Anda di halaman 1dari 1

Monarki berasal dari kata ‘monarch’ yang berarti raja, yaitu jenis kekuasaan politik di mana raja atau

ratu sebagai pemegang kekuasaan dominan negara (kerajaan). Para pendukung monarki biasanya
mengajukan pendapat bahwa jenis kekuasaan yang dipegang oleh satu tangan ini lebih efektif untuk
menciptakan suatu stabiltas atau konsensus di dalam proses pembuatan kebijakan. Perdebatan yang
bertele-tele, pendapat yang beragam, atau persaingan antarkelompok menjadi relatif terkurangi oleh
sebab cuma ada satu kekuasaan yang dominan.

Negara-negara yang menerapkan jenis kekuasaan monarki hingga saat ini adalah Inggris, Swedia,
Denmark, Belanda, Norwegia, Belgia, Luxemburg, Jepang, Muangthai, dan Spanyol. Di negara-negara ini,
monarki menjadi instrumen pemersatu yang cukup efektif, misalnya sebagai simbol persatuan antar
berbagai kelompok yang ada di tengah masyarakat. Kita perhatikan negara yang modern dan maju
seperti Inggris dan Jepang pun masih menerapkan sistem monarki.

Namun, di negara-negara ini, penguasa monarki harus berbagi kekuasaan dengan pihak lain, terutama
parlemen. Proses berbagi kekuasaan tersebut dikukuhkan lewat konstitusi (Undang-undang Dasar), dan
sebab itu, monarki di era negara-negara modern sesungguhnya bukan lagi absolut melainkan bersifat
monarki konstitusional. Bahkan, kekuasaannya hanya bersifat simbolik (sekadar kepala negara)
ketimbang amat menentukan praktek pemerintahan sehari-hari (kepala pemerintahan). Di ke-10 negara
monarki yang telah disebut di atas, pihak yang relatif lebih berkuasa untuk menentukan jalannya
pemerintahan adalah parlemen dengan perdana menteri sebagai kepala pemerintahannya.

Jenis monarki lainnya yang kini masih ada adalah Arab Saudi. Negara ini berupa kerajaan dan raja adalah
sekaligus kepala negara dan pemerintahan. Kekuasaan raja tidak dibatasi secara konstitusional, tidak
ada partai politik dan oposisi di sana. Pola kekuasaan di Arab Saudi juga dikenal sebagai dinasti (Dinasti
al-Saud), di mana pewaris raja adalah keturunannya.

Bentuk pemerintahan yang buruk di dalam satu tangan adalah Tirani. Tiran-tiran kejam yang pernah
muncul dalam sejarah politik dunia misalnya Kaisar Nero, Caligula, Hitler, atau Stalin. Meskipun Hitler
atau Stalin memerintah di era negara modern, tetapi jenis kekuasaan yang mereka jalankan pada
hakekatnya terkonsentrasi pada satu tangan, di mana keduanya sama sekali tidak mau membagi
kekuasaan dengan pihak lain, dan kerap kali bersifat kejam baik terhadap rakyat sendiri maupun lawan
politik.