Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ketika ginjal mengalami kerusakan maka ginjal tidak dapat
membersihkan tubuh dari sisa-sisa metabolisme. Sisa-sisa metabolisme dan
kelebihan air menumpuk dan lama kelamaan menjadi banyak di dalam darah
yang disebut uremia.
Gagal ginjal kronik berarti kehilangan fungsi ginjal yang bisa terjadi
secara cepat atau lambat dalam beberapa tahun. End Stage Renal Disease (ESRD)
terjadi ketika ginjal mengalami kerusakan tahap akhir, dimana ginjal tidak dapat
bekerja dengan baik untuk menjaga keseimbangan zat-zat kimia tubuh yang
diperlukan untuk hidup. Pada saat ini pasien memerlukan dialysis sebagai terapi
pengganti.
Pada saat ini ada yang di sebut dengan dialysis peritoneal, yaitu Metode
pencucian darah dengan mengunakan peritoneum (selaput yang melapisi perut
dan pembungkus organ perut). Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil
yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan
selama waktu tertentu sehingga limbah metabolic dari aliran darah secara
perlahan masuk ke dalam cairan tersebut, kemudian cairan dikeluarkan,
dibuang, dan diganti dengan cairan yang baru.

1.2 Rumusan Masalah


1) Apakah sejarah dari CAPD ?
2) Apakah definisi dari CAPD ?
3) Apakah tujuan dari CAPD ?
4) Bagaimana manifestasi klinis yang ditimbulkan dari CAPD ?
5) Bagaimana prinsip-prinsip dalam CAPD ?
6) Apa keuntungan dan kelemahan Peritoneal Dialisis?
7) Apa Indikasi dari CAPD ?
8) Apa Kontra indikasi dari CAPD ?
9) Apa komplikasi yang timbulkan dari CAPD ?
10) Bagaimana mekanisme dan prosedur tindakan dari CAPD ?

1
11) Diagnosa keperawatan apa yang keluar pada kasus CAPD ?
12) Bagaimana peran perawat dalam CAPD pada saat pre-intra-post tindakan ?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui sejarah CAPD
2) Untuk mengetahui definisi CAPD
3) Untuk mengetahui tujuan CAPD
4) Untuk mengetahui manifestasi klinis CAPD
5) Untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar CAPD
6) Untuk mengetahui keuntungan dan kelemahan CAPD
7) Untuk mengetahui indikasi CAPD
8) Untuk mengetahui Kontra indikasi CAPD
9) Untuk mengetahui komplikasi yang ditimbulkan CAPD
10) Untuk mengetahui mekanisme dan prosedur tindakan CAPD
11) Untuk mengetahui Diagnose keperawatan CAPD
12) Untuk mengetahui peran perawat pada pasien CAPD pada saat pre-intra-
post tindakan

2
BAB II
KONSEP TEORI

2.1 Sejarah
Sejak tahun 1976 Popovich dan rekan kerjanya telah memperkenalkan
penggunaan CAPD sebagai alternatif terapi yang popular pada pasien end stage
renal disease (ESRD), sehingga pada tahun 1985 sudah mencapai 27.000 pasien
yang memakai CAPD. Akan tetapi dari berbagai literatur dilaporkan angka
kejadian peritonitis pada 6,3 episode perpasien-pertahun. Ditandai dari keluhan
cairan peritoneal yang keruh dan gejala klinis peritonitis. Pada Conggress
International Society for Peritoneal Dialysis ke-11 Di Amsterdam-Nehterlands,
dipaparkan beberapa hal tentang terapi CAPD sebagai renal replacement therapy
yang masih lebih unggul dibanding Hemodialisis dari keefektivitas, adekuasi dan
kepuasan pasien. Pada kesempatan tersebut dibahas salah satunya terutama
tentang peritonitis, infeksi pada exit site dan tunnel. Angka kejadian peritonitis
sudah mulai berkurang oleh karena kewaspadaan dan pemberian antibiotik yang
rasional, didapatkan 1 episode dari 21,5 pasien per bulan yang mana
sebelumnya 1 episode dari 9,9 pasien (menurun 61%). Untuk mendiagnosis
kecurigaan peritonitis pada pasien CAPD, dilakukan evaluasi klinis seperti,
adanya keluhan cairan peritoneal keruh, nyeri perut, dilanjutkan dengan
pemeriksaan gram dan kultur cairan peritoneal. Akan tetapi keluhan cairan
peritoneal keruh sudah merupakan tanda mayor untuk kecurigaan peritonitis.
Pada beberapa studi penyebab peritonitis tersering ditemukan adalah
mikroorganisme gram positif, diantaranya staphylococcus aureus dan
epidermidis. Berbagai antimikrobial dipakai sebagai terapi peritonitis pada
CAPD, tidak didapati rekomendasi yang tetap oleh karena mikroorganisme yang
beranekaragam. Hanya saja pemberian antibiotic dapat secara intraperitoneal
(IP), intravenous (IV),atau oral. Pemberian antibiotik single dikatakan sangat
efektif dan hasilnya memuaskan, pada tahun 1996 direkomendasikan combinasi
chepalosporin dan aminoglycoside, akan tetapi generasi 1 cephelosporin tidak
mencerminkan hasil yang memuaskan terhadap Methicillin Resistant
Staphylococcus Aureus (MRSA), dipertimbangkan pemberian ceftazidime, dimana
mencakup gram positif dan negatif. Dalam pemberian antibiotik perlunya untuk

3
dilakukan analisis hasil kultur cairan peritoneal masing masing pasien, dan
toksisitas dari anti biotik terhadap fungsi ginjal.

(Sejarah perkembangan alat/prosedur tindakan dari masa lalu sampai sekarang,


Penemu alat atau prosedur tindakan, Lengkapi dengan gambar )
2.2 Definisi
Continuous ambulatory peritineal dialysis (CAPD) atau dislysis
peritoneal ambulatorik kontinyu merupakan suatu bentuk dealysis yang di
lakukan pada banyak pasien penyakit renal stadium akhir. CAPD adalah teknik
dealysis mandiri dengan menggunakan 2 liter dialitas penukaran 4 kali
sehari,dimana pertukaran terakhir pada jam tidur,sehingga cairan di biarkan
diam dalam rongga peritoneal semalaman. (Toto Suharyanto, 2009)
Dialysis peritoneal merupakan alternatif dari hemodialisis pada
penanganan gagal ginjal akut dan kronik. Kira-kira 15% pasien penyakit ginjal
tahap akhir menjalani dialysis peritoneal (Health Care Financing Administration,
1986).
Dialysis peritoneal sangat mirip dengan hemodialsis, dimana pada teknik
ini peritoneum berfungsi sebagai membrane semi permeable. Akses terhadap
rongga peritoneal dicapai melalui perisintesis memakai trokar lurus, kaku untuk
dialysis peritoneal yang akut dan lebih permanent, sedangkan untuk yang kronik
dipakai kateter Tenckoff yang lunak. (Nursalam, 2009)
Larutan dialisat di larutkan dari botol iraci preksibel melalui kateter
pretoneal permanen yang di kenal sebagai kateter tenchoff. Setelah larutan
dialisat di infuskan ke dalam kavum peritoneal melalui kateter, kantungnya di
lipat dan disispkan di balik baju pasien selama waktu retensi. Tindakan ini akan
memerikan kebebasan pada pasien dan menggurangi frekuensi penyumbangan
serta pelepasan sambungan pada ujung kateter sehingga resiko kontaminasi dan
peritonitis dapat di hindari. Keberhasilan CAPD tergantung pada pemeliharaan
kateter peritoneal permanen. Masalah kateter yang dapat terjadi mencakup
obstruksi satu arah, tercabutnya kateter dari panggul, terbeletnya kateter
dengan ometom, pembesaran cairan dialisat, infeksi pada lokasi keluar,
pembentukan bekuan fibrin dan kontaminasi bakteri atau jamur. (Toto
Suharyanto, 2009)

4
2.2.1 Macam-macam dialysis peritoneal.
Macam- macam dialysis dibagi menjadi beberapa bagian dalam
penanganannya :
1) Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD)
Memungkinkan pasien untuk menangani prosedur dirumah dengan
kantung dan aliran gravitasi, memerlukan waktu lama pada malam hari,
dan total 3-5 siklus harian/ 7 hari seminggu.
2) Automated Peritoneal Dialysis (APD)
APD sama dengan CAPD dalam melanjutkan proses dialysis tetapi
berbeda pada tambahan mesin siklus peritoneal. APD dapat dilanjutkan
dengan siklus CCPD, IPD dan NPD.
3) Continous Cyclic Peritoneal Dialysis (CCPD)
CCPD merupakan variasi dari CAPD dimana suatu mesin siklus secara
otomatis melakukan pertukaran beberapa kali dalam semalam dan satu
siklus tambahan pada pagi harinya. Di siang hari, dialisat tetap berada
dalam abdomen sebagai satu siklus panjang.
4) Intermittent Peritoneal Dialysis (IPD)
IPD bukan merupakan lanjutan prosedur dialisat seperti CAPD dan
CCPD. Dialysis ini dilakukan selama 10-14 jam, 3 atau 4 jam kali per
minggu, dengan menggunakan mesin siklus dialysis yang sama pada
CCPD. Pada pasien hospitalisasi memerlukan dialysis 24-48 jam kali jika
katabolis dan memerlukan tambahan waktu dialisat.
5) Nightly Peritoneal Dialysis (NPD)
Dilakukan mulai dari 8-12 jam misalnya dari malam hingga siang hari.
(Nursalam, 2009)

2.2.2 Tujuan Peritoneal Dialisis dalam Proses CAPD


1) Mengeluarkan produk-produk sisa metabolism berupa toksik serta
limbah metabolik.
2) Mengeluarkan kelebihan cairan yang berlebihan dan memulihkan
keseimbangan elektrolit.
3) Membantu menjaga keseimbangan zat-zat kimia tubuh.

5
2.2.3 Manifestasi Klinis
Adanya keluhan nyeri dikarenakan pemasukan kateter melalui dinding
abdomen atau iritasi kateter dan penempatan kateter yang tidak tepat.
Takipnea, dispnea, nafas pendek dan nafas dangkal selama dialysis diduga
karena tekanan disfragmatik dari distensi tongga peritoneal. Penurunan
area ventilasi dapat menunjukkan adanya atelektasis. Berikut ini gejala-
gejala lainnya :
1) Peritonitis
2) Penurunan tekanan darah (hipotensi)
3) Takikardi
4) Hiponatremia atau intoksikasi air
5) Turgor kulit buruk, dll.

2.2.4 Prinsip-prinsip CAPD


CAPD bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang sama seperti pada
bentuk dialisis yang lainnya, yaiut: difusi dan osmosis. Namun karena
CAPD merupakan terapi kontinu, kadar produk limbah nitrogen dalam
serum berada dalam keadaan yang stabil. Fluktuasi hasil-hasil
laboraturium pada CAPD tidak terlalu ekstrim jika dibandingkan dengan
analisis peritonial intermiten, karena proses dialisis berlangsung secara
konstan. Kadar elektrolit biasanya berada dalam kisaran normal.
Cairan dialysis 2 L dimasukkan dalam rongga peritoneum melalui
catheter tunchoff, didiamkan untuk waktu tertentu (6 – 8 jam) dan
peritoneum bekerja sebagai membrane semi permeable untuk mengambil
sisa-sisa metabolisme dan kelebihan air dari darah.
Osmosis, difusi dan konveksi akan terjadi dalam rongga peritoneum.
Setelah dwell time selesai cairan akan dikeluarkan dari rongga
peritoneum melalui catheter yang sama, proses ini berlangsung 3 – 4 kali
dalam sehari selama 7 hari dalam seminggu.
1) Difusi
a) Membrane peritoneum menyaring solute dan air dari darah ke
rongga peritoneum dan sebaliknya melalui difusi.

6
b) Difusi adalah proses perpindahan solute dari daerah yang
berkonsentrasi tinggi ke daerah yang berkonsentrasi rendah,
dimana proses ini berlangsung ketika cairan dialisat dimasukkan ke
dalam rongga peritoneum.
c) Konsentrasi cairan CAPD lebih rendah dari plasma darah, karena
cairan plasma banyak mengandung toksin uremik. Toksin uremik
berpindah dari plasma ke cairan CAPD.
2) Osmosis
a) Adalah perpindahan air melewati membrane semi permeable dari
daerah solute yang
b) berkonsentrasi rendah (kadar air tinggi) ke daerah solute
berkonsentrasi tinggi (kadar air rendah). Osmosis dipengaruhi oleh
tekanan osmotic dan hidrostatik antara darah dan cairan dialisat.
c) Osmosis pada peritoneum terjadi karena glukosa pada cairan CAPD
menyebabkan tekanan osmotic cairan CAPD lebih tinggi (hipertonik)
dibanding plasma, sehingga air
d) Kandungan glucose yang lebih tinggi akan mengambil air lebih
banyak. Cairan melewati membrane lebih cepat dari pada solute.
Untuk itu diperlukan dwell time yang lebih panjang untuk menarik
solute.
e) Untuk membantu mengeluarkan kelebihan air dalam darah, maka
cairan dialisat menyediakan beberapa jenis konsentrasi yang
berbeda : Baxter : 1,5%, 2,5%, 4,25%, Frescenius : 1,3%, 2,3%,
4,25%
Pengeluaran cairan yang berlebihan pada saat dialisis peritoneal
dicapai dengan menggunakan larutan dialisat hipertonik yang memiliki
konsentrasi glukosa yang tinggi, seperti glukosa 1,5%, 2,5% dan 4,25%
dengan berbagai ukuran volume, yaitu mulai 500ml hingga 3000ml.
Semakin besar gradian osmotik, maka semakin banyak air yang
dikeluarkan
Pertukaran biasanya dilakukan empat kali sehari. Teknik ini
berlangsung secara kontinu secara 24 jam per hari dan dilakukan 7 hari
dalam seminggu. Pasien melakukan pertukaran dengan interval yang

7
didistribusikan disepanjang hari (misalnya pukul 08.00, 12.00, 17.00 dan
22.00) dan dapat tidur pada malam harinya setiap pertukaran biasanya
memerlukan waktu 30 sampai 60 mrnit atau lebih. Lama waktu
pertukaran terdiri atas 5 sampai 10 menit periode infus ( pemasukan
cairan dialisat), 20 menit drainase ( pengeluaran cairan dialisat) dan
waktu retensi selama 10 sampai 30 menit atau lebih.

2.2.5 Kelebihan dan Kelemahan Peritoneal Dialisis


Keuntungan CAPD di bangdingkan HD :
1. Dapat di lakukan sendiri di rumah atau tempat kerja
2. Pasien menjadi mandiri (independen),meningkatkan percaya diri
3. Dapat di latih dalam periode 1-2 minggu
4. Tidak tergantung penjadwalan rumah sakit sebagaimana HD
5. Pembungangan cairan dan racun lebih stabil
6. Diet dan intake cairan sedikit lebih bebas
7. Cocok bagi pasien yang mengalami gangguan jantung
8. Pemeliharaan residual renal function lebih baik pada 2-3 tahun pertama
Kelemahan CAPD
1. Resiko infeksi
 Peritonitis (terjadi sekali dalam 40 minggu)
 Exit site
 tunnel
2. BB naik karena glukosa,pada cairan CAPD diabsorbsi.

2.3 Indikasi
Indikasi di lakukan hemodialisis pada penderita gagal ginjal stadium
terminal antara lain karena terjadi :
1) Pasien-pasien yang menjalani hemodialisis rumatan (mainte-nance) atau
hemodialisis kronis yang mempunyai masalah-masalah dengan cara terapi
yang sekarang, seperti gangguan fungsi atau kegagalan alat untuk akses
vaskuler, rasa haus yang berlebihan, hipertensi berat, sakit kepala pasca
dialisis dan anemia berat yang memerlukan transfusi.
2) Pasien yang sedang menunggu operasi pencakokan ginjal.

8
3) Penyakit ginjal stadium terminal yang terdiri akibat penyakit diabetes
melitus.
4) Pasien lansia, jika keluarga atau masyarakat memberikan dukungan.
5) Gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit misalnya asidosis
metabolik, hiperkalemia dan hipercalsemia
6) Kelebihan cairan (volume overload) yang memasuki paru-paru sehingga
menimbulkan sesak nafas berat.
7) Kelainan fungsi otak keracunan ureum (ensepalopati uremik)
8) Gejala-gejala keracunan ureum (uremic symptoms)

2.4 Kontraindikasi
1) Perlekatan akibat pembedahan penyakit inflamasi sistemik yang dialami
sebelumnya. Perlekatan akan mengurangi klirens solut.
2) Nyeri punggung kronis yang terjadi berulang disertai riwayat kelainan pada
diskus intervebralis yang dapat diperburuk dengan adanya tekanan cairan
dialisat dalam abdomen yang kontinyu.
3) Riwayat kolostomi, ileostomi, nefrostomi atau ilealcoduit, dapat
meningkatkan resiko peritonitis, meskipun bukan kontraindikasi absolut.
4) Pasien yang mendapatkan terapi immunosupresif karena akan mengalami
komplikasi akibat kesembuhan luka yang buruk pada lokasi pemasangan
kateter.
5) Divertikulitis, karena CAPD kadang disertai dengan ruptur divertikulum

2.5 Komplikasi
Komplikasi dialisis peritoneal
Komplikasi dialisis peritoneal akut yang paling sering adalah peritonitis,
kejadian peritonitis berbanding langsung dengan lamanya dialisis. Diagnosa
peritonitis sering kali sulit karena gejala-gejala peradangan peritoneum ditutupi
oleh iritasi peritoneum. Kriteria diagnostic peritonitis yaitu bila ditemukan 2
dari 3 keadaan yaitu sebagai berikut :
1. Gejala dan tanda peritonitis seperti sakit didaerah abdomen, nyeri pada
penekanan dinding abdomen, dan lain-lain
2. Cairan dialisat yang keruh, menunjukkan lekosit >100/mm3 terutama PMN

9
3. Ditemukan organisme pada cairan dialisat dengan pewarnaan gram atau
kultur.
Pemberian antibiotik intra peritoneal untuk pencegahan, ada yang setuju
memberikan antibiotic intraperitoneal terus menerus pada cairan dialisat dan
yang tidak setuju. Melakukan prosedur yang baik dengan membatasi lamanya
dialisa sampai 36 jam merupakan factor yang paling penting dalam usaha untuk
mencegah peritonitis. Bila diduga terjadi peritonitis, dilakukan lavage
peritoneum dan pemberian antibiotic. Pembilasan heparin 500 U/L untuk
mengurangi pembentukan bekuan fibrin dan perlekatan. Dialisis dilanjutkan
dengan mempercepat siklus menjadi 30-40 menit. Perdarahan intraperitoneal
pada waktu pemasangan kateter biasanya ringan. Komplikasi lain berupa
perforasi alat visceral abdomen, keadaan ini diduga bula tidak ada outflow
dialisat atau cairan dialisat yang keluar berbau feses. Keadaan ini dapat dicegah
dengan pengosongan kandung kemih dan rectum sebelum pemasangan kateter
atau dengan melakukan priming. Nyeri perut terjadi sekitar 75% penderita,
dapat terjadi pada saat masuk atau keluar. Nyeri perut pada saat cairan dialisat
masuk mungkin disebabkan karena terlalu dinginnya atau terlalu panasnya atau
inflow yang terlalu cepat. Sedangkan nyeri perut pada saat cairan keluar, salah
satu penyebabnya adalah tertutupnya lumen kateter oleh bekuan darah/fibrin
atau letak kateter yang salah.
Komplikasi pada system kardiovaskuler berupa hipovolemia akibat
penarikan air dan natrium karena pemakaian cairan dialisat yang hipertonik.
Payah jantung, edema paru sering terjadi karena balans positif pada penderita
dengan kelebihan cairan.
Disequilibrium syndrome jarang terjadi, sindroma ini terjadi karena
penurunan ureum darah yang terlalu cepat. Hiperglikemia, hipernatremia terjadi
karena pemakaian cairan dialisa yang hipertonik.(...... )
1) Peritonitis
Peritonotos merupakan kompilkasi yang paling sering sering dijumpai.
Komplikasi ini terjadi pada 60 sampai 80% pasien yang menjalani dialisis
peritoneal. Sebagian besar peritoniti disebabkan oleh kontraminasi
staphylococcus epidermidis.
2) Kebocoran cairan dialisat

10
Kebocoran cairan dialisat melalui luka insis atau luka pada pemasangan
pada pemasangan kateter dapat segera diketahui sesudah kateter dipasang.
Biasanya kebocoran tersebut spontan jika terapi dialisis ditunda selama
beberapa hari untuk penyembuhan luka insis dan tempat keluarnya kateter.
3) Perdarahan
Cairan drainase (effluent) dialisat yang mengandung darah kadang –
kadang dapat terlihat, cairan hipertonik menarik darah dari uterus lewat
orifisium tuba falopii yang bermuara keadalam vakum peritoneal
4) Komplikasi lain.
a) Hernia abdomen, mengkin terjadi akibat peningkatan tekanan
intraabdomen terus-menerus.
b) Hipertriglizeridemia.
c) Nyeri punggung bawah dan anoreksia, akibat adanya cairan dalam
rongga abdomen disamping rasa manis yang terlalu pada indra
pengecap yang berkaitan dengan absorpsi glukosa
5) Gangguan citra tubuh dan seksualitas
Pasien mengalami gangguan citra tubuh dengan adanya kateter abdomen
dan kantong penampung serta selang dibadannya. pusuran pinggang akan
meningkat 2,5 sampai 5cm akan lebih bila terdapat cairan pada rongga
abdomen seksualitas dan fungsi seksual dapat berubah. Pasien disertai
pasangannya mungkin enggan untk melakukan aktifitas seksual, dan
keengganan ini sebagian timbal karena psikologis, kateter menjadi
‘penghalang’ aktifitas tersebut. Keberadaan 2 liter dialigsat, kateter
peritoneal dan kanting renase dapat mmengganggu fungsi seksual dan citra
tubuh.

2.7 Mekanisme dan Prosedur Tindakan


Cairan dialisat yang digunakan yaitu cairan standar yang mengandung
glukosa 1,5%, komposisi elektrolit yang hamper sama denagn cairan
ekstraseluler tubuh, tetapi tidak mengandung kalium. Cairan yang tersedia
Perisolution dari Otsuka dengan konsentrasi glukosa 1,5%, Dianeal dari Baxter
dengan konsentrasi glukosa 1,5%, 2,5% dan 4,25%. Pada bayi yang mengalami
asisdosis metabolic karena akumulasi dari asam laktat endogen, cairan dialisa

11
yang dipakai bukan cairan dialisa standar yang mengandung laktat tapi cairan
dialisa yang mengandung bikarbonat sebagai pengganti laktat dan kalsium
diberikan secara intravena.
Kateter yang digunakan :
1. Rigid plastic catheter/polythelene catheter dengan stilet.
Jenis ini yang tersedia di Indonesia yaitu buatan Otsuka dan
Amecath (Ameco Medical Industries, Egypt). Jenis kateter ini digunakan
untuk dialisa peritoneal 48-72 jam.
2. Tenckhoff catheter dan modifikasinya.
Terbuat dari silicon yang bersifat inert. Dapat dipasang untuk
waktu yang lama. Untuk dialisa peritoneal akut yang diperkirakan lama
dipakai jenis kateter ini

Gambar Jenis Kateter Dialisis Peritoneal


Teknik pemasangan kateter rigid: 3,15
1. Persiapan penderita termasuk membersihkan kulit/tindakan
antiseptic pada kulit di sekitar yang akan menjadi insersi kateter,
pengosongan kandung kencing dan usus, informed consent dan
premedikasi dengan sedative ringan (diazepam)
2. Memerlihatkan aspek sterilisasi ruangan, pakaian dan pemakaian
masker

12
3. Memilih tempat insersi, yang paling baik pada garis tengah, 2-3 cm di
bawah umbilicus kemudian dilakuakn anestesi okal dengan xylocain
2%/lidokain 2%
4. Buat insisi kulit 2-3 mm, kateter dengan stilet ditusukkan ke dinding
abdomen melalui luka insisi kulit dengan dorongan dan pemutaran.
Ketika kateter dengan stilet masuk ke dalam rongga peritoneum yang
dapat diketahui dengan hilangnya tahanan dan terdengar suara “pep”.
Pada saat itu stilet ditarik perlahan-lahan dan kateter dimasukkan
lebih dalam dengan mengarah kea rah pelvis. Seluruh lubang kateter
harus berada I dalam rongga peritoneum untuk menghindari infiltrasi
cairan dialisa ke dinding abdomen. Ada yang menganjurkan, sebelum
kateter dengan stilet dimasukkan ke dalam rongga peritoneum,rongga
peritoneum diisi dulu dengan 15-20 ml/kgBB cairan dialisat sebagai
priming dengan menggunakan jarum panjang kecil (intracath).
Priming ini untuk menghindarkan tertusuknya organ vital abdomen,
usus, atau pembuluh darah besar.
2. Kateter diperiksa alirannya dengan 2-3 kali siklus tanpa dwelling
time. Setelah diketahui alirannya lancer, kateter diikat pada kulit dan
ditutup dengan kassa steril.

Gambar Posisi Rigid Kateter Intra Abdomen15


Pelaksanaan dialisis peritoneal:
1) Cairan dialisat dihangatkan dalam waterbath, suhu sekitar 37-38 °C>
Volume cairan dialisa pada awalnya diberikan 15-20 ml/kgBB, kemudian

13
secara bertahap dinaikkan menjadi 40-50 ml/kgBB pada bayi dan anak
kecil atau menjadi 30-40 ml/kgBB pada anak yang lebih besar.
2) Heparin 500-1000 unit/L ditambahkan ke dalam cairan dialisa dalam 3
siklus pertama dan diteruskan selama cairan dialisa berwarna merah
3) Cairan dialisa dimasukkan ke dalam rongga peritoneum (inflow) dalam
5-10 menit, lalu dibiarkan selama 30 menit (dwelling), kemudian
dikeluarkan dalam 10-20 menit (outflow). KCl ditambahkan 3-4 mEq/L
pada cairan dialisa bila kadar K plasma <4 mEq/L.
4) Konsentrasi glukosa dalam cairan dialisa (1,5%, 2,5%, 4,25%) dipilih
bergantung pada balans cairan. Pada keadaan kelebihan cairan tubuh,
digunakan cairan dilaisa dengan konsentrasi glukosa lebih tinggi dari
standar (1,5%), dengan maksud untuk menarik kelebihan cairan
tersebut.
5) Lamanya dialisa peritoneal 36-48 jam, jika gagal ginjal masih berlanjut
dialisa peritoneal diteruskan 48 jam lagi dengan risiko terjadinya
peritonitis menjadi lebih besar.
Pengawasan dan pencatatan
Tanda-tanda vital dicatat pada akhir setiap siklus sampai keadaan
penderita stabil. Pengukuran berat badan selama dialisa dilakukan 2-3 kali
dalam sehari. Perhitungan balans cairan sangat penting termasuk cairan yang
keluar dari tubuh (muntah, diare) harus diganti. Pemeriksaan hematologis,
ureum, kreatinin, elektrolit, glucose, protein sebelum dan selama dialisa
untuk evaluasi pengobatan dan mencegah komplikasi. Pemeriksaan jumlah
sel dan kultur dari cairan dialisa dilakukan tiap hari .
( Pasien, Alat, Tindakan, Perawatan/Maintenance Alat dan Klien )

2.8 Peran Perawat


Persiapan pasien dan keluarganya, yang dilaksanakan oleh perawat
untuk menghadapi dialisis peritoneal bergantung pada status fisik dan
psikologis pasien, tingkat kesadaran, pengalaman sebelumnya dengan terapi
dialisis, dan pemahaman serta adapyasi pasien dengan prosedur tersebut.
 Pra Tindakan

14
1) Jelaskan ada pasien dan keluarganya tentang prosedur dialisis
peritoneal.
2) Penandatanganan surat persetujuan (informed consent) sebelum
prosedur tersebut dilaksanakan.
3) Catat data dasar mengenai tanda-tanda vital, berat badan dan kadar
elektrolit serum
4) Pengosongan kandung kemih dan usus, diperlukan untuk memperkecil
risiko tertusuknya organ-organ internal.
5) Kaji adanya rasa cemas pada pasien dan beri dukungan serta petunjuk
mengenai prosedur yang akan dilakukan
6) Jelaskan pada pasien bahwa kateter untuk dialisis peritoneal biasanya
dipasang dikamar operasi dalam rangka untuk mempertahankan
asepsis operasi dan memperkecil risiko konstaminasi.
 Intra Tindakan
Persiapan peralatan untuk dialisis peritoneal
Disamping merakit peralatan untuk dialisis peritoneal, perawat harus
berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan konsentrasi larutan dialisat
yang akan digunakan dan obat-obat yang akan ditambahkan pada dialisat
tersebut. Heparin ditambahkan untuk mencegah pembentukan bekuan fibrin
yang dapat menyumbat kateter peritoneal. Kalim klorida dapat direepkan
untuk mencegah hipokalemia. Antibiotik ditambahkan untuk mengobati
peritonitis.
Sebelum penambahan obat-obatan ini, larutan dialisat dihangatkan
hingga mencapai suhu tubuh, karena larutan dialisat yang terlalu dingin akan
menimbulkan nyeri serta vasokontriksi dan menurunkan klirens. Selain itu,
tindakan penghangatan larutan dialisat dapat menimbulkan dilatasi
pembuluh-pelbuluh darah peritoneum sehingga meningkatkan klirens
ureum.
 Post Tindakan
1) Menjelaskan terapi diet
a) Mengkonsumsi makana tinggi protein
b) Meningkatkan asupan serat untuk menghindari kongtipasi karena
dapat mengganggu drainase cairan dialisat.

15
c) Membatasi asupan karbohidrat untuk menghindari kenaikan berat
badan yang berlebihan.
d) Biasanya tidak diperlukan pembatasan asupan kalium, nutrisi dan
cairan.
2) Menjelaskan pentingnya perawatan tindak lanjut untuk mengingatkan
kembali teknik aseptik untuk menghindari infeksi
a) Mengganti selang bila diperlukan
b) Mengepaluasi hasil pemeriksaan nimia darah
c) Memberika umpan balik
d) Memberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan
pengetahuan tambahan
3) Memberikan kesempatan dan semangat pada pasien untuk
mengungkapkan keperhatinan keraguan kecemasannya.

16
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Peritoneal dialisis merupakan salah satu tipe dialisis, dimana darah
dibersihkan di dalam tubuh. Dokter akan melakukan pembedahan untuk
memasang akses berupa catheter di dalam abdomen penderita. Pada saat
tindakan, area abdominal pasien akan secara perlahan diisi oleh cairan
dialisat melalui catheter. Ada dua macam peritoneal dialysis yaitu continous
peritoneal dialysis (CAPD) dan Continonus Cycling Peritoneal Dialysis.
(CCPD). Untuk Indonesia CAPD lebih lazim digunakan daripada CCPD. Pada
CAPD penderita melakukan sendiri tindakan medis tanap bantuan mesin dan
biasanya berlangsung 4 kali sehari masing – masing selama 30 menit.

3.2 Saran
Banyak penderita yang meskipun harus melakukan terapi dialisis namun
tetap dapat menjalani hidup secara normal. Pada awalnya memang diperlukan
penyesuaian – penyesuaian baik oleh penderita maupun keluarganya, namun
dengan berjalannya waktu apabila penderita telah menerima kondisinya
tersebut disertai dengan pikiran positif dan menjalankan terapi dengan
sungguh sungguh serta mengikuti segala petunjuk dokter, kehidupan normal
pun bukan tidak mungkin untuk dicapai. Untuk itu, tidak ada yang tak
mungkin .

17