Anda di halaman 1dari 15

Topik : Kejang Demam Sederhana

Presenter :
Tanggal MRS : 15 Maret 2016
dr. Ria Cintya Pangestika
Tanggal Periksa : 15 Maret 2016
Pendamping :
Tanggal Presentasi : 31 Januari 2017
dr. Musa Ghufron, MMR
Tempat Presentasi : RS Muhammadiyah Gresik
Objektif Presentasi : Keilmuan, Masalah, Diagnostik
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Anak laki-laki, 1 tahun 6 bulan, riwayat panas sejak 1 hari sebelum dibawa ke RS
Deskripsi :
dan sempat kejang 1 kali saat di rumah, saat ini lemas.
Memaparkan kasus yang telah ditangani di Rawat Inap. Mengumpulkan referensi
Tujuan : ilmiah untuk menghadapi kasus yang didapatkan. Menyelesaikan kasus yang
dihadapi dengan solusi yang terbaik.
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Bahasan :
Cara
Presentasi dan Diskusi Diskusi E-Mail Pos
Membahas :
Data Pasien : An. MF / laki-laki / 1 tahun 6 bulan No. Regitrasi : 185164
Nama RS : RS Muhammadiyah Gresik Telp : Terdaftar sejak:15 Maret 2016

Data Utama Untuk Bahan Diskusi

1. Diagnosis / Gambaran klinis:


Alloanamnesis dengan ibu penderita dilakukan pada tanggal 15 Maret 2016 pukul 10.00
WIB di Ruang Shofa (Rawat Inap Anak) 4 dan didukung dengan catatan medis.
Keluhan Utama : Kejang Demam
Keluhan Tambahan : Bapil
Riwayat Penyakit Sekarang :
1 hari sebelum masuk rumah sakit, malam hari, ibu pasien mengatakan bahwa
anak tiba-tiba panas tinggi (suhu tidak diketahui karena pasien tidak memiliki
termometer) meskipun saat sore hanya nyumer, kejang (-), menggigil (-), mengigau (-),
batuk (+) kadang-kadang muncul, berdahak, dan tidak mengganggu saat tidur, sesak
(-), pilek (+), pasien mau makan dan minum, mual (-), muntah (-). BAB (+) 1x sehari,
warna kuning, konsistensi lunak, lendir (-), darah (-). BAK (+) lancar, banyak, saat
kencing tidak menangis. Oleh orang tua pasien diberikan paracetamol sirup 1 cth.
Panas berkurang tetapi beberapa jam setelah pemberian obat, suhu tubuh pasien naik
lagi.
0 hari masuk rumah sakit, pasien datang ke IGD RS Muhammadiyah Gresik
dengan digendong oleh ibunya dengan keluhan kejang. Kejang terjadi 10 menit yang
lalu, 1 kali dalam 1 hari. Kejang didahului demam tinggi. Anak mengalami kejang
kurang dari 2 menit, dengan kedua lengan dan tungkai kaku, telapak tangan mengepal, kedua
mata melirik keatas. Saat kejang pasien tidak sadar, setelah kejang pasien menangis.
Sesampainya di IGD, suhu tubuh pasien 39,80C (axilla) dan oleh dokter jaga disarankan
untuk rawat inap. Riwayat kejang sebelumnya disangkal, ini merupakan kejang
pertama kali. Batuk (+), sesak (-), pilek (+), pasien mau makan dan minum, mual (-),
muntah (-), BAB (+) terakhir 3 jam, konsistensi lunak, lendir (-), darah (-). BAK (+)
lancar.

2. Riwayat Pengobatan:
Pasien baru pertama kali kejang dan belum diberikan pengobatan kejang sebelumnya.

3. Riwayat Kesehatan / Penyakit:


Tidak pernah dirawat di RS dan tidak ada riwayat kejang sebelumnya.
Keluhan batuk > 3 minggu, demam > 2 minggu, mimisan, gusi berdarah, dan
munculnya bintik-bintik merah di kulit pasien disangkal, berat badan anak selalu naik,
nafsu makan baik.
Ibu pasien mengatakan pasien tidak pernah mengalami benturan keras di
kepala, tidak pernah mengalami luka dalam dan kotor akibat terjatuh.

4. Riwayat Keluarga: Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal serupa seperti pasien.

5. Riwayat Pekerjaan: -

6. Riwayat Kelahiran dan Perkembangan : neonatus aterm, vigorous baby, lahir secara
spontan. Riwayat pemeliharaan prenatal dan postnatal baik. Pertumbuhan dan
perkembangan anak sesuai dengan umur.

7. Riwayat Imunisasi
BCG : 1 x (umur 1minggu, scar di lengan kanan atas)
DPT : 3 x (umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan)
Polio : 5 x (saat lahir, umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 18 bulan)
Hepatitis: 3 x (saat lahir, umur 1 bulan, dan 6 bulan)
Campak : 1 x (umur 9 bulan)
Kesan : Imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal pada KMS

8. Riwayat Sosial Ekonomi


Ayah pasien bekerja swasta sebagai tenaga kerja pabrik, sedangkan Ibu pasien adalah ibu
rumah tangga. Menanggung 1 orang anak. Biaya pengobatan menggunakan BPJS.

9. Pemeriksaan Fisik:
1. Status Generalis
Kesadaran : composmentis
Keadaan Umum : lemas, tampak sakit sedang, kesan gizi baik, kejang (-)
2. Vital Sign :
Tekanan darah : tidak dilakukan
HR (Nadi) : 124x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
RR (Laju Nafas) : 35x/menit, reguler
Suhu : 37.5o C (axilla)
3. Status Gizi
Anak laki-laki, usia 1 tahun 6 bulan
Berat badan : 10 kg Panjang badan : 77 cm
Pemeriksaan status gizi (Z score) :
WAZ = BB median = 10-10,8 = -0.72 (Normal)
SD 1,10
HAZ = TB median = 77 82,4 = -1,8 (Normal)
SD 3,00
WHZ = BB median = 10 10 = 0 (Normal)
SD 0,8
Kesan : status gizi baik dan perawakan normal seusianya.
4. Status Internus
Kepala : mesocephale, ubun-ubun besar cekung (-)
Kulit : Sianosis (-), ikterus (-), edema (-), tandaperdarahan (-), sikatriks (-).
Rambut : hitam, terdistribusi merata
Mata : mata cowong -/-, pupil isokor +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-, edema palpebra -/-
Hidung : sekret -/- , nafas cuping hidung -/-, mukosa hiperemis +/+
Telinga : discharge -/-
Mulut : bibir kering (-) , bibir sianosis (-) , trismus (-)
Tenggorokan : tonsil T1/T1, detritus(-), granulasi (-), mukosa faring hiperemis (+)
Leher : tidak ada pembesaran KGB
Thoraks :
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : suara jantung I-II normal, suara tambahan (-)
Paru - paru
Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris saat inspirasi dan ekspirasi,
retraksi (-)
Palpasi : stem fremitus hemithorax D=S
Perkusi : sonor di seluruh paru
Auskultasi : suara napas vesikuler seluruh lapang paru, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen
Inspeksi : datar
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani di seluruh kuadran
Palpasi :supel, turgor kembali cepat, hepar lien tidak teraba, nyeri tekan (-)
Alat kelamin : laki-laki dalam batas normal
Anorektal : dalam batas normal, hiperemis (-)

Ekstremitas :
Superior Inferior
Akral dingin -/- -/-
Akral sianosis -/- -/-
Oedem -/- -/-
CRT <2 <2

5. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium (15 Maret 2016)
Jenis Hasil
Leukosit 9,78 ribu/uL
Hb 12,3 gr%
Eritosit 4,63 juta/uL
Hematokit 34,4%
Trombosit 336.000/uL
WIDAL -

Daftar Pustaka
1. Antonius H, dkk. 2010. Pedoman Pelayanan Medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jilid 1.
2. Deliana, M. Tata Laksana Kejang Demam pada Anak. Sari Pediatri, vol 4, No. 2,
September 2002: 59-62
3. IDAI. 2006. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam: Unit Kerja Koordinasi Neurologi
Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Lynette G and Ingrid E. Febrile Seizures. BMJ 2007;334;307-311;
Http://bmj.com/cgi/content/full/334/7588/307
5. Saing B. Faktor pada kejang demam pertama yang berhubungan dengan terjadinya kejang
demam berulang (Studi selama 5 tahun). Medan: Balai Penerbit FK-USU, 1999:144.

Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis KDS
2. Klasifikasi KDS
3. Etiologi dan Faktor Risiko KDS
4. Patofisiologi KDS
5. Penatalaksanaan KDS
6. Evaluasi Pengobatan
7. Edukasi

Asessment : Kejang demam sederhana

Plan :
Diagnostic : S:-
O:
Cek darah rutin ulang pada panas hari ke 4
Cek gula darah, elektrolit, dan kalsium serum
Pemeriksaan CT Scan (atas indikasi)
Pemeriksaan EEG (atas indikasi)
Pemeriksaan lumbal pungsi (atas indikasi)
Tatalaksana : Infus D5 NS
o Kebutuhan cairan rumatan:
10 x 100cc = 1000 cc/24 jam
Inj. Paracetamol 100mg diberikan tiap 6 jam
Inj. Diazepam 3 mg jika terjadi kejang ulang
Pemberian antibiotik empirik dalam puyer, dibagi 3 dosis
Monitoring : Evaluasi KU dan TTV, kejang berulang
Konsultasi perkembangan ke Dokter Spesialis Anak
Edukasi : - Menerangkan pada keluarga pasien tentang kondisi dan
penyakit pasien
- Menjelaskan pada keluarga pasien tentang pengobatan yang
diberikan
- Mengingatkan keluarga pasien untuk mencegah kejang
terulang dan edukasi faktor resiko
- Saat pasien kejang :
1. Tetap tenang dan tidak panic
2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher
3. Posisikan anak terlentang dengan kepala miring untuk
mencegah aspirasi lambung.
4. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung.
Jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut.
5. Ukur suhu, observasi dan catat lama kejang dan bentuk
kejang.
6. Berikan diazepam rectal 10mg, dapat diulang dalam
interval 5 menit. Dan jangan diberikan bila kejang telah
berhenti.
7. Bawa ke Dokter atau Rumah Sakit bila kejang
berlangsung 5 menit atau lebih dan tidak berhenti
setelah pemberian diazepam rectal ulangan.
DEFINISI
Kejang demam didefinisikan sebagai kejang yang berhubungan dengan demam
(suhu rektal lebih dari 38oC) tanpa adanya infeksi sistem saraf pusat atau
ketidakseimbangan elektrolit akut. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak umur 6 bulan
sampai 5 tahun. Menurut ILAE Commission on Epidemiology and Prognosis Epilepsi, anak
yang pernah mengalami kejang tanpa demam kemudian mengalami kejang demam tidak
termasuk dalam kejang demam dan kejang disertai demam yang terjadi pada bayi berumur
kurang dari 1 bulan juga tidak termasuk dalam kejang demam. Para dokter ahli Saraf Anak
sepakat bahwa anak yang berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun yang
mengalami kejang yang didahului demam, dapat dipikirkan kemungkinan penyebab kejang
lain misalnya infeksi SSP atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.

ETIOLOGI
Kejang demam dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Anak dengan
kejang demam, 24% memiliki riwayat keluarga kejang demam dan 4% memiliki riwayat
keluarga epilepsy. Kejang demam diwariskan secara autosomal dominan. Apabila salah satu
orang tua penderita dengan riwayat kejang demam sebesar 20%-22% dan apabila ke dua
orang tua penderita tersebut mempunyai riwayat pernah menderita kejang demam maka
risiko terjadi kejang demam meningkat menjadi 59-64%, tetapi sebaliknya apabila kedua
orang tua tidak mempunyai riwayat kejang demam maka risiko terjadi kejang demam hanya
9%. Pewarisan kejang demam lebih banyak oleh ibu dibandingkan dengan ayah, yaitu 27%
berbanding 7%.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya kejang demam yaitu kejadian
demam ekstra-kranial, usia, faktor prenatal (usia saat ibu hamil, riwayat pre-eklamsi pada
ibu, pemakaian bahan toksik), faktor perinatal (asfiksia, bayi berat lahir rendah, usia
kehamilan, partus lama, cara lahir), dan faktor postnatal (kejang akibat toksik, trauma
kepala).

PATOFISIOLOGI
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan suatu
energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku metabolisme otak yang terpenting
adalah glukosa. Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi
dipecah menjadi CO2 dan air.
Sel dikelilingi oleh suatu membrane yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipid
dan permukaan luar adalah ionic. Dalam keaadaan normal membran sel neuron dapat dilalui
dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan
elektrolit lainya, kecuali ion klorida (Cl-).
Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na + rendah,
sedangkan diluar sel neuron terdapat keaadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan
konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut
potensial membrane dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membrane ini
diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membrane ini dapat dirubah oleh adanya:
1. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi, atau aliran
listrik dari sekitarnya
3. Perubahan patofisiologi dari membrane sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada keaadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan


metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan O2 akan meningkatkan 20%. Pada kenaikan suhu
tubuh tertentu, dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron, dan dalam
waktu yang singkat dapat terjadi difusi dari ion K + maupun Na+ melalui membrane, dengan
akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga
dapat meluas ke membran sel lain melalui neurotransmitter dan terjadilah kejang.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda. Tergantung pada tinggi
rendahnya ambang kejang itulah seseorang anak menderita kejang pada kenaikkan suhu
tertentu. Anak dengan ambang kejang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38oC,
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang lebih tinggi, kejang baru terjadi pada
suhu 40oC atau lebih.
Terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah
sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita
kejang. Sehingga beberapa hipotesa dikemukakan mengenai patofisiologi sebenarnya dari
kejang demam, yaitu:
1. Menurunya nilai ambang kejang pada suhu tertentu
2. Cepatnya kenaikan suhu
3. Gangguan keseimbangan cairan dan terjadi retensi cairan
4. Metabolisme meninggi dan kebutuhan otak akan O2 meningkat
Dasar patofisiologi terjadinya kejang demam adalah belum berfungsinya dengan
baik susunan syaraf pusat (korteks serebri).

DIAGNOSIS
Unit Kerja Koordinasi Neurologi IDAI 2006 membuat klasifikasi kejang demam
pada anak menjadi:
a. Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure) merupakan 80% di antara
seluruh kejang demam.
Kejang demam berlangsung singkat
Durasi kurang dari 15 menit
Kejang dapat umum, tonik, dan atau klonik
Umumnya akan berhenti sendiri.
Tanpa gerakan fokal.
Tidak berulang dalam 24 jam
b. Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure)
Kejang lama dengan durasi lebih dari 15 menit.
Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial.
Berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam dan di antara bangkitan kejang, anak
tidak sadar.
Dari anamnesis yang harus ditanyakan adalah adanya kejang, kesadaran, lama
kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi, interval, keadaan pasca kejang, penyebab
demam di luar susunan saraf pusat. Riwayat perkembangan anak, riwayat kejang demam
dalam keluarga, epilepsi dalam keluarga. Pertanyaan juga harus menyingkirkan penyebab
kejang lainnya, misalnya tetanus.
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang
demam, di antaranya:
a) Pemeriksaan darah tepi lengkap, gula darah, elektrolit, kalsium serum, urinalisis.
b) Pungsi lumbal sangat dianjurkan pada anak berusia di bawah 12 bulan,
dianjurkan pada anak usia 12-18 bulan, dan dipertimbangkan pada anak di
atas 18 bulan yang dicurigai menderita meningitis. Pemeriksaan pungsi lumbal
diindikasikan pada saat pertama sekali timbul kejang demam untuk
menyingkirkan adanya proses infeksi intra kranial, perdarahan subaraknoid atau
gangguan demielinasi.
Kontraindikasi dilakukanya pungsi lumbal yaitu:
a. Kenaikan tekanan intra-kranial yang ditandai oleh penurunan kesadaran
b. Terdapat tanda deficit neurologi,
c. Gangguan dan kelemahan pada sistem kardiorespirasi
d. Perdarahan diathesis
Jika ditemukan tanda-tanda adanya kontraindikasi seperti diatas berikan
antibiotic segera. Studi prospektif pada populasi menemukan kejadian infeksi
meningitis bacterial sebanyak 18% terjadi pada anak dengan demam status
epileptikus.
Jika yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.
Risiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6-6,7%.
Pemeriksaan ini pada KDS masih kontroversial karena masih belum ditemukan
keefektifannya.
c) Foto X-ray dan pencitraan seperti CT-Scan atau MRI Kepala diindikasikan pada
keadaan riwayat atau tanda klinis trauma, kemungkinan kelainan neurologi fokal
yang menetap (hemiparesis), lesi struktural otak (mikrocephal, spastik), adanya
tanda peningkatan tekanan intracranial (kesadaran menurun, muntah berulang,
UUB menonjol, paresis n. VI, dan edema papilla).
d) Pemeriksaan elektroensefalogram tidak direkomendasikan. Karena EEG tidak
dapat memprediksi berulangnya kejang. EEG dipertimbangkan pada kejang
demam yang tidak khas. Misalnya kejang demam kompleks dan pada anak yang
mempunyai risiko untuk terjadinya epilepsy, seperti pada anak usia lebih dari 6
tahun dan mengalami kejang demam fokal. Pemeriksaan EEG pada kejang
demam dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah belakang yang
bilateral, sering asimetris, kadang-kadang unilateral.

PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan kejang demam pada anak adalah untuk:
a. Mencegah kejang demam berulang
b. Mencegah status epileptikus
c. Mencegah epilepsi dan atau mental retardasi
d. Normalisasi kehidupan anak dan keluarga
Pengobatan Fase Akut
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang
kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang, prioritas utama adalah
menjaga agar jalan nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan
untuk mencegah aspirasi. Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri, tetapi dapat
juga berlangsung terus atau berulang. Pengisapan lendir dan pemberian oksigen harus
dilakukan teratur, kalau perlu dilakukan intubasi. Keadaan dan kebutuhan cairan, kalori
dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu tubuh dapat diturunkan dengan kompres air
hangat (diseka) dan pemberian antipiretik pilihan parasetamol 10-15 mg/kg/BB yang
sama efektifnya dengan ibuprofen 5-10 mg/kg/BB dalam menurunkan suhu tubuh.
Saat ini diazepam merupakan obat pilihan utama untuk kejang demam fase akut,
karena diazepam mempunyai masa kerja yang singkat. Diazepam dapat diberikan
secara intravena atau rektal jika diberikan intramuskular absorbsinya lambat. Dosis
diazepam pada anak adalah 0,3-0,5 mg/kg BB perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2
mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20mg, diberikan secara
intravena pada kejang demam fase akut, tetapi pemberian tersebut sering gagal pada
anak yang lebih kecil.
Jika jalur intravena belum terpasang, diazepam dapat diberikan per rektal
dengan dosis 0,5-0,75 mg/kg/BB atau 5 mg bila berat badan kurang dari 10 kg dan 10
mg pada berat badan lebih dari 10 kg. Pemberian diazepam secara rektal aman dan
efektif serta dapat pula diberikan oleh orang tua di rumah. Bila diazepam tidak tersedia,
dapat diberikan luminal suntikan intramuskular dengan dosis awal 30 mg untuk
neonatus, 50 mg untuk usia 1 bulan 1 tahun, dan 75 mg untuk usia lebih dari 1 tahun.
Kejang yang masih belum berhenti dengan diazepam rektal dapat diulangi lagi
dengan cara dan dosis yang sama dalam interval waktu 5 menit. Bila dua kali
pemberian diazepam rectal kejang berlanjut, dianjurkan ke rumah sakit, dan disini
dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB.
Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan
dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1mg/kgBB/menit. Pemberian fenitoin
sebaiknya secara drip intravena dicampur dengan cairan NaCl fisiologis, untuk
mengurangi efek samping aritmia dan hipotensi.
Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari dimulai 12 jam
setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus
dirawat di ruang rawat intensif. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya
tergantung dari jenis kejang demam dan faktor risikonya, apakah kejang demam
sederhana atau kompleks.

Algoritma Penghentian Kejang Demam


Kejang

Diazepam rektal 0,5 mg/kgBB


Boleh diulang setelah 5 menit

Kejang (Ke RS)


Diazepam IV 0,3-0,5 mg/kgBB

Kejang
Fenitoin IV 10-20 mg/kgBB dengan kecepatan 1mg/kg/menit

Kejang berhenti Kejang tidak berhenti


Lanjutkan dengan dosis 4-8 mg/kg/hari Rawat HCU / ICU / NICU
dimulai 12 jam setelah dosis awal
Pengobatan Rumatan
Indikasi pemberian obat rumat bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai
berikut (salah satu):
A. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan atau gangguan
perkembangan neurologis, misalnya hemiparesis, palsi serebral, retardasi mental,
hidrosefalus.
B. Terdapat riwayat kejang tanpa demam (epilepsi) yang bersifat genetik pada orang
tua atau saudara kandung.
C. Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti kelainan neurologis
sementara atau menetap.
D. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
- Kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan.
- Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
- Kejang demam 4 kali per tahun.
Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam >15 menit merupakan
indikasi pengobatan rumat. Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan
perkembangan ringan bukan merupakan indikasi.
Pengobatan rumatan yang diberikan adalah Asam valproate 15-40 mg/kgBB/hari
dibagi 2-3 dosis atau fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1 2 tahun setelah
kejang terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1 2 bulan. Pemberian
profilaksis terus menerus hanya berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam
berat, tetapi tidak dapat mencegah timbulnya epilepsi di kemudian hari.
Pemberian fenobarbital 3 4 mg/kg BB perhari dengan kadar sebesar 16 mg/mL
dalam darah menunjukkan hasil yang bermakna untuk mencegah berulangnya kejang
demam. Efek samping fenobarbital ialah iritabel, hiperaktif, pemarah dan agresif
ditemukan pada 3050 % kasus. Efek samping fenobarbital dapat dikurangi dengan
menurunkan dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat yang
memiliki khasiat sama dibandingkan dengan fenobarbital. Efek samping yang
ditemukan adalah hepatotoksik, tremor dan alopesia.
Millichap merekomendasikan beberapa hal dalam upaya mencegah dan
menghadapi kejang demam:
a. Orang tua harus diberi cukup informasi mengenai penanganan demam dan kejang
b. Profilaksis intermiten adalah pengobatan yang diberikan pada saat anak mengalami
demam, untuk mencegah terjadinya kejang demam. Terdiri dari pemberian
antipiretik (parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari atau ibuprofen
5-10 mg/kgBB/kali diberikan 3-4 kali) dan antikonvulsan (diazepam oral 0,3
mg/kgBB setiap 8 jam pada saat demam atau diazepam rektal 0,5 mg/kgBB setiap
8 jam pada suhu >38,5 C).
c. Pemberian fenobarbital profilaksis dilakukan atas indikasi, pemberian sebaiknya
dibatasi sampai 612 bulan kejang tidak berulang lagi dan kadar fenoborbital
dalam darah dipantau tiap 6 minggu3 bulan, juga dipantau tingkah laku dan
psikologis anak.

KOMPLIKASI
Faktor risiko kejang demam yang dapat menjadi epilepsy adalah:
1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama
2. Kejang demam kompleks
3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung.
Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai
4-6%, Kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsy menjadi
10%-49%. Kemungkinan menjadi epilepsy dapat dicegah dengan pemberian obat rumat
pada kejang demam.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak
menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lebih lama (>15 menit)
biasanya disertai apneu, hipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat, dan peningkatan
metabolisme otak.

PROGNOSIS
Kejang pertama terbanyak terjadi pada anak berusia 17-23 bulan dan lebih sering
pada anak laki-laki. Bila kejang demam sederhana yang pertama terjadi pada umur kurang
dari 12 bulan, maka risiko kejang demam kedua sebanyak 50%, dan bila kejang demam
sederhana pertama terjadi setelah umur 12 bulan, risiko kejang demam ke dua turun
menjadi 30%.
Faktor resiko berulangnya kejang pada kejang demam adalah:
a. Riwayat kejang demam dalam keluarga.
b. Usia di bawah 12 bulan.
c. Suhu tubuh saat kejang yang rendah.
d. Cepatnya kejang setelah demam
Kejadian kecacatan atau kelainan neurologis umumnya tetap normal pada pasien
yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan
neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan
kejang lama atau kejang berulang baik umum maupun fokal. Kematian karena kejang
demam sederhana tidak pernah dilaporkan.