Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gangguan menstruasi menjadi masalah umum selama masa

remaja, dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari dan menyebabkan

kecemasan. Terdapat banyak gangguan yang bisa terjadi, di

antaranya adalah masalah gangguan haid yang sering dialami oleh

remaja putri pada setiap bulannya. Gangguan tersebut dapat berupa

dismenorea, oligomenorea, menoragia dan metroragia. Dismenorea

adalah yang paling sering terjadi (Verma et al., 2011).

(INI BELUM LENGKAP ^^ TAMBAHIN DESKRIPSI NYA


LAGI)
Menurut laporan WHO (2008) prevalensi oligomenore pada

wanita sekitar 45%. Bieniasz J et al. (2007) mendapatkan prevalensi

amenorea primer sebanyak 5,3%, amenorea sekunder 18,4%,

oligomenorea 50%, polimenorea 10,5%, dan gangguan campuran

sebanyak 15,8%. Kelaianan siklus menstruasi Oligomenorea di

Indonesia menyerang 16,7% remaja (Siegberg dkk,2008).

Berdasarkan data di Indonesia angka kejadian dismenorea

sebesar 64,25 % yang terdiri dari 54,89% dismenorea primer dan

9,36 % dismenorea sekunder (Info sehat, 2008). Angka kejadian

dismenorea tipe primer di Indonesia adalah sekitar 54,89%,

sedangkan sisanya adalah penderita dengan tipe sekunder.


Jawa Barat tidak ada angka pasti mengenai jumlah gangguan

menstruasi. Namun diperkirakan 30%70% perempuan mengalami

masalah haid, termasuk di antaranya nyeri perut atau kram perut dan

sekitar 10%15% di antaranya terpaksa kehilangan kesempatan kerja,

sekolah dan kehidupan keluarga (Baziad, 2008). Dampak gangguan

menstruasi pada remaja putri meliputi: rasa nyaman terganggu,

aktifitas menurun, pola tidur terganggu, selera makan terganggu,

hubungan interpersonal terganggu, kesulitan berkonsentrasi pada

pekerjaan dan belajar. Nyeri juga memengaruhi status emosional

terhadap alam perasaan, iritabilitas, depresi dan ansietas (Kozier,

2010).

. Jika terdapat gangguan pada gizi kurang atau lebih hal ini akan

menggangu fungsi reproduksi, ovulasi, perubahan kadar hormon steroid

serta gangguan pematangan folikel yang berdampak pada gangguan

haid. Dampak gangguan menstruasi yang dialami remaja jika tidak

ditangani dengan benar atau tidak segera ditangani maka akan

mengakibatkan gangguan kesuburan, tubuh kehilangan banyak darah.

Sehingga memicu terjadinya anemia, serta menggangu konsentrasi

belajar pada remaja.


1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keteraturan Siklus
menstruasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus


menstruasi antara lain :
a. Kelebihan berat badan.
b. Kekurangan nutrisi
c. Penyakit yang berhubungan dengan
d. Pengaruh rokok
e. Faktor Olahraga berat
f. Konsumsi obat tertentu seperti kontrasepsi hormonal dan
obat yang dapat meningkatkan kadar hormon

Sebelumnya penelitian serupa pernah diangkat oleh

Ermawati Sudarsono (2008), dengan judul Pengaruh Kelebihan

Berat Badan terhadap Keteraturan Siklus Menstruasi pada Remaja di

Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Jenis penelitian yang

digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan Cross

Sectional. Dari hasil analisis Chi Square didapatkan nilai p=0,003.

Karena p < 0,05 maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat

hubungan Pengaruh Kelebihan Berat Badan terhadap Keteraturan

Siklus Menstruasi pada Remaja di Kecamatan Banyudono,

Kabupaten Boyolali.

Sejauh ini pemerintah dan tenaga kesehatan sudah melakukan

upaya-upaya dalam penanggunalangan gangguan menstruasi tersebut,

salah satunya dengan melakukan edukasi kesehatan reproduksi secara


dini mengenai bagaimana cara mengenali tanda bahaya gangguan

menstruasi dan apa saja dampak dari gangguan menstruas di sekolah-

sekolah, juga program terbaru saat ini pemerintah membuat program

dengan memberikan tablet zat besi atau penambah darah saat remaja

menstruasi, tujuannya yaitu untuk menghindari adanya gangguan

menstruasi anemia akibat menstruasi. Salah satu upaya pemerintah

dalam menangani permasalahan remaja adalah dengan pembentukan

Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Program

ini dapat dilaksanakan di Puskesmas, Rumah Sakit atau sentra-sentra

dimana remaja berkumpul seperti mall (Depkes, 2008). Dalam

pelaksanaan PKPR di Puskesmas, remaja diberikan pelayanan khusus

melalui perlakuan khusus yang disesuaikan dengan keinginan, selera

dan, kebutuhan remaja. Secara khusus, tujuan dari program PKPR

adalah meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja yang

berkualitas, meningkatkan pemanfaatan

Puskesmas oleh remaja untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam

pencegahan masalah kesehatan dan meningkatkan keterlibatan remaja

dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan

remaja. Adapun yang menjadi sasaran program ini adalah laki-laki

dan perempuan usia 10-19 tahun dan belum menikah. (Doddy, dkk.,

2010)