Anda di halaman 1dari 6

NAMA : FAUZI YUSUF AR

NIM : 121 504 0017


PRODI : Pend. Geografi

TUGAS I
1. Data perbandingan 3 cekungan utama di Sumatera dalam hal SDA yang menghasilkan
minyak, gas dan batu bara?
Jawaban :
Penjelasan mengenai periode tektonik wilayah sumatera terbagi menjadi 3 daerah
berdasarkan letak cekungan yang ada di sumatera yaitu cekungan Bengkulu yang
menandakan forearc basin, cekungan Sumateratengah yaitu central basin dan cekungan
Sumatera Selatan yang merupakan backarc basin. Berikut adalah penjelasan masing
masingperiode yang terjadi di masing masing cekungan tersebut.
a. Cekungan Bengkulu (forearc basin)
Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan forearc di Indonesia. Cekungan forearc
artinya cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore arc ; arc = jalur volkanik).
Berdasarkan berbagai kajian geologi, disepakati bahwa Pegunungan Barisan( dalam hal ini
adalah volcanic arc -nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen Tengah.
Pengaruhnya kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah berarti
tidakada forearc basin Bengkulu sebab pada saat itu arc -nya sendiri tidak ada.Sebelum
Miosen Tengah, atau Paleogen, Cekungan Bengkulu masih merupakan bagian paling barat
Cekungan Sumatera Selatan. Lalu pada periode setelah Miosen Tengah atau Neogen, setelah
Pegunungan Barisan naik, Cekungan Bengkulu dipisahkan dari Cekungan Sumatera Selatan.
Mulai saat itulah,Cekungan Bengkulu menjadi cekungan forearc dan CekunganSumatera
Selatan menjadi cekungan backarc (belakang busur).
Sejarah penyatuan dan pemisahan Cekungan Bengkulu dari Cekungan Sumatera
Selatan dapat dipelajari dari stratigrafi Paleogen dan Neogen kedua cekungan itu. Dapat
diamati bahwa pada Paleogen, stratigrafi kedua cekungan hampir sama. Keduanya
mengembangkan sistem graben di beberapa tempat. Di Cekungan Bengkulu ada Graben
Pagarjati, Graben Kedurang-Manna, Graben Ipuh (pada saat yang sama di Cekungan
SumateraSelatan saat itu ada graben-graben Jambi, Palembang, Lematang,dan Kepahiang).
Tetapi setelah Neogen, Cekungan Bengkulu masuk kepada cekungan yang lebih dalam
daripada Cekungan Sumatera Selatan, dibuktikan oleh berkembangnya terumbu-terumbu
karbonat yang masif pada Miosen Atas yang hampir ekivalen secara umur dengan karbonat
Parigi di Jawa Barat (paraoperator yang pernah bekerja di Bengkulu menyebutnya sebagai
karbonat Parigi juga). Pada saat yang sama, di Cekungan Sumatera Selatan lebih banyak
sedimen-sedimen regresif (Formasi Air Benakat/Lower Palembang dan Muara Enim/Middle
Palembang) karena cekungan sedang mengalami pengangkatan dan inversi.Secara tektonik,
mengapa terjadi perbedaan stratigrafi pada Neogen di Cekungan Bengkulu yaitu disebabkan
Cekungan Bengkulu dalam fase penenggelaman sementara Cekungan Sumatera Selatan
sedang terangkat.
b. Cekungan Sumatera Tengah (central basin)
Pola struktur yang ada saat ini di Cekungan Sumatra Tengah merupakan hasil
sekurang-kurangnya 3 (tiga) fase tektonikutama yang terpisah, yaitu Orogenesa Mesozoikum
Tengah,Tektonik Kapur Akhir-Tersier Awal, dan Orogenesa Plio-Plistosen(De Coster,
1974).Heidrick dan Aulia (1993), membahas secara terperinci tentang perkembangan
tektonik di Cekungan Sumatra Tengah dengan membaginya menjadi 3 (tiga) episode
tektonik, F1 (fase 1)berlangsung pada Eosen-Oligosen, F2 (fase 2) berlangsung padaMiosen
Awal-Miosen Tengah, dan F3 (fase 3) berlangsung pada Miosen Tengah-Resen. Fase
sebelum F1 disebut sebagai fase 0 (F0) yang berlangsung pada Pra Tersier.1. Episode F0
(Pre-Tertiary)Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari lempeng-
lempeng benua dan samudera yang berbentuk mozaik. Orientasi struktur pada batuan dasar
memberikan efek pada lapisan sedimen Tersier yang menumpang di atasnya dan kemudian
mengontrol arah tarikan dan pengaktifan ulang yang terjadi kemudian. Pola struktur tersebut
disebut sebagai elemen struktur F0.
Ada 2 (dua) struktur utama pada batuan dasar. Pertama kelurusan utara -selatan yang
merupakan sesar geser (Transform/WrenchTectonic) berumur Karbon dan mengalami
reaktifisasi selama Permo-Trias, Jura, Kapur dan Tersier. Tinggian-tinggian yang terbentuk
pada fase ini adalah Tinggian Mutiara, Kampar, Napuh, Kubu, Pinang dan Ujung Pandang.
Tinggian tinggian tersebut menjadi batas yang penting pada pengendapan sedimen
selanjutnya.2. Episode F1 (26 50 Ma)
Episode F1 berlangsung pada kala Eosen-Oligosendisebut juga Rift Phase. Pada F1
terjadi deformasi akibat Rifting dengan arah Strike timur laut, diikuti oleh reaktifisasi
struktur-struktur tua. Akibat tumbukan Lempeng Samudera Hindia terhadap Lempeng Benua
Asia pada 45 Ma terbentuklah suatu sistem rekahan Transtensional yang memanjang ke arah
selatan dari Cina bagian selatan ke Thailand dan ke Malaysia hingga Sumatra dan
Kalimantan Selatan (Heidrick & Aulia,1993). Perekahan ini membentuk serangkaian Horst
dan Graben di Cekungan Sumatra Tengah. Horst-Graben ini kemudian menjadi danau tempat
diendapkannya sedimen-sedimen Kelompok Pematang.
Pada akhir F1 terjadi peralihan dari perekahan menjadi penurunan cekungan ditandai
oleh pembalikan struktur yang lemah, denudasi dan pembentukan daratan Peneplain. Hasil
dari erosi tersebut berupa paleosol yang diendapkan di atas Formasi Upper Red Bed.3.
Episode F2 (13 26 Ma) Episode F2 berlangsung pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah.
Pada kala Miosen Awal terjadi fase amblesan (sagphase), diikuti oleh pembentukan Dextral
Wrench Fault secararegional dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Pada struktur
tua yang berarah utara-selatan terjadi Release,sehingga terbentuk Listric Fault, Normal Fault,
Graben, dan Half Graben. Struktur yang terbentuk berarah relatif barat laut-tenggara. Pada
episode F2, Cekungan Sumatra Tengah mengalami transgresi dan sedimen-sedimen dari
Kelompok Sihapas diendapkan.4.
Episode F3 (13-Recent) Episode F3 berlangsung pada kala Miosen Tengah-
Resendisebut juga Barisan Compressional Phase. Pada episode F3 terjadi pembalikan struktur
akibat gaya kompresi menghasilkan reverse dan Thrust Fault di sepanjang jalur Wrench Fault
yang terbentuk sebelumnya. Proses kompresi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan
Dextral Wrench Fault di sepanjang Bukit Barisan. Struktur yang terbentuk umumnya berarah
barat laut-tenggara. Pada episode F3 Cekungan Sumatra Tengah mengalami regresi dan
sedimen-sedimen Formasi Petani diendapkan, diikuti pengendapan sedimen-sedimen Formasi
Minas secara tidak selaras.
c. Cekungan Sumatera Selatan ( backarc basin)
Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan Sumatera Selatan merupakan
cekungan busur belakang berumur Tersier yang terbentuk sebagai akibat adanya interaksi
antara Paparan Sunda (sebagai bagian dari lempeng kontinen Asia) dan lempeng Samudera
India. Daerah cekungan ini meliputi daerah seluas 330 x 510 km2, dimana sebelah barat daya
dibatasi olehsingkapan Pra-Tersier Bukit Barisan, di sebelah timur oleh PaparanSunda
(Sunda Shield), sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Tiga puluh dan ke arah tenggara
dibatasi oleh Tinggian Lampung.Menurut De Coster, 1974 (dalam Salim, 1995),
diperkirakantelah terjadi 3 episode orogenesa yang membentuk kerangka struktur daerah
Cekungan Sumatera Selatan yaitu orogenesa Mesozoik Tengah, tektonik Kapur Akhir
Tersier Awal dan Orogenesa Plio Plistosen. Episode pertama, endapan endapan Paleozoik
danMesozoik termetamorfosa, terlipat dan terpatahkan menjadi bongkah struktur dan
diintrusi oleh batolit granit serta telah membentuk pola dasar struktur cekungan.
Menurut Pulunggono,1992 (dalam Wisnu dan Nazirman ,1997), fase ini membentuk
sesar berarah barat laut-tenggara yang berupa sesar sesar geser.Episode kedua pada Kapur
Akhir berupa fase ekstensi menghasilkan gerak gerak tensional yang membentuk grabendan
horst dengan arah umum utara selatan. Dikombinasikan dengan hasil orogenesa Mesozoik
dan hasil pelapukan batuan -batuan Pra Tersier, gerak gerak tensional ini membentuk
struktur tua yang mengontrol pembentukan Formasi Pra Talang Akar. Episode ketiga
berupa fase kompresi pada Plio Plistosen yang menyebabkan pola pengendapan berubah
menjadi regresi dan berperan dalam pembentukan struktur perlipatan dan sesar sehingga
membentuk konfigurasi geologi sekarang. Pada periode tektonik ini juga terjadi
pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan yang menghasilkan sesar mendatar Semangko yang
berkembang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Pergerakan horisontal yang terjadi mulai
Plistosen Awal sampai sekarang mempengaruhi kondisi Cekungan Sumatera Selatan dan
Tengah sehingga sesar -sesar yang baru terbentuk di daerah ini mempunyai perkembangan
hampir sejajar dengan sesar Semangko. Akibat pergerakan horisontal ini, orogenesa yang
terjadi pada Plio-Plistosen menghasilkan lipatan yang berarah barat laut-tenggara tetapi sesar
yang terbentuk berarah timur laut-barat daya dan barat laut- tenggara. Jenis sesar yang
terdapat pada cekungan ini adalah sesar naik, sesar mendatar dan sesar normal. Kenampakan
struktur yang dominan adalah struktur yang berarah barat laut-tenggara sebagai hasil
orogenesa Plio-Plistosen. Dengan demikian pola struktur yang terjadi dapat dibedakan atas
pola tua yang berarah utara-selatan dan barat laut-tenggara serta pola muda yang berarah
barat laut-tenggara yang sejajar dengan Pulau Sumatera.

2. Lengkapi dari setiap cekungan itu dengan formasi ? (Batuannya apa saja pada formasi itu)
Jawaban :
a. Basement Pre-Tersier Terdiri dari dari batuan beku, batuan metamorf, karbonat dan
dijumpai fosil Halobia yang berumur Trias terletak tidak selaras menyudut dibawah batuan
sedimen diatasnya.
b. Formasi Parapat (Awal Oligosen)
Terdiri dari batupasir kasar dan konglomeratan dibagian bawah seta diatasnya dijumpai
sisipan serpih. Secara regional dibagian bawah diendapkan dalam lingkungan fluviatil dan
bagian atas dalam lingkungan laut dangkal.
c. Formasi Bampo (Akhir Oligosen)
Terdiri dari serpih hitam tidak berlapis, berasosiasi dengan lapisan tipis batugamping dan
batulempung karbonat, dimana formasi ini miskin fosil dan diendapkan dalam lingkungan
reduksi.
d. Formasi Belumai (Awal Miosen)
Dibagian timur cekungan ini berkembang formasi belumai yang identik dengan formasi
Peutu yang berkembang pada bagian barat dan tengah. Formasi belumai terdiri dari
batupasir Glaukonitan berselingan dengan serpih dan batugamping. Didaerah Arun, bagian
atas formasi ini berkembang lapisan batugamping kalkarenit dan kalsilutit dengan selingan
serpih. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan laut dangkal sampai neritik.
e. Formasi Baong (Miosen Tengah Akhir Miosen bagian bawah)
Penyusun utama formasi ini adalah batulempung abu-abu kehitaman, napalan, lanauan,
pasiran dan pada umumnya kaya akan fosil Orbulina Sp dan Globigerina Sp, Kadang-
kadang diselingi lapisan tipis batupasir. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan laut
dalam. Formasi ini didaerah Aru dibagi menjadi 3 satuan :
1) Bagian bawah didominasi oleh lanau dan batulempung dengan sisipan batupasir dan
batugamping.
2) Bagian tengah (MBS) didominasi oleh batupasir glaukonitan dan lempung dengan
sisipan lanau serta lapisan tipis batugamping. Pada anggota inin dikenal beberapa
lapisan batupasir yang telah terbukti mengandung hidrokarbon, yaitu Sembilan sand
dan besitang river sand (BRS).
3) Bagian atas didominasi oleh lanau dan lempung dengan sisipan batupasir dan lapisan
tipis batugamping.
f. Formasi Keutapang (Akhir Miosen)
Terdiri dari selang-seling antara batupasir berbutir halus sedang, serpih, lempung dengan
sisipan batugamping dan batubara. Dibagian Barat daerah Aru batupasirnya bertambah
kearah atas, dibagian timur serpih lebih dominan. Formasi ini merupakan lapisan utama
penghasil hidrokarbon dan merupakan awal terjadinya siklus regresi, diendapkan dalam
lingkungan delta sampai laut dangkal.
g. Formasi Seurula (Awal Pliosen)
Terdiri dari batupasir, serpih dan lempung. Dibandingkan dengan formasi Keutapang,
formasi seurula berbutir lebih kasar, banyak ditemukan fragmen-fragmen moluska yang
menunjukkan endapan laut dangkal atau neritik.
h. Formasi Julu Rayeu (Akhir Pliosen)
Terdiri dari batupasir halus kasar dan lempung, kadang-kadang mengandung mika dan
fragmen molusca yang menunjukkan endapan laut dangkal Neritik.
i. Volkanik Toba (Kwarter)
Terdiri dari Tufa hasil aktivitas volkanik toba, menutupi secara tidak selaras diatas formasi
seurula.
j. Endapan Aluvial
Terdiri dari kerakal, kerikil, pasir dan Batulempung.