Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN TAHAP PERKEMBANGAN


ANAK USIA SEKOLAH

DISUSUN OLEH:
NURIZA CHOIRUL FHADILAH
P.1337420916022

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN TAHAP PERKEMBANGAN
ANAK USIA SEKOLAH

A. KONSEP KELUARGA
1. Definisi keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam
keadaan saling ketergantungan (Effendi, 2004).
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental,
emosional dan sosial dari tiap anggota (Sudhiarto, 2007).
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena
hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling
berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan
suatu budaya (Bailon dan Maglaya, 1989 dalam Mubarak 2002).

2. Struktur keluarga
a. Pola dan proses komunikasi
Pola interaksi keluarga yang berfungsi untuk bersifat terbuka dan jujur, selalu
menyelesaikan konflik keluarga, berpikiran positif, dan tidak mengulang - ulang
isu dan pendapat sendiri.
b. Struktur peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial
yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi individu
dalam masyarakat misalnya sebagai suami, istri, anak dan sebagainya. Tetapi
kadang peran ini tidak dapat dijalankan oleh masing-masing individu dengan baik.
Ada beberapa anak yang terpaksa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan
anggota keluarga yang lain sedangkan orang tua mereka entah kemana atau malah
berdiam diri dirumah.
c. Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan (potensial dan aktual) dari individu untuk
mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain kearah
positif.
d. Nilai-nilai keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau
tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga
merupakan suatu pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.Norma
adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai
dalam keluarga. Budaya adalah kupulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari,
dibagi, dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah (Murwani,
2007).

3. Tipe atau Bentuk Keluarga


Beberapa tipe atau bentuk keluarga menurut Sudiharto (2007), antara adalah sebagai
berikut:
a. Keluarga inti (Nuclear Family)
Keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri
dari suam, istri, dan anak-anak, baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi.
b. Keluarga besar (Extended Family)
Keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena hubungan darah), misalnya
kakek, nenek, bibi, paman, sepupu termasuk keluarga modern, seperti orang tua
tunggal, keluarga tanpa anak, serta keluarga pasangan sejanis (guy/lesbian
families).
c. Keluarga Campuran (Blended Family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung dan anak-anak tiri.

4. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga menurut Friedman (1998) dalam Sudiharto, (2007), antara adalah
sebagai berikut:
a. Fungsi Afektif (The affective function) : Fungsi keluarga yang utama untuk
mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan
dengan orang lain, fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan
psikososial keluarga.
b. Fungsi Sosialisasi dan penempatan sosial (sosialisation and social placement
fungtion) : Fungsi pengembangan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan
sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar
rumah.
c. Fungsi Reproduksi (reproductive function): Fungsi untuk mempertahankan
generasi menjadi kelangsungan keluarga.
d. Fungsi Ekonomi (the economic function) : Keluarga berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan
kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga.
e. Fungsi Perawatan atau pemeliharaan kesehatan (the healty care function): Fungsi
untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki
produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang
kesehatan.

5. Tugas Perkembangan Keluarga


Siklus kehidupan setiap keluarga mempunyai tahapan-tahapan. Seperti individu-
individu yang mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berturut-turut,
keluarga juga mengalami tahap perkembangan yang berturut-turut. Adapun tahap-
tahap perkembangan keluarga berdasarkan konsep Duvall dan Miller (Friedman,
1998) adalah :
a. Tahap I: keluarga pemula p erkawinan dari sepasang insan menandai bermulanya
sebuah keluarga baru dan perpindahan dari keluarga asal atau status lajang ke
hubungan baru yang intim.
b. Tahap II : keluarga sedang mengasuh anak dimulai dengan kelahiran anak
pertama hingga bayi berusia 30 bulan.
Tugas perkembangan:
1) Perubahan peran menjadi orang tua, Perubahan hidup yang sulit, masa transisi,
tugas kritis. Masalah: Suami merasa diabaikan, peningkatan perselisihan dan
argumentasi suami dan isteri, interupsi dalam jadwal yang continue,
kehidupan seksual dan sosial terganggu.
2) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga : Peran, interaksi, kebutuhan
kebutuhan, keselamatan, keterbatasan, toilet training, komunikasi bayi
3) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangannya:
pembentukan kembali pola komunikasi, Pembentukan perasaan, perkawinan,
hubungan seksual menurun, konseling KB, hubungan perkawinan yang kokoh
dan bergairah sangat penting bagi stabilitas dan moral keluarga.
Masalah kesehatan : Pendidikan maternitas, Perawatan bayi yang baik,
Pengenalan dan penanganan masalah kesehatan fisik secara dini, Imunisasi,
Tumbuh kembang.
c. Tahap III: keluarga dengan anak usia pra sekolah dimulai ketika anak pertama
berusia dua setengah tahun, dan berakhir ketika anak berusia 5 tahun.
d. Tahap IV: keluarga dengan anak usia sekolah dimulai ketika anak pertama berusia
6 tahun dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal
dari masa remaja.
e. Tahap V: keluarga dengan anak remaja yang dimualai ketika anak pertama
melewati umur 13 tahun, berlangsung selama 6 sampai 7 tahun. Tahap ini dapat
lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama jika
anak masih tinggal di rumah hingga berumur 19 atau 20 tahun.
f. Tahap VI: keluarga yang melepas anak usia dewasa muda yang ditandai oleh anak
pertama meninggalkan rumah orang tua dan berakhir dengan rumah kosong, ketika
anak terakhir meninggalkan rumah. Tahap ini dapat singkat atau agak panjang,
tergantung pada berapa banyak anak yang belum menikah yang masih tinggal di
rumah. Fase ini ditandai oleh tahun-tahun puncak persiapan dari dan oleh anak-
anak untuk kehidupan dewasa yang mandiri.
g. Tahap VII: orang tua usia pertengahan, dimulai ketika anak terakhir
meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pensiun atau kematian salah satu
pasangan.
h. Tahap VIII: keluarga dalam masa pensiun dan lansia dimali dengan salah satu
atau kedua pasangan memasuki masa pensiun, hingga salah satu pasangan
meninggal dan berakhir dengan pasangan lainnya meninggal.

B. KONSEP ANAK USIA SEKOLAH


1. DEFINISI
Anak usia sekolah merupakan suatu periode yang dimulai saat anak masuk
sekolah dasar sekitar usia 6 tahun sampai menunjukan tanda akhir masa kanak-
kanak yaitu 12 tahun.
Langkah perkembangan selama anak mengembangkan kompetensi dalam
ketrampilan fisik, kognitif, dan psikososial. Selama masa ini anak menjadi lebih baik
dalam berbagai hal, misalnya mereka dapat berlari dengan cepat dan lebih jauh
sesuai perkembangan kecakapan dan daya tahannya.
2. KELOMPOK ANAK
a. Usia prasekolah : 2 5 tahun
b. Usia sekolah : 6 12 tahun
Kelompok teman sebaya mempengaruhi perilaku anak. Perkembangan fisik,
kognitif dan sosial meningkat. Anak meningkatkan kemampuan komunikasi.
1) Anak usia 6-7 tahun :
a) membaca seperti mesin
b) mengulangi tiga angka mengurut ke belakang
c) membaca waktu untuk seperempat jam
d) anak wanita bermain dengan wanita
e) anak laki-laki bermain dengan laki-laki
f) cemas terhadap kegagalan
g) kadang malu atau sedih
h) peningkatan minat pada bidang spiritual
2) Anak usia 8-9 tahun:
a) kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
b) menggunakan alat-alat seperti palu
c) peralatan rumah tangga
d) ketrampilan lebih individual
e) ingin terlibat dalam segala sesuatu
f) menyukai kelompok dan mode
g) mencari teman secara aktif
h) Anak usia 10-12 tahun:
i) pertambahan tinggi badan lambat
j) pertambahan berat badan cepat
k) perubahan tubuh yang berhubungan dengan pubertas mungkin tampak
l) mampu melakukan aktivitas seperti mencuci dan menjemur pakaian
sendiri
m) memasak, menggergaji, mengecat
n) menggambar, senang menulis surat atau catatan tertentu
o) membaca untuk kesenangan atau tujuan tertentu
p) teman sebaya dan orang tua penting
q) mulai tertarik dengan lawan jenis
r) sangat tertarik pada bacaan, ilmu pengetahuan
3) Usia remaja: 13 - 18 tahun
3. CIRI-CIRI ANAK USIA SEKOLAH
Anak usia sekolah disebut sebagai masa akhir anak-anak sejak usia 6 tahun dengan
ciri-ciri sebagai berikut :
a. Label yang digunakan oleh orang tua
1) Usia yang menyulitkan karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih
dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada orang tua ataupun anggota keluarga
lainnya
2) Usia tidak rapi karena anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh
dalam penampilan
3) Usia bertengkar karena banyak terjadi pertengkaran antar keluarga dan
membuat suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota
keluarga
b. Label yang digunakan pendidik/guru
a. Usia sekolah dasar : anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan
yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan
dewasa dan mempelajari perbagai ketrampilan penting tertentu baik kurikuler
maupu ekstrakurikuler
b. Periode kritis dalam berprestasi : anak membentuk kebiasaan untuk mencapai
sukses, tidak sukses, atau sangat sukses yang cenderung menetap sampai
dewasa
c. Label yang digunakan oleh ahli psikologi
a. Usia berkelompok : perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh
teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok
b. Usia penyesuaian diri : anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui
oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan berperilaku
c. Usia kreatif :suatu masa yang akan menentukan apakah anak akan menjadi
konformis (pencipta karya baru) atau tidak
d. Usia bermain : suatu masa yang mempunyai keinginan bermain yang sangat
besar karena adanya minat dan kegiatan untuk bermain

4. PERKEMBANGAN FISIK
a. Tinggi dan berat badan
Laju pertumbuhan selama tahun sekolah awal lebih lambat dari pada setelah
lahir tetapi, meningkat secara terus menerus. Pada anak tertentu mungkin tidak
mengikuti pola secara tepat. Anak usia sekolah lebih langsing dari pada anak usia
prasekolah, sebagai akibat perubahan distribusi dan kekebalan lemak (Edelmen dan
Mandle, 1994)
Sekolah memberi peluang pada anak untuk membandingkan dirinya dengan
kelompok besar anak anak dengan usia yang sama. Pemeriksaan fisik yang
biasanya diperlukan selama kelas 1 merupakan kesempatan yang baik perawat
untuk mendiskusikan dengan anak dan orang tua tentang pengaruh genetic, nutrisi,
dan olah raga terhadap tinggi dan berat badan. Anak laki laki sedikit labih tinggi
dan lebih berat dari pada anak perempuan selama tahun pertama sekolah. Kira kira
2 tahun sebelum pubertas. Anak mengalami peningkatan pertumbuhan yang cepat.
b. Fungsi kardiovaskular
Fungsi kardiovaskular baik dan stabil selama tahun usia sekolah. Denyut
jantung rata- rata 70 90 denyut/menit, tekanan darah normal 110 / 70 mm Hg dan
frekuensi pernafasan stabil 19 21, Pertumbuhan paru minimal dan pernafasan
menjadi lebih lambat, lebih dalam, dan lebih teratur. Akan tetapi pada akhir periode
ini jantung 6 kali ukurannya saat lahir dan umumnya sudah mencapai ukuran
dewasa.
c. Fungsi neuromuscular
Anak usia sekolah menjadi labih lentur karena koordinasi otot besar meningkat
dan kekuatannya dua kali lipat. Banyak anak berlatih ketrampilan motorik kasar
yaitu berlari, melompat, menyeimbangkan gerak tubuh, dan menangkap selama
bermain. Menghasilkan peningkatan ketrampilan neuromuscular. Perbedaan
individual dalam kecepatan pencapaian penguasaan ketrampilan dasar mulai
terlihat. Perbedaan individual dalam ketrampilan motorik terbentuk dalam
partisipasi anak dalam aktivitas yang membutuhkan pergerakan otot yang
terkoordinasi dan kemampuan motorik halus.
Ketrampilan motorik halus terlambat tertinggal oleh ketrampilan motorik kasar
tetapi berkembang kira- kira dalam kecepatan yang sama, saat kontrol jari dan
pergelangan tangan tercapai, anak menjadi pandai melakukan aktivitas.
Ketrampilan meningkatkan motorik halus pada anak dalam pertengahan masa
kanak kanak membuat mereka menjadi sangat mandiri dalam merawat kebutuhan
personal lain.
Mereka mengembangkan keinginan personal yang kuat dalam proses
kebutuhan ini akan terpenuhi. Penyaklit dan hospitalisasi mengancam pengendalian
anak dalam area ini. Maka sangat penting mengizinkan mereka untuk berpartisipasi
dalam perawatan dan mempertimbangkan kemandirian sebanyak mungkin.
d. Nutrisi
Periode usia sekolah merupakan salah satu masalah nutrisi secara relative. Jika
terjadi defisiensi biasany defisiensi zat besi, vitamin A, atau kalsium. Anak usia
sekolah dapat belajar banyak hal tentang piramida makanan dan diet yang
seimbang dengan membantu menyiapkan makanan. Perawat harus menganjurkan
orang tua untuk menyediakan makanan dalam jumlah yang adekuat bagi anak
untuk mendukung pertumbuhan dan aktivitas.

5. PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perubahan kognitif pada anak usia sekolah adalah pada kemampuan untuk berfikir
dengan cara yang logis. Pemikiran anak usia sekolah tidak lagi di dominasi oleh
persepsinya dan sekaligus kemampuan untuk memahami dunia secara luas. Sekitar 7
tahun, anak memasuki tahap piaget ketiga yaitu perkembangan kognitif, yang di kenal
sebagai operasional konkret, ketika merewka mampu mengunakan symbol secara
operasional (aktivitas mental) dalam pemikiran bukan kerja Mereka mulai menggunakan
proses pemikiran yang logis dengan materi konkret. Periode ini di tandai dengan tiga
kemampuan atau kecakapan yaitu mengklasifikasikan, menyusun, dan mengasosiasikan.
Pada akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem
solving) yang sederhana.
a. Perkembangan bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini
tercakup semua semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan di
nyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-
kata, kalimat bunyi, lambing, gambar atau lukisan, dengan bahasa, semua manusia
dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-
nilai moral atau agama.
Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai
berikut :
a. Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (orang-orang
suara / bicara sudah berfungsi ) untuk berkata kata.
b. Proses belajar yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu
mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi/ meniru ucapan atau
kata-kata yang di dengarnya.
Perkembagan bahasa sangat cepat selama masa kanak-kanak tengah dan pencapaian
berbahasa tidak lagi sesuai dengan usianya. Rata-rata anak usia 6 tahun memiliki
kosakata sekitar 3000 kata yang cepat berkembang dengan meluasnya pergaulan
dengan teman sebaya dan orang dewasa serta kemampuannya membaca. Anak
meningkatkan penggunaan berbahasa dan mengembangkan pengetahuan
strukturalnya. Mereka menjadi lebih menyadari aturan sintaksis, aturan merangkai kta
menjadi kalimat.

6. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Selama masa ini anak berjuang untuk mendapatkan kompetensi dan ketrampilan yang
penting bagi mereka yang berfungsi sama sepertu dewasa. Anak usia sekolah yang
mendapatkan keberthasilan positif merasa adanya perasaan berharga. Anak-anak yang
menghadapi kegagalan dapat merasakan mediokritas (biasa saja ) / perasaan tidak
berharga yang dapat mengakibatkan menarik diri dari sekolah dan teman sebaya.
a. Perkembangan moral
Kebutuhan kode moral dan aturan social menjadi lebih nyata sesuai kemampuan
kognitif dan pengalaman social anak sekolah, mereka memandang aturan sebagai
prinsip dasar kehidupan, bukan hanya perintah dari yang memiliki otoritas.
Anak mulai mengenal konsep moral pertama kali dari lingkungan keluarga. Usaha
untuk menanamkan konsep moral sejak dini merupakan hal yang seharusnya,
karena informasi yang di terima anak mengenai benar salah, baik buruk, akan
menjadi pedoman pada tingkah lakunya.
b. Hubungan sebaya
Anak usia sekolah menyukai sebaya ssejenis dari pada sebaya lain jenis. Identitas
jender yang kuat dapat di lihat pada ikatan yang kuat dengan teman sejenis yang di
pertahankan oleh anak biasa di sebut geng. Umumnya anak laki-laki dan
perempuan memandang jenis kelamin yang berbeda secara negative. Pengaruh
sebaya menjadi lebih berbeda selama tahap perkembangan ini. Konformitas terlihat
pada perilaku, gaya berpakaian, dan pola berbicara yang di dorong dan dipengaruhi
adanya kontak dengan sebaya. Identitas kelompok meningkat, seiring perubahan
anak sekolah menuju adolesens.
c. Identitas seksual
Freud menggambarkan usia sekolah sebagai periode laten karena ia merasa pada
periode ini anak memiliki sedikit ketertarikan dalam seksualitasnya. Sekarang ini
banyak peneliti percaya bahwa anak usia sekolah memiliki ketertarikan yang besar
pada seksualitasnya.
d. Konsep diri dan kesehatan
Selama usia sekolah identitas dan konsep diri menjadi lebih kuat dan lebih
individual. Persepsi sehat sakit berdasarkan pada fakta yang mudah diobservasi
seperti adanya atau tidak adanya penyakit dan keadekuatan tidur atau makan.
Kemampuan fungsional standar untuk kesehatan personal dan kesehatan yang lain
dinilai.

7. TUGAS PERKEMBANGAN ORANGTUA DENGAN ANAK USIA SEKOLAH


Ketika anak memasuki usia sekolah, orangtua sebenarnya merasa bahwa tahapan ini
lebih berkurang kadar sibuknya, karena pekerjaan rumah sudah dapat berjalan secara
rutin. Anak secara umum merasa puas mengenai hubungannya dengan orangtua dan
mulai terlibat dalam aktivitas rumah tangga.
a. Mensupport perkembangan anak
Mendukung perkembangan Anak dilakukan dengan cara membiarkan anak untuk
pergi dan bergabung dengan dunia di luar rumahnya. Semakin lama, akan semakin
sedikit waktu anak tersebut berada di rumahnya. Sejak pagi hingga siang anak
harus bersekolah, kemudian setelah itu tidak jarang anak mengikuti kegiatan
olahraga atau klub-klub tertentu bersama dengan grupnya, sehingga anak pulang ke
rumah dalam keadaan lelah pada malam hari untuk beristirahat. Belum lagi ajakan
temannya untuk menginap di rumahnya, berlibur bersama, ikut camp, mengunjungi
kerabat pada hari libur, dsb. Semua kegiatan tersebut di atas sangat baik untuk
perkembangan anak dalam hal kemandirian, memperluas pengalaman dan untuk
perkembangan kepribadiannya.
Ketika anak mulai bergabung dengan teman sebaya mereka, orientasi mereka mulai
berkembang kearah peernya. Maka orangtua harus mendukung hubungan ini,
karena penelitian membuktikan bahwa anak dengan dukungan yang sangat baik
dari anggota keluarganya akan memgang teguh norma, nilai dan identifikasi
terhadap keluarganya bahkan ketika mereka sedang berinteraksi dengan orang lain
(Bowerman&Kinch, 1959). Seorang ibu yang memiliki hubungan pertemanan yang
hangat akan lebih mudah untuk membiarkan anaknya bergabung dengan dunia luar.
Anak pada usia ini sering menjadikan orang yang lebih tua sebagai figur otoritas.
Anak akan sering berkata tapi kata bu guru begini pada orangtuanya. Hal ini
mengindikasikan bahwa anak sudah mulai keluar dari aturan rumahnya. Anak
menemukan model baru, sikap baru, dan pandangan baru melebihi yang didapat di
keluarganya. Orangtua yang dapat berempati terhadap minat anak dan dapat lebih
melonggarkan aturannya pada anak akan lebih mudahuntuk tidak terlalu mengikat
anak tersebut pada masa remajanya.
Orangtua yang menanamkan minat selain dari urusan anaknya akan lebih mudah
untuk membiarkan anaknya bergabung dengan aktivitas luar rumahnya
dibandingkan orangtua yang memusatkan hidupnya hanya untuk anak mereka.
Pada masa ini, suami dan istri lebih sering bekerja bersama dalam sebuah proyek
disbanding ketika usia anaknya masih preschool ataupun remaja.(Feldman, 1961).
Beberapa aktivitas bersama yang dilakukan dengan anak-anak juga, seperti piknik
keluarga mungkin dapat mengembangkan minat dari suami dan istri untuk
meneruskan hubungannya sebagai sebuah pasangan.
b. Mempertahankan hubungan pernikahan
Beberapa studi, termasuk data dari National Opinion Research Centre
mengindikasikan bahwa efek dari kehadiran anak pada sebuah pernikahan dapat
membawa efek yang negatif. Hal ini ditemukan pada semua ras, agama, level
pendidikan, dan status pekerjaan (Davis, 1978). Sebanyak 6 survey nasional sejak
tahun 1973 sampai 1978 menemukan bahwa kehadiran anak cenderung mengurangi
kebahagiaan orangtua, dalam hal:
1) Ikut campur dalam hubungan pernikahan (marital companionship)
2) Mengurangi spontanitas hubungan seksual antara suami dan istri
3) Meningkatkan potensi kecemburuan dan kompetensi untuk memperoleh afeksi,
waktu dan perhatian,
4) Menjaga pasangan yang tidak bahagia dari perceraian, setidaknya untuk beberapa
saat (Glenn&Mc Lanchan,1982).
Permasalahan pernikahan pada keluarga dengan anak usia sekolah biasanya lebih
sering terjadi dibandingkan momen lainnya. Biasanya mereka mengalami 4 kali
problem lebih sering. Potensi problem terbesar bisanya mengenai pengaturan anak di
rumah, sehingga mengurangi ekspresi afeksi dari pasangan suami-istri, dan dijadikan
nomor kedua (Swensen&Moore, 1979).
Ekspresi cinta dari pasangan mulai berkurang selama perjalanan pernikahan. Hal ini
biasanya terjadi pada pasangan yang menerapkan peran gender tradisional dalam
berhubungan, dimana hubungan keduanya kemudian hanya menjadi sebuah kebiasaan
yang didasarkan pada kebutuhan, perasaan, dan harapan dari satu pihak ke pihak
lainnya. Model pernikahan seperti ini lebih baik menggunakan metode diskusi
daripada menghindar dalam penyelesaian konfliknya, dan yang lebih pentingberusaha
untuk mengekspresikan cintanya secara spontan (Swensen,Eskew,&Kohlhepp, 1981).
Menjaga hubungan pernikahan pada saat usia anak memasuki usia sekolah sangatlah
penting, tidak hanya untuk kepentingan suami dan istri saja, tetapi juga demi
kepentingan anak kelak

8. TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA SEKOLAH


a. Menyediakan Tempat Tinggal yang Cocok dan Memperhatikan Kesehatan Anak
Keluarga dengan anak usia sekolah mencari tempat tinggal yang sesuai dengan
kemampuan mereka.
b. Keuangan Keluarga dengan Anak Usia Sekolah
Pengeluaran keluarga yang paling besar biasanya adalah untuk makan, kemudian
untuk rumah, transport, dan kebutuhan rumah tangga. Ibu sering bekerja untuk
membantu keuangan keluarga dan anak-anak. Kebanyakan ibu bekerja pada
pekerjaan apapun menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan yang
mereka miliki. Penghasilan mereka biasanya tidak sebesar penghasilan suaminya,
tetapi mereka dapat membantu menyediakan segala sesuatu yang dibutuhan
keluarga.
Pekerjaan part time mungkin adalah pekerjaan yang baik untuk ibu ketika
anakberada di sekolah atau ketika ayah mereka dapat menemani anak-anak.
Split shifts memungkinkan banyak ibu yang bekerja sementara suami berada di
rumah. Kesuksesan ibu bekerjatergantung pada pendidikan dan training,
pengalaman kerja sebelumnya, dukungan suami, usia anak, kesehatan serta
dukungan bantuan dari kerabat dekat dan orang lain. Pekerjaan ibu biasanya
harus disesuaikan secara efektif terhadap situasi yang terjadi dalam keluarga
seperti ketika anak sakit, mendapat kecelakaan atau situasi gawat lain yang
menimpa keluarga.
Dual career familiesmerupakan keluarga dimana kedua suami dan istri yang
mempunyai karir dengan posisi yang penting, yang meminta serangkaian
perkembangan dan keahlian serta memerlukan kompetensi dan komitmen yang
tinggi. Ketika salah satu dari mereka mempunyai kesempatan mengambangkan
karir di tempat lain, solusi tradisional untuk istri adalah mendukung karir
suaminya, mengorbankan dirinya dengan tinggal di rumah, mengakhiri
pekerjaannya atau memulai lagi semuanya di lokasi yang baru nanti.
Commuting merupakan jalan keluar yang diambil oleh pasangan yang keduanya
mempunyai karir dimana salah dari mereka tinggal si rumah sedangkan yang
lain pulang pergi kerja selama seminggu, kembali ke keluarga untuk weekends
dan liburan. Keuntungan yang besar adalah perkembangan yang profesional
dengan memisahkan pekerjaan dan waktu untuk keluarga sehingga tidak akan
ada pengaruh negatif pada perembangan anak atau dalam masalah perkawinan.
Ini mungkin terjadi ketika ada kerja sama yang aktif dan kepercayaan antara
suami istri, komunikasi yang terbuka dalam keluarga, keteguhan hati untuk
mengatasi masalah, fleksibel, dan komitmen yang kuat untuk keluarga dan
pekerjaan. (Farris 1978).
c. Pemberian Tanggung Jawab Dalam Memelihara Rumah
Dalam keluarga modern, dapur bukan lagi wilayah eksklusif ibu, tetapi juga
bagi ayah dan anak yang lebih tua.
1) Partisipasi anak
Partisipasi anak dalam menjaga rumahdapat dipertimbangkan, tergantung
bagaimana keluarganya, usia dan jenis kelamin anak, dan apakah ibu
mereka bekerja atau tidak. Anak laki-laki dan perempuan dapat saling
membantu untuk memasak dan membersihkan rumah. Seperti perempuan,
laki-laki pun dapat melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring,
mengurus pekarangan, mobil dan hewan peliharaan. Ibu yang bekerja full
time, partisipasi anak dalam mengurus rumah sangat tinggi, tapi ibu yang
bekerja part-time, partisipasi anak rendah.
2) Bantuan dari suami
d. Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah proses dimana individu dibantu untuk:
1) diterima dalam anggota suatu kelompok
2) mengembangkan sense-nya sebagai social being
3) berinteraksi dengan orang lain dalam variasi peran, posisi, dan status
4) antisipasi terhadap harapan dan reaksi dari orang lain
5) persiapan untuk peran masa depan yang mereka harapkan
Sosialisasi bermanfaat untuk tiap anggota keluarga dalam mengembangkan skills,
attitude dan potensi seseorang di masyarakat. Sosialisasi berlangsung terus
menerus dalam kehidupan sebagai suatu peran baru di setiap situasi baru atau
kelompok yang individu tersebut baru memasukinya. Anak-anak usia sekolah
lebih mengembangkan hubungan dengan orang lain daripada dengan keluarganya
sendiri.
Rasa kedekatan dengan relatives of the family dapat dicapai dengan cara saling
mengunjungi, menulis surat, liburan bersama, reuni keluarga, dll. Anak-anak usia
sekolah dapat berkunjung ke keluarganya yang lain di saat anak tersebut sudah
bisa menjaga dirinya, siap menghadapi tantangan dan tertarik dengan situasi yang
baru. Anak usia sekolah senang berteman dengan berbagai jenis orang. Saat anak
tersebut berhadapan dengan teman yang berbeda tipe, mereka belajar mengatasi
situasi saat ini dan yang akan datang. undesirable friends menurut orangtua
1) anak mengganggu teman mainnya yang lain jenis
2) teman lain suka menyerang
3) bermain bersama tapi tidak sesuai aturan
e. Komunikasi di dalam keluarga dan anak usia sekolah
Keluarga adalah sebuah sarana komunikasi untuk anak usia sekolah. Kebanyakan
anak senang menceritakan pengalaman mereka, banyak bertanya, dan
mengekspresikan sesuatu. Studi longitudinal mengindikasikan masalah awal
seperti destructiveness, temper tantrums dan overactivity menurun secara cepat di
usia sekolah
Komunikasi orangtua-anak didukung saat anak merasa bebas menanyakanatau
berbicara hal personal tentang masalah pubertas yang dialami dan tentang peer
mereka.
Diskusi tentang sex education:
1) Apa yang terjadi di dalam tubuh
2) perbedaan antara 2 sex
3) perbedaan yang dirasakan antar teman sejenis saat beranjak dewasa
4) bagaimana menerima dan dapat nyaman dengan situasi menstruasi pada
perempuan dan seminal emissions pada laki-laki
5) bagaimana cara mengatasi jerawat dan tanda lain yang menunjukkan
meningkatnya fungsi glandular
6) kematangan tubuh apa yang terjadi pada saat sekarang dengan yang akan
datang
Sibling coalition dimana anak dikontrol secara kuat diawalnya sebagai
mekanisme bagi anak agar terikat bersama yang mungkin ikatan sepanjang
hidup antar siblings. Anak yang pertama lahir dapat memiliki orangtua yang
seutuhnya dan terus berlanjut menjadi anak yang unik dalam keluarga. Anak
yang paling akhir, oleh orangtuanya cenderung diberikan banyak toleransi. Anak
tengah merasa bahwa orangtuanya lebih banyak menghukum daripada memberi
dukungan padanya dibandingkan anak tertua dan anak terakhir. Dalam studi
tentang selfesteem anak tengah memiliki tingkat yang rendah selfesteem-nya
dibandingkan anak pertama dan terakhir.

C. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN TAHAP


PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH
1. Pengkajian
a. Identitas keluarga yang dikaji adalah umur, pekerjaan, tempat tinggal, dan tipe
keluarga .
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini Tahap perkembangan keluarga
ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi Menjelaskan
mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta
kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi.
3) Riwayat keluarga inti Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada
keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan
masing-masing anggota keluarga, perhatian terhadap pencegahan penyakit
(status imunisasi), sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga
serta pengalaman-pengalaman terhadap pelayanan kesehatan.
4) Riwayat keluarga sebelumnya Dijelaskan mengenai riwayat kesehatan
pada keluarga dari pihak suami dan istri.
c. Latar belakang budaya /kebiasaan keluarga
1) Kebiasaan makan Kebiasaan makan ini meliputi jenis makanan yang
dikosumsi oleh keluarga .
2) Pemanfaatan fasilitas kesehatan Perilaku keluarga didalam memanfaatkan
fasilitas kesehatan merupakan faktor yang penting dalam penggelolaan
penyakit.
3) Pengobatan tradisional Merupakan pilihan bagi keluarga untuk
menentukan pengobatan yang diinginkan ataupun alternative pilihan yang
dipilih yaitu pengobatan tradisional.
d. Status Sosial Ekonomi
1) Pendidikan
Tingkat pendidikan keluarga mempengaruhi keluarga dalam mengenal suatu
penyakit dan pengelolaannya. Berpengaruh pula terhadap pola pikir dan
kemampuan untuk mengambil keputusan dalam mengatasi masalah dangan
tepat dan benar.
2) Pekerjaan dan Penghasilan
Penghasilan yang tidak seimbang juga berpengaruh terhadap keluarga dalam
melakukan pengobatan dan perawatan pada angota keluarga yang sakit salah
satunya disebabkan karena suatu penyakit. Menurut (Effendy,1998)
mengemukakan bahwa ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang sakit salah satunya disebabkan karena tidak seimbangnya
sumber-sumber yang ada pada keluarga .
e. Tingkat perkembangan dan riwayat keluarga
Riwayat keluarga mulai lahir hingga saat ini termasuk riwayat perkembangan dan
kejadian serta pengalaman kesehatan yang unik atau berkaitan dengan kesehatan yang
terjadi dalam kehidupan keluarga yang belum terpenuhi berpengaruh terhadap
psikologis seseorang yang dapat mengakibatkan kecemasan.
f. Aktiftas
Pola aktifitas yang dipilih oleh suatu keluarga dapat berpengaruh terhadap terjadinya
suatu penyakit dan gaya hidup suatu keluarga.
g. Data Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Cara memodifikasikan lingkungan fisik yang baik seperti lantai rumah,
penerangan dan fentilasi yang baik dapat mengurangai faktor penyebab terjadinya
suatu penyakit.
2) Karakteristik Lingkungan
Derajat kesehatan dipengaruhi oleh lingkungan. Ketenangan lingkungan sangat
mempengaruhi derajat kesehatan.
h. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi
Semua interaksi perawat dengan pasien adalah berdasarkan komunikasi. Istilah
komunikasi teurapetik merupakan suatu tekhnik diman usaha mengajak pasien
dan keluarga untuk bertukar pikiran dan perasaan. Tekhnik tersebut mencakup
ketrampilan secara verbal maupun non verbal, empati dan rasa kepedulian yang
tinggi.
2) Struktur Kekuasaan
3) Kekuasaan dalam keluarga mempengaruhi dalam kondisi kesehatan, kekuasaan
yang otoriter dapat menyebabkan stress psikologik.
i. Struktur peran
Anggota keluarga menerima dan konsisten terhadap peran yang dilakukan, maka ini
akan membuat anggota keluarga puas atau tidak ada konflik dalam peran, dan
sebaliknya bila peran tidak dapat diterima dan tidak sesuai dengan harapan maka akan
mengakibatkan ketegangan dalam keluarga .Fungsi keluarga
1) Fungsi afektif
2) Keluarga harus saling menghargai satu dengan yang lainnya agar tidak
menimbulkan suatu permasalahan maupun stressor tertentu bagi anggota keluarga
itu sendiri.
3) Fungsi sosialisasi.
4) Keluarga memberikan kebebasan bagi anggota keluarga dalam bersosialisasi
dengan lingkungan sekitar. Bila keluarga tidak memberikan kebebasan pada
anggotanya, maka akan mengakibatkan anggota keluarga menjadi sepi. Keadaan
ini mengancam status emosi menjadi labil dan mudah stress.
5) Fungsi kesehatan
Hal-hal yang perlu dikaji untuk mengetahui sejauh mana keluarga melakukan
pemenuhan tugas perawatan keluarga adalah :
a) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, yang
perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga memahami fakta-fakta dari masalah
kesehatan yang meliputi: pen gertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan
yang mempengaruhinya serta persepsi keluarga terhadap masalah.
b) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai
tindakan kesehatan yang tepat, hal yang perlu dikaji adalah ;
i. Sejauhmana kemampuan keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya
masalah
ii. Apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga
iii. Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami
iv. Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari penyakit
v. Apakah keluarga mempunyai sikap negatif terhadap masalah kesehatan.
vi. Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada.
vii. Apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan.
viii. Apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap tindakan
dalam mengatasi masalah.
c) Mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga
yang sakit, termasuk kemampuan memelihara lingkungan dan menggunakan
sumber/fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat, yang perlu dikaji adalah ;
1) Apakah keluarga mengetahui sifat dan perkembangnan perawatan yang
dibutuhkan untuk menanggulangi masalah kesehatan/ penyakit.
2) Apakah keluarga mempunyai sumber daya dan fasilitas yang diperlukan
untuk perawatan.
3) Keterampilan keluarga mengenai macam perawatan yang diperlukan
memadai.
4) Apakah keluarga mempunyai pandangan negatif terhadap perawatan
yang diperlukan
5) Adakah konflik individu dan perilaku mementingkan diri sendiri dalam
keluarga
6) Apakah keluarga kurang dapat memelihara keuntungan dalam
memelihara lingkungan dimasa mendatang.
7) Apakah keluarga mempunyai upaya penuingkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit
8) Apakah keluarga sadar akan pentingnya fasilitas kesehatan dan
bagaimana pandangan keluarga akan fasilitas tersebut.
9) Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari tindakan (diagnostik,
pengobatan dan rehabilitasi).
10) Bagaimana falsafah hidup keluarga berkaitan dengan upaya perawatan
dan pencegahan.
d) Fungsi reproduksi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah:
1.) Berapa jumlah anak
2.) Bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga
3.) Metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah
anggota keluarga .
e) Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah :
1.) Sejauhmana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan
2.) Sejauhmana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat sdalam
upaya peningkatan status kesehatan keluarga .
f) Pola istirahat tidur
Istirahat tidur seseorang akan terganggu manakala sedang mengalami masalah
yang belum terselesaikan
g) Stress dan Koping keluarga
1) Stressor jangka pendek dan panjang
Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari 6 bulan.
2) Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.
3) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor
Hal yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga berespon terhadap
situasi/stressor.
4) Strategi koping yang digunakan
Strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.
5) Strategi adaptasi disfungsional
Strategi adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi
permasalahan
h) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap semua anggota keluarga . Metode yang
digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di
klinik.
i) Pengkajian Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah, type rumah,
jumlah ruangan, jumlah jendela, jarak septic tank dengan sumber air,
sumber air minum yang digunakan serta denah rumah.
2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat
yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan/kesepakatan penduduk
setempat, budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.
3) Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan kebiasaan keluarga
berpindah tempat.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta
perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana interaksi keluarga dengan
masyarakat.
5) Sistem pendukung keluarga
Yang termasuk dalam sistem pendukung keluarga adalah jumlah anggota
keluarga yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang
kesehatan. Fasilitas mencakup fasilitas fisik, fasilitas psikologis atau dukungan
dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan dari masyarakat
setempat.

f. Pengkajian Anak Sekolah


1) Bagaimana karakteristik teman bermain
2) Bagaimana lingkungan bermain
3) Berapa lama anak menghabiskan waktunya disekolah
4) Bagaimana stimulasi terhadap tumbuh kembang anak dan adakah sarana yang
dimilikinya
5) Bagaimana temperamen anak saat ini
6) Bagaiman pola anak jika menginginkan sesuatu barang
7) Bagaimana pola orang tua menghadapi permintaan anak
8) Bagaimana prestasi yang dicapai anak saat ini
9) Kegiatan apa yang diikuti anak selain di sekolah
10) Sudahkah memperoleh imiunisasi ulangan selama disekolah
11) Pernahkah mendapat kecelakaan selama disekolah atau dirumah saat bermain
12) Adakah penyakit yang muncul dan dialami anak selama masa ini
13) Adakah sumber bacaan lain selain buku sekolah dan apa jenisnya
14) Bagaimana pola anak memanfaatkan waktu luangnya
15) Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga
g. Harapan keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas
kesehatan yang ada.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kurang pengetahuan orang tua b/d kurangnya informasi tentang tahap
perkembangan anak.
2. Gangguan rasa aman (cemas) b/d kurang pengetahuan ibu tentang tumbang anak
3. Risiko terhadap cedera b/d keadaan tumbang dan lingkungan.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Dx 1
Intervensi
a. Jelaskan pada orang tua tentang proses tumbang yang terjadi.
b. Bantu ibu/orang tua untuk mengerti dan mengetahui tentang tahapan tumbang
yang dilewati anak dengan masa pertumbuhan dan perkembangan.
c. Anjurkan ibu membaca berbagai tips perawatan anak

2. Dx 2
intervensi
a. Bantu ibu mengetahui tahapan yang seharusnya terjadi pada anak saat ini
sesuai umur.
b. Bantu menurunkan tingkat kecemasan dengan informasi yang diberikan
c. Beri dukungan pada ibu untuk tetap menjaga kesehatan anaknya dan tetap
memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.

3. Dx 3
Intervensi
a. Awasi anak saat makan, mandi, bermain, eliminasi
b. Lindungi kaki anak dengan sandal/ sepatu
c. Beri makanan yang aman untuk usia anak
d. Periksa suhu air mandi sebelum dimandikan
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,Lynda Juall.2000.Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8.Jakarta:EGC


Wong,Donna L.2003.Pedoman Klinis Keperawatan Pediatri.Jakarta:EGC
Berhrman, Kliegman, & Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta. Buku
Kedokteran EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8.Jakarta: EGC
Hidayat, A.Z. 2011. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta.
Salemba Medika.
Kriteria Hasil NOC. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.
Muscari, Mary.E. 2005. Keperawatan Pediatrik. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.
Supartini. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.
Wong, D.L,dkk. 2004. Pedoman Klinik Keperawatan Pediatrik. Jakarta. Buku Kedokteran
EGC.