Anda di halaman 1dari 9

My World

A simple blog about me ^^


Home
Pop
Rock
Jazz
HipHop
R n B
Materi Kuliah

Bab II : Skala Pengukuran dan Skala Sikap


Posted by vebriana parmita on September 10, 2013
Posted in: Statistika Ekonomi. 1 Comment

Pengukuran merupakan penggunaan aturan untuk menetapkan bilangan pada obyek atau
peristiwa. Dengan kata lain, pengukuran memberikan nilai-nilai variabel dengan notasi
bilangan. Skala pengukuran merupakan aturan-aturan yang diperlukan untuk
mengkuatitatifkan data dari pengukuran suatu variabel. Dalam statistik, data merupakan
karakteristik, symbol atau angka dari sebuah variabel yang diukur. Pengukuran hanya
dilakukan terhadap variabel yang dapat didefinisikan seperti minat, kinerja ataupun sikap. Agar
hasil penelitian tidak memberikan interpretasi yang berbeda maka definisi operasional terhadap
variabel yang diteliti perlu dijelaskan terlebih dahulu. Dalam melakukan operasi pada statistik
perbedaan data dan tujuan dari data yang tersaji tidak bisa dilakukan dalam dalam model skala
pengukuran yang sama.

Steven (dalam Singarimbun dan Effendi 1989 : 101-104; irawan 1999 : 88-91) dalam Tahir
(2011,48), membagi skala pengukuran penelitian sosial menjadi empat kategori, yaitu: skala
nominal, skala ordinal, skala interval dan skala rasio.
1. Skala Nominal

Skala nominal merupakan skala pengukuran paling sederhana. Skala nominal


mengelompokkan objek-objek ke dalam beberapa kelompok yang memiliki kemiripan ciri
akan berada dalam satu kelompok. Hasil pengukuran skala nominal tidak dapat diurutkan tetapi
bisa dibedakan. Contoh umum yang biasa dipakai, yaitu variabel jenis kelamin. Dalam hal ini
hasil pengukuran tidak dapat diurutkan (wanita lebih tinggi dari pada lak-laki atau sebaliknya),
tetapi lebih pada perbedaan keduanya. Contoh-contoh aplikasi skala nominal, yaitu : merek
dagang, jenis toko , wilayah penjualan.

Untuk skala nominal uji statistika yang sesuai digunakan adalah uji statistik yang berdasarkan
counting seperti modus dan distribusi frekuensi.

Contoh Skala Nominal

Data Kode (a) Kode (b)


Yuni 1 4
Desi 2 2
Ika 3 3
Astuti 4 1

Keterangan: Kode 1 sampai dengan 4 (a) semata-mata hanyalah untuk memberi tanda saja,
dan tidak dapat dipergunakan sebagai perbandingan antara satu data dengan data yang lain.
Kode tersebut dapat saling ditukarkan sesuai dengan keinginan peneliti (menjadi alternatif b)
tanpa mempengaruhi apa pun.

2. Skala Ordinal

Hasil pengukuran skala ini dapat menggambarkan posisi atau peringkat tetapi tidak mengukur
jarak antar peringkat. Maksudnya begini, ukuran pada skala ordinal tidak memberikan nilai
absolut pada objek, tetapi hanya urutan relatif saja. Jarak antara peringkat 1 dan 2 tidak harus
sama dengan jarak peringkat 2 dan 3. Dalam skala ordinal, peringkat yang ada tidak memiliki
satuan ukur. Contoh : status sosial (tinggi, rendah, sedang), hasil pengukuran yang
mengelompokkan masyarakat-masyarakat masuk pada status sosial tinggi, rendah atau sedang.
Dalam hal ini, kita dapat mengetahui tingkatannya, tetapi perbedaan antar status sosial (tinggi-
rendah, rendah-sedang, tinggi-sedang) belum tentu sama. Contoh aplikasi : tingkat preferensi,
jabatan manajemen, jenjang karier.

Uji statistik yang sesuai dengan skala ordinal adalah modus, median, distribusi
frekuensi, dan statistik non parametrik seperti rank order correlation.

Contoh Skala Ordinal

Data Skala Kecantikan (a) Skala Kecantikan (b)


Yuni 4 10
Desi 3 6
Ika 2 5
Astuti 1 1
Skala kecantikan (a) di atas menunjukkan bahwa Yuni paling cantik (dengan skor tertinggi
4), dan Astuti yang paling tidak cantik dengan skor terendah (1). Akan tetapi, tidak dapat
dikatakan bahwa Yuni adalah 4 kali lebih cantik dari pada Astuti. Skor yang lebih tinggi
hanya menunjukkan skala pengukuran yang lebih tinggi, tetapi tidak dapat menunjukkan
kelipatan. Selain itu, selisih kecantikan antara Yuni dan Desi tidak sama dengan selisih
kecantikan antara Desi dan Ika meskipun keduanya mempunyai selisih yang sama (1). Skala
kecantikan pada (a) dapat diganti dengan skala kecantikan (b) tanpa mempengaruhi hasil
penelitian.

3. Skala Interval

Skala interval memberikan ciri angka kepada objek yang mempunyai skala nominal dan
ordinal, dilengkapi dengan jarak yang sama pada urutan objeknya. Skala interval bisa dikatakan
tingkatan skala ini berada diatas skala ordinal dan nominal. Ciri penting dari skala ini: datanya
bisa ditambahkan, dikurangi, digandakan, dan dibagi tanpa mempengaruhi jarak relatif skor-
skornya. Selanjutnya skala ini tidak mempunyai nilai nol mutlak sehingga tidak dapat
diinterpretasikan secara penuh besarnya skor dari rasio tertentu. Pada skala pengukuran
interval, rasio antara dua interval sembarang tidak tergantung pada nilai nol dan unit
pengukuran. Contoh: pengukuran suhu dalam skala Celcius. Bila bak air berisi penuh dengan
suhu 0 derajat C, 50 derajat C, dan 100 derajat C, maka perbedaan antara 0-50 dan 50-100
derajat C itu sama, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa air bersuhu 100 derajat C dua kali lebih
panas daripada air bersuhu 50 derajat C. Contoh aplikasi : Penilaian kinerja pegawai (dengan
skala 0-100).

Contoh Skala Interval

Nilai Mata Kuliah Skor Nilai Mata Kuliah


Data
(a) (b)
Yuni A 4
Desi B 3
Ika C 2
Astuti D 1

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai A setara dengan 4, B setara dengan 3, C setara dengan
2 dan D setara dengan 1. Selisih antara nilai A dan B adalah sama dengan selisih antara B dan
C dan juga sama persis dengan selisih antara nilai C dan D. Akan tetapi, tidak boleh dikatakan
bahwa Yuni adalah empat kali lebih pintar dibandingkan Astuti, atau Ika dua kali lebih pintas
dari pada Astuti. Meskipun selisihnya sama, tetapi tidak mempunyai nilai nol mutlak.

4. Skala Rasio

Skala rasio mempunyai semua sifat skala interval ditambah satu sifat yaitu memberikan
keterangan tentang nilai absolut dari objek yang diukur. Skala rasio merupakan skala
pengukuran yang ditujukan pada hasil pengukuran yang bisa dibedakan, diurutkan,
mempunyai jarak tertentu, dan bisa dibandingkan (paling lengkap, mencakup semuanya
dibanding skala-skala dibawahnya). Contoh : bila kita ingin membandingkan berat dua orang.
Berat Fulan1 40 kg dan Fulan2 80 kg. Kita dapat tahu bahwa Fulan2 dua kali lebih berat
daripada Fulan1, karena nilai variabel numerik berat mengungkapkan rasio dengan nilai nol
sebagai titik bakunya. Contoh aplikasi lain : umur, nilai uang, tinggi badan , dan lain-lain.
Contoh Skala Rasio

Data Tinggi Badan Berat badan


Yuni 170 60
Desi 160 50
Ika 150 40
Astuti 140 30

Tabel di atas adalah menggunakan skala rasio, artinya setiap satuan pengukuran mempunyai
satuan yang sama dan mampu mencerminkan kelipatan antara satu pengukuran dengan
pengukuran yang lain. Sebagai contoh; Yuni mempunyai berat badan dua kali lipat berat Astuti,
atau, Desi mempunyai tinggi 14,29% lebih tinggi dari pada Astuti.

Tingkatan Skala pengukuran diatas mengurutkan dari tingkat rendah (1 skala nominal) sampai
tingkat paling tinggi (4 skala rasio). Skala Pengukuran dengan tingkatan pengukuran lebih
tinggi dapat diubah ke tingkat yang lebih rendah , tetapi hal sebaliknya tidak dapat dilakukan.

Menurut Soegeng (2006 : 89-93) dalam Tahir (2011,49) ada 4 tipe pokok dari skala sikap yaitu
: skala Likert, skala Thurstone, skala Guttman dan skala semantik deferensial.

1. Skala Likert (Method of Summated Rating)

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi dari individu atau
kelompok tentang fenomena sosial. Fenomena sosial ini disebut variabel penelitian yang telah
ditetapkan secara spesifik oleh peneliti. Jawaban dari setiap instrumen yang menggunakan
skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif yag dapat berupa
kata-kata, antara lain: sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju, selalu,
sering, kadang-kadang, tidak pernah. Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert
dapat dibuat dalam bentuk centang (checklist) ataupun pilihan ganda.

Terdapat 2 pernyataan dalam Skala Likert, yaitu pernyataan positif dan negatif, setiap
pernyataan memiliki bobot nilai yang berbeda.

Pernyataan Positif Pernyataan Negatif

Sangat Setuju (SS) = Sangat Setuju (SS) =

Setuju (S) = Setuju (S) =

Netral (N) = Netral (N) =

Tidak Setuju (TS) = Tidak Setuju (TS) =

Sangat Tidak Setuju (STS) = Sangat Tidak Setuju (STS) =

Contoh bentuk centang :

Berilah jawaban atas pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat Anda dengan memberi tanda
centang () pada kolom yang tersedia.
Jawaban
No. Pertanyaan
SS ST RG TS STS
1. Prosedur kerja yang baru itu
akan segera diterapkan di
2. lembaga anda

Sumber : Sugiyono, 2012,137

Keterangan : SS = Sangat Setuju, ST = Setuju, RG = Ragu-ragu, TS = Tidak Setuju, STS =


Sangat Tidak Setuju.

Contoh bentuk pilihan ganda :

Berilah jawaban atas pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat Anda dengan memberi tanda
silang pada huruf jawaban yang tersedia.

Prosedur kerja yang baru itu akan segera diterapkan di lembaga anda
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju

Untuk analisis kuantitatif, maka jawaban tersebut dapat diberi skor. Jawaban positif diberi nilai
terbesar hingga jawaban negatif diberi nilai negatif (Sugiyono, 2012,136-139).

2. Skala Guttman

Skala Guttman disebut skala scalogram yang sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang
kesatuan dimensi dan sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut dengan atribut universal.
Skala Gutman merupakan skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas dan
konsisten, yaitu benar-salah, pernah-tidak pernah, dan ya-tidak. Untuk jawaban positif seperti
benar, ya, tinggi, baik, dan semacamnya diberi skor 1; sedangkan untuk jawaban negatif seperti
salah, tidak, rendah, buruk, dan semacamnya diberi skor 0. Skala ini dapat dibuat dengan
bentuk centang maupun pilihan ganda.

Contoh :

Apakah Anda setuju bila si A menjadi ketua osis di sekolah ini?

1. Ya
2. Tidak

Skala ini disebut juga skala kumulatif karena jawaban dapat diakumulasikan misalnya:

Asosiasi guru-orang tua muid mempunyai peran penting dalam perkembangan


sekolah?
1. Setuju
2. Tidak setuju

3. Skala Diferensial Semantik

Skala diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda
maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat
positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri
garis, atau sebaliknya. Skala perbedaan semantik berisikan serangkaian karakteristik bipolar
(dua kutub), seperti: panas-dingin, popular-tidak popular, baik-tidak baik dan sebagainya.
Karakteristik bipolar tersebut mempunyai tiga dimensi dasar sikap seseorang terhadap objek,
yaitu :

a. Potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik suatu objek


b. Evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu objek
c. Aktivitas, yaitu tingkatan gerakan suatu objek

Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantic differential adalah data
interval. Skala bentuk ini biasanya digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu
yang dimiliki seseorang. Berikut contoh penggunaan skala semantic differential mengenai gaya
kepemimpinan kepala sekolah.

Responden yang member penilaian angka 7, berarti persepsi terhadap gaya kepemimpinan
kepala sekolah adalah sangat positif, sedangkan responden yang memberikan penilaian angka
1 persepsi kepemimpinan kepala sekolah adalah sangat negatif.

Responden dapat memilih jawaban, dengan rentang jawaban yang positif sampai negatif. Hal
ini tergantung persepsi responden kepada yang dinilai (Sugiyono, 2012, 141).

4. Rating Scale

Data-data skala yang diperoleh melalui tiga skala, yaitu skala Likert, skala Guttman dan skala
Diferensial Semantik adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Sedangkan data yang
diperoleh Rating Scale adalah data kuantitatif (angka) yang kemudian ditafsirkan dalam
pengertian kualitatif. Seperti halnya dengan skala lain, dalam Rating Scale responden akan
memilih salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan.

Rating Scale lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi dapat juga digunakan untuk
mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur
status sosial, ekonomi, iptek, instansi dan lembaga, kepuasan pelanggan, produktivitas kerja
dan lainnya.. Dalam rating scale, yang paling penting adalah kemampuan menerjemahkan
alternative jawaban yang dipilih responden. Misalnya responden memilih jawaban angka 3,
tetapi angka 3 oleh orang tertentu belum tentu sama dengan angka 3 bagi orang lain yang juga
memiliki jawaban angka 3.

Contoh :

Seberapa baik Televisi merk X?

Berilah jawaban angka :


4 bila produk sangat baik
3 bila produk cukup baik
2 bila produk kurang baik
1 bila produk sangat tidak baik

Contoh skala rating dengan kuisioner, jawablah dengan melingkari interval


jawaban. Misalnya :

NO. PERTANYAAN INTERVAL JAWABAN


1. Bagaimana kualitas gambar 4 3 2 1
2. Bagaimana kualitas suara 4 3 2 1
3. Bagaimana tampilan produk 4 3 2 1
4. Bagaimana pelayanan purna jual 4 3 2 1

Jumlah responden 5 orang, maka dapat dibuat tabulasi sebagai berikut :

No. Jawaban Responden per Item Jumlah

1 2 3 4
1. 4 3 3 2 12
2. 3 2 1 4 10
3. 4 1 2 3 10
4. 2 2 3 3 10
5. 3 2 4 1 10
Jumlah 52

Jumlah skor kriterium (skor tertinggi) = 4 x 4 x 5 = 80 Jumlah skor terkumpul = 52 Kualitas


televisi merek X menurut responden = 52/80 = 65% dari kriteria yang ditetapkan. Secara
kontinum dibuat kategori sebagai berikut:

20 STB

35 KB

55 B

70 SB

Nilai 52 terletak pada kategori baik.


5. Skala Thurstone

Skala Thurstone adalah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval.
Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak
sama. Skala Thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan dengan
variable yang hendak diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang menilai relevansi
pernyataan itu dengan konten atau konstruk yang hendak diukur.

Adapun contoh skala penilaian model Thurstone adalah seperti gambar di bawah ini.

Nilai 1 pada skala di atas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan
sangat relevan.

Prosedur dalam membuat skala Thurstone:


1. Peneliti mengumpulkan beratus-ratus pernyataan yang dipikirkan berhubungan dengan
masalah yang diteliti.
2. Pernyataan-pernyataan tsb kemudian dikumpulkan dan diminta untuk dinilai oleh 50-300
juri yang bekerja secara independen.
3. Juri diminta mengelompokkan pernyataa-pernyataan tsb dalam 11 kelompok, dan memberi
skor 1 sampai 11. yang paling relevan diberi skor 1 dan yang paling tidak relevan diberi skor
11.
4. Pernyataan yang nilainya sangat menyebar dibuang sedangkan pernyataan-pernyataan yang
mempunyai nilai yang agak bersamaan dari para juri digunakan dalam membuat skala. Nilai
skala dari tiap pernyataan dihitung, yaitu median dari nilai-nilai yang telah diberikan oleh juri.

Hasil dari skala Thurstone adalah sejumlah pertanyaan, biasanya kira-kira 20 buah, yang mana
posisi pertanyaan-pertanyaan tersebut telah diketahui berdasarkan penilaian juri.

Kekurangan dari skala Thurstone :


1. Terlalu banyak yang perlu dikerjakan untuk membuat skala oleh para juri.
2. Jika item yang disuruh cek pada responden jumlahnya lebih dari 2 maka nilai untuknya pada
skala adalah median dari nilai-nilai yang terdapat pada skala yang telah dibuat.
3. Nilai pada skala yang dibuat para juri sangat dipengaruhi oleh sikap si juri sendiri terhadap
masalah yang disuruh nilai.

Pentingnya mengetahui skala pengukuran ini akan memberi manfaat pada sebuah penelitian.
Dalam proses penelitian akan dilakukan analisis, pada saat analisis akan sangat dibutuhkan
skala pengukuran apa yang dipakai dan alat analisis apa yang fit untuk menjawab tujuan
penelitian.

Daftar Pustaka :

Jenis Data Statistik dan Skala Pengukuran. (2011, May 5). Retrieved Seotember 10, 2013,
from http://ithasartika91.blogspot.com/2011/10/jenis-data-statistik-dan-skala.html
Skala Pengukuran dalam Statistika. (2012, February 2). Retrieved September 10, 2013, from
http://permatawesti.blogspot.com/2012/02/skala-pengukuran-dalam-statistika.html

Skala Pengukuran Statistik. (2012, Maret 18). Retrieved September 10, 2013, from
http://www.statistika-unhalu.org/berita-117-skala-pengukuran-statistik-.html

Suharyadi, & Purwanto. (2009). In Statistika untuk Ekonomi dan Keuangan Modern. Jakarta:
Salemba Empat.

Safrizal, R. (2012, March 24). Bentuk Skala Pengukuran dalam Penelitian. Retrieved
September 12, 2013, from http://berbagireferensi.blogspot.com/2011/03/bentuk-skala-
pengukuran-dalam.html

Skala Pengukuran. (2013, Januari 5). Retrieved September 12, 2013, from
http://rinzlicious.blogspot.com/2013/01/babi-pendahuluan-a.html