistik
BUK = Bina Upaya Kesehatan
BUMN = Badan Usaha Milik Negara

D
DBK = Daerah Bermasalah Kesehatan
Depkes = Departemen Kesehatan
Depnaker = Departemen Tenaga Kerja
DI = Daerah Istimewa
DKI = Daerah Khusus Ibukota

xi
DPR = Dewan Perwakilan Rakyat
DPRD = Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DTPK = Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan
DUKM = Dana Upaya Kesehatan Masyarakat

F
Faskes = Fasilitas Kesehatan

G
GSIS = Government Service Insurance System

H
HIV = Human Imunno Deficiency Virus

I
ICCU = Intensive Cardiac Care Unit
ICU = Intesive Care Unit
IGD = Instalasi Gawat Darurat
ILO = International Labour Organization
INA-CBGs = Indonesia Case Base Groups
IOL = Intra Ocular Lens
IT = informasi dan teknologi

J
Jamkesda = Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
Jamkesmas = Jaminan Kesehatan Masyarakat
Jamkesmasda = Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah
Jampersal = Jaminan Persalinan
Jamsoskes = Jaminan Sosial Kesehatan

xii
Jamsostek = Jaminan Sosial Tenaga Kerja
JamkesProv = Jaminan Kesehatan Provinsi
Jamkesta = Jaminan Kesehatan Semesta
Jamsosda = Jaminan Sosial Daerah
JKA = Jaminan Kesehatan Aceh
JKN = Jaminan Kesehatan Nasional
JKS = Jaminan Kesehatan Sosial
JKSS = Jaminan Kesehatan Serumpun Sebalai
JPK = Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
JPK Gakin = Jaminan Perlindungan Kesehatan Keluarga Miskin
JPKM = Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
JPKMM = Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin
JPS-BK = Jaring Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan
JKBM = Jaminan Kesehatan Bali Mandara

K
KB = Keluarga Berencana
Kemenkes = Kementerian Kesehatan
Kepri = Kepulauan Riau
KfW = Kreditanststalt fur Wiederaufbau
KIA = Kesehatan Ibu dan Anak
KK = Kartu Keluarga
KKI = Konsil Kedokteran Indonesia
KLB = Kejadian Luar Biasa
KTP = Kartu Tanda Penduduk

M
Manlak = Pedoman Pelaksanaan
MDGs = Millenium Development Goals
Menaker = Menteri Tenaga Kerja
Menkes = Menteri Kesehatan

xiii
MKRI = Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
MoU = Memorandum of Understanding
MTBS = Manajemen Terpadu Balita Sehat

N
NAPZA = Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
NHIP = National Health Insurance of the Philippines
NHS = National Health System
NICU = Neonatal Intensive Care Unit
NTB = Nusa Tenggara Barat

O
OWWA = Overseas Workers Welfare Administration

P
PBI = Penerima Bantuan Iuran
PDB = Produk Domestik Bruto
PDT = Percepatan Daerah Tertinggal
Pemda = Pemerintah Daerah
PerBup = Peraturan Bupati
Perda = Peraturan Daerah
PerGub = Peraturan Gubernur
Perwali = Peraturan Walikota
PHB = Perum Husada Bhakti
PICU = Pediatric Intensive Care Unit
PKH = Program Keluarga Harapan
PKTK = Pemeliharaan Kesehatan Tenaga Kerja
PMS = Penyakit Menular Seksual
PNS = Pegawai Negeri Sipil
Polri = Kepolisian Republik Indonesia

xiv
PP = Peraturan Pemerintah
P2JK = Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan
PPK = Pemberi Pelayanan Kesehatan
PPK BLU = Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
PTT = Pegawai Tidak Tetap

R
RBF = Result-Based Financing
RITL = Rawat Inap Tingkat Lanjut
RJTL = Rawat Jalan Tingkat Lanjut
RJTP = Rawat Jalan Tingkat Pertama
RITP = Rawat Inap Tingkat Pertama
RPJM = Rencana Pembangunan Jamngka Menengah
RPJMD = Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
RPJMN = Rencana Pembangunan Jangka Menengah
RS = Rumah Sakit
RSD = Rumah Sakit Daerah
RSUD = Rumah Sakit Umum Daerah

S
Sakernas = Survei Angkatan Kerja Nasional
Samisake = Satu Miliar Satu Kecamatan
Satgas = Satuan Tugas
SDM = Sumber Daya Manusia
SJKD = Sistem Jaminan Kesehatan Daerah
SJSN = Sistem Jaminan Sosial Nasional
SK = Surat Keputusan
SKB = Surat Keputusan Bersama
SKN = Sistem Kesehatan Nasional
SKPD = Satuan Kerja Pemerintah Daerah

xv
SSS = Social Security System
SKTM = Surat Keteranagan Tidak Mampu
Sumbar = Sumatera Barat
Sumsel = Sumatera Selatan
Susenas = Sensus Sosial Ekonomi Nasional

T
Taspen = Tabungan dan Asuransi Pensiun
THT = Telinga Hidung Tenggorok
TNI = Tentara Nasional Indonesia

U
UHC = Universal Health Coverage
UKP = Upaya Kesehatan Perorangan
UMP = Upah Minimum Provinsi
UP = Unit Pelaksana
UPTD = Unit Pelaksana Teknis Daerah
USG = Ultra Sono Grafi
UU = Undang-Undang
UUD 1945 = Undang-Undang Dasar 1945

W
WHO = World Health Organization
KB = Keluarga Berencana

Y
Yandas = Pelayanan Dasar

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

WHO telah menyepakati tercapainya Universal Health Coverage (UHC) di tahun


2014. Universal Health Coverage merupakan sistem kesehatan yang memastikan setiap
warga di dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang bermutu dengan biaya yang terjangkau.
Cakupan universal mengandung dua elemen inti yakni akses pelayanan kesehatan yang
adil dan bermutu bagi setiap warga, dan perlindungan risiko finansial ketika warga
menggunakan pelayanan kesehatan.

Indonesia pada saat ini sedang berada dalam masa transisi menuju cakupan
pelayanan kesehatan semesta. Undang-Undang Nomor No.40 Tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional ( UU SJSN) telah menjawab prinsip dasar UHC dengan
mewajibkan setiap penduduk memiliki akses pelayanan kesehatan komprehensif yang
dibutuhkan melalui sistem pra-upaya.

Pengembangan arah sistem pembiayaan kesehatan seperti yang dimaksud UU


SJSN, bukan hanya meliputi peran pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah
(provinsi dan kabupaten/kota). Hal ini dapat dilihat dalam pasal 22 Undang-undang No.
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang menyebutkan bahwa pemerintah
daerah berkewajiban mengembangkan sistem jaminan sosial yang di dalamnya termaktub
sistem jaminan kesehatan. Peran pemerintah daerah untuk menyelenggarakan sistem
jaminan sosial semakin kuat dengan dikabulkannya judicial review atas UU No. 24 Tahun
2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia. Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi RI dan untuk
menindaklanjuti amanat tersebut, telah ditetapkan kewajiban daerah dan prioritas
belanjanya untuk mengembangkan sistem jaminan sosial berdasarkan Pasal 22 huruf h
dan Pasal 167 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Upaya mengembangkan sistem jaminan sosial di daerah untuk mewujudkan cakupan
terlindunginya semua penduduk, hendaknya disadari sebagai pelaksanaan kewajiban
konstitusional.

Berdasarkan dasar hukum tersebut di atas, banyak pemerintahan daerah yang


telah berinisiatif untuk mengembangkan sistem pembiayaan kesehatan berupa Jaminan
Kesehatan Daerah (Jamkesda). Sampai dengan tahun 2010, Kementerian Kesehatan telah

1
2

mencatat ada 352 kabupaten/kota dan 33 provinsi yang telah mengembangkan Jamkesda.
Persentase penduduk yang dijamin melalui pelbagai program perlindungan kesehatan,
sampai dengan Desember 2012 mencapai 59% dari jumlah penduduk di Indonesia
(Kemenkes RI, 2011). Dengan demikian, masih ada 41% penduduk Indonesia yang
belum memiliki jaminan kesehatan.

Kajian yang dilakukan Gani dkk. (2008) menemukan bahwa model Jamkesda
yang dikembangkan di kabupaten/kota dan provinsi sangat bervariasi. Variasi yang terjadi
meliputi berbagai aspek seperti badan pengelola, paket manfaat, manajemen kepesertaan,
pembiayaan, iuran, dan pooling of resource. Penelitian tersebut merekomendasikan
bahwa jika ditinjau dari perspektif luas dan diversitas antar wilayah Indonesia,
pengembangan Jamkesda yang bervariasi sesuai dengan karakteristik dan kemampuan
daerah memang seharusnya terjadi dalam era desentralisasi kesehatan.

Dari segi manajemen pengelolaan, di akhir tahun 2011 telah disahkan Undang-
undang No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS)
untuk menjalankan amanah konstitusi UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN). Penyelenggaraan jaminan kesehatan secara nasional
dilaksanakan oleh BPJS, seperti telah diamanatkan oleh pasal 1 ayat (1) UU BPJS yang
menyatakan bahwa BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial. Menurut Pasal 2 UU BPJS, BPJS bertugas menyelenggarakan
Sistem Jaminan Sosial Nasional berdasarkan asas kemanusiaan, manfaat, dan keadilan
sosial bagi semua rakyat Indonesia. Dalam hal ini jelas bahwa semua bentuk
penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan secara nasional oleh
BPJS, termasuk jaminan kesehatan didalamnya. Hal ini diperkuat oleh Pasal 6 UU BPJS
yang menyatakan bahwa BPJS Kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatan.

Menghadapi hal tersebut pemerintah telah menyusun roadmap menuju


pencapaian UHC, temasuk integrasi Jamkesda kedalam Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) yang dimulai pada 1 Januari 2014. Namun dalam mengintegrasikan Jamkesda tsb,
Pemerintah menghadapi kendala karena sangat bervariasinya Jamkesda yang ada di level
Provinsi, Kabupaten dan Kota, dihadapkan pada berbagai faktor antara lain kemampuan
fiskal daerah, komitmen pimpinan daerah serta penyesuaian dengan regulasi yang ada
baik di daerah maupun di pusat.. Hal ini menuntut perhatian pemerintah pusat untuk
dapat menyusun skenario kebijakan terbaik sekaligus menerapkan best practices
berdasarkan pelaksanaan Jamkesda sehingga pelaksanaan BPJS akan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Pengintegrasian manajemen pengelolaan yang tepat akan
mencegah terjadinya tumpang tindih (overlapping) wewenang dan tanggung jawab, baik
pada pemerintah pusat, daerah maupun BPJS.

Selain manajemen pengelolaan, isu lain yang perlu diperhatikan dalam


pengintegrasian sistem Jamkesda ke dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
adalah paket manfaat. Paket manfaat Jamkesda saat ini masih sangat bervariasi,
tergantung pada kemampuan APBD dan komitmen pimpinan daerah terhadap masalah
kesehatan. Paket manfaat ini menjadi isu penting mengingat pada saat pelaksanaan
3

integrasi Jamkesda kedalam JKN, jaminan kesehatan tsb mencakup semua yang indikasi
medis.

Isu lainnya adalah mengenai sasaran penerima bantuan iuran. Program Jamkesda
diselenggarakan bagi masyarakat miskin dan masyarakat tidak mampu yang belum
menjadi peserta Jamkesmas. Besaran bantuan iuran, antara daerah satu dengan yang lain
menjadi sangat bervariasi. Beberapa pemerintah daerah, khususnya karena terkait dengan
janji politik, telah membuat kebijakan yang melebihi kemampuan fiskal di daerahnya.
Akibatnya, beberapa rumah sakit terutama RSUD terbebani piutang Jamkesda yang sulit
ditagih. Dalam jangka panjang kondisi ini akan berdampak pada terganggunya cash flow
rumah sakit. Pemerintah daerah secara nasional telah menambah 31,6 juta (41,4 %)
peserta program jaminan kesehatan. Besarnya jumlah tersebut dan beragamnya model
pengelolaan Jamkesda, tentu akan berdampak pada sulitnya penyeragaman besaran iuran
dan sasaran penerima bantuan iuran Jamkesda kedalam mekanisme JKN.

Pemerintah pusat memainkan peranan penting dalam menentukan berbagai


alternatif kebijakan terbaik untuk pelaksanaan sistem jaminan kesehatan secara nasional.
Dihadapkan pada pelbagai isu tersebut diatas, maka untuk tercapainya integrasi Jamkesda
ke JKN, diperlukan suatu formula kebijakan yang mampu mengintegrasikan
penyelenggaraan Jamkesda kabupaten/kota dan provinsi dalam skema integrasi JKN, baik
dari sisi manajemen pengelolaan, paket manfaat maupun besaran iuran.

1.2. Perumusan Masalah


1. Bagaimana pemetaan pola Jamkesda yang berjalan selama ini di 33 provinsi di
Indonesia , termasuk dalam hubungannya dengan kemampuan fiskalnya?
2. Bagaimana karakteristik Jamkesda dalam hal manajemen pengelolaan, paket
manfaat maupun sasaran penerima bantuan iuran?
3. Bagaimana formulasi dalam mengintegrasikan Jamkesda ke program JKN,
khususnya dari aspek manajemen pengelolaan, paket manfaat dan penerima
bantuan iuran?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum:
Diperolehnya formulasi kebijakan integrasi Jamkesda ke program JKN dalam menuju
pencapaian Universal Health Coverage, khususnya dari sisi manajemen pengelolaan,
paket manfaat maupun penerima bantuan, yang dapat diimplementasikan dalam kerangka
desentralisasi.

1.3.2 Tujuan khusus:


1. Diperolehnya peta berbagai pola Jamkesda yang berjalan selama ini di 33
provinsi di Indonesia, termasuk dalam hubungannya dengan kapasitas fiskal
daerah.
4

2. Diperolehnya karakteristik berbagai perbedaan dalam pengembangan Jamkesda,


khususnya dalam hal manajemen pengelolaan, paket manfaat maupun penerima
bantuan iuran.
3. Diperolehnya formulasi kebijakan pengintegrasian Jamkesda kedalam JKN,
khususnya dari sisi manajemen pengelolaan, paket manfaat maupun penerima
bantuan iuran, yang menyeimbangkan peran pusat dan daerah dalam kerangka
desentralisasi.

1.4. Keaslian Penelitian


Penelitian yang terkait dengan pola dan kebijakan integrasi Jamkesda serta ke
dalam sistem jaminan kesehatan nasional sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain,
namun belum dikaitkan dengan regulasi program JKN. Penelitian ini, disamping
melakukan pemetaan pola Jamkesda pada kondisi terakhir ( tahun 2013 ), serta
memformulasikan kebijakan integrasi Jamkesda dikaitkan dengan regulasi yang berlaku,
dengan tetap mengacu pada regulasi/ kebijakan dalam kerangka desentralisasi maupun
sentralisasi secara komprehensif.

Di level nasional, kajian yang dilakukan Gani (2008) dalam Laporan Kajian
Sistem Pembiayaan Kesehatan di Beberapa Kabupaten Dan Kotamenemukan bahwa
model Jamkesda yang dikembangkan di kabupaten/kota dan provinsi sangat bervariasi,
tidak ada satupun daerah yang memiliki model yang sama. Variasi yang terjadi meliputi
berbagai aspek seperti badan pengelola, paket manfaat, manajemen kepesertaan,
pembiayaan, iuran, dan pooling of resource. Penelitian tersebut merekomendasikan
bahwa jika ditinjau dari perspektif luas dan diversitas antar wilayah Indonesia,
pengembangan Jamkesda yang bervariasi sesuai dengan karakteristik dan kemampuan
daerah memang seharusnya terjadi dalam era desentralisasi kesehatan. Penelitian ini
memprediksi bahwa beban manajemen akan sangat berat jika skema sistem jaminan
dilakukan sentralistis.

Berbeda dengan sudut pandang Gani (2008), penelitian ini berupaya melihat sisi
lain dari proses kebijakan pembiayaan kesehatan karena tuntutan UU BPJS adalah justru
resentralisasi pembiayaan kesehatan,dan justru Jamkesda dituntut terintegrasi ke dalam
BPJS. Dengan demikian penelitian ini akan memberikan dimensi perspektif yang berbeda
dalam memandang isu pembiayaan kesehatan terkini.

Penelitian ini juga berupaya memodifikasi model desentralisasi terintegrasi yang


dikaji oleh Mukti & Moertjahjo (2008) dalam buku Sistem jaminan kesehatan : konsep
desentralisasi terintegrasi yang menurut kajian terkait dalam mengupayakan
pembiayaan kesehatan secara nasional, daerah dapat mengelola dengan mekanisme
tersendiri dan atau membentuk sendiri badan pengelola namun tetap wajib berkoordinasi
dengan pusat selaku penanggung jawab risk equalization. Hal ini sulit untuk terjadi
mengingat amanat UU BPJS tidak memperkenankan daerah untuk mengelola pembiayaan
kesehatan dengan mekanisme tersendiri.
5

Penelitian ini menjadi berbeda karena berupaya memberikan jalan keluar agar
dalam proses integrasi Jamkesda ke JKN , disamping menjadi tanggung jawab
Pemerintah Pusat ( sentralisasi), juga secara dinamis memberikan peluang peran
Pemerintah Daerah ( Desentralisasi) sesuai dengan kewenangannya dalam rangka
otonomi daerah, khususnya dalam hal pengelolaan, paket manfaat dan cakupan PBI.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi dan panduan dalam


menetapkan kebijakan untuk integrasi Jamkesda ke JKN di level kabupaten/kota dan
provinsi di Indonesia, khususnya dalam aspek manajemen pengolaan, paket manfaat
dan besaran iuran.

b. Memberikan masukan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan lain


(stakeholders) terkait dengan pelaksanaan JKN tentang :

1) Model skema sistem JKN, yang mampu beradaptasi dengan karakteristik wilayah
dan kesenjangan antar wilayah Indonesia.

2) Best practices skema JKN dalam era otonomi daerah dan desentralisasi kesehatan
khususnya dari sisi manajemen pengelolaan, paket manfaat maupun penerima
bantuan iuran.

3) Pemecahan persoalan dalam suatu formulasi kebijakan untuk melaksanakan JKN


sebagai upaya mempercepat pencapaian Universal Health Coverage dengan tetap
mengedepankan peran daerah dalam kerangka desentralisasi kebijakan.

1.5.2.Manfaat Teoritis

a. Teori pengembangan sistem pembiayaan kesehatan nasional di negara dengan


karakteristik wilayah dan diversitas yang luas antar wilayah.

b. Teori pengembangan sistem jaminan kesehatan nasional yang tersentralisasi


dengan pendekatan peran daerah dalam konteks otonomi daerah/ Dsentralisasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kerangka Pemikiran

Murti (2010) menguraikan bahwa implementasi sistem pelayanan kesehatan


universal bervariasi di berbagai negara, tergantung pada sejauh mana keterlibatan
pemerintah dalam menyediakan pelayanan kesehatan dan asuransi kesehatan. Hal ini
sesuai dengan kenyataan yang terjadi di Indonesia, yaitu dimensi desentralisasi sangat
tampak dalam pembiayaan kesehatan, terbukti dari beragamnya model pengelolaan
Jamkesda yang ada di Indonesia.

Menurut Casasnovas dkk (2009),desentralisasi organisasi merupakan mekanisme


potensial untuk memfasilitasi perubahan pada aktivitas dari semua level organisasi
termasuk pelayanan kesehatan, yang nantinya dapat mendukung peningkatan efisiensi
organisasi tersebut. Desentralisasi ini akan mengambil alih tempat melalui peningkatan
derajat inovasi kebijakan dan dinamisme sistem, dan juga level transparasi yang lebih
besar. Namun, tetap akan ada transaksi biaya tambahan (additional transaction costs)
yang terkait dengan mengecilnya level kekuasaan pusat dan meningkatnya kebutuhan
koordinasi dan kerjasama secara sukarela. Sistem jaminan sosial nasional sebagai sistem
nasional harus tetap mampu menjawab tantangan desentralisasi ini, yaitu level kekuasaan
pusat tidak besar namun kemampuan koordinasi harus dapat dikembangkan secara
sinergis dan efektif.

Disisi lain menelitian Regmi dkk. (2010) menunjukkan bahwa desentralisasi


sangat bergantung pada prasyarat tertentu karena tidak selamanya memiliki efek yang
diharapkan.Penelitian yang dilakukan Bossert, Bowser dan Amenyah (2007) di Ghana
dan Guatemala serta Bossert dkk. (2003) di Columbia dan Chili juga menunjukkan bahwa
tidak semua kewenangan hasilnya akan lebih baik jika didesentralisasikan.

Dalam beberapa focus group discussion terhadap pemangku kepentingan yang


dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, berbagai materi substantif yang diperlukan tidak
hanya dapat dituangkan dalam regulasi begitu saja tetapi harus mengintegrasikan
berbagai pola jaminan kesehatan yang telah berjalan di daerah. Fokus penyiapan SJSN
saat ini adalah untuk pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di tahun
2014. BPJS akan difokuskan pada kewenangan pembiayaan kesehatan seperti
diamanatkan oleh undang-undang. Oleh karenanya, untuk mencegah tumpang tindih
antara pusat, daerah maupun BPJS, pembiayaan jaminan kesehatan harus diintegrasikan
terlebih dahulu, sehingga tidak ada celah dalam wewenang dan tanggung jawab
pemerintah.

Dimensi ketepatan kebijakan dan dimensi perumusan rekomendasi kebijakan


digunakan untuk menilai alternatif pola pengelolaan Jamkesda saat ini khususnya dari sisi

6
7

manajemen pengelolaan, paket manfaat serta bantuan iuran beserta permasalahan dan
tantangannya. Selain itu, digunakan pula untuk menilai alternatif best practices pola
pengelolaan Jamkesda yang telah berjalan serta menurut pola rencana strategis
pengelolaan Jamkesda berdasarkan perspektif pemerintah daerah (kabupaten/kota dan
provinsi) maupun berdasarkan perspektif pusat.

Banyaknya teori yang melandasi penentuan kebijakan yang tepat maka akan
menghasilkan pilihan alternatif strategi yang tidak sedikit, hal ini memerlukan ketepatan
pembuat kebijakan dalam memilih strategi yang terbaik. Menurut Abidin (2004), terdapat
beberapa kriteria yang biasa di gunakan dalam mengukur ketepatan suatu formulasi
kebijakan publik, antara lain : kelayakan politik, kelayakan ekonomi, kelayakan
keuangan/biaya, kelayakan administrasi, kelayakan teknologi, kelayakan sosial budaya,
dan kelayakan-kelayakan lain sesuai dengan kriteria yang dibuat secara khusus.

Atas dasar pilihan formulasi kebijakan yang terbaik dari alternatif yang ada, perlu
disusun hasil rekomendasi kebijakan akhir yang akan diimplementasikan kemudian oleh
pembuat kebijakan. Dunn mengemukakan 4 karakteristik yang harus dipertimbangkan
dalam menyusun suatu rekomendasi kebijakan, antara lain:

1. Action focus, rekomendasi harus memuat aksi yang diperlukan agar kondisi yang
sebaiknya terjadi dapat terwujud oleh kebijakan tersebut.Future oriented,
rekomendasi harus menjelaskan keadaan sebelum adanya kebijakan dan keadaan
yang akan terjadi sesudah ada kebijakan.

2. Fact-value interdependence, rekomendasi harus mampu mengkaitkan fakta dan


nilai, sehingga rekomendasi tidak sebatas aksi melainkan juga berkenaan dengan
penerimaan dari nilai-nilai yang ada termasuk di masyarakat.

3. Value duality, dimana rekomendasi kebijakan harus mampu menggambarkan


nilai intrinsik yang menjadi tujuan akhir dari kebijakan dan nilai ekstrinsik
sebagai sasaran antara sebagai jalan menuju tujuan akhir.

Untuk memilih alternatif kebijakan yang layak, perlu dipertimbangkan ketepatan


kebijakan tersebut melalui dimensi-dimensi kelayakan sepertiyang dikutip dari
Abidin,(2004). Atas dasar penilaian kelayakan tersebut maka dapat dipilih best practices
terbaik dari alternatif yang ada untuk kemudian diformulasikan menjadi suatu
rekomendasi kebijakan akhir dengan mempertimbangkan 4 (empat) karakteristik
(William Dunn) yang harus ada dalam rekomendasi kebijakan.
8

Gambar 2.1 Kerangka Teori


(sumber: Diolah Sendiri)

Amanat UUD
1945

SJSN

JAMKESDA JKN

POLA
Kelayakan
PENGELOLA Action focus
AN JAMKESDA ekonomi
Kelayakan politik
Future oriented
MANAJEMEN Kelayakan
PENGELOLA Fact value inter Formula si
keu/biaya
AN dependence kebijakan
Kelayakanadminis
t. Integrasi
Value duality
Kelayakan Sosbud Jamkesda
PAKET ke JKN
MANFAAT Kelayakan
William
teknologi Dunn:
kelayakan lain dgn karakteristik
Cakupan kriteria khusus. Rekomendasi
PBI Kebijakan

Dimensi Ketepatan
Kebijakan
Abidin (2004)
9

Gambar 2.2
Kerangka Konsep
(sumber: Diolah Sendiri)

2.2. Hipotesis

Atas dasar uraian kerangka pemikiran di atas, maka diambil hipotesis bahwa:
Besarnya manfaat jaminan kesehatan yang diberikan oleh daerah tergantung
kepada tinggi rendahnya tingkat kapasitas fiskal suatu daerah.
Untuk mengintegrasikan sistem Jamkesda di berbagai Provinsi kedalam JKN
adalah melalui formulasi kebijakan yang mampu mengintegrasikan sisi
manajemen pengelolaan, paket manfaat, dan pola kepesertaan penerima bantuan
iuran secara nasional dengan tetap berlandaskan pada kerangka desentralisasi.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini dirancang untuk menggunakan pendekatan penelitian mixed


methods. Dalamrancangan penelitian mixed methods ini, peneliti menggabungkan metode
survei (kuantitatif) dengan studi kasus (kualitatif) seperti contoh yang ditunjukkan oleh
Gable (1994) dan keduanya saling melengkapi (komplementer). Hal ini pun sejalan
dengan uraian Creswell (2009) bahwa studi mixed methods diawali dengan survei
kuantitatif secara luas yang ditujukan untuk menggeneralisasi suatu hasil dalam populasi,
kemudian penelitian difokuskan pada fase kedua, yakni pendekatan kualitatif secara
detail dengan wawancara terbuka untuk mengumpulkan pandangan rinci dari partisipan.
Dalam penelitian ini, fase kedua yang diuraikan Creswell tersebut dilakukan dengan
pendekatan studi kasus.

Studi kasus dipilih karena metode ini dapat mempelajari satu unit kelompok
tertentu untuk tujuan memahami kelompok yang lebih besar. Gerring
(2007)menyebutkancase study sebagaian intensive study of a single unit for the purpose
of understanding a larger class of (similar) units. Karakteristik permasalahan jaminan
kesehatan daerah memiliki fenomena yang serupa dan kasus yang serupa antar daerah
sehingga dapat diteliti menggunakan case study.

Rancangan studi kasus yang dilakukan berupa disain multikasus terjalin


(embedded multiple case design). Menurut Yin (2008), disain multikasus terjalin
merupakan study case yang terdiri dari beberapa kasus dan beberapa unit analisis.

Penelitian multi kasus ini dianggap terjalin (embedded) karena banyaknya kasus
(33 Provinsi dan 6 Provinsi terpilih) dengan unit analisis mencakup pembuat kebijakan,
pengelola dan masyarakat. Studi kasus Jamkesda di masing-masing provinsi dilakukan
dalam konteks pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional. Masing-masing studi kasus
tersebut memberikan gambaran pelaksanaan Jamkesda Provinsi ditinjau dari sisi
manajemen pengelolaan, paket manfaat dan penerima bantuan iuran.

Penelitian studi kasus ini dilakukan melaluipendekatan eksploratif dengan


melakukan pengumpulan data primer berupa In-depth interviewdan focus group
discussion serta menggunakan beberapa pendekatan dalam metodologi case study
interpretatif (memahami fenomena melalui pemaknaan dari orang-orang yang terlibat
didalamnya).

10
11

Gbr. 3.1.
Disain Studi Kasus Penelitian: Studi Multikasus Terjalin
(Diolah dari : Yin, 2008)

Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Jaminan Sosial Nasional

Studi Kasus: Studi Kasus: Studi Kasus:


Jamkesda Provinsi X1 Jamkesda Provinsi Xn Jamkesda Provinsi X33
Manajemen Pengelolaan Manajemen Pengelolaan Manajemen Pengelolaan
Paket Manfaat Paket Manfaat Paket Manfaat
Penerima Bantuan iuran Penerima Bantuan iuran Penerima Bantuan iuran
Unit of Analysis: Unit of Analysis: Unit of Analysis:

Pembuat Kebijakan Pembuat Kebijakan Pembuat Kebijakan

Pengelola Pengelola Pengelola

Masyarakat Masyarakat Masyarakat

Multikasus Terjalin (Embedded Multiple-Case)

3.2. Waktu Penelitian

Penelitian dan penulisan laporan dilakukan pada tahun 2013-2014

3.3. Keterbatasan Penelitian

Karena luasnya dimensi penelitian ini, maka tidak dilakukan pendalaman pada
dimensi pembiayaan kesehatan secara spesifik sampai ke seluruh tingkat kabupaten/kota,
melainkan dilakukan secara lebih fokus pada aspek manajemen pengelolaan, paket
manfaat dan cakupan bantuan iuran di tingkat Provinsi.

3.4. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan mencakup data primer dan data sekunder. Data primer
dikumpulkan melalui self administered questionnaire, pengamatan partisipatif,
wawancara, dan diskusi mendalam. Data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur,
observasi dokumen,dan sebagainya. Kedua jenis data ini digunakan untuk bahan analisis
dan interpretasi.

Data primer dan sekunder yang digunakan dalam penelitian ini meliputi fakta
dan proses pelaksanaan kebijakan Jamkesda dimulai dari perencanaan, analisis
kebutuhan, implementasi pelayanan dan hasil yang didapat dari pelaksanaan, diantaranya
12

data tentang pemenuhan hak peserta dalam pelaksanaan program, perencanaan dari
pemerintah pusat, monitoring danevaluasi dari program yang berjalan terkait pelayanan.
Rincian data yang digunakan untuk dijadikan batasan dalam mengembangkan materi
pengamatan ketikaa melakukan observasi, wawancara dan diskusi kelompok terfokus
(focus group discussion).

Tabel 3.1
Matriks informan penelitian
Metode
No Informan pengumpulan
data
1 Tingkat pusat
Pelaku kebijakan di Kepala Pusat Pembiayaan Wawancara
1.1
kementerian kesehatan Jaminan Kesehatan mendalam/ FGD
Ketua Dewan Jaminan Sosial
Pimpinan Dewan Wawancara
1.2 Nasional
Jaminan Sosial Nasional mendalam/ FGD
(Chazali Situmorang)
Pakar dalam jaminan Direktur Operasional BPJS Wawancara
1.3
sosial mendalam
2 Tingkat daerah
Kepala dinas kesehatan di 6
provinsi (Provinsi Kepri,
Kepala dinas kesehatan Wawancara
2.1 Provinsi Aceh, Sumatera Barat,
provinsi/kabupaten/kota mendalam/FGD
DKI Jakarta, Gorontalo dan
NTT)
Kepala BAPEDA di 6 provinsi
Kepala Bappeda (Provinsi Kepri, Provinsi Aceh, Wawancara
2.2
provinsi/kabupaten/kota Sumatera Barat, DKI Jakarta, mendalam
Gorontalo dan NTT)
Kepala bidang yang mengelola Wawancara
2.3 Pengelola Jamkesda
program jamkesda di 6 provinsi mendalam/FGD
Pimpinan RSU Kepala RS Pemerintah Wawancara
2.4
pemerintah setempat mendalam/FGD
Staf RSU pemerintah Karyawan dan Tenaga Medis di Wawancara
2.5
setempat RS Pemerintah mendalam/FGD
Kepala dan Staf serta Tenaga Wawancara
2.7 Pengelola puskesmas
Medis di Puskesmas mendalam/FGD
Masyarakat pengguna Pasien di pelayanan kesehatan Wawancara
2.6
Jamkesda yang menggunakan Jamkesda mendalam

3.5. Langkah-Langkah Penelitian


Penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap. Tahap pertama: penelitian dilakukan
secara survei terhadap seluruh provinsi di Indonesia yang sudah memiliki Jaminan
Kesehatan Daerah (Jamkesda) untuk mengetahui pola jamkesda yang kemudian disajikan
melalui studi kasus di 33 provinsi. Dari pengelompokan pola jamkesda akan ditemukan
matriks pengelolaannya.
13

Tahap kedua, peneliti menyusun hasil studi kasus dengan menyimpulkan


keberagaman proses pengelolaan Jamkesda. Untuk itudilakukan :

1. Identifikasi 33 provinsi sesuai dengan tingkat kemiskinan Indonesia (berdasarkan


data Susenas tahun 2012), yang membandingkan kesenjangan proporsi penduduk
miskin di desa dan di kota.
2. Cakupan kepesertaan Jamkesda di setiap provinsi, membandingkan persentase nilai
jumlah peserta jamkesda di provinsi dibandingkan dengan jumlah total penduduk tiap
provinsi tersebut.
3. Grouping klasifikasi kapasitas fiskal menjadi 4 kelompok (kapasitas fiskal rendah,
sedang, tinggi, dan sangat tinggi) sesuai dengan kapasitas fiskal daerah yang
ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Peta Kapasitas Fiskal No
226 Tahun 2012.
4. Pengelompokan anggaran belanja daerah bidang kesehatan dibandingkan dengan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yaitu 10% dari APBD
provinsi, dan anggaran kesehatan per kapita di masing-masing provinsi.

Setelah mengetahui melalui studi kasus ke 33 provinsi, dilakukan re-grouping


terhadap klasifikasi indeks kapasitas fiskal dalam bentuk matriks tabel 2x2, dari semula 4
kelompok (kapasitas fiskal rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi), menjadi 2
kelompok (rendah dan tinggi).

Menurut Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 245/2010 tentang Peta


Kapasitas Fiskal Daerah, kapasitas fiskal di definisikan sebagai gambaran kemampuan
keuangan masing-masing daerah yang dicerminkan melalui penerimaan umum APBD
(tidak termasuk Dana Alokasi Khusus, Dana Darurat, Dana Pinjaman Lama dan
penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu)
untuk membiayai tugas pemerintahan setelah dikurangi belanja pegawai dan dikaitkan
dengan jumlah penduduk miskin. Penghitungan kapasitas fiskal menurut Peraturan
Menteri Keuangan tersebut mencakup indikator pendapatan asli daerah (PAD), dana bagi
hasil (DBH), dana alokasi umum (DAU), pendapatan daerah yang sah, belanja pegawai,
dan jumlah penduduk miskin. Data penduduk miskin mengacu pada data BPS dan data
lainnya mengacu pada realisasi APBN/D pada tahun terkait. Penghitungan indeks
kapasitas fiskal daerah pada tingkat provinsi seperti yang digunakan sebagai data
sekunder dalam disertasi ini dilakukan dengan menghitung kapasitas fiskal masing-
masing provinsi dibagi dengan rata-rata kapasitas fiskal semua daerah provinsi sesuai
dengan Pasal 4 (4) Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 245/2010 tentang Kapasitas
Fiskal Daerah.

Kategorisasi indeks kapasitas fiskal dibagi dalam 4 kelompok kapasitas fiskal


yaitu: indeks kapasitas fiskal sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah. Daerah yang
dikategorikan indeks kapasitas fiskal sangat tinggi merupakan daerah dengan indeks lebih
atau sama dengan 2. Daerah dengan indeks sama dengan 1 sampai kurang dari 2 masuk
dalam kategori fiskal tinggi. Daerah dengan indeks kapasitas fiskal sedang adalah daerah
dengan indeks lebih dari 0,5 sampai kurang dari 1. Daerah dengan indeks kapasitas fiskal
14

rendah mencakup daerah dengan indeks kurang dari atau sama dengan 0,5. Daerah
dengan kapasitas fiskal rendah dan kapasitas fiskal sedang disatukan ke dalam klasifikasi
baru, yakni kapasitas fiskal rendah. Sebaliknya, daerah dengan kapasitas fiskal tinggi dan
sangat tinggi disatukan ke dalam klasifikasi kapasitas fiskal tinggi.

Dilakukan analisis menggunakan analisis bivariabeldengan menggunakan uji kai


kuadrat (chi square) untuk menunjukkan ada atau tidak adanya hubungan yang signifikan
secara statistik antara kapasitas fiskal dengan penyelenggaradan manfaat Jaminan
Kesehatan Daerah. Besarnya pengaruh dapat dinilai berdasarkan perhitungan Mantel-
Haenszel Common Odds Ratio Estimates.

Tahap ketiga, menyusun rekomendasi dan kategorisasi kebijakan. Dalam


menyusun rekomendasi kebijakan akan diberikan penilaian kelayakan kebijakan
berdasarkan data primer kualitatif yang diperoleh dilapangan yaitu terhadap 6 provinsi
terpilih (berdasarkan pemilihan dari kategorisasi kelompok kapasitas fiskal).

Pemilihan provinsi ini dilakukan secara proporsional menggunakan teknik


purposive random sampling atau mengambil beberapa sampel secara random dari target
populasi tertentu yang lebih luas. Dalam konteks operasional jumlah provinsi yang
terpilih secara random diambil dari masing-masing kelompok kapasitas fiskal yang telah
ditentukan sebelumnya. Jumlah provinsi yang dipilih disesuaikan bobot jumlahnya
dengan total jumlah provinsi yang terdapat di dalam masing-masing kelompok kapasitas
fiskal. Terdapat 6 provinsi yang dipilih secara acak berdasarkan klasifikasi kelompok
kapasitas fiskal yaitu: Provinsi Aceh, Gorontalo, NTT (kapasitas fiskal rendah), Provinsi
Sumatera Barat (kapasitas fiskal sedang), Provinsi Kepulauan Riau (kapasitas fiskal
tinggi) dan Provinsi DKI Jakarta (kapasitas fiskal sangat tinggi).

Kemudian dilakukan kategorisasi berdasarkan ketepatan rekomendasi kebijakan


disusun. Ketepatan rekomendasi mengacu kepada kriteria karakteristik yang harus
dipertimbangkan dalam menyusun suatu rekomendasi kebijakan (Dunn), antara lain
action focus, future oriented, fact-value interdependence, dan value duality.

Selain itu dilakukan pula kategorisasi berdasarkan kelayakan kebijakan yang


dikembangkan dari Abidin (2004) untuk mengukur kelayakan suatu formulasi kebijakan
publik, antara lain : kelayakan sosial dan politik, kelayakan ekonomi dan keuangan,
kelayakan administrasi, dan kelayakan teknologi.

Dalam analisis data studi lebih lanjut berupa komparasi dilakukan pengumpulan
data lapangan lanjutan (triangulasi dan verifikasi hasil penilaian kelayakan kebijakan).
Untuk memverifikasi dan mentriangulasi hasil penilaian kelayakan kebijakan pada 6
lokus provinsi, yaitu : Provinsi Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Kepulauan Riau,
Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur yang paling layak untuk diiintegrasikan kedalam
Jamkesda. Triangulasi difokuskan pada kemampuan Jamkesda terpilih dalam hal :
1. Manajemen pengelolaan
2. Paket manfaat
3. Kepesertaan penerima bantuan iuran
15

Untuk tahapan ini dilakukan kembali wawancara mendalam/FGD dengan


informan terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah terkait, khususnya untuk
melakukancek, re-check dan cross check hasil penilaian agar dapat dianalisis dan
diinterpretasi.Atas dasar kebutuhan tersebut, penelitian ini menggunakan beberapa tools
pendekatan kualitatif berupa wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus maupun
observasi lapangan yang dilakukan dengan tujuan lebih memahami suatu situasi sosial,
peristiwa, peran dam interaksi kelompok. Dalam hal ini didapat gambaran secara lebih
mendalam mengenai jaminan kesehatan daerah di 33 provinsi.

Tahap keempat , berdasarkan hasil-hasil tersebut diatas, kemudian disusun


formulasi kebijakan integrasi Jamkesda ke JKN, serta pentahapan dan skema
implementasinya.

Gambar 3.2. Alur Langkah Penelitian


(sumber: diolah sendiri)
TAHAP III
Penyusunan
Rekomendasi &
Kategorisasi kebijakan

Pemilihan provinsi
berd. kap fiskal
TAHAP II
Studi kasus 33 provinsi pendalaman studi 6
provinsi terpilih
Tingkat
kemiskinan Penilaian kelayakan
dan karakteristik
Kategorisasi kebijakan
TAHAP I: Cakupan berdasarkan
Survei kepesertaan
33 kapasitas Triangulasi dan
Jamskesda
provinsi fiskal verifikasi lapangan
APBD sektor
kesehatan
Perbandingan LN

kapasitas Analisa
fiskal bivariabel
TAHAP IV
Penyusunan formulasi
kebijakan integrasi

Rumusan integrasi

Action Plan
Penentuan tahapan
&skema implementasi

Action Plan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran hasil pemetaan kondisi di 33 Provinsi :


Terdapat 4 provinsi yang sudah mencapai Universal Health Coverage.
Jumlah provinsi yang hanya menjamin peserta penduduk miskin non Jamkesmas
mencapai 27 provinsi (81,81%), serta 2 provinsi (6,06%) yang menggunakan
SKTM. Gambaran diatas menunjukkan bahwa pemahaman dan kemampuan
daerah dalam pengelolaan Jamkesda masih berbeda satu dengan yang lain,
khususnya dalam rangka mencapai Universal Health Coverage.
Berdasarkan hasil analisis terhadap karakteristik dan kelayakan kebijakan
Jamkesda di 6 provinsi , tergambar beberapa hal yang harus dipertimbangkan
dalam penyusunan formulasi kebijakan integrasi sebagai berikut:
1) Keberadaan regulasi dan atau rencana aksi di tingkat provinsi akan
menentukan sejauh mana proses integrasi Jamkesda dapat berjalan dengan
baik.
2) Komitmen politik pemimpin daerah pada umumnya sudah visioner
dalam hal penyiapan jaminan kesehatan
3) Persoalan kesiapan lapangan juga menjadi kunci yang harus disiapkan
selama proses integrasi Jamkesda ke dalam JKN, antara lain :keterbatasan
akses, ketersediaan fasiltas pelayanan kesehatan maupun organisasi BPJS
di daerah yg tersebar merata dan kualitas standar, serta tingkat
pengetahuan/ kesadaran masyarakat.
4) Kemampuan daerah untuk menyesuaikan kebijakan Jamkesda
yang disusun dengan indikator kinerja RPJMD menjadi penting dalam
proses integrasi, karena rencana proses integrasi Jamkesda harus
mempertimbangkan penyesuaian terhadap capaian RPJMD masing-
masing daerah.
5) Faktor ekonomi dan keuangan, khususnya kesiapan anggaran daerah
sangat menentukan kesiapan daerah dalam berintegrasi
6) Result base financing dapat membantu menjembatani perbedaan sistem
yang ada dan meningkatkan kinerja baik dari sisi penawaran dan
permintaan dari sistem kesehatan yang mengupayakan untuk mencapai
Universal Health Coverage.

4.1.1. Kapasitas Fiskal Daerah


Berdasarkan tabel lampiran peta kapasitas fiskal daerah (Lampiran
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 226/PMK.07/2012) didapatkan

16
17

gambaran kemampuan fiskal provinsi di Indonesia. Dalam tabel indeks fiskal


tersebut diperoleh gambaran bahwa terdapat provinsi dengan kriteria kapasitas
fiskal rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Provinsi dengan kriteria indeks
kapasitas fiskal rendah merupakan yang terbanyak, yaitu sebanyak 18 provinsi
(54,55%), diikuti kriteria sedang 7 propinsi (21,21%), tinggi 5 propinsi (15,15%)
dan kriteria sangat tinggi 3 provinsi (9,09%) . Jika ditinjau dari tingkat kapasitas
fiskal kabupaten/kota, terbanyak kategori kapasitas fiskal rendah, yaitu sebanyak
289 kabupaten/kota (58,98%), kategori sedang sebayak 86 kabupaten/kota
(17,55%), kategori tinggi 61 kabupaten/kota (12,45%) dan sangat tinggi sebanyak
54 kabupaten/kota (11,02%). Masing masing indeks kapasitas fiskal propinsi tsb
akan dikaitkan dengan proporsi alokasi anggaran kesehatan, untuk melihat sejauh
mana korelasinya. Dengan demikian akan memberi gambaran,apakah kebijakan
Jamkesda di tingkat Propinsi sudah sesuai dengan kondisi kapasitas fiskal
daerahnya.

Gambar 4.1. Proporsi provinsi menurut indeks kapasitas fiskal

9,09%

15,15%

54,55% Rendah
Sedang
Tinggi
21,21%
Sangat Tinggi

(Diolah sendiri dari sumber Peraturan Menteri Keuangan /PMK-RI 226/2012 )


18

Tabel 4.1. Klasifikasi provinsi berdasarkan indeks kapasitas fiskal

Indeks kapasitas fiskal


Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Aceh Sulteng Sumbar Riau DKI Jakarta
Sumut Sulsel Jambi Kalteng Kaltim
Sumsel Sultra Kalbar Kalsel Babel
Bengkulu NTT Sulut Bali
Lampung NTB Maluku Utara Kepri
Jabar Maluku Banten
Jateng Papua Papua Barat
Jatim Gorontalo
DI Yogyakarta Sulbar
(Diolah sendiri dari sumber Lampiran Peraturan Menteri Keuangan/ PMK-RI 226/PMK.07/2012)

Gambar 4.2. Proporsi kabupaten/kota menurut indeks kapasitas fiskal

11,02%

Sangat Tinggi
12,45%
Tinggi
Sedang
58,98% 17,55% Rendah

( Diolah sendiri dari sumber Peraturan Menteri Keuangan /PMK-RI 226/2012)

Dari data 242 kabupaten/kota yang menyelenggarakan Jaminan Kesehatan


Daerah yang dapat diolah, terdapat 152 kabupaten/kota yang dikategorikan
sebagai daerah dengan kapasitas fiskal yang rendah (62,8%), 30 kabupaten/kota
dengan kapasitas fiskal sedang (12,4%), 25 kabupaten/kota dengan kapasitas
fiskal tinggi (10,3%), dan 35 kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal sangat tinggi
(14,5%).Klasifikasi kapasitas fiskal ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor 226/PMK.07/2012 tentang Peta Kapasitas
Fiskal Daerah.
19

Tabel 4.2. Persentase kab/kota berdasarkan pengelompokan kapasitas


fiskal (N = 242)

No Klasifikasi Kapasitas n %
Fiskal
1 Rendah 152 62,8
2 Sedang 30 12,4
3 Tinggi 25 10,3
4 Sangat tinggi 35 14,5
(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provins tahun 2013)

4.1.2. Anggaran
Bila dibandingkan antara anggaran kesehatan dalam APBD 2013 dengan
total APBD provinsi, maka secara nasional sudah mencapai 9,56%. Provinsi Bali
dan kabupaten/kota di Provinsi Bali mengalokasikan 12,7% anggarannya untuk
kesehatan, hampir sama dengan Provinsi Bali. Sebaliknya, Provinsi Riau dan
kabupaten/kota di Provinsi Riau mengalokasikan sekitar 6,57% dari APBD-nya
untuk kesehatan ( Gambar 4.3).

Gambar 4.3. Persentase anggaran kesehatan berbanding total APBD


provinsi dan kabupaten/kota di masing-masing provinsi, tahun 2013

14 12,7
12
10
8 6,57
6
4
2
0
Prov. Papua
Prov. Riau

Prov. Bengkulu

Prov. Bali
Prov. Lampung

Prov. Banten
Prov. Papua Barat

Prov. Kepulauan Riau


Prov. Maluku Utara

Prov. Kalimantan Tengah

Prov. Aceh

Prov. Jawa Timur


Prov. Sulawesi Tenggara

Prov. Kalimantan Barat

Prov. Sulawesi Selatan

Prov. Bangka Belitung


Prov. Maluku

Prov. Gorontalo
Prov. Sumatera Barat
Prov. Jambi

Prov. DKI Jakarta


Prov. Sulawesi Barat
Prov. Kalimantan Timur

Prov. Sumatera Utara

Prov. Jawa Barat


Prov. Nusa Tenggara Barat

Prov. Sulawesi Tengah

Prov. Jawa Tengah


Prov. Sumatera Selatan

Prov. Sulawesi Utara

Prov. DI Yogyakarta

Prov. Kalimantan Selatan


Prov. Nusa Tenggara Timur

(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi 2013)


20

Gambar 4.4. Anggaran kesehatan APBD 2013 per kapita per provinsi

1.200.000 1.076.089
1.000.000
800.000
600.000
400.000 286.665
146.239
200.000
-

Prov. Bengkulu

Prov. Papua
Prov. Lampung
Prov. Banten

Prov. Jawa Timur

Prov. Riau

Prov. Bali
Prov. Kepulauan Riau

Prov. Aceh
Prov. Maluku Utara
Prov. Bangka Belitung
Prov. Sulawesi Selatan
Prov. Kalimantan Barat

Prov. Sulawesi Tenggara

Prov. Papua Barat


INDONESIA
Prov. Sumatera Barat

Prov. Gorontalo

Prov. Maluku

Prov. DKI Jakarta

Prov. Kalimantan Tengah


Prov. Jawa Barat

Prov. Jawa Tengah


Prov. Nusa Tenggara Barat

Prov. Sumatera Utara

Prov. Jambi
Prov. Sulawesi Barat

Prov. Sulawesi Tengah

Prov. Kalimantan Timur


Prov. DI Yogyakarta

Prov. Sulawesi Utara

Prov. Kalimantan Selatan


Prov. Sumatera Selatan

Prov. Nusa Tenggara Timur

(Sumber: Diolah sendiri dari data APBD berbagai Provinsi)

Secara nasional, anggaran kesehatan per kapita semua provinsi dan


kabupaten/kota adalah sebesar Rp. 286.655,-. Provinsi Papua Barat dan
kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat mengalokasikan anggaran yang tertinggi,
sebesar Rp. 1.076.089,-. Provinsi Jawa Barat, Lampung, dan Banten merupakan
tiga provinsi dengan anggaran kesehatan perkapita yang terendah ( Gambar 4.4).
Khusus untuk APBD provinsi, komposisi jumlah provinsi yang
mengalokasikan < 10% dari APBD-nya untuk kesehatan dengan provinsi yang
mengalokasikan 10% terbagi merata untuk masing-masing klasifikasi kapasitas
fiskal. Rata-rata persentase anggaran kesehatan berbanding anggaran total APBD
pada provinsi yang berada dalan klasifikasi kapasitas fiskal rendah adalah 9,58%,
tidak berbeda jauh dengan provinsi yang berada dalam kategori kapasitas fiskal
sedang (9,67%). Provinsi yang berada dalam klasifikasi kapasitas fiskal tinggi dan
sangat tinggi telah mengalokasikan anggaran kesehatan sesuai dengan amanat
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009, yakni 10%. (Tabel 4.4). Provinsi
dengan anggaran kesehatan perkapita terkecil adalah Provinsi Nusa Tenggara
Timur dengan anggaran sebesar Rp. 304.262,-/jiwa/tahun.
21

Tabel 4.3. Karakteristik anggaran kesehatan dalam APBD provinsi


berdasarkan klasifikasi kapasitas fiskal

Kategori Anggaran Rata-rata Persentase


Kapasitas Fiskal < 10% 10% anggaran Kesehatan
dalam APBD (%)
Rendah 10 9 9,58
Sedang 3 3 9,67
Tinggi 3 2 13,4
Sangat Tinggi 1 2 10,67
(Sumber: Diolah sendiri dari data APBD berbagai Provinsi)

Gambar 4.5 Anggaran kesehatan APBD 2013 per kapita 6 provinsi


yang dianalisis khusus

800.000 591.366
600.000 464.465 491.895
341.513 400.938
400.000 304.262
200.000
-
Prov. Nusa Prov. Prov. Prov. DKI Prov. Prov. Aceh
Tenggara Sumatera Gorontalo Jakarta Kepulauan
Timur Barat Riau

(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi tahun 2013

Bila dibandingkan antara anggaran kesehatan dalam APBD 2013 dengan


total APBD provinsi, maka rata-rata di 6 provinsi mencapai 9,94%. Provinsi Aceh
dan kabupaten/kota di Provinsi Aceh mengalokasikan 10,29% anggarannya untuk
kesehatan, Provinsi Kepulauan Riau dan kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan
Riau mengalokasikan sekitar 8,7% dari APBD-nya untuk kesehatan.
22

Gambar 4.6 Persentase anggaran kesehatan berbanding


total APBD Provinsi di 6 provinsi yang dianalisis khusus

10,50 10,17 10,29


9,75 9,87
10,00 9,65
9,50
9,00 8,70
8,50
8,00
7,50
Prov. Prov. Prov. Prov. Nusa Prov. DKI Prov. Aceh
Kepulauan Gorontalo Sumatera Tenggara Jakarta
Riau Barat Timur

(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi tahun 2013)

Tidak otomatis provinsi dengan kapasitas fiskal rendah akan


mengalokasikan anggaran kesehatan perkapita yang lebih kecil bila dibandingkan
provinsi dengan kelas kapasitas fiskal di atasnya. Demikian pula hubungan
kapasitas fiskal dengan persentase anggaran kesehatan berbanding total APBD.

Tabel 4.4. Karakteristik Anggaran APBD Provinsi dari 6 Provinsi


yang dianalisa khusus

Kapasitas Kesehatan % anggaran


No Daerah Kesehatan
Fiskal per Kapita kesehatan
1 2 3 4 5 6
1 Prov. Aceh 886.579 Rendah 185603 10
2 Prov. Sumatera Barat 354.437 Sedang 70806 14
3 Prov. Kepulauan Riau 125.661 tinggi 64090 6
4 Prov. DKI Jakarta 4.634.051 Sangat tinggi 464465 15
Prov. Nusa Tenggara
5 Timur 177.060 Rendah 35695 9
6 Prov. Gorontalo 54.612 Rendah 49652 7
(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi tahun 2013)

4.1.3. Pelaksanaan Jamkesda di daerah terpencil, Perbatasan dan kepulauan


(DTPK)
Semua provinsi DTPK menghadapi berbagai masalah yang hampir sama,
antara lain kesulitan akses masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan
dasar dan rujukan yang dikarenakan hambatan geografis; ketiadaan,
23

ketidakcukupan, ketidakmerataan dan lemahnya kapasitas SDM kesehatan yang


dibutuhkan untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal, baik di fasilitas
pelayanan kesehatan dasar maupun di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan; serta
kurang memadainya sarana dan prasarana kesehatan.
Provinsi dengan kapasitas fiskal rendah mengalami kesulitan untuk
mengatasi masalah-masalah tersebut. Dalam monitoring dan evaluasi kesiapan
Jaminan Kesehatan Nasional yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan,
beberapa informan dari beberapa kabupaten/kota mengharapkan dukungan yang
lebih besar dari pemerintah pusat untuk membantu mengatasi kekurangan tenaga
dan minimnya fasilitas kesehatan di wilayahnya.
Menurut laporan kajian LPEM FEUI (2014), secara umum sektor informal
di Indonesia mengeluarkan dana 1,13 kali lebih tinggi dibandingkan pengeluaran
biaya kesehatan perkapita setiap bulannya untuk membayar premi kelas tiga BPJS
Kesehatan. Pada kenyataannya di Provinsi Maluku, Gorontalo dan NTT, iuran
yang dibayarkan mencapai lebih dari dua kali lipat lebih tinggi dari pengeluaran
kesehatan perkapita di masing-masing Provinsi tersebut. Sebagai ilustrasi,
Provinsi Gorontalo, pengeluaran sektor informal untuk premi kelas tiga memiliki
rasio 2,53 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pengeluaran kesehatan perkapita
setiap bulannya di Provinsi tersebut Sementara di Provinsi Banten dan DKI
Jakarta, iuran premi yang harus dibayar hanya mencapai rasio 0,92 dan 0,33 kali
lipat lebih tinggi dari total pengeluaran kesehatan per kapita di masing-masing
provinsi tersebut.
Perbedaan rasio antar provinsi ini menunjukkan bahwa penerapan premi
tunggal saat ini berpotensi menyebabkan terciptanya kesenjangan layanan
kesehatan antar wilayah di Indonesia. Kesenjangan ini menggambarkan terjadinya
subsidi silang antar wilayah yang dengan pengeluaran kesehatan per kapita yang
lebih kecil kepada wilayah dengan pengeluaran kesehatan per kapita lebih besar.
Kondisi ini menunjukkan perlunya dilakukan regionalisasi tarif premi atau iuran
BPJS Kesehatan sehingga kesenjangan antara iuran dan paket manfaat yang
diperoleh di beberapa kawasan khususnya di DTPK dapat diatasi. Selain
melakukan regionalisasi iuran yang harus dilakukan oleh pusat, setiap daerah
dituntut untuk tetap memenuhi kemampuan penyediaan layanan kesehatannya
sesuai dengan standar paket manfaat nasional. Dalam hal ini beberapa persoalan
dan hambatan mendasar telah diatasi oleh masing-masing daerah.
Provinsi kepulauan dengan kapasitas fiskal rendah mengalami kesulitan
untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Keterbatasan anggaran pemerintah
kabupaten/kota menjadi hambatan dalam pemberian manfaat bagi peserta
jamkesda kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Bahkan,
sebagian kabupaten/kota di Provinsi Maluku tidak menyelenggarakan jaminan
kesehatan daerah.
24

4.2. Aspek pengelolaan :


Dalam aspek pengelolaan, sesuai amanat Undang Undang BPJS 24/2011,
diselenggarakan secara terpusat oleh BPJS. Dari hasil penelitian ini, menunjukkan
adanya perbedaan pengelolaan Jamkesda , sebagai berikut:
a. pada umumnya Jaminan Kesehatan Daerah (64,6%) diselenggarakan
oleh pemerintah daerah , 33,8% dikelola oleh PT. Askes atau Pihak
ke 3, dan 1,7% gabungan antara pemerintah daerah dan PT Askes.
Dengan berubahnya PT Askes menjadi BPJS pada 1 Januri 2014, maka
semua daerah yang selama ini sudah bekerja sama dengan PT Askes,
akan lebih mudah ( bila kemampuan fiskal daerahnya memungkinkan )
bila langsung berintegrasi ke JKN, karena bila tidak langsung integrasi
ke JKN, maka daerah tersebut harus segera membuat badan/unit
pengelola Jamkesda baru.
b. Terdapat 14 provinsi (42, 42%) yang besarannya ditanggung
sepenuhnya oleh kabupaten/kota masing-masing, dan hanya 1 provinsi
(3, 03%) yang 100% ditanggung oleh provinsi. Besaran cost sharing
yang porsinya lebih besar ditanggung provinsi daripada
kabupaten/kota sebanyak 6 provinsi (18, 18%), sementara yang
porsinya lebih kecil ditanggung provinsi sebanyak 8 provinsi (24,
24%), sisanya 4 provinsi (12, 12%) membagi porsi jumlah cost sharing
secara berimbang antara provinsi dan kabupaten/kota.
Dengan demikian terdapat potensi perbedaan kepentingan antara propinsi
dan kabupaten/kota pada saat pengintegrasian Jamkesda. Hal ini memiliki beban
politis yang harus diatasi dan dipersiapkan mekanismenya agar mampu mengatasi
perbedaan kepentingan tersebut.
Berdasarkan Tabel 4.5, pada umumnya Jaminan Kesehatan Daerah (64,6%)
diselenggarakan oleh pemerintah daerah, baik oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota, dinas sosial maupun Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD),
33,8% oleh PT. Askes atau Pihak ke 3, dan 1,7% gabungan antara pemerintah
daerah dan PT Askes. Dikatakan penyelenggaraan gabungan antara lain jika
penyelenggaraan untuk pelayanan kesehatan dasar adalah dinas kesehatan
kabupaten/kota (pemerintah daerah), sedangkan pelayanan kesehatan rujukan
(lanjutan) diselenggarakan oleh PT. Askes.
25

Tabel 4.5. Persentase kabupaten/kota berdasarkan penyelenggara


Jaminan Kesehatan Daerah, 2013 (N=240)
No Penyelenggara N %
1 PT. Askes dan Pihak ke 3 81 33,8
2 Pemerintah daerah (Dinas Kesehatan, 155 64,6
Dinas Sosial, UPTD)
3 Gabungan (Pemda dan PT Askes) 4 1,7
(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi tahun 2013)

Menurut Mukti (2008) dalam rangka desentralisasi fiskal, pemerintah


daerah sudah memasukkan pembiayaan kesehatan masyarakatnya dan untuk
mendukung pembangunan daerah ke dalam RPJP-Daerah (RPJPD). RPJPD
merupakan dokumen perencanaan pemerintah daerah untuk periode 20 tahunan.
RPJPD harus selaras dan menyesuaikan dengan RPJPN dengan
mempertimbangkan kebutuhan, kondisi dan prioritas pembangunan pemerintah
daerah setempat.
Oleh karenanya sudah seharusnya pengelolaan Jaminan kesehatan,
menurut Mukti dan Moertjahjo (2008), menggunakan pendekatan
penyelenggaraan dengan prinsip managed care, yaitu menggunakan pendekatan
terintegrasinya pembiayaan dan pelayanan kesehatan melalui penerapan kendali
mutu dan kendali biaya yang bertujuan mengurangi biaya pelayanan yang tidak
perlu dengan cara meningkatkan kelayakan dan efisiensi pelayanan, sehingga
dengan secara praupaya (pre-payment) dengan mengelaborasi semua pendanaan
yang termobilisasi dari masyarakat. Disinilah urgensi integrasi Jamkesda kedalam
JKN tergambarkan.
Berdasarkan gambaran cost sharing pembiayaan antara pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota, diketahui bahwa terdapat provinsi yang telah
menyiapkan dana talangan dan yang tidak menyiapkan dana talangan. Sebanyak
16 provinsi (48, 48%) menyiapkan dana talangan.
Terdapat lima pola cost sharing, yaitu:
1) Ditanggung oleh kabupaten/kota semuanya (100%)
2) Ditanggung oleh provinsi semuanya (100%)
3) Cost sharing provinsi > kabupaten/kota
4) Cost sharing provinsi < kabupaten/kota
5) Cost sharing berimbang antara provinsi dan kabupaten/kota.

Terdapat 14 provinsi (42, 42%) yang besarannya ditanggung sepenuhnya


oleh kabupaten/kota masing-masing, dan hanya 1 provinsi (3, 03%) yang 100%
ditanggung oleh provinsi. Besaran cost sharing yang porsinya lebih besar
ditanggung provinsi daripada kabupaten/kota sebanyak 6 provinsi (18, 18%),
26

sementara yang porsinya lebih kecil ditanggung provinsi sebanyak 8 provinsi (24,
24%), sisanya 4 provinsi (12, 12%) membagi porsi jumlah cost sharing secara
berimbang antara provinsi dan kabupaten/kota.

Gambar 4.7 Proporsi provinsi menurut pengelolaan pembiayaan


(pembiayaan dan cost sharing)

5.1.4. Manfaat Layanan

(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi tahun 2013)

4.3. Aspek Manfaat


Berdasarkan pola paket manfaat yang didapatkan peserta Jamkesda,
sebanyak 15 provinsi (45,45%) mengatur sendiri manfaat yang akan diperoleh
melalui peraturan daerah dan sebanyak 18 provinsi (54, 54%) mengacu pada paket
manfaat yang diberikan oleh Jaminan Kesehatan Nasional.
Masih terdapatnya provinsi yang mengatur sendiri paket manfaat tersebut
dapat disebabkan oleh dua hal, yakni : 1) Provinsi terkait belum memiliki
kemampuan untuk menjamin sesuai dengan paket manfaat yang ditentukan pusat
dalam Jamkesmas. dan2) Provinsi menganggap lebih mampu menjamin paket
manfaat yang lebih baik bagi penduduknya dari pada hanya mengacu pada paket
manfaat yang dijamin. Sekitar 59,6% kabupaten/kota memberikan manfaat
Jamkesda yang sama dengan Jamkesmas, dan 37,5% memberikan paket manfaat
yang tidak sesuai (kurang) dibandingkan dengan paket yang diberikan
Jamkesmas. Beberapa kabupaten/kota hanya memberikan penggantian seadanya.
Terdapat 7 kabupaten/kota (2,9%) yang memberikan lebih dari paket
Jamkesmas. Ke 7 kabupaten/kota ini berasal dari provinsi yang sama, yakni
Provinsi Kepulauan Riau, semuanya memiliki kapasitas fiskal dengan kategori
tinggi dan sangat tinggi.Paket manfaat yang diberikan tidak hanya berupa paket
manfaat yang sesuai dengan Jamkesmas, tetapi juga ditambah dengan biaya
penginapan, makan dan minum, serta transportasi.
27

Tabel 4.6. Persentase kabupaten/kota berdasarkan manfaat


Jaminan Kesehatan Daerah (N = 240)

No Manfaat N %
1 Sama dengan Jamkesmas 143 59,6
2 Lebih dari Jamkesmas 7 2,9
3 Kurang dari Jamkesmas 90 37,5
(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi tahun 2013)

Analisis bivariabed dengan menggunakan uji kai kuadrat (chi square)


menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara
tingginya kapasitas fiskal dengan penyelenggara Jaminan Kesehatan Daerah
(p value continuity correction = 0,581). Artinya, tidak ada kecenderungan
kabupaten/kota dalam kelompok kapasitas fiskal tertentu akan memiliki pola
penyelenggaraan tertentu, menggunakan PT. Askes atau menyelenggarakan
sendiri.

Tabel 4.7. Distribusi kabupaten/kota berdasarkan klasifikasi penyelenggara


Jaminan Kesehatan daerah
Klasifikasi kapasitas fiskal Klasifikasi Penyelenggara
Askes Pemda
Kapasitas fiskal tinggi 18 (30%) 42 (70%)
Kapasitas fiskal rendah 63 (35%) 117 (65%)
(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi tahun 2013)

Bila menggunakan nilai potong (cut off) p value 0,05 sebagai batas
kemaknaan uji chi square, maka tidak ada hubungan yang bermakna antara
kelompok kapasitas fiskal dengan manfaat jaminan kesehatan yang diberikan.
Terdapat perbedaan tipis antara p value continuity correction hasil penelitian ini
(0,065) dengan p value nilai batas. Kendati demikian, bila memperhatikan hasil
perhitungan Mantel-Haenszel, diperoleh common odds ratio estimatessebesar
1,920 (confidence interval 95% =1,008 3,658; asymp. Sig 2 sided = 0,047). Hal
ini berarti kabupaten/kota yang memiliki kapasitas fiskal tinggi (tinggi dan sangat
tinggi) memiliki kecenderungan sebesar 1,92 kali lebih besar untuk memberikan
manfaat Jamkesda yang sesuai atau bahkan melebihi manfaat Jamkesmas bila
dibandingkan dengan kabupaten/kota yang memiliki kapasitas fiskal yang rendah
(sedang dan rendah). Pada perhitungan ini, kapasitas fiskal tinggi dan sangat
tinggi digabungkan menjadi kelompok kapasitas fiskal tinggi, sedangkan
28

kapasitas fiskal rendah dan sedang digabungkan menjadi kelompok kapasitas


fiskal rendah.

Tabel 4.8. Distribusi kabupaten/kota berdasarkan


manfaat Jaminan Kesehatan Daerah, tahun 2013
Klasifikasi Kapasitas Manfaat Jamkesda
Fiskal Sesuai / melebihi Kurang dari
Jamkesmas Jamkesmas
Kapasitas fiskal tinggi 44 (73,3%) 16 (26,7%)
Kapasitas fiskal rendah 106 (58,9%) 74 (41,1%)
(Diolah sendiri dari sumber data APBD berbagai Provinsi tahun 2013)

4.4. Penerima Bantuan Iuran


Jika ditinjau dari sisi jenis kepesertaan maka setidaknya baru terdapat 12, 12%
atau 4 provinsi yang telah mencapai universal health coverage. Sebagian besar provinsi
yang ada di Indonesia pada dasarnya hanya menjamin peserta jaminan kesehatan daerah
yang berasal dari kelompok penduduk miskin yang selama ini tidak ditanggung
Jamkesmas. Jumlah provinsi yang hanya menjamin peserta penduduk miskin non
Jamkesmas mencapai 27 provinsi (81,81%). Terdapat 2 provinsi (6,06%) yang
menggunakan SKTM.
Gambaran diatas menunjukkan bahwa pemahaman dan kemampuan daerah
dalam pengelolaan Jamkesda sebenarnya masih berbeda satu dengan yang lain,
khususnya dalam rangka mencapai universal health coverage. Hal ini merupakan
tantangan bagi provinsi untuk dapat mengubah pola pikirnya (mindset) pada saat
berintegrasi dalam JKN dimana pemerintah provinsi harus memahami bahwa jaminan
pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan salah satu upaya pencapaian universal
health coverage di Indonesia. Untuk periode 2013 dan 2014, jumlah penduduk yang
menjadi peserta Jamkesmas / PBI telah mencapai 86,4 juta jiwa. Hal ini dapat
terus bertambah seiring dengan berjalannya desentralisasi dan bergabungnya
Jamkesda ke dalam JKN serta tergantung tingkat penghasilan dan kesadaran
masyarakat. Berdasarkan data dari P2JK (Pusat Pembiayaan dan Jaminan
Kesehatan) Kemenkes RI, setidaknya terdapat 2.558.490 peserta Jamkesmas/PBI
yang setelah dilakukan verifikasi di daerah, ternyata tidak tepat sasaran. (lihat
Tabel 4.9). Berdasarkan data P2JK (2014), cakupan kepesertaan PBI Jamkesda
mencapai 46.632.278 jiwa atau sekitar 19,59% (tabel 4.10) dari total penduduk
Indonesia. Jumlah kepesertaan Jamkesda yang besar ini menuntut konsekuensi
pemerintah dalam mengintegrasikan kepesertaan tersebut kedalam JKN. Namun
dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diantara peserta Jamkesda tersebut,
ada penduduk yang diluar kriteria miskin dan tidak mampu, karena kebijakan
beberapa Pemerintah Daerah yang menjamin semua penduduk yang berobat ke
29

kelas 3, khususnya di propinsi yang memberlakukan kebijakan tersebut dalam


rangka mencapai Universal Health Coverage/UHC.

Tabel 4.9. Jumlah Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN dan usulan daerah
yang tidak sesuai kuota PBI
PROVINSI PBI Usulan daerah yang
tidak tepat sasaran
NAD 2.170.960 9.468
Sumatera Utara 4.192.297 19.573
Sumatera Barat 1.533.170 19.423
Riau 1.304.716 18.044
Jambi 821.557 13.527
Sumatera Selatan 2.433.669 704
Bengkulu 628.605 5.736
Lampung 3.087.541 23.795
Bangka Belitng 212.826 1.237
Jawa Barat 14.758.325 270.923
Jawa Tengah 14.151.037 202.264
DIY 1.572.153 21.157
Jawa Timur 14.001.871 252.635
Banten 3.221.969 290.438
Bali 904.859 24.817
NTB 2.259.558 8.894
NTT 2.671.319 12.852
Kalimantan Barat 1.343.859 6.144
Kalimantan Tengah 449.376 5.125
Kalimantan Selatan 753.526 5.565
Kalimantan Timur 784.013 10.124
Sulawesi Utara 790.860 1.271
Sulawesi Tengah 1.131.065 8.434
Sulawesi Selatan 2.944.923 24.992
Sulawesi Tenggara 984.912 2.997
Gorontalo 504.292 6.054
Maluku 754.627 5.067
Maluku Utara 328.965 2.212
Papua Barat 760.422 4.645
Sulawesi Barat 504.423 4.142
Kepulauan Riau 333.633 1.720
DKI Jakarta 1.271.291 -
Papua 2.833.381 -
Jumlah 86.400.000 2.558.490
(diolah dari sumber P2JK Kemenkes RI,2013)

Jika ditinjau dari sisi jenis kepesertaan, setidaknya baru terdapat 12,12%
atau 4 provinsi yang telah mencapai universal health coverage. Sebagian besar
provinsi yang ada di Indonesia pada dasarnya hanya menjamin peserta jaminan
30

kesehatan daerah yang berasal dari kelompok penduduk miskin yang selama ini
tidak ditanggung Jamkesmas. Jumlah provinsi yang hanya menjamin peserta
penduduk miskin non Jamkesmas mencapai 27 provinsi (81,81%). Terdapat 2
provinsi(6,06%) yang menggunakan SKTM. Pengertian UHC dalam kebijakan
Pemerintah Daerah yang menjamin semua penduduk yang berobat ke kelas 3,
tanpa mempersyaratkan miskin / tidak mampu berbeda dengan pengertian UHC
sesuai ketentuan dalam UU SJSN. Sesuai program SJSN berdasar UU yang
berlaku, UHC diterjemahkan dalam pengertian semua penduduk sudah
memperoleh jaminan kesehatan melalui sistem asuransi dengan membayar iuran,
dan khusus yang termasuk dalam kriteria miskin / tidak mampu, iurannya
dibayarkan oleh Pemerintah.
Gambaran di tabel 4.10 dibawah ini menunjukkan bahwa persentase peserta
Jamkesda terhadap total penduduk sangat bervariasi antara 1,89- 65,35%, hal ini
memberikan gambaran bahwa kebijakan dan kemampuan daerah dalam
pengelolaan Jamkesda perlu diatur, tetapi dengan tetap mempertimbangkan
kondisi dan kemampuan daerah masing masing ( dalam kerangka desentralisasi).
Jika ditinjau berdasarkan iuran yang dibayarkan peserta, maka diperoleh
gambaran beberapa pola pembayaran iuran antara lain: 1) Pola non iuran, 2)
Pembayaran diatas nilai iuran BPJS, dan 3) Pembayaran dibawah iuran BPJS.
Terdapat 4 provinsi (12,12%) yang membayar dengan pola non iuran, 3 provinsi
(9,09%) membayar diatas iuran BPJS yaitu sebesar Rp 19.225, -, dan sisanya 25
provinsi (78,78%) membayar iuran di bawah iuran BPJS. Hal ini menunjukkan
bahwa pada dasarnya besaran iuran yang ditetapkan BPJS untuk jaminan
kesehatan nasional sudah melebihi iuran yang dijamin pada umumnya di
Jamkesda. Hanya terdapat 3provinsi yang harus dilakukan penyesuaian dalam hal
iuran, Hal ini akan terkait dengan paket manfaat yang diberikan nantinya.
Besaran iuran nasional yang lebih besar dari Jamkesda ini perlu dilihat
kembali kesesuaiannya dengan paket manfaat BPJS yang diperoleh di daerah
karena pada kenyataannya fasyankes di daerah belum tentu sanggup memenuhi
standar pelayanan yang setara antar satu wilayah dengan wilayah lainnya. Hal ini
menjadi dilematis karena besaran iuran yang dibayarkan sama antar wilayah
sementara terdapat kesenjangan antar wilayah dalam hal layanan yang diperoleh
masyarakat.
31

Tabel 4.10. Cakupan kepesertaan jamkesda per provinsi tahun 2014

Jumlah peserta Persentase dari Jumlah


Nama provinsi Jamkesda total penduduk penduduk
Aceh 2.226.352 45,98% 4.842.238
Sumatera Utara 1.208.893 9,31% 12.982.204
Sumatera Barat 1.141.149 23,54% 4.846.909
Riau 1.341.395 24,22% 5.538.367
Jambi 254.167 8,22% 3.092.265
Sumatera Selatan 4.868.723 65,35% 7.450.394
Bengkulu 73.560 4,29% 1.715.518
Lampung 4.513.155 59,32% 7.608.405
Bangka Belitung 739.027 60,41% 1.223.296
Kepulauan Riau 174.730 10,41% 1.679.163
DKI Jakarta 4.300.000 44,76% 9.607.787
Jawa Barat 5.082.200 11,80% 43.053.732
Jawa Tengah 2.926.402 9,04% 32.382.657
DI Yogyakarta 1.007.153 29,13% 3.457.491
Jawa Timur 706.982 1,89% 37.476.757
Banten 479.170 4,51% 10.632.166
Bali 2.440.964 62,74% 3.890.757
NTB 572.976 12,73% 4.500.212
NTT 725.824 15,50% 4.683.827
Kalimantan Barat 585.157 13,31% 4.395.983
Kalimantan Tengah 840.339 37,99% 2.212.089
Kalimantan Selatan 1.077.575 29,71% 3.626.616
Kalimantan Timur 1.868.741 52,59% 3.553.143
Sulawesi Utara 490.981 21,62% 2.270.596
Sulawesi Tengah 483.968 18,37% 2.635.009
Sulawesi Selatan 4.892.070 60,89% 8.034.776
Sulawesi Tenggara 89.643 4,02% 2.232.586
Gorontalo 495.869 47,67% 1.040.164
Sulawesi Barat 48.447 4,18% 1.158.651
Maluku 657.470 42,87% 1.533.506
Maluku Utara 319.196 30,75% 1.038.087
Papua Barat - - 760.422
Papua - - 2.833.381
Nasional 46.632.278 19,59% 237.989.154
(Sumber P2JK tahun 2014)
32

Gambar. 4.8. Proporsi provinsi menurut besaran pembayaran iuran Jamkesda

12,12% 9,09%

Non Iuran
> 19.225
78,78%
<19.225

Berdasarkan metode pembayaran klaim pada tingkat layanan dasar, terdapat


tiga pola pembayaran yang pada umumnya digunakan oleh Jamkesda, yakni
pembayaran kapitasi, pembayaran berdasarkan tarif Perda, dan pembayaran
berdasarkan tarif Askes. Terdapat 7 provinsi (21,21%) yang menggunakan
metode pembiayaan layanan dasar dengan pembayaran kapitasi. Metode yang
paling banyak adalah penentuan pembiayaan layanan dasar melalui tarif Perda
tersendiri, yakni mencapai 15 provinsi (63,63%). Terdapat 5 provinsi yang
menggunakan pembiayaan di layanan dasar langsung mengacu pada tarif askes.
Berdasarkan pembayaran klaim di tingkat layanan rujukan, terdapat tiga
pola pembayaran, yakni : mengacu sistem Ina-CBGs, pembayaran tarif perda dan
pembayaran tarif rumah sakit. Terdapat 17 provinsi (51,51%) yang telah
menggunakan sistem Ina-CBGs, 15 provinsi (45, 45%) menggunakan tarif perda
dan 1 provinsi (3, 03%) menggunakan tarif rumah sakit.

Gambar. 4.9. Proporsi provinsi menurut cara pembayaran klaim


layanan dasar dan layanan rujukan

Layanan Dasar Klaim Layanan Rujukan


33

Gambar 4.10. Pola Jamkesda di 33 provinsi

Semua pasien
kelas III

Kepesertaan Miskin dan


Tidak mampu

SKTM
PT. Askes

Pengelolaan
Dinkes/Bapel

Provinsi 100%
Prov >
Pola Manajemen
Jamkesda Cost Kab=
Pembiayaan Kab/Kota 100% Prov
Provinsi Sharing

Prov, Kab/kota Kab<


Prov

Kab
Iuran
Pengelola
Pembiayaan Anggaran

Tarif Layanan
Dasar :
Faskes Kapitasi
Perda
Askes
Sesuai
Jamkesmas Tarif Layanan
Paket Rujukan :
Manfaat INA CBG s
Perda
Perda Tarif RS

Berdasarkan gambaran hasil pemetaan kondisi di 33 Provinsi tersebut


maka terdapat beberapa hal penting untuk dicatat:
1. Hanya 4 provinsi yang mencapai universal health coverage. Hal ini yang
harus didorong melalui mekanisme integrasi Jamkesda kedalam JKN,
sehingga provinsi lain dapat menyesuaikan kebijakannya untuk mencapai
universal health coverage secara simultan.
2. Terdapat 2,3% atau sekira 2,5 juta peserta usulan daerah yang tidak sesuai
atau melebihi kuota PBI yang berasal dari 251 kabupaten/kotadari 31 provinsi.
34

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kuota cakupan peserta
penerima PBI di tingkat pusat dengan kondisi kebutuhan daerah.
3. Terdapat 13 Jamkesda provinsi (39%) yang menggunakan mekanisme
pengelolaan melalui PT Askes. Diperlukan upaya ekstra untuk menerapkan
sistem yang sesuai bagi 20 provinsi lainnya agar dapat terintegrasi dengan
JKN.
4. Terdapat 1 provinsi (3, 03%) yangsemuanya(cost sharing 100%) ditanggung
oleh provinsi dan 6 provinsi dengan besaran cost sharing lebih besar (18,
18%). Dengan demikian terdapat potensi perbedaan kepentingan yang sangat
besar antara pusat dan kabupaten/kota pada saat pengintegrasian Jamkesda.
Hal ini memiliki beban politis yang lebih berat dan harus dipersiapkan
mekanisme yang mampu meredam perbedaan kepentingan yang besar dengan
kabupaten/kota.
5. Terdapat 15 provinsi (45, 45%) yang mengatur sendiri manfaat yang diperoleh
melalui peraturan daerah. Paket manfaat yang akan diberikan paska integrasi
harus mampu mengenali karakteristik yang terdapat pada provinsi masing-
masing sehingga perbedaan manfaat dapat diminimalisir.
6. Besaran iuran yang ditetapkan BPJS untuk Jaminan kesehatan Nasional sudah
melebihi iuran yang dijamin pada umumnya di Jamkesda. Hanya terdapat 4
provinsi yang harus melakukan penyesuaian dalam hal iuran. Namun
kesamaan iuran secara nasional ini harus diimbangi dengan kesamaan standar
layanan yang diperoleh sesuai paket manfaat nasional.
7. Dalam pembayaran tarif layanan dasar, baru 5 provinsi yang menggunakan
tarif layanan dasar langsung mengacu pada tarif Askes. Pada tarif layanan
rujukan, 15 provinsi (45, 45%) menggunakan tarif perda dan 1 provinsi (3,
03%) menggunakan tarif rumah sakit.

4.5. Analisis Pola Manajemen Pengelolaan, Paket Manfaat, dan Sasaran


Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Daerah
Hasil penelitian terhadap 6 provinsi,yaitu Aceh, Sumatera Barat,
Gorontalo, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Riau
memperlihatkan model pembiayaan dengan efektifitas serta keberhasilan yang
berbeda-beda. Hal ini sejalan dengan pendapat Murti (2010) yang menguraikan
bahwa implementasi sistem pelayanan kesehatan universal bervariasi di berbagai
negara, tergantung sejauh mana keterlibatan pemerintah dalam menyediakan
pelayanan kesehatan dan asuransi kesehatan. Hal ini sesuai dengan kenyataan
yang terjadi di Indonesia, yaitu pengaruh desentralisasi sangat tampakdalam
pembiayaan kesehatan, terbukti dari beragamnya model pengelolaan Jamkesda
yang ada di Indonesia.
35

Fokus analisis pada sub-bab ini terkait dengan model pembiayaan yang
diimplementasikan dengan menggunakan pengkategorian yang dikembangkan
dari kategori Jamkesda menurut Chitra Retna S & Ermy Ardhyanti.
Pengkategorian ini membagi Jamkesda menjadi kelompok jamkesda inovatif,
kelompok jamkesda pemula, dan kelompok Pra-Jamkesda. 1

4.5.1. Kebijakan pola manajemen pembiayaan


Enam provinsi yang menjadi target analisis pada penelitian ini yaitu
Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan
Riau dan DKI Jakarta, memiliki model manajemen pembiayaan yang berbeda-
beda yang bertujuan untuk menyesuaikan dengan kemampuan dan kondisi di
daerah masing-masing. Perbedaan pola pembayaran tersebut dapat terlihat melalui
tabel berikut:

Tabel. 4.11. Pola pembiayaan jamkesda di enam provinsi


Pola Pembiayaan Sharing
Penyeleng
No. Provinsi Yankes Kab/Kot Ket
Yandas gara Provinsi
lanjutan a
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Aceh Kapitasi Klaim PT. Askes 100% 0% UHC
2 Sumatera Kapitasi Klaim PT. Askes 40% 60% WargaTanp
Barat ajamkes/mis
kin
3 Gorontalo Kapitasi Klaim PT. Askes 60% 40% UHC
4 Nusa 1. 1. Klaim 1. Dinkes Provinsi Kelebiha Floating
Tenggara Kapitasi Tarif 2. Bendahar menyediaka n beban fund /
Timur 2. Klaimke RS aPemerint n dana dialihkan danatalanga
PT. Askes 2. Klaim ah talangan ke n
Perda 3. PT. Provinsi.
Askes
4. RSUD
5 DKI Jakarta Kapitasi Klaim PT. Askes Provinsi Kelebiha Floating
Tarif INA menyediaka n beban fund /
CBGs n dana dialihkan danatalanga
talangan ke Prov. n

1
Chitra Retna dan ErmyAdhyanti membagi Jamkesda ke dalam tiga kelompok: Kelompok Pra-
Jamkesda adalah Kelompok dengan Jamkesda yang masih dalam tahap inisiatif alokasi APBD.
Kelompok Jamkesda Pemula baru mengembangkan dan menjadi komplementer dari Jamkesmas.
Jamkesda inovatif adalah Jamkesda yang tidak saja melengkapi Jamkesmas, tetapi juga
mengembangkan varian yang lebih universal (Menuju UHC).
36

6 Kepulauan Klaim Klaim Dinkes 66% 33% Warga


Riau Tarif INA Tarif INA miskin non-
CBGs CBGs quota
Kapitasi
dalam
kab.
(Lingga)

Melihat pola manajemen pembiayaan yang diterapkan di lima provinsi,


terdapat provinsi yang menggunakan pola pembiayaan cost-sharing yang telah
ditentukan antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota yaitu
Provinsi Sumatera Barat dan Kepulauan Riau. Hal ini tampak dengan adanya
peraturan daerah/peraturan gubernur yang secara langsung mengatur pelaksanaan
di kabupaten/kota di wilayahnya(top-down approach) dengan target sasaran
rakyat yang tidak memiliki jaminan kesehatan dan rakyat miskin.
Selain melihat pola manajemen yang terjadi di daerah maka perlu pula
ditinjau pola manajemen yang dilakukan Amerika Serikat melalui Obama Care
(the Affordable Act). Dalam konteks pola pengelolaan manajemen organisasi
pembiayaan Obama Care, terdapat dua hal yang harus dicatat yaitu: 1)
Pemindahan kewenangan pengelolaan pembiayaan ke pusat berdasarkan
keinginan daerah, hal ini serupa dengan upaya integrasi Jamkesda kedalam JKN
di Indonesia, dan 2) pengelolaan mengacu pada sistem bursa asuransi, bukan
dikelola langsung oleh pusat, hal ini berbeda dengan Indonesia yang mengelola
secara langsung melalui BPJS.
Hal ini menunjukkan substansi kebijakan Obama Care merupakan
sentralisasi pembiayaan, namun tidak menghilangkan pemerataan kesempatan
bahkan membuka preferensi baru bagi masyarakat. Prinsip tersebut seharusnya
dapat menjadi salah satu acuan bagi Indonesia, karena proses integrasi Jamkesda
harus tetap berjalan dan terpusat.Namun pemerintahharus mampu membuka opsi
preferensi bagi daerah untuk menyesuaikan kondisi daerahnya dengan kondisi
standar yang diharapkan oleh pemerintahpusat.
Di era desentralisasi yang terjadi saat ini, sentralisasi seringkali
dikonotasikan negatif, namun dalam konteks manajemen pembiayaan kesehatan
yang menjadi isu lintas sektoral dan sangat politis di era otonomi daerah yang
sangat plural, sentralisasi justru dapat menjadi jalan keluar. Sentralisasi atau state-
centered public administration menurut Turner dan Hulme (1997) terdiri dari
komponen rational action, bureaucratic politics, dan state interests. Pendekatan
state-centered berfokus pada tindakan rasional atau perilaku dari aparatur, serta
kepentingan negara dan otonomi yang digunakan aparatur dan perangkatnya. Hal
ini bukan berarti negara lebih mempengaruhi masyarakat, akan tetapi negara
37

dilihat sebagai aktor yang independen ketimbang sebagai suatu produk dari
konflik kepentingan dan pertarungan kekuasaan yang biasanya muncul dari
desentralisasi.
. Berdasarkan hal tersebut, maka opsimanajemen pembiayaan result-based
financing merupakan salah satu model yang dapat diaplikasikandalam pola
manajemen terpusat dan disesuaikan daerah, sehingga menjadi salah satu
alternatif dalam implementasi pola pembiayaan Jamkesda dan menuju
penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). result-based
financing(RBF) merupakan instrumen pola pembiayaan yang menghubungkan
pendanaan dengan hasil yang telah ditetapkan, dengan pembayaran yang
dilakukan hanya berdasarkan verifikasi bahwa hasil yang telah disepakati benar-
benar telah tercapai. Penggunaan ini akan mampu menjembatani pola kewenangan
yang selama ini terjadi yakni kewenangan pengelolaan yang diberikan melalui
badan pengelola, kewenangan pengelolaan yang diberikan langsung oleh Askes,
dan pengelolaan langsung tanpa menyusun kelembagaan baru.
Model RBF inipun sesuai dengan model monocratique yang diperkenalkan
oleh Max Weber, yaitu kewenangan yang berciri sentralistik, hirarkis dan
berorientasi pada peraturan (rule-driven) dapat digunakan sebagai model ideal
organisasi pemerintahan. Model ini dianggap mampu menciptakan efisiensi dan
efektifitas dalam rangka melayani kepentingan penguasa untuk mempertahankan
kekuasaannya berhadapan dengan beragam kelompok politik, etnis dan geografis.
Result base financing dapat membantu menjembatani perbedaan sistem
yang ada dan meningkatkan kinerja baik dari sisi penawaran dan permintaan dari
sistem kesehatan yang mengupayakan untuk mencapai universal health coverage.
Dalam program RBF, pembayaran dilakukan berdasarkan kuantitas dan kualitas
pelayanan kesehatan yang diberikan setelah verifikasi. Pengalaman dari beberapa
negara di Afrika menunjukkan bahwa RBF dapat memperkuat fungsi sistem
kesehatan, meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas sistem kesehatan. Di banyak
negara, disain program RBF sudah termasuk penghapusan biaya pengguna,
sehingga mengurangi beban keuangan untuk mengakses layanan.
Pada dasarnya secara politis kewenangan dalam pola RBF ini berada di
pusat, namun di sisi lain pola ini tetap menyesuaikan dengan kondisi di lapangan
dan membuka peluang daerah untuk memperbaiki kualitas pelayanan
kesehatannya secara bertahap.

4.5.2. Kebijakan pola paket manfaat


Pada awal pembentukannya, Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda)
merupakan jaminan kesehatan yang bersifat komplementer terutama terhadap
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Artinya, Jamkesda hanya
merupakan pelengkap dari Jamkesmas,karena paket manfaat yang ditawarkan oleh
38

Jamkesda umumnya memiliki kesamaan dengan paket manfaat yang ditawarkan


oleh Jamkesmas, dengan adanya penyesuaian dengan daerah masing-masing.
Paket manfaat yang ditawarkan oleh Jamkesmas dijadikan sebagai acuan bagi
paket manfaat yang ditawarkan oleh Jamkesda, sehingga seringkali Jamkesda
tidak berkembang menjadi sebuah jaminan kesehatan yang komprehensif dan
lengkap untuk daerah.
Pada perkembangannya, pola paket manfaat yang ditawarkan oleh
Jamkesda seringkali mengacu dan bahkan mengimplementasikan secara langsung
pola paket manfaat yang ditawarkan oleh Jamkesmas. Hal ini kemudian menjadi
sebuah ketimpangan karena paket manfaat yang ditawarkan antara Jamkesmas dan
Jamkesda tidak memiliki perbedaan. Perbedaan jaminan kesehatan tersebut
akhirnya hanya berbeda dari segi pembiayaan serta iuran yang dikeluarkan,
sehingga mendorong adanya inefektivitas penawaran dari segi pola paket manfaat.
Pola paket manfaat yang ditawarkan oleh Jamkesmas dan Jamkesda
memiliki kesamaan terutama di layanan kesehatan dasar dan rujukan tingkat 2.
Perbedaan untuk rujukan tingkat 2 terletak pada penawaran yang berbeda-beda
disetiap daerahPerbedaan-perbedaan ini kemudian akan menjadi sebuah
permasalahan apabila Jamkesda disatukan ke dalam JKN, mengingat sifat JKN
yang universal. Perbedaan di rujukan tingkat 2 akan mempengaruhi kontinuitas
sistem pelayanan kesehatan berjenjang karena dengan adanya kekhasan
daerah,sehingga paket manfaat yang ditawarkan akan berbeda antara satu daerah
dengan yang lainnya.Isu portabilitas ini menyangkut cara pelayanan diakses oleh
warga yang bukan penduduk resmi suatu daerah. Berbeda-bedanya cakupan dan
kualitas pelayanan yang diberikan oleh Jamkesda masing-masing daerah, dan
aturan yang mengharuskan pelayanan hanya diberikan pada penduduk resmi
daerah tersebut, menyebabkan sejumlah pihak menganggap jaminan kesehatan
sebaiknya dilakukan secara sentralistik.
Hal ini akan memunculkan hambatan dalam proses integrasi, khususnya
bagi provinsi yang memiliki kemampuan pembiayaan lebih, bahkan melebihi
kemampuan JKN dalam memberikan manfaat. Potensi hambatan ini disebabkan
setiap daerah memiliki kemampuan anggaran yang berbeda. Kesulitan akibat
perbedaan kemampuan antar wilayah ini juga terjadi di Amerika Serikat dalam
menentukan essential benefit package terkait dengan pelaksanaan the affordable
act.Amerika Serikat memberikan fleksibilitas bagi setiap negara bagian dalam
menentukan paket manfaat, namun paket manfaat tersebut harus mencakup 10
essential benefits yang harus ada dalam semua skema pembiayaan tanpa batasan
waktu dan jumlah, antara lain mencakup layanan gawat darurat, rawat inap,
laboratorium, pelayanan maternal, anak, kesehatan jiwa dan NAPZA, ambulatory
care (outpatient), obat dengan resep, layanan preventif, layanan rehabilitatif dan
perawatan gigi dan mata bagi anak.
39

Dalam hal ini, jelas bahwa dalam mengintegrasikan Jamkesda,


PemerintahPusat harus menentukan layanan mendasar yang harus berlaku secara
nasional sehingga perbedaan manfaat yang selama ini terjadi dapat disetarakan.
Disisi lain, peluang terjadinya dinamika politik karena terdapat manfaat JKN yang
tidak sebanding dengan Jamkesda sebelumnya dapat diminimalisir.
Perbedaan lainnya yang terjadi antar daerah dalam pemberian paket
manfaat adalah keberadaan pelayanan promotif dan preventif dalam paket manfaat
Jamkesda. Di sebagian daerah pelayanan promotif dan preventif kurang mendapat
perhatian. Penekanan layanan promotif preventif melalui upaya kesehatan
masyarakat ini yang justru diperlukan dalam paket manfaat untuk menjamin
kesehatan masyarakat sehingga tindakan kuratif dapat dikurangi dan berdampak
pada pembiayaan kesehatan yang lebih efisien. Hal ini sejalan dengan uraian
Gani, (2010), bahwa analisis biaya kesehatan (district health account) yang telah
dilakukan di banyak kabupaten/kota menunjukkan bahwa pembiayaan untuk
program kesehatan masyarakat sangat tidak mencukupi (severelyunderfunded
Atas dasar uraian analisis diatas, tergambar bahwa dalam menentukan pola
paket manfaat khususnya dalam menjembatani antar pola jamkesda, terdapat
beberapa faktor yang harus dijadikan perhatian semua pemangku kepentingan di
tingkat pusat dan harus mampu diterjemahkan dalam sistem yang baru antara lain:
1) kemampuan pola paket manfaat harus mampu menjembatani kesenjangan
antar paket manfaat Jamkesda provinsi yang selama ini berbeda. Dalam hal
ini, pola paket manfaat yang baru harus mampu meredam dampak politis
yang muncul akibat manfaat yang berkurang di beberapa daerah.
2) pola paket manfaat harus mengoptimalkan porsi upaya promotif preventif
untuk menciptakan pembiayaan kesehatan yang lebih efisien.

4.5.3. Kebijakan pola sasaran penerima bantuan iuran


Terdapat tiga pola sasaran dalam implementasi Jamkesda Indonesia, yakni
penggunaan surat keterangan tidak mampu (SKTM) sebagai cara untuk
mengakses layanan Jamkesda; sasaran masyarakat miskin dan berketerbatasan
yang tidak dijamin oleh Jamkesmas; dan penargetan menyeluruh (broad
tragetting) atau universal health coveragedengan penargetan dilakukan terhadap
semua masyarakat di suatu daerah tanpa melihat latar belakang ekonomi dan
sosial.
Hasil analisis menekankan beberapa hal. Pertama, bahwa kemiskinan
bukanlah merupakan hal yang statis dan tidak rentan perubahan. Akurasi,
validitas, dan pembaharuan data kemudian menjadi hal sangat krusial.
Kedua, adalah faktor portabilitas yang seringkali menjadi hambatan di
dalam Jamkesda. Hal ini berpotensi menimbulkan tumpang tindih data jika
Pemerintah tidak mampu mengintegrasikan data antar wilayah secara baik. Peran
40

pemerintah pusat untuk dapat menghimpun data dalam satu payung kelembagaan,
sehingga prinsip portabilitas dalam JKN dapat berjalan secara optimal.
Ketiga, berkaitan dengan iuran yang ditetapkan untuk beberapa daerah,
ternyata bila dikaji lebih jauh memiliki keterikatan antara iuran dengan alokasi
APBD untuk Jamkesda. Terjadi peningkatan alokasi dana Jamkesda di APBD dari
tahun ke tahun pada daerah-daerah yang sepenuhnya menjamin layanan jaminan
sosial dengan paket manfaat melalui APBD. Penggunaan dana talangan
(floatingfund) tanpa kontrol yang ketat terhadap klaim seperti yang terjadi di
NTT, mengakibatkan terjadinya kebocoran pengklaiman dana talangan Jamkesda
yang pada akhirnya menyebabkan timbulnya hutang yang harus ditanggung
sehingga mengganggu APBD dan bahkan pembangunan di sektor lainnya.
Penerima bantuan iuran secara nasional belum tentu sesuai dengan
kebutuhan di tingkat daerah. Hal ini terjadi dalam Obama Care, yaitu pada
kenyataannya pada banyak negara bagian, warga negara yang memerlukan
bantuan ternyata melebihi kriteria yang ditetapkan, ini terjadi khususnya akibat
munculnya kriteria non finansial. Persoalan ini kemudian diatasi Pemerintah AS
dengan memberikan jalan keluar berupa keleluasaan bagi negara bagian untuk
mengajukan perluasan cakupan secara resmi melebihi standar federal dengan
mekanisme yang telah ditentukan secara ketat.
Berdasarkan pengalaman Kenya, dispartitas dalam akses terhadap jaminan
kesehatan juga terjadi antar kelompok masyarakat. Dikarenakan kepesertaannya
yang meliputi skema wajib dan sukarela, terlihat fenomena cakupan kepemilikan
jaminan lebih tinggi pada masyarakat perkotaan (19,7%) dibandingkan dengan
perdesaan (7,4%); lebih tinggi pada masyarakat kaya (26,4%) dibandingkan di
penduduk miskin (1,9%),(Chuma, and Okungu., 2011).
Untuk mengatasi salah sasaran kepesertaan PBI yang berkembang secara
dinamis di daerah, maka perlu pemebrian kewenangan bagi daerah dalam
menetapkan PBI diwilayahnya, namun harus terintegasi ditingkat pusat ( melalui
KTP elektronik ) dan mengacu pada kriteria yang sudah ditetapkan ditingkat
pusat.

4.6. Analisis Perbandingan Karakteristik dan Kelayakan Kebijakan


Jamkesda di 6 Provinsi Terpilih
Mengacu pada hasil penelitian pada bab sebelumnya, diperoleh gambaran
karakteristik dan kelayakan kebijakan Jamkesda pada 6 provinsi. Mengacu pada
gambaran tersebut tidak semua kebijakan sepenuhnya memenuhi karakteristik
yang diperlukan dan tidak semua kebijakan layak sepenuhnya sebagai suatu
kebijakan. Dari sisi action focus,pada umumnya semua provinsi telah dilengkapi
dengan kebijakan dan rencana aksi. Hampir semua Jamkesda provinsi telah
memiliki landasan hukum yang kuat, sehingga memudahkan proses implementasi.
41

Landasan hukum tersebut baik berupa Perda maupun Pergub yang diperlukan
untuk memperkuat proses pengganggaran dan pelaksanaan rencana aksi di
lapangan.

Tabel 4.12. Nilai Karakteristik Kebijakan Jamkesda di beberapa Provinsi

Dimensi D. I. Sumatera Gorontalo NTT DKI Jakarta Kep.


Aceh Barat Riau
Action Focus + + + - + +
(adanya (tidak ada
regulasi dan regulasi
atau rencana Provinsi)
aksi Provinsi)
Future Oriented + + + + + +
(Visi Pemimpin
kedepan)
FactValue - - + - - -
Interdependence (pema keterbatasa (akses (pemahaman (akses
(kesiapan di hama n geografis, SDM dan geograf
lapangan n infrastruktu pemahama Masy) is,
termasuk SDM r fisik n SDM pemaha
Infrastruktur/SD dan dan Masy, man
M/hubungan Masy) keterbatas SDM
antar lembaga) an fisik dan
Masy)
Value Duality + + + - - +
(kesesuaian kebijakan kebijakan
dengan target teknis sudah ada
RPJMD) yang namun terus
diperlukan berubah
belum ada sehingga
tidak sesuai
dgn target
RPJMD
2007-2012,
baru tdp
pada RPJMD
2013-2017
Sumber: Diolah sendiri
42

Dari sisi future oriented, pada umumnya semua Jamkesda yang ada di ke
6 provinsi telah memiliki orientasi kedepan (future oriented) karena pengalaman
mereka menjalankan Jamkesda selama ini. Hal ini dapat dipastikan karena pada
umumnya kebijakan Jamkesda amat terkait erat dengan kepentingan pelaku
kebijakan, khususnya komitmen politik yang harus diwujudkan.
Pada beberapa provinsi, pengalaman untuk menjaga keberlanjutan
Jamkesda membuat mereka melakukan beberapa inovasi. Pemerintah Aceh
dengan bantuan Kreditanststalt fur Wiederaufbau Development Bank atau Bank
Pembangunan Jerman (KfW Development Bank) berupaya membangun beberapa
rumah sakit regional di Aceh. Jika ditinjau dari dimensi future oriented, maka
dapat dipastikan pelaku kebijakan telah menyiapkan strategi pelaksanaan jaminan
kesehatan yang berfokus kedepan.
Pemerintah Sumatera Barat juga menyadari hal yang sama. Gubernur
Sumatera Barat telah mengajukan penggabungan dengan JKN untuk mengurangi
beban pendanaan.Pemerintahkabupaten/kota di Sumatera Barat juga
memprioritaskan jaminan bagi masyarakat miskin. Masyarakat yang mampu
menjaminkan sendiri kesehatannya melalui program Jamkes Mandiri. Hal ini
membuktikan bahwa program Jamkesda dibutuhkan oleh masyarakat serta mampu
dijaga keberlanjutannya tanpa membebani anggaran provinsi dan kabupaten/kota
secara berlebihan.
Provinsi Gorontalo mengadakan Jamkesda dikarenakan banyak penduduk
miskin yang belum memperoleh Jamkesmas. Hal serupa juga dialami oleh
pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang
pada akhirnya menyelenggarakan Jamkesda untuk mengurangi tidak tertutupinya
masyarakat miskin yang tercakup oleh Jamkesmas.
Di DKI Jakarta, kebijakan Jamkesda Jakarta Sehat merupakan salah satu
upaya yang pertama diajukan oleh Gubernur dengan tujuan agar Jakarta sebagai
kota besar memiliki daya saing internasional, yang diawali dengan SDM yang
lebih berkualitas. Hal ini terkait dengan upaya menyiapkan Jakarta menjelang
berlakunya pasar bebas Asia Pasifik. Visi pemimpin daerah ini juga yang
mendasari Provinsi Kepulauan Riau untuk mengaplikasikan dan mendorong
Jamkesda untuk meningkatkan kualitas kesehatan penduduk yang tersebar luas di
berbagai pelosok kepulauan, yang tidak dapat ditutupi oleh Jamkesmas.
Meskipun kebijakan telah memiliki visi kedepan dan didukung landasan
hukum yang kuat untuk beraksi, hampir semua provinsi belum memberikan
perhatian optimal terhadap dimensi fact value interdependence. Setiap rencana
aksi yang dibangun sangat bergantung pada kenyataan dilapangan, sejauh mana
kepuasan masyarakat dapat terpenuhi. Tidak semata-mata persoalan infrastruktur
dan sumber daya lainnya yang dimiliki, melainkan sejauh mana kebijakan dapat
didayagunakan. Pelaksanaan rencana aksi seringkali terhambat karena
43

ketidaksiapan masyarakat, keterbatasan dari sisi SDM, maupun kemampuan


fasilitas kesehatan yang ada. Masalah ketidaksiapan di lapangan ini harus segera
diatasi untuk menghindari dilema antara kesamaan iuran secara nasional dan
kesenjangan antar wilayah dalam hal layanan kesehatan yang diperoleh.
Dalam hal ini, Provinsi Gorontalo merupakan salah satu provinsi yang
terbilang siap, meskipun fasilitas yang ada tidak sepenuhnya memenuhi standar
namun dari sisi pemahaman SDM maupun penerimaan masyarakat serta
jangkauan terhadap akses kesehatan dapat dipenuhi. Hal ini dapat dimungkinkan
karena secara geografis dan kependudukan, Provinsi Gorontalo memiliki wilayah
yang relatif tidak luas, berakses cukup baik. Koordinasi antar pemerintah provinsi
dan kabupaten/kota dan masyarakat berjalan sangat baik. Provinsi lain justru
menghadapi kenyataan luasnya wilayah dan keterbatasan akses geografis
(Kepulauan Riau dan Nusa Tenggara Timur), keterbatasan infrastruktur fisik
(Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Barat), serta keterbatasan pemahaman
SDM, dan penerimaan masyarakat (DKI Jakarta, Aceh, Nusa Tenggara Timur
dan Kepulauan Riau).
Dari sisi value duality, perlu dilihat sejauh mana kebijakan memiliki nilai
terhadap pencapaian rencana pembangunan daerah secara kesemuaan, khususnya
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Kebijakan Jamkesda
yang ada di Sumatera Barat, Aceh, Gorontalo maupun Kepulauan Riau pada
dasarnya telah sesuai dengan rencana dan atau mampu memenuhi target capaian
RPJMD.
Pelaksanaan Jamkesda Provinsi NTT belum memenuhi ketersesuaian
dengan RPJMD, karena kebijakan teknis yang diperlukan untuk mengaturnya
secara terstruktur belum terwujud. Untuk DKI Jakarta, kebijakan sudah ada,
namun terus berubah sehingga tidak sesuai dengan target RPJMD 2008-2013 dan
berdampak pada anggaran, Jamkesda terbaru yakni KJS sendiri baru terdapat pada
RPJMD 2013-2017.
Dalam dimensi kelayakan kebijakan, perlu dipahami bahwa suatu kebijakan
Jamkesda dapat dilihat kelayakannya dari sisi kriteria: sosial, poltik, ekonomi,
keuangan, administrasi maupun teknologi. Dalam hal ini, keenam provinsi
memiliki kelayakan yang berbeda. Provinsi Aceh, Sumbar, Gorontalo, DKI
Jakarta, dan Kepulauan Riau memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing

4.7. Perbandingan Sistem Jaminan Kesehatan Beberapa Negara


4.7.1. Perbandingan Jaminan Kesehatan Amerika Serikat dengan Indonesia

Formulasi universal health coverage di Indonesia sebenarnya dilakukan


jauh lebih dulu dari Amerika Serikat yakni melalui UU SJSN.Namun, kesiapan
Amerika Serikat dalam mengimplementasikan Universal Health Coverage dalam
44

sistem kesehatannya pada dasarnya lebih siap dan lebih komprehensif. Kesiapan
bukan hanya dari sisi sistem fasyankes maupun sistem pembiayaannya tetapi juga
kesiapan mereka dalam menyediakan sistem promotif preventif yang melibatkan
peran serta masyarakat secara utuh.Demikian pula pelibatan penyedia kerja
kedalam sistem pembiayaan.
Begitu pula untuk kesiapan anggaran, sistem Obama Care meskipun
melibatkan pembiayaan negara yang sangat besar, namun ke efektifan
penggunaannya pun sangat di pertimbangkan, terutama dalam hal keakurasian
pembiayaan dan penyiapan industri asuransi yang kompetitif, sehingga pada
akhirnya benefit yang diperoleh masyarakat akan semakin besar. Hal ini
memberikan gambaran bahwa penjaminan kesehatan secara universal (universal
health coverage) dapat terwujud jika disisi lain pola good governance diterapkan
secara menyeluruh.Dengan menerapkan prinsip good governance dalam
pengelolaan layanan kesehatan,beban anggaran negara yang besar akan
memperoleh kompensasi benefit yang tinggi berupa terciptanya masyarakat yang
benar-benar sehat dan berproduktivitas tinggi, sehingga berdampak positif
terhadap pembangunan suatu negara. Selain tata kelola yang baik, Obama Care
sangat memperhatikan persoalan desentralisasi kesehatan, dalam hal ini Indonesia
juga menghadapi hal serupa dalam konteks Jamkesda yang saat ini sudah berjalan
di berbagai daerah dengan sistem masing-masing.
Dalam hal ini pertimbangan desentralisasi termasuk dalam hal penentuan
pola organisasi, paket manfaat maupun cakupan peserta patut diterapkan di dalam
penerapan universal health coverage di Indonesia kedepan sehingga manfaat yang
diperoleh masyarakat akan maksimal dan berkelanjutan.
Dalam konteks pola pengelolaan manajemen organisasi, terdapat 2 hal yang
harus dicatat:
1) Amerika Serikat memindahkan kewenangan pengelolaan pembiayaan ke
pusat berdasarkan keinginan daerah, hal ini serupa dengan upaya integrasi
Jamkesda kedalam JKN di Indonesia
2) pengelolaan mengacu pada sistem bursa asuransi, bukan dikelola langsung
oleh pusat, hal ini berbeda karena Indonesia mengelola secara langsung
melalui lembaga BPJS.
Dalam konteks paket manfaat,pemerintah federal Amerika Serikat
memberikan fleksibilitas bagi setiap negara bagian ataupun asuransi penyedia
jaminan kesehatan dalam menentukan paket manfaat namun paket manfaat
tersebut harus mencakup 10 essential benefits yang harus ada dalam semua skema
pembiayaan tanpa batasan waktu dan jumlah.
Dalam konteks pola penerima bantuan iuran, penentuan penerima bantuan
iuran dalam obamacare selaindidasarkan pada patokan mendekati garis
kemiskinan federal, namun tetap memperhitungkan karakteristik daerah sehingga
45

jumlahnya dapat melebihi standar nasional tergantung pada kondisi dan kebutuhan
masing-masing.Karakteristik daerah inilah yang perlu diperhatikan dalam
integrasi Jamkesda dalam JKN.

4.7.2. Perbandingan sistem jaminan kesehatan Filipina dengan Indonesia


Formulasi UHC di Filipina dimulai sejak tahun 1994, kurang lebih sepuluh
tahun lebih cepat dibandingkan dengan di Indonesia, dengan melakukan reformasi
awal di tahun 2005-2006 untuk mempersiapkan reformasi pada tahun 2014.
Implementasi yang lebih cepat mendorong sistem kesehatan Filipina yang
dirasakan lebih maju bila dibandingkan dengan Indonesia. Dari segi keuangan,
Filipina menganggarkan 9 miliar peso atau setara dengan 2, 4 trilyun rupiah
untuk anggaran asuransi ini.
Adanya desentralisasi sistem kesehatan di Filipina cukup memiliki
kemiripan dengan sistem Jamkesda di Indonesia, meskipun pada dasarnya lebih
terintegrasi dan terformulasikan.

Tabel. 4.13. Perbandingan Pola JKN Saat ini dengan


Jaminan Kesehatan di AS dan Phillipina
indikator Obama Care AS NHIP Phillipina JKN saat ini

Manajemen Dana dikumpulkan di Dana dikumpulkan Dikelola langsung


Pengelolaan Pusat, dikelola tidak oleh pusat oleh pusat
langsung oleh pusat Philhealth BPJS Kesehatan
bursa asuransi
Paket Fleksibel namun tdp 10 Fleksibel namun Paket manfaat
Manfaat Paket Manfaat utama yg terdapat paket sesuai dengan
wajib dipenuhi manfaat wajib yang yang diatur UU
harus dipenuhi sesuai
UU
Cakupan Mengacu garis kemiskinan Penduduk miskin dan Mengacu pada
PBI federal, namun mendekati garis PBI Nasional
memperhitungkan miskin. Subsidi
karakteristik daerah, silang bagi
jumlahnya dapat melebihi masyarakat tidak
standar nasional tergantung mampu.
pada kondisi dan
kebutuhan masing-masing.
(Sumber: Diolah sendiri dari berbagai sumber)
46

Adanya decision space antara pemerintah pusat dan daerah Filipina


mendorong terjadinya formulasi sistem daerah yang menyesuaikan dengan
kebutuhan (terkait dengan pola pembiayaan, pola subsidi silang, dan beberapa
hal lainnya. Hal ini diatur di dalam Undang-undang kesehatan Republic Act
No.7875 yang juga secara rinci mengatur sistem pelayanan asuransi kesehatan
hingga kepada paket manfaat yang ditawarkan, sehingga secara undang-undang
Republic Act No.7875 lebih komprehensif, dibandingkan dengan Indonesia yang
memiliki UU SJSN 2004 dan UU BPJS 2011.
Paket manfaat yang ditawarkan oleh Pemerintah Filipina memberikan
fleksibilitas bagi setiap daerah ataupun asuransi penyedia jaminan kesehatan
dalam menentukan paket manfaat, namun paket manfaat tersebut harus mencakup
paket manfaat wajib yang ada dalam Republic Act No. 7875.
Berkaca pada perbandingan pola yang berjalan di kedua negara diatas
dengan Indonesia, terdapat beberapa hal yang dapat diperhatikan:
1. Pola yang berjalan selama ini di Amerika Serikat melalui Obama Care
maupun Jaminan Kesehatan Phillipina juga mengalami proses sentralisasi
sebagaimana halnya Indonesia dengan mengintegrasikan sistem yang
berjalan. Pusat memiliki kewenangan dalam pengendalian sistem secara
optimal, dan Indonesia dalam hal ini juga menerapkan hal serupa.
2. Disisi lain, meskipun terjadi sentralisasi dalam jaminan pembiayaan
kesehatan justru kedua negara tetap memberikan keleluasaan bagi daerah
agar secara dinamis dapat memasukan kepentingannya dalam sistem
jaminan nasional. Hal ini yang perlu menjadi catatan penting bagi oleh
Indonesia, karena pola JKN dirasakan belum memberikan cukup ruang bagi
daerah untuk berperan serta. Untuk itu, proses integrasi Jamkesda dalam
JKN nantinya perlu untuk memberikan decision space bagi daerah secara
lebih nyata.

4.8. Formulasi Kebijakan Integrasi Jamkesda kedalam JKN


Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ditetapkan berlaku dan berjalan sejak
1 Januari 2014, namun hal ini bersifat gradual dan akan berjalan hingga mencapai
UHC di tahun 2019. Dalam tahapan tersebut masih terdapat tantangan yang harus
dijalani salahsatunya adalah mengintegrasikan berbagai kebijakan Jamkesda yang
saat ini telah berjalan hampir di semua provinsi. Kebijakan sentralisasi
pembiayaan kesehatan ini karena juga yang dilakukan di banyak negara lain, saat
ini menghadapi tantangan tersendiri untuk menjawab kebutuhan daerah yang
seringkali menjadi tuntutan dalam proses politik sentralisasi dihadapkan pada
kebijakan otonomi daerah secara umum.
47

4.8.1. Dasar Penyusunan Skenario Formulasi Kebijakan


Dalam merancang formulasi kebijakan integrasi berdasarkan hasil
analisis yang telah diuraikan diatas terhadap pola manajemen pembiayaan, pola
paket manfaat dan pola cakupan penerima bantuan iuran dipengaruhi oleh
beberapa kondisi sebagai berikut:

1. Terdapat pergeseran kewenangan kebijakan, yaitu kebijakan pembiayaan


kesehatan yang selama ini terdesentralisasi di daerah, baik di
kabupaten/kota maupun provinsi, kembali menjadi tersentralisasi melalui
program Jaminan Kesehatan Nasional. Dalam konteks ini isu pergeseran
kewenangan menjadi krusial dan harus menjadi perhatian. Faktor politis di
daerah menjadi tantangan tersendiri yang harus dapat diredam,karena
dengan manajemen yang terpusat, akan terdapat kewenangan yang hilang
dan faktor kepentingan yang harus segera diatasi.
2. Terdapat kesenjangan (gap) kondisi antar wilayah yang memiliki
kesejahteraan berbeda sehingga dapat menimbulkan konflik tertentu. Hal
ini terkait dengan kemampuan pola paket manfaat yang harus mampu
menjembatani perbedaan gap antar paket manfaat Jamkesda provinsi yang
selama ini berbeda. Model pola paket manfaat yang baru harus meredam
dampak politis yang muncul akibat manfaat yang berkurang di beberapa
daerah. Model pola paket manfaat harus mengoptimalkan porsi upaya
promotif preventif untuk menciptakan pembiayaan kesehatan yang lebih
efisien di daerah, setidaknya lebih efisien daripada yang selama ini terjadi.
3. Data peserta PBI di tingkat pusat sebagian diantaranya belum sesuai
dengan kenyataan di daerah.Hal ini timbul karena dinamika kondisi daerah
yang berbeda-beda dan karena tidak terintegrasinya data sehingga
menimbulkan tumpang tindih pemberian bantuan dan pada akhirnya
persoalan-persoalan ini menimbulkan pembiayaan yang tidak efisien. Oleh
karenanya, dalam model integrasi JKN diperlukan integrasi data terpusat
dan kemampuan pusat memberikan peluang bagi dinamika yang terjadi di
daerah termasuk penambahan cakupan penerima bantuan.

Mengacu pada kondisi nyata diatas maka perlu disusun suatu model dengan
mengacu pada nilai-nilai karakteristik kebijakan sebagai berikut:
1. Berfokus pada rencana aksi yang jelas, kuat dan berkelanjutan (action
focus).
2. Memiliki komitmen yang sama dan berorientasi kedepan (future oriented).
3. Mengacu pada kondisi faktual di lapangan serta berfokus pada kepuasan
daerah dan masyarakat (fact value interdependence).
4. Mengacu pada rencana pembangunan secara kesemuaan (value duality)
48

4.8.2. Formulasi Kebijakan Sentralisasi Dinamis

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, perlu disusun suatu formulasi yang


mampu menjawab kebutuhan integrasi Jamkesda kedalam JKN. Formulasi
kebijakan yang selama ini telah diarahkan pada sentralisasi pembiayaan kesehatan
melalui program JKN harus diimbangi dengan memberikan celah ruang
fleksibilitas bagi daerah untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan secara
dinamis. Formulasi ini disebut Formulasi Kebijakan Integrasi Sentralisasi
Dinamis.
Sentralisasi yang dimaksud dalam model kebijakan ini adalah upaya
integrasi kebijakan Jamkesda kedalam JKN yang dilakukan dengan mengalihkan
tanggung jawab daerah dalam hal perencanaan, pembiayaan, dan manajemen
jaminan kesehatan publik dari pemerintah daerah ke unit Pemerintah Pusat.
Sementara yang dimaksud dengan dinamis dalam kebijakan ini adalah
kemampuan kebijakan untuk tetap memberikan ruang fleksibilitas bagi daerah
untuk turut serta dalam pengambilan keputusan terkait dengan JKN.
Konsep sentralisasi dinamis ini adalah memberikan ruang fleksibilitas
yang lebih besar bagi daerah dalam sentralisasi kebijakan integrasi jamkesda.
Secara garis besar, inti model ini adalah :
1. Pengelolaan, pengendaliandan pembiayaan dilakukan terpusat namun
indikator pengelolaan, pengendalian dan pembiayaan disepakati terlebih
dahulu dengan daerah yang berintegrasi.
2. Paket manfaat dapat disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan
mengoptimalkan manfaat promotif preventif.
3. Penentuan penerima bantuan dan tarif secara dinamis dan melibatkan
daerah namun tetap mengacu pada standar nasional dan regulasi lainnya
yang ada.

Model sentralisasi yang dinamis dan partisipatif ini sejalan dengan


pendapat Anderson (2006) dalam pemilihan kebijakan yang telah diuraikan di
kerangka pemikiran,yang pendapatnya yang cenderung partisipatif mengacu pada
dinamika pemangku kepentingan di lapangan. Menurutnya bahwa kriteria yang
harus dipertimbangkan dalam memilih kebijakan adalah mengacu pada : 1) nilai-
nilai yang dianut baik oleh organisasi, profesi, individu, kebijakan maupun
ideologi; 2) afiliasi partai politik; 3) kepentingan konstituen; 4) opini publik;
5) penghormatan terhadap pihak lain; serta 6) aturan kebijakan. Dengan lebih
memperhatikan kepentingan di daerah, namun tetap mengacu pada standar kriteria
nasional secara ketat maka semua prasyarat pemilihan kebijakan menurut
Anderson tersebut sebenarnya telah terpenuhi.
49

Jika dikaitkan dengan pendapat William N Dunn maka model integrasi ini
sudah memiliki unsur action focus, future oriented dan value duality.
Gambar 4.11. Formulasi Kebijakan Sentralisasi Dinamis
Dalam Integrasi Jamkesda ke JKN

Manajemen Standar Persyaratan


pembiayaan Paket Ketentuan PBI
J
JKN Manfaat Regionalisasi
A JKN Pola Iuran
M
J
K
Manajemen RBF Keleluasaan Usulan Peserta PBI K
E (dibayar dan kelola untuk Perluasan Dari Daerah
berdasar indikator Manfaat oleh Verifikasi Pusat N
S
yang disepakati) Daerah
D
A
: Sentralisasi dilakukan sesuai amanat UU JKN

: Sentralisasi tetap memberi ruang fleksibilitas bagi daerah

Secara garis besar, penerapan model Sentralisasi Dinamis berdasarkan


asumsi daerah berintegrasi secara penuh memerlukan intervensi yang
dimunculkan melalui penyusunan suatu skenario program terapan yang
mengintervensi setidaknya beberapa hal pokok :
1. Indikator partisipatif. Pemerintah pusat menyusun manajemen pengelolaan,
pengendalian dan pembiayaan dengan indikator pengelolaan yang telah
disepakati terlebih dahulu dengan daerah yang berintegrasi.
2. Paket manfaat fleksibel, Paket manfaat dasar wajib menggunakan SPM
nasional dengan standar manfaat dasar namun dapat ditambah sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan daerah dan mengoptimalkan manfaat promotif
preventif.Dalam hal ini Pemerintah memberi ruang bagi karakteristik
daerah, misal : daerah gugus kepulauan, tertinggal, perbatasan , daerah
industri dll.
50

3. Cakupan PBI optimal.Penentuan PBI dan tarif dilakukan secara dinamis,


dimana pusat dapat memberikan keleluasaan bagi daerah untuk
mengusulkan permintaan perluasan dalam jumlah yang lebih besar diluar
jumlah PBI yang dijamin oleh pusat dengan mengacu pada angka yang
ditetapkan secara nasional. Hal ini dimungkinkan sesuai dengan
kondisi/kemampuan daerah. Disisi lain daerah mengidentifikasi PBI sesuai
kriteria pusat (bottom up) untuk kemudian di verifikasi kembali oleh pusat
untuk menghindari moral hazard.

Tabel 4.14. Skema Perbandingan Pola JKN Saat ini dan


Model Sentralisasi Dinamis
(Sumber: Diolah Sendiri)
JKN SAAT INI SENTRALISASI DINAMIS

Manajemen Pembiayaan
Pembiayaan PBI sepenuhnya oleh Dimungkinkan sumber pembiayaan
Pusat daerah atau cost sharing pusat-daerah
sejauh masuk kedalam sistem JKN dan
Kondisi fiskal daerah mampu.
Sesuai UU pusat membiayai semua
peserta PBI, namun bila fiskal tidak
cukup, tentukan pagu di tiap daerah
sesuai anggaran , daerah penuhi
kekurangannya.
Secara bertahap pusat penuhi dgn tahapan
prioritas daerah yg kapasitas fiskal rendah
termasuk DTPK
Iuran secara nasional sama, namun Pola Iuran disusun dengan Pola Regional
faskes di daerah rural lebih minim seperti Pola Tarif Regional dalam
dibanding perkotaan (daerah subsidi INA-CBGs (5 regional)
kota) berdampak pada kesenjangan
layanan yang diperoleh, contoh
transport rujukan sdh dibiayai BPJS
tetapi akomodasi tidak, keluarga
kehilangan produktivitas pendapatan.
Paket Manfaat
Paket Manfaat secara nasional sama pusat menentukan SPM dgn manfaat
dasar, daerah boleh melebihi manfaat yg
ditetapkan sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan daerah.
51

Dalam hal ini Pemerintah memberi ruang


bagi karakteristik daerah , misal : daerah
gugus kepulauan, tertinggal, perbatasan ,
daerah industri dll.
Cakupan PBI
Pemerintah pusat hanya menanggung Boleh diperluas, daerah mengajukan
miskin dan tidak mampu permintaan perluasan diluar miskin dan
tidak mampu, sesuai kondisi/kemampuan
daerah
Data ditetapkan pusat (top-down, by Daerah mengidentifikasi PBI sesuai
name-by address) menggunakan kriteria Pusat (Bottom-up, by name by
survey BPS +/- 2,5jt jiwa terdeteksi address) akurat dan efisien.
tak sesuai Pusat menentukan kriteria mampu/tidak
mampu dan memverifikasi data daerah
(menghindari moral hazard)

Hal-hal pokok diatas menjadi simpul utama model sentralisasi dinamis


dalam integrasi Jamkesda kedalam JKN. Simpul tersebut memiliki ruang
fleksibilitas yang lebih nyata bagi daerah jika dibandingkan dengan model JKN
saat ini. Dalam pola JKN saat ini, manajemen pembiayaan khususnya dalam hal
Pembiayaan PBI,dilakukan sepenuhnya oleh Pusat dengan iuran yang sama
secara nasional sementara kondisi fasilitas kesehatan berbeda antarwilayah. Hal
berdampak pada kesenjangan layanan yang diperoleh. Disisi lain justru paket
manfaat secara nasional sama, hal ini belum tentu sesuai dengan kebutuhan
daerah. Dari sisi cakupan PBI, saat ini JKN hanya menanggung penduduk miskin
dan tidak mampu dengan menggunakan data yang terpusat, hal ini menimbulkan
ketidakakuratan data di lapangan.
Selain hal pokok tersebut diatas, juga perlu ditekankan peran pusat dalam
langkah lanjutannya antara lain:
1. Sosialisasi dan koordinasi: Sosialisasi dan koordinasi difasilitasi oleh pusat
dengan melibatkan daerah. Sosialisasi dan koordinasi dilakukan dalam hal
kendali mutu, biaya dan pencapaian universal health coverage.
2. Implementasi dan verifikasi. Daerah terlibat dalam proses monitoring dan
evaluasi sesuai indikator yang sudah disepakati bersama.
3. Dalam redisain kebijakan, daerah berhak memberikan usulan perubahan
kebijakan dengan mengacu pada standar regulasi nasional.
Formulasi Kebijakan Sentralisasi Dinamis ini dikembangkan dari model
desentralisasi terintegrasi (Mukti & Moertjahjo, 200 Model Desentralisasi
Terintegrasi (Mukti & Moertjahjo, 2008). Model desentralisasi terintegrasi saat
ini terkendala dengan amanat Undang-Undang SJSN dan UU BPJS yang telah
52

menempatkan pengelolaan secara penuh di tingkat pusat, sehingga model tersebut


tidak dapat dilaksanakan.

Gambar 4.12 Skema Perbandingan Model Sentralisasi Dinamis dan


Model Desentralisasi Terintegrasi
Skenario tahapan
integrasi JKN
action plan

asumsi: daerah wajib


Model desentralisasi terintegrasi dalam Model sentralisasi
terintegrasi JKN dinamis

Penentuan pola
Pengelolaandaerah integrasi Jamkesda Pengelolaan pusat secara
secara terintegrasi provinsi partisipatif

Membentuk institusi indikator partisipatif: indikator


pengelola Pola manajemen pengelolaan disepakati oleh
daerahberkoordinasi daerah
pusat

Paket manfaat daerah Paket manfaat fleksibel:


mengacu pada standar paket manfaat wajib +
nasional+paket manfaat Pola paket manfaat
kebutuhan daerah + Promotif
wajib+promotif preventif preventif

diluar PBI/ iuran yang Cakupan PBI optimal: daerah


dijamin pusat, daerah Pola PBI dapat mengusulkan diatas
menambah sendiri jaminan PBI/iuran pusat
mengacu standar nasional

Daerah aktif bersama pusat Sosialisasi dan fasilitasi pusat melibatkan


koordinasi daerah

Badan pengelola daerah dan Implementasi dan Terpusat melalui koordinasi


menunjuk koordinasi peserta verifikasi BPJS

Pusat selaku risk equalization monitoring dan melibatkan penilaian daerah,


terlibat penuh pengawasan, evaluasi dan pusat mengawasi fraud
mencegah fraud melibatkan daerah
Redesain Kebijakan
Pusat terlibat sesuai kewenangan Daerah berhak memberikan
usulan

Seluruh Jamkesda
terintegrasi dalam
sistem JKN
53

4.8.3. Agenda Setting Penerapan Model Integrasi Sentralisasi Dinamis

Pola sentralisasi dinamis ini dapat diterapkan menjadi agenda setting


pengintegrasian Jamkesda kedalam JKN yang diharapkan dapat tuntas pada tahun
2019. Sepanjang periode 2014-2019, JKN diskenariokan untuk mengarah pada
pemberian ruang bagi daerah untuk menyesuaikan secara dinamis. Dari sisi
manajemen, JKN diharapkan akan selalu memberikan decision space bagi daerah
sesuai di porsi dan karakteristik daerah yang berbeda satu dengan yang lain.

Gambar 4.13 Skema time frame integrasi Jamkesda dalam JKN

Jamkesda di Seluruh Seluruh


beberapa daerah Seluruh Jamkesda di Jamkesda di
secara sukarela Jamkesda di daerah daerah Secara Nasional
integrasi ke JKN DTPK kapasitas kapasitas fiskal seluruh
dengan APBD terintegrasi fiskal rendah tinggi dan Jamkesda sudah
& sedang sangat tinggi terintegrasi &
tercapai UHC
terintegrasi terintegrasi

2014 2015 2016 2017 2018 2019

Paket manfaat jamkesda sesuai dengan sistem jkn , tetapi daerah diberi
ruang untuk menambah
Kajian paket manfaat
dan iuran PBI
Ditetapkan iuran PBI dengan regionalisasi dan Iuran PBI yang berbasis
Keluarga

Revisi dan sinkronisasi pelbagai peraturan secara berjenjang & bertahap

Jika diasumsikan seluruh tahapan dalam skema time frame dipenuhi sesuai
tenggat waktu maka agenda setting yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:
Tahun 2014-2015
Dari sisi kepesertaan, Jamkesda tetap berperan untuk memenuhi kepesertaan
diluar yang belum tercakup dalam kriteria PBI pemerintah pusat.
Dari sisi paket manfaat, Jamkesda tetap akan bervariasi sesuai dengan
kebijakan daerah dan kemampuan faskes yang ada, disisi lain daerah
diharapkan terus mempersiapkan faskesnya mengacu pada standar JKN.
54

Dari sisi pengelolaan, sistem manajemen diharapkan mulai disinkronisasi


antara pengelolaan Jamkesda dan JKN termasuk dalam hal INA-CBGs dan
Kapitasi.
Dari sisi pengelolaan, mulai dipersiapkan indikator kinerja/monitoring evaluasi
JKN yang bersifat partisipatif/yang disepakati oleh daerah.
Tahun 2016-2017
Dari sisi kepesertaan pada tahun 2016 PBI hanya dijalankan pada masyarakat
miskin di daerah DTPK, namun pada tahun 2017, PBI sudah mencakup semua
masyarakat miskin di daerah dengan indeks kapasitas fiskal rendah.
Dari sisi kepesertaan, pada periode ini diharapkan daerah pun sudah mulai
melakukan mengusulkan besaran jaminan dan penambahan jumlah PBI di
daerahnya diatas standar jaminan dan jumlah PBI nasional.
Dari sisi paket manfaat, dalam agenda setting diasumsikan pada tahun 2016
semua perbedaan paket manfaat yang terjadi dapat diatasi oleh JKN dan
tambahan kebutuhan daerah dapat dipenuhi.
Dari sisi pengelolaan, pada tahun 2016-2017, semua sistem pengelolaan
Jamkesda telah sinkron dengan sistem pengelolaan pusat.
Dari sisi pengelolaan, pada tahun 2016-2017, indikator kinerja/monitoring
evaluasi JKN yang bersifat partisipatif/yang disepakati oleh daerah sudah
mulai dapat diterapkan.
Untuk DTPK, Pada tahun 2016-2017, Integrasi mulai dilakukan pada daerah-
daerah terpencil, perbatasan dankepulauan dengan kapasitas fiskal rendah dan
sedang.
Tahun 2018
Dari sisi kepesertaan, pada tahun 2018 pengintegrasian sudah mencakup
masyarakat miskin di daerah dengan indeks kapasitas fiskal tinggi
Dari sisi kepesertaan, pada tahun 2018 ini diharapkan daerah sepenuhnya dapat
mengusulkan besaran jaminan dan jumlah PBI di daerahnya diatas standar
jaminan dan jumlah PBI nasional
Dari sisi paket manfaat, pada tahun 2018 ini paket manfaat wajib sudah dapat
dipenuhi daerah. Disisi lain tambahan manfaat daerah dan upaya promotif
preventif sudah dapat terpenuhi dalam paket manfaat.
Dari sisi pengelolaan, pada tahun 2018, indikator kinerja/monitoring evaluasi
JKN yang bersifat partisipatif/yang disepakati oleh daerah sudah diterapkan
sepenuhnya.
Untuk DTPK, pada tahun 2018 Integrasi Jamkesda di daerah-daerah kapasitas
fiskal tinggi dan sangat tinggi
55

Tahun 2019
Dari sisi kepesertaan, tahun 2019 diharapkan kepesertaan PBI sudah
sepenuhnya terpenuhi sesuai dengan kriteria nasional.
Dari sisi paket manfaat, paket manfaat wajib sudah sepenuhnya dapat dipenuhi
daerah. Disisi lain tambahan manfaat daerah dan upaya promotif preventif
sudah dapat terpenuhi dalam paket manfaat JKN yang diterima daerah.
Dari sisi pengelolaan, semua Jamkesda telah terintegrasi secara penuh dan
terpusat dalam kerangka JKN dengan tetap memberikan ruang bagi daerah
dalam mengembangkan peran check and balances.

4.10.6 Skenario Penerapan Model Integrasi Sentralisasi Dinamis

Meksipun agenda setting telah ditetapkan, penerapan kebijakan harus


dilihat secara obyektif dalam berbagai kondisi yang diasumsikan dapat
terjadi,oleh karena itu dapat disusun beberapascenario planning pelaksanaan
kebijakan integrasi sebagai berikut:

Skenario I :
Pemerintah Pusat secara penuh mampu membiayai seluruh kebutuhan JKN
secara langsung

Asumsi:Integrasi Jamkesda dilakukan serentak(seluruh tahapan time frame


integrasi diasumsikan terpenuhi dalam medio 2015-2016).

Pada skenario ini pada tahun 2016 seluruh daerah harus sudah menyesuaikan dan
memenuhi kriteria/standar dasar yang ditetapkan pusat dengan tetap memberikan
ruang bagi kebutuhan daerah dan memperhatikan kondisi faktual di
lapangan.Uraian tahapan sebagai berikut:

Dari sisi pengelolaan pembiayaan,bila integrasi Jamkesda dilakukan secara


serentak, pemerintah Pusat membiayai langsung PBI seluruh daerah pada
tahun 2015.
Dari sisi iuran, Pemerintah menetapkan iuran selambatnya-lambatnya tahun
2016 berdasarkan pola pembagian regionalisasi.
Dari sisi paket manfaat, Daerah harus segera mengikuti manfaat dasar yang
ditentukan pusat, daerah boleh melebihi manfaat yg ditetapkan sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan daerah. Dalam hal ini Pemerintah pusat harus
memberi dukungan bantuan pemerataan akses dan memberikan ruang bagi
daerah untuk memenuhi kebutuhan faskes agar sesuai standar nasional namun
tetap memperhatikan karakteristik daerah. Seluruh manfaat dasar dan
kebutuhan faskes terpenuhi 2016.
56

Dari sisi cakupan PBI,Daerahtetap diberikan ruang untuk memenuhi


kepesertaan diluar yang belum tercakup dalam kriteria PBI pemerintah pusat.
Pendataan tetap dilakukan secara bottom up, pusat sebagai verifikator.

Skenario II
Pemerintah Pusat mampu membiayai seluruh kebutuhan JKN secara bertahap
Asumsi:Integrasi dilakukan dengan tahapan prioritas. (Seluruh tahapan time frame
diasumsikan terpenuhi sesuai rencana dalam medio 2015-2019)

Pada skenario ini Pusat diasumsikan memiliki kemampuan pembiayaan PBI


namun dicapai secara bertahap. Oleh karenanya integrasi Jamkesda diprioritaskan
berdasarkan tahapan : DTPK (2015-2016), daerah dengan kapasitas Fiskal
rendah & sedang (2017), Kapasitas Fiskal tinggi & sangat tinggi (2018). Pada
tahun 2019 seluruh daerah harus sudah terintegrasi dan telah memenuhi
kriteria/standar dasar yang ditetapkan pusat dengan tetap memberikan ruang bagi
kebutuhan daerah dan memperhatikan kondisi faktual di lapangan.Uraian tahapan
sebagai berikut:

Dari sisi pengelolaan pembiayaan, bila integrasi Jamkesda dilakukan secara


bertahap, pemerintah Pusat membiayai PBI secara bertahap seluruh daerah
pada tahun 2015-2019. Cost sharing dapat dilakukan terlebih dahulu namun
pada 2019 seluruh pembiayaan akan tetap dibiayai sepenuhnya oleh pusat.
Dari sisi iuran, Pemerintah menetapkan iuran berdasarkan pola pembagian
regionalisasi dan berlaku bertahap bagi daerah yang sudah terintegrasi
selambatnya-lambatnya tahun 2019 sesuai tahapan time frame.
Dari sisi paket manfaat, Daerah yang sudah terintegrasi sesuai tahapan
diberikan waktu untuk dapat mengikuti manfaat dasar yang ditentukan pusat,
daerah boleh melebihi manfaat yg ditetapkan sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan daerah. Dalam hal ini Pemerintah pusat memberi dukungan
bantuan pemerataan akses dan memberikan ruang bagi daerah untuk memenuhi
kebutuhan faskes agar sesuai standar nasional namun tetap memperhatikan
karakteristik daerah. Seluruh manfaat dasar dan kebutuhan faskesdaerah secara
bertahap harus terpenuhi antara 2015-2019.
Dari sisi cakupan PBI, Daerah yang sudah terintegrasi sesuai tahapan
diberikan ruang untuk memenuhi kepesertaan diluar yang belum tercakup
dalam kriteria PBI pemerintah pusat. Pendataan tetap dilakukan secara bottom
up, pusat sebagai verifikator.
57

Skenario III
Pemerintah Pusat tidak memiliki kemampuan untuk sepenuhnya membiayai
masyarakat miskin dan tidak mampu dalam JKN

Asumsi:Integrasi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan daerah dalam


pembiayaan. (Seluruh tahapan time frame diasumsikan terpenuhi sesuai rencana
dalam medio 2015-2019)

Pada skenario ini, Pemerintah pusat dianggap tidak memiliki kemampuan untuk
membiayai sepenuhnya PBI sehingga diperlukan keterlibatan daerah dalam
pembiayaan. Pada skenario ini integrasi Jamkesda tetap diprioritaskan
berdasarkan tahapan : DTPK (2015-2016), daerah dengan kapasitas Fiskal
rendah & sedang (2017), Kapasitas Fiskal tinggi & sangat tinggi (2018) dan pada
tahun 2019 seluruh daerah harus sudah terintegrasi dan telah memenuhi
kriteria/standar dasar yang ditetapkan pusat dengan tetap memberikan ruang bagi
kebutuhan daerah dan memperhatikan kondisi faktual di lapangan.Uraian tahapan
sebagai berikut:

Dari sisi pengelolaan pembiayaan, integrasi Jamkesda dilakukan secara


bertahap dan cost sharing, dengan kriteria: 1) Pemerintah Pusat menyusun
mekanisme cost sharingdimana PBI akan dibiayai melalui kemitraan Pusat
dan Daerah (baik Provinsi maupun Kab/kota) dengan porsi yang proporsional
sesuai kemampuan fiskal daerah. 2) Proporsi cost sharing dapat berubah
melalui negosiasi dengan didasari kemampuan fiskal daerah sebagai indikator
utama.3) Kemampuan subsidi silang daerah secara vertikal (Provinsi kepada
Kab/Kota)atau secara horisontal (daerah kapasitas fiskal tinggi/sangat tinggi
kepada daerah DTPK/kapasitas fiskal rendah).
Dalam kondisi ini daerah dengan kapasitas fiskal tinggi dan sangat tinggi juga
diberi ruang agar dapat menyelenggarakan Jamkesda tetapi tetap dalam
kerangka JKN sampai dengan pemerintah pusat mampu untuk membiayai
sepenuhnya.
Dari sisi iuran, Pemerintah menetapkan iuran berdasarkan:1) kemampuan pola
pembagian regional dan berlaku bertahap bagi daerah yang sudah terintegrasi
selambatnya-lambatnya tahun 2019 sesuai tahapan time frame. 2) Proporsi cost
sharingkhususnya bagi DTPK dan daerah dengan kemampuan fiskal rendah.
Dari sisi paket manfaat, Daerah yang sudah terintegrasi sesuai tahapan
diberikan waktu untuk dapat mengikuti manfaat dasar yang ditentukan pusat,
namun daerah boleh melebihi manfaat yg ditetapkan sesuai dengan kebutuhan
dan kemampuan daerah. Dalam hal ini Pemerintah pusat tetap harus memberi
dukungan bantuan pemerataan akses dan memberikan ruang bagi daerah untuk
memenuhi kebutuhan faskes agar sesuai standar nasional namun tetap
58

memperhatikan karakteristik daerah. Seluruh manfaat dasar dan kebutuhan


faskes harus terpenuhi secara bertahap terpenuhi antara 2015-2019.
Dari sisi cakupan PBI, Daerah yang sudah terintegrasi sesuai tahapan
diberikan ruang untuk memenuhi kepesertaan diluar yang belum tercakup
dalam kriteria PBI pemerintah pusat. Pendataan tetap dilakukan secara bottom
up, pusat sebagai verifikator.
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan pada bab sebelumnya,


dapat disimpulkan sebagai berikut :

5.1.1. Gambaran hasil pemetaan kondisi di 33 Provinsi.

Terdapat 4 provinsi yang sudah mencapai Universal Health Coverage.


Jumlah provinsi yang hanya menjamin peserta penduduk miskin non Jamkesmas
mencapai 27 provinsi (81,81%), serta 2 provinsi (6,06%) yang menggunakan
SKTM. Gambaran diatas menunjukkan bahwa pemahaman dan kemampuan
daerah dalam pengelolaan Jamkesda masih berbeda satu dengan yang lain,
khususnya dalam rangka mencapai Universal Health Coverage.
Berdasarkan hasil analisis terhadap karakteristik dan kelayakan kebijakan
Jamkesda di 6 provinsi , tergambar beberapa hal yang harus dipertimbangkan
dalam penyusunan formulasi kebijakan integrasi sebagai berikut:1) Keberadaan
regulasi dan atau rencana 2) Komitmen politik pemimpin daerah3) akses,
ketersediaan dan pemerataan fasyankes di daerah 4) Kemampuan daerah untuk
menyesuaikan kebijakan Jamkesda 5) Faktor ekonomi dan keuangan, khususnya
kesiapan anggaran 6) Result base financing

5.1.2. Aspek pengelolaan.

a. Pada umumnya Jaminan Kesehatan Daerah (64,6%) diselenggarakan oleh


pemerintah daerah , 33,8% dikelola oleh PT. Askes atau Pihak ke 3, dan
1,7% gabungan antara pemerintah daerah dan PT Askes. Dengan
berubahnya PT Askes menjadi BPJS pada 1 Januri 2014, maka semua
daerah yang selama ini sudah bekerja sama dengan PT Askes, akan lebih
mudah ( bila kemampuan fiskal daerahnya memungkinkan ) bila langsung
berintegrasi ke JKN, karena bila tidak langsung integrasi ke JKN, maka
daerah tersebut harus segera membuat badan/unit pengelola Jamkesda baru.

b. Terdapat 14 provinsi (42, 42%) yang besarannya ditanggung sepenuhnya


oleh kabupaten/kota masing-masing, dan hanya 1 provinsi (3, 03%) yang
100% ditanggung oleh provinsi. Besaran cost sharing yang porsinya lebih
besar ditanggung provinsi daripada kabupaten/kota sebanyak 6 provinsi (18,
18%), sementara yang porsinya lebih kecil ditanggung provinsi sebanyak 8

59
60

provinsi (24, 24%), sisanya 4 provinsi (12, 12%) membagi porsi jumlah cost
sharing secara berimbang antara provinsi dan kabupaten/kota.

Dengan demikian terdapat potensi perbedaan kepentingan antara propinsi


dan kabupaten/kota pada saat pengintegrasian Jamkesda. Hal ini memiliki beban
politis yang harus diatasi dan dipersiapkan mekanismenya agar mampu mengatasi
perbedaan kepentingan tersebut.

5.1.3. Aspek manfaat.

a. Hasil analisis bivariabed menggunakan uji kai kuadrat (chi square) terlihat
bahwa kemampuan kapasitas fiskal daerah tidak berpengaruh signifikan
secara statistik terhadap paket manfaat. Artinya, daerah dengan kapasitas
fiskal tinggi dan sangat tinggi tidak memiliki pengaruh yang bermakna secara
statistik terhadap pemberian manfaat.

b. Terdapat 15 provinsi (45, 45%) yang mengatur sendiri manfaat yang


diperoleh melalui peraturan daerah. Paket manfaat yang akan diberikan paska
integrasi harus mampu mengenali karakteristik yang terdapat pada provinsi
masing-masing sehingga perbedaan manfaat dapat diminimalisir. Paket
standar yang dijamin dalam program JKN, belum memberikan ruang bagi
daerah yang mampu ( kapasitas fiskal tinggi / sangat tinggi ) untuk
memberikan manfaat tambahan / lebih , apabila daerah tersebut
menginginkan tambahan manfaat tsb dijadikan satu diselenggarakan BPJS.

5.1.4. Aspek Penerima Bantuan Iuran.

a. Terdapat 2.558.490 peserta usulan daerah ( 2,96% dari 86.400.000 penerima


Jamkesmas/PBI ) dari 251 kabupaten/kotadari 31 provinsi yang tidak tepat
sasaran. Hal ini terutama karena penetapan peserta dilakukan sentralistik dan
kurang memberikan kewenangan kepada Pemerintah daerah untuk
menetapkan masyarakat di daerahnya yang memenuhi syarat sebagai PBI.

b. Besaran iuran PBI untuk Jaminan Kesehatan Nasional pada umumnya


melebihi iuran yang dijamin di Jamkesda. Hal ini di satu sisi menunjukkan
bahwa iuran PBI secara umum sudah lebih tinggi dan diharapkan akan
meningkatkan mutu pelayanan bagi peserta, namun disisi lain tingginya iuran
PBI tersebut juga menjadi beban bagi Pemerintah Daerah, khususnya yang
mempunyai kapasitas fiskal rendah / sedang, pada saat integrasi ke JKN
karena harus mengalokasikan anggaran lebih besar yaitu Rp.19.225,- per
peserta, kecuali bila kondisi fiskal Pemerintah Pusat sudah mampu
membiayai seluruh peserta Jamkesda yang berhak menjadi PBI.
61

5.1.5. Formulasi Kebijakan Integrasi:

Untuk mewujudkan integrasi Jamkesda ke Jaminan Kesehatan Nasional


secara komprehensif yang tersentalisasi tetapi tetap memberikan ruang bagi
daerah, maka dari hasil penelitian ini dirumuskan suatu formulasi kebijakan
integrasi berupa Formulasi Kebijakan Sentralisasi Dinamis yaitu suatu
formulasi kebijakan dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang
tersentralisasi tetapi secara dinamis masih memberikan peluang dalam kerangka
desentralisasi kepada pemerintah daerah.

Dalam disertasi ini, disampaikan Agenda Setting dan beberapa scenario


yang merupakan alternatif implementasi untuk disesuaikan dengan kebijakan dan
kemampuan Pemerintah Pusat / Daerah. Secara garis besar penerapan Formulasi
Kebijakan Sentralisasi Dinamis berpedoman pada : Indikator partisipatif, Paket
manfaat fleksibel dan penentuan PBI dan tarif dilakukan secara dinamis.

5.2 Saran

5.2.1. Aspek teoritis (keilmuan)

Dari sisi teoritis, dalam formulasi kebijakan integrasi jaminan kesehatan


tingkat daerah ke dalam jaminan kesehatan nasional, maka sesuai amanat
Undang Undang diperlukan keseimbangan antara peran Pusat dan Daerah.

Atas dasar hal tersebut, disarankan:

1. Pemerintah Pusat harus mampu menjembatani perbedaan pemahaman para


pengambil kebijakan di daerah, khususnya kepala daerah dalam upaya
integrasi Jamkesda ke JKN. Hal ini berarti pemerintah juga harus mampu
meredam peluang terjadinya dinamika politik di daerah yang muncul akibat
perbedaan kepentingan dan komitmen politis.

2. Untuk merumuskan kebijakan manajemen pengelolaan yang tepat, dapat


diatasi melalui penetapan pola pengelolaan pembiayaan yang berbasis pada
hasil atau result based financing. Pola ini membantu menjembatani
perbedaan sistem yang ada dan sekaligus meningkatkan kinerja sisi
penawaran dan permintaan dari sistem jaminan kesehatan.

3. Perlu pengutamaan pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dalam paket


manfaat yang ada.
62

4. Pelaku kebijakan di tingkat pusat harus mampu menyamakan persepsi dan


pemahaman pelaku kebijakan di bawahnya dalam memahami langkah
kebijakan yang akan diambil.

5. Dalam mengintegrasikan kebijakan daerah ke dalam kebijakan pusat,


konsep formulasi kebijakan integrasi harus memberikan ruang fleksibilitas
yang lebih besar bagi daerah dalam sentralisasi kebijakan integrasi
jamkesda. Hal ini merupakan bentuk upaya untuk memenuhi kriteria
kepentingan daerah sehingga formulasi kebijakan akan lebih dinamis dan
partisipatif.

5.2.2. Aspek praktis (guna laksana)

Secara praktis, dalam melaksanakan integrasi Jaminan Kesehatan Daerah


ke Jaminan Kesehatan Nasional, tindakan pemerintah bukan sebatas
mensentralisasikan seluruh sistem yang ada kedalam sistem yang lebih besar,
tetapi juga harus seimbang dalam menjaga kesinambungan semangat
desentralisasi dan kepentingan masyarakat di daerah dalam payung Jaminan
Kesehatan Nasional. Untuk tercapainya hal tersebut, disarankan agar:

1. Integrasi pendataan seluruh penduduk termasuk peserta Jamkesda selaku


penerima bantuan iuran dalam satu payung sistem JKN harus menjadi
prioritas formulasi kebijakan integrasi jamkesda. Hal ini penting mengingat
kemiskinan bukanlah merupakan hal yang statis dan tidak rentan perubahan.
Akurasi, validitas, dan pembaruan data kemudian menjadi hal sangat
krusial, karena data yang statis selama ini di daerah cenderung menjadi
tidak reliabel atau relevan dalam jangka waktu tertentu.
2. Dari sisi paket manfaat, Pemerintah pusat disatu sisi menentukan layanan
mendasar yang harus berlaku secara nasional, tetapi disisi lain terkait
dengan keaneka ragaman daerah, maka khusus untuk PBI, diperlukan
ruang bagi daerah untuk dapat menambah layanan diatas manfaat standar
nasional, tetapi tetap dikelola di BPJS.
3. Dari sisi iuran, Pemerintah disarankan menetapkan iuran PBI berdasarkan
pola pembagian regionalisasi, seperti regionalisasi pada INA CBGs, sampai
dengan tercapainya pemerataan akses dan standar mutu fasilitas pelayanan
kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
4. Dari sisi cakupan PBI, penetapan masyarakat yang menjadi PBI agar
dilakukan secara bottom up, berbasis data dari Pemerintah daerah,
berdasarkan kriteria yang ditetapkan Pemerintah Pusat.
5. Kepesertaan PBI yang dalam JKN berbasis pada kepesertaan individu
(besaran iuran dan kepesertaan dihitung per-satu orang), perlu dilakukan
63

kajian untuk disamakan dengan kepesertaan pekerja penerima upah, yaitu


berbasis keluarga dengan menetapkan nilai ominal besaran iuran. Hal ini
memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menghitung besaran iuran yang
berbasis pada rata-rata jumlah anggota keluarga khusus pada PBI. Dengan
demikian bayi yang lahir dari PBI secara otomatis sudah masuk dalam
jaminan kesehatan.
6. Secara garis besar, untuk mengimplementasikan formulasi kebijakan
sentralisasi dinamis secara komprehensif maka diperlukan intervensi
melalui penyusunan suatu agenda setting dan skenario yang meliputi
setidaknya beberapa hal pokok : indikator penilaian pengelolaan yang
partisipatif, paket manfaat yang fleksibel, namun tetap mengacu pada
standar nasional, dan cakupan PBI yang optimal sesuai kebutuhan daerah.

Skenario tahapan integrasi Jamkesda dapat dilakukan dengan beberapa


alternatif antara lain:

a. Pemerintah Pusat diasumsikan secara penuh mampu membiayai seluruh


kebutuhan JKN secara langsung, maka integrasi Jamkesda harus dilakukan
secara serentak
b. Pemerintah Pusat diasumsikan mampu membiayai seluruh kebutuhan JKN
secara bertahap, maka integrasi dilakukan dengan tahapan prioritas:
a) DTPK, b) Kapasitas Fiskal rendah & sedang, c) Kapasitas Fiskal tinggi
dan sangat tinggi.
c. Pemerintah Pusat diasumsikan tidak memiliki kemampuan untuk
sepenuhnya membiayai masyarakat miskin dan tidak mampu dalam JKN,
maka integrasi harus dilakukan dengan melibatkan kontribusi pemda
melalui mekanisme cost sharing.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Said Zainal, 2004, Kebijakan Publik, Yayasan Pancur Siwah: Jakarta
Allotey, dkk, 2011, Universal coverage in an era of privatization: can we
guarantee health for all ?, Universal Coverage : Can We Guarantee Health
for All ?, Malaysia, 3-4 Oktober 2011
Allotey, P, dkk, 2011, Vulnerability, equity and universal coverage a concept
note, BMC Public Health, 12 (Suppl 1) 52
Bappenas, 2003, Desain Sistem Perlindungan Sosial Terpadu, Direktorat
Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan.
Bossert, T, 1998, Analyzing the decentralization of health systems in developing
countries: decision space, innovation and performance, Social science &
medicine, 47(10), 1513-1527
Bossert, T. J., & Beauvais, J. C, 2002, Decentralization of health systems in
Ghana, Zambia, Uganda and the Philippines: a comparative analysis of
decision space, Health policy and planning, 17(1), 14-31
Bossert, T. J., Bowser, D. M., & Amenyah, J. K, 2007, Is decentralization good
for logistics systems? Evidence on essential medicine logistics in Ghana
and Guatemala, Health Policy and Planning, 22 (2), 73-82
Bossert, T. J., Larraaga, O, Giedion, U., Arbelaez, J, & Bowser, D. M, 2003,
Decentralization and equity of resource allocation: evidence from
Colombia and Chile. Bulletin of the World Health Organization, 81(2), 95-
100
BPS, 2011, Survey Angkatan Kerja Nasional 2010
BPS, berbagai Tahun, Susenas, BPS
BPS, 2011, Sensus Penduduk 2010
Casasnovas, Guillem Lpez; David McDaid dan Joan Costa-Font,
Decentralization and Management Autonomy?, Evidence from the
Catalonian Hospital Sector in a Decentralized Spain dimuat dalam
International Public Management Review electronic Journal at di akses
melalui http://www.ipmr.net Volume 10 Issue 2 2009
Cheema, G. Shabbir dan Rondinelli, Dennis A (Ed), 1983, Decentralization and.
Development: Policy Implementation in Developing Countries, Sage
Publication
Chitra, Retna S & Ermy, Ardhyanti. Inisiatif Daerah Dalam Mengembangkan
Program Jaminan Kesehatan: Pola dan Pembelajaran. Di muat dalam
Working Paper. Halaman 1-3

64
Chuma, J, and Okungu, V, 2011, Viewing the Kenyan health system through an
equity lens : implications for universal coverage, International Journal for
Equity in Health, 10:22
Chuma, J, dkk, 2012, Does the distribution of health care benefits in Kenya meet
the principles of universal coverage ?, BMC Public Health, 12:20
Creswell, JW, 1994, Research Design: Qualitative & Quantitative Approaches.
California: Sage Publications
Data Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemkes RI, berbagai tahun
Devadasan, N, dkk, 2010, Performanceof community health insurance in India :
findings from empirical studies, BMC Proceedings, 6 (suppl 1): P9, First
National Conference on Bringing Evidence into Public Health Policy
(EPHP 2010), Bangalore, India, 10 11 December 2010
Dwicaksono, Adenantera; Ari Nurman, & Panji Yudha Prasetya, 2012,
Jamkesmas and District Health Care Insurance Scheme.Bandung:
Perkumpulan Inisiatif
Dunn, WN. 2003, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Edisi Kedua, Gadjah
Mada University Press: Yogyakarta
Dunn, WN, 1998, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, edisi II,Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta
Gani, A. Dkk, 2008, Laporan Kajian Sistem Pembiayaan Kesehatan di Beberapa
Kabupaten dan Kota, Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan dan Analisis
Kebijakan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok
Gerring, J, 2007, Case Study Research, Principles and Practices, USA,
Cambridge
Gool, MJA, 2012, Integrating Casemix system in to the Philippine social health
insurance, BMC Health Services Research 2012, 12 (Suppl 1): 16, 6th
international Casemix Conference 2012 (6ICMC2012), Malaysia, 6-7 June
Guillem, LC, McDaid, D, dan Costa-Font, J, 2009, Decentralization and
Management autonomy? Evidence from the Catalonian Hospital Sector in
a Decentralized Spain, dimuat dalam International Public Management
Review dimuat dalam electronic Journal at http://www.ipmr.net Volume
10 Issue 2 2009
Hamdi, M, 2002, Bunga Rampai Pemerintahan, Yarsif Watampone: Jakarta
Hoogwood, BW. & Lewis AG, 1986, Policy Analysis for the Real World,
Princeton University Press
Jadoo, AS, dkk, 2012, Level of patients satisfaction toward National Health
Insurance in Istanbul City-Turkey, BMC Public Health 2012, 12 (Suppl 2) :
A5, Postgraduate Forum on Health System and Policies, Malaysia, 21-22
May 2012

65
Jones, CO, 1984, Pengantar Kebijakan Publik (terjemahan), PT. Raja Grafindo
Persada: Jakarta
Kemenkes RI, 2010, Rencana strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014
Kemenkes RI, 2004, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta
Kemenkes RI, 2007, Pedoman Pelaksanaan JPK Masyarakat Miskin (Askeskin)
2007, Jakarta.
Limwattananon, S, dkk, 2012, Why has the Universal Coverage Scheme in
Thailand achieved a pro poor public subsidy for health care ?, BMC Public
Health, 12 (Suppl 1)56
Mukti, Ali Gufron, 2007, Strategi Terkini Peningkatan Mutu Pelayanan
Kesehatan, Konsep dan Implementasi, Pusat Pengembangan Sistem
Pembiayaan dan Manajemen Asuransi/Jaminan Kesehatan FK UGM:
Yogyakarta
Mukti, Ali Gufron, 2007, Reformasi Sistem Pembiayaan Kesehatan di Indonesia
dan Prospek ke Depan, PT. Karya Husada Mukti: Yogyakarta
Mukti, Ali Gufron, 2009, Pengembangan Jaminan Pembiayaan Kesehatan Dalam
Kontes Kesejahteraan Minimum: Studi Kasus Di Indonesia. Dipaparkan
dalam Seminar Nasional Kesejahteraan Sosial Minimum dalam Rangka
Dies Natalies Ke 60 UGM
Murti, Bisma, 2010, Strategi untuk Mencapai Cakupan Universal Pelayanan
Kesehatan di Indonesia, disampaikan pada Temu Ilmiah Reuni Akbar FK-
UNS, di Surakarta, 27 November 2010
Normand C, Weber Z, 1994, Social Health Insurance: A guidebook for planning.
World Health Organization and International Labour Office: Geneva
Onwujekwe, O, dkk, 2011, Constraints to universal coverage: inequities in health
service use and expenditures for different health conditions and providers,
International Journal for Equity in Health, 20:50
Osborne, David and Ted Gaebler, 1993, Reinventing Government, Plume: New
York
Pokharel, B, 2000, Decentralization of Health Services, ICP OSD 1, WHO
Project
Rafei, U. M, 1996, Medical education reform in SouthEast Asia: WHO
perspectives, Medical Education, 30(6), 397-400
Regmi, K., Naidoo, J, Greer, A, dan Pilkington, P, 2010, Understanding The
Effect Of Decentralisation On Health Services (The Nepalese Experience),
dimuat dalam Journal of Health Organization and Management Vol. 24
No. 4, 2010 pp. 361-382. Emerald Group Publishing Limited
Republic Act No. 7875,1994, Congress of The Philippines, Republic of The
Philippines

66
Resolution WHA58.33. Sustainable Health Financing, Universal Coverage and
Social Health Insurance. In: Fifty eight World Health Assembly, Geneva,
16-25 May 2005
Riant, ND, 2004, Kebijakan Publik Formulasi Implementasi dan Evaluasi.
PT. Elex Media Komputendo: Jakarta
Rondinelli, 1983, Government Decentralization in Comparative Perspective:
Theory And Practice in Developing Countrie
Stewart Jr, J., Hedge, D., & Lester, J. P, 2007, Public policy: An evolutionary
approach. Cengage Learning
The Affordable Care Act, diunduh dari www.healthcare.gov/law/full/
Thoha, M, 1984, Dimensi-dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara, Rajawali
Press, Jakarta
Turner, Mark and David Hulme, 1997, Governance, Administration and
Development: Making the State Work. Basingstoke: Macmillan
Trisnantoro, L, 2005, Aspek Strategis dalam Manajemen Rumahsakit. Antara Misi
Sosial dan Tekanan Pasar, Andi Offset
Trisnantoro, L, 2009, Apakah Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Dapat Terus Dilaksanakan? Sebuah Analisis Sejarah dan Budaya, di muat
dalam Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, hal 12 (03)
Vallee, AQ, 2012, Assessing barriers to health insurance and threats to equity in
comparative perspective : The Health Insurance Access Database, BMC
Health Service Research 12 : 107
Von Hauff, M, 2002, The Relevance of Social Security for Economic
Development. Social Protection in Southeast and East Asia, FES:
Singapore
Wahab, SA, 1997, Analisis Kebijaksanaan: dari Formulasi ke Implementasi
Kebijaksanaan Negara, Bumi Aksara, Jakarta
Winarno, Budi, 2007, KebijakanPublikTeoridan Proses, Media Pressindo,
Yogyakarta
World Health Organization, 2010, The World Health Report 2010. Health Systems
Financing: the Path to Universal Coverage, World Health Organization,
Geneva
World Health Organization, 2007, Everybody Business : Strengthening Health
Systems to Improve Health Outcomes : WHOs framework for action
WHO, 2005, Achieving Universal Health Coverage: Developing the Health
Financing System. Technical Brief for Policy-makers. Number 1, 2005.
World Health Organization, Department of Health Systems Financing,
Health Financing Policy

67
Widaningrum, Ambar, 2007, Dinamika Pelaksanaan Desentralisasi Birokrasi
Pelayanan Kesehatan .Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ; ISSN
1,4104946, Jakarta
Yin, RK, 2008, Studi Kasus : Desain dan Metode. Rajawali Pers, Jakarta di
unduh melalui
http://www.jamsosindonesia.com/jamsosda/detail/102
http://www.brookings.edu/blogs/fixgov/posts/2013/10/24-affordable-care-act-
implementation-trust-in-government-dropp-jackman-jackman#
https://www.healthcare.gov/health-insurance-marketplace/
https://www.healthcare.gov/what-does-marketplace-health-insurance-cover/

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Undang-undang No. 25 Tahun 2009, tentang Pelayanan Publik
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063)
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5072)
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011, tentang BPJS
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637)
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 8737)
Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2010-2014 beserta Lampiran Peraturan
Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2010-2014
Peraturan Menteri PAN No. 13 Tahun 2009, tentang Pedoman Pelayanan Publik
dengan Partisipasi Masyarakat;
Surat Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 17
tahun 2012 tentang Tim Penyiapan Pelaksanaan BPJS

68
Kepmenkes No 828/Menkes/SK/IX/2008 Tentang Petunjuk Teknis Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/kota.
Kepmenkes No 374/Menkes/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional 2009
Permenkes Nomor 001 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Kesehatan
Perorangan;
Kepmenkes nomor 061/Menkes/SK/II/2012 tentang Kelompok Kerja Persiapan
Pelaksanaan SJSN

69
CURRICULUM VITAE

IDENTITAS :

Nama : dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS

Pangkat : Brigadir Jenderal TNI s.d 2010, alih status menjadi PNS gol. IVe

(pensiun 31 Agustus 2014)

Tempat/Tanggal lahir : Pringsewu-Lampung / 11 Agustus 1954

Status : Kawin / anak 3

Agama : Islam

Alamat Rumah : Jl. Rantai Timah G-27, KPAD Bulak Rantai, Jakarta Timur 13540

Telepon : 021.80871146, 0811849039, 081231123456

E-mail : pri118@yahoo.com / priyantoro118@gmail.com

RIWAYAT PENDIDIKAN UMUM :

SD Xaverius Pringsewu Lampung lulus 1966

SMP Xaverius Pringsewu Lampung lulus 1969

SMAN III Yogyakarta lulus 1972

Fakultas Kedokteran UGM lulus 1979

Spesialis Pulmonologi FKUI lulus 1989

Pasca Sarjana Bidang MANAJEMEN : KARS

Fak.KESEHATAN MASYARAKAT - UI lulus 1998

70
Peserta Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan - FK UGM:
Masuk 2010 DISERTASI : FORMULASI STRATEGI INTEGRASI JAMKESDA KE JKN
MENUJU UNIVERSAL HEALTH
COVERAGE

RIWAYAT PENDIDIKAN MILITER dan KURSUS KURSUS :

SEKOLAH PERWIRA WAJIB MILITER (SEPAWAMIL) ABRI GEL III : 1979 - 1980

KURSUS ORIENTASI PERWIRA KESEHATAN TNI AD. 1980

KURSUS DASAR TERJUN PAYUNG/PARA. 1980

KURSUS PERWIRA BEDAH LAPANGAN (PACHIRLAP). 1981

KURSUS INSTRUKTUR ADVANCED TRAUMA LIFE SUPPORT / ATLS. 1998


SEKOLAH PERALIHAN PERWIRA KESEHATAN (SEKALIH PAKES). 1991

KURSUS MANAJEMEN : CORPORATE CRISIS MANAGEMENT 2003

KURSUS MANAJEMEN : AUDIT PERFORMANCE EVALUATION 2004

EXECUTIVE LEADERSHIP PROGRAM IN SERVICE DELIVERY


(University of Technology Sydney) : 2014

RIWAYAT JABATAN :

SEKRETARIS JENDERAL KEMENKES RI. 2012-Agust 2014

DIRJEN BINA UPAYA KESEHATAN 2010 - 2012

ANGGOTA DEWAN JAMINAN SOSIAL NASIONAL (DJSN) 2011 - sekarang

KOMISARIS UTAMA KIMIA FARMA 2013 - sekarang

KOMISARIS UTAMA INDOFARMA 2012 2013

KOMISARIS UTAMA KIMIA FARMA APOTIK 2011 - 2012

DIREKTUR KESEHATAN TNI AD. Feb-Juli 2010

71
72
KEPALA / DIRUT RSPAD GATOT SOEBROTO. 2008 - 2010

WAKIL DIREKTUR KESEHATAN TNI AD. 2007 - 2008

SEKRETARIS DIREKTORAT KESEHATAN TNI AD. 2006 - 2007

KEPALA SUBDIREKTORAT PELAYANAN KESEHATAN -


DIREKTORAT KESEHATAN TNI AD. 2004 2006

KEPALA KESEHATAN KODAM JAYA. 2002 - 2004

KEPALA/DIRUT RS M.RIDWAN MEURAKSA - KODAM JAYA. 2000 - 2002

DIREKTUR PAVILIUN DARMAWAN- RSPAD GATOT SOEBROTO . 1996 - 2000

DIREKTUR PAVILIUN KARTIKA - RSPAD GATOT SOEBROTO. 1994 - 1996

WAKIL DIREKTUR PAV.KARTIKA - RSPAD GATOT SOEBROTO. 1993 - 1994

KEPALA URUSAN MEDIK - DEPARTEMEN PULMONOLOGI


RSPAD GATOT SOEBROTO. 1989 1993

PERWIRA DIREKTORAT KESEHATAN TNI AD ( Pendidikan


dokter spesialis pulmonologi di FK UI ). 1985 1989

KEPALA KESEHATAN KARSA YUDHA 5 - GRUP 4


KOPASSANDHA /KOPASSUS TNI AD. 1982 1985

KEPALA KESEHATAN DETASEMEN TEMPUR 113- GRUP 1


KOPASSANDHA/ KOPASSUS TNI AD. 1981-1982

PERWIRA URUSAN POLIKLINIK UMUM - KESEHATAN


KOPASSANDHA / KOPASSUS. 1980 - 1981

73
TANDA PENGHARGAAN :

Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun

Satya Lencana Kesetiaan 16 Tahun

Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun

Satya Lencana Dwija Sista

Bintang Kartika Eka Paksi Nararya

KEGIATAN PENDIDIKAN :

Dosen tamu FK-UNS Surakarta 1992 - 2000

Dosen. tamu FK-UPN Jakarta 2000 - 2010

Dosen tamu program S2 KARS-UI 2002- sekarang


Mata Kuliah : Manajemen Strategi RS, Sistem Informasi Manajemen RS, Change Management

Ketua Badan Penasehat FK-UPN Jakarta 2008 - 2010

Instruktur ATLS 1998 - 2010

74