Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHLUAN

1.1 Prinsip Percobaan


Analisa kualitatif untuk anion melalui reaksi spesifik, kation harus dalam
keadaan tunggal tidak bercampur dengan kation lain agar tidak terjadi reaksi
gangguan.

1.2 Tujuan Percobaan


Untuk melakukan reaksi spesifik terhadap anion dengan menggunakan
reagensia yang khas untuk anion bersangkutan.

1.3 Manfaat Percobaan


Mahasiswa dapat menguji sampel anorganik dengan analisa kualitatif
dengan melihat perubahan yang terjadi jika mengandung salah satu anion yang
terdapat dalam suatu sampel
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Teori Modul

Analisa kulitatif untuk anion melalui reaksi spesifik, anion harus dalam
keadaan tunggal tidak tercampur dengan anion lain, untuk menghindari reaksi
gangguan yang mungkinterjadi. Namun untuk beberapa anion dapat dikerjakan
dalam keadan tercampur paling banyak 2 atau 3 anion. Dalam pengambilan
reagen reaksi tidak boleh menggunakan pipetyang sama untuk reagen yang
berbeda, satu pipet untuk satu reagen.

2.2 Teori Tambahan

Pada umumnya, suatu proses analisis anion diawali dengan uji


pendahuluan untuk memperoleh gambaran ada atau tidaknya anion tertentu atau
kelompok anion yang memiliki sifat-sifat yang sama. Selanjutnya diikuti dengan
proses analisis yang merupakan uji spesifik dari anion tertentu. Pemisahan secara
fisik dari anion umumnya tidak penting, karena uji spesifik anion hanya peka
terhadap anion yang tertentu dan tidak peka terhadapa anion yang lainnya. Hanya
bila terjadi interferensi atau gangguan dalam suatu analisis anion oleh anion lain
maka diperlukan langkah awal proses pemisahan.
Beberapa uji pendahuluan dan uji identifikasi atau uji spesifikasi anion
dapat dilakukan dalam fase padatan, tetapi untuk memperoleh validitas pengujian
yang tinggi biasanya dilakukan dalam keadaan larutan. Kelarutan bahan-bahan
anorganik, terutama garam telah dipelajari sebelumnya dalam mata kuliah dasar
kimia dalam bentuk daftar kelarutan garam, sangat membantu untuk proses
analisis bahan anorganik. Daftar kelarutan garam sangat membantu dalam
menetapkan kombinasi antara anion dan kation.

Jika zat yang tidak diketahui tidak larut dalam air, harus dilakukan
perlakuan tertentu dengan pereaksi kimia agar menjadi larut. Beberapa anion tidak
stabil dalam larutan asam, atau bereaksi satu sama lain dalam suasana asam. Bila
terjadi keadaan tidak stabil suasan asam, maka analisis anion harus dilakukan
dalam suasana basa.
Analisis anion yang sering dilakukan meliputi 11 anion yang paling
umum, yaitu anion sulfide, sulfit, karbonat, nitrit, iodide, bromida, klorida, fosfat,
kromat, nitrat, dan sulfat. Untuk mempermudah kita dalam mengenali anion ini
perlu dilakukan pengelompokan pengelompokan (penggolongan anion). Dalam
praktikum secar umum dilakukan penggolongan anion menjadi dua golongan
yaitu anion golongan A dan anion golongan B. Penggolongan anion ini
berdasarkan reaksi dengan zat tertentu. Anion golongan A adalah jenis golongan
anion yang dapat menguap bila bereaksi dengan asam, yaitu (1) golongan anion
yang menghasilkan gas bila bereaksi dengan asam klorida encer dan asam sulfat
encer seperti : karbonat, sulfit, tiosulfat, nitrit, Hypoklorit, sianida dan sianat, dan
(2) golongan anion yang menghasilkan gas bila bereaksi dengan asam sulfat pekat
seperti semua anion A(1) dan Fluorida, Klorida, Bromida, Iodida, Nitrat, Borat,
Format, Asetat, dan Oksalat, Perklorat, Permanganat: Bromate,
Heksacyanoferrat(II) dan (III), Tiosianat, Tartrat, dan Sitrat. Anion Golongan B
adalah kelompok anion yang bereaksi di dalam larutan, yaitu (1) anion yang
menghailkan reaksi pengendapan (endapan) bila bereaksi di dalam larutannya
misalnya sulfa, Fosfat, Sussinat, Arsenat, Kromat, Silikat, Salisilat, Fosfit,
Hipofosfit, Arsenit, Dikromat, dan Benzoat dan (2) anion yang menghasilkan
reaksi oksidasi dan reaksi reduksi bila bereaksi di dalam larutan seperti Manganat,
Permanganat, Kromat, Dikromat.

Tabel 1. Pengelompokan Anion Berdasarkan Golongan Anion A dan


Golongan Anion B.
N Anion Golongan A Anion Golongan B
o
1 Karbonat, Sulfit, Sulfat, Fosfat, Sussinat,
Tiosulfat, Sulfida, Nitrit, Arsenat, Kromat, Silikat,
Hypoklorit, Sanida dan Sianat Salisilat, Fosfit, Hipofosfit,
Arsenit, Dikromat, dan
Benzoat.
2 Semua anion A(1) dan Manganat,Permanganat
Fluorida, Klorida, Bromida, , Kromat, Dikromat.
Format, Asetat, dan Oksalat,
Perklorat, Permanganat:
Bromate, Heksacyanoferrat
(II) dan (III), Tiosianate,
Tartrat, dan Sitrat

Analisis kualitatif sebagian besar didasarkan pada kesetimbangan untuk


memisahkan dan mengidentifikasikan ion yang sejenis. Kesetimbangan asam
basa, kesetimbangan heterogen, kesetimbangan redoks, dan kesetimbangan ion
kompleks merupakan jenis-jenis kesetimbangan yang sering digunakan dalam
analisis kualitatif anion.
1. Sifat-sifat asam-basa
Suatu garam-garam yang mengalami kelarutan dalam air yang
mengandung kation basa kuat bila berkombinasi (bergabung) dengan anion dari
asam lemah menghasilkan larutan yang bersifat basa
2. Sifat redoks
Kelompok anion, sebagian bersifat sebagai oksidator, sebagian reduktot,
sebagian lain sifat oksidator , reduktornya tergantung dalam suasana larutannya.
NO3- dan CrO42- merupakan oksidator kuat dalam suasana larutan asam. Anion I-,
S2- dan SO32- merupakan reduktor dalam suasana asam.
3. Kesetimbangan larutan
Reaksi pengendapan mengandung nilai yang sangat berarti bagi
analisis anion. Beberapa reaksi anion dengan ion barium, Ba2+ yang
digunakan sebagai uji spesifik dari anion tertentu didasarkan pada nilai
kelarutannya. Berdasarkan nilai Ksp berbagai garam, hanya barium
sulfat yang dapat diendapkan dari larutan yang dibuat asam dengan
asam kuat encer. Pengendapan senyawa ionic dari larutan mulai terjadi
bila hasil kali ion-ionnya yang dihasilkan lebih besar dari nilai Ksp.
Dalam keberadaan hanya sedikit asam konjugasi, konsaentrasi anion
tidak cukup besar untuk terjadinya endapan.
Uji pendahuluan anion dimaksudkan untuk memisahkan anion
pengoksidasi dan anion pereduksi ke dalam empat golongan atau
kelompok yang didasarkan pada reaksinya terhadap larutan asam
perklorat, HClO4 encer dan ion perak, Ag+. Uji pendahuluan ini dapat
dideteksi dari terjadinya perubahan warna, timbulnya gas dan
terbentuknya endapan.
1. Deteksi adanya ion pengoksidasi
Terjadinya warna merah coklat sampai hitam bila beberapa tetes
larutan sampel atau analit ditambahkan ke dalam larutan Mangan (II) klorida,
MnCl2 dalam larutan HCl pekat, menunjukkan adanya anion pengoksidasi.
2. Deteksi adanya ion pereduksi
Timbulnya suspense atau endapan biru gelap bila larutan sampel
ditambahkan ke dalam larutan yang mengandung FeCl3, K3[Fe(CN)6] dan HCl
encer menunjukkan adanya anion-anion pereduksi, seperti S2-, SO32-, I-, , atau
NO2-. Endapan biru timbul, karena terbentuknya KFe[Fe(CN)6] merupakan
senyawa kompleks yang di dalamnya terdapat besi (II) dan besi (III).
3. Deteksi dari kelompok anion
Karakteristik asam basa dan reaksi kesetimbangan dalam larutan dari
anion yang mengikuti klasifikasi dalam empat kelompok didasarkan pada
sifat-sifatnya terhadap asam perklorat dan ion perak. Klasifikasi anion ke
dalam 4 golongan dirancang hanya untuk memberikan informasi awal tentang
ada tidaknya ion-ion itu sendiri. Klasifikasi ini tidak di rancang untuk proses
pemisahan.Pengelompokkan anion ke dalam 4 kelompok ini penting, sehingga
ion-ion dalam suatu kelompok tidak terinterferensi oleh anion dari kelompok
lain. Misalnya, ion karbonat akan mengendap dalam golongan III sebagai
garam perak karbonat, jika pada langkah pertama dilakukan penambahan
perak nitrat untuk menetralkan larutan sampel.
4. Sifat-sifat anion terhadap asam sulfat pekat
Penggunaan larutan asam sulfat pekat (18M) dalam analisis
anion tergantung pada kemampuan anion sebagai bahan pengoksidasi dan
sifat keasamannya.
Jika sampel yang di uji adalah campuran dari garam dari garam, hasil dari uji,
hasil dari uji tidak selalu mudah untuk diinterpretasi, karena gas yang
terbentuk untuk mungkin terperangkap. Demikian pula dengan garam yang
sulit larut (seperti perak halide) dan garam yang mengandung karakter kovalen
(misal CdI2 dan HgCl2) yang hanya bereaksi lambat dengan asam.
Analisa anion adalah analisa yang bertujuan untuk menganalisa adanya ion
dalam sampel. Sedangkan analisa kualitatif dilakukan untuk mengetahui jenis
unsur atau ion yang terdapat dalam suatu sampel. Jadi, analisa anion secara
kualitatif merupakan analisa yang dilakukan untuk mengetahui adanya anion
serta jenis anion apa saja yang terdapat dalam suatu sampel. Cara identifikasi
anion tidak begitu sistematik seperti pada identifikasi kation. Salah satu cara
penggolongan anion adalah pemisahan anion berdasarkan kelarutan garam-
garam perak, garam-garam kalsium, barium dan seng. Selain itu ada cara
penggolongan anion menurut Bunsen, Gilreath dan Vogel.
Bunsen menggolongkan anion dari sifat kelarutan garam perak dan garam
bariumnya, warna, kalarutan garam alkali dan kemudahan menguapnya.
Gilreath menggolongkan anion berdasarkan pada kelarutan garam-garam Ca,
Ba, Cd dan garam peraknya. Sedangkan Vogel menggolongkan anion
berdasarkan pada proses yang digunakan dalam identifikasi anion yang
menguap bila diolah dengan asam dan identifikasi anion berdasarkan
reaksinya dalam larutan. Identifikasi anion yang menguap bila diolah dengan
asam dibagi dua lagi yaitu anion membentuk gas bila diolah dengan HCl encer
atau H2SO4 encer, dan anion yang membentuk gas atau uap bila diolah dengan
H2SO4 pekat. Demikian pula identifikasi anion berdasarkan reaksi dalam
larutan dibagi dua yaitu anion yang diidentifikasi dengan reaksi pengendapan
dan dengan reaksi redoks.
Identifikasi anion meliputi analisis pendahuluan, analisis anion dari zat
asal dan analisis anion dengan menggunakan larutan ekstra soda. Dari hasil
analisis sebelumnya (data kelarutan) dan pengetahuan tentang kation yang
ada, dapat memberikan petunjuk tentang anion yang mungkin ada atau tak ada
dalam larutan sampel. Sebagai contoh, zat asal larut dalam air panas, kation
yang ditemukan Pb2+, anion yang mungkin ada adalah klorida karena PbCl2
larut dalam air panas. Tidak mungkin nitrat karena timbal nitrat mudah larut
dalam air dingin.
Analisis kualitatif sebagian besar didasarkan pada kesetimbangan untuk
memisahkan dan mengidentifikasikan ion yang sejenis. Kesetimbangan asam
basa, kesetimbangan heterogen, kesetimbangan redoks, dan kesetimbangan
ion kompelks merupakan jenis-jenis kesetimbangan yang sering digunakan
dalam analisis kualitatif anion.
5. Sifat redoks
Kelompok anion, sebagian bersifat sebagai oksidator, sebagian
reduktot, sebagian lain sifat oksidator , reduktornya tergantung dalam suasana
larutannya. NO3- dan CrO42- merupakan oksidator kuat dalam suasana larutan
asam. Anion I-, S2- dan SO32- merupakan reduktor dalam suasana asam.
6. Kesetimbangan larutan
Reaksi pengendapan mengandung nilai yang sangat berarti bagi
analisis anion. Beberapa reaksi anion dengan ion barium, Ba2+ yang
digunakan sebagai uji spesifik dari anion tertentu didasarkan pada nilai
kelarutannya.
Berdasarkan nilai Ksp berbagai garam, hanya barium sulfat yang dapat
diendapkan dari larutan yang dibuat asam dengan asam kuat encer.
Pengendapan senyawa ionic dari larutan mulai terjadi bila hasil kali ion-
ionnya yang dihasilkan lebih besar dari nilai Ksp. Dalam keberadaan hanya
sedikit asam konjugasi, konsaentrasi anion tidak cukup besar untuk terjadinya
endapan.
Untuk anion dikelompokkan kedalam beberapa kelas diantaranya :
Anion sederhana seperti : O2-, F-, CN- , I, Cl, Br,
Anion okso diskret seperti : NO3-, SO42-, CO3, NO2,
Anion polimer okso seperti silikat, borat, atau fosfat
terkondensasi
Anion kompleks halida seperti TaF6 dan kompleks anion yang
berbasis bangat seperti oksalat .
Reaksi dalam anion ini akan lebih dipelajari secara sistematis untuk
memudahkan reaksi dari asam-asam organik tertentu dikelompokkan
bersama-sama. Hal ini meliputi asetat, formiat, oksalat, sitrat, salisilat
dan benzoat.
Identifikasi ion bromine - Br-
Ion Br- dengan gas Cl2 menjadikan larutan bewarna kuning. Jika
larutan dikocok dengan karbon disulfide, Br2 yang terjadi akan larut
dalam karbon disulfide dan warna larutan akan berubah menjadi
cokelat.
Reaksinya identifikasinya adalah sebagai berikut:
Cl2(g) + 2Br-(aq) 2Cl-(aq)[kuning] + Br2(g)
Br2 larut dalam CS2 warna cokelat
Identifikasi ion chlorine - Cl-
Ion Cl- dengan larutan perak nitrat terjadi endapan putih, yang larut
dalam larutan amoniak.
Reaksi identifikasinya adalah sebagai berikut:
Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s)[putih]
AgCl(s) + 2NH3(aq) Ag(NH3)2 + Cl-(aq)
Identifikasi ion karbonat - CO32-
Ion CO32- dengan larutan asam klorida menghasilkan gas karbon
dioksida. Jika gas ini dialirkan ke dalam air kapur Ca(OH)2, dapat
mengeruhkan air kapur.
Reaksi identifikasinya adalah sebagai berikut:
2H+(aq) + CO32-(g) H2O(l) + CO2(g)
CO2(g) + Ca2+(aq) + 2OH-(aq) CaCO3(s)[putih] + H2O(l)
Identifikasi ion yodida - I-
Untuk mengidentifikasi adanya ion yodida, mak kita harus mengetahui
ciri dari ion todida tersebut. Ion I- dengan gas Cl2 menjadikan larutan
bewarna kuning. Jika dikocok dengan karbon disulfide, I2 yang terjadi
larut dalam karbon disulfide dan warna larutan akan berubah menjadi
ungu.
Reaksi identifikasinya adalah sebagai berikut:
Cl2(g) + 2I-(aq) 2Cl-(aq)[kuning] + I2(s)
I2 larut dalam CS2 warna ungu
Identifikasi ion nitrat - NO3-
Ion NO3- dengan asam sulfat pekat dan larutan besi(II) sulfat pekat
akan menghasilkan suatu cincin cokelat.
Reaksi identifikasinya adalah sebagai berikut:
NO3-(aq) + 4H+(aq) + 3e- NO(g) + 2H2O(l)
3Fe2+(aq) 3Fe3+(aq) + e-
----------------------------------------------------------------------------
NO3-(aq) + 4H+(aq) + 3Fe2+(aq) NO(g) + 2H2O(l) + 3Fe3+(aq)
NO(g) + Fe2+(aq) FeNO2+(aq)[cokelat]

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat
1. Tabung Reaksi 8. Pembakar spirtus
2. Rak Tabung 9. Spatula
3. Batang Pengaduk 10. Kertas saring
4. Plat Tetes 11. Kaca Arloji
5. Pipet tetes 12. Botol Semprot
6. Gelas Kimia 100 ml 13. Penjepit Tabung
7. Gelas Kimia 250 ml 14. Penangas air

3.2 Bahan
1. Aquadest 26. H2SO4 2M
2. KMnO4 1M 27. KHSO4
3. (NH4)2CO3 28. H2SO4 pekat
4. KBr 1M 29. SiO2
5. KMnO40,1M 30. HNO3 6M
6. HNO3 2M 31. HNO31M
7. H2SO40,5M 32. FeCl3 0,1M
8. H2SO43M 33. CaCl2 1M
9. H2O210% 34. FeSO4 pekat
10. Pereaksi Molibdat
11. Larutan Kanji
12. KIO3
13. Na-nitroprusid
14. Ba(NO3)2
15. Ba(OH)2
16. HCl2M
17. Kertas Curcumin
18. NaOH 1%
19. K2CrO4
20. AgNO3 1M
21. PbOAc
22. H2SO4 1M
23. Pereaksi Thioureum 10%
24. CHCl3
25. As2O3 padat
3.3 Cara Kerja
1. Sampel yang diberikan asisten yang mengandung anion yang dianalisa.
2. Diuji anion dengan reaksi spesifik terhadap Cl- , Br-, F-, I- , NO2-, NO3-,
PO43-, BO3-, C2O42-, SCN-, OAc-, CO32-, S2-, SO42-, SO32-, S2O32-.
3. Dicatat apa yang terjadi pada reaksi dari masing masing anion dengan
reagen spesifik yang sesuai, lengkapi dengan reaksinya.
Anion Pengujian
Cl- Setetes sampel ditambahkan 2 tetes AgNO3 1 M, ditambahkan
setetes HNO3 2M, terjadi endapan putih AgCl. Endapan
dicuci dengan H2O. Endapan putihlarut dengan (NH4)2CO3
2M
a. Diambil setetes larutan diatas ditambah setes KBr 1 M,
terjadi endapankuning AgBr
b. b.Diambil setetes larutan ditambah setetes HNO3 2 M,
terjadi endapan putihAgCl
1. Setetes larutan ditambah setetes larutan AgNO3 1 M,
ditambahkan setetesHNO3, terjadi endapan,dan tidak larut
dalam (NH4)2CO3 2 M, endapanputih kuning
Br- 2. 3 tetes larutan ditambah 5 tetes CHCl3ditambahkan 3 tetes
KMnO4 1 Mdan 3 tetes H2SO4 3 M. Dikocok dan kelebihan
KMnO4 dihilangkandengan H2O2 10% beberapa tetes,
timbul warna coklat / kuning dariCHCl3 di bawah
a. Setetes larutan ditambahkan setetes Alizarin-S dan Ze
nitrat. Warna ungukuning muncul
b. Dimasukkan sedikit SiO2 padat ke dalam tabung reaksi
F-
yang telah berisilarutan, ditambahkan 2 tetes H2SO4 pekat,
terjadi gelembung perlahanperlahan. Diuji dengan setetes
air di ujung batang pengaduk kaca akanmenjadi keruh
I- 1. Setetes larutan tambahkan setetes AgNO3 1 M,
ditambahkan setetes HNO31 M terjadi endapan kuning
2. Setetes larutan ditambahkan setetes FeCl3, diteteskan ke
atas kertas kanjiterjadi warna biru

1 atau 2 tetes larutan ditambah setetes air H2SO4 1 M,


ditambahkan 2 tetes thioreum 10%. Dibiarkan 5 menit
NO2-
kemudian ditambahkan setetes HCl 2 M dansetetes FeCl3
0.1 M, timbul warna merah
3 tetes larutan diasamkan dengan H2SO4 1 M dicampur dengan
3 teteesFeSO4 pekat (yang baru dibuat). Kedalam tabung
reaksi lain dimasukkan 5tetes H2SO4 pekat, dan larutan di
NO3-
atas, diteteskan dengan hati-hati larutan H2SO4 pekat tadi,
hingga tidak bercampur cincin coklat pada bidangbatas,
menandakan adanya NO3-
3 tetes larutan ditambahkan 2 tetes HNO3 6 M dan 3 tetes
pereaksiammonium molibdat, dipanaskan terjadi endapan
PO43- kuningBO3-. Setetes larutan ditambahkan pada kertas
curcumine, dikeringkan pada 100oCdan ditambahkan
NaOH 1% terjadi noda hijau hitam
Setetes sampel ditambahkan pada kertas curcumin, dikeringkan
BO33- pada 100oC. Ditambahkan larutan NaOH 1% terjadi noda
hijau-hitam.
4 tetes larutan ditambahkan CaCl2 1 M hingga tidak terbentuk
endapan lagi.Dicentrifuge dan endapan di cuci dengan
aquadest, endapan di bagi dua:
a. Sedikit endapan ditambah 1 tetes H2SO4 0,5 M dan 1 tetes
C2O42-
KMnO4 0,1 M dipanaskan terjadi warna ungu hilang
endapan larut
b. Sedikit endapan dilarutkan dalam 2 tetes H2SO4 2 M
ditambah sedikitserbuk Mg dan 1 ml pereaksi 2,7
dihidroxynaphtalein, dipanaskan 10menit dalam penangas
air, terjadi warna merah.
Setetes larutan ditambah 1 tetes larutan FeCl3 terjadi warna
SCN-
merah darah
1. Sedikit zat ditambahkan KHSO4 padat digerus dalam
lupang porselin, bau yang timbul diamati
OAc-
2. Sedikit zat ditambahkan As2O3 padat dan dipijarkan dalam
tabung pijar, bau yang timbul diamati
Sedikit zat dicampur dengan sedikit K2CrO4 dan dimasukkan
ke dalam tabungreaksi mikro, ditambahkan setetes H2SO4 2
CO32- M di panaskan. Pada muluttabung reaksi diletakkan pipa
atau batang kaca yang dicelupkan dalamBa(OH)2
kekeruhan menandakan karbonat
1. Setetes larutan yang diasamkan ditambahkan pada kertas
PbOAc timbulwarna hitam
S2-
1. Setetes larutan ditambahkan setetes larutan basa dan reagen
nitroprusid,timbul warna merah violet
2 tetes larutan ditambahkan 2 tetes Ba(NO3)2 atau Ba(OH)2
SO42- terjadi endapanputih dan coba apakah larut dengan HCl
pekat/ encer
Setetes larutan ditambahkan setetes larutan Ba(NO3)2 atau
SO32- Ba(OH)2 dan ditambahkan setetes air brom terjadi endapan
putih
6 tetes larutan ditambahkan 3 tetes HCl 2 M, larutan dibagi 2,
dilakukan testsebagai berikut:
a. Dibubuhi 2 tetes larutan KIO3 dan setetes kanji, timbul
S2O32-
warna biru
b. Dibubuhi 1 tetes Ba(NO3)2, ditambahkan 1 tetes air brom
terjadi endapanputih
BAB IV
HASIL PERCOBAAN

Sampel Anorganik
Larutan berwarna kuning dimana pelarut yang digunakan adalah pelarut aquaregia

Pengujian Prosedur Hasil foto

menghasilkan
Ditambahkan
Cl- endapan
HNO3 2M
berwarna putih

Ditambah
AgNO3 1M Endapan putih
Ditambahkan kuning
Br- HNO3 2M

Ditambah Endapan putih


(NH4)2CO3 2M kuning

Pengujian pada sampel organik logam

Sampel organik logam merupakan larutan yang diuji ketika terbentuk dua fasa,
pada saat dilarutkan dengan larutan karbon tetra klorida (CCl4). Larutan ini
terletak pada fasa bawah, dimana fasa atasnya merupakan larutan organik yang
sudah terpisahkan dengan logamnya.
BAB V

PEMBAHASAN

Sampel Anorganik (AS 26) diuji kandungan anionnya.

Pada test Cl-, anion Cl- bereaksi dengan AgNO3 membentuk endapan
AgCl (perak klorida) yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam larutan amonia
encer. Reaksi yang terjadi adalah :
Cl- + Ag+ AgCl (endapan putih)
2 AgCl + (NH4)2CO3 2 NH4Cl + Ag2CO3

Pada test Br-, anion Br- bereaksi dengan AgNO3 membentuk endapan
AgBr yang tidak larut dalam air, dan tidak larut dalam larutan amonia encer.
Reaksi yang terjadi adalah :
Br- + Ag+ Ag Br (endapan putih kuning).
2 AgBr + (NH4)2CO3 2 NH4Br + Ag2CO3

Pada sampel organik logam logam (AS 16) tidak ditemukan anion apapun
BAB VI
KESIMPULAN

Pada sampel Anorganik (AS 26), larutan positif mengandung anion Cl-
dan Br- . sedangjan sampel organik. Pada sampel organik logam logam (AS 16)
tidak ditemukan anion apapu
BAB VII

PERTANYAAN dan JAWABAN

1) Reagen spesifik anion adalah reagen yang digunakan untuk mendeteksi jenis
anion tertentu yang ada dalam sebuah sampel.
2) Anion atom yaitu S2-, I-, F-, Cl-, dan Br-.
Anion molekul yaitu CO32-, SO42-, S2O32-, SCN-, dan NO3-.
3) Sifat-sifat anion
a. Menguap bila direaksikan dengan HCl dan H2SO4 encer
b. Mengalami reaksi redoks dan pengendapan
c. Sebagian besar anion O2- dan anion silikat dalam keadaan padat
d. Anion lainnya seperti Cl- berberntuk larutan
e. Beberapa unsure yang membentuk anion, terutama halogen, O, dan S
dapat terikat unsure lain secara kovalen seperti pada PCl3, CS2, atau
NO2
f. Anion oksida tidak larut dalam air dan larut dalam asam
g. Anion OH- memiliki kemampuan membetuk jembatan antaraion-ion
logam
h. Anion okso dapat juga bertindak selaku ligan dalam senyawaan
kompleks
i. Anion okso berinti banyak mempunyai 2, 3, atau 4 atom oksigen yang
terikat pada atom iti menghasilkan anion diskret.
j. Garam-garam Ag+ dan halide mempunyai sifat tidak larut dalam air
4) Golongan yang dapat membentuk anion:
a. Golongan IV A (C dan Si)
b. Golongan V A (N dan P)
c. Golongan VI A (O dan S)
d. Golongan VII A (F, Cl, Br, I)
5) Anion bermuatan negative, karena dia tertarik menuju anode dan menerima
electron bebas
6) Tulis semua reaksi dalam prosedur reagen spesifik diatas!
7) Cl- + Ag+ AgCl (endapan putih)
Br- + Ag+ AgBr (endapan kuning)
4F- + SiO2 + 2H2SO4 SiF4 + 2H2O + 2SO4-
I- + Ag+ AgI (endapan kuning)
2NO3- + 4H2SO4 + 6Fe 6Fe3+ + 2NO + 4SO42- +4H2O
Fe2+ + NO [Fe(NO)]2+ (cincin coklat)
PO42- + 12(NH4)2MoO + 24 H+ (NH4)4 PO12 MoO3 + 21 NH4+ (endapan

kuning)

C2O42- + Ca2+ CaC2O4


5CaC2O4 + 2MnO4- (ungu) + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ (tb) + 8H2O +
5Ca2+
SCN- + Fe3+ Fe(SCN)3 (merah darah)
OAc- + H+ HOAc (bau asetat)
CO3 2- + H+ CO2 + H2O
CO2 + Ba(OH)2 BaCO3 (keruh dalam air) + H2O
S2- + Pb2+ PbS (endapan kuning)
SO4 2- + Ba2+ BaSO4 (endapan Putih)
SO32- + Ba2+ BaSO3 (endapan putih)
2S2O32- + 18H+ + 6IO3- + amylum I2 amylum (biru) + 9H2O + S4O62-
DAFTAR PUSTAKA

1. Muchtar, Rusvirman, Drs, MSc., PetunjukPraktikum Kimia Analitik I,


Cimahi: 2015.
2. https://www.scribd.com/doc/195182329/Laporan-kimia-analitik-I-Modul-
III-Anion
3. G. Svehla, Vogel Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro, PT.
Kalman Media Pusaka, Jakarta.