Anda di halaman 1dari 6

BIOKIMIA KLINIS

FUNGSI SISTEM GINJAL DALAM HOMEOSTASIS pH

Disusun oleh :

SRI YULI S SIAGIAN 142401143

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
FUNGSI SISTEM GINJAL DALAM

HOMEOSTASIS pH

I. Pendahuluan

Skala pH menggambarkan secara tepat konsentrasi dari ion hidrogen dalam tubuh
sehingga dalam membahas homeostasis pH pada dasarnya kita akan membahas keseimbangan
konsentrasi ion hidrogen dalam tubuh. Konsentrasi ion hidrogen sangat mempengaruhi proses
metabolisme yang berlangsung dalam tubuh karena hampir semua aktifitas enzim dalam tubuh
dipengaruhi oleh konsentrasi ion hidrogen dalam tubuh. Tidak mengherankan pengaturan
keseimbangan konsentrasi ion hidrogen ini adalah sangat penting dalam kehidupan organisme.

Ada 3 sistem utama yang mengatur konsentrasi ion hidrogen dalam cairan tubuh untuk
mencegah asidosis atau alkalosis yaitu :

1. Sistem penyangga asam basa kimiawi dalam cairan tubuh yang dengan segera bergabung
dengan asam basa untuk mencegah perubahan konsentrasi ion hydrogen yang berlebihan
yang bekerja dalam hitungan detik

2. Pusat pernapasan yang mengatur pembuangan asam karbonat melalui pengeluaran CO2
yang bekerja dalam hitungan menit

3. Ginjal yang dapat mengekskresikan urin asamatau urin alkali, sehingga menyesuaikan
kembali konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraseluler menuju normalselama asidosis dan
alkalosis yang bereaksi lebih lambat .

II. Definisi Asam dan Basa

Ion hidrogen adalah proton tunggal bebas yang dilepaskan dari atom hidrogen.Molekul
yang mengandung atom-atom hidrogen dan dapat melepaskan ion-ion hydrogen dalam larutan
dikenal sebagai asam. Satu contoh adalah asam karbonat (H2CO3 ) yang berionisasi membentuk
ion hidrogen (H+ ) dan ion bikarbonat (HCO3- ). Basa adalah ion atau molekul yang dapat
menerima ion hidrogen. Sebagai contoh, ion bikarbonat adalah satu basa karena dapat bergabung
dengan satu ion hidrogen untuk membentuk H2CO3 . Demikian juga HPO4 adalah satu basa
karena dapat menerima satu ion hidrogen untuk membentuk H2PO4.Protein-protein dalam tubuh
juga berfungsi sebagai basa karena beberapa asam amino yang membangun protein dengan
muatan akhir negatif siap menerima ion-ion hidrogen. pH berhubungan dengan konsentrasi ion
hidrogen yang sebenarnya melalui rumus berikut :

pH = - log (H+)
Konsentrasi ion hidrogen dinyatakan dalam ekuivalen perliter. Sebagai contoh normal
konsentrasi ion hidrogen adalah 40 mEq/L. pH normal adalah :

pH = - log (0,00000004)
pH = 7,4

Nilai pH normal darah arteri adalah 7,4, sedangkan pH darah vena dan cairan interstisial sekitar
7,35 akibat jumlah ekstra karbon dioksida (CO ) yang dibebaskan jaringan untuk membentuk
H2CO3 dalam cairan-cairan ini.Karena pH normal darah arteri adalah 7,4, seseorang diperkirakan
mengalami asidosi saat pH turun di bawah nilai ini dan mengalami alkalosis saat pH meningkat
di atas 7,4.Batas rendah pH dimana seseorang dapat hidup lebih dari beberapa jam adalah sekitar
6,8 dan batas atas adalah 8,0. pH intraseluler biasanya sedikit lebih rendah dari pada pH plasma
karena metabolisme sel menghasilkan asam, terutama H2CO3 bergantung pada jenis sel, pH
cairan intraseluler diperkirakan berkisar antara 6,0 dan 7,4. pH urin dapat berkisarantara 4,5
sampai 8.0 bergantung pada status asam basa cairan ekstraseluler.

III. Pengaturan Keseimbangan Asam basa oleh Ginjal

Ginjal mengontrol pH tubuh dengan mengontrol keseimbangan asam basa melalui


pengeluaran urin yang asam atau basa. Pengeluaran urin asam akan mengurangi jumlah asam
dalam cairan ekstraseluler, sedangkan pengeluaran urin basa berarti menghilangkan basa dari
cairan ekstraseluler. Keseluruhan mekanisme ekskresi urin asam atau basa oleh ginjal adalah
sebagai sebagai berikut: Sejumlah besar ion bikarbonat disaring secara terus menerus ke dalam
tubulus, dan bila ion bikarbonat diekskresikan ke dalam urin, keadaan ini menghilangkan basa
dari darah. Sebaliknya, sejumlah besar ion hidrogen juga disekresikan ke dalam lumen tubulus
oleh sel-sel epitel tubulus, jadi menghilangkan asam dari darah. Bila lebih banyak ion hidrogen
yang disekresikan daripada ion bikarbonat yang disaring, akan terdapat kehilangan asam dari
cairan ekstraseluler. Sebaliknya, bila lebih banyak bikarbonat yang disaring daripada hidrogen
yang diekskresikan, akan terdapat kehilangan basa.

Pengaturan keseimbangan konsentrasi ion hidrogen ini dilakukan ginjal melalui tiga
mekanisme dasar, yaitu :
1.Sekresi ion-ion hidrogen
2.Reabsorbsi ion-ion bikarbonat yang disaring
3.Produksi ion-ion bikarbonat yang baru

1. SEKRESI ION HIDROGEN DI TUBULUS GINJAL

Proses sekresi dimulai ketika CO2 berdifusi ke dalam sel tubulus atau dibentuk melalui
metabolisme sel di dalam epitel tubulus. CO2 akan berikatan dengan H2O membentuk H2CO3
melalui reaksi yang dikatalisis oleh enzim karbonik anhidrase. H2CO3 segera berdisosiasi
membentuk H+ dan ion bikarbonat (HCO3- ). HCO3- mengikuti gradien konsentrasi melalui
membran basolateral akan pergi ke cairan intertisial ginjal dan ke aliran darah kapiler
peritubular. Bersama dengan itu H+ akan disekresikan ke lumen tubular, tergantung daerah
lumen, proses ini berlangsung melalui transport aktif primer pompa H-ATPase, transport aktif
primer pompa H, K-ATPase, di tubulus distal dan kolligens, serta transport-imbangan Na/H di
tubulus proksimal.

2. REABSORBSI ION BIKARBONAT yang DISARING

Ion bikarbonat yang disaring akan direabsorbsi oleh ginjal untuk mencega kehilangan
kehilangan bikarbonat dalam urin.Sekitar 80-90 persen reabsorbsi bikarbonat(dan sekresi ion
hidrogen) berlangsung di dalam tubulus proksimal sehingga hanya sejumlahkecil ion bikarbonat
yang mengalir ke dalam tubulus distal dan duktus kolligens.Ion-ion bikarbonat tidak mudah
menembus membran luminal sel-sel tubulus ginjal, olehkarena itu, ion-ion bikarbonat yang
disaring oleh glomerulus tidak dapat diabsorbsi secara langsung.Ion bikarbonat yang disaring
pada glomerulus akan bereaksi dengan ion hydrogen yang disekresikan oleh oleh sel-sel tubulus
membentuk H CO oleh kerja enzim karbonik anhidrase, yang kemudian berdisosiasi menjadi CO
dan H O. CO dapat bergerak dengan mudah memlewati membran tubulus, oleh karena itu CO
segera berdifusi masuk ke dalam sel tubulus , tempat CO bergabung kembali dengan H O , di
bawah pengaruh enzim 2 karbonik anhidrase, untuk menghasilkan molekul H CO
yang baru. H CO ini kemudianberdisosiasi membentuk ion bikarbonat dan ion hidrogen, ion
bikarbonat kemudian berdifusi melalui membran basolateral ke dalam cairan interstisial dan
dibawa naik ke darah kapiler peritubular..

3. PRODUKSI ION BIKARBONAT BARU

Bila ion-ion hidrogen disekresikan ke dalam kelebihan bikarbonat yang difiltrasi ke


dalam cairan tubulus, hanya sebagian kecil dari kelebihan ion hidrogen ini yang dapat
diekskresikan dalam bentuk ion hidrogen dalam urin. Alasan untuk ini adalah bahwa pH minimal
urin adalah sekitar . Bila terdapat kelebihan ion hidrogen dalam urin, ion hidrogen akan
bergabung dengan penyangga selain bikarbonat dan ini akan menghasilkan pembentukan ion
bikarbonat baru yang dapat masuk ke dalam darah, dengan demikian membantu mengganti ion
bikarbonat yang hilang dari cairan ekstraseluler pada keadaan asidosis.

IV. Koreks Asidosis oleh Ginjal

Asidosis terjadi bila ketika rasio HCO3 dan CO2 dalam cairan ekstraseluler menurun,
sehingga menyebabkan penurunan pH. Bila rasio ini menurun akibat penurunan HCO disebut
asidosis metabolik.. Pada asidosis metabolik, kelebihan ion hydrogen melebihi ion bikarbonat
yang terjadi pada cairan tubulus secara primer adalah akibat penurunan filtrasi ion bikarbonat.
Akibatnya terdapat kelebihan ion hidrogen di dalam tubulus ginjal, menyebabkan reabsorbsi ion
bikarbonat yang menyeluruh dan masih meninggalkan ion-ion hydrogen.tambahan yang tersedia
untuk bergabung dengan ion-ion penyangga urin, NH4+ dan HPO4- .Jadi, pada asidosis ginjal
mereabsorbsi semua bikarbonat yang disaring dan menyumbangkan bikarbonat yang baru
melalui pembentukan NH4+ dan asam tertitrasi. Asam tertitrasi adalah sisa penyangga non
bikarbonat, non NH4+ yang disekresikan ke dalam urin. Koreksi pada asidosis metabolik, terjadi
akibat penurunan pH dan peningkatan konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraseluler dimana
gangguan utamanya adalah penurunan HCO3- plasma, kompensasi oleh ginjal dengan menambah
bikarbonat baru ke dalam cairan ekstraseluler, membantu meminimalkan penurunan awal
konsentrasi HCO3- ekstraseluler.Pada asidosis kronik , terdapat peninggian produksi NH4+, yang
selanjutnya berperan terhadap ekskresi ion hidrogen dan penambahan ion bikarbonat ke dalam
cairan ekstraseluler. Peningkatan ekskresi ion hidrogen pada tubulus ini membantu
mengeliminasi kelebihan ion hidrogen dari dari tubuh dan meningkatkan jumlah ion bikarbonat
dalam cairan ekstraseluler.Hal ini meningkatkan bagian bikarbonat pada sistem penyangga
bikarbonat., membantu meningkatkan pH ekstraseluler dan mengoreksi asidosis.

V. Koreksi Alkalosis oleh Ginjal

Pada alkalosis, rasio HCO terhadap CO di dalam cairan ekstraseluler meningkat,


menyebabkan peningkatan pada pH (penurunan konsentrasi ion hidrogen). Pada alkalosis
metabolik peningkatan pH pada cairan ekstraseluler, penurunan konsentrasi hidrogen terjadi
akibat peningkatan konsentrasi ion bikarbonat cairan ekstraseluler. Kompensasi yang terjadi
melalui ginjal adalah peningkatan konsentrasi dalam caiaran ekstraseluler menimbulkan
peningkatan muatan bikarbonat yang difiltrasi yang kemudian menyebabkan kelebihan ion
bikarbonat melebihi ion hidrogen yang disekresikan dalam cairan tubulus ginjal. Kelebihan ion
bikarbonat di dalam cairan tubulus ginjal gagal untuk direabsorbsi karena tidak ada ion hidrogen
yang bereaksi dengannya. Ion bikarbonat ini akhirnya akan diekskresikan dalam urin.