Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mikrobiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari kehidupan
makhluk yang bersifat mikroskopik. Mikrobiologi farmasi merupakan
ilmu yang mempelajari tentang peranan serta kehidupan
mikroorganisme dalam bidang farmasi. Kualitas mikrobiologi dari
suatu produk-produk farmasi dipengaruhi oleh faktor lingkungan
dimana produk-produk farmasi tersebut dibuat dan juga bahan-bahan
yang digunakan dalam pembutannya, kecuali sediaan yang telah
disterilkan pada pengisian terakhir.
Mikroflora pada produk akhir tersebut dapat menunjukkan asal
pencemara dari bahan-bahan yang digunakan, peralatan, atmosfir, para
pekerja atau personalia atau, wadah yang membungkusnya (kemasan).
Beberapa kontaminan dapat bersifat patogen terhadap yang lainnya,
dan dapat tumbuh, bersama-sama dengan pengawet dan akhirnya dapat
merusak produk-produk tersebut. Beberapa mikroorganisme, dapat
dimatikan dengan cara-cara sterilisasi seperti cara pemanasan , tetapi
masih tetap juga meninggalkan sisa-sisa berupa pirogen atau sisa-sisa
sel yang bersifat toksis, karena pecahan-pecahan pirogen berupa lipid
A yang berada dalam dinding sel, tidak dihancurkan pada kondisi yang
sama pada setiap mikroorganisme.
Asam organik adalah asam yang berasal dari makhluk hidup. Asam
ini dapat diperoleh secara alami dari hewan dan tumbuhan. Ciri-ciri
asam organik adalah senyawa asam yang memiliki atom karbon (C).
Mikroorganisme yang berperan dalam pembuatan cuka adalah yeast dan
bakteri. Yeast yang bertugas untuk mengubah gula menjadi ethanol pada
fermentasi tahap pertama adalah Saccharomyces cerevisiae. Sedangkan
bakteri yang berperan dalam mengoksidasi ethanol menjadi asam asetat
pada fermentasi tahap kedua adalah genus Acetobacter.

1
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dikaji dalam makalah ini yaitu:
1. Definisi Asam Organik
2. Produksi Asam Organik
3. Manfaat di bidang Farmasi

1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi asam organik
2. Mempelajari produksi asam sitrat pada proses fermentasi
menggunakan Aspergillus niger.
3. Mempelajari produksi asam asetat pada proses fermentasi
menggunakan genus Acetobacter.
4. Mempelajari produksi asam laktat pada proses fermentasi
menggunakan Lactobacillus.
5. Mempelajari produksi asam glukonat pada proses fermentasi
menggunakan Aerobasididum pullulans.
6. Mengetahui manfaat asam organik dalam bidang farmasi

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Asam Organik


Asam organik adalah asam yang berasal dari makhluk hidup. Asam
ini dapat diperoleh secara alami dari hewan dan tumbuhan. Ciri-ciri
asam organik adalah senyawa asam yang memiliki atom karbon (C).
Mikroba yang dapat menghasilkan asam sitrat cukup banyak. Diantara
mikroba tersebut adalah Aspergillus niger, A. wentii, A. civiatus,
Penicillium luteum, P.citrinum, Mucor priformis, Paecilomyces
divaricatum, Citromaeces pfefferianus, Candida guilliermondii,
Saccharomaecopsis lipolytica, Trichoderma viridae, Arthrobacter
parraffimeus dan Corynebacterium sp. Di antara mikroba tersebut yang
dipakai untuk produksi asam sitrat adalah Aspergillus niger
dan Aspergillus wentii yang merupakan galur yang paling produktif.
Kapang (mold) Aspergillus niger dan Aspergillus wentii adalah
kapang yang dapat menghasilkan enzim yang dapat mengubah
karbohidrat menjadi asam sitrat. Penggunaan asam sitrat untuk industri
misalnya makanan, minuman, dan farmasi. Kapang A. niger merupakan
mikroorganisme yang dapat tumbuh dan banyak digunakan secara
komersial dalam produksi asam sitrat, asam glukonat, dan beberapa
enzim seperti pektinase dan amilase (Broekhuijsen et al., 1993; Okada,
1985). A. niger mampu mensintesis asam sitrat dalam medium
fermentasi ekstraseluler dengan konsentrasi yang cukup tinggi, jika
dibiakkan dalam media yang kadar garamnya rendah dan mengandung
gula sebagai sumber karbon (Hang et al., 1977; Ji et al., 1992).
Asam sitrat adalah asam organik yang secara alami terdapat pada
buahbuahan seperti jeruk, nenas dan pear. Asam sitrat pertama kali
diekstraksi dan dikristalisasi dari buah jeruk, sehingga asam sitrat hasil
ektraksi dari buah-buahan ini dikenal sebagai asam sitrat alami. Wehner
(1893) pertama kali melaporkan produksi asam sitrat sebagai hasil
sampingan pada fermentasi produksi asam oksalat dengan menggunakan

3
Penicillium glaucum. Tahun 1917, Currie juga melaporkan bahwa
Aspergillus niger dapat menghasilkan asam sitrat pada medium pH
rendah dengan kadar gula tinggi. Sejak saat itu asam sitrat diproduksi
secara komersial dengan menggunakan kapang A. niger. Asam sitrat
merupakan suatu asidulan yaitu senyawa kimia yang bersifat asam yang
ditambahkan pada proses pengolahan makanan dengan berbagai tujuan.
Asidulan dapat bertindak sebagai penegas rasa dan warna atau
menyelubungi after taste yang tidak disukai.Penambahan asam dapat
menurunkan pH makanan sehingga menghambat pertumbuhanmikroba
pembusuk. Awalnya asam sitrat diperoleh dalam bentuk kristal melalui
proses isolasi dari juice lemon oleh Scheele pada tahun 1784. Lalu pada
tahun 1880 Grimoux dan Adam mensintesis asam sitrat dari glycerol.
Dan pada tahun 1893 Wehmer mengindikasikan bahwa asam sitrat dapat
diperoleh melalui proses fermentasi larutan gula oleh beberapa jenis
fungi. Hingga kini proses produksi komerasial asam sitrat diperoleh
melalui proses fermentasi.
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia
asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma
dalam Makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus
ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau
CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial)
adalah cairan higroskopistak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana,
setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan
sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian
menjadi ion H+dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi
kimia dan bahan bakuindustri yang penting. Asam asetat digunakan
dalam produksi polimerseperti polietilena tereftalat, selulosa asetat,
dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam
industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di
rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak
air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5

4
juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang,
sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.
Mikroorganisme yang berperan dalam pembuatan cuka adalah
yeast dan bakteri. Yeast yang bertugas untuk mengubah gula menjadi
ethanol pada fermentasi tahap pertama adalah Saccharomyces
cerevisiae. Sedangkan bakteri yang berperan dalam mengoksidasi
ethanol menjadi asam asetat pada fermentasi tahap kedua adalah
genus Acetobacter.
Asam laktat (lactic acid) adalah salah satu asam
organik yang penting di industri, terutama di industri makanan. Di
samping itu, penggunaannya sekarang lebih luas karena bisa dipakai
sebagai bahan baku pembuatan polylactic acid, biodegradable
plastics yang merupakan polimer dari asam laktat bakteri asam laktat,
seperti Lactobacillus, yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap
asam dan bisa direkayasa genetika.
Asam glukonat adalah asam organic nonkorosif, asam lemah, tidak
berbau, tidak beracun, dapat diuraikan dan nonvolatile. Asam glukonat
C6H12O7 secara alami dapat ditemui dalam buah-buahan dan madu.
Asam glukonat memiliki berbagai kegunaan dalam industry makanan,
minuman dan farmasi, diantaranya sebagai food aditif, acid regulator
maupun sebagai alkaline derusting agent.

2.2 Produksi Asam Organik


1. Produksi asam sitrat dengan metode chan
Dalam metode ini padatan seperti pulp tebu atau bit direndam
dengan larutan gula (sukrosa atau molase) tanpa sterilisasi. Medium
ini kemudian diinokulasikan dengan kultur kapang Aspergillus niger.
Umur kultur untuk inokulasi ternyata tidak terlalu berpengaruh.
Fermentasi berjalan cepat pada suhu 20-30ºc yang biasanya
berlangsung selama 4 hari atau kurang. Hasil yang diperoleh yaitu
sebanyak 55% asam sitrat (dari jumlah sukrosa awal) atau 45%
(berdasarkan jumlah molase awal). Setelah medium diinokulasi

5
spora-spora akan mulai berkecambah dalam beberapa jam dan dalam
2-5 hari medium akan tertutup oleh lapisan miselium. Pada saat
pertumbuhan miselium mulai lambat, laju pembentukan asam sitrat
akan meningkat. Fermentasi biasanya akan selesai dalam 7-10 hari.
Jika 50% sukrosa yang tersedia telah diubah menjadi asam sitrat
maka laju pertambahan asam sitrat juga akan menurun. Asam sitrat
yang dihasilkan oleh Aspergillus nigerjika tidak segera dipanen
maka akan segera terurai. Sesudah fermentasi selesai, larutan
kemudian dikeringkan, miselium di press untuk menghilangkan
asam-asam yang masih terkandung, kemudian kalium sitrat
diendapkan. Dengan menambahkan asam sulfat yang ekuivalen,
maka asam sitrat akan terpisah dari kalium sulfat. Gula yang tidak
dikonversi dapat difermentasi oleh khamir dan asam sitrat
dikristalkan.

Fermentasi kultur terendam atau fermentasi kultur permukaan


Proses fermentasi dapat dilakukan dengan fermnetasi kultur
terendam atau fermentasi kultur permukaan. Fermentasi kultur
terendam dibagi menjadi dua yaitu dilakukan pada fermentor
berpengaduk (stirrer fermentor) dan air lift fermentor. Fermentasi
kultur permukaan dapat menggunakan medium cair maupun media
padat. Pada fermentasi menggunakan media padat, mikroba kurang
sensitive terhadap tingginya konsentrasi mikro. Cara fermentasi
menggunakan media padat cukup sederhana, misalnya pada
fermentasi menggunakan media dari dedak gandum. Mula-mula pH
bahan diturunkan menjadi 4-5. Setelah sterilisasi, bahan disebarkan
diatas baki setebal 3-5 cm, dan diinokulasi dengan spora kapang.
Fermentasi ini dilangsungkan pada suhu 28ºC selama 5-8 hari.
Meskipun A. niger dapat menghasilkan amylase untuk menghidrolisa
pati dedak, penambahan amylase dari luar dapat mempercepat
pertumbuhan kapang. Asam sitrat yang dihasilkan diekstraksi
dengan air panas. Pulp (misalnya dari tebu) direndam di dalam air

6
atau diberi larutan sukrosa molasses sampai jenuh. Setelah itu tanpa
disterilkan bahan diinokulasi dengan suspensi spora. Kemudian
diinkubasi selama 4 hari pada suhu 20-35ºC. Fermentasi ini dapat
menghasilkan asam sitrat sebanyak 55% dari jumlah sukrosa atau
45% dari jumlah gula yang terdapat di dalam molasses. Fermentasi
menggunakan media cair pada wadah dangkal (tidak terlalu dalam)
sehingga memperluas bidang kontak antara media dengan oksigen di
udara. Media untuk fermentasi asam sitrat, tidak
boleh mengandung besi (Fe) terlalu banyak, karena dapat
mempertinggi hasil sampingan asam oksalat dan menyebabkan
pembentukan pigmen kuning yang sulit dihilangkan pada waktu
proses pemurnian hasil.
Teknologi yang digunakan dalam metode ini relatif sederhana,
dengan menggunakan biaya operasi yang relatif murah dan
investasinya relatif kecil. Kurang lebih 20% dari kebutuhan dunia
akan asam sitrat berasal dari produksi dengan metode fermentasi
media cair, namun tingkat produksi ini menduduki peringkat kedua
setelah produksi dengan cara kultur terendam. Bahan baku
fermentasi pada medium cair dapat beupa molasses. Setelah
formulasi (penambahan mineral makro dan pengaturan konsentrasi
mineral mikro), media kemudian disterilkan. Kemudian disebarkan
di dalam wadah yang lebar (baki). Media tersebut diinokulasi dengan
spora kering (2-3 x 107 spora per m2) atau dengan suspensi spora.
Fermentasi dilangsungkan pada suhu 30ºC selama 8 sampai 14 hari.
Ventilasi atau pemberian aliran udara di dalam ruang fermentasi
dibutuhkan agar tidak terjadi penimbunan gas karbondioksida. Pada
kadar karbondioksida di atas 10%, produksi asam sitrat akan
berkurang. Proses ini menghasilkan 1.2 sampai 1.5 kg asam sitrat
monohidrat tiap m2 permukaan media per hari. Tahap selanjutnya
adalah proses permanenan dan pemurnian hasil. Mula-mula
dilakukan pemisahan bagian cair dan padat (seperti pemisahan spora
dan miselium) dengan cara pencucian atau pemerasan miselium dan

7
dengan filtrasi. Cairan yang dihasilkan ditambah dengan garam
kalium sulfat (CaSO4) pada pH rendah, yang akan menyebabkan
asam oksalat (jika dihasilkan) akan mengendap sebagai kalium
oksalat, dan asam sitrat bergabung dengan ion Ca2+ membentuk
kalsium sitrat yang kemudian akkan terlarut dalam cairan. Apabila
pH dinaikkan menjadi 7.2 + 0.2 pada suhu 70-90ºC, kalsium sitrat
akan mengendap dan selanjutnya dapat dipisahkan secara filtrasi.
Pemurnian selanjutnya adalah dengan menambahkan asam sulfat
sehingga asam sitrat terlarut lagi dan terbentuk endapan kalsium
sulfat. Larutan yang mengandung asam sitrat tersebut dimurnikan,
antara lain dengan memberi perlakuan karbon aktif, dan
melewatkannya pada penukar ion/kation. Terakhir adalah kristalisasi
pada suhu di atas 40ºC untuk membentuk asam sitrat anhidrat atau
suhu dibawah 36.5ºC untuk membentuk asam sitrat monohidrat. Saat
ini sebagian besar (80%) produksi asam sitrat berasal dari fermentasi
kutur terendam. Fermentasi ini menggunakan peralatan yang lebih
canggih dengan kebutuhan membutuhkkan energi yang lebih
banyak, namun lebih sedikit memerlukan lahan dan tenaga kerja.
Ada beberapa metode yang telah dikembangkan untuk fermentasi
dengan menggunakan kultur terendam, diantaranya adalah metode
Szucs, dan metode Shu dan Johnson.

Metode Szucs
Fermentasi ini berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama
adalah fermentasi pada media pertumbuhan, setelah itu fermentasi
pada media produksi. Media pertumbuhan mengandung :
Sukrosa (25-50 g/l), NH4NO3 (2.25 g/l) KH2PO4 (0.3 g/l),
MgSO4 dan 7 H2O (0.25 g/l) HCl 1 N (agar pH menjadi 2) (10 ml/l)
Media disterilkan dan kemudian diinokulasi dengan suspensi
spora A.niger yang biasa digunakan untuk fermentasi permukaan.
Fermentasi ini berlangsung pada suhu 25ºC, diberi aerasi dan agitasi,
selama 3 sampai 4 hari untuk memperoleh massa miseliumm yang

8
cukup banyak. Setelah fermentasi tahap pertama selesai, miselium
dipisahkan dari cairan media, dan dicuci dengan akuades. Miselium
yang telah bersih kemudian dipindahkan ke dalam larutan media
produksi sebanyak 5 : 1000 (miselium diukur berdasarkan berat
kering). Komposisi media produksi tersebut adalah sebagai berikut :
Sukrosa(200 g/l), NH4NO3 (1.1 g/l) , KCl (0.15 g/l) MgSO4 dan
7H2O (0.25 g/l) HCl 1 N (untuk mengatur pH 1.1) (10 ml/l)
Fermentasi tahap kedua membutuhkan aerasi (100 ml oksigen per 2
liter larutan per menit) dan agitasi (300 rpm). Fermentasi ini
berlangsung selama 4 hari pada suhu 18-28ºC (dengan suhu
optimum 25ºC). Sebanyak 70-75% gula yang dikonsumsi diubah
menjadi asam sitrat.

Metode Shu dan Johnson


Shu dan Johnson melakukan fermentasi dalam dua tahap. Tahap
pertama adalah fermentasi pada medium sporulasi yang mengandung
: Sukrosa (140 g/l) Bacto agar (20 g/l) KH2PO4 (1.0 g/l) MgSO4
dan 7H2O (2.5 g/l) HCl (untuk mengatur pH 3.6) (secukupnya)
Unsur mikro : Cu2+ (0.48 mg/l) Zn2+ (3.8 mg/l) Fe3+ (2.2 mg/l)
Mn2+ (2.2 mg/l) (Mn2+ sangat dibutuhkan untuk sporulasi. Media
ini disterilisasi pada suhu 120ºC selama 15 menit) Media tersebut
diinokulasi dengan suspensi spora A. niger (ATCC, No.
1015). Kemudian diinkubasi selama 3-5 hari. Setelah itu, suspensi
spora yang dihasilkan diinkubasi lagi pada medium basal yang
mengandungSukrosa (140 g/l) KH2PO4 (2.5 g/l) MgSO4
dan 7H2O (0.25 g/l) HCl (untuk mengatur pH 3.8) (secukupnya)
Unsur mikro : Cu2+ (0.06 mg/l) Zn2+ (0.25 mg/l) Fe3+
(1.3 mg/l) HCl (untuk mengatur pH 3.8) (secukupnya) Fermentasi
ini dilangsungkan dalam Erlenmeyer 500 ml dengan diberi agitasi
(270 rpm) pada suhu 25ºC, selama 8-10
hari. Hasil yang diperoleh adalah kira-kira 72 gram asam sitrat
anhidrat per 100 gram sukrosa yang digunakan.

9
2. Produksi asam laktat
Produksi asam laktat mayoritas dilakukan dengan fermentasi gula
(glukosa) oleh bakteri asam laktat, seperti Lactobacillus, yang
memiliki toleransi yang tinggi terhadap asam dan bisa direkayasa
genetika untuk menghasilkan D-(-) atau L-(+) optical isomers dari
asam ini secara selektif. Namun bakteri jenis ini memerlukan
medium kompleks yang bisa membuat proses pemurnian
(downstream processing) sulit dan mahal. Ditambah, bakteri ini juga
tidak mampu mengfermentasi gula pentosa dengan efektif. Solusinya
adalah penggunaan bakteri lain jenis Escherichia coli yang telah
direkayasa genetika guna produksi asam laktat secara optimum.

3. Pembuatan asam asetat


Secara fermentasi dilakukan dalam dua tahap, yaitu fermentasi
alcohol dan fermentasi asam asetat oleh bakteri asam asetat pada
larutan yang mengandung alcohol. Fermentasi asam asetat sangat
tergantung pada kadar alcohol substrat dan aerasi. Bila kadar
alcohol 14% atau lebih maka akan terbentuk suatu lapisan
zooglea yang dapat mengakibatkan sukarnya proses oksidasi
sehingga tidak semua alcohol dapat teroksidasi menjadi asam asetat.
Bila kadar alcohol kurang dari 2% maka ester dan asam asetat yang
terbentuk akan teroksidasi menjadi asam, air, dan karbon dioksida.
Pada substrat dari air kelapa alcohol yang baik tidak lebih dari 6%
dengan aerasi sekurang-kurangnya 0,08 vvm. Tahapan reaksi
enzimatis yang terjadi adalah sebagai berikut :
- Etanol + oksigen etanol degidrogenase asetaldehid + air
- Asetaldehid + oksigen asetaldehid + hidrolase + hidratasetat
- Hidratasetaldehid + O2 + aldehid hidrogenase + asam asetat
Terdapat dua tahap fermentasi yang dilalui dalam pembuatan
cuka , yaitu fermentasi alkohol dan fermentasi asam asetat atau
asetifikasi. Fermenatasi Alkohol atau alkoholisasi merupakan proses

10
perubahan gula menjadi alkohol dan CO2 oleh mikroba
Saccharomyces cerevisiae. Tahap ini merupakan tahap pertama
dalam proses pembuatan cuka. Pada tahap ini karbohidrat akan
dipecah dahulu menjadi gula sederhana yaitu dengan hidrolisa pati
menjadi unit-unit glukosa. Dalam tahap pertama fermentasi glukosa
selalu terbentuk asam piruvat melalui jalur Embden Meyerhof
Parnas (EMP) atau glikolisis.

4. Produksi asam glukonat


Produksi asam glukonat juga dapat menggunakan Aerobasididum
pullulans. Medium Yeast malt extract agar (YME) diinokulasi
dengan Aureobasidium pullulans dan inkubasi 2 – 3hari kemudian
disimpan pada suhu 40C. Inokulum (10%) dibuat dengan
memindahkan sel dri agar plate ke dalam erlenmeyer 500 ml yang
mengandung (g/l): Glucosa, 30 g/l, NH4Cl 3 g/l, KH2PO4 1.4 g/l,
MgSO4. 7H2O 0.35 g/l, MnSO4.4H2O 5 mM, FeSO4.7H2O 1 mM,
CuSO4 x 5 H2O 4 μM (1 mg/l), ZnSO4.7H2O 0.01 g/l, CoSO4.7H2O
4 mg/l, H3BO3 0.04 g/l, CaCl2 0.1 g/l, NaCl 0.1 g/l, citric acid 2.5
g/l, Na2MoO4.2H2O 0.2 mg/l, thiamine-HCl 2 mg/l, biotin 0.25 g/l,
pyridoxine-HCl 0.625 mg/l, Ca-D-pantothenate 0.625 mg/l, nicotinic
acid 0.5 mg/l. medium ii juga digunakan untuk kondisi kultur di
fermentor. Fermentasi berlangsung pada suhu 300C dan pH 6,5 yang
diatur dengan menambahkan NaOH 45%. Medium fermentasi secara
kontinyu dimasukkan dalam fermentor. Anti buih diberikan tiap 1,5
jam. Fermentor bekerja berdasar prinsip kemostat dengan pengaturan
suhu, suplai oksigen dan pengeluaran gas.
Pada produksi asam glukonat secara kontinyu ini biomass ditahan
oleh filter yang dihubungan dengan fermentor (Gambar 1).
Fermentor, médium dan larutan NaOH disterilkan secara eksternal
dalam autoklaf besar.Selain dengan menggunakan filter, penahanan
sel dapat dilakukan menggunakan teknik amobilisasi. Amobilisasi
biomass dilakukan dalam fluidized bed reactor yang bekerja pada

11
volume 0,9 liter. Untuk amobilisasi biomass, sekitar 350 g porous
sinter glass beads ditambahkan dalam fluidized bed
reactor. Fermentai glukonat secara kontinyu dengan A.
pullulans pada kondisi optimum (pH 6,5 suhu 300C, kejenuhan udara
120 – 180%) menggunakan médium yang telah dioptimasi
dihasilkan lebih dri 220g/l pada kondisi steady state. Dengan glukosa
450g/l dalam médium yang dimasukkan dan kejenuhan udara 155%
dihasilkan 315 g/l asam glukonat dengan waktu tinggal 21 jam dn
biomass 6,8 g/l yang terbentuk. Produksi asam glukonat secara
kontinyu dengan waktu tinggal 25 jam mencapai steady state sekitar
170 jam setelah inokulasi. Konversi produk adalah 82,5% untuk
waktu retensi 21 jam dan 92% untuk waktu retensi 25 jam.Produksi
metabolit mikrobial baik primer ataupun sekunder biasanya terjadi
pada kondisi stress. Komposisi médium memainkan peran penting
untuk keberhasilan produksi metabolit. Parameter fermentasi seperti
pH, oksigen, suhu dan komposisi médium mempengaruhi produksi
asam glukonat. Dalam kultur kemostat konvensional tidak terdapat
penahanan biomass, pertumbuhan dan produksi terjadi secara
simultan. Alternatif baru untuk produksi secara kontinyu adalah
menggunakan sel yang tidak tumbuh atau penahanan biomass
menggunakan A. pullulans Penahanan biomas dengan amobilisasi
atau dengan filter dapat digunakan untuk mengoptimalkan proses
fermentasi kontinyu pada waktu yang sangat pendek yang apabila
dilakukan secara normal akan menyebabkan sel ikut keluar (wash
out) dari fermentor. Jadi laju pertumbuhan spesifik produk dapat
dikendalikan, pembentukan produk tidak terkait dengan laju
pertumbuhan. Beberapa penelitian menunjukkan perkembangan
fermentasi asam glukonat.
Produksi asam glukonat secara kontinyu dengan sel yang tidak
tumbuh dari A. niger dan Penicillium atau pun organisme lain tanpa
adanya penahanan biomass. Asam glukonat sebanyak 260 g/l
dihasilkan secara kontinyu dari A. pullulans dengan kondiri waktu

12
tinggal 15,3 jam, sekitar 305 – 315 g/l bila waktu tinggal 21 jam, 370
g/l pada 21 jam dan dalam percobaan fed-batch dapat dicapai 504 g/l
dalam waktu tinggal 19 jam. Pada miselia A. niger teramobilkan
dapat dihasilkan asam glukonat 120 – 140 g/l, hasil dapat lebih
tinggi pada ferd-batch, namun produksi tidak dapat mecapai lebih
dari 220 g/l. produk metabolit juga sering menjadi faktor
penghambat umpan balik dlam fermentasi. Konsentrasi asam
glukonat 250 g/l adalah konsentrasi batas bagi A. pullulan dan 300
g/l untuk A. niger. A. niger sulit ditangani karena sering
menyebabkan penyumbatan selama fermentasi dan tidak stabil untuk
operasi kontinyu. Gluconobacter menghasilkan cukup banyak asam
keto selama produksi asam glukonat jadi menyulitkan dalam isolasi
asam glukonatnya. Peningkatan kadar glukosa yang lebih tinggi dari
0.56 M juga menurunkan konversi glukosa pada Gluconobacter
oxydans.

2.3 Manfaat dalam bidang farmasi


1. Asam Sitrat
Penggunaan utama asam sitrat saat ini adalah sebagai zat pemberi
cita rasa dan pengawet makanan dan minuman, terutama minuman
ringan. Kode asam sitrat sebagai zat aditif makanan (E number ) adalah
E330. Garam sitrat dengan berbagai jenis logam digunakan untuk
menyediakan logam tersebut (sebagai bentuk biologis) dalam
banyak suplemen makanan. Sifat sitrat sebagai larutan
penyangga digunakan sebagai pengendali pH dalam larutan pembersih
dalam rumah tangga dan obat-obatan.
Kemampuan asam sitrat untuk meng-kelat logam menjadikannya
berguna sebagai bahan sabun dan deterjen. Dengan meng-kelat logam
pada air sadah, asam sitrat memungkinkan sabun dan deterjen
membentuk busa dan berfungsi dengan baik tanpa penambahan zat
penghilang kesadahan. Demikian pula, asam sitrat digunakan untuk
memulihkan bahan penukar ion yang digunakan pada alat penghilang

13
kesadahan dengan menghilangkan ion-ion logam yang terakumulasi
pada bahan penukar ion tersebut sebagai kompleks sitrat.
Asam sitrat digunakan di dalam industri bioteknologi dan obat-
obatan untuk melapisi (passivate) pipa mesin dalam proses kemurnian
tinggi sebagai ganti asam nitrat, karena asam nitrat dapat menjadi zat
berbahaya setelah digunakan untuk keperluan tersebut, sementara asam
sitrat tidak. Asam sitrat dapat pula ditambahkan pada es krim untuk
menjaga terpisahnya gelembung-gelembung lemak. Dalam resep
makanan, asam sitrat dapat digunakan sebagai pengganti sari jeruk.

2. Asam Laktat
Bakteri asam laktat dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain
dengan memproduksi protein yang disebut bakteriosin. Salah satu
contoh bakteriosin yang dikenal luas adalah nisin, diproduksi oleh
Lactobacillus lactis ssp. lactis. Nisin dapat menghambat pertumbuhan
beberapa bakteri, yaitu Bacillus, Clostridium, Staphylococcus, dan
Listeria. Senyawa bakteriosin yang diproduksi BAL dapat bermanfaat
karena menghambat bakteri patogen yang dapat merusak makanan
ataupun membayakan kesehatan manusia, sehingga keamanan makanan
lebih terjamin (Wikipedia, 2011).
Yoghurt adalah suatu produk olahan yang merupakan fermentasi
dari susu. Yoghurt memiliki aroma dan tekstur khas dari hasil fermentasi
bakteri laktosa yang menghasilkan asam laktat. Yoghurt atau yogurt,
adalah susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri. Yoghurt dapat
dibuat dari susu apa saja, termasuk susu kacang kedelai. Tetapi produksi
modern saat ini didominasi susu sapi. Fermentasi gula susu (laktosa)
menghasilkan asam laktat, yang berperan dalam protein susu untuk
menghasilkan tekstur seperti gel dan bau yang unik pada yoghurt (Rozi,
2010).
Pembuatan yoghurt dimulai dengan proses fermentasi susu oleh
bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophiles. Kedua
bakteri itu memiliki fungsi untuk membuat rasa asam pada yoghurt dan

14
juga mengubah laktosan menjadi asam laktat. Pada proses pembuatan
yoghurt, kadar laktosa dapat dikurangi pada proses fermentasi hingga
aman, ini membuat yoghurt bisa di konsumsi oleh siapapun termasuk
lansia, dan juga orang yang alergi dengan susu sekalipun bisa
memperoleh manfaat dari yoghurt ini (Rozi, 2010).

3. Asam Asetat
1.Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena
tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai
macam serat dan kain.
2.Pengatur keasaman pada industri makanan
3.Pelunak air
4.Minuman fungsional misal: cuka apel
5.Sebagai bahan baku Vinil asetat, Selulosa asetat, Asetat Anhidrit,
Ester Asetat, dan Garam Asetat

4. Asam glukonat
Asam glukonat dan produk turunannya memiliki banyak
kegunaan dalam bidang kimia, farmasi, makanan, minuman, tekstil
dan industry lainnya. Dalam industry makanan, asam glukonat dapat
dijadikan sebagai pengawet. Asam glukonat dapat digunakan untuk
melarutkan fosfat, aditif pada semen yang digunakan dalam industry
konstruksi agar tahan terhadap kondisi cuaca yang ekstrim, selain itu
dimanfaatkan sebagai pembersih pada kaleng aluminium. Asam
glukonat dapat menghasilkan produk-produk turunan seperti kalsium
glukonat, sodium glukonat, besi glukonat dan glucono-delta-lactone.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Mikroba yang dapat menghasilkan asam sitrat cukup banyak.
Diantara mikroba tersebut adalah Aspergillus niger, dan bakteri yang
dapat menghasilkan asam asetat adalah Saccharomyces cerevisiae dan
genus Acetobacter. Sedangkan bakteri Lactobacillus menghasilkan asam
laktat.Masing masing mikroba dapat di produksi dengan proses
fermentasi Juga mempunyai manfaat yaitu :
Asam sitrat digunakan di dalam industri bioteknologi dan obat-
obatan untuk melapisi (passivate) pipa mesin dalam proses kemurnian
tinggi sebagai ganti asam nitrat, karena asam nitrat dapat menjadi zat
berbahaya setelah digunakan untuk keperluan tersebut, sementara asam
sitrat tidak. Bakteri asam laktat dapat menghambat pertumbuhan bakteri
lain dengan memproduksi protein yang disebut bakteriosin. Salah satu
contoh bakteriosin yang dikenal luas adalah nisin, diproduksi oleh
Lactobacillus lactis ssp.
Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena
tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam
serat dan kain. Asam glukonat dalam industri makanan, dapat dijadikan
sebagai pengawet. Asam glukonat dapat digunakan untuk melarutkan
fosfat, aditif pada semen yang digunakan dalam industry konstruksi agar
tahan terhadap kondisi cuaca yang ekstrim, selain itu dimanfaatkan
sebagai pembersih pada kaleng aluminium.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anastassiadis, S and Hans-Jürgen Rehm. 2006. Continuous gluconic acid


production by Aureobasidium pullulans with and without biomass
retention. Electronic Journal of Biotechnology. Vol.9 No.5, Issue of
October 15.
Budiyanto,M.A Kresno. 2003. Mikrobiologi Terapan. UMM Press, Malang.
Judoamidjojo, M., Darwis, A.A., Sa’id, E,G. 1992. Teknologi Fermentasi.
Rajawali Pers,Jakarta.
Papagianni, Maria. 2007. Advances in Citric Acid Fermentation by Aspergillus
Niger: Biochemical Aspects, Membrane Transport and Modeling.
Biotechnology Advances, 25: 244–263 Rahman, Ansori. 1994. Teknologi
fermentasi Industrial II. Arcan, Jakarta.
Samson, R. A., Hoekstra, E. S., and Oorschot, C. A. N., 1996, “Introduction to
Food Borne Fungi”, Centra Albureau for Schimmcl Cultures, Netherland.
Wuryanti. 2008. Pengaruh Penambahan Biotin Pada Media Pertumbuhan
Terhadap Produksi Sel Aspergillus niger. Bioma, 10( 2): 46-50.
Broekhuijsen M.P, I.E. Mattern, R. Contreras, dan J.R. Kinghorn. 1993. Secretion
of Heterologons Protein by Aspergillus niger. J.Biotech. 31 : 135-145
Hang Y.D, D.F. Splittstoessitr, R.E.E. Woodams, dan R.M. Sherman. 1977. Citric
Acid Fermentation of Brewery Waste. J. of Food Science. 42 (2) : 383-
388) Rozi, 2011.
Waites, M.J., N.L. Morgan., J.S. Rockey and G. Higton. 2005. Industrial
Microbiology. An Introduction. Blackwell Publishing Co. Oxford

17