Anda di halaman 1dari 50

June 17, 2013 6:35 am

Jump to Comments

Dampak Fisik dan Psikologis


Pernikahan Dini
Tanpa kita sadari ada banyak dampak dari pernikahan dini. Ada dampak fisik dan dampak
psikologis, diantaranya adalah :
1. Dampak Fisik :
a. Ekonomi Rumah Tangga
Pasangan usia muda belum mampu dibebani suatu pekerjaan yang memerlukan keterampilan
fisik, untuk mendatangkan penghasilan baginya, dan mencukupi kebutuhan keluarganya.
Faktor ekonomi adalah salah satu faktor yang berperan dalam mewujudkan dalam
kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangga. Generasi muda tidak boleh berspekulasi apa
kata nanti, utamanya bagi pria, rasa ketergantungan kepada orang tua harus dihindari.
b. Kanker leher rahim
Perempuan yang menikah dibawah umur 20 th beresiko terkena kanker leher rahim. Pada usia
remaja, sel-sel leher rahim belum matang. Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV
pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker.
Leher rahim ada dua lapis epitel, epitel skuamosa dan epitel kolumner. Pada sambungan
kedua epitel terjadi pertumbuhan yang aktif, terutama pada usia muda. Epitel kolumner akan
berubah menjadi epitel skuamosa. Perubahannya disebut metaplasia. Kalau ada HPV
menempel, perubahan menyimpang menjadi displasia yang merupakan awal dari kankes.
Pada usia lebih tua, di atas 20 tahun, sel-sel sudah matang, sehingga resiko makin kecil.
Gejala awal perlu diwaspadai, keputihan yang berbau, gatal serta perdarahan setelah
senggama. Jika diketahui pada stadium sangat dini atau prakanker, kanker leher rahim bisa
diatasi secara total. Untuk itu perempuan yang aktif secara seksual dianjurkan melakukan tes
Papsmear 2-3 tahun sekali.
c. Resiko Tinggi Ibu Hamil
Dilihat dari segi kesehatan, pasangan usia muda dapat berpengaruh pada tingginya angka
kematian ibu yang melahirkan, kematian bayi serta berpengaruh pada rendahnya derajat
kesehatan ibu dan anak. Menurut ilmu kesehatan, bahwa usia yang kecil resikonya dalam
melahirkan adalah antara usia 20-35 tahun, artinya melahirkan pada usia kurang dari 20 tahun
dan lebih dari 35 tahun mengandung resiko tinggi. Ibu hamil usia 20 tahun ke bawah sering
mengalami prematuritas (lahir sebelum waktunya) besar kemungkinan cacat bawaan, fisik
maupun mental , kebutaan dan ketulian.
2. Dampak Psikologis
a. Neoritis deperesi
Depresi berat atau neoritis depresi akibat pernikahan dini ini, bisa terjadi pada kondisi
kepribadian yang berbeda. Pada pribadi introvert (tertutup) akan membuat si remaja menarik
diri dari pergaulan. Dia menjadi pendiam, tidak mau bergaul, bahkan menjadi seorang yang
schizoprenia atau dalam bahasa awam yang dikenal orang adalah gila. Sedang depresi berat
pada pribadi ekstrovert (terbuka) sejak kecil, si remaja terdorong melakukan hal-hal aneh
untuk melampiaskan amarahnya. Seperti, perang piring, anak dicekik dan sebagainya.
Dengan kata lain, secara psikologis kedua bentuk depresi sama-sama berbahaya.
Dalam pernikahan dini sulit membedakan apakah remaja laki-laki atau remaja perempuan
yang biasanya mudah mengendalikan emosi. Situasi emosi mereka jelas labil, sulit kembali
pada situasi normal. Sebaiknya, sebelum ada masalah lebih baik diberi prevensi daripada
mereka diberi arahan setelah menemukan masalah. Biasanya orang mulai menemukan
masalah kalau dia punya anak. Begitu punya anak, berubah 100 persen. Kalau berdua tanpa
anak, mereka masih bisa enjoy, apalagi kalau keduanya berasal dari keluarga cukup mampu,
keduanya masih bisa menikmati masa remaja dengan bersenang-senang meski terikat dalam
tali pernikahan.
Usia masih terlalu muda, banyak keputusan yang diambil berdasar emosi atau mungkin
mengatasnamakan cinta yang membuat mereka salah dalam bertindak. Meski tak terjadi
Married By Accident (MBA) atau menikah karena kecelakaan, kehidupan pernikahan pasti
berpengaruh besar pada remaja. Oleh karena itu, setelah dinikahkan remaja tersebut jangan
dilepas begitu saja.
b. Konflik yang berujung perceraian
Sibuknya seorang remaja menata dunia yang baginya sangat baru dan sebenarnya ia belum
siap menerima perubahan ini. Positifnya, ia mencoba bertanggung jawab atas hasil perbuatan
yang dilakukan bersama pacarnya. Hanya satu persoalannya, pernikahan usia dini sering
berbuntut perceraian. Mampukah remaja itu bertahan?
Ada apa dengan cinta? Mengapa pernikahan yang umumnya dilandasi rasa cinta bisa
berdampak buruk, bila dilakukan oleh remaja? Pernikahan dini atau menikah dalam usia
muda, memiliki dua dampak cukup berat. Dari segi fisik, remaja itu belum kuat, tulang
panggulnya masih terlalu kecil sehingga bisa membahayakan proses persalinan. Oleh karena
itu pemerintah mendorong masa hamil sebaiknya dilakukan pada usia 20 30 tahun. Dari
segi mental pun, emosi remaja belum stabil.
Kestabilan emosi umumnya terjadi pada usia 24 tahun, karena pada saat itulah orang mulai
memasuki usia dewasa. Masa remaja, boleh di bilang baru berhenti pada usia 19 tahun. Dan
pada usia 20 24 tahun dalam psikologi, dikatakan sebagai usia dewasa muda atau lead
edolesen. Pada masa ini, biasanya mulai timbul transisi dari gejolak remaja ke masa dewasa
yang lebih stabil. Maka, kalau pernikahan dilakukan di bawah 20 tahun secara emosi si
remaja masih ingin bertualang menemukan jati dirinya.
Bayangkan kalau orang seperti itu menikah, ada anak, si istri harus melayani suami dan
suami tidak bisa ke mana-mana karena harus bekerja untuk belajar tanggung jawab terhadap
masa depan keluarga. Ini yang menyebabkan gejolak dalam rumah tangga sehingga terjadi
perceraian, dan pisah rumah
sumber : http://erlinpurwanita.blogspot.com/2012/08/dampak-fisik-dan-psikologis-
pernikahan.html
dampak pernikahan dini, Uncategorized
Byalfiyah23

Dampak Pernikahan Dini (perkawinan di bawah umur)

Baru saja kita mendengar berita diberbagai media tentang kyai kaya yang menikahi anak
perempuan yang masih belia berumur 12 tahun. Berita ini menarik perhatian khalayak karena
merupakan peristiwa yang tidak lazim. Apapun alasannya, perkawinan tersebut dari tinjauan
berbagai aspek sangat merugikan kepentingan anak dan sangat membahayakan kesehatan
anak akibat dampak perkawinan dini atau perkawinan di bawah umur. Berbagai dampak
pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur dapat dikemukakan sbb.

1. Dampak terhadap hukum

Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu:


a. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan
pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.

Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun
harus mendapat izin kedua orang tua.

b. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
1.) menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya dan;
2.) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

c. UU No.21 tahun 2007 tentang PTPPO


Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak yang
mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut.
Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak, agar anak tetap
memperoleh haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan
kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-undang tersebut.
Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk melindungi anak dari
perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua. Sesuai dengan 12 area kritis dari Beijing
Platform of Action, tentang perlindungan terhadap anak perempuan.

1. Dampak biologis

Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan
sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika
sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan
yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan
jiwa anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan
dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan
(penggagahan) terhadap seorang anak.

3. Dampak Psikologis

Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan
menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak
akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak
mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak
untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya
serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.

4. Dampak Sosial

Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang
bias gender, yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap
pelengkap seks laki-laki saja. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun
termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin). Kondisi
ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan
kekerasan terhadap perempuan.

5. Dampak perilaku seksual menyimpang

Adanya prilaku seksual yang menyimpang yaitu prilaku yang gemar berhubungan seks
dengan anak-anak yang dikenal dengan istilah pedofilia. Perbuatan ini jelas merupakan
tindakan ilegal (menggunakan seks anak), namun dikemas dengan perkawinan se-akan2
menjadi legal. Hal ini bertentangan dengan UU.No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
khususnya pasal 81, ancamannya pidana penjara maksimum 15 tahun, minimum 3 tahun dan
pidana denda maksimum 300 juta dan minimum 60 juta rupiah. Apabila tidak diambil
tindakan hukum terhadap orang yang menggunakan seksualitas anak secara ilegal akan
menyebabkan tidak ada efek jera dari pelaku bahkan akan menjadi contoh bagi yang lain.

Dari uraian tersebut jelas bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur (anak) lebih
banyak mudharat daripada manfaatnya. Oleh karena itu patut ditentang. Orang tua harus
disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau
anak dan harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak.
Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dapat mengajukan class-action kepada
pelaku, melaporkan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesai (KPAI), LSM peduli anak
lainnya dan para penegak hukum harus melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk
melihak adanya pelanggaran terhadap perundangan yang ada dan bertindak terhadap pelaku
untuk dikenai pasal pidana dari peraturan perundangan yang ada. (UU No.23 tahun 2002
tentang Perlindungan Anak, UU Perkawinan, UU PTPPO).

0 Comments | Read More


Pernikahan Dini, Lebih Banyak Dampak Negatifnya

Ainun Fika Muftiarini - Okezone


Browser anda tidak mendukung iFrame

Senin, 11 Februari 2013 14:44 wib

Linda Gumelar (Foto: Runi/Okezone)


BANYAK hal yang harus dipertimbangkan saat memutuskan untuk menikah. Salah satunya
adalah menyangkut tentang usia.

Pernikahan sedianya dilakukan saat usia pria dan wanita matang dan tidak di bawah umur.
Hal ini dimaksudkan dampak negatif dari pernikahan yang dijalani tak muncul berlebihan.
Terlepas dari harapan tersebut, realitanya saat ini ialah masih banyak anak yang melakukan
pernikahan di bawah umur, terutama mereka yang tinggal di daerah dan kurang memahami
dampak yang terjadi nantinya.

Hal ini tentu saja ini juga membawa keprihatinan bagi Menteri Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar.

Sangat prihatin. Kita bisa melihat nilai negatifnya dari tiga sisi, katanya saat ditemui
Okezone secara eksklusif di kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Menurutnya, secara psikologi hal tersebut tentunya berpengaruh pada kondisi mental yang
masih labil serta belum adanya kedewasaan dari si anak. Dikhawatirkan, keputusan yang
diambil untuk menikah adalah keputusan remaja yang jiwa dan kondisi psikologisnya belum
stabil. Jadi, keputusannya bukan orang dewasa yang belum menyadari bahwa menikah adalah
suatu keputusan besar dimana akan menimbulkan hak dan kewajiban dalam perkawinan yang
dijalaninya.

Selain itu, Linda juga mengatakan kalau pernikahan di usia belia berbahaya bagi kesehatan.
Apalagi perempuanlah yang cukup banyak memiliki risiko seperti pada kandungan dan
kebidanannya. Sebab, secara medis menikah di usia tersebut dapat mengubah sel normal (sel
yang biasa tumbuh pada anak-anak) menjadi sel ganas yang akhirnya dapat menyebabkan
infeksi kandungan dan kanker. Sedangkan untuk kebidanan, hamil di bawah usia 19 tahun
tentunya sangat beresiko pada kematian. Terlebih secara fisik remaja belum kuat yang pada
akhirnya bisa membahayakan proses persalinan.

Hal tersebut sangat memprihatinkan mengingat kita berupaya menekan angka kematian,
imbuhnya.

Sementara dari sisi ekonomi, Linda mengakui kalau perkawinan yang dilakukan di bawah
umur sering kali belum mapan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga ini pun
dikhawatirkan akan menjadi penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. (ind) (tty)

Browser anda tidak mendukung iFrame

Berita Terkait : Wawancara Linda Gumelar

Meski Sibuk, Linda Gumelar Selalu Kumpul Keluarga

Linda Gumelar Sering Ingatkan Tontonan Cucu

Linda Gumelar Idolakan sang Ibu

Pembentukan Watak Anak Dimulai Saat Usia Golden Age

Perangi Kenakalan Anak, Peran Keluarga Jadi Kuncinya

Linda Gumelar Tak Suka Bacaan Fiksi

Suami, Penyemangat Utama Linda Gumelar Melayani Masyarakat

"Belum Ada Perlindungan Khusus dalam Pernikahan Beda Negara"

Hindari Dampak Buruk, Pernikahan Perlu Disiapkan Secara Matang

Pernikahan Dini, Lebih Banyak Dampak Negatifnya


Hindari Dampak Buruk, Pernikahan Perlu Disiapkan Secara Matang

Ainun Fika Muftiarini - Okezone


Browser anda tidak mendukung iFrame

Senin, 11 Februari 2013 20:54 wib

Linda Gumelar (Foto: Runi/Okezone)


MENJALANI kehidupan rumah tangga memang tak mudah. Butuh persiapan khusus yang
harus dilakukan sebelumnya.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk pihak wanita saja, namun pria pun juga harus melakukan
hal serupa. Apalagi, kehidupan pernikahan merupakan tanggung jawab yang harus diemban
bersama.

Kesiapan membina keluarga baru atau menikah adalah bukan hanya dititikberatkan pada
perempuan saja, tetapi juga terhadap laki-laki. Kedua-duanya harus mempersiapkan diri
terlebih dulu sebelum mengambil keputusan untuk melangsungkan perkawinan, ujar Linda
Amalia Sari Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak saat
ditemui Okezone secara eksklusif di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat,
belum lama ini.

Lebih lanjut, Linda menuturkan bahwa saat memutuskan untuk menikah orang tersebut tidak
hanay dituntut kesiapan secara mental saja. Wanita ramah tersebut menyarankan agar
pasangan yang akan menjalani itu hendaknya bisa mempertimbangkangkan dari segala sisi.
Tentunya hal itu bermaksud untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkan dari
kesiapan pernikahan yang tidak matang.

Kesiapan pemikiran, yang dilihat dari kesiapan dari cara berpikir dan tujuan dari pernikahan.
Kesiapan psikologis, artinya kesiapan dalam menghadapi permasalahan yang timbul setelah
pernikahan. Kesiapan fisik yang artinya seorang yang akan menikah tentu yang sudah cukup
umur.

Kesiapan finansial artinya mempunyai sumber nafkah yang bisa dipertanggungjawabkan


nantinya setelah terjadinya pernikahan, tutupnya. (ind) (tty)
Resiko akibat pernikahan dini
Ragam
WASPADA ONLINE

(Ilustrasi)

Di beberapa daerah di Indonesia, pernikahan


dini masih menjadi fenomena yang sering
ditemui. Padahal baru-baru ini penelitian di
AS mengungkapkan bahwa pernikahan yang
dilakukan wanita di bawah usia 18 tahun
berpotensi meningkatkan angka kematian ibu
dan anak.Anita Raj, PhD dari Department of
Medicine, University of California
menyebutkan, Negara-negara dengan angka
pernikahan dini yang tinggi lebih cenderung
berkaitan dengan tingginya angka kematian ibu dan bayi. Melahirkan di usia yang terlalu
muda bisa menjadi penyebabnya.

Peneliti menegaskan jika prosentase angka pernikahan dini turun sebanyak 10 persen, maka
bisa dikaitkan dengan penurunan angka kematian ibu sebesar 70 persen.

Fenomena pernikahan dini pada dasarnya merupakan bagian dari budaya masyarakat
tertentu. Minimnya akses mendapatkan fasilitas kesehatan, tingkat pendidikan yang rendah,
dan asupan gizi yang kurang memadai adalah beberapa faktor risiko penyebab kematian ibu
dan anak akibat menikah di usia dini.

Kemiskinan dan konflik-konflik yang ada juga dapat mempertajam keinginan orang tua agar
anak gadisnya menikah di usia dini, tambah Raj.

Tingginya angka kematian ibu dan bayi biasanya terjadi akibat komplikasi saat melahirkan,
tubuh kekurangan gizi, hingga bayi terlahir cacat.

Inilah sebabnya seluruh lapisan masyarakat harus menyadari bahwa banyak risiko yang harus
dihadapi jika menikah di usia dini.
(dat06/duniafitnes)
Kamis, 27 Juni 2013 | 15:45 WIB

Pernikahan Dini Rawan Lahirkan Anak Kerdil

Ilustrasi. sublimeburst.com

Follow

Berita Terkait

Seorang Pelajar di Bima Todong Polisi dengan Pistol

Bus di Chicago Pasang Poster Remaja Pria Hamil

Ditemukan Penyebab Pubertas Dini pada Anak

64 Juta Remaja Galau Rentan Seks Bebas

Remaja Amerika Sekarang Tunda Hubungan Seks

Topik

#Kesehatan Remaja

Besar Kecil Normal


TEMPO.CO, Kendari - Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Julianto Witjaksono
mengatakan, pernikahan usia dini lebih berpotensi menyebabkan bencana ketimbang
kebahagiaan. Salah satu dampak pernikahan dini adalah rawan melahirkan anak kerdil atau
anak stunting.

Julianto, yang juga dokter kandungan ini, beralasan tubuh ibu muda usia dibawah 20 tahun
belum siap untuk hamil. "Anak umur belasan tahun kan panggul, rahimnya belum siap, masih
kecil," kata Julianto usai menjadi pembicara Seminar Layanan KB di Universitas Haluoleo,
Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis, 27 Juni 2013.

Dalam masa pertumbuhan, anak kerdil ini bakal tampak terlambat ketimbang anak normal.
Bisa terlihat dari tinggi badan, berat badan, hingga ukuran tubuh. Paling bahaya, kata
Julianto, volume otak anak kerdil bakal lebih kecil ketimbang anak normal. Itu bisa
berdampak pada rendahnya kualitas intelegensia anak. "Ini harus diatasi, kalau tidak bisa
mengancam generasi Indonesia ke depan."

Selain itu, anak kerdil rawan menderita penyakit. Bahkan penyakit yang beresiko tinggi,
seperti jantung dan diabetes. "Ini juga buruk bagi jaminan kesehatan masyarakat Indonesia ke
depan, bakal mahal," ujarnya.

Untuk itu, BKKBN akan terus memperluas sosialisasi bahaya pernikahan dini. Termasuk
meminta peran media untuk menyebarluaskan informasi ini. Sebab, berdasar data hasil survei
BKKBN tahun 2012, angka perempuan menikah usia 10-14 di Indonesia sebesar 4,2 persen.
Sementara perempuan menikah usia 15-19 tahun sebesar 41,8 persen. "Jadi total anak
perempuan menikah dibawah 20 tahun ada 45 persen, sangat tinggi," tutup dia.
3 Dampak Buruk Pernikahan Dini
Penulis : Wardah Fazriyati | Kamis, 6 Oktober 2011 | 15:33 WIB
|

Share:

SHUTTERSTOCK
Perkawinan anak tidak lebih dari sekadar pemerkosaan terhadap anak?

Artikel Terkait:

UU Perkawinan Tak Melindungi Perempuan?

Gugatan Halimah Bukan Hanya Membela Dirinya

Facebook Picu Pernikahan Dini?

Pendidikan Rendah Picu Pernikahan Dini

Pernikahan Dini Mengancam Perempuan

KOMPAS.com Pernikahan dini melanggar hak anak, terutama anak perempuan. Anak
perempuan, sebagai pihak yang paling rentan menjadi korban dalam kasus pernikahan dini,
juga mengalami sejumlah dampak buruk.

Plan Indonesia, organisasi kemanusiaan yang fokus pada perlindungan dan pemberdayaan
anak, menyampaikan hasil temuannya mengenai pernikahan dini. Plan mencatat, 33,5 persen
anak usia 13-18 tahun pernah menikah, dan rata-rata mereka menikah pada usia 15-16 tahun.

Penelitian ini dilakukan di delapan kabupaten di seluruh Indonesia selama Januari-April


2011. Wilayah penelitian mencakup Kabupaten Indramayu (Jawa Barat); Grobogan dan
Rembang (Jawa Tengah); Tabanan (Bali); Dompu (NTB); serta Timor Tengah Selatan, Sikka,
dan Lembata (NTT).

Walaupun tidak mewakili seluruh populasi di Indonesia, temuan ini bisa menjadi gambaran
kasus pernikahan dini secara umum di Tanah Air. Apalagi data ini tak jauh berbeda dengan
temuan Bappenas tahun 2008 bahwa 34,5 persen dari 2.049.000 perkawinan tahun 2008
adalah perkawinan anak, ujar Bekti Andari, Gender Specialist Plan Indonesia, dalam siaran
persnya.

Studi ini menunjukkan lima faktor yang memengaruhi perkawinan anak, yaitu perilaku
seksual dan kehamilan tidak dikehendaki, tradisi atau budaya, rendahnya pengetahuan
kesehatan reproduksi dan tingkat pendidikan orangtua, faktor sosio-ekonomi dan geografis,
serta lemahnya penegakan hukum.

Pernikahan dini nyatanya membawa dampak buruk bagi anak perempuan:

1. Rentan KDRT
Menurut temuan Plan, sebanyak 44 persen anak perempuan yang menikah dini mengalami
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan tingkat frekuensi tinggi. Sisanya, 56 persen
anak perempuan mengalami KDRT dalam frekuensi rendah.

2. Risiko meninggal
Selain tingginya angka KDRT, perkawinan dini berdampak pada kesehatan reproduksi anak
perempuan. Anak perempuan berusia 10-14 tahun memiliki kemungkinan meninggal lima
kali lebih besar, selama kehamilan atau melahirkan, dibandingkan dengan perempuan berusia
20-25 tahun. Sementara itu, anak yang menikah pada usia 15-19 tahun memiliki
kemungkinan dua kali lebih besar.

3. Terputusnya akses pendidikan


Di bidang pendidikan, perkawinan dini mengakibatkan si anak tidak mampu mencapai
pendidikan yang lebih tinggi. Hanya 5,6 persen anak kawin dini yang masih melanjutkan
sekolah setelah kawin.

Country Director Plan Indonesia John McDonough menyatakan keprihatinannya terhadap


angka pernikahan dini di Indonesia. Menurutnya, pemberdayaan anak perempuan bisa
mencegah terjadinya pernikahan di bawah umur ini.

McDonough menambahkan, program pemberdayaan ini memberikan hasil optimal dengan


juga melibatkan ayah, saudara laki-laki, dan suami. Tak hanya perempuan, laki-laki juga
perlu dilibatkan dalam menciptakan kesetaraan jender.

Program pemberdayaan tersebut meliputi ekonomi keluarga, advokasi, pendidikan dan


penelitian tentang pernikahan dini, serta kampanye pemberdayaan dan partisipasi anak
perempuan. "Program-program pemberdayaan anak perempuan yang dimiliki Plan juga
melibatkan laki-laki dewasa dan anak-anak, tandasnya.

Editor :
wawa
Kerugian Akibat Pernikahan Dini bagi Wanita

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Seiring pergaulan yang semakin bebas saat ini, terjadinya pernikahan dini seolah
tidak dapat dihindarkan. Meski masih cukup kontroversial, pernikahan dini telah
menjadi solusi instan untuk beberapa kasus. Sebenarnya mengapa banyak orang
yang tidak setuju pernikahan seperti ini? Karena pada realitanya, cukup banyak
kerugian akibat pernikahan dini bagi wanita.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pernikahan dini yang tidak sepenuhnya


dipersiapkan secara matang, khususnya karena suatu keadaan yang memaksa,
sering membawa akibat buruk bagi semua anggota keluarga, khususnya bagi
sang wanita. Apa saja itu? Berikut diantaranya:

Belum puas menikmati masa muda

Umumnya, seorang wanita muda gemar bermain-main dengan sebayanya.


Kegemaran pergi ke mall, piknik bersama, hingga belajar bersama akan sirna
dengan kewajiban baru yakni mengurus rumah tangga, suami, serta anak yang
mungkin saja telah lahir.

Keuangan sangat tergantung pada suami

Umumnya, pernikahan dini belum disertai kemapanan dalam bidang keuangan.


Pemasukan hanya berasal dari pihak laki-laki, dan selebihnya masih
mengandalkan suntikan dana dari orang tua dari kedua belah pihak. Hal ini
membuat sang wanita harus pandai-pandai menhemat dana serta menahan
keiniginan pribadi.

Emosi suami tidak stabil


Karena memang belum dewasa dalam hal emosi dan pemikiran, suami
cenderung mudah marah. Keinginan untuk bermain dengan teman-teman
sebayanya sering mengesampingkan kepentingan keluarga sehingga wanita
sering menjadi korban pelampiasan kemarahan.

Wanita mudah jenuh dan lalai mengurus anak

Denagn kondisi keluarga yang kadang sangat emosional, wanita sering merasa
jenuh. Akibatnya, dia ingin mencari distrkasi dengan lingkungan lain, atau justru
terbelenggu dalam dunianya yang baru: keluarga. Selain itu, anak pun kadang
kurang diperhatikan.

Impian dan cita-cita sirna

Wanita sering memiliki mimpi yang beragam, baik untuk membahagiakan orang
tua, meraih prestasi setinggi-tingginya, maupun membangun keluarga yang
bahagia. Dengan pernikahan dini, persiapan yang kuranga justru sering
berujung pada hilangnya impian tersebut.

Perceraian yang tidak diinginkan

Dengan tingkat emosi laki-laki yang belum stabil, suami sering mengutamakan
kepentingan dan kebahagiaan diri. Hal ini membuat kehidupan keluarga akan
semakin berat dan pada beberapa kasus akan berujung pada perceraian. Jika hal
ini terjadi, pihak wanita lah yang akan banyak menanggung kerugian.

Itulah sekilas tentang kerugian akibat pernikahan dini bagi wanita. Nah, setelah
membaca artikel ini, tentu sista memiliki gambaran bahwa pernikahan dini dapat
saja membawa kerugian jika dilandasi oleh keterpaksaan. Jadi, jika sista
memutuskan untuk menikah secara dini, pastikan semua niat itu dilandaskan
karena kesiapan, bukan karena keterpaksaan.

lainnya dari Tips Keluarga

Panduan Lengkap Hamil Mendapat Momongan

Cara Membatasi Pergaulan Remaja Putri

Mengatasi Anak yang Suka Ngompol

Tips Menghadapi Perangai Anak


Tips Mendongkrak Nafsu Makan Balita dengan Madu

Kerugian Akibat Pernikahan Dini bagi Wanita

Tips Jitu Mencari Jodoh Online


Faktor Pernikahan Dini dan Solusinya.
Apr17

Salah siapa?

Pernikahan hakekatnya adalah penyatuan 2 insan laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang
suci, yang mengandung arti sakral dan janji di hadapan Tuhan dalam membina rumah tangga
yang baik dan harmonis. Namun terkadang orang masih mempertanyakan, Sebenarnya apa
sih yang dicari dalam pernikahan? Bukannya kalau menikah itu orang tambah susah karena
tambah banyak masalah?. Menikah atau tidak tentu orang hidup itu mempunyai masalah.
Namun bagaimana jika ada sanak saudara atau keluarga yang memutuskan untuk menikah di
usia muda atau menikah dini?

Pernikahan bukan hanya sekedar pesta atau kesenangan sesaat. Hendaknya apabila seseorang
sudah berani untuk memutuskan menikah, ia harus siap baik secara mental maupun material.

Faktor Pernikahan Dini:

1. Ekonomi

Faktor ekonomi adalah faktor yang sering dijadikan untuk pernikahan dini. Orang tua yang
tak mampu membiayai hidup dan sekolah terkadang membuat sang anak memutuskan untuk
menikah dini. Sejuta harapan sudah terbayangkan apabila ia memutuskan untuk menikah
dini, maka hidupnya akan tercukupi secara materi.

Solusi: Jika memang harus putus sekolah dan membantu keadaan ekonomi keluarga,
mengapa tidak meminta anak untuk melakukan aktivitas ekonomi yang positif? Sesuaikan
dengan minat dan bakat anak.

2. Pendidikan

Tugas seorang anak adalah sekolah dengan baik. Namun faktor ekonomi sering terjadinya
putus sekolah. Karena tidak sekolah dan tidak ada kegiatan positif yang bisa ia lakukan, maka
ketika datang seseorang yang mau melamar akan langsung diterima tanpa memikirkan efek
yang akan terjadi ke depannya. Padahal dengan pendidikan, kehidupan anak akan menjadi
jauh lebih baik. Sudah menjadi kewajiban orang tua agar anak mendapatkan pendidikan yang
layak, seberat apapun masalah yang dihadapinya.

Solusi: Biarkan anak mendapat kesempatan untuk mengeyam pendidikan setinggi-tingginya.


Beri akses dan cari sarana agar anak sibuk sekolah dan tidak ada waktu untuk memikirkan
hal-hal yang negatif.

3. MBA: Married By Accident

Seketat apapun orang tua melindungi anaknya dari dunia luar, tetap saja akan kena imbasnya
walau sedikit. Dengan perkembangan jaman yang cepat, internet atau sarana media yang lain
yang mudah diakses membuat anak terjatuh dalam pergaulan bebas. Terkadang orang tua
tidak mampu mengikuti perkembangan jaman dan akan terkaget-kaget melihat efeknya.

Adanya perasaan malu atau minder karena tidak memiliki seorang pacar akan membuat
seorang anak akan terlanjur bebas dan asyik menjalin hubungan dengan lawan jenis, sehingga
akan membuat sang anak menjadi lupa diri saat berpacaran. Hamil di luar nikah adalah akibat
yang sering terjadi karena pergaulan bebas. Karena malu dan dianggap aib, maka orang tua
akan menikahkan anaknya yang masih sekolah tersebut.

Solusi: Tidak ada solusi yang lebih baik selain memberi kesempatan si jabang bayi untuk
menikmati dunia, walaupun harus dengan resiko harus menanggung malu atau anak harus
cuti sekolah dahulu. Setelah melahirkan, si ibu bisa melanjutkan sekolahnya, dan untuk
sementara ibunya lah yang membantu mengasuh si jabang bayi tersebut.

4. Mencegah Pergaulan Bebas

Karena takut anaknya melakukan hubungan yang tidak seharusnya dengan lawan jenis, maka
orang tua memaksakan menikahkan anaknya. Alasan takut hamil di luar nikah atau zina
sering dipakai. Padahal, mungkin anaknya sedang menikmati masa-masa sekolahnya atau
masa mudanya.

Solusi: Bekali anak dari rumah dengan norma susila atau norma agama. Dengan penjelasan
yang efektif dan dari hati ke hati akan membuat anak memahani dampak negatif apabila
terlalu jauh bergaul.

Efek Negatif Pernikahan Dini

Eksploitasi anak

Hilangnya kesempatan untuk mendapat pendidikan

Rentan terhadap kanker serviks

Mudah terjadi perceraian

Pemaksaan akan kematangan dan kedewasaan cara berpikir anak

Hilangnya masa muda

Bunuh diri

Terjadi penyimpangan sosial

Efek Positif Pernikahan Dini

Membuat sang anak memiliki semangat belajar. Tentu dengan catatan si suami tetap
mendukung pendidikan anaknya walaupun sudah menikah.
Anak merasa bahagia karena sudah mengangkat harkat hidup keluarga menjadi lebih
baik.

Bila sang suami seseorang yang mampu atau bahkan kaya, maka akan ada
kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tingg/kuliah.

Orang tua merasa tenang karena ada yang menjaga anaknya.

sumber: http://www.anneahira.com/pernikahan-dini-16969.htm

Categories

artikel cinta dan perkawinan

Cara Menyikapi Pernikahan dini

dampak pernikahan dini

faktor faktor pernikahan dini

hukum pernikahan dini

pernikahan dini

Uncategorized

Archives

January 2010

Blog Roll

facebook

umm

WordPress.com

WordPress.org

Meta

Register

Log in
Entries RSS

Comments RSS

WordPress.org

My status

Calendar
September 2013

M T W T F S S

Jan

2 3 4 5 6 7 8

9 10 11 12 13 14 15

16 17 18 19 20 21 22

23 24 25 26 27 28 29

30

30Jan

Upaya menyikapi atau mencegah terjadinya pernikahan dini


In CategoryCara Menyikapi Pernikahan dini

Byalfiyah23

Upaya menyikapi atau mencegah terjadinya pernikahan dini

Pernikahan dini merupakan fenomena social yang sering terjadi khususnya di Indonesia.
Fenomena pernikahan anak di bawah umur bila diibaratkan seperti fenomena gunung es,
sedikit di permukaan atau terekspos dan sangat marak di dasar atau di tengah masyarakat
luas. Dalih utama yang digunakan untuk memuluskan jalan melakukan pernikahan dengan
anak di bawah umur adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. Namun, dalih seperti ini biasa jadi
bermasalah karena masih terdapat banyak pertentangan di kalangan umat muslim tentang
kesahihan informasi mengenai pernikahan anak di bawah umur yang dilakukan Nabi SAW
dengan Aisyah r.a. Selain itu, peraturan perundang undangan yang belaku di Indonesia
dengan sangat jelas menentang keberadaan pernikahan anak di bawah umur. Jadi tidak ada
alasan lagi pihak pihak tertentu untuk melegalkan tindakan mereka yang berkaitan dengan
pernikahan anak di bawah umur.

Pemerintah harus berkomitmen serius dalam menegakkan hukum yang berlaku terkait
pernikahan anak di bawah umur sehingga pihak pihak yang ingin melakukan pernikahan
dengan anak di bawah umur berpikir dua kali terlebih dahulu sebelum melakukannya. Selain
itu, pemerintah harus semakin giat mensosialisasikan undang undang terkait pernikahan
anak di bawah umur beserta sanksi sanksi bila melakukan pelanggaran dan menjelaskan
resiko resiko terburuk yang bisa terjadi akibat pernikahan anak di bawah umur kepada
masyarakat, diharapkan dengan upaya tersebut, masyarakat tahu dan sadar bahwa pernikahan
anak di bawah umur adalah sesuatu yang salah dan harus dihindari. Upaya pencegahan
pernikahan anak dibawah umur dirasa akan semakin maksimal bila anggota masyarakat turut
serta berperan aktif dalam pencegahan pernikahan anak di bawah umur yang ada di sekitar
mereka. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat merupakan jurus terampuh sementara ini
untuk mencegah terjadinya pernikahan anak di bawah umur sehingga kedepannya di
harapkan tidak akan ada lagi anak yang menjadi korban akibat pernikahan tersebut dan anak
anak Indonesia bisa lebih optimis dalam menatap masa depannya kelak.

0 Comments | Read More

29Jan

dampak pernikahan dini


In Categorydampak pernikahan dini, Uncategorized

Byalfiyah23
Dampak Pernikahan Dini (perkawinan di bawah umur)

Baru saja kita mendengar berita diberbagai media tentang kyai kaya yang menikahi anak
perempuan yang masih belia berumur 12 tahun. Berita ini menarik perhatian khalayak karena
merupakan peristiwa yang tidak lazim. Apapun alasannya, perkawinan tersebut dari tinjauan
berbagai aspek sangat merugikan kepentingan anak dan sangat membahayakan kesehatan
anak akibat dampak perkawinan dini atau perkawinan di bawah umur. Berbagai dampak
pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur dapat dikemukakan sbb.

1. Dampak terhadap hukum

Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu:


a. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan
pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.

Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun
harus mendapat izin kedua orang tua.

b. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
1.) menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya dan;
2.) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

c. UU No.21 tahun 2007 tentang PTPPO


Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak yang
mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut.
Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak, agar anak tetap
memperoleh haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan
kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-undang tersebut.
Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk melindungi anak dari
perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua. Sesuai dengan 12 area kritis dari Beijing
Platform of Action, tentang perlindungan terhadap anak perempuan.

1. Dampak biologis

Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan
sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika
sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan
yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan
jiwa anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan
dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan
(penggagahan) terhadap seorang anak.

3. Dampak Psikologis

Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan
menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak
akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak
mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak
untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya
serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.

4. Dampak Sosial

Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang
bias gender, yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap
pelengkap seks laki-laki saja. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun
termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin). Kondisi
ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan
kekerasan terhadap perempuan.

5. Dampak perilaku seksual menyimpang

Adanya prilaku seksual yang menyimpang yaitu prilaku yang gemar berhubungan seks
dengan anak-anak yang dikenal dengan istilah pedofilia. Perbuatan ini jelas merupakan
tindakan ilegal (menggunakan seks anak), namun dikemas dengan perkawinan se-akan2
menjadi legal. Hal ini bertentangan dengan UU.No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
khususnya pasal 81, ancamannya pidana penjara maksimum 15 tahun, minimum 3 tahun dan
pidana denda maksimum 300 juta dan minimum 60 juta rupiah. Apabila tidak diambil
tindakan hukum terhadap orang yang menggunakan seksualitas anak secara ilegal akan
menyebabkan tidak ada efek jera dari pelaku bahkan akan menjadi contoh bagi yang lain.

Dari uraian tersebut jelas bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur (anak) lebih
banyak mudharat daripada manfaatnya. Oleh karena itu patut ditentang. Orang tua harus
disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau
anak dan harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak.
Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dapat mengajukan class-action kepada
pelaku, melaporkan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesai (KPAI), LSM peduli anak
lainnya dan para penegak hukum harus melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk
melihak adanya pelanggaran terhadap perundangan yang ada dan bertindak terhadap pelaku
untuk dikenai pasal pidana dari peraturan perundangan yang ada. (UU No.23 tahun 2002
tentang Perlindungan Anak, UU Perkawinan, UU PTPPO).

0 Comments | Read More

29Jan

faktor-faktor pernikahan dini


In Categoryfaktor - faktor pernikahan dini

Byalfiyah23

Dewasa ini banyak sekali remaja yang sudah terjerumus dalam jurang
kesesatan. Akan tetapi, mereka hampir tidak mempedulikanya. Memang benar, hal
yang paling menakutkan bagi remaja dalam pergaulan bebas mereka adalah masalah
kehamilan dan penyakit menular. Sehingga, saat pacaran mereka begitu selektif dan
ketat supaya tidak terjadi apa yang disebut dengan kehamilan atau tertular penyakit
seksual. Tapi teman remaja lupa, bahwa akar masalahnya justru aktivitas pacarannya
itu. Coba, dua insan berlainan jenis yang sedang dimabuk asmara, pasti menginginkan
untuk selalu bersama. Apabila rumahnya jauh, mereka hanya memencet angka di HP-
nya saja. Lalu tertawa melepas kerinduan, bahkan tak heran mereka membicarakan
hal-hal tentang pergaulan mereka. Dan bila ada kesempatan, langsung membuat janji
untuk bertemu. Pada akhirnya, jangan harap kamu bisa mengendalikan diri.

Sebelum beranjak ke faktor-faktor, sebaiknya menjelaskan apa arti dari


pacaran itu sendiri. Pada hakikatnya pacaran tidak diperbolehkan di agama. Selain itu,
pacaran mendekati zina.

Tuduh-menuduh atau tuding-menuding tentang siapa yang harus bertanggung-


jawab, boleh-boleh saja. Namun ingat, kita harus teliti dan jangan asal tuduh. Tapi
yang pasti, pacaran sudah menjadi gaya hidup remaja. Benar, sepertinya kalau tidak
melakukan itu takut dianggap kuno. Maka jangan heran bila semua media massa
memberikan gambaran yang dibutuhkan dan harus dijalani kaum remaja, dan pacaran
adalah salah satunya Perlu diketahui, bahwa anak gadis di sana, pada usia 17
diberikan kebebasan oleh ortunya untuk bergaul dengan teman pria mereka dengan
sesuka mereka. Yang penting jangan mengkonsumsi narkoba atau berbuat kriminal.

Dengan begitu, angka seks bebas di negara yang emang membiarkan terjadi
begitu terbukti tinggi. Sebagai contoh, dari data yang didapat PBB mengatakan bahwa
lebih dari 80% siswa SMU di Cina pernah melakukan hubungan seks bebas.
Celakanya lagi, mereka menganggap bahwa hal itu adalah hal yang biasa. Malah ada
yang menyetujui hubungan itu. Menurut hasil survei PBB ada 30,4% yang setuju
dengan seks bebas dan 47,8% yang berpikir hal itu bisa dimaklumi.

Itu bisa terjadi bila hubungan antara dua lawan jenis ini begitu dekat dan
lengket. Sebab, tidak mungkin terjadi hal itu bila hubungannya terjaga dengan benar
dan baik. Sementara dalam pacaran, kamu tahu sendiri bagaimana aktivitasnya? Liar!
Begitulah gambaran perbuatan yang mendekati dengan perzinaan. Dan sudah jelas
bahwa aktivtas zina itu adalah haram. Firman Allah Swt:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS al-Isr [17]: 32

Nikah dipersulit, gaul bebas dipermudah. Seringkali manusia suka terbalik


dalam menilai suatu perbuatan. Sebab, yang jadi patokan mereka dalam berbuat cuma
mengandalkan perasaan dan tidak mau menggunakan akalnya. akhirnya, sering dibuat
pusing oleh keputusannya sendiri. Dalam masalah pergaulan bebas, masyarakat suka
menilai bahwa baik dan buruknya suatu perbuatan hanya dilihat dari apakah
perbuatan itu menguntungkan baginya secara materi atau tidak. Itu salah besar. Sebab,
yang kita anggap baik, belum tentu baik dalam pandangan Allah. Dan begitupun
sebaliknya. Firman Allah Swt:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui (QS al-Baqarah [2]: 216).

Ini memang aneh, nikah yang memang ada syariatnya dipersulit, tapi gaul
bebas dipermudah. Buktinya, sarana untuk gaul bebas terus diciptakan dan
dipermudah aksesnya. Kalau dipikir secara logis ibadah yang ingin kita lakukan
dipersulit tapi, kalau mau mejalankan maksiat selalu dipermudah. Kalau untuk nikah
saja kita harus mengurus beragam administrasi. Selain itu kita masih dihadang dengan
peraturan pemerintah yang membatasi usia pernikahan dalam UU Perkawinan.

Itu termasuk kendala eksternal. Selain itu, memang ada juga kendala internal,
yakni belum siap mental dan belum punya biaya. Inilah dilema bagi remaja. Maka
jangan heran bila kemudian jalan keluar bagi remaja untuk menyalurkan naluri yang
tidak tertahankan itu mereka memilih melakukan seks bebas. Sehingga, makin
menambah keyakinannya bahwa MBA adalah jalan terbaik bila saat pacaran mereka
kebablasan. Bukan tak mungkin pula bila kemudian ada remaja yang nekat
menghamili pacarnya bila hubungan mereka tak direstui oleh ortunya. Dan ini sebagai
bukti bahwa ternyata nikah dipersulit kecuali kalau kecelakaan.

Kendala internal insyaAllah masih bisa dicari jalan keluarnya. Tapi kalau
sudah kendala eksternal itu sulit. karena melibatkan komponen yang lebih rumit dan
sulit diajak kompromi.

Inilah salah satu produk kapitalisme, yang memang membolehkan setiap


individu untuk berbuat sesukanya, sebab semuanya dijamin dengan kebebasan
bertingkah laku yang ada dalam peraturan HAM. Inilah rusaknya sistem demokrasi.

Dalam ajaran agama kita telah diatur dengan jelas, bagaimana seharusnya kita
bersikap dan bertingkah laku. Tentu supaya kita selamat di dunia dan di akhirat. Jadi
sebetulnya, nikah dalam usia dini lebih baik dari pada MBA. Nikah ibadah, gaul bebas
maksiat. Namun, bila kita masih belum mampu ke arah sana. Lebih baik hindari
pacaran, seringlah berpuasa, dan fokus belajar

Faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan dalam usia muda:

1. Menurut RT. Akhmad Jayadiningrat, sebab-sebab utama dari perkawinan usia muda
adalah:
a. Keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga

b. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda, baik
bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya.

c. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat.
Kebanyakan orang desa mengatakan bahwa mereka itu mengawinkan anaknya
begitu muda hanya karena mengikuti adat kebiasaan saja.

2. Terjadinya perkawinan usia muda menurut Hollean dalam Suryono disebabkan oleh:

a. Masalah ekonomi keluarga

b. Orang tua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki apabila mau
mengawinkan anak gadisnya.

c. Bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga


gadis akan berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab
(makanan, pakaian, pendidikan, dan sebagainya) (Soekanto, 1992 : 65).

Selain menurut para ahli di atas, ada beberapa faktor yang mendorong
terjadinya perkawinan usia muda yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat kita
yaitu :

a. Ekonomi

Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis
kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya
dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.

b. Pendidikan

Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan


masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang
masih dibawah umur.

c. Faktor orang tua


Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-
laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.

d. Media massa

Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian


Permisif terhadap seks.

e. Faktor adat

Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan
perawan tua sehingga segera dikawinkan.

0 Comments | Read More

29Jan

hukum pernikahan dini


In Categoryhukum pernikahan dini

Byalfiyah23

Hukum Pernikahan Dini

Pasal 6 ayat 2 UU No. 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa untuk melangsungkan suatu
perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin dari kedua
orang tua.

Namun dalam prakteknya didalam masyarakat sekarang ini masih banyak dijumpai sebagian
masyarakat yang melangsungkan perkawinan di usia muda atau di bawah umur. Sehingga
Undang-undang yang telah dibuat, sebagian tidak berlaku di suatu daerah tertentu meskipun
Undang-Undang tersebut telah ada sejak dahulu. Di Indonesia pernikahan dini berkisar 12-
20% yang dilakukan oleh pasangan baru. Biasanya, pernikahan dini dilakukan pada pasangan
usia muda usia rata-rata umurnya antara 16-20 tahun. Secara nasional pernikahan dini dengan
usia pengantin di bawah usia 16 tahun sebanyak 26,95%. Di Tasikmalaya sendiri khususnya
di desa Mandalagiri kecamatan Leuwisari kabupaten Tasikmalya yang telah melangsungkan
perkawinan pada usia muda berjumlah lebih dari 15 orang.

Padahal pernikahan yang ideal untuk perempuan adalah 21-25 tahun sementara laki-laki 25-
28 tahun. Karena di usia itu organ reproduksi perempuan secara psikologis sudah
berkembang dengan baik dan kuat serta siap untuk melahirkan keturunan secara fisik pun
mulai matang. Sementara laki-laki pada usia itu kondisi psikis dan fisiknya sangat kuat,
hingga mampu menopang kehidupan keluarga untuk melindungi baik sera psikis emosional,
ekonomi dan sosial.

Melakukan pernikahan tanpa kesiapan dan pertimbangan yang matang dari satu sisi dapat
mengindikasikan sikap tidak affresiatif terhadap makna nikah dan bahkan lebih jauh bisa
merupakan pelecehan terhadap kesakralan sebuah pernikahan. Sebagian masyarakat yang
melangsungkan perkawinan usia muda ini dipengaruhi karena adanya beberapa faktor-faktor
yang mendorong mereka untuk melangsungkan perkawinan usia muda atau di bawah umur.

0 Comments | Read More

29Jan

Pernikahan Dini
In Categorypernikahan dini

Byalfiyah23

Pernikahan dini
Pernikahan Dini merupakan sebuah nama yang lahir dari komitmen moral dan keilmuan yang
sangat kuat, sebagai sebuah solusi alternative, setidaknya menurut penawaran Prof. Dr.
Sarlito Wirawan Sarwono pada tahun 1983, melalui tulisannya berjudul Bagaimana Kalau
Kita Galakkan Perkawinan Remaja? Ketika fitnah syahwat kian tak terkendali, ketika seks
pranikah semakin merajalela, terutama yang dilakukan oleh kaum muda yang masih duduk di
bangku-bangku sekolah, tidak peduli apakah dia SMP bahkan SD, apalagi SMA maupun
perguruan tinggi.

Tapi sederet pertanyaan dan kekhawatiranpun muncul. Nikah diusia remaja, mungkinkah?
Siapkah mental dan materinya? Bagaimana respon masyarakat? Apa tidak mengganggu
sekolah? Dan masih banyaksederetpertanyaanlainnya.

Dari sisi psikologis, memang wajar kalau banyak yang merasa khawatir. Bahwa pernikahan
di usia muda akan menghambat studi atau rentan konflik yang berujung perceraian, karena
kekurangsiapan mental dari kedua pasangan yang masih belum dewasa betul. Hal ini terbaca
jelas dalam senetron Pernikahan Dini yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun
televisi. Beralasan memang, bahwa mental dan kedewasaan lebih berarti dari sekedar materi,
untuk menciptakan sebuah rumah tangga yang sakinah seperti yang diilustrasikan oleh
sinetron tersebut.

1. Pernikahan Dini dalam Perspektif Psikologi

Sebetulnya, kekhawatiran dan kecemasan timbulnya persoalan-persoalan psikis dan sosial


telah dijawab dengan logis dan ilmiah oleh Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya
Indahnya Pernikahan Dini, juga oleh Clarke-Stewart & Koch lewat bukunya Children
Development Through: bahwa pernikahan di usia remaja dan masih di bangku sekolah
bukan sebuah penghalang untuk meraih prestasi yang lebih baik, bahwa usia bukan ukuran
utama untuk menentukan kesiapan mental dan kedewasaan seseorang bahwa menikah bisa
menjadi solusi alternatif untukmengatasi kenakalan kaum remaja yang kian tak terkendali.

Di kedua buku itu (dan juga di sekitar kita) ada banyak bukti empiris dan tidak perlu
dipaparkan disini bahwa menikah di usia dini tidak menghambat studi, bahkan justru bisa
menjadi motivasi untuk meraih puncak prestasi yang lebih cemerlang (seperti tertera sederet
nama orang sukses yang melakukan pernikahan dini). Selain itu, menurut bukti-bukti (bukan
hanya sekedar teori) psikologis, pernikahan dini juga sangat baik untuk pertumbuhan emosi
dan mental, sehingga kita akan lebih mungkin mencapai kematangan yang puncak
(Muhammad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, 2002). Bahkan menurut Abraham M.
Maslow, pendiri psikologi humanistik yang menikah di usia 20 tahun, orang yang menikah di
usia dini lebih mungkin mencapai taraf aktualisasi diri lebih cepat dan lebih sempurna
dibanding dengan mereka yang selalu menunda pernikahan. Pernikahan yang sebenarnya,
menurut M. Maslow, dimulai dari saat menikah. Pernikahan akan mematangkan seseorang
sekaligus memenuhi separuh dari kebutuhan-kebutuhan psikologis manusia, yang pada
gilirannya akan menjadikan manusia, mampu mencapai puncak pertumbuhan kepribadian
yang mengesankan ibid).

Bagaimana dengan hasil penelitian di salah satu kota di Yogya bahwa angka perceraian
meningkat signifikan karena pernikahan dini? Ternyata, setelah diteliti, pernikahan dini yang
rentan perceraian itu adalah pernikahan yang diakibatkan kecelakaan (yang disengaja). Hal
ini bisa dimaklumi, sebab pernikahan karena kecelakaan lebih karena keterpaksaan, bukan
kesadaran dan kesiapan serta orientasi nikah yang kuat.

Adapun urgensi pernikahan terhadap upaya menanggulangi kenakalan remaja barangkali


tidak bias dibantah. Takut rasanya ketika kita mendengar hasil sebuah penelitian bahwa 90%
mahasiswi di salah satu kota besar di negara muslim ini sudah tidak perawan lagi. Pergaulan
bebas atau free sex sama sekali bukan nama yang asing di telinga kaum remaja, saat ini. Kita
akan menyaksikan kehancuran yang berlangsung pelan-pelan, tapi sangat mengerikan para
gadis (yang sudah tidak gadis lagi) hamil di luar nikah. Untuk menanggulangi musibah kaum
remaja ini hanya satu jawabnya: nikah.

1. Pernikahan Dini dalam Perspektif Agama

Jika menurut psikologis, usia terbaik untuk menikah adalah usia antara 19 sampai 25, maka
bagaimana dengan agama? Rasulullah saw.Bersabda:

Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mencapai baah, maka kawinlah.
Karena sesungguhnya kawin lebih bisa menjaga pada pandangan mata dan lebih menjaga
kemaluan. Bila tidak mampu melaksanakannya maka berpuasalah karena puasa baginya
adalah kendali (dari gairah seksual) (HR. Imam yang lima).

Hadits di atas dengan jelas dialamatkan kepada syabab (pemuda). Siapakah syabab itu?
Mengapa kepada syabab? Menurut mayoritas ulama, syabab adalah orang yang telah mencap
aqil baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Aqil baligh bisa ditandai dengan
mimpi basah (ihtilam) atau masturbasi (haid bagi wanita) atau telah mencapai usia limabelas
tahun. Ada apa dengan syabab?
Sebelumnya, menarik diperhatikan sabda Nabi savv,
perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan
pukullah mereka karena tidak mengerjakannya setelah berusia sepuluh tahun dan pisahkan
tempat tidurnya (Ahmad dan Abu Dawud).

Pesan Nabi di atas, selain bermakna sebagai pendidikan bagi anak juga menyimpan sebuah
isyarat bahwa padausia sepuluh tahun, seorang anak telah memiliki potensi menuju
kematangan seksual. Sebuah isyarat dari Nabi saw, Sembilan belas Abad yang silam. Kini,
dengan kemajuan teknologi yang kian canggih, media informasi (baik cetak atau elektronik)
yang terus menyajikan tantangan seksual bagi kaum remaja, maka tak heran apabila sering
terjadi pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak ingusan yang masih di bangku sekolah
dasar. Karenanya, Sahabat Abdullah bin Masud ra, selalu membangun orientasi menikah
kepada para pemuda yang masih single dengan mengajak mereka berdoa agar segera diberi
isteri yang shalihah.

Salah satu faktor dominan yang sering membuat kita terkadang takut melangkah adalah
kesiapan dari sisi ekonomi. Ini memang wajar. Tapi sebagai hamba yang beriman. Bukankah
Allah telah menjamin rezeki hamba-Nya yang mau menikah, seperti yang tersirat dalam
suratal-Nur ayat 32 yang artinya, dan jika mereka miskin maka Allah akan membuatnya
kaya dengan karunia-Nya. Bukankah Rasul-Nya juga menjamin kita dengan sabdanya,
Barang siapa yang ingin kaya, maka kawinlah.

0 Comments | Read More

28Jan

cinta dan perkawinan


In Categoryartikel cinta dan perkawinan, Uncategorized

Byalfiyah23

Cinta Dan Perkawinan


Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa
menemukannya?

Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan
tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan
ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa
membawa apapun.

Gurunya bertanya, Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?

Plato menjawab, Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur
kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak
tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut
Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting ranting yang
kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada
akhirnya

Gurunya kemudian menjawab Jadi ya itulah cinta

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, Apa itu perkawinan? Bagaimana saya
bisa menemukannya?

Gurunya pun menjawab Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh
mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah
jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa
itu perkawinan

Plato pun menjawab, Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah


hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini,
aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk
menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk
mendapatkannya

Gurunyapun kemudian menjawab, Dan ya itulah perkawinan

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.

Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah
kehampaan tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.

Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.


Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan
yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.

Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia sialah waktumu dalam mendapatkan
perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

0 Comments | Read More

2010 Sebab Sebab Pernikahan Dini . WordPress . Laptops


Bulettin Hukum Islam dan Kepenghuluan 11 menyukai ini

9 Desember 2012 pukul 16:10

PERNIKAHAN DINI MENURUT NEGARA DAN HUKUM ISLAM

Pernikahan merupakan salah satu syariat Islam yang bertujuan untuk


melestarikan kehidupan manusia dengan cara yang diridhai Allah SWT.
Oleh karena itu perlu persiapan yang matang sebelum melangkah ke
jenjang pernikahan demi mewujudkan keluarga yang bahagia sakinah
mawwaddah war rahmah.

Fenomena pernikahan dini bukanlah hal yang baru di Indonesia,


khususnya daerah Jawa. Bahkanzaman dulupernikahan di usia
matang akan menimbulkan preseden buruk di mata masyarakat.
Perempuan yang tidak segera menikah justru akan mendapat tanggapan
miring atau lazim disebut perawan kaseb. Namun image masyarakat
justru sebaliknya seiring perkembangan zaman. Arus globalisasi dan
perkembangan teknologi informasi yang melaju dengan kencang
mengubah cara pandang masyarakat. Perempuan yang menikah di usia
belia dianggap sebagai hal yang tabu. Bahkan lebih jauh lagi, hal itu
dianggap menghancurkan masa depan wanita, memberangus
kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan
dan wawasan yang lebih luas.

Isu pernikahan dini kembali marak dibicarakan sejak terjadinya pernikahan


dini yang dilakukan oleh Pujiono Cahyo Widianto, seorang hartawan
sekaligus pengasuh pesantren dengan Lutviana Ulfah. Pernikahan antara
pria berusia 43 tahun dengan gadis belia berusia 12 tahun ini
mengundang reaksi keras dari Komnas Perlindungan Anak. Bahkan dari
para pengamat berlomba memberikan opini yang bernada menyudutkan.
Umumnya komentar yang terlontar memandang hal tersebut bernilai
negatif. Di sisi lain, Syeh Puji memilih gadis yang masih belia karena
dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas dengan
dalih untuk mengader calon penerus perusahaannya.. Lagi pula dalam
pandangan Syeh Puji, menikahi gadis belia bukan termasuk larangan
agama.

Pernikahan Dini menurut Negara

Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa


perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan
belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas
tahun) tahun (UU Perkawinan di www.depag.go.id). Kebijakan pemerintah
dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui
proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah
pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis dan mental.

Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini mempunyai dampak


negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Menurut para sosiolog,
ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi
keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah
muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari
berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh
karenanya, pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun
untuk pria dan 16 tahun untuk wanita.

Pernikahan Dini menurut Hukum Islam

Prinsip Hukum Islam secara umum meliputi lima yaitu perlindungan


terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari kelima nilai
universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur
keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya
al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks
yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Seandainya
agama tidak mensyariatkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur
keturunan) akan semakin kabur (Ibrahim, al Bajuri hlm. 90 vol. 2 Toha
Putra, Semarang).

Dalam hal ini Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai
pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal
Undang-undang Perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah
pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Sementara dalam
kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh
orang yang belum baligh. Terlepas dari semua itu, masalah pernikahan
dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran
sejarah. Dan kini, isu tersebut kembali muncul ke permukaan. Hal ini
tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para
sarjana Islam klasik dalam merespons kasus tersebut.

Menurut Ibnu Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang


pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Karena nilai esensial
pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis, dan melanggengkan
keturunan sebagai tujuan pokok pernikahan. Sementara dua hal ini tidak
terdapat pada anak yang belum baligh. Ibnu Syubromah mencoba
melepaskan diri dari kungkungan teks. Memahami masalah ini dari aspek
historis, sosiologis, dan kultural yang ada. Sehingga dalam menyikapi
pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun),
Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw
yang tidak bisa ditiru umatnya.

Namun, mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini.


Pemahaman ini merupakan hasil interpretasi dari Al Quran Surat At
Thalaq 4. Disamping itu, sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi
Baginda Nabi dalam usia sangat muda. Begitu pula pernikahan dini
merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat. Bahkan sebagian ulama
menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus
pakar hukum Islam. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai
lemah dari sisi kualitas dan kuantitas, sehingga gagasan ini tidak
dianggap. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat
rapuh dan mudah terpatahkan (Ibnu Hajar al Asqalani, Fathul Bari vol.9
hlm.237 Darul Kutub Ilmiah, Beirut).

Dalam kamus haditsnya Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis
yang cukup menarik. Hadis pertama adalah Ada tiga perkara yang tidak
boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya, ketika ada jenazah,
dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang
setara/kafaah. Hadis Nabi SAW kedua berbunyi, Dalam kitab taurat
tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun
dan tidak segera dinikahkan, maka anak itu berdosa dan dosa tersebut
dibebankan atas orang tuanya (Jalaluddin Suyuthi, Jami al Shaghir
hlm.210 Darul Kutub Ilmiah, Beirut).

Pernikahan dini pada hakekatnya juga mempunyai sisi positif. Kita tahu,
dampak arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi saat ini
mempengaruhi cara pacaran muda mudi saat ini, pacaran yang dilakukan
oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma
agama. Kebebasan yang sudah melampui batas, dimana akibat kebebasan
itu kerap kita jumpai tindakan-tindakan asusila di masyarakat, pergaulan
bebas, hubungan suami istri dan hamil di luar nikah. Fakta ini
menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang
memprihatinkan. Hemat penulis, pernikahan dini merupakan upaya untuk
meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. Daripada terjerumus
dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan, jika sudah ada yang siap
untuk bertanggungjawab dan hal itu legal dalam pandangan syara
kenapa tidak ? Tentunya juga harus disertai dengan legalitas Negara yaitu
adanya Izin Dispensasi dari Pengadilan Agama sesuai dengan pasal 7 ayat
2 Undang-undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan sehingga
perkawinan yang dilakukan sah menurut hukum Islam dan sah menurut
Negara.

Pada dasarnya baik kebijakan pemerintah maupun hukum agama sama-


sama mengandung unsur maslahat. Pemerintah melarang pernikahan usia
dini adalah dengan berbagai pertimbangan di atas. Begitu pula agama
tidak membatasi usia pernikahan, ternyata juga mempunyai nilai positif.
Sebuah permasalahan yang cukup dilematis. Menyikapi masalah tersebut,
Izzudin Ibn Abdussalam dalam bukunya Qowaid al Ahkam. Beliau
mengatakan jika terjadi dua kemaslahatan, maka kita dituntut untuk
menakar mana maslahat yang lebih utama untuk dilaksanakan (Izzudin
Ibn Abd. Salam, Qowaid al Ahkam hlm.90 vol.II Darul Kutub Ilmiah,
Beirut). Kaedah tersebut ketika dikaitkan dengan pernikahan dini tentunya
bersifat individual-relatif. Artinya ukuran kemaslahatan di kembalikan
kepada pribadi masing-masing. Jika dengan menikah usia muda mampu
menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur kemaksiatan, maka
menikah adalah alternatif terbaik. Sebaliknya, jika dengan menunda
pernikahan sampai pada usia matang mengandung nilai positif, maka
hal itu adalah yang lebih utama. Wallahu Alam
Pernikahan Dini Kini di Indonesia Menjadi Hal
Yang Lumrah

Mendengar kata pernikahan dini di Indonesia


pasti sudah menjadi hal yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Pernikahan
dini juga dapat dikatakan dengan pernikahan dibawah umur yang kini
semakin menjamur di bumi kita pertiwi. Pernikahan dini ini sebenarnya
menghancurkan mimpi dan cita-cita seorang generasi muda yang juga
tentunya sebagiai generasi bagi bangsa Indonesia ini, bagaimana tidak
disaat umur yang masih produktif untuk menuntuk ilmu atau mengenyam
pendidikan dan menambah pengetahuan serta wawasan dimana
perkembangan semakin maju dan berkembang, cita-citanya harus
terhenti karena hanya satu kata yaitu pernikahan, pernikahan dini ini
juga rentan terhadap suatu penyakit yang akan mengganggu kesehatan.
Belum lagi bagi seorang kepala keluarga yang tanpa memiliki bekal yang
cukup dimana dia harus dituntut untuk bekerja karena harus menghidupi
keluarga kecilmnya. Kemungkinan besar mustahil dapat menghidupi
keluaarganya dengan layak dan memberikan gizi yang baik buat
keturunannya, danujung-ujungnya yang terjadi adalah keluarga yang
miskin dan berpendidikan rendah, belum lagi pernikahn dini ini rentan
terhadap suatu perceraian karena memang kedua pasangan ini masih
muda dimana fikirannya atau tingkat pemikirannya yang masih belum
matang atau belum dewasa dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Dari berbagai dampak yang sudah dijelaskan pernikahan dini ini secara
tidak langsung berdampak bagi Indonesia karena tingkat pendidikan yang
rendah yang akan meningkatkan tingkat pengangguran di Indonesia dan
menurunnya taraf ekonomi bangsa Indonesia. Pesatnya perkembangan
tekhnologi dan informasi di Era Globalisasi ini juga ikut andil tentunya
terhadap pernikahan dini yang semakin marak saat ini karena sudah jelas
para generasi muda yang masih belum cukupumur tetapi sudah dapat
menggunakan kecanggihan tekhnologi masa kini dihadapkan pada
budaya-budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya kita yaitu budaya
timur . maraknya situs-situs dewasa berupa video, gambar-gambar porno
yang dapat dengan mudahnya diunggah sehingga anak-anak yang belum
cukup umur atau para remaja dengan mudahnya mengunduh tersebut.
Dari yang tidak tahu menjadi tahu kemudian coba-coba dan akhirnya
terjadilah pernikahan dini ini. orang-orang yang hidup pada abad 20 atau
sebelum abad 20, pernikahan seorang wanita pada usia 13-16 Th/ pria
yang berusia 17-18 Th adalah hal yang biasa. Sedang di zaman yang
udah kayak gini sebenarnya praktek nikah muda sebenarnya adalah hal
yang tidak wajar , maka dari itu dari tidak wajar inilah yang banyak
sebagian remaja yang melakunkan nikah muda sehingga di Indonesia ini
nikah muda sudah tidak tidak asing lagi di telinga bangsa indonesia. Yang
lebih maraknya lagi banyak remaja wanita yang hamil diluar nikah dan
penyebabnya yang salah satunya ini juga diakibatkan oleh majunya
sistem komunikasi dan informasi di dunia maya. Hamil diluar nikah tentu
ada hubungannya dengan pernikahan dini, kalau bagi remaja yang sudah
terlanjur melakukan pastinya kemudian ujung-ujungnya akan menikah
muda bukan ? kalau gak nikah apa mampu menggung aib yang sudah
terlanjur terjadi. Pergaulan remaja saat ini sudah sangat memprihatinkan,
terutama remaja wanita yang masih duduk dibangku SMP/SMA hampir
rata-rata sudah berpacarabn, tetapi bukan pacaran yang ala cinta monyet
seperti dahulu melainkan sudah melakukan hubungan intim layaknya
suami istri dan parahnya lagi alasannya karena takut diputus pacar atau
karena coba-coba yang biasanya sang pacar adalah yang masih dalam
usia remaja juga. Bagi para remaja-remaja baik pria atau wanita kembali
lagi jika ingin menghindari dampak dari perkembanagan tekhnologi
informasi dan komunikasi ini, kita harus enambah iman dan taqwa kita
kepada sang Pencipta tentunya . perkuat benteng keimanan kita dan jaga
perilaku kita masing-masing agar dapat terhindar dari kerasnya dan
kejamnya tantangan di Era Globalisasi ini. Sebelum terjadinya nikah muda
pikirlah dampak kedepannya dan jangan pikirkan kesenangan semu ,
karena jika kalian sudah salah langkah tentunya akan menghamncurkan
jalan menuju masa depan menuju cita-cita yang sudah kalian inginkan
dan kalian tata seblumnya. Itulah sekilas tentang PERNIKAHAN DINI,
remaja-remaja yang menmbaca ini semoga dengan membaca ini yang
mau niat untuk nikah muda menjadi pertimbangan kembali dalam
engambil keputusan untuk nikah muda . amiiien !!!!!!
Hemm.itulah dampak-dampak dari pernikahan dini , jadi bagi remaja-
remaja baik pria maupun wanita jangan pernah coba-coba dengan yang
namanya SEX ..... OK !!!!
Viny Arviana

Kamis, 10 Maret 2011


FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERNIKAHAN DINI
Dari banyak kasus pernikahan dini yang terjadi di Bantul, umumnya disebabkan
karena:

1. Faktor Pendidikan.

Peran pendidikan anak-anak sangat mempunyai peran yang besar. Jika seorang
anak putus sekolah pada usia wajib sekolah, kemudian mengisi waktu dengan
bekerja. Saat ini anak tersebut sudah merasa cukup mandiri, sehingga merasa
mampu untuk menghidupi diri sendiri.

Hal yang sama juga jika anak yang putus sekolah tersebut menganggur. Dalam
kekosongan waktu tanpa pekerjaan membuat mereka akhirnya melakukan hal-
hal yang tidak produktif. Salah satunya adalah menjalin hubungan dengan lawan
jenis, yang jika diluar kontrol membuat kehamilan di luar nikah.

Disini, terasa betul makna dari wajib belajar 9 tahun. Jika asumsi kita anak
masuk sekolah pada usia 6 tahun, maka saat wajib belajar 9 tahun terlewati,
anak tersebut sudah berusia 15 tahun. Di harapkan dengan wajib belajar 9 tahun
(syukur jika di kemudian hari bertambah menjadi 12 tahun), maka akan punya
dampak yang cukup signifikan terhadap laju angka pernikahan dini.

2. Faktor Pemahaman Agama.

Saya menyebutkan ini sebagai pemahaman agama, karena ini bukanlah sebagai
doktrin. Ada sebagian dari masyarakat kita yang memahami bahwa jika anak
menjalin hubungan dengan lawan jenis, telah terjadi pelanggaran agama. Dan
sebagai orang tua wajib melindungi dan mencegahnya dengan segera
menikahkan anak-anak tersebut.

Ada satu kasus, dimana orang tua anak menyatakan bahwa jika anak menjalin
hubungan dengan lawan jenis merupakan satu: perzinahan. Oleh karena itu
sebagai orang tua harus mencegah hal tersebut dengan segera menikahkan.
Saat mejelishakim menanyakan anak wanita yang belum berusia 16 tahun
tersebut, anak tersebut pada dasarnya tidak keberatan jika menunggu dampai
usia 16 tahun yang tinggal beberapa bulan lagi. Tapi orang tua yang tetap
bersikukuh bahwa pernikahan harus segera dilaksanaka. Bahwa perbuatan anak
yang saling sms dengan anak laki-laki adalah merupakan zina. Dan sebagai
orang tua sangat takut dengan azab membiarkan anak tetap berzina.

3. Faktor telah melakukan hubungan biologis.

Ada beberapa kasus, diajukannya pernikahan karena anak-anak telah melakukan


hubungan biologis layaknya suami istri. Dengan kondisi seperti ini, orang tua
anak perempuan cenderung segera menikahkan anaknya, karena menurut orang
tua anak gadis ini, bahwa karena sudah tidak perawan lagi, dan hal ini menjadi
aib.

Tanpa mengenyampingkan perasaan dan kegalauan orang tua, saya


menganggap ini sebuah solusi yang kemungkinan di kemudian hari akan
menyesatkan anak-anak. Ibarat anak kita sudah melakukan suatu kesalahan
yang besar, bukan memperbaiki kesalahan tersebut, tetapi orang tua justru
membawa anak pada suatu kondisi yang rentan terhadap masalah. Karena
sangat besar di kemudian hari perkawinan anak-anak tersebut akan dipenuhi
konflik.

4. Hamil sebelum menikah

Ini saya pisahkan dari faktor penyebab di atas, karena jika kondisi anak
perempuan itu telah dalam keadaan hamil, maka orang tua cenderung
menikahkan anak-anak tersebut. Bahkan ada beberapa kasus, walau pada
dasarnya orang tua anak gadis ini tidak setuju dengan calon menantunya, tapi
karena kondisi kehamilan si gadis, maka dengan terpaksa orang tua menikahkan
anak gadis tersebut.

Bahkan ada kasus, justru anak gadis tersebut pada dasarnya tidak mencintai
calon suaminya, tapi karena terlanjur hamil, maka dengan sangat terpaksa
mengajukan permohonan dispensasi kawin.

Ini semua tentu menjadi hal yang sangat dilematis. Baik bagi anak gadis, orang
tua bahkan hakim yang menyidangkan. Karena dengan kondisi seperti ini, jelas-
jelas perkawinan yang akan dilaksanakan bukan lagi sebagaimana perkawinan
sebagaimana yang diamanatkan UU bahkan agama. Karena sudah terbayang di
hadapan mata, kelak rona perkawinan anak gadis ini kelak. Perkawinan yang
dilaksanakan berdasarkan rasa cinta saja kemungkinan di kemudian hari bias
goyah,apalagi jika perkawinan tersebut didasarkan keterpaksaan (baca;
kehamilan).
Dampak Akibat Dari Pernikahan Dini
Pusat Informasi HeQris, Senin, Juli 01, 2013 Relationship 8 comments

heqris.com - Pernikahan dini kini menjadi sorotan publik. Pernikahan dini di


zaman puluhan tahun yang lalu mungkin adalah hal yang lumrah alias wajar-
wajar saja. Bahkan dalam beberapa budaya, pernikahan dini menjadi suatu
budaya yang dilestarikan hingga saat ini Namun pernikahan dini sekarang
menjadi suatu fenomena yang menarik perhatian banyak pihak. Hal ini
dikarenakan dampak yang mungkin terjadi setelah pernikahan dini.

Pernikahan dini adalah sebuah bentuk ikatan/pernikahan yang salah satu atau
kedua pasangan berusia di bawah 18 tahun atau sedang mengikuti pendidikan di
sekolah menengah atas. Jadi, sebuah pernikahan disebut pernikahan dini jika
kedua atau salah satu pasangan berusia di bawah 18 tahun.

Banyak yang bilang bahwa pernikahan dini memiliki dampak negatif bagi
pasangan yang melakukan nikah dini. Hal ini jelas bisa dibenarkan. Berikut
adalah beberapa dampak negatif akibat pernikahan dini:

Secara Psikologi
Kondisi mental yang cenderung masih labil dikhawatirkan akan memberikan
dampak negatif bagi psikologi sang anak, apalagi bila belum memiliki
pengetahuan mendalam tentang perkawinan dan kehidupan berumah tangga,
termasuk semua hak dan kewajiban yang akan dijalani setelah pernikahan.

Pernikahan dini juga diklaim sebagai salah satu penyebab populer tindakan
kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi karena cara berpikir yang belum
dewasa.

Bahaya bagi kesehatan


Menikah di usia belia bisa berbahaya bagi kesehatan. Hal ini terutama
berdampak pada perempuan, karena memiliki risiko saat mengandung dan
melahirkan nanti.

Secara medis, menikah di usia yang terlalu muda dapat mengubah sel normal
(sel yang biasa tumbuh pada anak-anak) menjadi sel ganas yang akhirnya dapat
menyebabkan infeksi kandungan bahkan kanker. Sedangkan di dunia kebidanan,
hamil di bawah usia 19 tahun memiliki risiko kesehatan seperti mudah menderita
anemia, bahkan paling buruk bisa menyebabkan kematian. Fisik remaja pun
dinilai belum kuat dan mungkin akan membahayakan proses persalinan.

Tak hanya bagi sang calon ibu, calon bayi pun ikut dibahayakan, misalnya bayi
lahir dengan berat rendah, cedera saat lahir, ataupun komplikasi persalinan yang
berdampak pada tingginya mortalitas.

Perekonomian
Dari sisi ekonomi, pernikahan dini seringkali menyebabkan kesulitan ekonomi
yang dikarenakan pasangan terlalu muda yang belum mapan dalam memenuhi
kebutuhan sendiri.

Begitulah pernikahan dini dari sisi negatif. Lalu apakah ada sisi positif dari
pernikahan dini yang memberikan manfaat? tentu saja. Apa sajakah? Berikut
ulasannya.

Mengurangi kasus penyimpangan seks


Seks yang tidak disalurkan akan menimbulkan stres yang tidak baik bagi
perkembangan mental. Namun bila tidak disalurkan dengan tepat dan benar
sesuai peraturan agama dan kesehatan, akan terjadi penyimpangan seks seperti
perzinahan ataupun perkosaan.

Punya lebih banyak kesempatan memiliki keturunan


Salah satu alasan menikah adalah memiliki keturunan. Perempuan berusia 20
hingga 35 tahun memiliki waktu subur terbaik. Hal ini tentunya bisa menjadi
dampak positif bila sang Istri tidak berusia dibawah 19 tahun.

Dan yang paling pasti adalah pernikahan dini memberikan lebih banyak
kesempatan untuk beribadah. Bagaimana tidak, di usia yang dini, pasangan
muda sudah menjalankan ibadah menikah, saling mengurusi satu sama lain, dan
mencari nafkah.

Dua sisi dampak akibat dari pernikahan dini ini memang tidak akan pernah
selesai dibahas, tinggal bagaimana seseorang menilainya, dari segi positif atau
dari sisi negatif.
Rabu, 04 Mei 2011
Faktor-faktor Pernikahan Dini
Faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan dalam usia muda :

1. Sebab-sebab utama dari perkawinan usia muda adalah :

Keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga

Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda,


baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya.

Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat.
Kebanyakan orang desa mengatakan bahwa mereka itu mengawinkan
anaknya begitu muda hanya karena mengikuti adat kebiasaan saja.

2. Terjadinya perkawinan usia muda menurut Hollean dalam Suryono disebabkan


oleh:

Masalah ekonomi keluarga

Orang tua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki


apabila mau mengawinkan anak gadisnya.

Bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam


keluarga gadis akan berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi
tanggung jawab (makanan, pakaian, pendidikan, dan sebagainya)
(Soekanto, 1992 : 65).

Selain menurut para ahli di atas, ada beberapa faktor yang mendorong
terjadinya perkawinan usia muda yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat
kita yaitu :

a. Ekonomi

Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis
kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya
dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.

b. Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan
masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang
masih dibawah umur.

c. Faktor orang tua

Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan
laki-laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.

d. Media massa

Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian


Permisif terhadap seks.

e. Faktor adat

Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan
perawan tua sehingga segera dikawinkan.
Eksploitasi Anak dalam Pernikahan Dini

OPINI | 23 July 2013 | 08:37 Dibaca: 407 Komentar: 0 0

Kasus pernikahan Syekh Puji dan Lutfiana Ulfa (12 tahun) dan mantan Bupati
Garut Aceng Fikri dengan Fani Oktara (17 tahun 9 bulan) adalah hanya sebagian
contoh kecil dari eksploitasi anak-anak melalui pernikahan dini yang telah
merenggut hak anak untuk hidup tumbuh dan berkembang secara wajar. Data
BKKBN pada tahun 2012 menyebutkan bahwa Indonesia menduduki rangking 37
dunia dalam hal pernikahan dini dan tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja.
Selain itu, anak perempuan lebih sering mendapatkan beban ganda sebagai
anak dan sebagai perempuan dalam pernikahan dini. Hal ini dapat dilihat dari
tingginya prosentase anak perempuan yang menikah dini pada usia kurang dari
15 tahun sebanyak 0,2% dan pada usia 15-19 tahun sebanyak 11,7 % sedangkan
anak laki-laki sebanyak 1,6 %. Fenomena ini hanyalah gunung es dari fakta
sesungguhnya mengingat masih banyaknya pernikahan anak di bawah tangan
yang terjadi di Indonesia.

Dilema perundang-undangan di Indonesia menjadi salah satu penyebabnya.


Pasal 7 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa usia
perkawinan yang sah adalah jika anak laki-laki berusia 19 tahun dan anak
perempuan berusia 16 tahun. Sedangkan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak jelas menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang
belum berusia 18 tahun. Perbedaan tafsir tentang anak ini tentu menjadi
kendala bagi penegakan hukum perlindungan anak khususnya pernikahan anak-
anak. Pada praktiknya, KUA sebagai tempat pencatatan pernikahan tidak dapat
menolak jika ada anak perempuan usia 16-18 tahun yang akan menikah.
Penyesuaian undang-undang perkawinan yang memiliki perspektif perlindungan
anak sangat penting dan harus segera dilaksanakan.

Pernikahan pada usia anak memiliki banyak kelemahan. Pertama, masa anak-
anak adalah masa bereksplorasi, bermain, berkreasi, dan belajar agar dapat
tumbuh dan berkembang secara baik sesuai usianya. Anak-anak yang menikah
pada usia dini akan kehilangan pondasi perkembangan sebagai anak-anak
karena harus berhadapan dengan dunia keluarga yang jauh dari usia
perkembangannya. Akibatnya, anak dengan pernikahan dini akan mengalami
tekanan psikis yang akan berakibat pada pernikahannya maupun kepada
anaknya jika kelak ia memiliki anak. Lebih jauh lagi, pernikahan anak akan
mempengaruhi kualitas keluarga dan berdampak langsung pada rendahnya
kesejahteraan keluarga. Kedua, secara fisik organ reproduksi anak-anak belum
siap untuk melakukan hubungan suami istri apalagi secara psikis. Belum
kuatnya fungsi rahim dan hormonal pada usia anak-anak serta kurang pahamnya
perawatan pada masa kehamilan berakibat pada rentannya kehamilan seperti
terjadinya tekanan darah tinggi, lahir prematur serta berat bayi lahir rendah,
serta tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Ketiga, pernikahan dunia juga berakibat pada terhentinya salah satu hak anak
yaitu mendapatkan pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara untuk
peningkatan kualitas hidup warga sementara pada sebagian besar kasus anak
dengan pernikahan dini terhenti pendidikannya. Selain itu, banyak pihak masih
berpikir ketika anak hamil tidak berhak mengikuti Ujian Akhir Nasional. Tentu kita
sepakat untuk tidak setuju pada kehamilan yang terjadi pada anak-anak, namun
membiarkan anak putus sekolah adalah bentuk pelanggaran hak anak untuk
mendapatkan pendidikan. Lebih jauh lagi, membiarkan anak dengan pernikahan
dini putus sekolah akan membuat kemiskinan berulang serta kemungkinan
kejadian pernikahan anak-anak pada generasi selanjutnya terus berlanjut.

Beberapa penyebab pernikahan dini antara lain budaya, dalih agama, putus
sekolah, ekonomi, serta modernisasi. Meskipun pengaruh budaya mulai luntur,
namun masih banyak keluarga yang berpikiran jika anaknya terlambat menikah
akan mempermalukan keluarga sehingga mereka mendorong anaknya segera
menikah walau masih belia. Ada pula keluarga yang memaksa anaknya menikah
walau masih berusia anak-anak dengan alasan daripada pacaran yang
mendekati zina, lebih baik dinikahkan. Sayang, alternatif yang diberikan hanya
dinikahkan dan tidak ada pilihan lain seperti berdialog dampak positif negatif
pacaran, mengenal pernikahan, serta alternatif mengisi waktu lainnya. Ada pula
keluarga yang beranggapan dengan dalih ajaran agama bahwa jika perempuan
telah dipinang maka tabu untuk menolaknya walaupun anaknya masih belia.

Kesadaran masyarakat tentang pendidikan masih kurang yang menyebabkan


anak putus sekolah dan terdorong untuk cepat menikah. Temuan BKKBN
menyebutkan di beberapa daerah industri, perbaikan tingkat ekonomi tidak
diimbangi dengan peningkatan kualitas warga dalam hal pendidikan. Di daerah
industri ini anak usia SMP banyak yang putus sekolah dan menikah. Lebih jauh,
tekanan ekonomi keluarga sering mendorong keluarga untuk mempekerjakan
anaknya atau menikahkannya agar meringankan beban keluarga. Dalam hal ini
terlihat jelas bahwa anak menjadi korban eksploitasi untuk pemenuhan ekonomi
keluarga. Dalam kasus Ulfa dan Syeikh Puji misalnya pernikahan tersebut
dianggap telah mengangkat derajat ekonomi Ulfa dan keluarga.

Modernisasi yang tidak diimbangi dengan pengetahuan yang matang untuk


menghadapi era teknologi juga menjadi faktor pemicu pernikahan dini. Orang
tua seringkali ingin mengikuti perkembangan zaman dengan memberikan akses
teknologi seperti hp dan internet tanpa mengimbangi dengan pola asuh yang
tepat. Hasilnya anak belajar tentang hal-hal yang kurang tepat melalui teknologi
misalnya tentang pergaulan bebas. Akibatnya, kehamilan tidak diinginkan pada
anak-anak cukup tinggi yang menyebabkan anak dinikahkan dengan tujuan agar
keluarga tidak menanggung malu.

Penguatan peran orang tua untuk mendidik anak dan mencegah pernikahan dini
menjadi kunci utama. Hal ini sejalan dengan UU Perlindungan Anak pasal 26 ayat
1c bahwa orang tua wajib dan bertanggung jawab mencegah terjadinya
perkawinan pada usia anak-anak. Penghargaan terhadap pendapat anak sebagai
salah satu prinsip dasar Konvensi Hak Anak menjadi penting untuk diterapkan
apalagi menyangkut masa depan anak itu sendiri. Pada kasus pernikahan anak-
anak, orang tua lebih banyak dominan dan tidak melibatkan anak-anak sebagai
subjek untuk berpendapat. Pemenuhan wajib belajar 9 tahun juga akan menjadi
salah satu upaya preventif terjadinya pernikahan dini. Hal ini sesuai dengan UU
Perlindungan Anak pasal 48 yang menyebutkan bahwa pemerintah wajib
menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 tahun untuk semua anak.
Penelitian di berbagai dunia membuktikan pendidikan dapat mengurangi
terjadinya pernikahan dini. Begitu pula peran guru, aparat pemerintah dari desa,
kecamatan, KUA, hingga pengadilan agama untuk mencegah pernikahan dini
menjadi kunci keberhasilan pencegahan pernikahan anak-anak sebagai upaya
perlindungan hak anak di Indonesia masa yang akan datang.

BKKBN, Pokja Analisis Dampak Sosial Ekonomi Terhadap Kependudukan,


Ditdamduk, Kajian

Pernikahan Dini Pada Beberapa Provinsi Di Indonesia: Dampak Overpopulation,


Akar

Masalah dan Peran Kelembagaan di Daerah, 2012

BPS masih menggunakan kategorisasi usia 15-19 tahun tidak 15-18 sebagai batasa usia anak.

BKKBN, Pokja Analisis Dampak Sosial Ekonomi Terhadap Kependudukan,


Ditdamduk, Ibid.

Laporkan

Tanggapi

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota
Kompasiana) yang
Keuntungan Menikah Sebelum Umur 30

Oleh Innes | ghiboo.com Jum, 13 Sep 2013 11:30 WIB

Email

Sarankan

506

Tweet

Cetak

Related Content

Lihat Foto

Penyesalan Perempuan yang Terlambat Menikah

Ghiboo.com - Ada alasan mengapa perempuan harus menikah sebelum usia 30. Bukan
supaya Anda terlihat 'laku' tapi lebih berhubungan dengan nasib keluarga di masa depan.

Masa subur perempuan turun setelah usia 35 tahun. Dan Anda yang berusaha memiliki anak
setelah usia tersebut, menghadapi risiko kesehatan lebih besar dibandingkan para perempuan
muda.

Perempuan yang lebih tua lebih mungkin mengalami keguguran, komplikasi kehamilan dan
melahirkan bayi yang berat badannya kurang atau terlahir prematur.

Perempuan di atas 35 tahun juga cenderung memiliki bayi dengan kelainan genetik (autisme).
Pada usia 30, wanita memiliki 1:1.000 kesempatan melahirkan bayi kelainan genetik
dibandingkan saat berusia 35 tahun yang menjadi 1:400 dan usia 40 tahun meningkat menjadi
1:100.

Hal ini juga berlaku bagi perempuan menikah yang sengaja menunda kehamilan
demi mengejar karier.