Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

KEJANG DEMAM

OLEH
Ibnu Fajar Sidik (2013730148)

PEMBIMBING
dr. Johnwan Usman, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN


ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat
dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas referat “Kejang Demam” ini tepat
pada waktunya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan laporan ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak yang membaca ini, agar penulis dapat mengkoreksi dan
dapat membuat laporan kasus ini yang lebih baik kedepannya.
Demikianlah laporan kasus ini dibuat sebagai tugas dari kegiatan klinis di stase
Pediatri serta untuk menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca
pada umumnya.

Jakarta, November 2017

Penulis

2
BAB I

PEMBAHASAN

I. Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu diatas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial, tanpa adanya infeksi
susunan saraf pusat (SSP) atau gangguan elektrolit akut/metabolik serta tidak ada riwayat
kejang tanpa demam sebelumnya.

Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures kejang demam adalah suatu


kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 6 bulan sampai 5 tahun,
berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau
penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4
minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang
ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.

II. Klasifikasi
Kejang demam terjadi pada 2-5% anak dengan umur berkisar antara 6 bulan sampai
5 tahun, insidens tertinggi pada umur 18 bulan. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia,
membagi kejang demam menjadi dua

1. Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut)


- Berlangsung singkat
- Umumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu < 15 menit
- Bangkitan kejang tonik, tonik-klonik tanpa gerakan fokal
- Tidak berulang dalam waktu 24 jam

2. Kejang demam kompleks (hanya dengan salah satu kriteria berikut)


- Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit
- Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului dengan kejang
parsial
- Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam, anak sadar kembali di antara
bangkitan kejang.

3
III. Faktor Resiko

Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu,
terdapat faktor-faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung,
perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan
kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami
satu kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih.
Risiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah
demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan
riwayat keluarga epilepsi.

IV. Etiologi

Hingga kini etiologi kejang demam belum diketahui dengan pasti. Demam sering
disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, dan
infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang
yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.

V. Patofisiologi

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau otak diperlukan energi yang
didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glukosa dan melalui suatu proses oksidasi. Dalam proses oksidasi tersebut diperlukan
oksigen yang disediakan melalui perantaraan paru-paru. Oksigen dari paru-paru ini
diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskular. Suatu sel, khususnya sel otak atau
neuron dalam hal ini, dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari membran
permukaan dalam dan membran permukaan luar. Membran permukaan dalam bersifat
lipoid, sedangkan membran permukaan luar bersifat ionik.

Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dengan mudah dilalui ion
Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium ( Na+ ) dan elektrolit lainnya,
kecuali oleh ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar neuron, maka terdapat perbedaan
potensial yang disebut potensial membran neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial

4
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada
permukaan sel. Keseimbangan potensial membran tadi dapat berubah karena adanya :
perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler, rangsangan yang datang mendadak
seperti rangsangan mekanis, kimiawi, atau aliran listrik dari sekitarnya, dan perubahan
patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1°C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15% dan meningkatnya kebutuhan oksigen sebesar 20%. Pada
seorang anak usia 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh sirkulasi tubuh,
dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi kenaikan suhu tubuh pada
seorang anak dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan dalam waktu
singkat terjadi difusi ion Kalium dan ion Natrium melalui membran tersebut sehingga
mengakibatkan terjadinya lepas muatan listrik. Lepasnya muatan listrik ini demikian besar
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel lain yang ada didekatnya
dengan perantaraan neurotransmitter sehingga terjadilah kejang.

VI. Alur Diagnosis


A. Anamnesis
 waktu terjadi kejang, durasi, frekuensi, interval antara 2 serangan kejang
 sifat kejang (fokal atau umum)
 Bentuk kejang (tonik, klonik, tonik-klonik)
 Kesadaran sebelum dan sesudah kejang (menyingkirkan diagnosis
meningoensefalitis)
 Riwayat demam ( sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap atau naik
turun)
 Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA, OMA, GE)
 Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai demam
atau epilepsi)
 Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi)
 Riwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
 Trauma kepala

B. Pemeriksaan Fisik

5
 Kesadaran : apakah terdapat penurunan kesadaran, suhu tubuh : apakah terdapat
demam
 Tanda rangsang meningeal : Kaku kuduk, Bruzinski I dan II, Kernique, Laseque
 Pemeriksaan nervus kranial : Umumnya tidak dijumpai adanya kelumpuhan nervi
kranialis
 Tanda peningkatan tekanan intrakranial : ubun-ubun besar (UUB) membonjol, papil
edema.
 Tanda infeksi diluar SSP : ISPA, OMA, ISK, dll
 Pemeriksaan neurologi : tonus, motorik, refleks fisiologis, refleks patologis

C. Kriteria Diagnosis
 Kejang didahului oleh demam
 Pasca kejang anak sadar kecuali kejang lebih dari 15 menit

D. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan laboratorium dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab
demam, meliputi darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit, serum kalsium,
fosfor, magnesium, ureum, kreatinin, urinalisis, biakan darah, urin dan feses,
walaupun kadang tidak menunjukan kelainan yang berarti.
 Fungsi lumbal sangat dianjurkan pada anak dibawah umur 12 bulan, dianjurkan
pada umur 12-18 bulan, dan dipertimbangkan pada anak berumur diatas 18 bulan,
atau dicurigai menderita meningitis. Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan
untuk menegakkan diagnosis/menyingkirkan kemungkinan meningitis. Jika yakin
bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal. Berdasarkan
bukti-bukti terbaru, saat ini, pemeriksaan pungsi lumbal tidak dilakukan secara
rutin pada anak berusia <12 bulan yang mengalami kejang demam sederhana, well-
appearing, imunisasi lengkap (termasuk HiB dan Pneumokokus).
Indikasi pungsi lumbal :
1. Terdapat tanda dan gejala rangsang meningeal
2. Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis
3. Dipertimbangkan pada bayi usia 6-12 bulan yang belum mendapatkan
imunisasi HiB ATAU pneumokokus ATAU yang riwayat imunisasi tidak jelas

6
4. Dipertimbangkan pada anak dengan kejang disertai demam yang sebelumnya
telah mendapat antibiotik dan pemberian antibiotik tersebut dapat mengaburkan
tanda dan gejala meningitis.
 Pemeriksaan pencitraan (CT-scan atau MRI kepala) dapat diindikasikan pada
keadaan adanya riwayat atau tanda klinis trauma kepala, dan kemungkinan lesi
struktural di otak, ditandai adanya defisit neurologi (mikrosefal, spastisitas,
hemiparesis, kejang fokal), adanya tanda peningkatan tekanan intrakranial
(kesadaran menurun, muntah berulang, fontanel anterior membonjol, paresis saraf
otak, atau edema papil).
 Elektroensefalografi (EEG) ternyata kurang mempunyai nilai prognostik. EEG
abnormal tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi
atau kejang demam berulang dikemudian hari. Saat ini pemeriksaan EEG tidak
dianjurkan untuk pasien kejang demam sederhana. EEG dipertimbangkan pada
keadaan kejang demam yang bersifat fokal, kejang demam kompleks pada anak
berusia lebih dari 6 tahun.

VII. Penatalaksanaan

Ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu (1) pengobatan fase akut ; (2) mencari dan
mengobati penyebab ; dan (3) pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang
demam.
1. Pengobatan fase akut
Sering kali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang, yang perlu diperhatikan
adalah ABC (Airway, Breathing,Circulation). Perhatikan juga keadaan vital seperti
kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang
tinggi diturunkan dengan kompres air hangat dan pemberian antipiretik.

 Antipiretik

Antipiretik tidak mengurangi risiko terjadinya demam, akan tetapi tetap


diberikan parasetamol 10-15 mg/kg/x setiap 4-6 jam atau ibuprofen 5-10mg/kg/x
tiap 4-6 jam.

Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan
IV atau intrarektal.

7
Dosis diazepam IV 0,3-0,5 mg/kgbb/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit
dengan dosis maksimal 20 mg. Bila kejang berhenti sebelum diazepam habis,
hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum baru
dicabut. Bila diazepam IV tidak tersedia atau pemberiannya sulit, dapat digunakan
diazepam intrarektal 5 mg (BB< 10kg) atau 10 mg (BB > 10 kg). Bila kejang tidak
berhenti dapat diulang selang 5-10 menit. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin
dengan dosis awal 10-20 mg/kgbb IV perlahan-lahan 1 mg/kgbb/menit. Setelah
pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan NaCl fisiologis karena
fenitoin bersifat basa dan dapat menyebabkan iritasi vena.

Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital langsung


setelah kejang berhenti. Dosis awal fenobarbital suntikan IM 30 mg untuk neonatus
dan 50 mg untuk yang berusia 1 bulan –1 tahun dan 75 mg untuk yang berusia lebih
dari 1 tahun. 4 jam kemudian berikan dosis rumat fenobarbital untuk 2 hari pertama
8 - 10mg/kgbb/ hari dibagi 2 dosis, dan pada hari berikutnya sampai demam reda
sebanyak 4-5 mg/kgbb/ hari dibagi 2 dosis. Dosis total tidak melebihi 200 mg/ hari
karena efek samping berupa hipotensi, penurunan kesadaran, dan depresi
pernapasan.

Bila kejang berhenti dengan fenitoin, lanjutkan fenitoin dengan dosis 4-8
mg/kgbb/hari, 12-24 jam setelah dosis awal.

2. Mencari dan mengobati penyebab.


Pemeriksaan LCS dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis,
terutama pada pasien kejang demam yang pertama.

Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada


kasus yang dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila ada gejala meningitis atau
bila kejang demam berlangsung lama.

3. Pengobatan profilaksis
Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat demam dan (2)
profilaksis terus-menerus dengan antikonvulsan setiap hari

 Pemberian obat antikonvulsan intermitten

Tidak ditemukan bukti bahwa pemberian obat antikonvulsan dapat


mencegah terjadinya kejang demam. Dokter neurologi anak di Indonesia
sepakat bahwa profilaksis intermitten :

8
 Tidak diberikan pada kejang demam sederhana tanpa faktor risiko

 Diberikan pada kejang demam sederhana dengan faktor risiko yaitu :

- kelainan neurologis berat

- berulang 3 kali dalam 6 bulan atau 4 kali dalam setahun

- usia <6 bulan

- bila kejang terjadi pada suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi

- kejang demam sebelumnya terjadi saat suhu tubuh naik dengan cepat

Untuk profilaksis intermiten diberikan diazepam secara oral dengan dosis 0,3-
0,5mg/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat pula
diberikan secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg (BB<10kg) dan 10 mg
(BB>10kg) setiap pasien menunjukan suhu >38,5oc. Efek samping diazepam adalah
ataksia, mengantuk dan hipotonia.

 Pemberian obat antikonvulsan rumat

Profilaksis terus-menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang


demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tapi dapat mencegah
terjadinya epilepsi di kemudian hari. Digunakan fenobarbital 4-5 mg/kgbb/hari
dibagi dalam 2 dosis atau obat lain seperti asam valproat dengan dosis 15-40
mg/kgbb/hari. Antikonvulsan profilaksis terus-menerus diberikan selama 1-2
tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-3 bulan.

Profilaksis terus-menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1


atau 2) yaitu:

1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau
perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal)
2. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologis
sementara atau menetap
3. Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung.
4. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur <12 bulan atau terjadi kejang
multipel dalam satu episode demam.

9
Bila hanya memenuhi 1 kriteria saja dan ingin memberikan pengobatan jangka
panjang, maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan
diazepam oral atau rektal tiap 8 jam disamping antipiretik.

VIII. Prognosis

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, profnosisnya baik dan tidak
menyebabkan kematian. Frekuensi berulangnya kejang berkisar antara 25-50%,
umumnya terjadi pada 6 bulan pertama. Risiko untuk mendapatkan epilepsi

Algoritma penanganan kejang akut dan status konvulsif

IX. Komplikasi Kejang Demam


Gangguan-gangguan yang dapat terjadi akibat dari kejang demam anak antara lain :
1. Kejang Demam Berulang.
Kejang demam berulang adalah kejang demam yang timbul pada lebih dari
satu episode demam. Beberapa hal yang merupakan faktor risiko berulangnya
kejang demam yaitu :

10
a. Usia anak < 15 bulan pada saat kejang demam pertama

b. Riwayat kejang demam dalam keluarga

c. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam

d. Riwayat demam yang sering

e. Kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.

Berdasarkan penelitian kohort prospektif yang dilakukan Bahtera, T., dkk


(2009) di RSUP dr. Kariadi Semarang, dimana subjek penelitian adalah
penderita kejang demam pertama yang berusia 2 bulan - 6 tahun, kemudian
selama 18 bulan diamati. Subjek penelitian berjumlah 148 orang. Lima puluh
enam (37,84%) anak mengalami bangkitan kejang demam berulang.

2. Kerusakan Neuron Otak.

Kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai dengan apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot yang akhirnya
menyebabkan hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat karena metabolisme
anaerobik, hipotensi arterial, denyut jantung yang tak teratur, serta suhu tubuh
yang makin meningkat sejalan dengan meningkatnya aktivitas otot sehingga
meningkatkan metabolisme otak. Proses di atas merupakan faktor penyebab
terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsung kejang lama. Faktor
terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia
sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang
mengakibatkan kerusakan neuron otak.

3. Retardasi Mental, terjadi akibat kerusakan otak yang parah dan tidak
mendapatkan pengobatan yang adekuat.

4. Epilepsi, terjadi karena kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah
mendapat serangan kejang yang berlangsung lama. Ada 3 faktor risiko yang
menyebabkan kejang demam menjadi epilepsi dikemudian hari, yaitu :

11
a. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung.

b. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam


pertama.

c. Kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.

Menurut American National Collaborative Perinatal Project, 1,6% dari


semua anak yang menderita kejang demam akan berkembang menjadi
epilepsi, 10% dari semua anak yang menderita kejang demam yang
mempunyai dua atau tiga faktor risiko di atas akan berkembang menjadi
epilepsi.

5. Hemiparesis, yaitu kelumpuhan atau kelemahan otot-otot lengan, tungkai serta


wajah pada salah satu sisi tubuh. Biasanya terjadi pada penderita yang
mengalami kejang lama (kejang demam kompleks). Mula-mula kelumpuhan
bersifat flaksid, setelah 2 minggu timbul spas

12
BAB II

PENUTUP

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
diatas 380C dengan metode pengukuran apapun) yang disebabkan proses ekstrakranial,
tanpa adanya infeksi sistem saraf pusat (SSP) atau gangguan elektrolit akut/metabolik,
terjadi pada anak diatas umur 1 bulan, dan tidak ada riwayat kejang tanpa demam
sebelumnya.

Klasifikasi dari kejang demam :

1. Kejang demam sederhana


2. Kejang demam kompleks.
Penatalaksanaan yang perlu dikerjakan yaitu :

1. Pengobatan fase akut


2. Mencari dan mengobati penyebab
3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam
Untuk prognosis kejang demam, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan
kematian jika ditanggulangi dengan tepat dan cepat.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Nelson, Waldo.E.MD., dkk. 2011. Ilmu Kesehatan Anak Edisi VI. Jakarta: EGC.
2. Mansjoer, Arief. Kapita selekta kedokteran edisi ketiga. Media Aesculapius FK UI.
Jakarta : 2014
3. Buku Ajar Pediarti Gawat Darurat IDAI 2014
4. Panduan Pelayanan Medis Departeman Ilmu Kesehatan Anak RSCM, Jakarta : 2010
5. Panduan Pelayanan Medis Ikatan Dokter Indonesia, Jakarta : 2007
6. Kesepakatan UKK Neurologi IDAI, Saraf Anak PERDOSSI. Kejang demam.
Jakarta: 2004.
7. PPK Anak RSCM. Jakarta : 2015

14