Anda di halaman 1dari 6

Infeksi Saluran Kemih

A. Pengertian

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk

mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih (Buku Ajar Ilmu

Penyakit Dalam, jilid 2, Hal 369).

Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari

semua umur baik pada anak-anak, remaja, dewasa maupun pada usia lanjut. Akan tetapi,

wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi kurang lebih 5-15%.

Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari menyebarnya infeksi

yang berasal dari urethra seperti juga pada wanita. Namun demikian, panjang uretra dan

jauhnya jarak antara urethra dari rektum pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan

prostatik melindungi pria dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI pada pria jarang

terjadi, namun ketika gangguan ini terjadi akan menunjukkan adanya abnormalitas fungsi

dan struktur dari traktus urinarius.

B. Etiologi

1. Bakteri (Eschericia coli)

2. Jamur dan virus

3. Infeksi ginjal

4. Prostat hipertropi (urine sisa)

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya infeksi saluran kemih yaitu:

a. Bendungan aliran urine:


1. Anatomi konginetal

2. Batu saluran kemih

3. Oklusi ureter (sebagian atau total)

b. Refluks vesiko ureter

c. Urine sisa dalam buli-buli dapat terjadi karena:

1. Neurogenik bladder

2. Striktur urethra

3. Hipertropi prostat

d. Gangguan metabolic:

1. Hiperkalsemia (kalsium)

2. Hipokalemia (Kalium)

3. Agammaglobulinemia

e. Instrumentasi

1. Dilatasi urethra sistoskopi

2. Kehamilan

3. Faktor statis dan bendungan

4. pH urine yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman

C. Patofisiologi

Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui:

1. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat saluran kemih yang

terinfeksi.
2. Hematogen yaitu penyebaran mikroorganisme patogen yang masuk melalui darah

yang terdapat kuman penyebab infeksi saluran kemih yang masuk melalui darah dari

suplay jantung ke ginjal.

3. Limfogen yaitu kuman masuk melalui kelenjar getah bening yang disalurkan melalui

helium ginjal.

4. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.

Dua jalur utama terjadi infeksi saluran kemih ialah hematogen dan ascending. Tetapi

dari kedua cara ini, ascending-lah yang paling sering terjadi.

Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang

rendah karena menderita suatu penyakit kronik atau pada pasien yang sementara

mendapat pengobatan imun supresif. Penyebaran hematogen bisa juga timbul akibat

adanya infeksi di salah satu tempat misalnya infeksi S.Aureus pada ginjal bisa terjadi

akibat penyebaran hematogen dari fokus infeksi dari tulang, kulit, endotel atau di tempat

lain.

Infeksi ascending yaitu masuknya mikroorganisme dari uretra ke kandung kemih dan

menyebabkan infeksi pada saluran kemih bawah. Infeksi ascending juga bisa terjadi oleh

adanya refluks vesico ureter yang mana mikroorganisme yang melalui ureter naik ke

ginjal untuk menyebabkan infeksi. Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari

mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta

menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai

kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk

menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan

inflamasi.
D. Tanda dan Gejala

1. Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah :


o Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
o Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis
o Hematuria
o Nyeri punggung dapat terjadi
2. Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah :
o Demam
o Menggigil
o Nyeri panggul dan pinggang
o Nyeri ketika berkemih
o Malaise
o Pusing
o Mual dan muntah

E. Gambaran Klinis

1. Uretritis biasanya memperlihatkan gejala:

a. Mukosa memerah dan edema

b. Terdapat cairan eksudat yang purulent

c. Ada ulserasi pada urethra

d. Adanya rasa gatal yang menggelitik

e. Adanya nanah awal miksi

f. Dysuria (nyeri waktu berkemih)

g. Kesulitan memulai kencing, kurang deras dan berhenti sementara miksi (prostatismus)

h. Nyeri pada abdomen bagian bawah (supra pubic)

2. Cystitis biasanya memperlihatkan gejala:

a. Dysuria (nyeri waktu berkemih)

b. Peningkatan frekuensi berkemih

c. Sering kencing pada malam (nocturia)

d. Keinginan kuat untuk berkemih (urgency)

e. Kencing yang susah dan disertai kejang otot pinggang (stranguria)


f. Nyeri pinggang bawah atau suprapubic

g. Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah

3. Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala:

a. Demam

b. Menggigil

c. Nyeri pinggang

d. Mual sampai muntah

e. Irritative voiding symptoms (sering miksi, mendesak dan dysuria)

f. Tanda penting: nyeri ketok pada pinggang (ginjal) yang terkena

4. Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis akut,

tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal.

F. Komplikasi

1. Pembentukan abses ginjal atau perirenal

2. Gagal ginjal

G. Pemeriksaan diagnostic : Urinalisis, Bakteriologis, USG dan IVP

H. Pengobatan

1. Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negative

2. Apabila pielonefritis kroniknya disebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka diperlukan

penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut

3. Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme

yang mungkin naik ke urethra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk

menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.


ASUHAN KEPERERAWATAN INFEKSI SALURAN KEMIH

A. Pengkajian

Dalam melakukan pengkajian pada klien ISK menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh

yaitu :

Data biologis meliputi :

- Identitas klien

- Identitas penanggung

Riwayat kesehatan :

- Riwayat infeksi saluran kemih

- Riwayat pernah menderita batu ginjal

- Riwayat penyakit DM, jantung.

B. Pengkajian fisik :

1) Palpasi kandung kemih

2) Inspeksi daerah meatus

a. Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernihan urine

b. Pengkajian pada costovertebralis

C. Riwayat psikososial :

- Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan


- Persepsi terhadap kondisi penyakit
- Mekanisme kopin dan system pendukung
- Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga
1) Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit
2) Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis