Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Gigi dan rongga mulut dapat menjadi fokus infeksi apalagi bila terdapat
ketidakseimbangan antara faktor host, agen, dan lingkungan yang kemudian
mempengaruhi kondisi sistemik seseorang. Salah satu faktor yang menyebabkan
hal tersebut adalah penjalaran atau penyebarannya ke organ lain.
Hal ini menjadi sangat penting untuk dipelajari karena seorang dokter
diharuskan menatalaksana pasien secara holistik, di mana di dalamnya termasuk
eradikasi sumber infeksi, menghentikan penyebaran infeksi, dan mengatasi infeksi
yang telah timbul. Jika tidak, infeksi bisa meluas hingga menyerang organ tubuh
lain. Salah satunya bisa menyerang sinus. Akibatnya, pasien menderita sinusitis
maksilaris, yakni radang pada rongga sinus yang letaknya di pipi. Sinusitis bisa
disebabkan komplikasi kelainan di dalam rongga hidung (rinogen). Penyebab lain
adalah komplikasi kelainan gigi (dentogen).

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 1


BAB II
LAPORAN KASUS
2.1. Identitas Kasus
Nama : Ny. D. M.
Umur pasien : 44 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat/Tanggal lahir : 1 Januari 1972
Alamat : Oepoi
Pekerjaan : Tukang Ojek
Pendidikan Terakhir : SMA
Agama : Kristen Protestan
Suku/Bangsa : Timor/Indonesia
Nomor MR : 43.86.13
Tanggal pemeriksaan/Status : Senin, 25 April 2016/Rawat Jalan

2.2. Anamnesis
a. Keluhan utama :
Hidung tersumbat dan masih keluar darah dari lubang hidung sebelah kiri.
b. Riwayat penyakit sekarang:
Pasien kontrol Poli THT-KL, saat ini datang dengan keluhan hidung
tersumbat sejak 3 minggu yang lalu dan memberat 1 minggu terakhir.
Keluhan ini juga disertai pilek dengan ingus agak kental yang sering turun
ke tenggorokkan dan terkadang mengakibatkan pasien susah bernafas.
Batuk (+) kadang-kadang, sakit kepala, pusing, lemas dan mual serta
penciuman terganggu. Menurut pasien, dirinya sering batuk pilek karena
pekerjaannya sebagai tukang ojek sehingga dirinya sering terpapar debu
dan asap saat di jalan. Pasien juga perokok aktif.
Pasien juga mengeluhkan darah yang masih keluar dari lubang hidung
sebelah kiri. keluarnya darah dari lubang hidung sebelah kiri yang hilang
timbul sejak 3 minggu yang lalu. Darah yang keluar berupa darah segar

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 2


dan berwarna merah. Biasanya perdarahan tersebut berlangsung 30 detik
sampai 1 menit.
Awalnya pasien mengalami kecelakaan (jatuh dari motor) pada
tanggal 3 Maret 2016. Pasien sempat dirawat di IGD RSUD Prof. Dr.
W.Z. Johannes selama 1 malam karena keluar darah dari lubang hidung
sebelah kiri sebanyak gelas aqua. Setelah dirawat dan dipulangkan di
rumah, pasien merasa hidung sebelah kiri tersumbat dan sulit bernafas
sehingga pasien mencoba mengeluarkan ingus dari hidung dengan
menghembuskan nafas dengan paksa, akan tetapi keluar darah dari
hidungnya. Begitupun saat pasien mencoba mengeluarkan ingus dengan
batuk-batuk, maka akan keluar darah. Akhirnya pasien mencoba untuk
menarik ingus ke dalam dari hidung atau menelan ingus, tetapi keluhan
tidak berkurang.
Pasien sudah pernah memeriksakan diri sebelumnya di poli THT-KL
tanggal 13 April 2016 dan di diagnosis dengan Epistaksis serta sudah
diberikan obat, yaitu ciprofloxacin 3x500mg, natrium diklofenak 3x50 mg
dan salep hidrokortison 2,5 %. Pasien juga sudah disarankan untuk
dilakukan CT-Scan dan saat ini membawa hasil CT-Scan.
Nyeri pada daerah pipi, dahi, mata (-), tapi setelah kecelakaan pipi
pasien sempat bengkak dan merah. Demam (-), hidung berbau (-), keluhan
pada telinga (-), keluhan pada leher dan tenggorok (-)
Pasien juga mengatakan sebelum jatuh dari motor, pasien sering sakit
gigi karena giginya berlubang tetapi tidak pernah diobati.
c. Riwayat penyakit dahulu:
Menurut pasien, pasien tidak pernah mengeluhkan keluhan yang sama.
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi atau kelainan pembuluh
darah (-).
d. Riwayat pengobatan:
Pasien sedang mengkonsumsi obat dari dokter poli THT-KL sejak tanggal
13 april 2016, yaitu ciprofloxacin 3x500mg, natrium diklofenak 3x50 mg
dan salep hidrokortison 2,5 %.

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 3


e. Riwayat alergi:
Pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan, obat-obatan, tidak pernah
mengalami bersin-bersin saat terkena debu, perubahan suhu yang ekstrim,
bau-bauan tertentu dan sebagainya.
f. Riwayat trauma:
Pasien pernah mengalami trauma (jatuh dari motor) 3 minggu yang lalu
dengan benturan di daerah wajah.
2.3. Pemeriksaan Fisis
a. Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6)
Tanda vital : Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 86x/menit
Respirasi : 22x/menit
Suhu : 37,2 0C
b. Status Lokalis
Kepala dan Leher
Kepala : normocephal
Wajah : simetris
Leher : KGB tidak tampak dan tidak teraba membesar

c. Pemeriksaan Rutin Telinga

Pemeriksaan Telinga kanan Telinga kiri


telinga
Edema (-) Edema (-)
Hiperemi (-) Hiperemi (-)
Auriculum Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Nyeri tarik (-) Nyeri tarik (-)
Nyeri tekan tragus (-) Nyeri tekan tragus (-)
Meatus Edema (-) Edema (-)

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 4


Akustikus Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Eksternus Sekret (+) sedikit Sekret (+) sedikit
Serumen (-) Serumen (-)
Furunkel (-) Furunkel (-)
Otorrhea (-) Otorrhea (-)
Mukosa eritema (-) Mukosa eritema (-)

Retraksi (-) Retraksi (-)


Bulging (-) Bulging (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-) Edema (-)
Perforasi (-) Perforasi (-)
Refleks cahaya (+) Refleks cahaya (+)
Gambaran pulsasi (-) Gambaran pulsasi (-)
Membran
timpani

Normal
Normal

Edema Edema
Retro aurikuler Hiperemis Hiperemis
Nyeri tekan Nyeri tekan

Tes bisik Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 5


Tes garpu tala Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Audiometri Tidak dilakukan Tidak dilakukan

d. Pemeriksaan Rutin Hidung

Edema & hiperemis

Keadaan Hidung kanan Hidung kiri


Hidung luar Kelainan bentuk (-) Kelainan bentuk (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (+)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Vestibulum nasi Normal Normal
Ulkus (-) Ulkus (-)
Cavum nasi Bentuk normal Bentuk normal
Mukosa warna merah Mukosa hiperemis
(agak hiperemis) Rhinorrhea (+)
Rhinorrhea (-)
Meatus nasi Mukosa normal Mukosa edema &
media Sekret (-) hiperemis
Sekret (+), purulen
Konka nasi Edema (-) Edema (+)
inferior Hiperemis (-) Hiperemis (+)
Septum nasi Deviasi (-) Deviasi (-)
Perdarahan (-) Perdarahan (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Mukosa warna merah Mukosa warna merah
muda muda

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 6


e. Pemeriksaan Proyeksi Nyeri Sinus Paranasal
Lokasi Dextra Sinistra
Infraorbita Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (-)
Glabela Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (-)
Supraorbita Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (-)

f. Pemeriksaan Rutin Mulut dan Tenggorok

Uvula

Tonsila palatina

Orofaring Mukosa bukal normal


Ginggiva normal
terdapat karies di gigi M2 superior sinistra (+)
Lidah normal
Arkus faring normal
Palatum durum normal, merah muda
Palatum mole normal, merah muda
Uvula Bentuk normal
hiperemis (-)
edema (-)
pseudomembran (-)
Tonsil T1/T1
tidak hiperemis
Dinding posterior orofaring Post nasal drip (+)

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 7


sekret mukopurulen (+)
granulasi (-)
hiperemis (+)
disekitar sekret mukopurulen
Faring Mukosa hiperemis (-)
refleks muntah (+)
pseudomembran (-)
sekret (-)

2.4. Pemeriksaan Penunjang


a. CT-Scan kepala dan leher dengan kontras
Kesan :
Sinusitis maxillaris kiri
Nasal, nasofaring, orofaring dan laring tampak baik/ tidak
tampak massa atau penebalan mukosa
2.5. Diagnosis
Sinusitis Maxillaris Akut Sinistra (J 01.0 Acute Maxillary Sinusitis)
2.6. Penatalaksanaan
a. Nasal Toilet
b. Medikamentosa
- Ciprofloxacin 3x500 mg
- Piroxicam 3x10 mg
- CTM 2x1 tablet
- Prednison 2x1 tablet
c. Edukasi
- Pasien diedukasi untuk membuang ingus lewat hidung jangan
ditarik ke belakang atau menelan ingus.
- Pasien diedukasi untuk menggunakan masker agar tidak terpapar
asap atau debu saat bekerja (pekerjaan tukang ojek)

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 8


- Pasien juga diedukasi agar berhenti merokok dan berikan
penjelasan tentang bahaya merokok terhadap kesehatan khususnya
bidang THT-KL.
- Pasien diajarkan cara untuk mencuci hidung setiap kali mandi
dengan cara, hidung dibasahi dengan air kemudian dibersihkan
dengan sabun di daerah lubang hidung setelah itu dibasuh dengan
air dan hembuskan nafas keluar jika air atau sabun masuk ke
dalam.
- Datang kontrol kembali 1 minggu kemudian untuk melihat
perkembangan keluhannya
2.7. Prognosis
Dubia et bonam
2.8. Saran
a. Pasien disarankan untuk kontrol ke poli gigi untuk merawat gigi yang
berlubang (karies)
2.9. Perkembangan Pasien
Pasien datang kontrol lagi tanggal 4 Mei 2016, mimisan sudah mulai
berkurang, terakhir kali mimisan tanggal 3 Mei 2016. Hidung masih
tersumbat, sakit kepala berkurang. Pada pemeriksaan fisik tampak mukosa
hidung sebelah kiri masih edema dan hiperemis dan hidung sebelah kanan
juga hiperemis. Pasien diberikan obat salep hidrokortison 2,5%,
Ciprofloxacin 3x500 mg, Na. Diklofenak 3x50 mg, Cetirizine 2x1 tablet
dan Prednison 2x1 tablet. Pasien diedukasi dan diminta kontrol 1 minggu
lagi.

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 9


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya
disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab
utamanya ialah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang
selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri (FK UI, 2007).
Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai
semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering terkena dalah sinus
etmoidalis dan maksila, sedangkan sinus frontal lebih jarang dan sinus sphenoid
lebih jarang lagi (FK UI, 2007).
Sinus maksila disebut juga antrum highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas,
maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut sinus dentogen. Sinusitis
dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronik. Sinusitis dapat
menjadi berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial,
serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati (Hilger,
dkk,1997).

Gambar 1. Anatomi Paranasal

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 10


3.2 Etiologi
Beberapa faktor etiologi dan faktor predisposisi antara lain ISPA akibat virus,
bermacam rhinitis terutama rhinitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita hamil,
polip hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka,
sumbatan kompleks osteomeatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi yaitu
dikarenakan bakteri anaerob yang ditemukan sebagai penyebab sinusitis
maksilaris, terkait dengan infeksi pada gigi premolar, kelainan imunologi,
diskinesia silia seperti pada sindrom kartagener dan diluar negri adalah penyakit
fibrosis kistik.
3.3 Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh potensi ostium-ostium sinus dan lancarnya
klirens mukosiliar didalam KOM. Mucus juga mengandung substansi
antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh
terhadap kuman yang masuk bersama udara pernapasan. Organ-organ yang
membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang
menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous.
Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non bacterial dan biasanya
sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Sampai Bila kondisi ini menetap,
secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagi
rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotic. Jika terapi tidak
berhasil, inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang.
Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar.
Sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid
atau pembentukan polip dan kista.
Etiologi sinusitis adalah sangat kompleks. Hanya 25% disebabkan oleh infeksi,
selebihnya 75% disebabkan oleh alergi dan ketidakseimbangan pada sistim saraf
otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan pada mukosa sinus.
Sinusitis bisa disebabkan oleh:

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 11


1. Alergi misalnya rinitis alergi.
2. Non alergi: trauma, paparan zat kimia, imunodefisiensi, fibrosis
kistik, sindrom kartagener, granulomatosa, infeksi virus maupun
bakteri (Dharmabakti, 2003).

Alergen

Interaksi makrofag dan limfosit T

Peleapsan mediator inflamasi

Reaksi cepat Reaksi lambat

Odem
Vasodilatasi Pe permeabilitas kapiler

Sumbatan pada hidung

Rinore

Odem

Kontraksi otot polos Sesak nafas


bronkus

Gangguan ventilasi

pH sinus

Gerakan silia dalam sinus

Mukus tidak dapat dialirkan

Retensi mukus hipoksia

Eksudat purulen Infeksi Tumbuhnya kuman patogen

Tekanan pada sinus Pilek bau Kuman menyebar

Nyeri

Gambar 2. Patofisiologi Sinusitis (Ballenger, 1985).


3.4 Klasifikasi
Berdasarkan konsensus tahun 2004, sinusitis dibagi menjadi tiga berdasarkan
waktunya, yaitu:

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 12


1. Rinosinusitis akut: gejala terjadi selama 4 minggu atau kurang dari 4
minggu
2. Rinosinusitis subakut: gejala terjadi lebih dari 4 minggu dan kurang dari
12 minggu
3. Rinosinusitis kronik: gejala lebih dari 12 minggu
Berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi menjadi
1. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), segala
sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat
menyebabkan sinusitis. Contohnya Rinitis Akut (influenza) dan
Polip, septum deviasi.
2. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering
menyebabkan sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan
molar). Bakteri penyebabnya adalah Streptococcus pneumoniae,
Hamophilus influenza, Steptococcus viridans, Staphylococcus
aureus, Branchamella catarhatis.
3.5 Manifestasi Klinis
Keluhan utama sinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/ rasa tekanan
pada muka dan ingus purulen yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip).
Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.
Keluhan nyeri atau rasa tekanan didaerah sinus yang terkena merupakan ciri khas
sinusitis akut, serta nyeri juga terasa ditempat lain.
Sinusitis maksila : nyeri pada pipi
Sinusitis etmoid : nyeri diantara atau dibelakang kedua bola mata
Sinusitis frontal : nyeri didahi atau seluruh kepala
Sinusitis sfenoid : nyeri di verteks, oksipital, belakang bola mata,
daerah mastoid
Gejala lain adalah sakit kepala, hipoosmia/anosmia, halitosis, post nasal drip yang
menyebabkan batuk dan sesak pada anak. Keluhan sinusitis kronik tidak khas,
kadang-kadang hanya satu atau 2 dari gejala berikut seperti sakit kepala kronik,
post nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat
sumbatan kronik muara tuba eustacheus, gangguan ke paru seperti bronkhitisdan

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 13


serangan asma yang meningkat dan sulit diobati. Pada anak, mukopus yang
tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis
Gejala subjektif
Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung dan sekret pasca
nasal.
Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok
Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu
Nyeri / sakit kepala
Gejala mata karena penjalaran infeksi melalui duktus naso-lakrimalis
Gejala saluran napas, berupa batuk dan kadang terdapat komplikasi di
paru
Gejala saluran cerna,karena mukopus yang tertelan.
Gejala objektif
Gejala objektifberupa pembengkakan di daerah muka.
o Sinusitis maksilarisdi pipi dan kelopak mata bawah
o Sinusitis frontaldi dahi dan kelopak mata atas
o Sinusitis etmoidjarang bengkak,kecuali bila ada komplikasi
Pada rinoskopi anterior tampak konka hiperemis dan edema
o Sinusitis maksila,frontal dan etmoid anterior tampak mukopus di
meatus medius
o Sinusitis etmoid poterior dan sfenoid tampak nanah keluar dari
meatus superior
Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip)
3.6 Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan
posterior, pemeriksaan nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang
lebih tepat dan dini. Tanda khas adalah adanya pus dimeatus medius atau didaerah
meatus superior.
Kriteria Rinosinusitis akut menurut American Academy of Otolaringology &
American Rhinologic Society

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 14


Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada
pembengkakan dan kemerahan didaerah kantus medius.
Pemeriksaan pembantu yang penting adalah foto polos atau CT scan. Foto polos
posisi waters, PA atau lateral , umumnya hanya mampu menilai kondisi-kondisi
sinus-sinus besar. Kelainan akan terlihat berupa perselubungan, batas udara cairan
atau penebalan mukosa. CT scan sinus merupakan gold standar diagnosis sinusitis
karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung
dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. Namun, karena mahal hanya
dikerjakan sbagai penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak membaik
dengan pengobatan atau praoperasi sebagai panduan operator saat melakukan
operasi sinus.
Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan mikrobiologi dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil secret
dari meatus medius/superior, untuk mendapat antibiotic yang tepat guna. Lebih
baik lagi bila diambil dari pungsi sinus maksila
3.7 Diagnosis Banding
Diagnosis banding sinusitis adalah luas, karena tanda dan gejala sinusitis tidak
sensitif dan spesifik. Infeksi saluran nafas atas, polip nasal, penyalahgunaan
kokain, rinitis alergika, rinitis vasomotor, dan rinitis medikamentosa dapat datang
dengan gejala pilek dan kongesti nasal.
Rhinorrhea cairan serebrospinal harus dipertimbangkan pada pasien dengan
riwayat cedera kepala. Pilek persisten unilateral dengan epistaksis dapat mengarah

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 15


kepada neoplasma atau benda asing nasal. Tension headache, cluster headache,
migren, dan sakit gigi adalah diagnosis alternatif pada pasien dengan sefalgia
atau nyeri wajah. Pasien dengan demam memerlukan perhatian khusus, karena
demam dapat merupakan manifestasi sinusitis saja atau infeksi sistem saraf pusat
yang berat, seperti meningitis atau abses intrakranial
3.8 Pengobatan
Sinusitis maxillaris akut umumnya di terapi dengan:
1. Antibiotik spektrum luas, seperti: amoxicillin, ampicillin, atau
eritromisin. Alternatif lain berupa amoxicillin/klavulanat, sefaklor,
sefuroksim, dan trimetoprim plus sulfonamid.
2. Dekongestan, seperti: pseudoefedrin, tetes hidung fenilefrin
(neosynephrine) atau oksimetazolin dapat diberikan selama
beberapahari pertama infeksi namun kemudian harus dihentikan.
3. Analgetik untuk meringankan gejala, seperti aspirin dan
asetaminofen.
4. Kompres air hangat pada wajah untuk meringankan gejala.
Dengan terapi tersebut, pasien biasanya memperlihatkan tanda-tanda perbaikan
dalam dua hari dan proses penyakit biasanya menyembuh dalam 10 hari meskipun
konfirmasi radiologis dalam hal kesembuhan total memerlukan waktu 2 minggu
atau lebih. Kegagalan penyembuhan dengan suatu terapi aktif menunjukan
organisme tidak lagi peka terhadap antibiotik atau antibiotik tersebut gagal
mencapai lokulasi infeksi. Pada kasus demikian, ostium sinus dapat odem
sehingga drainase sinus terhambat dan terbentuk abses sejati. Bila demikian,
terdapat indikasi irigasi antrum segera
Pengobatan yang diberikan ditujukan untuk infeksi dan faktor-faktor penyebab
Infeksi secara bersama-sama. Di samping pemberian antibiotik dan dekongestan,
juga perlu diperhatikan predisposisi kelainan obstruksi yang disebabkan karena
rinitis alergi. Pengobatan untuk rinitis alergi terdiri atas 5 bagian utama , yaitu :
1. Menghindari alergen penyebab.
Dapat dilakukan dengan mengisolasi penderita dari alergen, menempati suatu
sawar antara penderita dan alergen atau menjauhkan dari penderita alergen. Untuk

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 16


pencegahan ini, diperlukan identifikasi alergen dan menghindari aleregn penyebab
(avoidance). Dalam pengelolaan penderita alergi inhalan, menganjurkan penderita
untuk menghindari alergen penyebab tidaklah mudah, sehingga poliklinik THT
RSUD Dr. Soetomo telah mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan
masyarakat rumah sakit (PKMRS) mengenai debu rumah kepada penderita dan
keluarganya.
2. Pengobatan simptomatis.
Diberikan bila pencegahan terhadap alergen penyebab tidak memberikan hasil
yang memuaskan. Ada 4 golongan obat yang dapat di berikan, yaitu golongan
antihistamin, simpatomimetik, kortikosteroid dan stabilisator mastosit.
Antihistamin
Antihistamin merupakan senyawa kimia yang dapat melawan kerja
histamin dengan mekanisme inhibisi kompetitif pada lokasi reseptor
histamin. Ada dua macam antihistamin, yaitu antihistamin penghambat
reseptor H1 (AH1) dan antihistamin penghamb at reseptor H2 (AH2).48
Antihistamin H1 sampai saat ini dikenal 2 macam, yaitu antihistamin
klasik dan antihistamin generasi kedua atau baru. Golongan antihistamin
H1 klasik yang sering digunakan adalah etanolamin, etilendiamin,
alkelamin, fenotiazin, siproheptadin, hidroksizin, pirezin. Efek
antihistamin klasik, yaitu antihistaminik, yaitu menghilangkan gejala-
gejala alergi dan antikolinergik, yaitu mengurangi sekresi kelenjar eksorin,
sekresi saliva sehingga dapat mengurangi gejala rinore, tetapi dapat juga
menyebabkan keringnya mukosa mulut dan tenggorok serta sedatif, yaitu
merupakan efek samping yang paling sering terjadi.
Golongan antihistamin generasi baru yang beredar di pasaran , yaitu
terfenadin, loratidin, astemizol, oxatomide, mequitazine dan cetirizine.
Golongan ini tidak mempunyai hubungan kimia yang langsung dengan
histamin, hanya mempunyai suatu struktur nitrogen aromatik yang sama
dalam bentuk piperidin, piperazin atau piridin. Efek antihistamin baru,
yaitu sebagai antihistaminic long action, dimana waktu paruhnya lama,
sehingga cukup diberika 1 x sehari. Hal ini karena ikatannya dengan

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 17


reseptor H1 lebih sukar lepas, sehingga efek terapinya lebih lama, selain
dari itu efek antikolinergiknya lebih ringan dari non sedatif karena tidak
menembus sawar otak serta stabiliator sel mastosit, sehingga dapat
mencegah terjadinya degranulasi atau penglepasan mediator amine-
vasoaktif dengan mencegah influk ion Ca kedalam sel mastosit. Dengan
demikian antihistamin generasi kedua ini dapat mencegah gejala-gejala
yang ditimbulkan, baik oleh mediator yang sudah terbentuk (preformed)
maupun yang belum terbentuk (newly generated)
Antihistamin H2 seperti simetidin dan ranitidin dapat berguna bila
diberikan bersama antihistamin H1 sumbatan hidung, tetapi untuk
pengobatan polip hidung tidak memberikan hasil Golongan
simpatomimetik (dekongestan). Penggunaan obat ini mengurangi edema
mukosa hidung melalui rangsangan reseptor alfa dan menghambat
penglepasan histamin dari mastosit melalui rangsangan reseptor beta.
Dekongestan
Obat obat dekongestan dapat dibedakan menjadi dekongestan sistemik,
biasanya peroral, misalnya fenil propanolamin, efedrin HCI dan
pseudeoefedrin HCI, dan dekongestan lokal yang terdiri dari derivat
imidazolin (oxymetazoline, xylometazoline), derivat simpatomimetik
(fenilefrin, fenil propanolamine, efedrin HCI). Suatu dekongestan dapat
diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan antihistamin H1 lokalisata
peroral pada pengobatan rinitis alergi.
Pemakain lama antihistamin lokal dan dekongestan tidak dianjurkan,
karena antihistamin lokal dapat menimbulkan sensitisasi dan dekongestan
lokal dapat menimbulkan iritasi dan rebound phenomenon seperti pada
rinitis medikamentosa, sehingga pemakaian obat ini dibatasi 3 4 hari.
Kortikosteroid.
Bila hasil pengobatan antihistamin dan dekongestan belum berhasil maka
dapat diberikan kortikosteroid secara sistemik maupun intranasal.
Pengobatan lokal dengan beklometason atau flunisolid lebih disukai,
karena kerjanya langsung dan efek sampingnya yang rendah. Untuk

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 18


pemberian yang efektif biasanya memerlukan beberapa hari sampai
beberapa minggu. Efek kortikosteroid ialah menghambat aktifitas histamin
dan zat kinin vasoaktif, menstabilkan membran sehingga penglepasan zat
mediator dihambat, tetapi tidak menghambat interaksi antar antigen dan
antibodi. Di laporkan pemberian kortikosteroid dapat mengurangi
besarnya polip hidung.48 Stabilisator mastosit, yang termasuk dalam
golongan ini adalah natrium kromolin dan ketotifen. Efek natrium
kromolin (sodium kromoglikat) ialah menurunkan pengelepasan zat
mediator, sehingga dianggap sebagai pengobtan pencegahan dan diberikan
sebelum terjadi kontak dengan alergen. Efek sampingnya minimal,
terutama berupa iritasi lokal. Pemakaian pada polip hidung belum dapat
dibuktikan keberhasilannya. Ketotifen, sebagai stabilisator sel mastosit,
diserap dalam saluran cerna dan dalam bentuk utuh keluar lewat urine dan
tinja. Efek sampingnya sama seperti antihistamin H1. Trombosit secara
reversibel, sehingga penggunaan kombinasi kedua obat tersebut sebaiknya
dihindari
3. Imunoterapi (desensitisasi, hiposensitisasi).
Pemberian imunoterapi dapat dipertimbangkan bila cara-cara konservatif tidak
berhasil. Dasar dari imunoterapi adalah menyuntikkan alergen penyebab secara
bertahap dengan dosis kecil yang makin meningkat untuk menginduksi toleransi
pada penderita alergi. Penatalaksanaan komplikasi atau faktor-faktor yang
memperburuk.
Kelemahan, stress emosi, perubahan suhu yang mendadak, infeksi yang
menyertai, deviasi septum dan paparan terhadap polutan udara lainnya yang dapat
mencetuskan, memperhebat dan mempertahankan gejala -gejala yang menyertai
rinitis alergi, polip hidung dan sinusitis. Penanganan faktor-faktor ini sama
pentingnya dengan pengobatan yang ditujukan terhadap alerginya.
4. Pengobatan operatif baru dilakukan bila pengobatan medikamantosa
gagal.
Pembedahan disini untuk mengurangi gejala alergi seperti sinusitis dan polip nasi.
Tindakan ini memungkinkan ventilasi dan drenase hidung serta mengupayakan

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 19


aliran hidung dan sinus yang memadai. Pengobatan pada sinusitis maksila kronis,
pada prinsipnya memperbaiki drenase dan menormalkan kembali atau membuang
lapisan mukosa yang telah mengalami kerusakan. Perubahan pada mukosa sinus
dapat bersifat reversibel dan ireversibel sehingga, pengobatan sinusitis maksila,
terdiri atas
Pengobatan konservatif.
Secara klinis untuk mengetahui keadaan mukosa yang reversibel sangat
sulit, jika pengobatan secara konservatif tidak berhasil. Pengobatan ini
meliputi obat antialergi dan dekongestan, obat mukolitik untuk
mengencerkan sekret ;obat analgetik, untuk mengurangi rasa nyeri, obat
antibiotik, sebaiknya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan mkirobilogik
dan kultur resistensi kuman. Biasanya diberikan antibiotik yang
mempunyai spektrum luas selama 10-14 hari.
Pungsi dan irigasi sinus maksila termasuk pengobatan konservatif,
diperlukan untuk mengeluarkan sekret dari rongga sinus maksila yang
dapat dilakukan melalui ostium sinus maksila di meatus medius, meatus
inferior dan fosa kanina. Dilakukan maksimal enam kali setiap 2 3 hari
sekali. Jika terdapat nanah (pus), berarti pengobatan konservatif tidak
berhasil dan dipertimbangkan pengobatan secara operatif.
Pengobatan operatif radikal.
Dengan operasi Calddwell-Luc bila kerusakan mukosa sudah ireversibel
dan gagal dengan pengobatan konservatif. Operasi ini dilakukan dengan
membuat sayatan sublabial kurang lebih dari 2 cm diatas sulkus
ginggivobukalis dari insisivus 2 samapi molar 1. Sayatan dilanjutkan
sampai periosteum, kemudian periosteum dilepaskan dan mukosa pipi
tarik ke atas. Selanjutnya dibuat lubang pada fosa kanina dan melalui
lubang tersebut mukosa yang inversibel dibersihkan

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 20


3.9 Komplikasi
Sejak ditemukan antibiotik, komplikasi sinusitis maksila telah menurun secara
drastis. Komplikasi sinusitis maksila terjadi jika sinusitis tersebut menjadi kronis.
Komplikasi yang dapat terjadi ialah(Pandi et al, 1990 dan Wright et al 1997
dalam Cora 2003):.
1. Oesteomielitis dan abses subperiostal
2. Kelainan orbita
3. Mukokel.
4. Kelainan intrakranial
5. Kelainan paru

3.10 Prognosis
Prognosis sinusitis sangat baik dengan kurang lebih 70% pasien sembuh tanpa
pengobatan. Prognosis untuk penderita sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan
sembuh secara spontan tanpa pemberian antibiotik. Terkadang juga penderita bisa
mengalami relaps setelah pengobatan namun jumlahnya sedikit yaitu kurang dari
5 %. Komplikasi dari penyakit ini bisa terjadi akibat tidak ada pengobatan yang
adekuat yang nantinya akan dapat menyebabkan sinusitis kronik, meningitis,
brain abscess, atau komplikasi extra sinus lainnya (Piccirillo, dkk, 1997).
Sedangkan prognosis untuk sinusitis kronik yaitu jika dilakukan pengobatan yang
dini maka akan mendapatkan hasil yang baik. Untuk komplikasinya bisa berupa
orbital cellulitis, cavernous sinus thrombosis, intracranial extension (brain
abscess, meningitis) dan mucocele formation.

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 21


BAB IV
PENUTUP
Telah dilaporkan suatu laporan kasus tentang sinusitit maksilaris sinistra

akut. Penyakit ini dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan

pemeriksaan penunjang bila perlu. Berdasarkan tinjauan tersebut telah dibahas

mengenai sinusitis maksilaris sinistra akut meliputi: definisi, epidemiologi,

etiologi, patofisiologi, gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,

diagnosis banding, penatalaksaan dan prognosis.

Diharapkan laporan kasus ini dapat dijadikan suatu pedoman dalam mengenal dan

mengobati pasien sinusitis maksilaris sinistra akut, serta mencegahnya agar

menjadi komplikasi.

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 22


DAFTAR PUSTAKA
1. Broek, P., dkk, Buku saku ilmu kesehatan tenggorok hidung dan telinga. Ed.
12. Jakarta: EGC. 2010, p. 113 117.
2. Highler, A, Boies. Buku ajar penyakit THT.
3. Soepardi, E, dkk, Telinga Hidung Tenggorok Ed. 6. Jakarta : Buku
kedokteran EGC. 1997, p. 240 259., Kepala & Leher. Ed. 6. Jakarta: Balai
penerbiut FKUI. 2009, p. 139 154.
4. Virginia, M,. Referat Siunusitis. Jakarta: 2012.
5. Widiastama, R. Mengeakkan diagnosis sinusitis. Semarang: 2001.

Laporan Kasus |Sinusitis Maksilaris Akut Sinistra (Sinusitis) 23