Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi organ, termasuk kulit,
dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada usia lanjut. Insiden dan
keparahan kulit kering meningkat dengan bertambahnya usia. Kejadian
tersering adalah di ekstremitas, tetapi juga dapat ditemukan di batang tubuh
dan wajah. Kulit merupakan lapisan terluar penutup tubuh yang mempunyai
fungsi sebagai barier terhadap segala bentuk/macam trauma dari luar baik
fisik, mekanik maupun kimiawi. Di samping itu pula sebagai penutup tubuh
yang bernilai estetika dengan tampilan yang nampak halus, lembut dan
berkilat. Pada keadaan tertentu kulit tampak kasar kering bersisik sehingga
tampak kusam, tidak lagi menarik.
Kulit manusia adalah indikator penuaan yang paling mudah diamati.
Pada kulit usia lanjut terjadi penipisan epidermis, penurunan suplai darah,
cairan, dan nutrisi ke kulit, melambatnya penyembuhan luka dan respons
imun, terganggunya termoregulasi dan berkurangnya jumlah kelenjar minyak
dan keringat. Di tingkat seluler, terjadi penurunan produksi lipid dan Natural
Moisturizing Factor (NMF) di stratum korneum. Selain perubahan tersebut,
pada usia lanjut sering terdapat penyakit-penyakit komorbid yang
mempengaruhi fungsi kulit.
Proses kulit kering yang penting adalah keseimbangan antara penguapan
air dengan kemampuan kulit menahan air, fungsi barier kulit juga berperan.
Oleh karena itu penting untuk mempertahankan kulit yang sehat dan
memperbaiki kulit kering untuk menjaga agar kulit kelihatan cantik.
Mekanisme dasar untuk mengembalikan kulit kering yaitu dengan
meningkatkan pengikatan dan penyimpanan air dengan cara aplikasi bahan
pengikat air atau moisturizers, bahan pelumas atau emolients dan penutup
kulit atau conditioners.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari kulit kering?
2. Apa saja klasifikasi dari kulit kering?
3. Apa saja etologi dari kulit kering?
4. Apa saja manifestasi klinik dari kulit kering?
5. Bagaimana patofisiologi dari kulit kering?
6. Bagaimna pemeriksaan penunjang dari kulit kering?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari kulit kering?
8. Apa saja komplikasi dari kulit kering?
9. Bagaimana asuhan keperawatan kulit kering pada lansia?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini yaitu agar
mahasiswa dapat mengetahui tentang asuhan keperawatan kulit kering
pada lansia
2. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa mampu menjelaskan definisi, etiologi, patofisiologi,
manifestasi klinis dari kulit kering pada lansia
2) Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksaan, komplikasi, masalah
keperawatan yang mungkin muncul pada kulit kering pada lansia
3) Mahasiswa mampu melaksanaan perencanaan asuhan keperawatan
dan implementasi serta evaluasi dari masalah keperawatan kulit
kering pada lansia

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kulit kering atau xerosis cutis merupakan gangguan pada permukaan
kulit akibat berkurangnya cairan atau kandungan minyak pada kulit sehingga
kelembaban pada permukaan lapisan kulit menurun. Kulit akan tampak kasar,
bersisik, gatal, tidak elastis, kaku dan terlihat kerutan. Kulit kering (Dry skin)
atau xerosis didefinisikan untuk menggambarkan hilangnya atau
berkurangnya kadar kelembaban Stratum Corneum (SC). Peningkatan Tran
Epidermal Water Loss (TEWL) yang menyebabkan kulit kering dikarenakan
adanya gangguan pada kulit yang menyebabkan banyaknya air yang menguap
ke atmosfer. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti
deterjen, aseton dan bahan kimia yang lain dan mandi berendam terlalu
sering. Pada orang tua kulit kering disebabkan oleh perubahan struktur
lapisan kulit (perubahan komposisi lipid SC dan perubahan differensiasi
epidermal).
Xerosis atau kulit kering sering terjadi pada bagian tumit kaki, siku, dan
jari-jari tangan. Xerosis pada tumit kaki merupakan kondisi kulit kering pada
tumit kaki yang cukup parah hingga terjadi pecah-pecah. Xerosis disebabkan
berkurangnya kelembaban akibat hilangnya lipid dan faktor pelembab alami
di stratum corneum. Lipid ini penting untuk memerangkap air dan mencegah
kehilangan air berlebih. Pada usia lanjut, lipid interseluler berkurang,
mengakibatkan fungsi sawar terganggu sehingga meningkatkan kerentanan
usia lanjut terhadap bahan-bahan seperti pelarut dan deterjen. Skin aging dan
kulit kering pada usia lanjut kulit berperan sebagai sawar antara lingkungan
internal dan eksternal. Fungsi lain kulit antara lain menjaga homeostasis,
menjaga keseimbangan air, elektrolit, dan protein, pengaturan panas tubuh,
persepsi sensorik, serta perlindungan imunologi. Kulit kering cenderung
mudah meradang, pecah-pecah (fisura), dan dermatitis. Lebih lanjut, rasa
gatal membuat penderitanya menggaruk. Akibat garukan, terjadi kerusakan

3
kulit yang lebih berat berupa erosi, ekskoriasi, serta inflamasi yang berpotensi
mencetuskan infeksi bakteri sekunder. Rasa gatal juga menurunkan kualitas
hidup karena mengganggu tidur dan dapat menimbulkan depresi.
Xerosis dapat menimbulkan masalah yang cukup serius bila tidak
ditangani sejak dini. Jika kedalaman pecahan tersebut cukup dalam hingga
lapisan dermis, akan menimbulkan pendarahan yang memicu infeksi oleh
jamur dan bakteri.

2.2 Klasifikasi
Kulit kering dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :
1. Kulit kering yang didapat ( acquired dry skin )
Ini dapat timbul pada kulit normal atau kulit berminyak yang menjadi
kering sementara dan bersifat lokal yang disebabkan oleh faktor-faktor
luar, diantaranya :
Radiasi matahari (UV)
Pemaparan pada iklim yang ekstrim : panas, dingin, angin, dan
kekeringan
Pemaparan pada bahan kimia : detergen, solvent
Terapi obat misalnya : retinoid

2. Constitutional Dry Skin


Tipe ini meliputi banyak jenis kulit kering, di mana bentuk yang parah
adalah bentuk patologik.
1) Non Pathological skin
Tipe kulit kering konstitutional ini juga dipengaruhi oleh faktor
eksternal yang telah disebutkan .
a. Fragile Skin : adalah bentuk antara kulit kering dengan kulit
normal dan kebanyakan dijumpai pada wanita atau pada orang
orang dengan kulit lembut, struktur baik. Sering dijumpai
eritema, rosasea dan lebih sensitif terhadap bahan bahan dari
luar.

4
b. Senile Skin : kekeringan terjadi pada kulit menua, dimana terjadi
perubahan pada semua level
c. Minor dry skin ( xerosis vulgaris ) : hal ini mungkin berasal dari
genetik, umumnya dijumpai pada wanita dengan tampilan pucat.
Xerosis terjadi khsususnya pada wajah, punggung, tangan dan
badan

2) Pathological skin
a. Ichtyosis : pada kulit ini terjadi kerusakan keratinisasi secara
genetik, dimana bermanifestasi berupa deskuamasi abnormal,
perubahan fungsi barier. Bentuk lanjut penyakit ini mirip
ichtyosis vulgaris
b. Kulit kering pada dermatitis atopik : pada penyakit ini terjadi
defek secara genetik pada metabolisme dari asam lemak esensial
(d-6 desaturase ), terlihat xerosis yang luas disertai inflamasi,
plaque like, dan rasa gatal.

2.3 Etiologi
Kulit kering atau xerosis cutis dapat disebabkan oleh :
a. Faktor Eksternal
1. Radiasi sinar ultraviolet (UV)
Radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari merupakan ancaman
lingkungan utama bagi tubuh manusia dan hampir setiap hari manusia
terpapar dengan sinar matahari. Paparan yang terus menerus akan
memberikan dampak pada kulit juga untuk kesehatan. Bila sudah lama,
kulit cenderung keriput, berkerut, rapuh, tidak elastis, kering, kasar,
pigmentasi tidak teratur, dan eritema.
Sinar ultraviolet dibagi menjadi UVA, UVB, dan UVC. UVB
menyebabkan efek pada lapisan epidermis sedangkan UVA
menimbulkan efek pada lapisan epidermis dan dermis. Sinar ultraviolet

5
akan mengganggu fungsi pada kulit. Salah satunya, dapat menyebabkan
kehilangan cairanpada kulit.
2. Pajanan bahan kimia (substansi kimia)
Terlalu sering terpapar bahan kimia seperti deterjen, sabun, dan
cairan pembersih rumah dapat mengganggu struktur lipid bilayer pada
permukaan kulit. Sehingga, berbagai gangguan kulit dapat terjadi.
Kelembaban kulit akan menurun oleh karena hilangnya kadar air pada
kulit atau transepidermal water loss (TEWL) yang menyebabkan kulit
menjadi kering.
3. Kelembaban udara
Kelembaban udara yang rendah, kurang dari 30-40% dan
temperatur yang kurang dari 20o C atau 68o F berisiko menyebabkan
kulit menjadi kering. Peningkatan transpepidermal water loss (TEWL)
harus dikoreksi lebih cepat ketika seseorang yang berada di lingkungan
lembab ke lingkungan yang kering karena dapat memicu peningkatan
sintesis lipid di stratum korneum secara mendadak. Selain itu, saat
kelembaban udara rendah, ikatan antara ceramide dan air akan
mengkristal sehingga kulit menjadi kasar dan kusam.
4. Polusi
Polusi seperti asap kendaraan bermotor akan memicu proses kimia
kompleks seperti proses oksidasi berupa radikal bebas yang bersifat
oksidatif. Radikal bebas ini akan memacu kerusakan DNA pada inti sel,
kerusakan protein, serta memacu proses autoimun yang menyebabkan
peradangan pada kulit sehingga kulit menjadi kering.
5. Obat-obatan
Berbagai tindakan pengobatan seperti retinoid dapat menyebabkan
penurunan kadar air pada stratum korneum sehingga kulit menjadi
kering.
6. Faktor mekanik
Misalnya, alat yang dapat menimbulkan luka, tekanan restrain

6
b. Faktor Internal
1. Usia
Pada usia lanjut, jumlah pembuluh darah kecil berkurang, sehingga
pasokan darah dan nutrisi pada kulit menurun. Jumlah keringat dan
kelenjar sebasea serta produksi lipid pada kulit juga berkurang. Lapisan
epidermis dan serat elastis menipis dan kekuatan lapisan dermis
berkurang sehingga kekuatan barier kulit untuk melindungi dari
kehilangan cairan menjadi berkurang.
2. Penyakit kulit
Dermatitis atopik adalah penyakit inflamasi kulit kronis. Dermatitis
atopik merupakan kondisi multifaktorial dengan kelainan genetik yang
menyebabkan ketidakseimbangan imunologi. Gejala awalnya adalah
kulit kering dan pruritus yag parah.
Iktiosis adalah kelainan genetik pada kulit ditandai dengan kulit
kering atau xerosis cutis yang disebabkan oleh karena adanya defek
formasi dan fungsi barier epitel.
3. Penyakit sistemik
Kulit merupakan gejala umum dari penyakit sistemik kronis.
Termasuk hipotiroidisme, diabetes melitus, gagal ginjal kronik,
penyakit hati, dan human immunodeficiency virus (HIV). Pada
hipotiroidisme akan mensintesis lipid yang abnormal dan dapat
mengurangi aktivitas kelenjar keringat dan kelenjar minyak.
Prevalensi kulit kering pada diabetes melitus diperkirakan sekitar
30% dan dianggap merupakan akibat dari perubahan saraf dan
pembuluh darah. Bila terjadi neuropati, kelenjar keringat akan atrofi.
Kulit kering dan gatal merupakan salah satu gejala dari gangguan
penyakit hati dan ginjal. Prevalensi kulit kering pada penderita yang
menjalani hemodialisis pada gagal ginjal sekitar 66%. Telah dilaporkan
bahwa sebanyak 50% orang yang mengidap HIV mengalami kulit
kering.

7
4. Perubahan status metabolik, perubahan status cairan
5. Defisit imunologi, perubahan sensasi, perubahan pigmentasi, perubahan
sirkulasi, perubahan turgor (elastisitas kulit)
4. Perubahan status nutrisi
Pada orang yang kekurangan gizi atau malnutrisi akan terjadi
defisiensi asam linoleat yang mempunyai efek besar terdahap lipid
bilayer kulit. Kekurangan asam linoleat akan mengganggu fungsi barier
kulit sehingga kulit kehilangan cairan dan menjadi kasar.

2.4 Manifestasi Klinis


Kulit kering memberikan beberapa gambaran karakterisitik. Karakteristik
yang dapat dilihat dan diraba baik oleh dermatologist maupun pasien, dan
karakteristik sensori hanya dapat dirasakan oleh pasien sendiri.
1. Karakteristik yang terlihat : kemerahan, permukaan yang kusam, kering,
bercak putih, pecah-pecah (fisura), gangguan permukaan kulit
(epidermis).
2. Karakteristik yang dapat diraba : kusam dan tidak rata .
3. Karaketristik sensori : terasa kering tak nyaman, nyeri, gatal, rasa
kesemutan
Pasien dengan kulit kering biasanya gatal dan akan menggaruk. Pada
pemeriksaan fisik, pasien ini akan menunjukkan perubahan sekunder berupa
penebalan atau likenifikasi, erosi dan superinfeksi dengan keadaan lembab,
lesi yang meleleh dan krusta.
Pada proses penuaan akan terjadi kekeringan akibat kemampuan stratum
corneum mengikat air berkurang, sehingga kulit tampak mengkilat,
mengkerut dan keras.

8
2.5 Patofisiologi

Faktor internal Faktor eksternal


- Radiasi UV - Usia, perubahan status nutrisi
- Pajanan bahan kimia - Penyakit kulit dan penyakit sistemik
- Kelembaban udara - Perubahan status metabolik, perubahan
- Polusi, obat-obatan status cairan
- Defisit imunologi, perubahan sensasi
dan pigmentasi, perubahan sirkulasi,
perubahan turgor (elastisitas kulit)

Produksi kelenjar sebasea (minyak) dan keringat

Trans Epidermal Water Loss (TEWL)

Kelembaban di Stratum Corneum (SC) berkurang

Penurunan kohesi antar sel keratinosit

Bertambahnya ukuran dan akumulasi korneosit

produksi / berkurangnya kadar NMF & lipid intraseluler di SC

Terhambatnya proses deskuamasi

Risiko kerusakan
Kulit kering, kasar, dan bersisik
integritas kulit

Kulit gatal-gatal (pruritus)

Gangguan
Adanya iritasi kulit dan nyeri
rasa nyaman

Invasif bakteri

Peradangan kulit Risiko infeksi

9
2.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pengukuran TEWL dengan alat evaporimeter
2. Surface microscopy
3. Skin surface photography
4. Scanning electron microscopy (SEM)
5. Skin surface biopsy
6. Profilometri

2.7 Penatalaksanaan
Untuk memperbaiki kulit kering, harus mengurangi hilangnya air lewat
epidermis (TEWL) dengan jalan memberikan bahan yang bersifat hidrasi
(moisturizer) yang larut dalam air atau pelumas (lumbricating) dan penutup
(oclution) yang tidak larut dalam air. Berikut penatalaksanaan pada pasien
dengan kulit kering :
1. Modikasi Gaya Hidup
a. Asupan cairan
Pada usia lanjut risiko dehidrasi meningkat karena perubahan
sistem kontrol fisiologis rasa haus dan kenyang. Jumlah cairan minimal
yang direkomendasikan adalah 8-9 gelas atau 1,5 liter per hari, mereka
yang mengonsumsi 1 liter lebih banyak dari jumlah yang dianjurkan,
hidrasi kulitnya akan meningkat.
b. Kelembaban udara
Tingkat kelembaban udara 10% menyebabkan stratum korneum
kehilangan kelembabannya dan tingkat kelembapan di atas 70%
mengembalikan kelembaban ke dalam stratum korneum. Akan tetapi,
bukan berarti pasien harus tinggal di lingkungan dengan kadar
kelembaban 70%. Menggunakan air humidier dengan pengaturan luaran
kelembaban udara sebesar 45-60% cukup untuk mencegah kelembaban
udara turun kurang dari 10%. Selain kelembaban, suhu rendah juga
memperberat kondisi kulit kering.

10
c. Kebiasaan mandi terlalu lama atau berendam di air panas menyebabkan
kulit kering. Lebih disarankan mandi dengan pancuran air hangat
selama 10 menit.
d. Sabun menghilangkan emolien alami kulit, memperberat kondisi kulit
kering, dan dapat mengiritasi. Disarankan menggunakan sabun yang
mengandung pelembap dan tidak mengandung pewangi. Sabun dengan
pH alkali akan merusak lapisan lipid protektif kulit melalui pemutusan
ikatan antar komponen lipid menjadi komponen larut air. Akibatnya,
terjadi peningkatan transepidermal water loss (TEWL) dan kulit kering.
Penggunaan bath oil tidak disarankan karena risiko terpeleset dan
cedera serius.
e. Efek photoaging juga dapat menyebabkan kulit kering. Paparan sinar
matahari berintensitas radiasi ultraviolet tinggi, terutama pukul 10.00-
16.00, harus dihindari. Sel-sel kulit menyerap radiasi dan memproduksi
reactive oxygen species (ROS), yang dapat merusak DNA dan dinding
sel. Proses photoaging ini juga menyebabkan rusaknya Disarankan
menggunakan tabir surya yang mengandung sun protection factor (SPF)
30 jika terpapar sinar matahari. Pakaian yang menutupi kulit dan topi
juga dapat mengurangi paparan sinar matahari.13
f. Jika ada penyakit sistemik penyerta, tatalaksana yang tepat dapat
memperbaiki kulit kering.

2. Pelembab
Pelembap adalah bahan topikal yang mengandung beberapa komponen
dan berfungsi mencegah atau memperbaiki kulit kering. Beberapa sediaan
pelembap berdasarkan kandungan airnya, antara lain losion, krim, salep, dan
pasta. Selain merehidrasi korneosit di stratum korneum, pelembap memiliki
fungsi mengembalikan struktur dan fungsi sawar kulit. Istilah pelembab
menggambarkan terjadinya penambahan air ke kulit, sehingga menurunkan
kekasaran kulit atau peningkatan kadar air secara aktif ke kulit. Penggunaan
pelembap dapat meningkatkan skin capacitance (SC), yaitu kemampuan

11
kulit menyimpan air, dan menurunkan TEWL, yaitu kehilangan air melalui
epidermis. Hal ini terjadi melalui peningkatan absorpsi air perkutan yang
diperankan oleh zat yang dapat mengikat air (humektan) dan atau dengan
membentuk sawar lipid hidrofobik.

2.8 Komplikasi
1. Eczema xerotic
Dapat terjadi jika kulit menjadi sangat kering dan pecah-pecah dan
menjadi inflamasi.
2. Dermatitis numularis atau eczema discoid umumnya/cenderung pada kulit
yang xerosis.
3. Superinfeksi dengan bakteri akibat garukan.

12
BAB III
KASUS DAN ANALISIS

3.1 Trigger Case


Ny. M, wanita, 74 tahun tinggal di Panti Werdha Husada. Ny. M dulu
pernah aktif sebagai relawan di Rumah Sakit komunitas dan mengelola kebun
kecil saat musim panas. Namun sekarang Ny. M sudah tidak bekerja lagi.
Ny. M mengeluh kulit jadi kering, kasar, bersisik dan gatal-gatal terutama
pada lengan dan punggung. Hal itu terjadi karena Ny. M sering berada di bawah
sinar matahari dan terpapar polusi saat berkebun, 3 bulan terakhir kulit Ny. M
pernah mengalami alergi dan kemerahan karena menggunakan losion yang tidak
jelas komposisinya. Kulit kering yang dialami oleh Ny. M membuatnya sering
menggaruk karena adanya rasa gatal. Akibat garukan tersebut, terjadi kerusakan
kulit yang lebih berat berupa iritasi yang berisiko menyebabkan terjadinya
infeksi.

3.2 Asuhan Keperawatan


3.2.1 Pengkajian
Nama Panti : Panti Werdha Husada
Alamat Panti : Jl. Wijaya No. 7, Surabaya
Tanggal Masuk : 28 Oktober 2017
No Register : 77621

1. Identitas
Nama : Ny. M
Alamat : Jl. Wijaya No. 20, Surabaya
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : Elderly
Status : Janda
Agama : Islam
Tingkat pendidikan : SMA

13
Sumber pendapatan :
Ada, Ny. M mendapat bantuan dari anak-anaknya dan setiap 2 minggu
sekali mengunjungi Ny. M
Riwayat Pekerjaan :
Relawan di RS komunitas dan mengelola kebun

2. Riwayat Kesehatan
- Keluhan yang dirasakan saat ini : Kulit kering, kasar,
bersisik, gatal
- Apa keluhan yang anda rasakan 3 bulan terakhir : Gatal, kemerahan
- Penyakit saat ini : Penyakit kulit
- Kejadian penyakit 3 bulan terakhir : Penyakit kulit

3. Status Fisiologis
- Postur tulang belakang lansia : Kifosis
- Tanda-tanda vital dan status gizi :
1) Suhu : 35 oC
2) Tekanan darah : 130/80 mmHg
3) Nadi : 75 x/menit
4) Respirasi : 18 x/menit
5) Berat badan :
- Sebelum sakit : 53 kg
- Saat sakit : 52 kg
6) Tinggi badan : 155 cm

Pengkajian Head To Toe


1. Kepala
Kebersihan : bersih
Kerontokan rambut : tidak
Keluhan : tidak

14
2. Mata
Konjungtiva : tidak
Sklera : tidak
Strabismus : tidak
Penglihatan : tidak
Peradangan : tidak
Riwayat katarak : tidak
Keluhan : tidak
Penggunaan kacamata : tidak
3. Hidung
Bentuk : simetris
Peradangan : tidak
Penciuman : tidak
4. Mulut dan tenggorokan
Kebersihan : baik
Mukosa : kering
Peradangan/stomatitis : tidak
Gigi geligi : karies
Radang gusi : tidak
Kesulitan mengunyah : tidak
Kesulitan menelan : tidak
5. Telinga
Kebersihan : bersih
Peradangan : tidak
Pendengaran : tidak
Keluhan lain : tidak
6. Leher
Pembesaran kelenjar thyroid : tidak
JVD : tidak
Kaku kuduk : tidak

15
7. Dada
Bentuk dada : normal chest
Retraksi : tidak
Wheezing : tidak
Ronchi : tidak
Suara jantung tambahan : tidak
Ictus cordis : terlihat pada ICS kiri ke 5 berjarak 1-2 cm
medial dari garis midklavikula kiri
8. Abdomen
Bentuk : flat (datar)
Nyeri tekan : tidak
Kembung : tidak
Supel : ya
Bising usus : ada , frekwensi : 15 x/menit
Massa : tidak
9. Genetalia
Kebersihan : baik
Haemoroid : tidak
Hernia : tidak
10. Ekstremitas
Kekuatan otot : 4
Postur tubuh : kifosis
Rentang gerak : kurang maksimal
Deformitas : ya, karena seiring bertambahnya usia akan
terjadi perubahan bentuk tubuh salah satunya
yaitu postur tubuh yang membungkuk
Tremor : tidak
Edema kaki : tidak
Penggunaan alat bantu : tidak

16
Refleks
Kanan Kiri
Biceps + +
Triceps + +
Knee - -
Achiles + +
Keterangan :
Refleks + : normal
Refleks - : menurun/meningkat
11. Integumen
Kebersihan : kurang baik
Warna : pucat
Kelembaban : kering
Gangguan pada kulit : ya, karena Ny. M sering berada di bawah sinar
matahari dan polusi saat berkebun, 3 bulan
terakhir kulit Ny. M pernah mengalami alergi
dan kemerahan karena menggunakan losion
yang tidak jelas komposisinya. Kulit kering
yang dialami oleh Ny. M membuatnya sering
menggaruk karena adanya rasa gatal sehingga
terjadi iritasi kulit.

4. Pengkajian Perilaku Terhadap Kesehatan


Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
1. Pola pemenuhan kebutuhan nutrisi
Frekuensi makan : 3 kali sehari
Jumlah makanan yang dihabiskan : 1 porsi habis
Makanan tambahan : Dihabiskan
2. Pola pemenuhan cairan
Frekuensi minum : > 3 gelas sehari
Jenis Minuman : Air putih

17
3. Pola kebiasaan tidur
Jumlah waktu tidur : 4 6 jam
Gangguan tidur berupa : Sering Terbangun
Penggunaan waktu luang ketika tidak tidur : Santai
4. Pola eliminasi BAB
Frekuensi BAB : 1x sehari
Konsisitensi : Lembek
Gangguan BAB : Tidak ada
5. Pola BAK
Frekwensi BAK : 4 6 kali sehari
Warna urine : Kuning jernih
Gangguan BAK : Tidak ada
6. Pola aktifitas
Pola Pemenuhan Kebersihan Diri
Mandi : 2 kali sehari
Memakai sabun : Ya
Sikat gigi : 2 kali sehari
Menggunakan pasta gigi : Ya
Kebiasaan berganti pakaian bersih : > 1 kali sehari

5. Pengkajian Lingkungan
1. Pemukiman
Luas bangunan : 100 m2
Bentuk bangunan : Asrama
Jenis bangunan : Permanen
Atap rumah : Genting
Dinding : Tembok
Lantai : Semen
Ventilasi : >15 % luas lantai
Pencahayaan : Baik, karena terdapat genting, kaca
dan lampu yang memadai

18
Pengaturan penataan perabot : Baik
Kelengkapan alat rumah tangga : Lengkap
2. Sanitasi
Kebersihan lingkungan : Baik
Penyediaan air bersih (MCK) : Sumur
Penyediaan air minum : Air rebus sendiri
Pengelolaan jamban : Bersama
Jenis jamban : Leher angsa
Jarak dengan sumber air : >10 meter
Sarana pembuangan air limbah (SPAL) : Lancar
Bekas sampah : Dikelola Dinas
Polusi udara : Rumah tangga
Pengelolaan binatang pengerat : Ya, Dengan alat
3. Fasilitas
Peternakan : Tidak
Perikanan : Tidak
Sarana olahraga : Tidak
Taman : Ada, luas : 70 m2
Ruang pertemuan : Ada, luas : 80 m2
Sarana hiburan : Ada, Jenis : radio, televisi
Sarana ibadah : Ada, Jenis : Musholla
4. Keamanan dan transportasi
1. Keamanan
Penanggulangan kebakaran : Ada
Penanggulangan bencana : Ada
2. Transportasi
Jenis transportasi yang dimiliki : Tidak ada
3. Komunikasi
Sarana komunikasi : Ada
Jenis komunikasi yang digunakan : Telepon
Cara penyebaran informasi : Langsung

19
5.2.3 Analisa Data
No. Data Etiologi
Problem
1. DS : Radiasi sinar Risiko kerusakan
- Ny. M mengeluh kulit ultraviolet (sinar integritas kulit
jadi kering matahari), polusi,
- Ny. M mengeluh kulitnya penggunaan losion
kasar
- Ny. M mengeluh kulitnya
bersisik
- Ny. M mengeluh kulitnya
gatal-gatal

DO :
- Kulit tampak bersisik
- Adanya pruritus (gatal-
gatal)
- Adanya bekas garukan
- Kulit tampak kemerahan
- S : 35 oC
2. DS : Invasif bakteri Risiko Infeksi
Ny. M mengeluh kulitnya
gatal-gatal
DO :
- Adanya peradangan
- Terjadi iritasi kulit
- Kulit tampak kemerahan
- Adanya pruritus
- Ny. M tampak menggaruk
kulit yang gatal

20
5.2.4 Diagnosa Keperawatan
1. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi sinar
ultraviolet (sinar matahari), polusi, penggunaan losion ditandai dengan kulit
kering, kasar, bersisik, kemerahan, adanya pruritus (gatal-gatal).
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan iritasi atau lesi kulit ditandai
dengan adanya gatal-gatal / pruritus
3. Risiko infeksi berhubungan dengan invasif bakteri ditandai dengan adanya
peradangan atau iritasi pada kulit, kulit kemerahan.

5.2.5 Intervensi Keperawatan


Diagnosa Tujuan dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil

Risiko kerusakan NOC : NIC :


integritas kulit Tissue Integrity : Skin - Anjurkan pasien untuk
Batasan Karakteristik: and mucous membrans menggunakan pakaian yang
- Gangguan pada Kriteria Hasil : longgar
bagian tubuh - Integritas kulit yang - Jaga alas tempat tidur tetap
- Kerusakan lapisan baik bisa bersih, kering dan bebas kerut
kulit (dermis) dipertahankan - Jaga kebersihan kulit agar
- Gangguan - Melaporkan adanya tetap bersih
permukaan kulit gangguan sensasi - Aplikasikan obat pelunak di
(epidermis) atau nyeri pada daerah yang terkena
daerah kulit yang
Faktor yang
mengalami Menejemen pruritus
berhubungan :
gangguan - Berikan krim dan losion yang
- Kelembaban udara
- Menunjukkan mengandung obat sesuai
- Radiasi sinar UV
pemahaman dalam dengan kebutuhan
(paparan matahari)
proses perbaikan - Pasang perban atau balutan
- Kelembaban kulit
kulit dan mencegah pada tangan atau siku ketika
- Penuaan fisik
terjadinya cidera pasien tidur untuk membatasi
- Status imunitas
berulang gerakan menggaruk yang tidak

21
- Mampu melindungi terkontrol, sesuai dengan
kulit dan kebutuhan
mempertahankan - Berikan antipruritik dan krim
kelembaban kulit antihistamin, sesuai dengan
dan perawatan alami indikasi
- Instruksikan pasien untuk
menghindari sabun mandi dan
minyak yang mengandung
parfum
- Instruksikan pasien untuk
mempertahankan potongan
kuku dalam keadaan pendek
- Instruksikan pasien untuk
meminimalisir keringat dengan
menghindari lingkungan yang
hangat dan panas
- Instruksikan pasien mandi
dengan air hangat kuku dan
tepuk-tepuk area kulit yang
kering.
Gangguan rasa NOC : NIC :
nyaman - Anxiety Anxiety reduction (peenurunan
Batasan Karakteristik: - Sleep deprivation kecemasan)
- Ansietas - Comfort, readines - Berada disamping klien untuk
- Gangguan pola for enchanced meningkatkan rasa aman dan
tidur mengurangi ketakutan
- Melaporkan Kriteria hasil : - Dorong keluarga untuk
perasaan tidak - Mampu mengontrol mendampingi klien dengan
nyaman kecemasan cara yang tepat
- Melaporkan rasa - Status lingkungan - Dengarkan klien
gatal yang nyaman

22
Faktor yang - Mengontrol nyeri - Puji atau kuatkan perilaku
berhubungan : - Kualitas tidur dan yang baik secara tepat
- Gejala terkait istirahat adekuat - Dorong verbalisasi perasaan,
penyakit - Control gejala persepsi dan ketakutan
- Stimulasi - Status kenyamanan - Ciptakan atmosfer rasa aman
lingkungan yang meningkat untuk meningkatkan
mengganggu - Support sosial kepercayaan
- Dukung penggunaan
mekanisme koping yang sesuai
- Instruksikan klien untuk
menggunakan teknik relaksasi

Manajemen nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri
komprehensif yang meliputi
lokasi, karakteristik, onset,
frekuensi, kualitas, intensitas
nyeri dan faktor pencetus
- Kendalikan faktor lingkungan
yang dapat mempengaruhi
respon pasien terhadap
ketidaknyamanan (suhu
ruangan, pencahayaan, suara
bising)
- Kurangi atau eliminasi faktor-
faktor yang dapat mencetuskan
atau meningkatkan nyeri
(ketakutan, kelelahan, kurang
pengetahuan)
- Pilih dan implementasikan

23
tindakan yang beragam
(farmakologi, nonfarmakologi,
interpersonal) u/ memfasilitasi
penurunan nyeri, sesuai
dengan kebutuhan.
- Dukung istirahat/tidur yang
adekuat untuk membantu
penurunan nyeri
- Informasikan anggota keluarga
mengenai strategi non
farmakologi yang sedang
digunakan untuk mendorong
pendekatan preventif terkait
dengan manajemen nyeri

Peningkatan tidur
- Monitor/catat pola tidur pasien
jumlah jam tidur, kondisi fisik
(nyeri/ketidaknyamanan), dan
atau psikologis (ketakutan atau
kecemasan) keadaan yang
mengganggu tidur
- Sesuaikan lingkungan (cahaya,
kebisingan, suhu ruangan, dan
tempat tidur) untuk
meningkatkan tidur
- Anjurkan untuk tidur di siang
hari, jika diindikasikan untuk
memenuhi kebutuhan tidur
- Diskusikan dengan pasien dan
keluarga mengenai teknik

24
untuk meningkatkan tidur

Menejemen pruritus
- Berikan krim dan losion yang
mengandung obat sesuai
dengan kebutuhan
- Pasang perban atau balutan
pada tangan atau siku ketika
pasien tidur untuk membatasi
gerakan menggaruk yang tidak
terkontrol, sesuai dengan
kebutuhan
- Berikan antipruritik dan krim
antihistamin, sesuai dengan
indikasi
- Instruksikan pasien untuk
menghindari sabun mandi dan
minyak yang mengandung
parfum
- Instruksikan pasien untuk
mempertahankan potongan
kuku dalam keadaan pendek
- Instruksikan pasien untuk
meminimalisir keringat dengan
menghindari lingkungan yang
hangat dan panas
- Instruksikan pasien mandi
dengan air hangat kuku dan
tepuk-tepuk area kulit yang
kering.

25
Risiko Infeksi NOC : NIC :
Faktor yang - Immune status Control infeksi
berhubunngan : - Control infeksi - Anjurkan pasien mengenai
- Ketidakcukupan - Infection protection teknik mencuci tangan dengan
pengetahuan tepat
untuk Kriteria Hasil : - Gunakan sabun anti mikroba
menghindari 1. Tidak ada tanda- untuk cuci tangan yang sesuai
paparan pathogen tanda infeksi - Gosok kulit pasien dengan
- Peningkatan 2. Menunjukkan agen anti bakteri yang sesuai
paparan atau pemahaman dalam - Kaji warna kulit, turgor dan
pemajanan proses perbaikan tekstur
lingkungan kulit dan mencegah - Dorong intake cairan yang
patogen terjadinya cidera sesuai
- Status imunitas berulang - Dorong untuk beristirahat
3. Menunjukkan - Berikan terapi antibiotik yang
terjadinya proses sesuai
penyembuhan luka - Ajarkan pasien dan keluarga
(pada kulit) mengenai tanda gejala infeksi
dan kapan harus
melaporkannya pada penyedia
perawatan kesehatan
- Ajarkan pasien dan anggota
keluarga mengenai bagaimana
menghindari infeksi

Infection protection
- Monitor adanya tanda dan
gejala infeksi sistemik dan
local
- Monitor kerentanan terhadap
infeksi

26
- Hindari kontak dekat dengan
hewan peliharaan dan pejamu
dengan imunitas yang
membahayakan
(immunocompromised)
- Berikan perawatan kulit yang
tepat untuk area (yang
mengalami) edema
- Tingkatkan asupan nutrisi
yang cukup
- Anjurkan asupan cairan dengan
cepat
- Anjurkan istirahat
- Pantau adanya perubahan
tingkat energy atau malaise
- Instruksikan pasien untuk
minum antibiotic yang
diresepkan
- Jangan mencoba pengobatan
antibiotic untuk infeksi-infeksi
virus

5.2.6 Implementasi Keperawatan


Implementasi merupakan tindakan keperawatan yang harus dilakukan sesuai
dengan intervensi keperawatan yang telah disusun sesuai dengan diagnosa yang
muncul.

27
5.2.7 Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan :
1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan dengan cara
mempertahankan kelembaban kulit
2. Tidak terjadi gangguan sensasi atau nyeri pada daerah kulit yang
mengalami gangguan
3. Pasien tidak mengalami atau terhindar dari tanda-tanda infeksi dan tidak
terjadi luka atau lesi kulit yang semakin meluas
4. Pasien dan keluarga mengetahui tanda gejala infeksi sera mengetahui
cara menghindari infeksi

28
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kulit kering merupakan masalah yang sering dijumpai pada usia lanjut
dan dapat menimbulkan hendaya bagi penderitanya. Penatalaksanaan kulit
kering secara holistik, baik dengan obat-obatan, maupun modifikasi gaya
hidup penting dilakukan untuk memperbaiki kulit kering pada usia lanjut.

29