Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan sebagai langkah perwujudan sumber daya manusia yang

profesional dan berkualitas harus perlu ditingkatkan. Sekolah merupakan salah

satu lembaga pendidikan formal, selain sebagai sarana menambah

pengetahuan, diharapkan juga dapat membantu pembentukan kepribadian

siswa yang positif dan membangun relasi dengan teman-teman sebaya maupun

dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan salah satu tugas

perkembangan remaja, yaitu membangun hubungan yang lebih matang dengan

teman-teman maupun orang-orang lain di sekitarnya. Dalam membangun relasi

dengan temans ebaya, siswa tidak hanya mempelajari hal-hal yang positif,

seperti persahabatan dan kerjasama, tetapi juga hal-hal negatif, seperti perilaku

menyontek, merokok, membolos, tawuran, dan sebagainya.

Sekolah merupakan salah satu tempat menimba ilmu yang menjadi

kewajiban bagi setiap anak. Di sekolah, anak banyak menghabiskan waktu

untuk berinteraksi dengan guru dan teman sekitarnya. Suasana yang nyaman

dan tenang di sekolah, sangat ditekankan bila siswa ingin betah dan dapat

belajar dengan baik. Namun, akhir-akhir ini banyak kasus yang mencoreng

dunia pendidikan di Indonesia, baik kasus yang dilakukan oleh tenaga pendidik

maupun siswa. Salah satu kasus yang banyak terjadi yaitu adanya tindak

kekerasan atau penganiayaan antar siswa, atau siswa yang lebih senior kepada

1
2

adik kelasnya. Kekerasan yang terjadi merupakan salah satu wujud dari

tindakan bullying.

Menurut Wiyani (2012: 2) bullying merupakan perilaku negatif yang

dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dapat merugikan orang

lain. bullying dapat terjadi karena kesalahpahaman (prasangka) antar pihak

yang berinteraksi. Bentuk-bentuk bullying dapat berupa bullying secara verbal

maupun fisik. Kasus bullying yang sering dijumpai adalah kasus senioritas atau

adanya intimidasi siswa yang lebih senior terhadap adik kelasnya baik secara

fisik maupun non-fisik. Bullying atau penindasan adalah penggunaan kekerasan

atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan siswa kelas VII di

SMPN 1 Kawedanan Kabupaten Magetan yang dilakukan peneliti selama

mengikuti pelaksanaan PPL pada bulan September sampai dengan Desember

2016, bahwa di sekolah tersebut masih banyak siswa yang mendapatkan

perilaku bullying dari siswa lainnya. Bentuk-bentuk bullying yang paling

banyak terjadi yaitu dalam bentuk ejek-ejekan nama orang tua, ejek-ejekan

nama panggilan, menyebar gosip melalui situs jejaring sosial, menginjak kaki

atau menjewer teman dengan sengaja, aksi senioritas, dan bahkan perkelahian

antar siswa.

Hasil penelitian yang dilakukan Saifullah (2016: 209) menemukan

adanya hubungan negatif antara konsep diri dengan bullying siswa, yang

berarti bahwa semakin tinggi konsep diri siswa maka akans emakin rendah

perilaku bullying. Menurut Rakhmat (2009: 99) konsep diri adalah pandangan
3

dan perasaan tentang diri individu. Perasaan diri ini boleh bersifat psikologi,

sosial dan fisik. Konsep diri berkaitan dengan bagaimana orang mengamati

dirinya sendiri, berpikir tentang dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri, dan

bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk mempertahankan

keberadaannya. Jika seorang siswa memiliki konsep diri negatif, akan

cenderung melakukan berbagai tindakan negatif, termasuk melakukan perilaku

bullying. Konsep diri yang positif dapat meminimalisasi perilaku bullying di

dalam diri remaja sehingga tingkat perilaku bullying yang terjadi pada remaja

dapat dihilangkan.

Perilaku bullying juga dapat disebabkan karena konformitas teman

sebaya. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh kembang anak,

tempat menimba ilmu, serta salah satu tempat pembentuk karakter pribadi yang

baik ternyata menjadi tempat tumbuh suburnya praktek-praktek perilaku

bullying. Keadaan ini mengindikasikan bahwa maraknya fenomena bullying ini

berkaitan dengan konformitas remaja dalam perilaku kelompok teman sebaya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dewi (2015: 1) menunjukkan ada

pengaruh positif dan signifikan variabel konformitas teman sebaya dan

perilaku bullying. Kelompok teman sebaya siswa di sekolah adalah kelompok

yang terbentuk di dalam lingkungan sekolah berdasarkan persamaan usia,

tingkatan kelas, minat atau hobi yang sama, serta tujuan yang sama. Perilaku

bullying merupakan tindakan delikuen remaja yang secara sosiologis

disebabkan oleh pergaulan remaja dengan lingkungan sosialnya.


4

Menurut Myers (2012: 253) konformitas sebagai perubahan perilaku atau

kepercayaan seseorang sebagai hasil dari tekanan kelompok yang nyata atau

hanya berdasarkan imajinasi. Banyak remaja beranggapan jika berpenampilan

dan berperilaku mengikuti anggota kelompok populer maka kesempatan untuk

dapat diterima dalam kelompok populer tersebut lebih besar. Konformitas tidak

selalu berkaitan dengan hal negatif, banyak juga hal positif yang dapat

dihasilkan dari konformitas kelompok. Konformitas yang berdampak positif

contohnya kegiatan belajar kelompok yang dilakukan rutin.

Sebagian besar perilaku bullying dilakukan secara bersama-sama dalam

setting kelompok, terbukti dengan adanya berbagai kasus bullying yang terjadi

dengan pelaku berjumlah banyak dalam lingkup kelompok teman sebaya. Ketika

lingkup kelompok teman sebaya atau yang sering disebut gangs melakukan

tindakan bullying, maka individu tersebut secara tidak langsung akan

memperhatikan perilaku bullying yang dilakukan kelompok tersebut, dan

kemungkinan melakukan modelling terhadap perilaku bullying tersebut semakin

besar. Kegiatan individu melakukan perilaku bullying yang disebabkan modelling

kelompok teman sebaya ini dapat dikatakan individu tersebut melakukan

konformitas teman sebaya.

Berkaitan dengan realita yang menunjukkan bahwa di SMPN 1

Kawedanan masih banyak siswa yang mendapatkan perilaku bullying dari

siswa lainnya serta adanya hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan

adanya pengaruh konsep diri dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku

bullying, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul:

Pengaruh Konsep Diri dan Konformitas Teman Sebaya terhadap Perilaku


5

Bullying Pada Siswa Kelas VII SMPN 1 Kawedanan Kabupaten Magetan

Tahun Pelajaran 2016/2017.

B. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti membatasi

masalah sebagai berikut:

1. Masalah pada penelitian ini terbatas pada:

a. Pengaruh konsep diri terhadap perilaku bullying.

b. Pengaruh konformitas teman sebaya terhadap perilaku bullying.

c. Pengaruh konsep diri dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku

bullying.

2. Variabel penelitian, meliputi:

a. Variabel bebas, yang terdiri dari 2 variabel, yaitu:

X1 : konsep diri

X2 : konformitas teman sebaya

b. Variabel terikat (Y), yaitu perilaku bullying.

3. Subyek penelitian terbatas pada siswa kelas VII SMPN 1 Kawedanan

Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2016/2017.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


6

1. Apakah ada pengaruh konsep diri terhadap perilaku bullying pada siswa

kelas VII SMPN 1 Kawedanan Kabupaten Magetan tahun pelajaran

2016/2017?

2. Apakah ada pengaruh regulasi diri terhadap perilaku bullying pada siswa

kelas VII SMPN 1 Kawedanan Kabupaten Magetan tahun pelajaran

2016/2017?

3. Apakah ada pengaruh secara simultan konsep diri dan regulasi diri terhadap

perilaku bullying pada siswa kelas VII SMPN 1 Kawedanan Kabupaten

Magetan tahun pelajaran 2016/2017?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui:

1. Pengaruh konsep diri terhadap perilaku bullying pada siswa kelas VII

SMPN 1 Kawedanan Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2016/2017.

2. Pengaruh konformitas teman sebaya terhadap perilaku bullying pada siswa

kelas VII SMPN 1 Kawedanan Kabupaten Magetan tahun pelajaran

2016/2017.

3. Pengaruh konsep diri dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku

bullying pada siswa kelas VII SMPN 1 Kawedanan Kabupaten Magetan

tahun pelajaran 2016/2017.


7

E. Kegunaan Penelitian

Pada penelitian ini, diharapkan bahwa hasil yang dicapai dapat berguna

bagi pihak-pihak sebagai berikut:

1. Siswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi bagi

siswa tentang pentingnya memiliki konsep diri dan konformitas temans

ebaya yang positif agar tidak melakukan tindakan atau perilaku bullying

kepada teman.

2. Konselor

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana untuk peningkatan

konsep diri siswa serta menurunkan perilaku bullying yang dilakukan siswa

melalui kebijakan-kebijakan yang terkait dengan bidang bimbingan dan

konseling sekolah.

3. Guru

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan guru sebagai dasar untuk memahami

perkembangan siswa, khususnya yang berkaitan dengan perilaku bullying

dan faktor-faktor yang mempengaruhi, misalnya konsep diri dan

konformitas teman sebaya.

4. Sekolah

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam

mengambil keputusan dan untuk mengevaluasi hubungan konsep diri dan

konformitas teman sebaya terhadap perilaku bullying siswa.


8

5. Pengembangan ilmu

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan masukan yang

meliputi bahan pemikiran dan pertimbangan dalam pengembangan layanan

bimbingan dan konseling pada siswa di sekolah yang mengarah pada upaya

mengurangi perilaku bullying siswa, khususnya melalui pembentukan

konsep diri siswa yang positif dan mengarahkan siswa untuk memiliki

konformitas yang positif dengan teman sebayanya.

F. Definisi Operasional Variabel

Untuk memperjelas penelitian ini, perlu diuraikan definisi operasional

masing-masing variabel sebagai berikut:

1. Konsep diri

Konsep diri adalah cara siswa dalam memandang, menilai, merasakan,

menerima, dan memahami dirinya sendiri serta kondisi atau situasi di

sekelilingnya, yang diamati dengan angket dan ditandai dengan adanya

indikator-indikator yang meliputi: cara pandang siswa terhadap kondisi

fisik, kemampuan mengontrol diri, kemampuan memahami orang lain,

berpegang teguh pada nilai etik moral, dan memiliki rasa percaya diri.

2. Konformitas teman sebaya

Konformitas teman sebaya didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang

dilakukan siswa sebagai akibat dari tekanan kelompok untuk melakukan hal

yang sama dengan yang dilakukan teman, yang dapat diamati dengan angket

yang ditandai adanya keterlibatan berperilaku dengan teman sebaya, selalu


9

mengikuti ajakan berkelompok, adanya keseragaman kelompok, dan adanya

penerimaan kelompok.

3. Perilaku bullying

Perilaku bullying merupakan suatu perilaku agresif yang bersifat negatif

pada siswa yang dilakukan teman sebayanya secara berulang-ulang dan

dengan sengaja untuk menyakiti teman secara fisik ataupun mental karena

adanya penyalahgunaan ketidakseimbangan kekuatan yang dapat diamati

dengan angket dan yang ditandai dengan adanya: bullying fisik (menampar,

menimpuk, menginjak kaki, menjambak, menjegal, menghukum dengan

berlari keliling lapangan, menghukum dengan cara push up), bullying verbal

(menjuluki, meneriaki, memaki, menghina, mempermalukan di depan

umum, menuduh, menyoraki, menebar gosip, memfitnah), dan bullying

mental/psikologis (memandang sinis, memandang penuh ancaman,

mendiamkan, mengucilkan, memelototi, dan mencibir).