Anda di halaman 1dari 43

STUDI KEANEKARAGAMAN SERANGGA MALAM

BERDASARKAN JAM BIOLOGISNYA DI KAWASAN HUTAN PANTAI


TRIANGULASI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) ALAS PURWO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekologi

Yang Dibimbing oleh Drs. Agus Dharmawan., M.Si dan Dr. Vivi Novianti., M.Si

Oleh:

Kelompok 4/Offering G

Abiyyu Rahmawan (150342606962)


Dyan Listiana (150342602064)
Edi Ramdani (150342600087)
Iif Fitrotul Mahmudah (150342600856)
Marelda Ariyadhiny (150342602118)
Nur Rokhimatu lFaizah (150342608046)
Raudhatur Fatiha (150342600367)
Yunaida Dwi Permata (150342607628)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Taman Nasional Alas Purwo merupakan suatu kawasan pelestarian alam di Indonesia
yang terletak di kecamatan Tegaldelimo dan kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi.
Secara geografis terletak di ujung timur pulau jawa wilayah pantai selatan antara 8o25 -
8o47 LS, 114o20- 114o36 BT. Taman Nasional Alas Purwo ditetapkan sebagai Taman
Nasional sejak tahun 1993 dengan luas wilayah sekitar 43.420 ha yang terdiri dari beberapa
zonasi yaitu: zona inti (sanctuary zone), seluas 17.200 ha, zona rimba (wilderness zone)
seluas 24.767 ha, zona pemanfaatan intensive use zone)seluas 250 ha, zona penyangga
(buffer zone) seluas1.203 ha.Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan konservasi
yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo. Ketetapan ini berdasarkan surat
keputusan menteri kehutanan No. 283/kpts-IU 1992 tanggal 26 februari 1999 (anonym, tanpa
tahun).
Kawasan Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan hutan tropic yang
didalamnya terdapat terdapat vegetasi hutan yang lengkap, yaitu hutan vegetasi pantai, hutan
vegetasi rawa, hutan vegetasi tanaman produktif, dan hutan bambu. Dilihat dari fisiognomi
vegetasinya, hutan mangrove maupun hutan heterogen memiliki kanopi yang lebat hingga
cahaya matahari tidak sampai ke dasar hutan. Hal ini akan berpengaruh juga terhadap hewan
yang hidup didalamnya. Patrick dalam Irawan (1999) menyatakan hal ini hampir sama bahwa
di daerah yang keanekaragaman spesiesnya tmbuh tinggi terdapat jumlah spesies hewan yang
tinggi pula. Hal ini disebabkan adanya interaksi antara hewan dengan tumbuhan sebagai
bagian dalam suatu ekosistem yang ada.
Keanekaragaman hewan yang paling tinggi dimiliki oleh serangga. Keanekargaman
serangga dapat disebabkan oleh adanya keanekaragaman Sumber Daya Alam seperti sumber
makanan dan topografi alam. Penelitian mengenai keanekaragaman serangga dapat
bermanfaat untuk proses pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, perlu diadakannya studi
mengenai keanekaragaman serangga, khususnya serangga malam di Hutan Pantai Taman
Nasional Alas Purwo.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun rumusan masalah antara lain
bagaimanakah keanekaragaman spesies serangga malam berdasarkan jam biologisnya di
Hutan Pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk engetahui keanekaragaman spesies
serangga malam berdasarkan jam biologisnya di Hutan Pantai Triangulasi Taman Nasional
Alas Purwo

1.4 Batasan Penelitian


Sesuai dengan judul dan tujuan dari penelitian ini, maka batasan penelitian dalam
penelitian ini sebagai berikut.
1. Subyek penelitian adalah hewan serangga malam yang terdapat di kawasan Hutan
Pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo
2. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini hanya mengamati jenis/ spesies
serangga malam, keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan tiap-tiap spesies untuk
masing-masing waktu berbeda serta mengidentifikasi spesies serangga malam yang
terdapat di kawasan Hutan Pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo.
3. Pengamatan dilakukan pada rentang waktu yang berbeda, yaitu setiap dua jam antara
pukul 20.00- 02.00 WIB.

1.5 Definisi Operasional


1. Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari hewan beruas yang
bertungkai enam (tiga pasang); karena itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari
bahasa Yunani, berarti "berkaki enam") (anonym, 2010)
2. Keanekaragaman hayati atau biodiversitas (Bahasa Inggris: biodiversity) adalah suatu
istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah
dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen,
spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses
ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya (anonym, 2010)
3. Kemerataan adalah cacah individu masing-masing spesies dalam unit komunitas
(Dharmawan, dkk., 2005)
4. Kekayaan adalah jumlah spesies penyusun komunitas (Dharmawan, dkk., 2005)
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Taman Nasional Alas Purwo


Berdasarkan Administratif Pemerintahan, Taman Nasional (TN) Alas Purwo terletak
di Kecamatan Tegaldelimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Secara
geografis terletak di ujung timur Jawa wilayah pantai selatan antara 8o26 45 8o4700 LS
dan 114o2016 114o3600 BT. Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas wilayah sekitar
43.420 ha yang terdiri dari beberapa zonasi yaitu: zona inti (sanctuary zone), seluas 17.200
ha, zona rimba (wilderness zone) seluas 24.767 ha, zona pemanfaatan intensive use
zone)seluas 250 ha, serta zona penyangga (buffer zone) seluas1.203 ha. Taman Nasional
(TN) Alas Purwo memiliki rata-rata curah hujan 1000-1500 mm per tahun dengan dengan
temperature 22-13oC, dengan kelembaban udara 40,85 %. Wilayah Taman Nasional Alas
Purwo sebelah barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah
timur.
Dalam keadaan biasa, musim di Taman Nasional (TN) Alas Purwo pada bulan april
sampai oktober adalah musim kemarau dan bulan oktober sampai april adalah musim
penghujan. Secara umum, kawasan Taman Nasional (TN) Alas Purwo mempunyai ciri-ciri
topografi datar, bergelombang ringan sampai berat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga
Manis (322 mdpl).Keadaan tanah hampir keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan
sebagian kecil berupa tanah lempeng.Sungai di kawasan Taman Nasional (TN) Alas Purwo
umumnya dangkal dan pendek.Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya tercatat di
bagian barat Taman Nasional (TN) Alas Purwo yaitu Sungai Segoro Anakan dan Sunglon
Ombo (anonym, tanpa tahun).

2.2 Morfologi Serangga

Serangga tergolong dalam filum Arthropoda, sub filum Mandibulata, kelas


Insekta.Insekta memiliki eksoskeleton yang berfungsi melindungi organ-organ
dalam.Eksoskeleton berupa kutikula yang terdiri atas zat khitin dan terbagi menjadi segmen-
segmen.Antara segmen yang satu dengan yang lain terdapat sutura yaitu bagian yang lunak,
dan yang berfungsi untuk memudahkan pergerakan abdomen, sayap, kaki, antenna, dll.Sayap
segmen tersusun dari potongan-potongan terpisah yang dikenal sebagai sklerit.Beberapa
sklerit segmen khusus tidak dapat dibedakan sehingga sutura tidak berfungsi lagi.Kepala pada
dasarnya terdiri atas 6 segmen yang berfusi.eksoskeleton kepala dikenal sebagai epicranium
yang terletak disebelah belakang, merupakan daerah diantara dan dibelakang mata.Genea
merupakan bagian yang terletak di kedua sisi lateral kepala bagian depan. Sedangkan sklerit
empat persegi panjang yang terletak di bawah epicranium disebut sebagai clypeus
(Kastawi,2003).Pada kedua sisi kepala terdapat mata majemuk.Mata majemuk dilindungi
oleh bagian transparan dari kutikula yaitu kornea, dimana terbagi menjadi sejumlah besar
potongan terbentuk segi enam yang disebut sebagai facet.Selain mata majemuk serangga juga
mempunyai mata sederhana atau ocellus (ocelli).Selain mata juga terdapat sepasang antena
(Kastawi, 2003).Bagian-bagian mulut yang berfungsi untuk menggigit yang sering disebut
sebagai tipe penggigit disebut tipe mandibularis, yang terdiri atas: (a) Bibir atas atau labrum
yang menggantung dibawah clypeus, (b) Lidah yang terletak disebelah median dibelakang
mulut berupa hypopharynx, (c) Dua rahang lateral yang disebut mandibulla yang masing-
masing mempunyai gigi sebelah dalam untuk memotong makanan, Sepasang maxillae
dengan bagian-bagian yang mempunyai bagian yang gilig, yang berfungsi sebagai alat
sensoris dan disebut sebagai palpus maxillaris, (e) Bibir bawah atau labium yuang
mempunyai palpus labialis yang pendek (Jasin, 1984).
Thorax terdiri atas 3 segmen yaitu prothorax, mesothorax, dan
metathorax.Tiap-tiap segmen tertutup oleh eksoskeleton, di bagian dorsal disebut tergum,
disisi lateraldisebut pleura, dan dibagian ventral disebut sternum (Kastawi, 2003). Masing-
masing kaki terdiri atas buku: (a) Buku pendek coxa, yang melekat pada tubuh, (b) Buku
kecil yang disebut trochanter yang bersenyawa dengan bagian, (c) Buku paha atau femur, (d)
Bukubulat kecilpanjang disebut tibia, (e) Buku tarsus, yang terdiri atas tiga bagian, proksimal
pada bagian ventralnya mengandung 4 pasang bulu pada bagian ventralis, sedang bagian
distal merupakan bagian yang lunak yang disebut pulvinalis yang berakhir dengan kuku kait
(Jasin, 1984). Abdomen terdiri dari atas kurang lebih 11 buku dengan beberapa bagian
terminal,misalnya genital.Alat pencernaan terdiri atas bagian muka, bagian tengah, dan
bagian belakang.Mulut memiliki kelenjar ludah.Jantung berbentuk gilig dan mempunyai
anterior aorta tetapi tidak memiliki pembuluh darah kapiler dan vena, coelom teredusir
menjadi haeocoel. Respirasi dengan system trachea yang berupa saluran yang berdinding
gelang kutikula dan bercabang-cabang sehingga sampai pada semua bagian tubuh sebelah
dalam. Dengan demikian udara yang mengandung oksigen akan sampai pada bagian dalam
dan terjadilah proses pengambilan oksigen secara langsung. Alat ekskresi terdiri atas dua atau
lebih badan yang membentuk tabung yang disebut dengan buluh malphigi.System saraf
terdiri atas ganglion-ganglion pada tiapruas.Seks terpisah yakni ada individu jantan dan ada
individu betina. Pembuahan terjadi di dalam tubuh, ova banyak menganduxeng yolk dan pada
fase terakhir akan terbentuk cangkang (Jasin, 1984).

2.3 Habitat Serangga


Serangga dapat ditemukan pada hampir semua habitat baik di lingkungan akuatik,
semi akuatik, dan di atas atau di bawah tanah (Borror, 1992).Oleh karena itu serangga
dikatakan bersifat kosmopolit.Aktivitas serangga sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya
matahari dan kemampuan dalam menyerap intensitas cahaya matahari yang berbeda-
beda.Beberapa serangga membutuhkan cahaya yang sedikit, sehingga serangga tersebut lebih
aktif melakukan aktivitasnya pada malam hari (nocturnal).Namun tidak jarang ada serangga
yang membutuhkan banyak dalam melakukan aktivitasnya sehingga lebih aktif pada siang
hari (diurnal).Hewan seringkali mengatur aktivitas mereka untuk menghindari dehidrasi
sehingga mereka bergerak ke tempat terlindung atau cenderung aktif pada malam hari
(Soejtipto, 1993).
Farb 1980 dalam Irawan 1990 menyatakan bahwa ada tiga hal yang menunjang
suksesnya kehidupan serangga dalam habitatnya, yaitu sebagai berikut.
a. Serangga mengalami metamorphosis sehingga pada tingkat larva dan dewasa hidup di
tempat yang berbeda dengan makanan yang berbeda pula.
b. Ada beberapa ordo yang memiliki sayap depan menebal menjadi penutup keras
sehingg melindungi bagian tubuh yang lunak.
c. Sebagian ordo memiliki mulut bertipe pengunyah sehingga dapat memakan makanan
yang keras.

2.4 Klasifikasi Serangga


Menurut E.L. Yordan dan P.S. Verma dalam Kastawi 1994, serangga diklasifikasikan
menjadi dua subklas, yaitu Apterygota dan Pterygota.Dasar pengklasifikasian ini adalah pada
ada tidaknya sayap. Menurut Kastawi dalam Brawan 1999, dua subclass tersebut ada 33 ordo
dan 12 diantaranya ditemukan di Indonesia, yaitu sebagai berikut.
Ordo Orthoptera
Hewan yang tergolong ordo ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Memiliki ukuran tubuh 4-75 mm
b. mempunyai dia sayap, sayap depan panjang menyempit dan sayap belakang meleba
c. Hewan tersebut memiliki tipe mulut penggigit dan pengunyah.
d. Hewan jantan mempunyai alat penghasil suara yang terletak di dada.
e. Contoh serangga yang tergolong dalam ordo ini adalah Blatella gertnatica.
Ordo Dermaptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a. Tubuh pipih dan berukuran 4-30 mm
b. Bersifat hemimetabola
c. Mulut bertipe pengunyah
d. Tidak bersayap atau dengan 1-2 sayap (sayap depan kecil seperti kulit, sayap belakang
seperti selaput, dan melipat di bawah depan bila sedang hinggap)
e. Hewan jantan mempunyai catut yang kokoh
f. Aktif pada malam hari (nocturnal)
g. Contoh spesies dalam ordo ini yaitu Farficula dan Anisolabis maritime
Ordo Mecoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini memiliki cirri-ciri sebagai berikut,
a. Tubuh ramping dengan kuran 1-35 mm
b. Bersifat holometabola
c. Mulut bertipe pengunyah
d. Antenna dan kaki panjang dengan kepala memanjang
e. Tidak bersayap atau memiliki dua pasang sayap yang panjang, sempit dan berupa
membran
f. Mempunyai organ penjepit yang terletak di ujung posterior abdomen dan organ tersebut
menyerupai organ penyengat pada kalajengking
g. Makanan berupa buah dan serangga yang mati
h. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Panorpa rufescens dan
Hyloittacus picalis.
Ordo Plecoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a. Ukuran tubuh 6-10 mm
b. Sayap dua pasang, ada yang bersayap panjang dan ada yang bersayap pendek
c. Antenna panjang, tubuh kunak dan bersifat liemimetabola
d. Mulut bertipe pengunyah (tetapi tidak berkembang pada saat dewasa)
e. Nympha bersifat akuatik dan memiliki bekas insang tracheal yang terletak di posterior
setiap pasang kaki
f. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Allocapnia pygmae dan
Cilloperla clio.

Ordo isoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
a. Ukuran tubuh 6-13 mm
b. Sayap dua pasang (sayap depan dan belakang memiliki bentuk dan ukuran yang sama)
c. Tipe mulut penggigit dan pengunyah yang memiliki cerci dua ruas
d. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Zootermopsis nevademis dan
Termites.
Ordo Odonata
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a. Ukuran tubuh 19-75 mm
b. Bersifat homometabola
c. Mulut pada hewan dewasa bersifat pengunyah
d. Memiliki dua pasang sayap berwujud membran
e. Antenna pendek, kaki dan abdomen panjang dan ramping
f. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Macromia magnified dan
Dragonflies.
Ordo Hemiptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a. Ukuran tubuh 1-66 mm
b. Antenna panjang, mulut bertipe penghisap yang muncul di depan kepala
c. Parasit pada hewan vertebrata
d. Memiliki dua pasang sayap seperti membran
e. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Gerris remigis dan Mesove
uiamusanti.
Ordo Trichoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a. Ukuran tubuh 9-22 mm
b. Sayap seperti selaput, berambut dan bersisik
c. Antenna panjang dan ramping
d. Tipe mulut penggigit
e. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Macromemum cebratum.
Ordo Lepidhoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
a. Ukuran tubuh 3-35 mm
b. Bersifat holometaboal
c. Tidak memiliki mandibula, mata besar, memiliki dua pasang sayap yang seperti
membran
d. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Calpodes ethlius dan Pyrulis
frinalis.
Ordo Coleoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
a. Ukuran tubuh 0,5-125 mm
b. Sayap depan keras dan tebal menanduk, sedangkan sayap belakang bersifat
membranous
c. Tipe mulut penggigit
d. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Adalia bipimctat dan
Hydrophillus teriangiilaris.
Ordo Hymenoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
a. Ukuran tubuh 5-40 mm
b. Sayap satu pasang seperti selaput
c. Bersifat holometabola
d. Mulut tipe pengunyah atau penghisap
e. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Formica sp.

2.5 Keanekaragaman Jenis Serangga


Keanekaragaman jenis merupakan suatu karakteristik dari tingkatan komunitas yang
didasarkan pada organisasi biologisnya.Keanekaragaman jenis ini dapat digunakan untuk
menyatakan struktur komunitas. Soegianto (1994) dalam Purwahyuni (2001) menyatakan
bahwa suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis tinggi jika komunitas
itu disusun oleh banyak spesies dengan kelimpahan spesies yang sama atau hampir sama.
Sebaliknya jika komunitas itu disusun oleh sedikit spesies yang domonan maka
keanekaragaman jenisnya rendah.
Hubungan keeratan antara serangkaian data kelimpahan suatu jenis hasil observasi
dengan keanekaragaman maksimum yang mungkin dicapai (richness) dan jumlah spesies
dapat menentukan indeks keanekaragamannya.Indeks Shannon-Wiener diperoleh dengan
perhitungan spesies darimkedua aspek tersebut dari distribusi individu diantara spesies.Odum
(1993) menyatakan bahwa fungsi Shannon atau indeks H menggabungkan komponen
keanekaragaman (variety) dan komponen kemerataan (eveness) sebagai suatu indeks
keanekaragaman secara keseluruhan (over all indeks for diversity) (Soegiyanto 1994 dalam
purwahyuni 2001).

2.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keanekaragaman


Faktor-faktor yang mempengaruhi keanekarangaman ada enam dan tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lain. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Faktor waktu
Irawan (1999) menyebutkan bahwa waktu mempengaruhi kematangan suatu
komunitas selama perubahan waktu suatu organisme akan berkembang dan mengalami proses
keanekaragaman menjadi lebih baik. Ditambahkan lagi bahwa keanekaragaman ini
merupakan produk evolusi. Di daerah tropis organisme berkembang dan memiliki
keanekaragaman lebih tinggi dibandingkan dengan organisme di daerah kutub, dan
komunitas memiliki proses keanekaragaman sepanjang waktu sehingga komunitas yang lebih
tua memiliki lebih banyak spesies daripada komunitas yang muda.
2. Faktor heterogenitas spasial (ruang)
Menurut Krebs (1985) dalam Widagdo (2002) relief atau topografi atau heterogenitas
makrospasial memiliki efek yang besar terhadap keanekaragaman spesies.Wilayah tropis
mempunyai kompleksitas lingkungan yang tinggi. Dalam hal ini factor fisik, komunitas
tumbuhan dan hewan sangat heterogen dan sangat cepat mengalami proses keanekaragaman
spesies. Di area yang memiliki relief topografi yang tinggi terdapat banyak habitat yang
berbeda sehingga berisi banyak spesies.
3. Faktor kompetisi
Krebs (1985) dalam Widagdo (2002) menjelaskan bahwa peran kompetisi
mempengaruhi kekayaan spesies yang digambarkan melalui hubungan relung antar
spesies.Factor ini sangat penting dalam evolusi karena merupakan persyaratan habitat untuk
hewan dan tumbuhan menjadi lebih terbatas dan makanan untuk hewan juga menjadi sedikit.
Komunitas di daerah tropis memiliki lebih banyak spesies karena memiliki relung yang kecil
dan overlap relung yang tinggi.
4. Faktor predasi
Predasi dan kompetisi sama-sama mempengaruhi keanekaragaman spesies.Dalam
komunitas yang kompleks dan mendukung banyak spesies, interaksi yang dominan adalah
predasi, sedangkan dalam komunitas sederhana yang dominan adalah kompetisi.Keberadaan
predator dan parasit dapat menekan populasi mangsa sampai pada tingkat yang sangat
rendah. Adanya pengurangan kompetisi memungkinkan bertambahnya suatu spesies sehingga
akan mendukung munculnya predator baru.
5. Faktor stabilitas lingkungan
Factor ini menunjukkan bahwa semakin stabil parameter lingkungan maka spesies
yang ada semakin banyak.Adanya kombinasi factor stabilitas dengan waktu dapat
mempengaruhi keanekaragaman.
6. Faktor produktivitas
Menurut Krebs (1985) dalam Widagdo (2002) stabilitas dari produktivitas
mempunyai pengaruh utama terhadap keanekaragaman spesies dalam komunitas.Semakin
besar produktivitasnya, maka keanekaragamannya juga semakin besar.Namun tidak selalu
benar kalau semakin rendah produktivitasnya maka keanekaragamannya juga semakin
rendah.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan penelitian


Penelitian ini tergolong dalam penelitian deskriptif eksploratif.Keanekaragaman
serangga malam di hutan pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo diperoleh dengan
menggunakan suatu metode jebakan Light Trap, yaitu memanfaatkan sinar lampu dan mika
untuk memancing serangga malam.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Kegiatan praktikum ini dilakukan pada tanggal 23 Maret 2017 tepatnya di hutan
pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo.Pemasangan jebakan (lampu dan mika)
dilaksanakan pada pukul 16.30-00.30 WIB.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi penelitian ini adalah semua jenis serangga malam yang ada di hutan pantai
Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo. Sampel penelitian berupa serangga malam yang
diperoleh melalui jebakan light trap yang dipasang pada pukul 17.00 dan diambil setiap dua
jam sekali sampai pukul 00.30 WIB.

3.4 Instrumen Penelitian


Alat yang digunakan sebagai berikut:
Set kain putih lightrap
Kabel roll
Lampu (dop) 25 watt
Botol film (plakon)
Kuas kecil
Vacum serangga
Mikroskop stereo

Bahan yang digunakan sebagai berikut.


Tali rafia
Larutan formalin atau alkohol
Amplop
Kertas label

3.5 Prosedur Kerja


Adapun cara kerja yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Memasang kabel, pitting dan lampu yang telah terhubung arus listrik.
2. Memasang set kain putih lightrap menggunakan tali raffia untuk diikatkan ke pohon
(Pemasangan telah siap pada pukul 17.00 WIB).
3. Mengamati dan mengambil serangga malam yang terjebak light trap (menggunakan
vacuum untuk serangga kecil, dan menggunakan tangan untuk serangga yang besar
atau yang bersayap rapuh untuk dimasukkan ke dalam amplop) pada pukul 18.30,
20.30, 22.30, dan 00.30 WIB.
4. Memindahkan specimen dari light trap yang telah berisi serangga yang sudah terjebak
ke dalam botol plakon yang telah berisi air dan larutan formalin dengan menggunakan
kuas.
5. Memberikan label/ identitas pada botol plakon.
6. Melakukan pengamatan di laboratorium biologi menggunakan mikroskop stereo dan
kunci determinasi serangga
7. Melakukan kompilasi data serangga malam yang diperoleh dengan semua kelompok.
8. Memasukkan data yang diperoleh ke dalam table data light-trap.

3.6 Teknik Analisis dan Tabulasi

A. Teknik Tabulasi Data


Tabel Keanekaragaman dan Kemerataan Fauna Tanah di kawasan hutan pantai Taman
Nasional Alas Purwo Banyuwangi

Waktu pengambilan
No Taksa Karakteristik
18.30 20.30 22.30 00.30
1
2
3
4
Dst
Total
B. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan cara sebagai berikut:Indeks keanekaragaman
pada masing-masing habitat dihitung dengan cara:
a. Indeks keanekaragaman Shanon Wiener

= ( )
Keterangan:
Pi = n/N
H : Indeks keanekaragaman Shanon Wiever
ni : Nilai rata-ratamasing-masing spesies
N : Jumlah total nilai rata-rata spesies dalam sampel
(Ludwig dan Reynolda, 1998 dalam Irawan, 1999)

b. Selanjutnya menghitung nilai indeks kemerataan (Evennes) dengan rumus:


=
ln
Keterangan:
E : Indeks kemerataan evennes
H : Indeks keanekaragaman Shanon Wiever
S : Jumlah spesies (n1, n2, n3, ..)
(Ludwig dan Reynolda, 1998 dalam Irawan, 1999)
c. Selanjutnya dihitung nilai kekayaan dengan menggunakan rumus indekRichness:
1
=
ln
Keterangan:
R : Indeks Richness
(Ludwig dan Reynolda, 1998 dalam Irawan, 1999)
BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Data Pengamatan


Kelompok 1

No Taksa Jam gambar karakteristik jumlah


penga-
matan
1 Genus 18.30 -mempunyai 2
Anormenis warna mata
putih pucat
-Tidak
mempunyai
antena
-Matanya
berwarna putih
dengan titik
hitam ditengah
-sayap
berwarna putih
berjumlah
sepasang
-Memiliki kaki
3 pasang
2 Family 18.30 -Perangkap 2
chalciodoidea sayap
(H) menyusut
-sungut-sungut
biasanya
menyiku dan
tidak pernah
mengandung
lebih dari 13
ruas
-Pronotum
agak segi
empat dan
tidak mencapai
tegule
-terdapat
sebuah
prepektus
besar yang
kelihatan,
berada disisi
mesosoma
3 Family 18.30 -Perangkap 2
Chalcidoidea sayap
(p) menyusut
-sungut-sungut
biasanya
menyiku dan
tidak pernah
mengandung
lebih dari 13
ruas
-pronotum
agak segiempat
dan tidak
mencapai
tegule
- terdapat
sebuah
prepektus
besar yang
kelihatan
berada di sisi
mesosoma
4 Genus 18.30 -memiliki 2
Clinidium koksa-koksa
belakang
-Sternum
abdomen
pertama
kelihatan
-Memiliki
sungut yang
berbentuk
rambut dan
tarsi 5-5-5
-memiliki
sutura-sutura
notopleura
5 Genus Culex 18.30 -berwarna 1
hitam belang-
belangputih
-Kepala
berwana hitam
dengan putih
pada ujungnya
-pada bagian
thorax terdapat
2 garis putih
berbentuk
kurva
-sayap
mempunyai
bulu yang
simetris dan
tanpa costa
6 Phryganea 21.30 -sayap depan 1
cinerea kecoklatan-
abu-abu
dengan garis-
garis
memanjang tak
jelas, garis
hitam (patah di
tengah)
berjalan dari
dekat dasar ke
hampir margin
luar sayap,
bintik-bintik
putih kecil ada
di kedua ujung
dan tengah
baris ini
-garis hitam
pendek lebih
dekat ke costa
di tengah distal
dari sayap
memiliki
bercak putih di
anterior akhir.
-ramping
keputihan atau
pucat abu-abu
di dasar sayap
sebelah thorax
-garis hitam di
sisi kepala
berjalan
melalui mata
-antena tebal,
sekitar dua
pertiga sayap
depan
- kaki dengan
duri pendek
mencolok
7 Genus 21.30 -Pronotum 1
Dytiscus
dengan atau
tanpa batas
pucat.
-Elytra
biasanya
dibatasi
dengan warna
kuning.
-Pronotum dan
elytra dari
betina
bervariasi
halus,
-Meta tibia
jauh lebih
panjang dari
umumnya,
-jalu apikal
luar sangat
tipis.
-Protarsi dari
laki-laki
memiliki dua
disk yang besar
(dan disk kecil)
8 21.30 -Kepala hitam
Coccinella
prolongata dengan 2
tempat pucat
-pronotum
dengan tempat
pucat
anterolateral
lebih besar
daripada di
spesies lain
-elytron
dengan 2
bintik-bintik
hitam dan
tempat
scutellar
-suture sempit
gelap
9 Ctenucha 21.30 bentuk kuning 1
virginica "kerah" adalah
perbedaan
yang baik.
Dalam
Ctenucha itu
sempit di
tengkuk dan
kemudian
menyebar ke
bahu di
Cisseps ia
pergi hampir
lurus
membentuk
garis yang rapi,
dan di
Harrisina garis
adalah kabur.
10 Tabanus 21.30 pucat stripe 1
lineola median di
perut
berbatasan
dengan garis-
garis
submedian
gelap; Mata
dengan 3 band
hijau;
scutellum
concolorous
dengan dada
tubuh
Kelompok 3-4

Jumlah
No. Nama spesies
18.30 20.38 22.30 00.39
1. Oecanthus 1
quadrimaculatus
2. Allonemobius 1
3. Parathene sp. 1

4. Parathene sp. 2
5. Parathene sp. (ngengat 1
kuning)

6. Diphucephala 1
colaspidoides

No Taksa Jam Gambar Karakteristik Jumla


pengambila h
n
1. Phylum : 18:49 - Ukuran kecil 1
Arthropoda - Berwarna kehitaman
Subphylum : - ditemukan rambut
Hexapoda disekitar tubuhnya
Class : Insecta - mata berwarna
Order : Diptera cokelat gelap
Genus : Acalyptera - sayap melebihi
Spesies : panjang abdomen
Agromysidae sp

2. Phylum : 18:49 -Berwarna cokelatt 1


Arthropoda -Berukuran kecil (1-2
Subphylum : cm)
Hexapoda -Mempunyai 6 kaki
Class : Insecta -Bermata besar
Order : Diptera -Memiliki antenna
Genus : panjang
Mantoididae -Sayap menutupi atau
Spesies : Mantoida lebih panjang dari
sp tubuh
3 Phylum : 18:49 -Berwarna hitam 1
Arthropoda -Sayap lebih panjang
Subphylum : dari badannya
Hexapoda -Berukurana kecil
Class : Insecta
Order : Diptera
Genus :
Bibiomorpha
Spesies :
Scatepsidae sp

4 Phylum : 18:49 Berwarna kehitaman 1


Arthropoda Mata berwarna gelap
Subphylum : Memiliki sayap yang
Hexapoda tidak terlau panjang
Class : Insecta
Order : Diptera
Genus :
Bibiomorpha
Spesies : Bibio sp

5. Phylum : 20.20 Bagian tubuh terdiri 1


Arthropoda dari kepla dan abdomen
Subphylum : Warna tubuh
Hexapoda kecokelatan
Class : Insecta Memiliki sepasang
Order : Diptera antenna
Genus :
Bibiomorpha
Spesies : Kiodactyla

6 Phylum : 00.37 Memiliki dua pasang 1


Arthropoda sayap
Subphylum : Sayap bagian atas (
Hexapoda anterior) lebih besar
Class : Insecta dibandingkan bawah (
Order : Lepidiptera posterior)
Genus : Daphniss Memilliki 4 pasang
Spesies : Daphniss kaki
nerii Bagian sayap
diselimuti oleh rambut
rambut habis
Bagian tubh terdiri dari
kepala, toraks, dan
abdmen
Bagian abdomen
terpisah oleh sekat atau
ruas
Mulut tipe penghisap
atau penusuk
6 Phylum : 00.37 Memiliki 4 pasang kaki 1
Arthropoda Berwarna hitam
Subphylum : Tidak bersayap
Hexapoda
Class : Arachnida
Order : Araniae
Genus : Araneiae
Spesies : Araneus
qiadematus

7 Phylum : 22.34 Memiliki sepasang 6


Arthropoda sayap
Subphylum : Memiliki 3 pasang kaki
Arthropoda Berwarna hitam
Class : Insecta Memiliki 2 antena
Order :
Hymenoptera
Genus : Apokrita
Spesies : Tachytes
crassus

8 Phylum : 22:34 Memiliki 2 buah 1


Arthropoda antenna, dibagian ujung
Subphylum : antenna terdapat
Hexapoda bentukan bulat
Class : Insecta bersegmen
Order : Colepthera Memiliki kaki
Genus : Photurinae berjumlah tiga pasang
Spesies : Photuris Memiliki penutup
lucicrescens sayap
Tubuh terbagi menjadi
kepala, toraks, dan
abdomen
9 Phylum : 22.34 Memiliki satu pasang 1
Arthropoda antenna
Subphylum : Memilki satu pasang
Hexapoda sayap
Class : Insecta Bagian tubuh terbagi
Order : Diptera menjadi kepaa, toraks
Genus : Sepsidae dan abdomen
Spesies : Black Bagian abdomen
scavenger fly terbagi atas ruas ruas
Memiliki 3 pasang kola
Warna tubuh hitam
mengkilap
KELOMPOK 5 & 6

No. Nama spesies dan Jumlah


gambar 18.30 20.30 22.30 00.30
1. 1

Diaphania
hyalinata

2. 1

Depressaria pastinacella
3. 1 1

Trachelus tabidus
4. 1

Meecta california
miranda
5. 1

Hylapus modestus
6. 1

Helichus lithophillus
7. 1

Captotomus interogatus
8. 1

Hypanthia cunea
9. 1

Anthophora occidentalis
10 1
Apanteles thompsoni
11 1

Zarhopalus inquisitor
12. 1 1

Ernobius sp
13. 1

Philaenus sp
14. 1

Cicadellidae sp
15. 1

Tipula sp
16. 1

Dorcatoma chysomelina
17. 3 1

Chalcidoidea
18. 1

Auplopus sp
19. 1

Ostirinia furnacalis
20. 1

Arctonis sp
21. 7

Oligotoma sp
22. 4

Cuerna sp
23. 1

Ostirina sp
24. 4

Salma sp
KELOMPOK 7&8

Jumlah
No. Nama Spesies 18.30 20.30 22.30 00.30 Keterangan
WIB WIB WIB WIB

1. Chelonus sp.1 1

Sumber : dokumen
pribadi

2. Crypsiptya sp. 2

Sumber : dokumen
pribadi

3. Chelonus sp.2 1

Sumber : dokumen
pribadi

4. Tibicen sp. 4

Sumber : dokumen
pribadi

5. Cicadellidae sp. 3

Sumber : dokumen
pribadi

Jumlah
No. Nama Spesies dan Gambar
18.30 20.30 22.00 00.30
1. Synanthedon tipuliformis 1
2. Capnochra fuliginosa 2

3. Crypsiptya coclesalis Walkel 3

4. Stegobium paniceum 1
KELOMPOK 9&10

Nama Spesies dan Jumlah


NO
Gambar 18.30 20.30 22.30 00.30
1 2

Paederus sp.
2 1

Gryllus sp.
3 2 1

Crypsiptya sp.
4 1

Eoophyla sp.
5 1

Muscidae sp.
KELOMPOK 11 & 12

Jumlah
No. Nama Spesies
18.30 20.30 22.30 00.30
Chalcidoidea

1. 2 1

Ostrinia sp.

2. 1 2
Blatella germanica

3. 1

Lathrobium argulare

4. 1

Encyrtidae sp.

5. 1

6. Salma sp. 1
Parotis athysanota

7. 1

4.1 Analisis Data


Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, dilakukan analisis mengenai indeks
keanekaragaman (H), kemerataan (E), dan kekayaan (R), dari spesies serangga malam di
Hutan Pantai Taman Nasional Alas Purwo.
INDEKS KEANEKARAGAMAN (H')
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4 0.791196
0.3 0.664375 0.628923
0.551034
0.2
0.1
0
18.3 20.3 22.3 0.3

INDEKS KEMERATAAN (E)


0.18
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
1 2 3 4
25

20

15
Series 1
Column1
10
Column2

0
1 2 3 4

eterangan:
sumbu y: 1= waktu pengambilan 18.30 WIB
sumbu y: 2= waktu pengambilan 20.30 WIB
sumbu y: 3= waktu pengambilan 22.30 WIB
sumbu y: 4= waktu pengambilan 00.30 WIB

BAB V
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh, diketahui bahwa indeks


keanekaragaman (H) dan kekayaan (R), indeks kemerataan (E) yang tertinggi terdapat pada
waktu pengambilan pukul 18.30 WIB..Spesies serangga yang paling banyak ditemukan
berasal dari ordo Diptera. Menurut Dharmawan (2005), indeks keanekaragaman yang tinggi
(H) dipengaruhi oleh indeks kemerataan (E) dan kekayaan spesies (R) yang tinggi pula.
Berdasarkan klasifikasi tingkat keanekaragaman oleh Lee et al., (1978) dalam Arisandi
(1999), yaitu: Sangat Tinggi H > 3,0; Tinggi jika H > 2,0; Sedang jika 1,6 < H < 2,0; Rendah
jika 1,0 < H < 1,5; Sangat rendah jika H < 1,0.Berdasarkan klasifikasi tersebut, indeks
keanekaragaman pada waktu pengambilan pukul 18.30 WIB dapat dikategorikan sangat
tinggi.
Faktor yang mempengaruhi keanekaragaman serangga antara lain: 1) waktu, 2)
heterogenitas spasial, 3) relung, dan 4) tingkat stabilitas lingkungan dan ketersediaan sumber
daya alam. Waktu turut mempengaruhi keanekaragaman temporal yang dijumpai karena
setiap hewan memiliki siklus hidup yang membuatnya tidak selalu dapat teramati sebagai
serangga dewasa.Selain itu, waktu juga memiliki peran dalam aktivitas serangga setiap
harinya. Serangga malam yang dijumpai memiliki jam biologis pada malam hari untuk
melakukan aktivitas hidupnya seperti mencari makan dan tempat bersarang. Menurut Odum
(1993) serangga malam merupakan golongan hewan yang menghabiskan sebagian besar
hidupnya untuk beraktifitas pada malam hari. Sebagai hewan berdarah dingin (poikilotermik)
serangga memiliki mekanisme pertahanan diri terhadap suhu yang rendah. Borror, dkk (1992)
Xmenjelaskan bahwa beberapa serangga tahan hidup pada suhu-suhu yang rendah ini
menyimpan etilen glikol di dalam jaringan tubuh mereka untuk melindungi dari pembekuan.

Faktor heterogenitas spasial mempengaruhi keanekaragaman sebagai mana yang


dijelaskan oleh Krebs (1985) dalam Widagdo (2002) bahwa relief atau topografi atau
heterogenitas makrospasial memiliki efek yang besar terhadap keanekaragaman spesies.
Wilayah tropis mempunyai kompleksitas lingkungan yang tinggi. Dalam hal ini faktor fisik,
komunitas tumbuhan dan hewan sangat heterogen dan sangat cepat mengalami proses
keanekaragaman spesies. Di area yang memiliki relief topografi yang tinggi mengandung
banyak habitat yang berbeda sehingga berisi banyak spesies. Berdasarkan pernyataan
tersebut, diketahui keanekaragaman topografi dapat meningkatkan keanekaragaman
komunitas dan dapat meningkatkan keanekarganman serangga yang dijumpai.

Faktor relung mempengaruhi keanekaragaman dikarenakan setiap makhluk hidup


memiliki relungnya masing-masing.Adanya keterbatasan Sumber Daya Alam (seperti
makanan dan tempat bersarang) dapat mengakibatkan tumpang tindih relung, sehingga terjadi
kompetisi.Menurut Krebs (1985) dalam Widagdo (2002) menjelaskan bahwa peran kompetisi
mempengaruhi kekayaan spesies yang digambarkan melalui hubungan relung antar spesies.
Faktor ini sangat penting dalam evolusi karena merupakan persyaratan habitat untuk hewan
dan tumbuhan menjadi lebih terbatas dan makanan untuk hewan juga menjadi sedikit.
Komunitas di daerah tropis memiliki lebih banyak spesies karena memiliki relung yang kecil
dan overlap relung yang tinggi.Predasi dan kompetisi sama-sama mempengaruhi
keanekaragaman spesies. Dalam komunitas yang kompleks dan mendukung banyak spesies,
interaksi yang dominan adalah predasi, sedangkan dalam komunitas sederhana yang dominan
adalah kompetisi. Keberadaan predator dan parasit dapat menekan populasi mangsa sampai
pada tingkat yang sangat rendah. Adanya pengurangan kompetisi memungkinkan
bertambahnya suatu spesies sehingga akan mendukung munculnya predator baru. Serangga
memiliki peran yang beraneka ragam dalam suatu ekosistem, seperti sebagai polinator
tumbuhan berbunga ataupun predator bagi serangga lainnya.

Faktor stabilitas lingkungan dan ketersediaan Sumber Daya Alam merupakan salah
satu faktor yang paling berpangaruh terhadap keanekaragaman. Stabilitas lingkungan
menunjukkan tingkat kematangan dari komunitas suatu daerah. Daerah yang memiliki
Sumber Daya Alam(SDA) yang beranekaragam, memiliki keanekaragaman yang tinggi.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa indeks
keanekaragaman (H) dan kekayaan (R) yang tertinggi terdapat pada waktu pengambilan
pukul 20.00 WIB. Adapun indeks kemerataan (E) yang tertinggi terdapat pada pukul 22.00
WIB. Spesies serangga yang paling banyak ditemukan berasal dari ordo Diptera.
Keanekaragaman tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: waktu, heterogenitas
spasial, relung, dan tingkat stabilitas lingkungan serta ketersediaan sumber daya alam.

6.2 Saran
Pelaksanaan praktikum pengamatan serangga malam menggunakan light trap
sebaiknya dilakukan secara berkala selama satu tahun. Hal tersebut bertujuan untuk
memperoleh data yang baik dan bisa menggambarkan keberadaan serangga yang sangat
dipengaruhi oleh siklus hidupnya. Selain itu, perlu dilakukan pengamatan terhadap faktor
abiotik yang mempengaruhi keanekaragaman serangga tersebut.
DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2014. Keanekaragaman hayati. (Online). hayati, diakses tanggal 21 April 2014
Anonim. 2014. Serangga. (Online).http://id.wikipedia.org/wiki/serangga, diakses tanggal 21
April 2014.
Arisandi, P. 1999. Studi Struktur Komunitas dan Keanekaragaman Mangrove Berdasarkan
Tipe Perubahan Garis Pantai di Pantai Utara Jawa Timur.Skripsi. Surabaya:
Universitas Airlangga.
Borror, T., J. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Keenam. Terjemahan oleh
Soetiyono P. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Dharmawan, A., Ibrohim, Tuwarita, H., Suwono, H., Susanto, P. 2005. Ekologi Hewan.
Malang: Universitas Negeri.

Irawan, K.F. 1999. Kemelimpahan dan Keanekaragaman Serangga Malam di Hutan Pantai
Kawasan Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi. Skripsi Tidak Diterbitkan.
Malang: IKIP
Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi.Terjemahan oleh Tjahyono.Yogyakarta: UGM
Syafei, E. S. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: ITB
Widagdo, K. 2002. Keanekaragaman Serangga Malam pada Berbagai Ketinggian di Gunung
Arjuna. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: UM