Anda di halaman 1dari 5

PROGRAM KERJA UNIT APOTEK

RUMAH SAKIT MUSLIMAT TAHUN 2014

I. Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan


Apotek mempunyai tugas mulai dari pengelolaan obat/alkes (penerimaan, penyimpanan,
dan pendistribusian), pelayanan resep ataupun non resep, dan administrasi apotek.
Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Apotek mempunyai kegiatan pokok meliputi :
1. Penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan, dan pendistribusian obat dan alat kesehatan.
2. Pelayanan resep maupun non resep
3. Pelaporan administrasi
4. Pengamatan terhadap mutu dan stabilitas obat dan alkes
Rincian kegiatan Apotek :
a. Penyimpanan dan pendistribusian
Beberapa jenis obat memerlukan tempat penyimpanan khusus termasuk diantaranya vaksin
dan narkotika. Penyimpanan obat < 25C (sejuk) disimpan dalam ruangan ber-AC,
penyimpanan dingin disimpan dalam lemari pendingin (2-8C), dan penyimpanan 0C disimpan
dalam freezer. Obat yang diterima disusun dalam rak sesuai dengan bentuk sediaan obat dan
ditata berdasarkan alphabet. Pendistribusian obat menggunakan prinsip FIFO (First In First Out)
yang artinya obat dan alkes yang pertama diterima harus dikeluarkan/digunakan pertama atau
lebih awal, karena biasanya juga diproduksi lebih awal dan juga menggunakan prinsip FEFO
(First Expire First Out) yang artinya obat yang expire-nya lebih dekat harus dikeluarkan terlebih
dahulu. Jadi obat/alkes kita bisa meminimkan/mengendalikan barang yang ED kemungkinan
lebih sedikit. Untuk yang masih bisa diretur dikembalikan ke supplier.
- Penanganan obat dan alkes kadaluarsa.
Stabilitas obat yang disimpan dapat mengalami perubahan baik karena faktor fisik maupun
kimiawi dan melewati batas kadaluarsa. Untuk obat dan alkes yang kadaluarsa dan terjadi
perubahan mutu ditempatkan terpisah dan didata sesuai jenis dan jumlah obat. Data dilaporkan
ke unit Gudang Farmasi untuk ditindak lanjuti selanjutnya.
- Penanganan obat/alkes slow moving dan macet.
Pendataan obat/alkes yang slow moving dan macet dilakukan apabila dalam waktu 3 bulan
obat/alkes sedikit pengeluaran atau kadang tidak ada pengeluaran dari Gudang Farmasi.
Obat/alkes perlu didata sesuai dengan jenis/sediaan obat, jumlah obat, batas kadaluarsa dan
kandungan/isi obat. Data tersebut dilaporkan ke Direktur, selanjutnya diadakan pengeluaran
obat/alkes yang macet dan mendekati batas kadaluarsa.
b. Pelayanan Resep

- Skrining Resep
Skrining resep meliputi :

b.1. Persyaratan Administratif :

- Identitas dokter

- Tanggal penulisan resep

- Identitas pasien

- Cara pemakaian yang jelas

- Informasi lainnya

b.2. Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas,


cara dan lama pemberian

b.3. Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis,
durasi, jumlah obat dan lain-lain). Jika ada keraguan terhadap resep dikonsultasikan
kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif
seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.

- Penyiapan obat.

Peracikan.merupakan kegiatan menyiapkan menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan


etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan
memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar.
a. Etiket.
Etiket harus jelas dan dapat dibaca.
b. Kemasan Obat yang Diserahkan
Obat dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga
kualitasnya.
- Penjualan obat bebas
Pelayanan terhadap obat bebas ini lebih sederhana dibandingkan dengan pelayanan
terhadap resep dokter. Petugas dapat langsung mengambilkan obat yang diminta oleh konsumen
setelah harga disetujui, kemudian langsung dibayar pada kasir sebagai pasien umum.
- Penyerahan Obat

Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap
kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat disertai pemberian informasi obat dan
konseling kepada pasien. Petugas apotek harus memberikan informasi yang benar, jelas, dan
mudah dimengerti. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi : cara
pemakaian, waktu pemakaian, lama pemakaian.

c. Administrasi
Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu dilaksanakan kegiatan
administrasi yang meliputi :
c.1. Administrasi Umum
Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narktika, psikotropika, obat slow moving, dan
dokumentasi lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
c.2. Administrasi Pelayanan.
Pencatatan, pengarsipan, dan pelaporan resep dan peng-entry-an data ke Sistem Informasi
Manajemen Rumah Sakit.

d. Pengelolaan Obat Narkotika


Sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, pasal 102(1) yang
menyebutkan bahwa penggunaan sediaan farmasi yang berupa narkotika dan psikotropika hanya
dapat dilakukan berdasarkan resep Dokter atau Dokter Gigi dan dilarang untuk disalahgunakan.
Dalam menghindari penyalahgunaan obat-obatan ini, maka pemerintah melakukan pengawasan
yang ketat terhadap obat golongan narkotika mulai dari pemesanan sampai dengan
pemakaiannya dan Apoteker Pengelola Apotek diharuskan membuat laporan pemakaian dan
pemusnahan narkotika..
- Penyimpanan Narkotika

Menurut Permenkes no. 28/Menkes/Per/I/1978 diatur bahwa apotek harus mempunyai lemari
khusus untuk penyimpanan obat-obat narkotika dengan persyaratan sebagai berikut :

a. Tempat tersebut seluruhnya terbuat dari kayu atau bahan lain serta mempunyai kunci
yang kuat.

b. Tempat penyimpanan tersebut dibagi dua, dan diberi kunci yang berlainan pula. Bagian
pertama untuk menyimpan morfin, pethidin dan garam-garamnya serta sediaan lainnya.
Sementara bagian kedua digunakan untuk menyimpan persediaan narkotika sehari-hari.

c. Lemari tersebut tidak boleh digunakan untuk menyimpan bahan-bahan lain dan harus
diletakkan di tempat aman serta tidak terlihat oleh umum. Kunci dari tempat tersebut
harus dipegang oleh satu orang. Apabila tempat tersebut berupa lemari yang berukuran
kurang dari 40 x 100 cm, maka harus dibuat pada tembok atau lantai.
- Penjualan Narkotika

Obat narkotika hanya boleh diserahkan dengan resep Dokter dan tidak boleh diulang hanya
berdasarkan salinan resep saja.

II. Cara Melaksanakan Kegiatan


Kepala Apotek bertanggung jawab memimpin dan mengkoordinasikan semua unsur
kegiatan Apotek dan memberikan petunjuk dan bimbingan kepada pelaksana sesuai dengan tugas
masing-masing.

III. Sasaran
Semua petugas di unit Apotek.

IV. Pelaksanaan Kegiatan

No. Kegiatan Waktu


1. Permintaan Setiap hari aktif
2. Stok opname Setiap bulan (di akhir bulan)
3. Posyandu Setiap bulan (hari Sabtu minggu ke 2)
4. Simaan Rabu Pahing Setiap bulan (hari Rabu Pahing)
5. Baksos/Pengobatan gratis Jadwal menyesuaikan
6. Pendataan dan pelaporan slow moving dan Setiap 3 bulan sekali
obat macet.
7. Laporan bulanan Setiap bulan (di akhir bulan)

V. Rencana Anggaran belanja Apotek Tahun 2014


No NAMA BARANG JUMLAH BIAYA KETERANGAN REALISASI
1 Kulkas besar 1 Rp.3.500.000, Kulkas yang lama sudah Sudah
-
tidak layak pakai karena terealisasi
bunga es tidak bisa
dicairkan,bunga es
terlalu banyak dan
tempat penampungan air
tidak ada. Dengan
kulkas yang kecil tsb
kulkas tidak muat untuk
menampung obat
dengan jumlah yang
banyak.
2 Kursi roda putar 1 Rp.500.000,- Kursi yang lama sudah Belum
rusak dan untuk terealisasi
memperlancar
pelayanan.
3 Papan dudukan 1 Rp.50.000,- Standar penyimpanan Belum
infus infus. terealisasi
Standar kelengkapan Belum
Termometer
4 2 Rp.200.000,- apotek dan persiapan terealisasi
dinding
akreditasi.
Untuk menyetok barang Belum
5 Kursi dingklik 1 Rp. 20.000,-
yang letaknya di bawah. terealisasi
Untuk tempat Sudah
meletakkan obat yang terealisasi
Papan tambahan + siap diserahkan ke
6 1 Rp. 50.000
siku L pasien mengingat
tempat yang sudah ada
terlalu sempit.
JUMLAH Rp.4.320.000,
-

Ponorogo, 3 Oktober 2013

Ka Unit Apotek

Bram Setyo Leksono, S.Farm., Apt.