Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.

4 April 2016 (233-240) ISSN: 2337-6732

OPTIMASI TEKNIK STRUKTUR ATAS JEMBATAN BETON


BERTULANG
(STUDI KASUS: JEMBATAN DI KABUPATEN PEGUNUNGAN
ARFAK)
Christhy Amalia Sapulete
Servie O. Dapas, Oscar H. Kaseke
Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Sam Ratulangi Manado
Email: chychy.sapulete@gmail.com

ABSTRAK
Dalam bidang ilmu Teknik Sipil, optimasi bertujuan untuk memperoleh hasil desain yang ekonomis.
Salah satu cara adalah dengan membandingkan hasil perencanaan dari beberapa alternatif.
Dalam penulisan ini, optimasi teknik diaplikasikan terhadap perencanaan struktur atas jembatan
beton bertulang berbentuk studi kasus terhadap tipe Jembatan Gelagar Beton Bertulang Balok T di
Kabupaten Pegunungan Arfak dengan bentang jembatan 20 m dan lebar 10 m, dibandingkan dengan
alternatif lain, yakni dengan tipe Jembatan Gelagar Boks Beton. Analisis perencanaan menggunakan
standar pembebanan RSNI T-02-2005 dan menggunakan data yang sesuai dengan perencanaan
semula.
Dari analisis yang dilakukan dengan menggunakan standar pembebanan RSNI T-02-2005 diperoleh
bahwa gelagar balok T yang telah direncanakan semula dalam kasus ini tidak memenuhi syarat
penulangan sehingga dilakukan perencanaan kembali tulangan yang memenuhi syarat untuk
digunakan pada gelagar balok T dan direncanakan ulang dalam bentuk tipe Jembatan Gelagar
Boks Beton dengan menggunakan besar beban yang sama, diperoleh hasil optimasi bahwa gelagar
boks dapat mereduksi penggunaan jumlah penulangan dan volume beton dibandingkan dengan
gelagar balok T.
Kata Kunci: Struktur Atas Jembatan Beton Bertulang, Pembebanan RSNI-T-02-2005, Gelagar
Balok T, Gelagar Boks Beton

PENDAHULUAN alat berat lain. Jembatan tersebut direncanakan


dengan bentang 20 m dan lebar rencana jembatan
Latar Belakang Masalah 10 m.
Konstruksi jembatan yang berfungsi untuk Struktur jembatan beton bertulang dapat dibuat
menghubungkan lalu lintas jalan raya dapat dengan berbagai alternatif, maka dalam tugas
dibuat dengan berbagai alternatif tergantung pada akhir ini akan ditinjau alternatif selain dari
kondisi topografisnya dan perlintasan jalan yang konstruksi Jembatan Gelagar Beton Bertulang
direncanakan. Balok T, yakni dengan tipe Jembatan Gelagar
Pada jaringan jalan raya di Kabupaten Boks Beton. Tipe Jembatan Gelagar Boks Beton
Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat, lebih ekonomis digunakan untuk bentang 18
terdapat beberapa pembangunan konstruksi 30 m, sehingga akan dihitung optimasi dari
jembatan, dan terbanyak yang dibangun adalah penggunaan tipe Jembatan Gelagar Boks Beton
jenis jembatan beton bertulang. Salah satu dari dibandingkan dengan tipe Gelagar Beton
jembatan tersebut melintasi sungai Inggemun Bertulang Balok T untuk bentang 20 m.
yang terletak diantara Kampung Penibut dan
Kampung Ulong, Kabupaten Pegunungan Arfak. Tujuan Penelitian
Struktur bangunan atas untuk jembatan ini Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi
direncanakan mengikuti Standar Jembatan kapasitas struktur bangunan atas dari
Gelagar Beton Bertulang Balok T yang perencanaan jembatan yang telah ada dan
dikeluarkan oleh Bina Program Jalan, Direktorat merencanakan struktur bangunan atas dari tipe
Jendral Bina Marga, Departemen Pekerjaan jembatan gelagar boks beton serta
Umum. Jaringan jalan raya di daerah ini sedang membandingkan hasil dari kedua tipe jembatan
dalam masa pembangunan sehingga akan ada tersebut.
lalu lintas berupa jenis kendaraan seperti truk dan

233
Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.4 April 2016 (233-240) ISSN: 2337-6732

Manfaat Penelitian Penyebaran Beban D pada Arah Melintang:


Manfaat dari penelitian ini adalah dapat Intensitas beban lajur D untuk beban UDL
membandingkan alternatif lain dari standar maupun KEL dipengaruhi oleh lebar
struktur jembatan yang ada. jembatan. RSNI T022005 memberikan
penyebaran beban D terhadap lebar
jembatan sebagai berikut:
TINJAUAN PUSTAKA o Lebar jembatan b < 5.5 m

Jembatan
Jembatan adalah suatu konstruksi yang dibuat
untuk menghubungkan atau meneruskan jalan
yang satu dengan yang lainnya yang melalui
suatu rintangan yang berada jauh lebih rendah.
Pada kondisi ini, beban D dianggap
Konstruksi suatu jembatan terdiri dari bangunan
bekerja 100% pada seluruh lebar
atas dan bangunan bawah.
jembatan.
o Lebar jembatan b > 5.5 m
Pembebanan Jembatan
Perhitungan pembebanan yang bekerja pada
jembatan dihitung berdasarkan Standar
Pembebanan untuk Jembatan RSNIT022005,
dengan beban-beban yang ditinjau, yaitu:
a. Berat Sendiri
Berat sendiri adalah beban mati dari struktur Pada kondisi ini, beban D dianggap
jembatan yang merupakan berat dari material bekerja 100% pada 5.5 m di tengah bentang
jembatan dan bersifat permanen. jembatan, dan bekerja 50% pada bagian yang
b. Beban Lajur D lain.
Beban lajur D merupakan beban transien o Susunan alternative untuk lebar jembatan
yang diperhitungkan sebagai akibat dari b > 5.5 m
beban kendaraan. Beban lajur D terdiri
dari:
o Uniformly Distributed Load (UDL):
UDL mempunyai intensitas q (dalam
kPa), dimana besarnya tergantung pada
panjang total yang dibebani L (bentang
jembatan) seperti berikut:
Pada kondisi ini, beban D dianggap
Untuk L 30 m: q = 9.0 kPa
bekerja 100% pada 5.5 m di tepi bentang
15 jembatan, dan bekerja 50% pada bagian yang
Untuk L > 30 m: q = 9.0 0.5 + kPa
L lain.
c. Beban Truk T
UDL (kPa)

Grafik 1. Beban UDL terhadap bentang


Gambar 1. Beban Truk T (500 kN)
Sumber : RSNI T022005
Sumber : RSNI T 02 2005
o Knife Edge Load (KEL): dengan d. Dynamic Load Allowance (DLA)
besarnya intensitas p adalah 49.0 kN/m, Untuk beban garis KEL: DLA merupakan
dan ditempatkan tegak lurus dari arah fungsi dari panjang bentang ekuivalen
lalu lintas pada jembatan. (Grafik 2)

234
Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.4 April 2016 (233-240) ISSN: 2337-6732

Analisis Beton Bertulang


a. Beton Bertulang Tunggal
DLA

Grafik 2. Faktor Beban Dinamis untuk KEL pada


Pembebanan Lajur D
Sumber : RSNI T022005

Untuk beban truk T: diambil DLA 30%. Besarnya faktor blok tegangan persegi
Harga DLA yang dihitung, digunakan pada ekivalen () bergantung pada nilai mutu
seluruh bagian bangunan yang berada diatas beton, yaitu:
permukaan tanah. Untuk fc 30 Mpa,maka = 0.85
e. Beban Angin Untuk fc > 30 Mpa, maka dihitung:
Jika suatu kendaraan sedang berada diatas 0.05 0
jembatan, beban garis merata tambahan arah = 0. 5
horizontal harus diterapkan pada permukaan Dari gambar diatas, resultan gaya yang
lantai seperti diberikan dengan rumus: terjadi adalah sebagai berikut:
TEW = 0.0012 * CW * (VW)2 * Ab Gaya tekan beton yang terjadi:
dimana: C = 0.85fc * a * b (1)
TEW = Gaya akibat beban angin Gaya tarik baja tulangan yang terjadi:
VW = Kecepatan angin rencana T = As * fy (2)
CW = Koefisien seret Dengan (Pers. 1) sama dengan (Pers. 2),
Ab = luas koefisien bagian maka keseimbangan gaya horizontal yang
samping jembatan terjadi:
f. Gaya Rem C=T (3)
Pengaruh gaya rem diperhitungkan sebesar 0.85fc * a * b = As * fy
5% dari beban D tanpa dikalikan dengan
= . (4)
faktor dinamis, dimana gaya rem dianggap
bekerja horizontal dengan titik tangkap Dengan jarak antara resultan gaya tekan
setinggi 1.80 m di atas permukaan lantai beton dan gaya tarik tulangan sejauh d a/2,
kendaraan. sehingga momen internal akan dihitung:
Mu = As * fy * (d a/2) (5)
g. Gaya akibat Gempa
Pengaruh gempa pada struktur sederhana b. Beton Bertulang Ganda
disimulasikan oleh beban statik ekivalen.
Beban rencana gempa minimum diperoleh
dari rumus:
TEQ = Kh * I * WT
dimana:
TEQ = Gaya geser dasar total
dalam arah yang ditinjau
I = Faktor kepentingan
WT = Berat nominal bangunan yang
mempengaruhi percepatan gempa Dari gambar diatas, resultan gaya yang
K = Koefisien gempa, Kh=C*S terjadi adalah sebagai berikut:
C = Koefisien geser dasar Gaya tekan beton yang terjadi:
untuk daerah, waktu dan Cc1 = 0.85fc * (a*b As) (6)
kondisi setempat Cs = As * fs (7)
S = Faktor tipe bangunan Gaya tarik baja tulangan yang terjadi:
T = As * fy (2)

235
Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.4 April 2016 (233-240) ISSN: 2337-6732

Total gaya tekan yang bekerja pada beton


(Pers. 6) dan (Pers. 7) sama dengan gaya
tarik yang bekerja pada baja tulangan (Pers.
2), maka keseimbangan gaya horizontal yang
terjadi:
C=T (3)
0.85fc*(a*b As) + As*fs = As * fy
Dalam desain tulangan beton, digunakan
nilai yang merupakan rasio tulangan tarik
terhadap tulangan tekan dengan interval nilai Diuraikan sebagai berikut:
adalah 0 < < 1
As = * As (8)
= rasio tulangan tekan terhadap
tulangan tarik , diambil 0 < < 1
.
= .
(9)

c. Balok T Beton Bertulang


Cc1 = 0.85fc * (a*bAs) (Pers. 10)

Cc2 = 0.85fc * (bfbw)*tf (Pers. 11)


Dari gambar diatas, resultan gaya yang
terjadi adalah sebagai berikut:
Gaya tekan beton yang terjadi:
Cc1 = 0.85fc * (a*bAs) (Pers. 10)
Cc2 = 0.85fc * (bfbw)*tf (Pers. 11)
Cs = As * fs (Pers. 7)
Gaya tarik baja tulangan yang terjadi:
T = As * fy (Pers. 2)
Cs = As * fs (Pers. 7)
Keseimbangan gaya horizontal yang terjadi:
H = 0
Gaya tarik baja tulangan yang terjadi:
Cc1 + Cc2 + Cs = T (Pers. 3)
T = As * fy (Pers. 2)
0.85fc * (a * bw As) + 0.85fc * (bf
bw) * tf + As * fs= As * fy
. [ ] METODOLOGI PENELITIAN
= .
(Pers. 12)
Prosedur Penelitian
d. Balok Boks Beton Bertulang Metode penelitian dalam menyusun tugas akhir
Analisis balok boks dalam segala hal tidak ini merupakan studi pustaka dan studi terapan
berbeda dengan prinsip balok persegi. dan proses perencanaan struktur atas jembatan
Bentuk tidak menjadi sesuatu hal yang rumit beton bertulang yang telah ada.
bila diperoleh titik berat penampang yang
tertekan setinggi tinggi balok tekan a. Bila
disamakan bw = bf, maka analisis balok boks
sama dengan balok T.

236
Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.4 April 2016 (233-240) ISSN: 2337-6732

Tahapan Penelitian Prosedur Desain Tulangan Tunggal Balok


Persegi

237
Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.4 April 2016 (233-240) ISSN: 2337-6732

Prosedur Desain Tulangan Ganda Balok Prosedur Desain Tulangan Balok T


Persegi

238
Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.4 April 2016 (233-240) ISSN: 2337-6732

PERHITUNGAN STRUKTUR ATAS


JEMBATAN

Analisis Struktur Atas Jembatan Gelagar


Balok T
Dari hasil perhitungan pembebanan berdasarkan
Standar Pembebanan untuk Jembatan RSNIT
022005, diperoleh: Perencanaan Struktur Atas Jembatan
Gelagar Boks
o Kombinasi Momen Ultimit Dengan menggunakan beban momen yang sama
besar, direncanakan ulang struktur atas jembatan
dengan tipe Gelagar Boks Beton.
o Perhitungan Pelat Lantai Jembatan

o Perhitungan Tulangan Balok Gelagar


Tulangan lentur
Momen rencana = 12005,74 kN.m

o Kombinasi Gaya Geser

Dan dengan sengkang yang dipakai 2D12 120

PENUTUP

Kesimpulan
Gaya geser rencana = 2399,91 kN Dengan menggunakan standar pembebanan
dari RSNI T-02-2005, struktur atas jembatan
Dari hasil analisis struktur, diperoleh bahwa gelagar balok T yang telah direncanakan
struktur penampang dalam studi kasus, yaitu tipe dalam studi kasus tidak mampu menahan
Gelagar Balok T, hanya mampu menahan beban beban momen akibat pembebanan. Sehingga
momen sebesar 5072,121 kN.m. Perencanaan tanpa mengubah dimensi dari struktur
struktur dalam studi kasus mengikuti Standar semula, telah dihitung kembali penulangan
Jembatan Gelagar Beton Bertulang Balok T struktur semula untuk menahan momen
yang dikeluarkan oleh Bina Program Jalan, lentur akibat beban.
Direktorat Jendral Bina Marga, Departemen Diperoleh hasil perencanaan tulangan lentur
Pekerjaan Umum yang menggunakan standar yang digunakan pada struktur semula, yaitu
pembebanan dari Peraturan Muatan untuk tulangan tarik 2732 dan tulangan tekan
Jembatan Jalan Raya No.12 Tahun 1970, 632.
sehingga dengan menggunakan Standar Dengan perbandingan terhadap beban
Pembebanan untuk Jembatan RSNIT022005, momen yang sama besar, diperoleh bahwa
struktur yang direncakan semula tidak mampu gelagar boks lebih mereduksi penggunaan
menahan beban momen akibat pembebanan. penulangan dibandingkan dengan gelagar
balok T. Dari desain alternatif, yaitu gelagar
Dengan beban momen yang sama, dihitung boks beton, diperoleh hasil perencanaan
kembali penulangan untuk struktur jembatan tulangan lentur yang digunakan adalah
gelagar balok T. sebanyak 2432 tulangan tarik dan tulangan
tekan 532. Dengan tulangan geser yang
digunakan, 2D12 120.

239
Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.4 April 2016 (233-240) ISSN: 2337-6732

Dengan hasil yang lebih efisien, jembatan dalam RSNI T-02-2005. Maka disarankan
gelagar boks mampu mengoptimasi gelagar dalam perencanaan selanjutnya untuk
balok T dari segi kekuatan struktur yang mengikuti standar pembebanan yang telah
mampu menahan beban dan dari segi dikaji dalam versi terbaru untuk memenuhi
penggunaan material struktur. kebutuhan perencanaan dalam menghasilkan
jembatan yang layak digunakan.
Saran Jika akan ada yang melakukan penulisan
Kondisi perencanaan jembatan eksisting tugas akhir tentang jembatan, disarankan
yang masih mengikuti standar pembebanan untuk mencari optimum dimensi penampang
Peraturan Muatan untuk Jembatan Jalan dan jarak antar gelagar untuk kedua jenis
Raya No. 12/1970 tidak cukup mampu gelagar dalam bentang yang tersedia.
menahan beban yang telah dikaji ulang

DAFTAR PUSTAKA

--------. Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan Bagian 2 Beban Jembatan, Bridge Management
System 1992

--------. Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan, RSNI T-12-2004, Standar Nasional Indonesia

--------. Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan Volume Dua, 2005. Departemen Pekerjaan
Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga

--------. Standar Pembebanan untuk Jembatan, RSNI T-02-2005, Standar Nasional Indonesia

--------. Perencanaan Struktur Beton Bertulang untuk Jembatan, 2008. Departemen Pekerjaan Umum,
Direktorat Jenderal Bina Marga

Supriyadi, Bambang; Muntohar, Agus Setyo, 2005, Jembatan, Edisi Pertama, Cetakan kelima,
Penerbit Beta Offset, Yogyakarta.

240