Anda di halaman 1dari 3

PENATALAKSANAAN FILARIASIS

No. Dokumen : / /SOP/PKM-LJS/2017


No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit
Halaman
:
:
Surya Andi. NS
UPT PUSKESMAS
LANJAS NIP.19760221 200604 1 011

1. Pengertian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat
menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan
cacat menetap berupa pembesaran kaki,lengan dan alat kelamin baik perempuan
maupun laki-laki.
2. Tujuan Prosedur ini dibuat dimaksudkan untuk dokter dapat melakukan konseling dan
edukasi kepada pasien dan keluarga dan memberikan terapi dengan baik.
3. Kebijakan Langkah- langkah Penanganan Filariasis wajib sesuai dengan langkah- langkah
SPO ini.
4. Referensi Perawatan Dasar DEPKES RI Tahun 2014
5. Alat Alat : Tempat tidur, Stetoskop, Arloji, Thermometer, Tensimeter,Tampon
hidung,

6. Langkah- PENATALAKSANAAN
Terapi filariasis bertujuan untuk mencegah atau memperbaiki perjalanan
Langkah
penyakit, antara lain dengan:
a. Memelihara kebersihan kulit.
b. Fisioterapi kadang diperlukan pada penderita limfedema kronis.
c. Obatantifilaria adalah Diethyl carbamazine citrate (DEC) dan
Ivermektin.
d. DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa, Ivermektin
merupakan antimikrofilaria yang kuat, tetapi tidak memiliki efek
makrofilarisida.
e. Dosis DEC 6 mg/kgBB, 3 dosis/hari setelah makan, selama 12 hari,
pada Tropical Pulmonary Eosinophylia (TPE) pengobatan diberikan
selama tiga minggu.
f. Efek samping bisa terjadi sebagai reaksi terhadap DEC atau reaksi
terhadap cacing dewasa yang mati. Reaksi tubuh terhadap protein yang
dilepaskan pada saat cacingdewasa mati dapat terjadi beberapa jam
setelah pengobatan, didapat 2 bentuk yang mungkin terjadi yaitu reaksi
sistemik dan reaksi lokal:
1. Reaksi sistemik berupa demam,sakit kepala, nyeri badan, pusing,
anoreksia, malaise dan muntah-muntah. Reaksi sistemik cenderung
berhubungan dengan intensitas infeksi.
2. Reaksi lokal berbentuk limfadenitis,abses,dan transien limfedema.
Reaksi lokal terjadi lebih lambat namun berlangsung lebih lama
dari reaksi sistemik.
3. Efek samping DEC lebih berat pada penderita onchorcerciasis,
sehingga obat tersebut tidak diberikan dalam program pengobatan
masal didaerah endemis filariasis dengan ko-endemis
Onchorcercia valvulus.
g. Ivermektin diberikan dosis tunggal 150 ug/kg BB efektif terhadap
penurunan derajat mikrofilaria W. bancrofti, namun pada filariasis oleh
Brugia spp. penurunan tersebut bersifat gradual. Efek samping
ivermektin sama dengan DEC, kontraindikasi ivermektinyaitu wanita
hamil dan anakkurang dari 5 tahun. Karena tidak memiliki efek terhadap
cacing dewasa, ivermektin harus diberikan setiap 6 bulan atau 12 bulan
untuk menjaga agar derajat mikrofilaremia tetap rendah.
h. Pemberian antibiotik dan/atau antijamur akan mengurangi serangan
berulang, sehingga mencegah terjadinya limfedema kronis.
i. Antihistamin dan kortikosteroid diperlukan untuk mengatasi efek
samping pengobatan. Analgetik dapat diberikan bila diperlukan.
j. Pengobatan operatif, kadang-kadang hidrokel kronik memerlukan
tindakan operatif, demikian pula pada chyluria yang tidak membaik
dengan terapi konservatif.
k. Memelihara kebersihan kulit.
l. Fisioterapi kadang diperlukan pada penderita limfedema kronis.
m. Obatantifilaria adalah Diethyl carbamazine citrate (DEC) dan
Ivermektin.
n. DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa, Ivermektin
merupakan antimikrofilaria yang kuat, tetapi tidak memiliki efek
makrofilarisida.
o. Dosis DEC 6 mg/kgBB, 3 dosis/hari setelah makan, selama 12 hari,
pada Tropical Pulmonary Eosinophylia (TPE) pengobatan diberikan
selama tiga minggu.
p. Efek samping bisa terjadi sebagai reaksi terhadap DEC atau reaksi
terhadap cacing dewasa yang mati. Reaksi tubuh terhadap protein yang
dilepaskan pada saat cacingdewasa mati dapat terjadi beberapa jam
setelah pengobatan, didapat 2 bentuk yang mungkin terjadi yaitu reaksi
sistemik dan reaksi lokal:
1. Reaksi sistemik berupa demam,sakit kepala, nyeri badan, pusing,
anoreksia, malaise dan muntah-muntah. Reaksi sistemik cenderung
berhubungan dengan intensitas infeksi.
2. Reaksi lokal berbentuk limfadenitis,abses,dan transien limfedema.
Reaksi lokal terjadi lebih lambat namun berlangsung lebih lama
dari reaksi sistemik.
3. Efek samping DEC lebih berat pada penderita onchorcerciasis,
sehingga obat tersebut tidak diberikan dalam program pengobatan
masal didaerah endemis filariasis dengan ko-endemis Onchorcercia
valvulus.
q. Ivermektin diberikan dosis tunggal 150 ug/kg BB efektif terhadap
penurunan derajat mikrofilaria W. bancrofti, namun pada filariasis oleh
Brugia spp. penurunan tersebut bersifat gradual. Efek samping
ivermektin sama dengan DEC, kontraindikasi ivermektinyaitu wanita
hamil dan anakkurang dari 5 tahun. Karena tidak memiliki efek terhadap
cacing dewasa, ivermektin harus diberikan setiap 6 bulan atau 12 bulan
untuk menjaga agar derajat mikrofilaremia tetap rendah.
r. Pemberian antibiotik dan/atau antijamur akan mengurangi serangan
berulang, sehingga mencegah terjadinya limfedema kronis.
s. Antihistamin dan kortikosteroid diperlukan untuk mengatasi efek
samping pengobatan. Analgetik dapat diberikan bila diperlukan.
t. Pengobatan operatif, kadang-kadang hidrokel kronik memerlukan
tindakan operatif, demikian pula pada chyluria yang tidak membaik
dengan terapi konservatif.

KONSELING DAN EDUKASI


Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya mengenai penyakit
filariasis terutama dampak akibat penyakit dan cara penularannya. Pasien dan
keluarga juga harus memahami pencegahan dan pengendalian penyakit menular
ini melalui:
a. Pemberantasan nyamuk dewasa.
b. Pemberantasan jentik nyamuk.
c. Mencegah gigitan nyamuk.
Setelah pengobatan, dilakukan kontrol ulang terhadap gejala dan mikrofilaria,
bila masih terdapat gejala dan mikrofilaria pada pemeriksaan darahnya,
pengobatan dapatdiulang 6 bulan kemudian.

KRITERIA RUJUKAN
Pasien dirujuk bila dibutuhkan pengobatan operatif atau bila gejala tidak
membaik dengan pengobatan konservatif.

7. Unit terkait Poli Pengobatan, Kasir,UGD


8. Dokumen terkait Buku rekam medis pasien

Anda mungkin juga menyukai