Anda di halaman 1dari 2

Gangguan perdarahan yang dinamakan metroragia terjadi karena persistensi folikel yang tidak

pecah sehingga terjadi ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Akibat terjadi hyperplasia
endometrium karena stimulasiestrogen yang berlebihan dan terus menerus.

Secara garis besar kondisi ini dapat terjadipada siklus ovulasi (pengeluaran sel telur atau ovum
dari indung telur),tanpa ovulasi maupun keadaan lain,misalnya pada wanita premenopouse
(polikelpersisten). Sekitar 90% perdarahan uterus disfungsional (perdarahan rahim) terjadi
tanpa ovulasi (anovolation) dan 10% terjadi dalam siklus ovulasi

Pada siklus ovulasi

Perdarahan rahim yang bias terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan dengan
waktu menstruasi.perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormone estrogen sementara
hormone progesterone tetap terbentuk.

Pada siklus tanpa ovulasi (anovalation)

Perdarahan rahim yang sering terjadi pada masa pre-menopouse dan masa reproduksi. Hal ini
karena tidak terjadi ovulasi,sehingga kadar hormone estrogen berlebihan sedangkan hormone
progesterone rendah. Akibatnya dinding rahim (endometrium). Mengalami penebalan
berlebihan (hiperplasi) tanpa diikuti penyangga (kava pembeluh darah dan kelenjar) yang
memadai.kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan rahim karena dinding rahim
yang rapuh. Di lain pihak perdarahantidak terjadi bersamaan permukaan dinding rahim di satu
bagian baru sembuh lantas diikuti perdarahan. Di permukaan lainnya jadilah perdarahan rahim
berkepanjangan (baradero mary, SPC,MM dkk,Klien gangguan system reproduksi dan
seksualitas,2005)

D.TANDA DAN GEJALA

1.Siklus menstruasi normal adalah 24-35 hari

2.Perdarahan terjadi di antara dua kejadian menstruasi

3.Perdarahan terjadi dengan konsistensi bercak-bercak (Dutton, 2011 dan Manuaba, 2008)

a.Perdarahan ovulatori

Perdarahan ini merupakan kuang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek
(polimenore) atau panjang (oligomenore). Untuk menegakkan diagnosis perdarahan ovulatori
perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Jika karena perdarahan yang lama dan
tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi, maka kadang-kadang bentuk survey suhu badan
basal dapat menolong.
Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasa dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya
sebab organic,maka harus dipikirkan sebagai etiologinya.

b.Perdarahan anovulatoir

Stimulasi dengan estrogen menyebabkan timbulnya endometrium. Dengan menurunnya kadar


estrogen dibawah tingkat tertentu timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklik,
kadang-kadang tidak teratur sama sekali.

Fluktuasi kadar estrogen ada sangkutpaut nya dengan jumlah folikel yang pada statu waktu
fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum mengalami atresia, dan
kemuadian diganti oleh folikel-folikel baru. Endometrium dibawah pengaruh esdtrogen tumbuh
terus dan dari endometrium yang mula-mula ploriferasi dapat terjadi endometrium bersifat
hiperplasia kistik.

Jika gambaran ini diperoleh pada kerokan maka dapat disimpulkan adanya perdarahan
anovulatoir.

Perdarahan fungsional dapat terjadi pada setiap waktu akan tetapi paling sering pada masa
permulaan yaitu pubertas dan masa pramenopause.

Pada masa pubertas perdarahan tidak normal disebabkan oleh karena gangguan atau
keterlambatan proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bahwa pembuatan realizing
faktor tidak sempurna. Pada masa pramenopause proses terhentinya fungsi ovarium tidak
selalu berjalan lancar.

Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada harapan lambat laun
keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovalatoir, pada seorang dewasa terutama
dalam masa pramenopause dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk
menentukan ada tidaknya tumor ganas.

Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit metabolik,


penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun, tumor-tumor ovarium dan
sebagainya. Akan tetapi disamping itu terdapat banyak wanita dengan perdarahan
disfungsional tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut. Selain itu faktor psikologik juga
berpengaruh antara lain stress kecelakaan, kematian, pemberian obat penenang terlalu lama
dan lain-lain dapat menyebabkan perdarahan anovulatoir. (Prof dr. Hanifa wiknjosastro, DSOG.
Ilmu kebidanan:1999)