Anda di halaman 1dari 7

STRESS AKIBAT KERJA YANG

TIDAK ERGONOMIS

A. PENDAHULUAN
Dalam masyarakat industri, stress akibat kerja merupakan kerugian manusia
dan kerugian ekonomi yang cukup bermakna. Stressor psikososial yang
merupakan “limbah” bagi para pekerja apabila tidak dapat diatasi akan
menimbulkan penyakit fisik dan mental. Kecelakaan kerja, absenteisme, dan
lesu kerja (burn out). Stress okupasional dapat mengenai semua starata pekerja
termasuk para eksekutif dan ternyata dari hasil berbagai survey menunjukkan
bahwa banyak dari mereka terpapar pada stressor berat dan gangguan mental
emosional.
Manajemen stress didasarkan pada segi organisasi structural dan individual.
Pengendalian stress perlu dimulai dengan pengenalan dan pemahaman oleh para
menejer dan dokter perusahaan. Dokter perusaan wajib selalu mengevaluasi
profil kesehatan seluruh karyawannya terhadap semua gejala akibat stres
sehingga dituntut mempunyai komponen kesehatan jiwa dalam bidang promosi,
preventive terapi dan rehabilitasi. Prevensi primer, sekunder, dan tersier harus
dilaksanakan di perusahaan dan industri oleh para manager, dokter perusahaan
dan serikat pekerja.

B. SUMBER STRES DARI PEKERJAAN


Konotasi yang umum dari stress adalah bentuk destruktif atau penderitaan
(distress) yang diassosiasikan dengan kondisi yang tidak nyaman pada disfungsi
dan penyakit seperti gangguan emosional, penyakit jantung koroner dan tekak
lambung. Dipihak lain, bangkitan stress dapat sebagai motivasi dan kekuatan
positif yang memperbaiki kualitas hidup yang disebut “ eustress”, seperti yang
digambarkan dengan pekerjaan yang saling tergantung satu dengan lainnya.
Dalam kondisi demikian, maka sumber stress yang berasal dari pekerjaan
merupakan juga sumber stress pada kegiatan diluar pekerjaan (dirumah,
masyarakat, dsb)
Stress dengan model penanggulangannya, masing-masing menawarkan
suatu bagian penting proses mental dan fisik dari pengalaman stress kehidupan.
Bukti hubungan antara stress kehidupan dan penyakit secara primer dapat
diselesaikan melalui studi sayatan melintang (cross-sectional), seperti pada
gambar berikut :
Gambar 2 : seluruh model stress dan penanggulangannya menggambarkan
beberapa langkah diantara pengalaman permulaan dari seseorang pada perilaku
kehidupan bermakna dan pencatatan terakhir suatu penyakit. Pada umumnya
orang berhasil mengelolah langkah 1,2, dan 4 dan tidak menjadi sakit. Tetapi
apabila pertahanan psikologis (langkah 2) tidak efektif dan upaya pada
penanggulangan (langkah 4) tidak berhasil, seseorang punya risiko tinggi untuk
hamper jatuh sakit, langkah 5 dan langkah 6 (Rahe : Acute Versus Post traumatic
stress disorder, 1993)

C. STRES PADA PARA EKSEKUTIF


Telah diteliti kesehatan mental dan stress kerja terhadap 344 orang kerani
(clerk) dan sekretaris dan 185 orang eksekutif, 96 orang manajer dan 89 orang
eksekutif di Hongkong (Lam, 1987). Tidak ada perbedaan bermakna antara
kelompok non-eksekutif dan eksekutif dibidang kesehatan mental dan
kemampuan penanggulangan stress apabila ditinjau dari jenis kelamin. Pada
kelompok non-eksekitif menunjukkan perhatian yang kurang, banyak masalah
dalam menerima nilai-nilai orang lain dan lebih banyak tidak puas dalam
suasana kerja (work context).
Eksekutif wanita menunjukkan risiko tinggi untuk menderita stress, lebih
banyak masalah dalam masalah mental, penanggulangan stress dan suasana kerja
dari pada rekan prianya. Kesehatan mental berasosiasi berat dengan setiap factor
strss kerja yang diteliti :
Pada penelitian tersebut terdapat gangguan mental sebagai berikut :
1. psikoneurosis 31,9%
2. problem dengan suasana kerja 47,7%
3. problem dengan penanggulangan stress 20,9%
4. problem dengan stressor (stressor spesifik dengan
sifat/habitat kerja) 14,8%
penanggulangan stress yang kurang merupakan predictor untuk kesehatan
mental ang buruk pada eksekutif pria dan wanita.
Stress oupasional yang diteliti pada 52 orang staf diperusahaan minyak
lepas pantai, bahwa yang terpapar pada stressor berat terdapat 21 orang (40,38)
dan yang menderita penyakit jantung koroner ada 4,5% (Prayitno,1993)

D. MANAJEMEN STRES
Strategi dalam manajemen stress hendaknya berdasarkan pada segi
organisasi structural dan individual karena keduanya mempunyai peran penting
dalam mempengaruhi stress. Dari segi organisasi, realisasi kesejahtraan
karyawan dan organisasi berarti melaksanakan kebijaksanaan yang berpihak
pada karyawan. Kebijakan yang menunjang tinggi nilai kesehatan individual,
kesejahtraan dan produktivitas dan gilirannya akan menguntungkan organisasi.
Pada saat ini aktivitas ini dinamakan Quality Control Circle, WIT (Work
Improvement Team) dan pengembangan team (Team Building).
Intervensi langsung oleh organisasi adalah berupa penyelenggaraan latihan
manajemen stress bagi karyawan. Ini dapat meliputi suatu kegiatan penyadaran
sehingga program yang lebih komprehensif. Kegiatan penyadaran adalah metode
yang palingsederhan untuk manajemen stress oleh perusahaan, misalnya dalam
bentuk bicara pada waktu makan siang dan informasi dari intervensi diberi
kesempatan untuk memahami stress dan apabila menyelidiki lebih lanjut.
Pembinaan kesehatan dilingkungan perusahaan adalah tanggung jawab
eksekutif (line responsibility) atau tanggung jawab komando (commend
responsibility) dilingkungan militer, dibidang kesehatan jiwa, pembinaanya
bertujuan untuk mencegah penyakit dan gangguan yang berkaitan dengan stress
dan cedera yang tidak perlu terjadi atau yang dapat dicegah.
Pengendalian stress dimulai dengan pengenalan dan pemahaman yang lebih
oleh para eksekutif dan profesi kesehatan. Pendekatan kepada pengelolah dan
prevensi dapat ditujukan kepada organisasi atau individu. Mula-mula program
pengelolaan stress, cenderung menekankan pada pencegahan taraf individu cara
organisasi dalam rangka menciptakan suasana kerja yang meminimalkan
terjadinya stress pada karyawan.

E. PENDEKTAN INDIVIDUAL
Pendekatan terhadap pengelolaan stress (stress management) pada
umumnya ditujukan pada individu dan upaya mengajar keterampilan untuk
mengelolah atau mengurangi stress. Program ini dapat ditawarkan kepada semua
karyawan atau kelompok karyawan tertentu. Penyuluhan dapat disebarkan
melalui brosur hingga konseling individual yang intensif. Tujuan dari program
tersebut ditempat kerja adalah untuk mendidik karyawan tentang stress dan
efeknya., meningkatkan kesadaran terhadap stress kehidupan dan pekerjaan, dan
mengerjakan keterampilan untuk mengelolah dan mengurangi stress. Program
ini ditunjukkan untuk mengidentifikasikan orang yang dalam fase dini dari stress
sebelum menjadi masalah kesehatan yang lebih gawat.
Dengan mengajarkan keterampilan untuk meminimalkan efek dari stress,
program ini dapat membatasi akibat jangka panjang dari stress pekerjaan.
Kuesioner terhadap diri sendiri dapat menentukan stress yang paling prevalen
didalam organisasi. Pada umumnya upaya meningkatkan stress pekerjaan
tidaklah cukup hanya mengerjakan keterampilan khusus tersebut. Tapi dibagi 2
yakni mengelolah stress dan teknik mengurangi stress. Teknik mengelolah stress
ditujukan untuk membantu karyawan yang memberikan reaksi fisiologik dan
psikologik terhadap stress, sebaliknya teknik mengurangi stress adalah
keterampilan dan strategi interpersonal yang bertujuan mengatasi stress
dilingkungan kerja.

F. MODEL MANAJEMEN STRES YANG DIDAMBAKAN


Dalam rangka kita menuju kezaman industrialisasi, pola penyakit
dilingkungan perusaan atau industri diperkirakan akan bergeser dari penyakit
pekerjaan yang disebabkan karena stressor fisik dan biologic kepada penyakit
yang berkaitan dengan stressor psikosial.
Pimpinan perusahaan dan industri harus menyadari bahwa stress akan
makan biaya tinggi. Sebagai contoh di Amerika Serikat yang berkaitan dengan
pekerjaan di AS berakibat kerugian $200 milyar dan kira-kira satu juta karyawan
absent karena gangguan kesehatan berkaitan dari akibat stress seperti : nyeri
punggung, sakit kepala, tukak lambung, insomnia, anxietas, depresi penyakit
jantung, hipertensi dan keluhan gastrointestinal. Stress menyebabkan 11% dari
kecelakaan industrial dan 75-90% kunjungan pada dokter perusahaan adalah
akibat stress (National Healt Resources, 1989).
Walaupun demikian, stress yang berkaitan dengan pekerjaan tidak selalu
buruk. Stress tersebut yang disebut “eustres” dapat merangsang pikiran kreatif,
meningkatkan kerja dan prodiktivitas. Beberapa perusahaan umumnya
memanfaatkan stress yang berkaitan dengan pekerjaan melalui cara ini.
Dilingkungan militer dikenal organisasi yang disebut Mental Hygiene
Consultation Service yang dikepalai seorang psikiater dengan timnya yang
terdiri dari psikolog dan pekerja social. Asas-asas yang digunakan dalam
psikiater militer yang dideskripsikan oleh Artiss (1962) adalah :
1. Asas “proximity”, yaitu pasien diberikan terapi secepat
mungkin dimana tempat ia menderita stress dan gangguan jiwa.
2. Asas “immediacy”, yaitu pasien diberikan terapi
secepat mungkin setelah menderita stress atau gangguan jiwa, sebagai
intervensi krisis.
3. Asas “expentancy”, yaitu pasien mengharapkan dan
diharapkan kembali kepda tugasnya semua secepat mungkin

G. KESIMPULAN
1. Stressor fisik dan psikososial ditempat kerja dapat
mengakibatkan gangguan jiwa, penyakit fisik, kecelakaan kerja dan
absenteisme. Akibat stress diperusahaan dan industri dituntut kinerja tinggi
ternyata cukup besar dibidang kerugian ekonomi dan kerugian manusia.
2. Pelaksanaan program preventive, terutama dibidang
penanggulangan stress memerlukan komitment dan manajemen, misalnya
program gerakan hidup sehat yang meliputi : tidak merokok, makan dan
minum seimbang, olah raga teratur dan terukur, mengatasi stress dan tidur
cukup.
3. Asas-asas pembinaan kesehatan jiwa dilingkungan
militer dapat dipertimbangkan untuk diterapkan dilingkungan perusahaan dan
industri termasuk tersedianya fasilitas konsultasi kesehatan jiwa.
TUGAS ERGONOMI

STRESS AKIBAT KERJA YANG


TIDAK ERGONOMIS

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I
1. MUH. AKBAR : 07.03.030
2. YUSRI : 07.03.033
3. FITRIA : 07.03.007
4. AKULINA WILANTI : 07.03.036
5. LIANTI ABDAL : 07.03.010

Program studi perekam medis dan informasi kesehatan


stikes panakkukang makassar
Tahun ajaran 2009