Anda di halaman 1dari 19

Learning Objective

1. Patofisiologi pada scenario


2. Etiologi dan pencegahan pada scenario
3. Faktor Risiko, klasifikasi, dan komplikasi, diagnosis differential dari prolapsus uteri
4. Pemeriksaan penunjang dari diagnosis pada scenario
5. Struktur Anatomi dari daerah pelvis

Prolapsus organ panggul disebut pula sebagai


prolapsus uteri
prolapsus genitalis
prolapsus uterovaginal
pelvic relaxation
disfungsi dasar panggul
prolapsus urogenitalis atau
prolapsus dinding vagina.

1. Prolapsus uteri itu adalah suatu keadaan dimana posisi rahim turun dari tempat asalnya
karena otot yang menyangganya agar tetap berada di tempatnya mulai melemah.
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena kelemahan
otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya. Atau turunnya uterus
melalui dasar panggul atau hiatus genitalis. Klasifikasi dari prolaps uteri yaitu :
Desensus uteri,uterus turun,tetapi serviks masih dalam vagina.
Prolaps uteri uteri tingkat I,uterus turun dengan serviks uteri turun paling rendah
sampai introitus vagina.
Prolaps uteri tingkat II,sebagian besar uterus keluar dari vagina.
Prolaps uteri tingkat III atau prosidensia uteri,uterus keluar seluruhnya dari
vagina,disertai dengan inversio vaginae.
Sumber : Wiknjosastro H,dkk. 2009. Buku Kandungan. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
SP.
Epidemiologi dan etiologi dari prolaps uteri
a. Epidemiologi
Menurut penelitian yang dilakukan WHO tentang pola formasi keluarga dan
kesehatan, ditemukan kejadian prolapsus uteri lebih tinggi pada wanita 2 yang
mempunyai anak lebih dari tujuh daripada wanita yang mempunyai satu atau dua
anak. Prolapsus uteri lebih berpengaruh pada perempuan di negaranegara
berkembang yang perkawinan dan kelahiran anaknya dimulai pada usia muda dan
saat fertilitasnya masih tinggi. Peneliti WHO menemukan bahwa laporan kasus
prolapsus uteri jumlahnya jauh lebih rendah daripada kasuskasus yang dapat
dideteksi dalam pemeriksaan medik.
Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti
dilaporkan di klinik dGynecologie et Obstetrique Geneva insidensinya 5,7%, dan
pada periode yang sama di Hamburg 5,4%, Roma 6,7%. Dilaporkan di Mesir, India,
dan Jepang kejadiannya tinggi, sedangkan pada orang Negro Amerika dan
Indonesia kurang. Frekuensi prolapsus uteri di Indonesia hanya 1,5% dan lebih
sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita dengan
pekerja berat. Dari 5.372 kasus ginekologik di Rumah Sakit Dr. Pirngadi di Medan
diperoleh 63 kasus prolapsus uteri terbanyak pada grande multipara dalam masa
menopause dan pada wanita petani, dari 63 kasus tersebut 69% berumur diatas 40
tahun. Jarang sekali prolapsus uteri dapat ditemukan pada seorang nullipara.
b. Etiologi
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering,partus dengan penyulit
merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps yang sudah
ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap, prasat
Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dsb. Jadi tidaklah
mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa
nifas. Asites dan tumor-tumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya prolapsus
genetalis. Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara, factor penyebabnya adalah
kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus.
Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.
Persalinan yang lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi
dinding vagina bawah pada kala II, penataksanaan pengeluaran plasenta, reparasi
otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Pada Menopause, hormon esterogen telah
berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah.
Sumber : Wiknjosastro H,dkk. 2009. Buku Kandungan. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
SP.

Etiologi :
Prolapsus organ panggul terjadi akibat kelemahan atau cedera otot dasar panggul sehingga
tidak mampu lagi menyangga organ panggul.
Uterus adalah satu satunya organ yang berada diatas vagina. Bila kandung kemih atau usus
bergeser maka keduanya akan mendorong dinding vagina.
Meskipun prolapsus bukan satu keadaan yang bersifat life threatening, namun keadaan ini
menimbulkan rasa tak nyaman dan sangat mengganggu kehidupan penderita.

Prolapsus uteri adalah keadaan yang terjadi akibat otot penyangga uterus menjadi kendor
sehingga uterus akan turun atau bergeser kebawah dan dapat menonjol keluar dari vagina.
Dalam keadaan normal, uterus disangga oleh otot panggul dan ligamentum penyangga. Bila
otot penyangga tersebut menjadi lemah atau mengalami cedera akan terjadi prolapsus
uteri. Pada kasus ringan, bagian uterus turun ke puncak vagina dan pada kasus yang sangat
berat dapat terjadi protrusi melalui orifisium vaginae dan berada diluar vagina.
Prolapsus uteri sering terjadi bersamaan dengan urethrocele dan cystocele (urethra dan
atau kendung kemih terdorong keluar dari dinding depan vagina ) dan rectocele (dinding
rectum terdorong keluar dari dinding belakang vagina)

JENIS PROLAPSUS UTERI


Prolapsus dinding depan vagina :
Cystocele ( prolapsus kandung kemih )
Urethrocele ( prolapsus urethra )
Prolapsus dinding belakang vagina :
Enterocele
Rectocele
Prolapsus bagian atas vagina :
1. Prolapsus uteri ; terdiri dari 3 tingkatan yaitu
Derajat I uterus sedikit turun kedalam vagina dan biasanya keadaan
ini tidak disadari oleh penderita
Derajat II uterus turun lebih jauh kedalam vagina sehingga ujung
uterus berada di orifisium vaginae
Derajat III Sebagian besar uterus sudah keluar dari vagina (keadaan ini
disebut sebagai prosidensia uteri.

Prolapsus uteri itu adalah suatu keadaan dimana posisi rahim turun dari tempat asalnya
karena otot yang menyangganya agar tetap berada di tempatnya mulai melemah.
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena kelemahan
otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya. Atau turunnya uterus
melalui dasar panggul atau hiatus genitalis. Klasifikasi dari prolaps uteri yaitu :
Desensus uteri,uterus turun,tetapi serviks masih dalam vagina.
Prolaps uteri uteri tingkat I,uterus turun dengan serviks uteri turun paling rendah
sampai introitus vagina.
Prolaps uteri tingkat II,sebagian besar uterus keluar dari vagina.
Prolaps uteri tingkat III atau prosidensia uteri,uterus keluar seluruhnya dari
vagina,disertai dengan inversio vaginae.
Sumber : Wiknjosastro H,dkk. 2009. Buku Kandungan. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
SP.
2. Prolapsus vagina ( vaginal vault ) :
vaginal vault adalah puncak vagina dan bagian ini dapat turun dengan
sendirinya pasca histerektomi. Komplikasi ini terjadi pada 15% pasien pasca
histerektomi

TANDA DAN GEJALA


Sering tidak menimbulkan gejala atau keluhan
Pasien merasa ada sesuatu yang keluar dari vagina
Rasa tak nyaman di abdomen bagian bawah
Inkontinensia urine (stress incontinence)
Gangguan miksi ( dysuria )
Konstipasi
Dispareunia
Iritasi , infeksi vulva
Prolapsus terjadi bila otot dan ligamentum dasar panggul sangat teregang terutama akibat
persalinan lama atau usia tua ( umumnya pada usia diatas 55 tahun ).
Etiologi lain adalah :
Obesitas
Keganasan uterus
Diabetes
Bronchitis chronis
Asma
Pekerjaan - pengangkat beban berat terutama bila otot panggul sudah lemah atau uterus
retroversio

PENCEGAHAN
Menjaga berat badan dengan merubah gaya hidup
Latihan otot dasar panggul ( Kegel Exercise )
Hindari konstipasi
Olah raga teratur
Berhenti merokok
Jangan mengangkat beban berat

2. Faktor Resiko
Faktor risiko yang telah diteliti antara lain adalah kehamilan, persalinan per
vaginam, menopause, defisiensi estrogen, peningkatan tekanan intra abdomen jangka
waktu panjang (konstipasi, mengangkat barang-barang berat, penyakit paru obstruktif
kronik, mengedan), ras, indeks massa tubuh (IMT), faktor genetik, faktor anatom,
biokimiawi dan metabolisme jaringan penunjang,dan riwayat pembedahan
(histerektomi dan kolposuspensi Burch).
Persalinan per vaginam diduga sebagai penyebab utama POP, melalui
mekanisme kerusakan otot levator ani, nervus pudenda, dan fasia penyokong organ
panggul. Risiko POP meningkat 1,2 kali pada setiap penambahan jumlah persalinan per
vaginam. Risiko relatif terjadinya prolaps berdasarkan jumlah persalinan terdapat pada
tabel 1.

Tabel 1. Risiko relatif terjadinya prolaps berdasarkan jumlah persalinan


Jumlah Persalinan Risiko Relatof (RR) Interval Kepercayaan
95% (IK 95%)
12,48 0,69 - 9,38
24,58 1,64 -13,77
38,4 2,84 - 26,44
411,75 3,84 - 38,48

POP terjadi pada 20-40% kehamilan, dan semakin berat dengan


meningkatnya gravida, paritas, jumlah persalinan per vaginam dan dengan adanya kala
II memanjang, persalinan dengan bantuan forsep dan berat bayi lahir per vaginam lebih
dari 4000 gram.
Pada wanita yang telah menjalani histerektomi, prolaps puncak vagina lebih
sering terjadi secara signifikan terutama pada wanita yang memiliki riwayat persalinan
per vaginam yang banyak, persalinan lama, kerja fisik yang berat, penyakit neurologis,
histerektomi sebelumnya karena indikasi POP, dan riwayat keluarga yang memiliki
POP.
Sumber : Junizar & Santoso. B. I. 2013. Penatalaksaan Prolaps Organ Panggul. Perkumpulan
Obstetri &Ginekologi Indonesia. Himpunan Urogenikologi Indonesia .

Faktor risiko

Penyebab prolapsus organ panggul belum diketahui secara pasti, namun


secara hipotetik penyebab utamanya adalah persalinan pervaginam dengan bayi
aterm.Pada studi epidemiologi menunjukkan bahwa faktor risiko utama penyebab
prolapsus uteri adalah persalinan pervaginam dan penuaan. Para peneliti menyetujui
bahwa etiologi prolapsus organ panggul adalah multifaktorial dan berkembang secara
bertahap dalam rentang waktu tahun. Terdapat berbagai macam faktor risiko yang
mempengaruhi terjadinya prolapsus dan dikelompokkan menjadi faktor obstetri dan
faktor non-obstetri.

Tabel 2. Faktor risiko prolapsus


Faktor obstetri Faktor non-obstetri
1) Paritas 1) Genetik
2) Persalinan pervaginam 2) Usia
3) Perpanjangan kala 2 3) Ras
persalinan (> 2 jam) 4) Menopause
4) Makrosomia (berat badan lahir 5) Peningkatan BMI
4000 gram) (obesitas)
5) Persalinan dengan tindakan 6) Peningkatan tekanan intra
(riwayat persalinan dengan abdomen
forsep atau ekstraksi vakum) 7) Kelainan jaringan ikat
8) Merokok

1) Faktor obstetri
a. Proses persalinan dan paritas
Prolapsus uteri terjadi paling sering pada wanita multipara sebagai akibat progresif yang
bertahap dari cedera melahirkan pada fascia endopelvik (dan kondensasi, ligamentum
uteroskral dan kardinal) dan laserasi otot, terutama otot-otot levator dan perineal body
(perineum).
Persalinan pervaginam merupakan faktor risiko utama terjadinya prolapsus organ genital.
Pada penelitian tentang levator ani dan fascia menunjukkan bukti bahwa kerusakan mekanik
dan saraf terjadi pada perempuan dengan prolapsus dibandingkan perempuan tidak
prolapsus, dan hal tersebut terjadi akibat proses melahirkan.
Secara global, prolapsus mempengaruhi 30% dari semua wanita yang telah
melahirkan.2Jumlah paritas berbanding lurus dengan kejadian prolapsus. WHO Population
Report (1984) menduga bahwa kejadian prolapsus akan meningkat tujuh kali lipat pada
perempuan dengan tujuh anak dibandingkan dengan perempuan yang mempunyai satu anak.

b. Faktor obstetri lainnya


Penggunaan forsep, vakum, dan episiotomi, disebutkan sebagai faktor risiko potensial
dalam terjadinya prolaps organ panggul. Penggunaan forsep secara langsung terlibat dalam
terjadinya cedera dasar panggul, yaitu dalam kaitannya dengan terjadinya laserasi sfingter
anal. Manfaat forsep terhadap dasar panggul dalam memperpendek kala dua masih
mempunyai bukti yang kurang. Penggunaan forsep elektif untuk mencegah kerusakan pada
dasar panggul tidak direkomendasikan. Percobaan kontrol secara acak pada penggunaan
elektif dan selektif episiotomi tidak menunjukkan manfaat, tetapi telah menunjukkan
hubungan dengan terjadinya laserasi sfingter anal inkontinensia dan nyeri pasca persalinan.
Sejumlah cedera pada ibu dan bayi dapat terjadi sebagai akibat penggunaan forsep. Luka
yang dapat ditimbulkan pada ibu berkaitan dengan penggunaan forsep berkisar dari ekstensi
sederhana sampai ruptur uterus atau kandung kemih. Klein, dkk menemukan hubungan
antara episiotomi dan berkurangnya kekuatan dasar panggul tiga bulan post partum.Fascia
pelvis, ligamentum-ligamentum dan otot-otot dapat menjadi lemah akibat peregangan yang
berlebihan selama kehamilan, persalinan dan persalinan pervaginam yang sulit, terutama
dengan penggunaan forsep dan vakum ekstraksi.Pada penelitian yang dilakukan oleh
Handa dkk, menunjukkan bahwa persalinan menggunakan forsep dan laserasi perineum
berhubungan dengan gangguan dasar panggul 5-10 tahun setelah persalinan yang pertama,
tetapi pada episiotomi tidak berhubungan. Wanita dengan laserasi perineum dalam dua atau
lebih persalinan beresiko lebih tinggi secara signifikan terhadap prolapses Perlukaan
diafragma urogenitalis dan muskulus levator ani yang terjadi pada waktu persalinan
pervaginam atau persalinan dengan alat dapat melemahkan dasar panggul sehingga mudah
terjadi prolapsus genitalia.

2) Faktor non-obstetri
a. Genetik

Dua persen prolapsus simptomatik terjadi pada perempuan nulipara.Perempuan nulipara


dapat menderita prolapsus dan diduga merupakan peran dari faktor genetik. Bila seorang
perempuan dengan ibu atau saudaranya menderita prolapsus, maka risiko relatif untuk
menderita prolapsus adalah 3,2. Dibandingkan jika ibu atau saudara perempuan tidak
memiliki riwayat prolapsus, risiko relatifnya adalah 2,4.
b. Usia

Bertambahnya usia akan menyebabkan berkurangnya kolagen dan terjadi kelemahan


fascia dan jaringan penyangga. Hal ini terjadi terutama pada periode post-menopause
sebagai konsekuensi akibat berkurangnya hormon estrogen.
c. Ras
Perbedaan ras pada prevalensi prolapsus organ panggul (POP) telah dibuktikan dalam
beberapa penelitian. Perempuan berkulit hitam dan perempuan Asia memiliki risiko yang
lebih rendah, sedangkan perempuan Hispanik dan berkulit putih memiliki risiko
tertinggi. Perbedaan kandungan kolagen antar ras telah dibuktikan, tetapi perbedaan
bentuk tulang panggul juga diduga memainkan peran. Misalnya, perempuan kulit hitam
lebih banyak yang memiliki arkus pubis (lengkungan kemaluan) yang sempit dan bentuk
panggul android atau antropoid. Bentuk-bentuk panggul tersebut adalah pelindung
terhadap POP dibandingkan dengan panggul ginekoid yang merupakan bentuk panggul
terbanyak pada perempuan berkulit putih.

d. Menopause

Pada usia 40 tahun fungsi ovarium mulai menurun, produksi hormon berkurang dan
berangsur hilang, yang berakibat perubahan fisiologik. Menopause terjadi rata-rata pada
usia 50-52 tahun. Hubungan dengan terjadinya prolaps organ panggul adalah, di kulit
terdapat banyak reseptor estrogen yang dipengaruhi oleh kadar estrogen dan androgen.
Estrogen mempengaruhi kulit dengan meningkatkan sintesis hidroksiprolin dan prolin
sebagai penyusun jaringan kolagen. Ketika menopause, terjadi penurunan kadar estrogen
sehingga mempengaruhi jaringan kolagen, berkurangnya jaringan kolagen menyebabkan
kelemahan pada otot-otot dasar panggul.17 Saraf pada serviks merupakan saraf otonom,
sebagian besar serabut saraf cholinesterase yang terdiri dari serabut saraf adrenergik dan
kolinergik, jumlah serabut kolinergik lebih sedikit. Sebagian besar serabut ini
menghilang setelah menopause.22
e. Peningkatan BMI (obesitas)

Obesitas menyebabkan memberikan beban tambahan pada otot-otot pendukung panggul,


sehingga terjadi kelemahan otot-otot dasar panggul.Pada studi Womens Health Initiative
(WHI), kelebihan berat badan (BMI 25 30 kg/m2) dikaitkan dengan peningkatan
kejadian prolapsus dari 31-39%, dan obesitas (BMI > 30 kg/m2) meningkat 40-75%.

f. Peningkatan tekanan intra abdomen

Tekanan intra abdomen yang meningkat karena batuk-batuk kronis (bronkitis kronis dan
asma), asites, mengangkat beban berat berulang-ulang, dan konstipasi diduga menjadi
faktor risiko terjadinya prolapsus. Seperti halnya obesitas (peningkatan indeks massa
tubuh) batuk yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan intraabdomen (rongga perut)
dan secara progresif dapat menyebabkan kelemahan otot-otot panggul.

g. Kelainan jaringan ikat

Wanita dengan kelainan jaringan ikat lebih untuk mungkin untuk mengalami prolapsus.
Pada studi histologi menunjukkan bahwa pada wanita dengan prolapsus, terjadi
penurunan rasio kolagen tipe I terhadap kolagen tipe III dan IV. Pada beberapa penelitian,
sepertiga dari perempuan dengan Sindroma Marfan dan tigaperempat perempuan dengan
Sindroma EhlerDanlos tercatat mengalami POP.Kelemahan bawaan (kongenital) pada
fasia penyangga pelvis mungkin penyebab prolapsus uteri seperti yang kadang-kadang
ditunjukkan pada nulipara.
h. Merokok

Merokok juga dikaitkan dalam pengembangan prolapsus. Senyawa kimia yang dihirup
dalam tembakau dipercaya dapat menyebabkan perubahan jaringan yang diduga
berperan dalam terjadi prolapsus.Namun, beberapa penelitian tidak menunjukkan
hubungan antara merokok dengan terjadinya prolapses.
Sumber : Bulletins--Gynecology ACoP. 2007 .ACOG Practice Bulletin Pelvic organ prolapse.
Obstetrics & Gynecology. No. 85 Vo :11:717-729.
Sumber : Hagen S, Thakar R. 2012 .Conservative management of pelvic organ prolapse.
Obstetrics, Gynaecology & Reproductive Medicine.
OUTCOME
Terapi agresif /operatif :
seringkali tidak perlu dikerjakan karena:
keadaan ini tidak bersifat life threatening .
Olah raga dapat memperbaiki funsgi otot dasar panggul.
Pembedahan hanya dilakukan pada kasus prolapsus yang berat

KOMPLIKASI
Ulkus servik
Hemoroid akibat konstipasi
Obstruksi saluran urine

CLINICAL GRADING OF UTERINE PROLAPS

Grade Describtion

0 No Descent

1 Descent between normal position and ischial spines

2 Descent between ischial spine and hymen

3 Descent within hymen

4 Descent through hymen


TERAPI
Pada kelemahan otot dasar panggul ringan, latihan dasar panggul dapat memperbaiki tonus
otot dasar panggul. Selain itu, penggunaan pesarium dapat dikerjakan pada kondisi sebagai
berikut :
Keadaan umum pasien yang tidak memungkinkan
Selama kehamilan atau pasca persalinan
Untuk mendukung proses [penyembuhan ulkus dekubitus
Pesarium :
dapat menyebabkan iritasi dan ulserasi.
Secara periodik ( setiap 6 12 minggu ) pesarium vaginal harus dilepas , dibersihkan dan
kemudian dipasang kembali.
Kesalahan pemasangan dapay meyebabkan terjadinya fistula, perdarahan dan infeksi

TUJUAN UTAMA TERAPI (TERAPI PEMBEDAHAN)


Tujuan utama terapi adalah :
1. Menghilangkan keluhan
2. Restorasi hubungan anatomis yang normal
3. Restorasi fungsi organ visera
4. Memungkinkan aktivitas sanggama berlangsung
normal.

ANTERIOR KOLPORAFI
Dilakukan untuk koreksi sistokel dan pergeseran urethra. Tindakan berupa memperbaiki fascia
puboservikal untuk menyangga vesica urinaria dan urethra
POSTERIOR KOLPORAFI
Dilakukan untuk koreski enterocele
PERINEORAFI :
memperbaiki kerusakan corpus perinealis

JENIS OPERASI

Operasi MANCHESTER
Merupakan kombinasi kolporafi anterior - amputasi servik yang memanjang
kolpoperineorafi posterior menjahit ligamentum Cardinale didepan puntung servik untuk
membuat uterus anteversio.
Histerektomi vaginal
Dikerjakan histerektomi saja atau disertai dengan kolporafi anterior dan posterior
Operasi LeFort colpocleisis
Tindakan ini terdiri dari :
Menjahit dinding sebagian anterior dan posterior vagina yang terbuka ( partial
colpocleisis ) sedemikian rupa sehingga uterus berada dibagian atas penutupan vagina
tersebut.
Complete Colpocleisis
Obliterasi vagina secara total
Colpoplexy
Menggantung puntung vagina (transvaginal atau transabdominal) pada sacrum atau
ligamentum sacrospinosum atau ligamentum sacrouterina

6. Prinsip diagnosis
a) Anamnesis
Gejala yang ditimbulkan oleh POP terdiri atas gejala vagina, berkemih, buang
air besar (BAB), dan seksual.

Gejala Prolaps
Beberapa hal yang menjadi catatan untuk gejala POP adalah:

Gejala benjolan dipengaruhi oleh gravitasi sehingga makin berat pada posisi berdiri.
Semakin lama, benjolan akan terasa semakin menonjol terutama setelah adanya aktifitas
fisik berat jangka panjang seperti mengangkat benda berat atau berdiri.
Derajat prolaps tidak berhubungan dengan gejala urgensi, frekuensi atau inkontinensia
urin.
Pada studi yang menilai korelasi antara gejala dengan lokasi dan derajat prolaps,
ditemukan bahwa korelasi antara gejala BAB dan prolaps posterior lebih kuat
dibandingkan korelasi antara gejala
berkemih dengan prolaps anterior.
Gejala seperti rasa tekanan, ketidaknyamanan, benjolan yang terlihat dan gangguan
seksual tidak spesifik untuk kompartemen tertentu.
Klinisi perlu memberikan pertanyaan secara spesifik, karena kebanyakan pasien tidak
akan secara sukarela memberikan informasi mengenai gejala yang dirasakannya.

Untuk menilai dampak gangguan dasar panggul terhadap kualitas hidup maka digunakan 2
kuesioner yang telah divalidasi yaitu Pelvic Floor Distress Inventpry (PFDI) dan Pelvic
Floor Impact Questionnaires (PFIQ).

b. Pemeriksaan Fisik
1. Pasien dalam posisi terlentang pada meja ginekologi dengan posisi litotomi.
2. Pemeriksaan ginekologi umum untuk menilai kondisi patologis lain
3. Inspeksi vulva dan vagina, untuk menilai:
a. Erosi atau ulserasi pada epitel vagina.
b. Ulkus yang dicurigai sebagai kanker harus dibiopsi segera, ulkus yang bukan
kanker diobservasi dan dibiopsi bila tidak ada reaksi pada terapi.
c. Perlu diperiksa ada tidaknya prolaps uteri dan penting untuk mengetahui derajat
prolaps uteri dengan inspeksi terlebih dahulu sebelum dimasukkan inspekulum.
4. Manuver Valsava.
a. Derajat maksimum penurunan organ panggul dapat dilihat dengan melakukan
pemeriksaan fisik sambil meminta pasien melakukan manuver Valsava.
b. Setiap kompartemen termasuk uretra proksimal, dinding anterior vagina, serviks,
apeks, cul-de-sac, dinding posterior vagina, dan perineum perlu dievaluasi secara
sistematis dan terpisah.
c. Apabila tidak terlihat, pasien dapat diminta untuk mengedan pada posisi berdiri di
atas meja periksa.
d. Tes valsava dan cough stress testing (uji stres) dapat dilakukan untuk menentukan
risiko inkontinensia tipe stres pasca operasi prolaps.
5. Pemeriksaan vagina dengan jari untuk mengetahui kontraksi dan kekuatan otot levator
ani
6. Pemeriksaan rektovagina
a. untuk memastikan adanya rektokel yang menyertai prolaps uteri.

c. Pemeriksaan Penunjang
1. Urin residu pasca berkemih
a. Kemampuan pengosongan kandung kemih perlu dinilai dengan mengukur volume
berkemih pada saat pasien merasakan kandung kemih yang penuh, kemudian diikuti
dengan pengukuran volume urin residu pasca berkemih dengan kateterisasi atau
ultrasonografi.
2. Skrining infeksi saluran kemih
3. Pemeriksaan urodinamik, apabila dianggap perlu.
4. Pemeriksaan Ultrasonografi
a. Ultrasonografi dasar panggul dinilai sebagai modalitas yang relatif mudah
dikerjakan, cost-effective, banyak tersedia dan memberikan informasi real-time.
b. Pencitraan akan membuat klinisi lebih mudah dalam memeriksa pasien secara
klinis.
c. Pada pasien POP ditemukan hubungan yang bermakna antara persalinan, dimensi
hiatus levator, avulsi levator ani dengan risiko terjadinya prolaps. Namun belum
ditemukan manfaat secara klinis penggunaan pencitraan dasar panggul.

Sumber : Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia. 2013. Panduan penatalaksanaan


prolaps organ panggul. Himpunan Uroginekologi Indonesia : Jakarta.

5. Patogenesis prolaps uteri


Prolaps uterus sebagian besar merupakan gangguan pada parous wanita
dimana ada kerusakan pada otot, ligamen, dan saraf. Otot dasar panggul berkontraksi
saat istirahat dan bertindak untuk menutup genital hiatus dan memberikan platform
yang stabil untuk pelvic viscera. Tonus levator ani sangat penting untuk menjaga organ
panggul di tempat. Penurunan tonus levator normal dengan trauma otot langsung atau
cedera denervasi dapat terjadi selama persalinan per vaginam. Hal ini menyebabkan
hiatus urogenital terbuka dan perubahan pada orientasi horizontal levator plate, yang
menyebabkan prolaps. Dalam studi kasus kontrol, MRI menunjukkan bahwa wanita
dengan prolaps lebih cenderung mengalami cacat anatomis pada levator ani. Akibatnya,
pada wanita ini levator ani menghasilkan sedikit kekuatan penutupan vagina saat
kontraksi maksimal.
Fasia endopelvik adalah jaringan jaringan ikat yang menyelimuti semua
organ panggul dan menghubungkannya secara longgar dengan otot dan tulang panggul
yang mendukung. Disfungsi lantai panggul dapat menyebabkan prolaps, yang secara
khusus dapat melibatkan vagina anterior, posterior, dan apikal dan rahim. Gangguan
atau peregangan dari jaringan ikat ini terjadi selama persalinan atau histerektomi vagina
(dengan rute apapun), sebagai konsekuensi dari ketegangan kronis, atau sebagai bagian
dari penuaan normal. Selain itu, juga terjadi kerusakan pada 4 ligamen penggantung
uterus terutama ligamen cardinale dan ligamen rectouteri yang akan menyebabkan
prolaps uteri. Pasien dengan riwayat keturunan prolaps dapat mengalami gangguan
metabolisme kolagen, dan ini dapat menyebabkan prolaps. Wanita dengan
hipermobilitas sendi dan kelainan jaringan ikat yang jarang terjadi seperti sindrom
Ehlers-Danlos atau Marfan memiliki prevalensi prolaps yang lebih tinggi.
kontinensia urin dapat terjadi akibat perubahan pada dukungan vagina.
Karena vagina anterior kehilangan dukungan, kandung kemih dan dukungan uretra
hilang, berpotensi mempengaruhi mekanisme kontinuitas. Hipermobilitas Uretra dapat
dengan mudah didiagnosis melalui pengamatan klinis saat meminta pasien untuk
mengalami regangan. Pada tahap prolaps uterovaginal lanjut, uretra diikat secara
mekanis dan bisa menghalangi aliran urin.Prolaps uteri yang terjadi saat persalinan
terkadang tidak langsung muncul namun beberapa tahun setelahnya, seiring dengan
pertambahan usia dan peningkatan IMT.

Sumber : Wiknjosastro H,dkk. 2009. Buku Kandungan. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
SP.

7. Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu. Cara ini
dilakukan pada prolapses ringan tanpa keluhan, atau penderita masih ingin
mendapatkan anak lagi, atau penderita menolak untuk dioperasi, atau kondisinya tidak
mengizinkan untuk dioperasi.
Latihan-latihan otot dasar panggul
Latihan ini sangat berguna pada prolapses ringan, terutama yang terjadi pada
pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya untuk menguatkan otot-
otot dasar panggul dan otot-otot yang mempengaruhi miksi. Latihan ini
dilakukan selama beberapa bulan. Caranya ialah, penderita disuruh
mengucupkan anus dan jaringan dasar panggul seperti biasanya setelah selesai
berhajat: atau penderita disuruh membayangkan seolah-olah sedang
mengeluarkan air kencing dan tiba-tiba menghentikannya.
Stimulasi otot-otot dengan alat listrik
Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat pula ditimbulkan dengan alat listrik
elektrodenya dapat dipasang dalam pessarium yang dimasukkan ke dalam
vagina.
Pengobatan dengan pessarium
Pengobatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat paliatif, yakni
menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Oleh karena jika pessarium
diangkat, timbul prolapsus lagi. Prinsip pemakaian pessarium ialah bahwa alat
tersebut mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian atas, sehingga bagian
dari vagina tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati vagina bagian
bawah. Jika pessarium terlalu kecil atau dasar papanggul terlalu lemah,
pessarium jatuh dan prolapsus uteri akan timbul lagi.
Sumber : Wiknjosastro H,dkk. 2009. Buku Kandungan. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
SP.
8. Prognosis
Dubia et bonam (setelah dilakukan interfensi)
Sebagian besar wanita dengan prolapsus uteri ringan tidak mengalami gejala dan tidak
butuh pengobatan. Pessarium vagina dapat sangat efektif untuk banyak wanita dengan
prolapsus uteri. Tindakan operatif selalu memberikan hasil yang memuaskan, meskipun
beberapa wanita mungkin membutuhkan pengobatan lagi di masa akan datang untuk
prolapsus dinding vagina yang berulang .
Sumber : Lotisna, D. 2007. Prolaps Genitalia. Devisi Uroginekologi Rekonstruksi.
Departemen Obstetri dan Ginekologi. FK UH. Makassar.

9. Pencegahan prolaps uteri


Pemendekan waktu persalinan,terutama kala pengeluaran dan kalau perlu dilakukan
elektif (umpama ekstraksi forseps dengan kepala sudah didasar panggul), membuat
episiotomi, memperbaiki dan mereparasi luka atau kerusakan jalan lahir dengan baik,
memimpin persalinan dengan baik agar dihindarkan penderita meneran sebelum
pembukaan lengkap betul, menghindari paksaan dalam pengeluaran plasenta,
mengawasi involusi uterus pasca persalinan tetap baik dan cepat, serta mencegah atau
mengobati hal-hal yang dapat meningkatkan tekanan intraabdominal seperti batuk-
batuk yang kronik. Menghindari benda-benda yang berat. Dan juga menganjurkan agar
penderita jangan terlalu banyak punya anak atau sering melahirkan.
Sumber : Wiknjosastro H,dkk. 2009. Buku Kandungan. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
SP.

10. Diagnosis banding


Diagnosis banding yang perlu dipertimbangkan saat menilai wanita untuk POP
mencakup massa saluran genital adneksa, uterus, dan genital lainnya yang dapat
menyebabkan gejala yang mirip dengan POP, Dan infeksi saluran kencing (ISK).Jika
pasien memiliki gejala kencing, urinalisis dilakukan untuk mengevaluasi ISK.

Diagnosis banding dari prolapsus uteri adalah :


Sistokele : turunnya vesika urinaria melalui fasia puboservikalis, sehingga
dinding vagina depan jadi tipis dan disertai penonjolan ke dalam lumen vagina.
Ureterokel : hilangnya penyokong dari fascia puboservikalis dan fascia
pubourethralis. Prolaps kandung kemih sampai ke dalam vagina

Rektokel : Penonjolan rektum kedalam vagina yang disebabkan oleh kelemahan


dinding vagina bagian belakang. Bagian rektum menonjol ke dinding posterior
vagina yang membentuk kantong di usus.

Enterokel : herniasi dari usus halus kedalam lumen vagina


Kista vagina (kista gartner dan lainnya)
Kista Gartner merupakan salah satu kista di vagina. Kista ini berasal dari sisa
saluran saat janin dalam perkembangan yang awalnya membesar kemudian
menghilang. Tetapi kadang-kadang kista ini lumayan membesar sehingga
terlihat dari luar vagina. gejalanya hanya berupa pembengkakan kecil di dinding
vagina, massa tumor keluar dari liang vagina atau nyeri saat melakukan
hubungan seksual.
Sumber : Brittany s, nuut . 2016 . Diagnosis and management of pelvic organ prolapse: The
basics. Vol 4. No 2. Woman healtcare a clinical journal for NPs.
https://npwomenshealthcare.co.id/diagnosis-management-pelvic-organ-
prolapse-basics/

DAFTAR PUSTAKA

Brittany s, nuut . 2016 . Diagnosis and management of pelvic organ prolapse: The basics. Vol
4. No 2. Woman healtcare a clinical journal for NPs.
https://npwomenshealthcare.co.id/diagnosis-management-pelvic-organ-
prolapse-basics/
Bulletins--Gynecology ACoP. 2007 .ACOG Practice Bulletin Pelvic organ prolapse. Obstetrics
& Gynecology. No. 85 Vo :11:717-729.
Hagen S, Thakar R. 2012 .Conservative management of pelvic organ prolapse. Obstetrics,
Gynaecology & Reproductive Medicine.
Junizar & Santoso. B. I. 2013. Penatalaksaan Prolaps Organ Panggul. Perkumpulan Obstetri
&Ginekologi Indonesia. Himpunan Urogenikologi Indonesia .
Lotisna, D. 2007. Prolaps Genitalia. Devisi Uroginekologi Rekonstruksi. Departemen Obstetri
dan Ginekologi. FK UH. Makassar.
Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia. 2013. Panduan penatalaksanaan prolaps organ
panggul. Himpunan Uroginekologi Indonesia : Jakarta.
Tsikouras, P. Et al; 2013. Uterine prolapse in pregnancy: risk factors, complications and
management. Viewed 24 Mei 2017, from <http://www.
informahealthcare.com/jmf>
Wiknjosastro H,dkk. 2009. Buku Kandungan. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka SP.

[8] Image from wikipedia.org , ELSEVIER (StudentConcult)


[9] Medscape : Prolapsus Uterii

[10] Textbook : Prolapsus Vaginal