Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biomassa
Biomassa merupakan bahan biologis yang berasal dari organisme atau
makhluk hidup. Dalam berbagai situasi, biomassa juga didefinisikan sebagai bahan-
bahan organik berumur relatif muda yang berasal dari tumbuhan atau hewan, baik
yang terbentuk dari hasil produksinya, sisa metabolismenya, ataupun limbah yang
di hasilkannya. Biomassa dapat di peroleh dari berbagai bidang industri budidaya,
baik pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, maupun perikanan. Biomassa
umumnya mempunyai kadar volatile relatif tinggi, dengan kadar karbon tetap yang
rendah dan kadar abu lebih rendah dibandingkan batubara. Biomassa juga memiliki
kadar volatil yang tinggi (sekitar 60-80%) dibanding kadar volatile batubara,
sehingga biomass lebih reaktif dibandingkan batubara. Biomasa bersifat mudah
didapatkan, ramah lingkungan dan terbarukan. Sifat biomassa yang merupakan
energi dengan katagori sumber energi terbarukan mendorong penggunaanya
menuju skala yang lebih besar lagi sehingga manusia tidak hanya tergantung
dengan energi fosil.
Biomassa yang digunakan sebagai sumber energy (bahan bakar) di
Indonesia pada umumnya, memiliki nilai ekonomis rendah, atau merupakan limbah
yang telah diambil produk primernya. Biomassa tersebut dapat berasal dari
tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian,limbah hutan, tinja dan kotoran
ternak. Potensi sumber daya biomassa di Indonesia diperkirakan sebanyak 49.810
MW, yang berasal dari tanaman dan limbah. Selain itu, sumber energi biomassa
mempunyai beberapa kelebihan antara lain merupakan sumber energi yang dapat
diperbaharui (renewable) sehingga dapat menyediakan sumber energi secara
berkesinambungan (suistainable).
2.2. Sekam Padi
Indonesia merupakan negara agraris yang banyak memproduksi padi.Dari
panen padi dihasilkan limbah yang familiar dikenal dengan sekam padi.Dalam
proses penggilingan padi menjadi beras, ada produk-produk sampingan yang
berupa limbah yang bila dibiarkan atau dikelola secara kurang bijaksana akan
merugikan manusia karena terjadinya pencemaran lingkungan ekosisitem tersebut
dan juga pencemaran udara akibat pembakaran limbah tersebut.
Sekam padi adalah kulit keras yang melindungi bulir / biji beras. Fungsi dari
sekam padi yaitu untuk melindungi beras selama masa pertumbuhan. Sekam padi
adalah bagian terluar dari butir padi, yang merupakan hasil sampingan saat proses
penggilingan padi dilakukan. Sekitar 20% - 25% dari bobot padi adalah sekam padi.
Sekam padi merupakan limbah atau hasil samping dari proses penggilingan padi
yang masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Sekam padi dapat ditemukan
dengan mudah dalam jumlah besar, murah, dan terbarukan.
Sekam padi mempunyai bulk density 96 sampai 160 kg/m3 . Penggilingan
sekam padi dapat meningkatkan bulk density dari 192 menjadi 384 kg/m3 Dengan
pembakaran pada kondisi tertentu dapat menghasilkan abu sekam padi yang lebih
mudah dihaluskan (Hsu dan Luh, 1980)
Menurut Affendi (2008), peningkatan produksi padi akan diikuti dengan
peningkatan produksi gabah sebesar 2,85 juta ton. Beberapa karakteristik sekam
padi yaitu memiliki bulk density 0,100 g/ml, kerapatan jenis 1125 kg/m3 , dan nilai
kalor berkisar 3300- 3600 kkalori/kg dengan konduktivitas panas sebesar 0,271
BTU (Houston, 1972). Ditinjau dari komposisi kimia, sekam padi mengandung
beberapa unsur penting yang dapat dijadikan sebuah acuan untuk mengolahnya
menjadi bahan yang lebih bermanfaat. Komposisi sekam padi dapat dilihat pada
Tabel 2.5
Tabel 2.5. Komposisi Kimia Sekam Padi
Komposisi Kadar (%)
Selulosa 32,12
Hemiselulosa 22,48
Lignin 22,34
Abu Mineral 13,87
Air 7,86
Bahan Lain 2,33
(Sumber: Kumar, P.S., 2010)
Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa komponen terbesar yang terkandung
dalam ampas tebu tersebut adalah selulosa dengan persentase 32,12% diikuti
dengan senyawa lain seperti hemiselulosa, lignin, abu, air, dan bahan lain.
Dengan jumlahnya yang melimpah dan kandungan selulosa yang tinggi,
sekam padi dapat dimanfaatkan dalam pembuatan bio-oil dengan proses pirolisis
yang mengubah dari senyawa selulosa dan hemiselulosa menjadi senyawa yang
lebih sederhana sehingga dapat dijadikan bahan bio-oil sehingga menaikkan nilai
jual dari sekam padi itu sendiri.
2.3. Kayu Gelam
Galam yang dalam bahasa latinnya disebut Melaleuca
leucadendron merupakan jenis pohon yang tumbuh sangat subur di lahan rawa
masam dan dapat dijadikan salah satu tumbuhan indikator tanah berpirit atau tanah
sulfat masam. Jenis pohon ini termasuk jenis pohon berkayu. Pohon ini sangat
adaptif dengan kondisi masam pH 3-4 bahkan dikenal sangat dominan di lahan
rawa. Umumnya lahan yang apabila ditumbuhi pohon ini sepertinya "membunuh
jenis pohon dan semak lainnya sehingga menjadi dominan di lingkungannya. Jenis
pohon ini menyenangi kondisi berair macak-macak, tetapi juga dapat tumbuh
dengan kondisi kering.

Gambar 2.1. Kayu Gelam


Sumber : Destina, Y. 2013

Gelam merupakan jenis dominan pada lahan basah (rawa) di Sumatera


Selatan. Luasnya lahan basah yang mencapai 1,42 juta Ha, menjadikan gelam
sebagai jenis yang berperan penting dalam penyediaan kebutuhan kayu di daerah
ini. Gelam sudah lama dan telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di
Indonesia, termasuk di wilayah Sumatera Selatan. Selain memiliki penyebaran yang
luas pada lahan basah (rawa gambut), kayu gelam juga mempunyai beragam
kegunaan, sudah lama menjadi sumber mata pencaharian dan pendapatan
masyarakat. Perubahan pemanfaatan kayu gelam dari kelas kayu batangan menjadi
kayu gergajian merupakan pertanda bahwa gelam merupakan jenis kayu
pertukangan yang prospektif untuk pengembangan di masa mendatang.

Tabel 2.2. Komposisi Kimia Kayu Gelam


Komposisi Kadar (%)
a-selulosa 37,99
Holoselulosa 75,39
Lignin 22,85
Pentosan 18,85
Zat Ekstraktif 4,58
Abu 0,92

(Sumber: Junaidi, A. B. Dan Yunus, R. 2014)

Sebagai kayu gergajian, kayu gelam menghasilkan serbuk gergaji yang


biasa dipakai sebagai bahan bakar untuk membuat arang. Sesuai dengan kandungan
kimia pada tabel 2.2. diatas maka kayu gelam memiliki kadar selulosa yang banyak
sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pirolisis untuk menghasilkan bio-oil
yang memiliki nilai guna yang lebih tinggi.

2.4. Pirolisis Cepat


Pirolisis adalah dekomposisi secara temperatur dari bimassa menjadi
produk yang lebih berguna yang terjadi selama ketiadaan agen oksidasi atau dengan
suatu batasan suplai yang membatasi proses gasifikasi menjadi dominan. Pirolisis
juga membentuk beberapa langkah reaksi awal dari gasifikasi. Selama pirolisis,
molekul besar kompleks hidrokarbon dari biomassa terputus menjadi molekul yang
relatif lebih kecil dan sederhana dari gas, cairan, dan tar.
Secara singkat pirolisis dapat diartikan sebagai pembakaran tanpa oksigen.
Pirolisis telah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu untuk membuat arang dari sisa
tumbuhan. Baru pada sekitar abad ke-18 pirolisis dilakukan untuk menganalisis
komponen penyusun tanaman. Secara tradisional, pirolisis juga dikenal dengan
istilah distilasi kering. Proses pirolisis sangat banyak digunakan di industri kimia,
misalnya, untuk menghasilkan arang, karbon aktif, metanol, dan bahan kimia
lainnya dari kayu, untuk mengkonversi diklorida etilena menjadi vinil klorida untuk
membuat PVC, untuk memproduksi kokas dari batubara, untuk mengkonversi
biomassa menjadi syngas, untuk mengubah sampah menjadi zat yang aman untuk
dibuang, dan untuk mengubah hidrokarbon menengah-berat dari minyak menjadi
lebih ringan, seperti bensin (Widjaya,1982).
Berdasarkan Encyclopedia of Energy Technology and the Environment,
pirolisis didefinisikan sebagai proses dekomposisi panas untuk memproduksi gas,
cairan organik (tar), dan padatan sisa (char). Pirolisis biasanya dipahami sebagai
dekomposisi panas yang terjadi pada kondisi bebas oksigen, tetapi pirolisis yang
oksidatif hampir selalu menjadi bagian yang terkaitan dari proses pembakaran dan
gasifikasi. Gas, cairan dan padatan hasil pirolisis dapat digunakan sebagai bahan
bakar, dengan atau tanpa pengolahan lebih lanjut dan sebagai bahan baku dari
industri kimia dan material. Bahan-bahan yang cocok sebagai umpan proses
pirolisis antara lain batu bara, biomassa, plastik, karet, dan kandungan selulosa
(50%) dari sampah perkotaan (Serio dalam Caturwati, 2015).
Proses pirolisis dikategorikan menjadi 4 tipe, yaitu Pirolisis lambat, Pirolisis
Cepat, Pirolisis Kilat, dan Pirolisis Katalitik Biomassa (Goyal dalam Caturwati,
2015). Pirolisis biomass menghasilkan produk yang mengandung cairan, gas dan
arang padat (Char). Produk utama hasil pirolisis biomass adalah produk cair dengan
perolehan mencapai 75% dari umpan kering (kadar air umpan kurang dari 10%
berat). Perbandingan produk tersebut bergantung pada jenis umpan, temperatur
pirolisis, laju pemanasan, dan waktu tinggal. Tetapi pada umumnya terdiri atas 40
65%-w cairan organik, 1020%-w char, 1030%-w gas dan 515%-w air dengan
basis umpan kering. Kebanyakan reaktor pirolisis membutuhkan umpan yang
mengandung 515%-w air.(Diebold dalam Caturwati, dkk, 2015).
2.5. Bio Oil
Bio Oil merupakan salah satu produk dari hasil pirolisis biomassa yang
terdiri dari campuran uap organik, seperti asam, alkohol, aldehid, eter, ester keton,
furan, fenol, dan hidrokarbon. Sebagaimana produk olahan biomassa yang lain, bio-
oil terbuat dari sumber biomassa yang memiliki, selulosa, hemiselulosa, dan lignin.
Biooil berwarna gelap dengan penampilan mirip seperti kopi dan beraroma asap.
Untuk penyusunan kimia dan properti fisika dan kimia dari biooil dapat dilihat pada
tabel 2.3. berikut
Tabel 2.3. Karakteristik Bio-oil

Karakteristik Penjelasan
Penampilan/rupa Bio-oil biasanya cairan biru tua. Berdasarkan bahan baku
dan tipe fast pyrolysis yang dipakai, warna yang
ditampilkan bisa menjadi hitam sampai coklat kemerah-
merahan atau hijau tua.
Bau Cairan memiliki bau khusus, berbau asap tajam yang
dapat mengiritasi mata jika terbka terhadap udara luar
untuk waktu yang lama.
Kandungan air Cairan mengandung kandungan air yang berbeda, yang
berbentuk campuran fasa tunggal yang stabil. Biasanya
kandungannya sebesar 15-30% berat, tergantung dari
cara memproduksi cairan.
Densitas Densitas dari cairan sangat tinggi yaitu 1,2 kg/L
dibandingkan dengan bahan bakar air ringan yang sekitar
0,85 kg/L
Viskositas Viskositas dari bio-oil bervariasi dari yang terendah yaitu
40 cp hingga yang tertinggi, 100 cp. Viskositas berguna
pada beberapa aplikasi bahan bakar.
Pengaruh waktu Perubahan waktu menyebabkan meningkatnya
viskositas, menurunnya volatilitas, dan deposisi serta
fasa separasi getah dapat terjadi.
(Sumber: Aston University dalam Ningrum, 2011)
2.6. Penelitian Terdahulu
Berikut ini beberapa penelitian yang dilakukan mengenai biobriket antara
lain adalah:
1) Ariani Zulkarnia melakukan penelitian untuk menghasilkan bio oil dengan
bahan baku ampas tebu/ bagas dengan variabel temperatur dan ukuran
partikel biomassa. Dari penelitian tersebut didapat bahwa yield bio oil
tertinggi diproduksi dengan temperatur 550oC dan ukuran partikel -30-40
mesh dengan 28,11% berat yield bio oil. Meskipun pirolisis untuk ukuran
partikel -20-30 mesh memiliki temperatur optimum pada 500oC dengan
27,89% berat yield bio oil.
2) Subriyer Nasir, dkk melakukan penelitian untuk menghasilkan asap cair
dari ampas tebu dan serbuk gergaji kayu kulim dengan variabel
temperatur, massa bahan baku dan waktu. Penelitian tersebut
menghasilkan untuk bahan baku berupa ampas tebu yakni dengan massa
150 gr, pada suhu 250 oC dan waktu pembakaran selama 2 jam,
menghasilkan konversi asap cair sebesar 56,83 %. untuk bahan baku
berupa serbuk gergaji yakni dengan massa 200 gr, pada suhu 250oC dan
waktu pembakaran selama 2 jam, menghasilkan konversi asap cair sebesar
61,49 %.
3) Binh M.Q. Phan, Dkk (PetroVietnam Research and Development Center
for Petroleum Processing) memperoleh yield bio-oil maksimum sebesar
67,22% pada temperatur pirolisis 500 oC dengan bahan baku ampas tebu
atau baggase.