Anda di halaman 1dari 38

Pedoman

Pelayanan Pelayanan Anestesi

LEMBAR PENGESAHAN

0 / 38
Pedoman Pelayanan Anestesi

No. Dokumen No. Revisi Halaman


00 1 / 38

Ditetapkan,
Tanggal terbit: Direktur RSUD Majene

PEDOMAN Januari 2017

Dr. H. Rakhmat Malik

BAB 1
PENDAHULUAN

1 / 38
a. Latar Belakang
Pelayanan anestesi pada hakekatnya harus bisa memberikan
tindakan medis yang aman, efektif, berperikemanusiaan berdasarkan ilmu
kedokteran yang mutakhir dan teknologi tepat guna dengan
mendayagunakan sumber daya manusia yang berkompeten dan
profesional dalam mengunakan peralatan dan obat-obatan yang sesuai
standar, pedoman dan petunjuk profesi anestesiologi. Pelayanan anestesi
di Rumah Sakit Umum Daerah Majene antara lain meliputi pelayanan
anestesi/ analgesia di Kamar Operasi, pelayanan perioperatif, resusitasi
jantung-paru, pelayanan kegawatdaruratan intensif.
Jenis pelayanan yang diberikan oleh setiap rumah sakit berbeda
tergantung dari fasilitas sarana dan sumber daya manusia yang dimiliki
oleh tiap rumah sakit. Oleh sebab itu, dalam rangka meningkatkan mutu
pelayanan anestesi di Rumah Sakit Umum Daerah Majene disusunlah
Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Anestesi dan Sedasi.

b. Tujuan
1. Memberikan pelayanan anestesi, anelgesi dan sedasi secara
berperikemanusiaan dan memuaskan bagi pasien yang menjalani
pembedahan, prosedur medis atau trauma yang menyebabkan rasa
nyeri, kecemasan dan stress psikis lain.
2. Melakukan reanimasi atau resusitasi (basic, advanced, prologed life
support) pada kegawatan mengancam nyawa dimanapun pasien
berada (IGD, kamar operasi, ruang pulih, dan ruangan lainnya)
3. Menunjang fungsi vital tubuh terutama jalan nafas, pernafasan,
kardiovaskular, dan kesadaran pasien yang mengalami gangguan
atau ancaman nyawa karena menjalani pembedahan, prosedur medis,
trauma atau penyakit lain.
4. Menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, asam basa dan
metabolisme tubuh pasien yang mengalami gangguan atau ancaman
nyawa pada pembedahan, prosedur medis, trauma atau penyakit lain.

2 / 38
c. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512 Tahun 2007
tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1438 Tahun 2010
tentang Standar Pelayanan Kedokteran;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2011
tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Anestesiologi dan Terapi
Intensif di Rumah Sakit;

d. Ruang Lingkup
Pelayanan anestesiologi di Rumah Sakit Umum Daerah Majene meliputi
tindakan untuk mengatasi pasien gawat, penilaian pra-anestesi, intra-
anestesi, dan pasca anestesi serta pelayanan lain sesuai bidang
anestesiologi. Instansi dan unit yang terlibat dan terkait dengan pelayanan
ini meliputi:
1. Unit Rawat Jalan (kamar operasi)
2. Unit Rawat Inap
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Ruang pemulihan
5. Kamar Bersalin

e. Batasan Operasional
Batasan Operasional berikut ini merupakan batasan istilah yang
bersumber dari Buku Standar Pelayanan Kedokteran tahun 2010.

1. Pengertian Anestesi dan Sedasi


Anestesi dan Sedasi adalah pemberian obat untuk seorang individu
sesuai dosis yang dibutuhkan melalui rute intravena, intramuskular,
maupun inhalasi untuk menginduksi kehilangan sebagian atau seluruh
sensasi dalam melakukan prosedur operasi atau lainnya.

3 / 38
2. Jenis Anestesi dan Sedasi
a. Analgesia adalah eliminasi atau pengurangan rasa sakit
b. Anestesi lokal adalah penghapusan sensasi, terutama rasa sakit
di salah satu bagian tubuh akibat pemberian obat-obat topikal
atau injeksi obat regional.
c. Sedasi Ringan adalah keadaan terinduksi dimana pasien
masih merespon normal terhadap perintah verbal, meskipun
fungsi kognitif dan koordinasi dapat terganggu. Fungsi ventilasi
dan kardiovaskuler tidak terganggu. Pasien tetap sadar pada
stimulus lingkungan tanpa adanya gangguan orientasi orang, dan
tempat atau minimal. Fungsi motorik kasar mungkin sedikit
berkurang.
d. Sedasi Sedang adalah turunnya kesadaran seseorang akibat
pengaruh obat-obatan dimana pasien masih dapat merespon
instruksi verbal ataupun dengan rangsangan taktil ringan. Tidak di
butuhkan intervensi dalam menjaga jalan nafas paten, dan
pernafasan spontan pasien tetap mencukupi. Mungkin terdapat
gangguan respon ventilasi ringan, namun fungsi kardiovaskuler
biasanya tetap baik. Diperlukan pengawasan terhadap respon
ventilasi dan fungsi kardiovaskuler. Terdapat gangguan orientasi
yang cukup bermakna terhadap lingkungan, dengan gangguan
fungsi motorik kasar ringan hingga sedang.
e. Sedasi Dalam adalah turunnya kesadaran seseorang akibat
pengaruh obat-obatan dimana pasien tidak mudah untuk
dibangunkan tetapi dapat merespon rangsangan berulang
ataupun rangsangan nyeri fisik yang bermakna. Dapat terjadi
gangguan respon ventilasi sedang. Dibutuhkan intervensi dalam
menjaga jalan nafas paten dan pernafasan spontan pasien.
Monitoring fungsi pernafasan dan kardiovaskuler harus dilakukan.
Terdapat potensi terjadinya penurunnya reflek proktektif jalan
nafas parsial atau komplit, fungsi kardiovaskuler dapat tertekan.
Terdapat gangguan fungsi motorik kasar sedang disertai
hilangnya tonus otot.

4 / 38
f. Anestesi Regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian
tubuh sementara pada impuls syaraf sensorik sehingga impuls
nyeri dari satu bagian tubuh di blokir untuk sementara. Fungsi
motorik dapat terganggu sebagian atau seluruhnya, tetapi pasien
tetap sadar. Anestesi regional dilakukan pada berkas syaraf
dekat medulla spinalis atau pada medulla spinalis.
g. Anestesi Umum adalah penurunan kesadaran pasien yang tidak
dapat dibangunkan, bahkan dengan stimulus nyeri yang kuat.
Kemampuan untuk menjaga fungsi nafas dan kardiovaskuler
terganggu. Pasien memerlukan bantuan dalam menjaga jalan
nafas tetap adekuat, dan ventilasi tekanan positif mungkin
diperlukan karena pengaruh obat-obatan yang menyebabkan
depresi fungsi neuromuscular. Fungsi kardiovaskuler mungkin
terganggu. Hanya dokter spesialis anestesi yang boleh melakukan
anestesi umum.
3. Anestesiologist
Anestesiologist adalah dokter spesialis yang melakukan anestesi.
Dokter anestesi selama pembedahan berperan memantau tanda-
tanda vital pasien karena sewaktu-waktu dapat terjadi perubahan yang
memerlukan penanganan secepatnya. Rangkaian kegiatan ini
merupakan kegiatan sehari-hari dokter anestesi:
a. Mempertahankan jalan nafas
b. Memberi nafas bantuan
c. Membantu kompresi jantung bila berhenti
d. Mempertahankan kerja otak pasien

BAB 2
STANDAR KETENAGAAN

5 / 38
a. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Kualifikasi sumber daya manusia pelayanan anestesi di RSUD Majene :
1. Dokter anestesi merupakan dokter yang telah menyelesaikan program
pendidikan dokter spesialis anestesi.
2. Perawat anestesi di kamar operasi adalah perawat anestesi full
timer, dengan kualifikasi D3 keperawatan dan memiliki sertifikat
bantuan hidup dasar.
3. Perawat terlatih di bidang anestesi yaitu perawat yang telah bekerja
pada pelayanan anestesi di RS minimal 1 tahun kerja.

b. Distribusi Ketenagaan
1. Dokter Spesialis Anestesi
Tenaga dokter anestesi yang tersedia di Rumah Sakit Umum Daerah
Majene terdiri dari 1 dokter anestesi full timer yang memiliki ijin
praktek dan mendapat surat penugasan klinis direktur.
Jika dokter anestesi berhalangan hadir/ tidak bisa melakukan
pelayanan anestesi, maka tindakan operasi dirujuk ke Rumah Sakit
lain.
2. Perawat Anestesi
Jumlah Perawat Anestesi di Kamar Operasi ada 2 perawat anestesi.

c. Pengaturan Jaga
Pengaturan jaga atau jadwal dinas adalah pengaturan tugas pelayanan
bagi perawat anestesi untuk melaksanakan tugas pelayanan di Unit
Kamar Operasi sehingga semua kegiatan pelayanan anestesi dapat
terkoordinir dengan baik. Pengaturan dinas dibuat 3 shift yaitu:
1. Dinas pagi pukul 07.30-14.00
2. Dinas middle pukul 10.00-16.30
3. Dinas siang pukul 14.00-20.30

6 / 38
BAB 3
STANDAR FASILITAS

a. Denah Kamar Operasi

b. Standar Fasilitas
1. Set spinal
a. Kom betadine
b. Kassa
c. Spuit 3 cc – 5 cc
d. Obat bupivacaine heavy 0.5%
e. Jarum spinocan
f. Hansaplast
g. Sarung tangan steril

2. Set general anestesi


a. Mesin Anestesi
b. Mesin Suction
c. Jackson Ress

7 / 38
d. Face Mask
e. Set Laringoscope
f. Stetoskop
g. ETT/ LMA
h. Oropharengeal airway – Nasopharengeal airway
i. Magill
j. Spuit 3 cc, 5 cc, 10 cc, 20 cc
k. Selang suction
l. Plester
m. Xylocain spray
n. Stylet / mandrain
o. Handscone non steril
p. Cateter suction mulut/ ETT

3. Set Epidural
a. Kom bethadine
b. Kassa
c. Spuit 3cc, 5cc, 10cc
d. Sarung tangan steril
e. Set epidural no.18
f. NaCl 25 ml
g. Lidocain 2%
h. Bupivacain 0,5%
i. Epinefrine
j. Tegaderm
k. Hansaplast

4. Peralatan emergency untuk sedasi dan anlgesik


Peralatan emergency yang sesuai harus tersedia saat melakukan
sedasi atau analgetik yang berpotensi untuk menyebabkan depresi
kardiorespirasi.
a. Peralatan intravena:
1) Sarung tangan
2) Tourniquet

8 / 38
3) Swab alcohol
4) Kassa steril
5) IV cateter no: 18, 20, 22
6) Selang infuse
7) Cairan infuse
8) Spuit dengan berbagai ukuran
9) Perekat
b. Peralatan untuk jalan nafas dasar
1) Sumber oksigen yang bertekanan
2) Suction mesin
3) Suction cateter
4) Face mask
5) Ambu bag bayi-dewasa
6) Oropharengeal airway-nasopharingeal airway
7) Jelly
c. Peralatan jalan nafas lanjut
1) ETT, LMA
2) Set laringoskop
3) Mandrain
d. Obat-obat antagonis
1) Nokoba
e. Obat-obat emergency
1) Epinefrine
2) Efedrine
3) Dopamin
4) Atropine
5) Dexametason
6) Amiodaron
7) Lidocain
8) Dextrose 10%
9) Aminofilin
10) Metylprednisolon
11) Diazepam, midazolam

9 / 38
c. Standar Fasilitas Anestesi di Kamar Operasi

No Nama Jumlah Keterangan


1 Alat
Mesin Anestesi 1 Berada di kamar operasi I
2 Ventilator 1 Berada di kamar operasi I
3 N2O 2 2 Tabung Besar
4 Oksigen 5 5 Tabung Besar, 1 Tabung kecil
5 Monitor Pasien 1 Di gunakan begantian dari
kamar operasi ke ruang pulih
6 Suction Pump 2 1 besar di kamar operasi,
1 kecil untuk resusitasi bayi
7 DC Shock - -
8 Ambubag 2 1(satu) dewasa
1(satu) bayi/ anak
9 Laringoskop 2 1(satu) dewasa
1(satu) bayi/ anak
10 Magill Forcep 3 Penyimpanan di kamar
operasi I
11 Syringe Pump 1 Berada di ruang pemulihan
12 Stetoskop 2 1(satu) dewasa
1(satu) bayi/ anak
13 Humidifier 5 2 berada di kamar operasi,
3 berada di ruang pemulihan
14 Meja Operasi 2 Berada di tiap kamar operasi
15 Trolley Emergency 1 Berada di Ruang pemulihan

10 / 38
BAB 4
TATA LAKSANA PELAYANAN

a. Pelayanan dan Dokumentasi Pelayanan Anestesi


Pelayanan anestesi di RSUD Majene pada hari senin s.d. sabtu dari jam
07.30 s.d. 18.00 WIB baik elektif maupun emergency. Pada pelayanan
anestesi ini semua didokumentasikan lengkap oleh dokter spesialis
anestesi dalam form anestesi yang tersedia. Semua isian dari formulir
anestesi meliputi:
1. Pelayanan sedasi sedang dan moderat di RSUD Majene meliputi:
a. Pelayanan Kamar Operasi
b. Pelayanan Kamar Bersalin
c. Pelayanan Instalasi Gawat Darurat
d. Pelayanan Ruang Intensif (ICU)
2. Pengkajian pre-anestesi
Pengkajian pre-anestei dilakukan oleh dokter spesialis anestesi di
ruang rawat inap/ ruang penerimaan pasien di kamar operasi jika
pasien dilakukan operasi elektif.
a. Untuk operasi CITO, maka pengkajian dilakukan di ruang
penerimaan pasien di kamar operasi pada hari tersebut.
b. Untuk pasien ODC, maka pengkajian dilakukan di ruang
penerimaan pasien di kamar operasi sebelum operasi
dilakukan.
c. Pengkajian pre anestesi meliputi:
i. Mempelajari rekam medis pasien
ii. Anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien
iii. Mempelajari hasil penunjang dan konsultasi
iv. Menetukan resiko anestesi
d. Menentukan rencana pelayanan, dokter anestesi termasuk
metode, obat, persiapan pasien dan premedikasi yang diperlukan.
e. Setelah melakukan pengkajian, dokter spesialis anestesi
memberikan penjelasan kepada pasien untuk mendapatkan

11 / 38
persetujuan tertulis dari pasien, ataupun wali yang sah
menurut hukum.
3. Pengkajian Pre-induksi
Diisi di ruang pre induksi dan dilakukan penilaian ulang terhadap
pasien:
a. Fungsi jalan nafas dan fungsi pernafasan
b. Fungsi kardiovaskuler
c. Fungsi kesadaran
d. Fungsi ginjal
e. Fungsi pencernaan
f. Puasa
g. Obat yang di gunakan
h. Bila di temukan masalah segera dilakukan tindakan.
Sebelum operasi dimulai selalu cek persiapan alat yang meliputi:
a. Sumber oksigen, cek tekanan sentral
b. Alat untuk membebaskan jalan nafas.
c. Mesin anestesi dicek, tersambung dengan sumber oksigen,
sumber listrik, tes kebocoran, dicek inhalasi, soda lime, ventilator
d. Alat bantu nafas
e. Fungsi alat suction
f. Monitor EKG, saturasi, tekanan darah
g. Alat untuk anestesi regional
h. Defibrilator
i. Meja operasi dicek fungsinya
Obat-obatan dan alat kesehatan yang diperlukan seperti:
a. Fentanyl disiapkan dalam syringe 10 cc dengan sedian 10mg/cc
dan sudah di beri label untuk pasien anak maupun bayi
b. Fentanyl disiapkan dalam syringe 3 cc dengan sediaan
50mg/cc dan sudah diberi label
c. Midazolam disiapkan dalam syringe 5 cc dengan sediaan
1mg/cc dan sudah diberi label
d. Fresofol disiapkan dalam syringe 10 cc dengan sediaan 10mg/cc
dan sudah diberi label

12 / 38
e. Ketamin disiapkan dalam syringe 10 cc dengan sediaan
10mg/cc dan sudah diberi label
f. Morfin disiapkan dalam syringe 10 cc dengan sediaan 1mg/cc
dan sudah diberi label
g. Pethidine disiapkan dalam syringe 10 cc dengan sediaan
10mg/cc dan sudah diberi label
h. Rocuronium disiapkan dalam syringe 5cc dengan sediaan
1mg/cc dan sudah diberi label
i. Gas Sevoflurance disiapkan pada vaporizer berwarna kuning,
dicek isinya
j. Obat-obat emergency disiapkan

4. Pasien yang mencakup pelayanan anestesi:


a. Kamar Operasi
b. Kamar Bersalin
c. Rawat Inap
d. Intensif Care Unit
e. Instalasi Gawat Darurat

b. Induksi
Pada tahap ini pasien sudah siap dan akan segera dilakukan
pembiusan baik general maupun regional.
1. Anestesi Umum
Diberikan loading dosis obat anestesi baik secara inhalasi maupun
intravena agar pasien mulai tidur serta dilanjutkan dengan
maintanance untuk memelihara kadar obat anestesi. Pada tahap ini
gas inhalasi dapat diberikan pada facemask maupun intubasi. Dalam
melakukan intubasi, dokter anestesi dibantu perawat anestesi.
2. Anestesi Regional
Pada persiapan alat sub arachnoid block, epidural maupun block
perifer, alat dalam keadaan steril di atas meja mayo, dokter anestesi
menggunakan sarung tangan steril, dan daerah yang akan diinjeksi
regional akan didesinfeksi terlebih dahulu. Tahapan prosedur ini
dilakukan secara steril.

13 / 38
Setelah dilakukan induksi, pasien akan disiapkan ke posisi operasi
sesuai kebutuhan operasinya. Pada masa ini selalu dilakukan
penilaian ulang secara terus-menerus setiap 5 menit dan
didokumentasikan setiap 5 menit terhadap tanda vital oleh dokter
anestesi dan perawat anestesi.
Tugas perawat anestesi selama anestesi berlangsung adalah:
a. Membebaskan jalan nafas dengan cara mempertahankan
posisi kepala tetap ekstensi.
b. Memenuhi keseimbangan oksigen dan karbondioksida dengan
cara memantau flowmeter pada mesin anestesi.
c. Mempertahankan keseimbangan cairan dengan cara mengukur
dan memantau cairan tubuh yang hilang selama pembedahan.
d. Mengukur tanda-tanda vital
e. Memberikan obat-obatan sesuai program anestesi
f. Melaporkan hasil pemantauan kepada dokter anestesi
g. Menjaga keamanan pasien dari bahaya jatuh
h. Menilai efek hilangnya obat anestesi dari pasien
i. Mendokumentasikan semua yang dilakukan dan temuan selama
pemberian anestesi di catatan anestesi pasien operasi.

c. Pasca Operasi
Pasien diobservasi di ruang pulih sadar dengan dipasang monitor. Di
ruang pemulihan dilakukan pengawasan terhadap fungsi tanda vital,
adanya perdarahan yang masih mungkin terjadi dan evaluasi derajat nyeri
pasca pembedahan. Adanya mual-muntah juga harus diperhatikan.
Adanya kegawatan fungsi tanda vital harus dilaporkan kepada dokter
anestesi.
Pasca operasi sebelum keluar dari ruang operasi/ sebelum pindah ke
ruang pemulihan hal-hal yang harus didokumentasikan:
1. Waktu tiba dan keluar dari ruang pemulihan.
2. Pasien dipindah dari ruang pemulihan menggunakan Aldrete Score
pada pasien dewasa dan Steward Score pada anak-anak, Bromage
Score pada Spinal anestesi, penilaian akhir dilakukan oleh dokter

14 / 38
anestesi dan atas persetujuan dokter anestesi. Kriteria keluar dari
ruang pemulihan bila Aldrete Score ≥ 9, Bromage ≤ 2 dan Steward
Score ≥5.

d. Observasi dan Perawatan Pasca Anestesi


Dokter spesialis anestesi bertanggung jawab melakukan verifikasi
bahwa hal-hal tersebut diatas dilakukan secara benar dan dicatat dalam
rekam medis pasien.

e. Anestesi pada anak-anak


Tujuan pemberian anestesi pada anak:
1. Untuk memberikan pelayanan anestesi yang aman bagi anak
2. Untuk pengendalian rasa sakit setelah operasi
Anak-anak menerima teknik anestesi yang sama seimbang seperti orang
dewasa, yang membedakan adalah dosis dan usia anak. Anak-anak harus
dihitung berdasarkan berat atau massa tubuh. Obat pada dasarnya sama.
Anak-anak menerima obat penenang ringan, narkotik, relaksan otot,
inhalasi gas, tergantung pada prosedur.

f. Sedasi sedang dan dalam


1. Tujuan pemberian sedasi pada pasien adalah:
a. Memberikan panduan dalam pelayanan anestesi dan sedasi yang
menjamin keselamatan pasien dengan meminimalisasi resiko
yang ada
b. Memastikan adanya suatu proses yang konsisten sehingga
sedasi yang dilakukan dalam suatu pemberian tindakan medis
berjalan dengan aman dan efektif
c. Menetapkan suatu prosedur instruksi, pelaksanaan, dan
pemantauan sedasi di seluruh rumah sakit
d. Menjamin kualitas pemberian pelayanan anestesi dan sedasi
melalui penetapan kualifikasi sumber daya manusia yang dapat
melakukan pemberian pelayanan anestesi dan sedasi

15 / 38
2. Pemberian sedasi pada pasien dewasa
Pelaksanaan pelayanan sedasi dilakukan oleh dokter anestesi dan
perawat anestesi. Pemberian anestesi lokal kepada pasien dapat
diberikan oleh dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi yang telah
tersertifikasi. Apabila terdapat pemberian anestesi lokal yang disertai
penambahan obat sedasi, maka pemberiannya harus diberikan dan
didampingi oleh dokter spesialis anestesi. Contoh: untuk poli gigi,
untuk anestesi lokal dapat diberikan oleh dokter gigi, namun apabila
terdapat penambahan pemberian obat sedasi yang memberikan efek
depresi susunan syaraf pusat, maka dokter gigi tersebut harus
didampingi oleh dokter spesialis anestesi.
Lokasi pemberian sedasi:
1. Anestesi Lokal
Dapat dilakukan di ruang perawatan dan poliklinik, termasuk
Poliklinik B e d a h d a n Gigi yang dilakukan oleh DPJP.
2. Sedasi Ringan
Bisa dilakukan di seluruh ruang perawatan, IGD, Unit Rawat
Jalan.
3. Sedasi Sedang
Dilakukan di ruang tindakan khusus seperti IGD dan Kamar
bersalin. Tindakan sedasi sedang tersebut hanya dapat dilakukan
oleh dokter anestesi.
4. Sedasi Dalam
Dilakukan pada ruangan ICU, Kamar Operasi dan IGD harus
dilakukan oleh dokter spesialis anestesi. Yang menentukan
kondisi pasien berdasarkan American Society of
Anaesthesiologist adalah dokter yang akan melakukan sedasi.
Dokter umum terlatih dapat membantu proses pemberian sedasi
ringan, sedang dan dalam untuk kondisi life saving.
3. Pemberian sedasi pada pasien anak
Setiap pasien anak dianggap beresiko mengalami penurunan
refleks protektif apabila menjalani sedasi. Untuk menjaga konsistensi

16 / 38
dalam perawatan pasien di rumah sakit, kebijakan ini berlaku bagi
semua pasien anak yang menjalani sedasi.
Sedasi anak di Rumah Sakit Umum Daerah Majene harus
dilakukan oleh dokter spesialis anestesi. Tata Laksana pasien secara
spesifik ditentukan oleh jenis sedasi yang dilakukan, dosis obat sedasi,
keadaan medis pasien tersebut, tingkat kedalaman sedasi, dan
prosedur yang akan dilakukan.
Tujuan sedasi/ analgesia pada anak adalah untuk memastikan
keamanan dan kenyamanan pasien, serta untuk meningkatkan tingkat
keberhasilan tindakan.
Kriteria pasien anak beresiko tinggi pada pemberian sedasi antara
lain:
a. Anak berusia < dari 2 tahun
b. Anak dengan resiko tinggi aspirasi pada keadaan tanpa sedasi
c. Anak yang tidak mampu mempertahankan patensi jalan nafas
tanpa sedasi
d. Anak dengan masalah/ penyakit sistemik sedang sampai berat
e. Anak dengan gangguan kardiovaskuler atau respirasi
f. Anak dengan gangguan status mental yang membuat penilaian
kesadaran, nyeri, dan respon tehadap obat yang diberikan
menjadi sulit
g. Anak pernah mengalami efek samping pada sedasi sebelumnya
h. Anak akan diberikan obat anestesi seperti: fresofol, yang
membuat anak masuk dalam tahap anestesia
i. Anak sensitif atau alergi terhadap obat sedasi
j. Status pernafasan dan kardiovaskuler, termasuk auskultasi
jantung dan paru serta semua temuan fisik lainnya yang
bermakna
k. Status ASA III – IV
Beberapa tindakan yang harus dilakukan oleh dokter anestesi/ perawat
anestesi sebelum pemberian sedasi antara lain:
a. Pengkajian nyeri
b. Pengukuran frekuensi jantung, tekanan darah, frekuensi
pernafasan, saturasi oksigen, dan suhu

17 / 38
c. Memastikan Penandaan lokasi tindakan a d a l a h benar,
terutama untuk tindakan yang melibatkan kanan/ kiri struktur
multiple atau bertingkat.
d. Melakukan time out sebagai verifikasi akhir tepat lokasi, tepat
prosedur dan tepat pasien sebelum tindakan operasi dilakukan.
Selama proses sedasi, dilakukan pencatatan obat-obatan yang telah
diberikan dalam rekam medis, meliputi:
a) Dosis semua obat yang diberikan
b) Waktu dan jalur pemberian semua obat sedasi
c) Jenis dan jumlah semua cairan yang diberikan melalui infuse,
termasuk darah dan produk darah
d) Lakukan monitoring dan catat keadaan pasien.
e) Lakukan pemantauan berkesinambungan selama periode sedasi
mengunakan monitor dan dokumentasikan keadaan pasien
sesuai tingkat sedasi. Pada sedasi sedang dan dalam,
monitoring dilakukan setiap 5 menit mencakup:
1. Frekuensi jantung dan pernafasan
2. Saturasi Oksigen
3. Tekanan darah

g. Pemulihan dan Pemulangan Pasien Setelah Pemberian Sedasi


Setiap rumah sakit harus mempunyai kriteria pemulihan dan
pemulangan yang sesuai dengan prosedur yang dilakukan. Beberapa
prinsip dasar yang harus dimiliki:
1. Prinsip Umum
a. Pengawasan medis dalam fase pemulihan dan pemulangan
pasien setelah pemberian sedasi sedang-dalam merupakan
tanggung jawab dokter yang memberi sedasi.
b. Ruang pemulihan harus dilengkapi dengan monitor dan peralatan
resusitasi yang adekuat.
c. Pasien yang menjalani sedasi sedang atau dalam harus
dipantau sampai kriteria pemulangan terpenuhi.

18 / 38
1) Durasi dan frekuensi pemantauan harus disesuaikan dengan
masing-masing pasien tergantung pada tingkat sedasi yang
diberikan.
2) Oksigenasi harus dipantau sampai pasien terbebas dari resiko
depresi pernafasan.
d. Tingkat kesadaran, tanda vital harus dicatat rutin setiap 5 menit.
e. Perawat anestesi atau perawat terlatih harus mendampingi/
mengidentifikasi adanya komplikasi sampai kriteria pemulang
terpenuhi dalam waktu 2 jam atau perawatan dilanjutkan ke ruang
High Care Unit.

2. Kriteria pemulangan pasien


a. Pasien harus sadar dan memiliki orientasi yang baik, bayi dan
pasien dengan gangguan mental harus kembali ke status awal
atau semula.
b. Tanda vital harus stabil.
c. Penggunaan sistem scoring dapat membantu pencatatan untuk
kriteria pemulangan.
d. Telah melewati waktu yang cukup (hingga ± 2 jam) setelah
pemberian terakhir obat antagonis untuk memastikan bahwa
pasien tidak masuk ke fase sedasi kembali setelah efek efek obat
antagonis menghilang.
e. Pasien rawat jalan boleh dipulangkan bila didampingi oleh orang
dewasa yang dapat mengantarkan pasien sampai ke rumah
dan dapat melaporkan jika terjadi komplikasi pasca prosedur.
f. Pasien rawat jalan dan pendamping harus diberikan instruksi
tertulis mengenai diet pasca prosedur, obat-obatan dan aktivitas.

h. Pelayanan Penatalaksanaan Nyeri Pasca Operasi


Pelayanan untuk penatalaksanaan nyeri meliputi penanganan
terhadap perasaan sensorik yang tidak nyaman dan pengalaman
emosional yang terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau
potensial. Jenis nyeri yang dapat ditemukan selama masa perioperatif
meliputi: nyeri akut, nyeri kronis, nyeri neuropatik, dan nyeri patologis.

19 / 38
1. Pelayanan nyeri akut pasca operasi
a. Nyeri pasca operasi adalah nyeri yang dimulai dari nyeri
pembedahan sampai terjadi penyembuhan.
b. Penilaian dan penanganan yang tidak optimal dari nyeri pasca
operasi dapat menyebabkan efek yang merugikan pada
pasien seperti terjadi ansietas, gangguan tidur, hambatan
dalam mobilisasi dan yang paling parah adalah stress.
c. Pelayanan nyeri akut pasca operasi meliputi penanganan
nyeri pada pasien setelah dilakukan pembedahan elektif
maupun emergency yang dilakukan sejak dalam ruang operasi
maupun setelah berada pada perawatan.
d. Nyeri pasca operasi harus dinilai rutin dan sistematis
e. Penilaian tanda vital harus mencakup:
1) Lokasi nyeri
2) Intensitas nyeri
3) Onset, durasi nyeri
4) Kualitas nyeri
5) Diskripsi nyeri
6) Faktor yang meningkatkan/mengurangi nyeri
7) Efek nyeri pada pasien
8) Metode pilihan pasien dalam mengatasi nyeri

20 / 38
BAB 5
LOGISTIK

Pemenuhan logistik kamar operasi disediakan oleh Apotek, dengan sistem


stok di ruangan, pemenuhan stok ini sangat membantu ketersediannya
sehingga operasi dapat berjalan dengan lancar. Jadwal pengambilan barang
disepakati bersama oleh pihak apotek dan pihak lain yang behubungan.
Jadwal pengambilan barang di apotek untuk pengambilan alkes dilakukan
setiap hari senin dan kamis pada pukul 08.30 s.d. 21.00 WIB, dengan
pemesanan atau penginputan paling lambat setengah jam sebelum jam
pengambilan. Selain pemenuhan kebutuhan stok kamar operasi, ada juga
pemenuhan kebutuhan instrumen atau alkes, yang ketersediannya sesuai
dengan budgeting tahunan yang diajukan dan disetujui oleh Direktur Rumah
Sakit Umum DaerahMajene.

21 / 38
BAB 6
KESELAMATAN PASIEN

Untuk mencapai terwujudnya keselamatan pasien yang optimal, Ti m


Anestesi bertanggung jawab pada hal berikut:

a. Kepegawaian
Tim Anestesi harus memastikan terlaksananya penugasan dokter dan
perawat yang kompeten dan berkualitas dalam memberikan layanan atau
prosedur anestesi kepada setiap pasien.

b. Evaluasi Pra-Anestesi Pasien


1. Evaluasi pra-anestesi memungkinkan terwujudnya perencanaan
anestesi yang baik dimana perencanaannya tersebut juga
mempertimbangkan kondisi dan penyakit pasien yang dapat
mempengaruhi tindakan anestesi.
2. Meskipun perawat dapat berkontribusi dalam pengumpulan dan
pencatatan data pre-operatif pasien, dokter spesialis anestesi yang
memegang tanggung jawab terhadap evaluasi keseluruhan pasien.

c. Perencanaan Tindakan Anestesi


1. Dokter spesialis anestesi bertanggung jawab dalam menyusun
rencana tindakan anestesi yang bertujuan untuk mewujudkan kualitas

22 / 38
pelayanan pasien yang terbaik dan tercapainya keselamatan pasien
dengan optimal.
2. Dokter spesialis anestesi sebaiknya melakukan diskusi dengan
pasien (jika memungkinkan) atau keluarga mengenai resiko tindakan
anestesi, keuntungan dan alternatif yang ada dan memperoleh ijin
persetujuan anestesi.
3. Ketika terdapat situasi dimana suatu bagian dari layanan anestesi
akan dilakukan oleh petugas anestesi yang kompeten lainnya, dokter
spesialis anestesi harus memberitahukan kepada pasien bahwa
pendelegasian tugas ini termasuk dalam pelayanan anestesi.

d. Tindakan Anestesi
1. Tindakan anestesi bergantung pada banyak faktor, termasuk kondisi
medis setiap pasien dan prosedur yang akan dilakukan.
2. Dokter spesialis anestesi harus menentukan tugas perioperatif mana
yang dapat didelegasikan.
3. Dokter spesialis anestesi dapat mendelegasikan tugas spesifik
kepada perawat anestesi yang tergabung dalam Tim Anestesi dengan
syarat kualitas pasien dan keselamatan pasien tetap terjaga dengan
baik. Tetap berpartisipasi dalam bagian-bagian penting atau tindakan
anestesi dan siap sedia untuk menangani situasi emergency dengan
cepat.

e. Perawatan Pasca Anestesi


1. Perawatan pasca anestesi rutin didelegasikan kepada perawat pasca
anestesi.
2. Evaluasi dan tata laksana komplikasi pasca anestesi merupakan
tanggung jawab dokter spesialis anestesi.

f. Konsultasi Anestesi
Seperti jenis konsultasi medis lainnya, konsultasi anestesi tidak dapat
didelegasikan kepada perawat. Keselamatan pasien dalam penggunaan
sedasi ringan dan sedang oleh perawat anestesi:

23 / 38
1. Dokter yang mengawasi bertanggung jawab akan semua aspek
yang terlibat selama perawatan pasien (pre, intra, pasca).
2. Saat pasien disedasi, dokter yang bertanggung jawab harus hadir atau
mendampingi di ruang tindakan.
3. Perawat anestesi yang melakukan sedasi harus terlatih dengan baik
dalam mengevaluasi pasien sebelum prosedur dilakukan untuk
mengenal kapan terdapat peningkatan resiko anestesi.
4. Kebijakan dan prosedur yang terkait harus memperbolehkan
perawat anestesi untuk menolak berpartisipasi dalam kasus-kasus
tertentu jika mereka merasa tidak kompeten dalam melakukan suatu
tindakan anestesi dan terdapat kemungkinan dapat membahayakan
pasien atau menurunkan kualitas pelayanan.
5. Dokter yang mengawasi bertanggung jawab memimpin timnya dalam
situasi emergency dimana diperlukan tindakan resusitasi termasuk
managemen jalan nafas.
6. Sertifikasi Basic Cardiac Life Support (BCLS) merupakan standar
persyaratan minimal yang harus dimiliki oleh praktisi yang melakukan
sedasi atau anestesi dan dokter non anestesi yang mengawasi.

24 / 38
BAB 7
KESELAMATAN KERJA

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 164 Ayat (1) menyatakan


bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup
sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang
diakibatkan oleh pekerjaan. Rumah Sakit adalah tempat kerja yang termasuk
dalam kategori seperti disebut di atas, berarti wajib menerapkan upaya
keselamatan dan kesehatan kerja.
Program keselamatan dan kesehatan kerja di tim pendidikan pasien
dan keluarga bertujuan melindungi karyawan dari kemungkinan terjadinya
kecelakaan di dalam dan di luar rumah sakit. Keselamatan dan kesehatan
kerja atau K3 merupakan bagian integral dari perlindungan terhadap pekerja
dalam hal ini pelayanan anestesi dan sedasi serta perlindungan terhadap
rumah sakit. Pegawai adalah bagian integral dari rumah sakit. Jaminan
keselamatan dan kesehatan kerja akan meningkatkan produktivitas pegawai
dan meningkatkan produktivitas rumah sakit. Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja dimaksudkan untuk menjamin:
1. Agar pegawai dan setiap orang yang berada di tempat kerja selalu berada
dalam keadaan sehat dan selamat.
2. Agar faktor-faktor produksi dapat dipakai dan digunakan secara efisien.
3. Agar proses produksi dapat berjalan secara lancar tanpa hambatan.
Faktor-faktor yang menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja
dapat digolongkan pada tiga kelompok, yaitu:
1. Kondisi dan lingkungan kerja

25 / 38
2. Kesadaran dan kualitas pekerja
3. Peranan dan kualitas manajemen
Dalam kaitannya dengan kondisi dan lingkungan kerja, kecelakaan dan
penyakit akibat kerja dapat terjadi bila:
1. Peralatan tidak memenuhi standar kualitas atau bila sudah aus
2. Alat-alat produksi tidak disusun secara teratur menurut tahapan proses
produksi
3. Ruang kerja terlalu sempit, ventilasi udara kurang memadai, ruangan
terlalu panas atau terlalu dingin
4. Tidak tersedia alat-alat pengaman
5. Kurang memperhatikan persyaratan penanggulangan bahaya kebakaran
dan lain-lain.

a. Perlindungan Keselamatan Kerja dan Kesehatan Petugas Kesehatan


1. Petugas kesehatan yang merawat pasien menular harus
mendapatkan pelatihan mengenai cara penularan dan penyebaran
penyakit, tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang
sesuai dengan protokol jika terpajan.
2. Petugas yang tidak terlibat langsung dengan pasien harus
diberikan penjelasan umum mengenai penyakit tersebut.
3. Petugas kesehatan yang kontak dengan pasien penyakit menular
melalui udara harus menjaga fungsi saluran pernapasan (tidak
merokok, tidak minum dingin) dengan baik dan menjaga kebersihan
tangan.

b. Petunjuk Pencegahan Infeksi untuk Petugas Kesehatan


1. Untuk mencegah transmisi penyakit menular dalam tatanan
pelayanan kesehatan, petugas harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri) yang sesuai untuk kewaspadaan Standar dan
Kewaspadaan Isolasi (berdasarkan penularan secara kontak, droplet,
atau udara) sesuai dengan penyebaran penyakit.
2. Semua petugas kesehatan harus mendapatkan pelatihan tentang
gejala penyakit menular yang sedang dihadapi.

26 / 38
3. Semua petugas kesehatan dengan penyakit seperti flu harus
dievaluasi untuk memastikan agen penyebab. Dan ditentukan apakah
perlu dipindah tugaskan dari kontak langsung dengan pasien,
terutama perawat yang bertugas di HCU dan Perinatologi.

BAB 8
PENGENDALIAN MUTU

Prinsip dasar upaya peningkatan mutu pelayanan adalah pemilihan aspek


yang akan ditingkatkan dengan menetapkan indikator, kriteria, serta standar
yang akan digunakan untuk mengukur mutu pelayanan. Indikator Mutu pada
Pelayanan Anestesi Rumah Sakit Umum Daerah Majenemengacu pada
Pedoman Indikator Mutu yaitu:

a. Angka Ketidaklengkapan Informed Consent Pasien Anestesi

Judul Angka ketidak lengkapan informed consent


pasien anastesi setelah mendapatkan informasi
yang jelas.
Dimensi Mutu Keselamatan
Tujuan Tergambarnya tanggung jawab dokter anastesi
untuk memberikan informasi kepada pasien/
keluarga atas dasar penjelasan mengenai tindakan
pembiusan yang akan dilakukan terhadap pasien
tersebut.
Definisi Operasional Informed Consent anastesi adalah persetujuan
yang diberikan pasien atau keluarga atas dasar
penjelasan mengenai tindakan pembiusan yang
akan dilakukan terhadap pasien tersebut.
Numerator Jumlah pasien yang mendapatkan tindakan
anestesi yang disurvei yang mendapat informasi
lengkap sebelum memberikan persetujuan tindakan

27 / 38
anestesi dalam 1 bulan.
Denominator Jumlah pasien yang mendapat tindakan
anastesi yang disurvei dalam 1 bulan.
Cara Pengukuran/ Jumlah pasien yang mendapat tindakan anestesi
Formula
yang disurvei yang mendapat informasi lengkap
sebelum memberikan persetujuan tindakan anestesi
dalam 1 bulan / Jumlah pasien yang mendapat
tindakan anastesi yang disurvei dalam 1 bulan x
100 %
Tipe Indikator Proses
Frekuensi Bulanan
Pengumpulan Data
Periode Analisa 3 Bulan
Sumber Data Rekam Medis
Metodologi Retrospective
Pengumpulan Data
Besar Sampel 10 %
Standar/ Targer 100 %
Penanggung Jawab Staff Mutu dan Keselamatan Pasien
Pengumpul Data
Area Monitoring Kamar Operasi
Alasan Pemilihan Untuk mencegah ketidakpahaman pasien tentang
Indikator
tindakan anastesi yang akan dilakukan.
Pengumpulan Data Data diambil secara sampel setiap bulan dan
dan Analisa Data
dibandingkan dari bulan ke bulan, dibandingkan
dengan standar dan dengan rumah sakit lain.
Pelaporan Data ke Data dilaporkan setiap bulan pada rapat
Staff
koordinasi dan setiap 3 bulan pada rapat Komite
Mutu dan Keselamatan Pasien.

b. Pengkajian Awal Medis Pasien Anestesi Sebelum Operasi

Judul Kelengkapan pengisian pengkajian/ pengkajian


awal medis anestesi sebelum operasi.
Dimensi Mutu Kesinambungan pelayanan dan keselamatan
Tujuan Tergambarnya tanggung jawab dokter dalam
kelengkapan informasi rekam medik.
Definisi Operasional Pengkajian awal medis anestesi sebelum operasi
yang lengkap adalah Form pengkajian awal medis

28 / 38
yang telah terisi dalam waktu 24 jam.
Numerator Jumlah pengkajian awal medis anestesi sebelum
operasi telah diisi lengkap dan disurvei dalam 1
bulan.
Denominator Jumlah form pengkajian awal medis anestesi
sebelum operasi yang di survei dalam bulan
tersebut.
Frekuensi 1 Bulan
Pengumpulan Data
Periode Analisa 3 Bulan
Sumber Data Dokumentasi pengkajian awal medis anestesi
sebelum operasi.
Metodologi Retrospective
Pengumpulan Data
Besar Sampel 10 %
Standar/ Targer 100 %
Penanggung Jawab Penanggung Jawab Rawat Inap
Pengumpul Data
Pengumpulan Data Tim Mutu dan Kepala Seksi Pelayanan Medis
dan Analisa Data

c. Angka Ketidak Lengkapan Laporan Anestesi

Judul Ketidaklengkapan Laporan Anestesi


Dimensi Mutu Efektivitas
Tujuan Tergambarkannya efektifitas pelayanan anestesi
dan kepedulian terhadap keselamatan pasien.
Definisi Operasional Ketidaklengkapan penulisan laporan anestesi
setelah pasien keluar dari Kamar Operasi.
Numerator Jumlah ketidaklengkapan laporan anestesi dalam
1 bulan.
Denominator Jumlah pasien yang dilakukan anestesi pada
bulan tersebut.
Frekuensi 1 Bulan
Pengumpulan Data
Periode Analisa 3 Bulan
Sumber Data Rekam Medis
Metodologi Retrospective
Pengumpulan Data
Besar Sampel 10 %
Standar/ Targer 100 %
Penanggung Jawab PJ/ Koordinator Kamar Operasi

29 / 38
Pengumpul Data
Pengumpulan Data Unit mutu, Kasatpel Rawat Inap & Ruang Khusus
dan Analisa Data
dan Kepala Seksi Pelayanan Medis

BAB 9
PENUTUP

30 / 38
Pedoman Pelayanan Anestesi dan sedasi di Rumah Sakit Umum Daerah
Majenehendaknya dijadikan acuan bagi Rumah Sakit dalam pengelolaan
penyelenggaraan dan penyusunan standar prosedur operasional pelayanan
anestesi. Dibutuhkan dari semua pihak terutama pimpinan Rumah Sakit agar
mutu pelayanan anestesi dan keselamatan pasien dapat senantiasa
ditingkatkan dan dipertahankan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang anestesiologi.

Lampiran 1

PEDOMAN PUASA SEBELUM MENJALANI PROSEDUR PEMBEDAHAN

31 / 38
No Jenis Makanan Periode Puasa
1 Cairan Bening 2Minimal
jam
2 ASI 4 jam
3 Susu Formula untuk bayi 6 jam
4 Susu Sapi 6 jam
5 Makanan Ringan 6 jam

Rekomendasi ini di aplikasikan untuk pasien sehat yang akan menjalani prosedur
pembedahan elektif.

TINGKATAN SEDASI SEBUAH CONTINOUM

Sedasi Minimal Sedasi Sedang Sedasi Dalam Anestesi


Umum
Respon Normal atau Respon Respon Tidak dapat di
(terhadap sedikit berubah bertujuan thdp bertujuan bangunkan
rangsangan) verbal/taktil terhdp
taktil/nyeri
Jalan Nafas Normal atau Tidak perlu Intervensi Diperlukan
sedikit berubah intervensi bila intervensi
diperlukan
Ventilasi Spontan Normal atau Adekuat Mungkin adekuat Inadekuat
sedikit berubah
Tanda Vital Normal atau Normal atau Normal atau Mungkin
sedikit berubah sedikit berubah sedikit berubah terganggu

ALDRETE SCORE
Tek sistolik 20% dari pra anestesi 2
Sirkulasi Tek sistolik 20% -50% dari pra anestesi 1
Tek sistolik 50% dari pra anestesi 0
Sadar penuh 2

32 / 38
Bangun jika dipanggil 1
Kesadaran
Belum atau tidak ada respon 0
Mampu bernafas dan batuk 2
Respirasi Sesak atau bernafas dengan periode apnoe 1
Apnoe 0
Hangat, kulit kering, warna merah muda 2
Warna Kulit Pucat, dingin 1
Syanosis 0
Ekstremitas Mampu menggerakan 4 ekstremitas 2
Mampu menggerakan 2 ekstremitas 1
Mampu Menggerakkan 0 ekstremitas 0

Bila score ≥ 9 dapat di pindah ke ruangan

STEWARD (ANAK-ANAK)

Sadar penuh 2
Kesadaran Bangun jika di panggil 1
Belum respon 0
Batuk atau menangis 2
Respirasi Berusaha bernafas 1
Perlu bantuan nafas 0
Gerakan beraturan 2
Aktivitas motorik Gerakan tanpa tujuan 1
Tidak bergerak 0

Bila score ≥5 dapat pindah keruangan

BROMAGE SCORE (BLOK PERIFER)

Gerakan penuh tungkai 0


Tak mampu ekstensi tungkai 1
Aktivitas motorik
Tak mampu fleksi tungkai 2
Tak mampu fleksi pergelangan kaki 3

Bila score ≤2 dapat pindah keruangan

33 / 38
Skala Nyeri pada bayi kurang dari 1 bulan mengadaptasi dari Neonatal Infant Pain
Scales (NIPS)

Skala Nyeri Pada Neonatal untuk Usia 0 Hari s/d < 1 Bulan (Neonatal Infants Pain Scale
(NIPS))

Ekspresi Wajah
0 Otot Rileks Wajah tenang, ekspresi netral
1 Meringis Otot wajah tegang, alis berkerut, dagu, rahang

Menangis
0 Tidak menangis Tenang / tidak menangis
1 Merengek Mengerang ringan intermiten
2 Menangis Kuat Berteriak keras, menangis melengking terus-menerus
Bayi di Intubasi tidak dapat di score menagis karena dapat
dilihat dengan gerakan wajah

Pola Pernafasan
0 Rileks Pola normal pada bayi
1 Perubahan pernafasan Retraksi, irreguler, tachypnea, tersedak

Lengan
0 Rileks Tidak ada kekuatan otot, melakukan gerakan sesekali
1 Tertekuk / diluruskan Lengan tegang dan kaku posisi cepat lurus / ditekuk

Tungkai
0 Rileks Tidak ada kekuatan otot, melakukan gerakan sesekali
1 Ditekuk / diluruskan Tungkai tegang dan kaku posisi cepat ditekuk

Keadaan Umum
0 Tidur / Bangun Tenang, aman, tidur atau terjaga sesuai kebutuhan
1 Rewel Gelisah, meronta, sering terbangun

Pada bayi prematur, ditambahkan dua parameter denyut jantung dan saturasi oksigen
Denyut Jantung (Nadi)
0 10 % dari baseline (awal) Peningkatan 10 % dari baseline (awal diperiksa)
1 11-20 % dari baseline (awal) Peningkatan 11-20 % dari baseline (awal diperiksa)
2 >20 % dari baseline (awal) Peningkatan >20 % dari baseline (awal diperiksa)
Saturasi Oksigen
0 Tidak diperlukan oksigen tambahan Tanpa Pemasangan Oksigen
1 Diperlukan oksigen tambahan Pemasangan Kanul Oksigen

Skor minimum 0, skor maksimum 7


0 : Tidak nyeri/ Nyaman
<2 : Nyeri Ringan/kurang nyaman
34 / 38
FLACC (Face Leg Activity Cry Consolability)
Adapun penilaian menggunakan FLACC Score adalah sebagai berikut:

Pe 0 1 2
F ngkajian
Wajah Tidak ada eksp resi yang Terkadang meringis, Sering mengerutkan
khusus mengerutkan dahi atau dahi, rahang
L Kaki (sep ert
Posisi i terseny
normal um)
(rileks) Tidak tenang,
menarik diri tegang atau Kaki menendang
mengatup, dagu at au
gelisah menarik diri
A Tenang, posisi
Ak t ifit as Gerak menggeliat, Tubuh meringkuk, kaku
normal dan mudah berguling bolak balik, (spasme) atau menyentak
C Men an gis Tidak menangis
bergerak M engerang, merengek-
kaku M enangis t
rengek, merintih, ersedu-sedu
C Ber suara Bersuara normal, senang, Dap at dit
kadang enangkan dengan
mengeluh Sulit/tidak dap at
terisak-isak,
rileks sentuhan, p elukan, dap at ditenangkan dengan
dialihkan sent uhan atau p
0 : Nyaman
1-3 : Kurang Nyaman
4-6 : Nyeri Sedang
7-10 : Nyeri Berat

Numeric Rating Scale

0 = tidak nyeri
1–3 = nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari)
4–6 = nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari)
7 – 10 = nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari)
pada status bila tidak nyeri dituliskan : tidak nyeri

Behavior Pain Scale


35 / 38
No RISIKO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Skor
Tgl .. Tgl .. Tgl .. Tgl .. Tgl .. Tgl .. Tgl .. Tgl .. Tgl .. Tgl ..
1 Face (wajah)
 Tenang / rileks 1

 Mengerutkan alis 2
 Kelopak mata tertutup 3
 Meringis 4
2 Anggota badan sebelah atas
 Tidak ada pergerakan 1
 Sebagian ditekuk 2
 Sepenuhnya ditekuk dengan
3 fieksi jari-jari
 Retraksi permanen 4
3 Ventilasi
 Pergerakan dapat ditoleransi 1
 Batuk dengan pergerakan 2
 Melawan ventilator 3
 Tidak dapat mengontrol 4
ventilasi
TOTAL SCORE
Nama dan paraf yang melakukan
penilaian
Keterangan
:
0 = Tidak ada nyeri (No Pain)
1-3 = Nyeri Ringan (Mild Pain)
4-6 = Nyeri Sedang (Moderate Pain)
>7 = Nyeri Tak Tertahankan (Savere Pain)

36 / 38
WONG BAKER FACES
0-1 = sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama sekali
2–3 = sedikit sakit
4–5 = cukup nyeri / agak menggangu
6–7 = lumayan nyeri/ mengganggu aktifitas
8–9 = sangat nyeri/ sangat menggangu
10 = amat sangat nyeri (tak tertahankan)

pada status bila tidak nyeri dituliskan : tidak nyeri

Tidak Sedikit Agak Menggang Sangat Tak


Sakit Sakit Menggangu gu Aktifitas Menggang Tertahank
gu an

Menentukan prognos
prognosis dengan ASA (Ame
Americ
rican Society of
Anesthesi
esiologis
logist):
1. ASA I : Pasien yang sehat (tidak ada kelainan fisik, fisiologis, psikologist)
2. ASA II : Pasien yang mempunyai penyakit ringan sampai sedang, tanpa
keterbatasan aktivitas sehari-hari.
3. ASA III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas sehari-
hari terbatas.
4. ASA IV : Pasien dengan sistemik berat tidak dapat melakukan
aktivitas
sehari-hari dan penyakitnya mengancam kehidupanya setiap
saat.
5. ASA V : Pasien hampir mati (sekarat) yang tidak dapat diharapkan hidup
dalam waktu 24 jam dengan ataupun tanpa pembedahan.
Catatan: Pembedahan darurat / emergency dicantumkan huruf E.