Anda di halaman 1dari 12

Daftar isi :

KATA PENGANTAR .......................................................................................... 2


BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 3
A. LATAR BELAKANG ......................................................................... 3
B. RUMUSAN MASALAH .................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3
A. PRINSIP-PRINSIP EKONOMI ISLAM .............................................. 3
Pandangan Islam Terhadap Ekonomi ................................................ 4
Ayat Al-Quran Mengenai Prinsip Ekonomi ...................................... 4
B. TATA CARA JUAL BELI DALAM
ISLAM ........................................ 7
Definisi Jual Beli ................................................................................ 8
Hukum Asal Jual Beli Adalah Halal .................................................. 8
Klasifikasi Jual Beli ............................................................................ 8
Syarat-Syarat Sah Jual Beli ................................................................
10
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 11
KESIMPULAN ........................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 11

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat,
Hidayah, dan Inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan
makalah pendidikan agama islam dengan judul "Ekonomi dan Keuangan dalam
Ajaran Islam" tepat pada waktunya.

Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan


berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu
tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam merampungkan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih
terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh
karena itu, dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para
pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah
ini.

Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini


dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para
pembaca untuk mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-
makalah selanjutnya.

Pekalongan, 24 Februari 2017

Penyusun

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam adalah agama yang bersumber dari kitab Al-Quran yang di turunkan
oleh Allah SWT. Sejak zaman nabi Muhammad, Ekonomi islam telah berjalan
hampir di seluruh jazirah arab bahkan sampai ke afrika ini ditandai dengan adanya
kelompok-kelompok atau suku-suku di arab waktu itu melakukan transaksi atau
berdagang hingga berbulan-bulan, Karena dalam islam tidak ada larangan bagi
seorang islam berhubungan dagang dengan non-islam. Namun islam juga
memiliki prinsip-prinsip etika dalam mekalukan Ekonomi islam yang salah
satunya adalah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (bunga) yang
terdapat kitab suci Al-Quran.

B. Rumusan Masalah
1. Prinsip-prinsip Ekonomi Islam Berdasarkan Ayat Al-Quran
2. Tata cara jual beli dalam islam

BAB II
PEMBAHASAN

A. Prinsip-prinsip Ekonomi Islam Berdasarkan Ayat Al-Quran

Ekonomi adalah hal mendasar yang dibutuhkan manusia untuk bisa hidup
dan berkembang di muka bumi. Tanpa terpenuhinya kebutuhan ekonomi manusia,
tentu saja aktivitas dan proses hidup manusia di muka bumi akan terganggu.
Dapat diketahui bahwa dalam keseharian manusia membutuhkan makan, minum,

3
hidup, berumah tangga, tentu semuanya membutuhkan modal dan transaksi
ekonomi secara intens.

Dalam hal ini, tentu saja masalah ekonomi pun juga harus diatur agar tidak
terjadi kesenjangan sosial, terjadi permasalahan beda kelas sosial yang sangat
tinggi, atau ketidak adilan ekonomi yang bisa berakibat pada kemiskinan atau
ketidakberdayaan manusia. Untuk itu, salah satu ajaran islam mengantarkan
manusia untuk juga mengarahkan aktivitas ekonominya sesuai dengan prinsip-
prinsip dasar dan ajaran islam mengenai hal ekonomi.

1.1 Pandangan Islam Terhadap Ekonomi

Islam adalah agama yang berorientasi kepada kebaikan dan keadilan


seluruh manusia. Islam senantiasa mengajarkan agar manusia mengedepankan
keadilan, keseimbangan dan juga kesejahteraan bagi semuanya. Islam tidak
mengajarkan pada kesenjangan sosial, prinsip siapa cepat siapa menang, atau pada
kekuasaan hanya dalam satu kelompok atau orang tertentu saja.

Prinsip ini pun diajarkan islam dalam hal ekonomi. Dalam hal ekonomi,
islam pun ikut mengatur dan memberikan arahan atau pencerahan agar umat
manusia tidak terjebak kepada ekonomi yang salah atau keliru.

Aturan-aturan islam mengenai ekonomi diantaranya seperti:

1. Masalah kewajiban zakat, infaq, shodaqoh

2. Larangan judi dan mengundi nasib dengan panah

3. Membayar pajak

4. Menjual dengan neraca yang adil

5. Membuat catatan keuangan

6. Dan lain sebagainya

Ekonomi islam tentunya sangat berbeda dengan ekonomi yang mengarah


kepada prinsip kapitalisme atau liberalisme. Ekonomi islam bertujuan agar dapat
terpenuhinya kebutuhan manusia, bukan hanya satu orang saja melainkan seluruh
umat manusia secara keseluruhan agar dapat hidup berkualitas dan menunanaikan
ibadah dengan baik. Sedangkan prinsip liberalisme atau kapitalisme hanya
berdasarkan kepada pemilik modal, pasar bebas, dan tidak berpihaknya pada
masyarakat lemah atau kurang mampu.

4
1.2 Ayat Al-Quran Mengenai Prinsip Ekonomi

Prinsip dasar dari ekonomi islam tentunya tidak hanya bergantung atau
memberikan keuntungan kepada salah satu atau sebagian pihak saja. Ajaran islam
menghendaki transaksi ekonomi dan kebutuhan ekonomi dapat memberikan
kesejahteraan dan kemakmuran manusia hidup di muka bumi.

Prinsip dasar ekonomi ini juga tentu berlandasakan kepada Rukun Islam, Dasar
Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun
Iman. Berikut adalah Prinsip-prinsip Ekonomi Islam dalam islam yang senantiasa
ada dalam aturan islam.

1. Tidak Menimbulkan Kesenjangan Sosial

Prinsip dasar islam dalam hal ekonomi senantiasa berpijak dengan masalah
keadilan. Islam tidak menghendaki ekonomi yang dapat berdampak pada
timbulnya kesenjangan. Misalnya saja seperti ekonomi kapitalis yang hanya
mengedepankan aspek para pemodal saja tanpa mempertimbangkan aspek buruh,
kemanusiaan, dan masayrakat marginal lainnya.

Untuk itu, islam memberikan aturan kepada umat islam untuk saling membantu
dan tolong menolong. Dalam islam memang terdapat istilah kompetisi atau
berlomba-lomba untuk melaksanakan kebaikan. Akan tetapi, hal tersebut tidak
berarti mengesampingkan aspek keadilan dan peduli pada sosial.

Hal ini sebagaimana perintah Allah, Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah


zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS An-Nur : 56)

Zakat, infaq, dan shodaqoh adalah jalan islam dalam menyeimbangkan ekonomi.
Yang kaya atau berlebih harus membantu yang lemah dan yang lemah harus
berjuang dan membuktikan dirinya keluar dari garis ketidakberdayaan agar
mampu dan dapat produktif menghasilkan rezeki dari modal yang diberikan
padanya.

2. Tidak Bergantung Kepada Nasib yang Tidak Jelas

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada


keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi
dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. (QS Al-Baqarah : 219)

Islam melarang umatnya untuk menggantung nasib kepada hal yang sangat
tidak jelas, tidak jelas ikhtiarnya, dan hanya mengandalkan peruntungan dan

5
peluang semata. Untuk itu islam melarang perjudian dan mengundi nasib dengan
anak panah sebagai salah satu bentuk aktivitas ekonomi.

Pengundian nasib adalah proses rezeki yang dilarang oleh Allah karena di
dalamnya manusia tidak benar-benar mencari nafkah dan memakmurkan
kehidupan di bumi. Uang yang ada hanya diputar itu-itu saja, membuat
kemalasan, tidak produktifnya hasil manusia, dan dapat menggeret manusia pada
jurang kesesatan atau lingkaran setan.

Untuk itu, prinsip ekonomi islam berpegang kepada kejelasan transaksi


dan tidak bergantung kepada nasib yang tidak jelas, apalagi melalaikan ikhtiar dan
kerja keras.

3. Mencari dan Mengelola Apa yang Ada di Muka Bumi

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung. (QS Al Jumuah : 10)

Allah memberikan perintah kepada manusia untuk dapat mengoptimalkan


dan mencari karunia Allah di muka bumi. Hal ini seperti mengoptimalkan hasil
bumi, mengoptimalkan hubungan dan transaksi dengan sesama manusia. Untuk
itu, jika manusia hanya mengandalkan hasil ekonominya dari sesuatu yang tidak
jelas atau seperti halnya judi, maka apa yang ada di bumi ini tidak akan
teroptimalkan. Padahal, ada sangat banyak sekali karunia dan rezeki Allah yang
ada di muka bumi ini. Tentu akan menghasilkan keberkahan dan juga
keberlimpahan nikmat jika benar-benar dioptimalkan.

Untuk itu, dalam hal ekonomi prinsip islam adalah jangan sampai manusia tidak
mengoptimalkan atau membiarkan apa yang telah Allah berikan di muka bumi
dibiarkan begitu saja. Nikmat dan rezeki Allah dalam hal ekonomi akan melimpah
jika manusia dapat mencari dan mengelolanya dengan baik.

4. Larangan Ekonomi Riba

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa
riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Al-
Baqarah :278)

Prinsip Islam terhadap ekonomi yang lainnya adalah larangan riba. Riba
adalah tambahan yang diberikan atas hutang atau transaksi ekonomi lainnya.
Orientasinya dapat mencekik para peminam dana, khususnya orang yang tidak

6
mampu atau tidak berkecukupan. Dalam Al-Quran Allah melaknat dan
menyampaikan bahwa akan dimasukkan ke dalam neraka bagi mereka yang
menggunakan riba dalam ekonominya.

5. Transaksi Keuangan yang Jelas dan Tercatat

Transaksi keuangan yang diperintahkan islam adalah transaksi keuangan


yang tercatat dengan baik. Transaksi apapun di dalam islam diperintahkan untuk
dicatat dan ditulis diatas hitam dan putih bahkan ada saksi. Dalam zaman moderen
ini maka ilmu akuntansi tentu harus digunakan dalam aspek ekonomi. Hal ini
tentu saja menghindari pula adanya konflik dan permasalahan di kemudian hari.
Manusia bisa saja lupa dan lalai, untuk itu masalah ekonomi pun harus benar-
benar tercatat dengan baik.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan, Hai orang-orang yang beriman,


apabila kamu bermuamalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu
menuliskannya dengan benar (QS Al Baqarah : 282)

6. Keadilan dan Keseimbangan dalam Berniaga

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan


neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. (QS Al Isra : 35)

Allah memerintahkan manusia ketika melaksanakan perniagaan maka


harus dengan keadilan dan keseimbangan. Hal ini juga menjadi dasar untuk
ekonomi dalam islam. Perniagaan haruslah sesuai dengan neraca yang digunakan,
transaksi keuangan yang digunakan, dan juga standar ekonomi yang diberlakukan.
Jangan sampai ketika bertransaksi kita membohongi, melakukan penipuan, atau
menutupi kekurangan atau kelemahan dari apa yang kita transaksikan. Tentu saja,
segalanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Dari prinsip-prinsip tersebut dapat dipahami bahwa manusia diberikan


aturan dasar mengenai ekonomi islam agar manusia dapat menjalankan
kehidupannya sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan
Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam
Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia
Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut
Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. Tentu saja dari prinsip tersebut dapat
terlihat bahwa islam hendak memberikan rahmat bagi semesta alam, terlebih bagi
mereka yang beriman dan taat dalam melaksanakan perintah Allah tersebut.

B. TATA CARA JUAL BELI DALAM ISLAM

7
Kegiatan Jual Beli online saat ini semakin menjamur, apalagi sekarang
situs jual beli online gratis semakin baik dan beragam. Salah satunya
adalah tokobagus.com, berniaga.com dan forum jual beli kaskus. Namun
adakalanya jual beli memiliki tata cara online mengandung resiko karena produk
yang ditawarkan hanya berupa penjelasan spesifikasi barang dan beberapa gambar
yang tidak bisa kita jamin kebenarannya.

Sebagai seorang muslim aktifitas jual beli adalah aktifitas muamalah yang
diatur oleh Al-Qur'an dan Sunnah. Karena telah diatur maka sebagai seorang
muslim dalam aktifitas jual beli harus mengikuti tata cara dan hukum jual beli
yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Sesungguhnya di antara bentuk jual beli ada juga yang diharamkan dan
ada juga yang diperselisihkan hukumnya. Oleh sebab itu, menjadi satu kewajiban
bagi seorang usahawan muslim untuk mengenal hal-hal yang menentukan sahnya
usaha jual beli tersebut, dan mengenal mana yang halal dan mana yang haram dari
kegiatan itu, sehingga ia betul-betul mengerti persoalan. Dalam pembahasan ini
penulis akan memaparkan beberapa persoalan yang berkaitan dengan masalah jual
beli. Mari kita mengikuti pembahasan berikut ini:

2.1 DEFINISI JUAL BELI

Jual beli secara etimologis artinya: Menukar harta dengan harta. Secara
terminologis artinya: Transaksi penukaran selain dengan fasilitas dan kenikmatan.
Sengaja diberi pengecualian "fasilitas" dan "kenikmatan", agar tidak termasuk di
dalamnya pe-nyewaan dan menikah.

Jual beli adalah dua kata yang saling berlawanan artinya, namun masing-
masing sering digunakan untuk arti kata yang lain secara bergantian. Oleh sebab
itu, masing-masing dalam akad transaksi disebut sebagai pembeli dan penjual.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Dua orang yang berjual beli
memiliki hak untuk menentukan pilihan, sebelum mereka berpindah dari lokasi
jual beli." Akan tetapi bila disebutkan secara umum, yang terbetik dalam hak
adalah bahwa kata penjual diperuntukkan kepada orang yang mengeluarkan
barang dagangan. Sementara pembeli adalah orang yang mengeluarkan bayaran.
Penjual adalah yang mengeluarkan barang miliknya. Sementara pembeli adalah
orang yang menjadikan barang itu miliknya dengan kompensasi pembayaran.

8
2.2 HUKUM ASAL JUAL BELI ADALAH HALAL

"Dan Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba.." (Al-Baqarah:


275).

2.3 1KLASIFIKASI JUAL BELI

1. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Objek Dagangan

Ditinjau dari sisi ini jual beli dibagi menjadi tiga jenis:
a). Jual beli umum, yaitu menukar uang dengan barang.
b). Jual beli ash-sharf atau Money Changer, yakni penukaran uang dengan uang.
c). Jual beli muqayadhah atau barter. Yakni menukar barang dengan barang.

2. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Cara Standarisasi Harga

a) Jual beli Bargainal (Tawar-menawar). Yakni jual beli di mana penjual tidak
memberitahukan modal barang yang dijualnya.

b). Jual beli amanah. Yakni jual beli di mana penjual memberitahukan harga
modal jualannya. Dengan dasar jual beli ini, jenis jual beli tersebut terbagi lain
menjadi tiga jenis lain:

* Jual beli murabahah. Yakni jual beli dengan modal dan keuntungan yang
diketahui.

* Jual beli wadhi'ah. yakni jual dengan harga di bawah modal dan jumlah
kerugian yang diketahui.

* Jual beli tauliyah. Yakni jual beli dengan menjual barang dalam harga modal,
tanpa keuntungan dan kerugian.

Sebagian ahli fiqih menambahkan lagi jenis jual beli yaitu jual beli isyrak dan
mustarsal. Isyrak adalah menjual sebagian barang dengan sebagian uang bayaran.
Sedang jual beli mustarsal adalah jual beli dengan harga pasar. Mustarsil adalah
orang lugu yang tidak mengerti harga dan tawar menawar.

c) Jual beli muzayadah (lelang). Yakni jual beli dengan cara penjual menawarkan
barang dagangannya, lalu para pembeli saling menawar dengan menambah jumlah
pembayaran dari pembeli sebelumnya, lalu si penjual akan menjual dengan harga
tertinggi dari para pembeli tersebut.

9
Kebalikannya disebut dengan jual beli munaqadhah (obral). Yakni si pembeli
menawarkan diri untuk membeli barang dengan kriteria tertentu, lalu para penjual
berlomba menawarkan dagang-annya, kemudian si pembeli akan membeli dengan
harga ter-murah yang mereka tawarkan.

3. Pembagian Jual Beli Dilihat dari Cara Pembayaran

Ditinjau dari sisi ini, jual beli terbagi menjadi empat bagian:

* Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran secara langsung.

* Jual beli dengan pembayaran tertunda.

* Jual beli dengan penyerahan barang tertunda.

* Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran sama-sama tertunda.

2.4 SYARAT-SYARAT SAH JUAL BELI


Agar jual beli dapat dilaksanakan secara sah dan memberi pengaruh yang tepat,
harus direalisasikan beberapa syaratnya terlebih dahulu. Ada yang berkaitan
dengan pihak penjual dan pembeli, dan ada kaitan dengan objek yang diperjual-
belikan.

Pertama: Yang berkaitan dengan pihak-pihak pelaku, harus memiliki kompetensi


dalam melakukan aktivitas itu, yakni dengan kondisi yang sudah akil baligh serta
berkemampuan memilih. Tidak sah transaksi yang dilakukan anak kecil yang
belum nalar, orang gila atau orang yang dipaksa.
Kedua: Yang berkaitan dengan objek jual belinya, yakni sebagai berikut:

a. Objek jual beli tersebut harus suci, bermanfaat, bisa dise-rahterimakan, dan
merupakan milik penuh salah satu pihak.
Tidak sah menjualbelikan barang najis atau barang haram seperti darah, bangkai
dan daging babi. Karena benda-benda ter-sebut menurut syariat tidak dapat
digunakan. Di antara bangkai tidak ada yang dikecualikan selain ikan dan
belalang. Dari jenis darah juga tidak ada yang dikecualikan selain hati (lever) dan
limpa, karena ada dalil yang mengindikasikan demikian.
Juga tidak sah menjual barang yang belum menjadi hak milik, karena ada
dalil yang menunjukkan larangan terhadap itu. Tidak ada pengecualian, melainkan
dalam jual beli as-Salm. Yakni sejenis jual beli dengan menjual barang yang

10
digambarkan kri-terianya secara jelas dalam kepemilikan, dibayar dimuka, yakni
dibayar terlebih dahulu tetapi barang diserahterimakan bela-kangan. Karena ada
dalil yang menjelaskan disyariatkannya jual beli ini.
Tidak sah juga menjual barang yang tidak ada atau yang ber-ada di luar
kemampuan penjual untuk menyerahkannya seperti menjual Malaqih, Madhamin
atau menjual ikan yang masih dalam air, burung yang masih terbang di udara dan
sejenisnya. Malaqih adalah anak yang masih dalam tulang sulbi pejantan.
Sementara madhamin adalah anak yang masih dalam tulang dada hewan be-tina.
Adapun jual beli fudhuliy yakni orang yang bukan pemilik barang juga
bukan orang yang diberi kuasa, menjual barang milik orang lain, padahal tidak
ada pemberian surat kuasa dari pemilik barang. Ada perbedaan pendapat tentang
jual beli jenis ini. Na-mun yang benar adalah tergantung izin dari pemilik barang.

b. Mengetahui objek yang diperjualbelikan dan juga pemba-yarannya, agar tidak


terkena faktor "ketidaktahuan" yang bisa termasuk "menjual kucing dalam
karung", karena itu dilarang.

c. Tidak memberikan batasan waktu. Tidak sah menjual barang untuk jangka masa
tertentu yang diketahui atau tidak di-ketahui. Seperti orang yang menjual
rumahnya kepada orang lain dengan syarat apabila sudah dibayar, maka jual beli
itu dibatalkan. Itu disebut dengan "jual beli pelunasan".

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam islam seluruh prinsip dan tata cara jual beli telah di atur secara
lengkap di dalam Al-Quran mada kari itu kiranya kita sebagai umat muslim
menjalankan dan mematuhinya agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam jual
beli. Dari jual beli ekonomi berputar, dari ekonomi manusia hidup. Hindari

11
riba agar ternindar dari api neraka makanlan dari rezeki yang lalal dan jual beli
yang hahal juga.

DAFTAR PUSTAKA

Eko Pratomo, Cara Mudah Mengelola Keuangan Keluarga Secara


Islami, (Hijrah Institute, Jakarta: 2004)
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam
(P3EI), Ekonomi Islam, Yogyakarta, 2008
Dr. Muhammad Asraaf Dawwabah, Al Iqtishad al Islamy Madkhalun wa
Manhajun, Darussalam, Kairo, 2010
Departemen RI, Al-Quran dan Terjemahannya, 2002, CV.Darus Sunnah,
Jakarta.
http://arungkiting.blogspot.co.id/2014/10/makalah-keuangan-dan-
ekonomi-islam.html

12