Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

CEPHALGIA

Disusun Oleh:

EIRENE MEGAHWATI PAEMBONAN


112016051

Dokter Pembimbing:

Dr. Miftahul, Sp.S

KEPANITERAAN ILMU SARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RSAU DR. ESNAWAN ANTARIKSA

1
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU PENYAKIT SARAF
RSPAU DR. ESNAWAN ANTARIKSA

Nama : Eirene Megahwati Paembonan


NIM : 102012082
Pembimbing : dr. Miftahul, Sp.S Tanda Tangan

.......................

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Umur : 56 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kp. Mekarsari RT 06/02 D5 Gambarsari
Masuk RS : 27/12/2017 (Ruang Merpati)
Keluar RS :-

PASIEN DATANG KE RS
 Dibawa oleh keluarga/tidak bisa berjalan/dengan alat bantu : dibawa oleh keluarga/
berjalan sendiri

II. SUBJEKTIF
Autoanamnesis dan Alloanamnesis, pada tanggal: 27 Desember 2017 pukul: 16.00
Keluhan Utama:
Sakit kepala sejak pagi hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang:

2
Pasien datang ke UGD dengan keluhan sakit kepala sejak pagi SMRS. Sakit
kepala dirasakan seperti keliyengan dan nyeri di bagian belakang kepala. Pasien
mengatakan sakit kepala ini sudah dirasakan 3 – 4 kali dalam seminggu ini. Sakit
kepala dirasakan seperti berdenyut dan semakin memburuk. Sakit kepala dirasakan
hilang timbul terutama saat pasien kecapean. Pasien merasa tidak nyaman pada leher
dan pundak. Pasien juga mengeluh mual dan muntah 1 kali, nafsu makan menurun.
Pasien menyangkal adanya demam dan silau bila melihat cahaya. BAB dan BAK
normal.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pasien tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya. Pasien
mengatakan mempunyai riwayat CKD dan saat ini sedang menjalani hemodialisa 2
kali dalam seminggu. Riwayat kencing manis dan darah tinggi disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga pasien, tidak terdapat riwayat darah tinggi dan kencing manis.

Riwayat sosial, ekonomi, pribadi


Keadaan sosial, ekonomi pasien baik. Pasien tidak memiliki kebiasaan
merokok atau minum alkohol. Pasien jarang berolahraga.

III. OBJEKTIF
1. Status Presens
Kesadaran : Compos Mentis, E:4 M:6 V:5 (GCS: 15)
Tekanan darah : 194/92 mmHg
Nadi : 73 kali/menit reguler dan kuat angkat
Pernapasan : 19 kali/menit
Suhu : 36, 2o C
Kepala : normocephali
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor
3mm, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak
langsung +/+, deviasi (-)
Hidung : deviasi septum (-), sekret (-), darah (-)
Telinga : sekret (-), darah (-), membran timpani intak

3
Tenggorokan : benjolan (-), hiperemis (-), post nasal drip (-).
Leher : tidak terdapat perbesaran kelenjar tiroid maupun kelenjar
getah bening.
Dada : pergerakan dada simetris, tidak terdapat bagian yang
tertinggal, tidak terdapat retraksi
Jantung : BJ I-II, murni reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru : vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Perut : datar, timpani, NTE (+), bising usus (+), normoperistaltik,
hepar dan lien tidak teraba.
Ekstremitas : Edema (-), akral hangat (+/+/+/+), CRT < 2 detik
Alat Kelamin : Tidak dilakukan pemeriksaan

2. Status Psikikis
Cara berpikir : wajar
Perasaan hati : wajar
Tingkah laku : baik
Ingatan : baik
Kecerdasan : baik

3. Status Neurologikus
A. Kepala
a. Bentuk : normocephali
b. Nyeri tekan : (-)
c. Simetris : simetris
d. Pulsasi : teraba pulsasi
B. Leher
a. Sikap : normal
b. Pergerakan : tidak terbatas
c. Kaku kuduk : (-)
C. Saraf kranial
1. N. Olfaktorius (N.I) kanan kiri
 Subjektif normal normal
 Dengan bahan tidak dilakukan tidak dilakukan

2. N. Optikus (N.II) kanan kiri


 Tajam penglihatan : visus: 6/6 visus: 6/6
 Lapang pandang : normal normal
 Melihat warna : normal normal
 Fundus okuli : tidak dilakukan tidak dilakukan

4
3. N. Okulomotorius (N.III) kanan kiri
 Sela mata: Normal Normal
 Pergerakan bulbus : Baik Baik
 Strabismus : Tidak ada Tidak ada
 Nystagmus : Tidak ada Tidak ada
 Exopthalmus : Tidak ada Tidak ada
 Bentuk pupil: Bulat, Isokor, 3 mm Bulat, Isokor, 3
mm
 Refleks terhadap sinar: (+) (+)
 Melihat kembar: tidak ada tidak ada

4. N. Trokhlearis (N.IV) Kanan Kiri


 Pergerakan mata normal normal
 Sikap bulbus normal normal
 Melihat kembar tidak ada tidak ada

5. N. Trigeminus (N.V) Kanan Kiri


 Membuka mulut normal normal
 Mengunyah normal normal
 Menggigit normal normal
 Refleks kornea normal normal
 Sensibilitas normal normal

6. N. Abdusen (N.VI) Kanan Kiri


 Pergerakan mata ke lateral normal normal
 Sikap bulbus baik baik
 Melihat kembar tidak ada tidak ada

7. N. Facialis (N.VII) Kanan Kiri


 Mengerutkan dahi normal normal
 Menutup mata normal normal
 Memperlihatkan gigi normal normal
 Bersiul normal normal
 Perasaan lidah 1/3 anterior tidak dilakukan tidak dilakukan

8. N. Vestibulo-kokhlearis Kanan Kiri


(N.VIII)
 Detik arloji (+) (+)
 Suara berisik (+) (+)
 Weber tidak dilakukan tidak dilakukan
 Rinne tidak dilakukan tidak dilakukan
 Shwabach tidak dilakukan tidak dilakukan

9. N. Glosofaringeus (N.IX) Kanan Kiri


 Perasaan lidah 2/3 posterior Sulit dinilai sulit dinilai
 Sensibilitas sulit dinilai sulit dinilai
 Pharynx sulit dinilai sulit dinilai

5
10. N. Vagus (N.X) Kanan Kiri
 Arcus pharynx sulit dinilai sulit dinilai
 Bicara normal normal
 Menelan normal normal
 Nadi normal normal

11. N. Aksesorius (N.XI) Kanan Kiri


 Mengangkat bahu normal normal
 Memalingkan kepala normal normal

12. N. Hipoglossus (N.XII) Kanan Kiri


 Pergerakan lidah normal normal
 Tremor lidah (-) (-)
 Artikulasi Jelas Jelas

Badan dan Anggota Gerak


1. Badan
Motorik
i. Respirasi : simetris dalam keadaan statis dan dinamis, pergerakan normal
ii. Bentuk columna vertebralis : normal
iii. Pergerakan columna vertebralis : normal

Sensibilitas Kanan Kiri


Taktil normal normal
Nyeri positif positif
Thermi tidak dilakukan tidak dilakukan
Lokalisasi normal normal

Refleks
Refleks kulit perut atas : tidak dilakukan
Refleks kulit perut bawah : tidak dilakukan
Refleks kulit perut tengah : tidak dilakukan
Refleks kremaster : tidak dilakukan

2. Anggota Gerak Atas


 Motorik Kanan Kiri
Pergerakan bebas bebas
Kekuatan 5 5
Tonus normotonus normotonus
Atrofi eutrofi eutrofi
 Sensibilitas Kanan Kiri
Taktil baik baik
Nyeri (+) (+)
Thermi (+) (+)
Diskriminasi (+) (+)
Lokalis (+) (+)
 Refleks Kanan Kiri
Biceps (+) (+)
Triceps (+) (+)

6
Tromnner-Hoffman (-) (-)

3. Anggota Gerak Bawah


 Motorik Kanan Kiri
Pergerakan bebas bebas
Kekuatan 5 5
Tonus normotonus normotonus
Atrofi eutrofi eutrofi
 Sensibilitas Kanan Kiri
Taktil baik baik
Nyeri (+) (+)
Thermi (+) (+)
Diskriminasi (+) (+)
Lokalis (+) (+)
 Refleks Kanan Kiri
Refleks Patella (+) (+)
Refleks Achilles (+) (+)
Klonus kaki (-) (-)
Babinsky (-) (-)
Tes Lasegue (-) (-)
Tes Kernig (-) (-)
Tes Brudzinki (-) (-)

Koordinasi, gait, dan keseimbangan


- Cara berjalan : Tidak dilakukan
- Tes Romberg : Tidak dilakukan
- Tes Telunjuk hidung : Pasien menunjuk telunjuk pemeriksa, lalu menunjuk
hidungnya
- Tes tumit lutut : Tidak dapat dilakukan

Gerakan-gerakan abnormal
- Tremor : tidak ada
- Miokloni : tidak ada
- Khorea : tidak ada

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium (21/12/2017)

7
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hemoglobin 8.4 g/dL L: 13,2-17,3
Hematokrit 25 % P: 40-52
Leukosit 9900 mm3 3800-10600
Trombosit 297000 mm3 150-440 ribu/mm3
KIMIA
Ureum 157 mg/dL 10-50 mg/dL
Kreatinin 07,9 mg/dL 0,9-1,3 mg/dL
Glukosa sewaktu 130 mg/dL < 120 mg/dL

V. RINGKASAN
Pasien datang ke UGD dengan keluhan sakit kepala sejak pagi SMRS. Sakit
kepala dirasakan seperti keliyengan dan nyeri di bagian belakang kepala. Pasien
mengatakan sakit kepala ini sudah dirasakan 3 – 4 kali dalam seminggu ini. Sakit
kepala dirasakan seperti berdenyut dan semakin memburuk. Sakit kepala dirasakan
hilang timbul terutama saat pasien kecapean. Pasien merasa tidak nyaman pada leher
dan pundak. Pasien juga mengeluh mual dan muntah 1 kali, nafsu makan menurun.
Pasien menyangkal adanya demam dan silau bila melihat cahaya. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan:
Kesadaran : Compos Mentis, E:4 M:6 V:5 (GCS: 15)
Tekanan darah : 194/92 mmHg
Nadi : 73 kali/menit reguler dan kuat angkat
Pernapasan : 19 kali/menit
Suhu : 36, 2o C
Kekuatan otot :
5 5
5 5
Reflex cahaya : +/+
Tes Keseimbangan: tidak didapatkan kelainan

VI. DIAGNOSIS
- Diagnosis klinik : Cephalgia
- Diagnosis topis : Muskulus trapezius, sternokleidomastoideus
- Diagnosis etiologi: Suspek Tension Type Headache

VII. PENATALAKSANAAN

8
Non-medikamentosa: Konsul spesialis saraf dan penyakit dalam
Observasi HB, Ureum, Kreatinin,Gula darah
Observasi TTV
Medikamentosa: Infus Renxamin 1kolf/24 jam
Omeprazole 1x1 ampul
Ondansentron 1x1 ampul
Tramadol tab 2x1

VIII. PROGNOSIS
- Ad Vitam : dubia ad bonam
- Ad Functionam : dubia ad bonam
- Ad Sanationam : dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
CEPHALGIA

Definisi
Dapat dikatakan sebagai rasa nyeri atau rasa tidak mengenakkan pada daerah atas
kepala memanjang dari orbital sampai ke daerah belakang kepala (area oksipital dan sebagian
daerah tengkuk). Nyeri kepala adalah adalah nyeri atau rasa tidak enak di kepala, setempat
atau menyeluruh dan dapat menjalar ke wajah, mata, gigi, rahang bawah dan leher. Pendapat
lain mengatakan nyeri atau perasaan tidak enak diantara daerah orbital dan oksipital yang
muncul dari struktur nyeri yang sensitif.1

Etiologi
Nyeri kepala penyebabnya multifaktorial, seperti kelainan emosional, cedera kepala,

9
migraine, demam, kelainan vaskuler intrakranial otot, massa intrakranial, penyakit mata,
telinga /hidung.1

Manifestasi Klinis1,2
Lokasi nyeri
Nyeri yang berasal dari bangunan intrakranial tidak dirasakan didalam rongga
tengkorak melainkan akan diproyeksikan ke permukaan dan dirasakan di daerah distribusi
saraf yang bersangkutan. Nyeri yang berasal dari dua pertiga bagian depan kranium, di fosa
kranium tengah dan depan, serta di supratentorium serebeli dirasakan di daerah frontal,
parietal di dalam atau belakang bola mata dan temporal bawah. Nyeri ini disalurkan melalui
cabang pertama nervus Trigeminus.
Nyeri yang berasal dari bangunan di infratentorium serebeli di fosa posterior
(misalnya di serebelum) biasanya diproyeksikan ke belakang telinga, di atas persendian
serviko-oksipital atau dibagian atas kuduk. Nervi kraniales IX dan X dan saraf spinal C1, C2
dan C3 berperan untuk perasaan di bagian infratentorial. Bangunan peka nyeri ini terlibat
melalui berbagai cara yaitu oleh peradangan, traksi, kontraksi otot dan dilatasi pembuluh
darah.
Nyeri yang berhubungan dengan penyakit mata, telinga & hidung cenderung di frontal
pada permulaannya. Nyeri kepala yang bertambah hebat menunjukkan kemungkinan massa
intrakranial yang membesar (hematoma subdural, anerysma, tumor otak)

Lamanya nyeri kepala


Lamanya nyeri kepala bervariasi, pada nyeri kepala tekanan (pressure headache)
disebabkan oleh ketegangan emosional dapat berlangsung berhari-hari atau berminggu-
minggu. Pada penderita migraine dirasakan nyeri kepala paroksismal, singkat &
melumpuhkan, berlansung kurang dari 30 menit.

Berulangnya nyeri kepala


Berulangnya nyeri kepala suatu fenomena yang telah diketahui. Pada wanita yang
menderita migrane akan mendapat serangan berulang ketika sedang menstruasi. Sedangkan
nyeri kepala yang berhubungan dengan gangguan hidung akan berulang apabila sering terjadi
infeksi traktus respiratorius atas yang sering ditemukan.

Klasifikasi Nyeri Kepala1,2,3


I. Nyeri Kepala Primer

10
a. Migren
b. Tension Type Headache
c. Cluster headache
d. Other primary headaches

II. Nyeri Kepala Sekunder


a. Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan / atau leher.
b. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan vaskuler cranial atau
servikal
c. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan non vaskuler intracranial.
d. Nyeri kepala yang berkaitan dengan substansi atau withdrawalnya.
e. Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi.
f. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan hemostasis
g. Nyeri kepala atau nyeri vaskuler berkaitan dengan kelainan kranium,
leher, mata, telinga, hidung, sinus,gigi,mulut, atau struktur facial atau
kranial lainnya.
h. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan psikiatrik.

TENSION TYPE HEADACHE4,5,6,7


Definisi Tension Type Headache (TTH)

Merupakan sensasi nyeri pada daerah kepala akibat kontraksi terus menerus otot-
otot kepala dan tengkuk (M.splenius kapitis, M.temporalis, M.maseter,
M.sternokleidomastoid, M.trapezius, M.servikalis posterior, dan M.levator skapula).

Etiologi dan Faktor Resiko Tension Type Headache (TTH)

Etiologi dan Faktor Resiko Tension Type Headache (TTH) adalah stress, depresi,
bekerja dalam posisi yang menetap dalam waktu lama, kelelahan mata, kontraksi otot yang
berlebihan, berkurangnya aliran darah, dan ketidakseimbangan neurotransmitter seperti
dopamin, serotonin, noerpinefrin, dan enkephalin.

Epidemiologi Tension Type Headache (TTH)

TTH terjadi 78 % sepanjang hidup dimana Tension Type Headache episodik


terjadi 63 % dan Tension Type Headache kronik terjadi 3 %. Tension Type Headache

11
episodik lebih banyak mengenai pasien wanita yaitu sebesar 71% sedangkan pada pria
sebanyak 56 %. Biasanya mengenai umur 20 – 40 tahun.

Klasifikasi Tension Type Headache (TTH)

Klasifikasi TTH adalah Tension Type Headache episodik dan dan Tension Type
Headache kronik. Tension Type Headache episodik, apabila frekuensi serangan tidak
mencapai 15 hari setiap bulan. Tension Type Headache episodik (ETTH) dapat berlangsung
selama 30 menit – 7 hari. Tension Type Headache kronik (CTTH) apabila frekuensi serangan
lebih dari 15 hari setiap bulan dan berlangsung lebih dari 6 bulan.

Patofisiologi Tension Type Headache (TTH)

Patofisiologi TTH masih belum jelas diketahui. Pada beberapa literatur dan hasil
penelitian disebutkan beberapa keadaan yang berhubungan dengan terjadinya TTH sebagai
berikut :

1. disfungsi sistem saraf pusat yang lebih berperan daripada sistem


saraf perifer dimana disfungsi sistem saraf perifer lebih mengarah
pada ETTH sedangkan disfungsi sistem saraf pusat mengarah
kepada CTTH.

2. disfungsi saraf perifer meliputi kontraksi otot yang involunter dan


permanen tanpa disertai iskemia otot.

3. transmisi nyeri TTH melalui nukleus trigeminoservikalis pars


kaudalis yang akan mensensitasi second order neuron pada nukleus
trigeminal dan kornu dorsalis ( aktivasi molekul NO) sehingga
meningkatkan input nosiseptif pada jaringan perikranial dan
miofasial lalu akan terjadi regulasi mekanisme perifer yang akan
meningkatkan aktivitas otot perikranial. Hal ini akan meningkatkan
pelepasan neurotransmitter pada jaringan miofasial.

4. hiperflesibilitas neuron sentral nosiseptif pada nukleus trigeminal,


talamus, dan korteks serebri yang diikuti hipesensitifitas supraspinal
(limbik) terhadap nosiseptif. Nilai ambang deteksi nyeri ( tekanan,
elektrik, dan termal) akan menurun di sefalik dan ekstrasefalik.
Selain itu, terdapat juga penurunan supraspinal decending pain
inhibit activity.

12
5. kelainan fungsi filter nyeri di batang otak sehingga menyebabkan
kesalahan interpretasi info pada otak yang diartikan sebagai nyeri,.

6. terdapat hubungan jalur serotonergik dan monoaminergik pada


batang otak dan hipotalamus dengan terjadinya TTH. Defisiensi
kadar serotonin dan noradrenalin di otak, dan juga abnormal
serotonin platelet, penurunan beta endorfin di CSF dan penekanan
eksteroseptif pada otot temporal dan maseter.

7. faktor psikogenik (stres mental) dan keadaan non-physiological


motor stress pada TTH sehingga melepaskan zat iritatif yang akan
menstimulasi perifer dan aktivasi struktur persepsi nyeri supraspinal
lalu modulasi nyeri sentral. Depresi dan ansietas akan meningkatkan
frekuensi TTH dengan mempertahankan sensitisasi sentral pada
jalur transmisi nyeri.

8. aktifasi NOS (Nitric Oxide Synthetase) dan NO pada kornu dorsalis.

Pada kasus dijumpai adanya stress yang memicu sakit kepala. Ada beberapa
teori yang menjelaskan hal tersebut yaitu:

1. adanya stress fisik (kelelahan) akan menyebabkan pernafasan


hiperventilasi sehingga kadar CO2 dalam darah menurun yang akan
mengganggu keseimbangan asam basa dalam darah. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya alkalosis yang selanjutnya akan mengakibatkan
ion kalsium masuk ke dalam sel dan menimbulkan kontraksi otot yang
berlebihan sehingga terjadilah nyeri kepala.

2. stress mengaktifasi saraf simpatis sehingga terjadi dilatasi pembuluh darah


otak selanjutnya akan mengaktifasi nosiseptor lalu aktifasi aferen gamma
trigeminus yang akan menghasilkan neuropeptida (substansi P).
Neuropeptida ini akan merangsang ganglion trigeminus (pons).

3. stress dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu alarm reaction, stage of


resistance, dan stage of exhausted. Alarm reaction dimana stress
menyebabkan vasokontriksi perifer yang akan mengakibatkan kekurangan
asupan oksigen lalu terjadilah metabolisme anaerob. Metabolisme anaerob

13
akan mengakibatkan penumpukan asam laktat sehingga merangsang
pengeluaran bradikinin dan enzim proteolitik yang selanjutnya akan
menstimulasi jaras nyeri. Stage of resistance dimana sumber energi yang
digunakan berasal dari glikogen yang akan merangsang peningkatan
aldosteron, dimana aldosteron akan menjaga simpanan ion kalium. Stage
of exhausted dimana sumber energi yang digunakan berasal dari protein
dan aldosteron pun menurun sehingga terjadi deplesi K+. Deplesi ion ini
akan menyebabkan disfungsi saraf.

Diagnosa Tension Type Headache (TTH)

Tension Type Headache harus memenuhi syarat yaitu sekurang – kurangnya dua dari
berikut ini :

1. adanya sensasi tertekan/terjepit.


2. intensitas ringan – sedang.
3. lokasi bilateral.
4. tidak diperburuk aktivitas. Selain itu, tidak dijumpai mual muntah, tidak ada salah
satu dari fotofobia dan fonofobia.
Gejala klinis dapat berupa nyeri ringan- sedang – berat, tumpul seperti ditekan atau
diikat, tidak berdenyut, menyeluruh, nyeri lebih hebat pada daerah kulit kepala, oksipital, dan
belakang leher, terjadi spontan, memburuk oleh stress, insomnia, kelelahan kronis, iritabilitas,
gangguan konsentrasi, kadang vertigo, dan rasa tidak nyaman pada bagian leher, rahang serta
temporomandibular.

Pemeriksaan Penunjang Tension Type Headache (TTH)

Tidak ada uji spesifik untuk mendiagnosis TTH dan pada saat dilakukan pemeriksaa
neurologik tidak ditemukan kelainan apapun. TTH biasanya tidak memerlukan pemeriksaan
darah, rontgen, CT scan kepala maupun MRI.

Diferensial Diagnosa Tension Type Headache (TTH)

Diferensial Diagnosa dari TTH adalah sakit kepala pada spondilo-artrosis deformans,
sakit kepala pasca trauma kapitis, sakit kepala pasca punksi lumbal, migren klasik, migren
komplikata, cluster headache, sakit kepala pada arteritis temporalis, sakit kepala pada
desakan intrakranial, sakit kepala pada penyakit kardiovasikular, dan sakit kepala pada
anemia.

14
Terapi Tension Type Headache (TTH)

Relaksasi selalu dapat menyembuhkan TTH. Pasien harus dibimbing untuk


mengetahui arti dari relaksasi yang mana dapat termasuk bed rest, massage, dan/ atau latihan
biofeedback. Pengobatan farmakologi adalah simpel analgesia dan/atau mucles relaxants.
Ibuprofen dan naproxen sodium merupakan obat yang efektif untuk kebanyakan orang. Jika
pengobatan simpel analgesia(asetaminofen, aspirin, ibuprofen, dll.) gagal maka dapat
ditambah butalbital dan kafein ( dalam bentuk kombinasi seperti Fiorinal) yang akan
menambah efektifitas pengobatan.Daftar analgesia yang biasa digunakan lihat pada tabel 5.

Prognosis dan Komplikasi Tension Type Headache (TTH)

TTH pada kondisi dapat menyebabkan nyeri yang menyakitkan tetapi tidak
membahayakan.Nyeri ini dapat sembuh dengan perawatan ataupun dengan menyelesaikan
masalah yang menjadi latar belakangnya jika penyebab TTH berupa pengaruh psikis. Nyeri
kepala ini dapat sembuh dengan terapi obat berupa analgesia. TTh biasanya mudah diobati
sendiri. Progonis penyakit ini baik, dan dengan penatalaksanaan yang baik maka > 90 %
pasien dapat disembuhkan.

Komplikasi TTH adalah rebound headache yaitu nyeri kepala yang disebabkan oleh
penggunaan obat – obatan analgesia seperti aspirin, asetaminofen, dll yang berlebihan.

Pencegahan Tension Type Headache (TTH)

Pencegahan TTH adalah dengan mencegah terjadinya stress dengan olahraga teratur,
istirahat yang cukup, relaksasi otot (massage, yoga, stretching), meditasi, dan biofeedback.
Jika penyebabnya adalah kecemasan atau depresi maka dapat dilakukan behavioral therapy.
Selain itu, TTH dapat dicegah dengan mengganti bantal atau mengubah posisi tidur dan
mengkonsumsi makanan yang sehat.

15
Daftar Pustaka

1. Adams, RD, Victor, M Rpper, AH, 2000. Principles of Neurology, 6th ed., McGraw-
Hill, New York.
2. Barret KE, Barman SM, Boitano S, Brooks HL. Review of Medical Properties of
Sensory Receptors. Amerika Serikat: Mc Graw Hill. P. 149-50.
3. Budiman G. Basic Neuroanatomical Pathways: Somatic Nervous System. 2nd ed.
Jakarta:Penerbit FKUI: 2009.p. 4-13.
4. Greenberg, R, Singh, SN., Handbook of Neurosurgery, 5th ed., Greenberg Graph. Inc.,
Lakeland, Florida.
5. Lindsay, KW., Bone I., Callander, R., 2001. Neurology and Neurosurgery Illustrated,
33th ed., Churcill, Livingstone.
6. Markam, S, 2000, Kapita Selekta Neurologi, Harsono (ed), Gajah Mada Universitas
Press, Yogyakarta.
7. Mardjono, M. Sidharta.P. 2000 Neurologi Klinis Dasar, edisi keenam, PT. Angkasa
Pura II Dian Rakyat, Jakarta.

16