Anda di halaman 1dari 46

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang


disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh manusia kemudian
menyerang salah satu atau lebih saluran pernapasan dari hidung (saluran
pernapasan bagian atas) hingga alveoli (saluran pernapasan bagian bawah) lalu
berkembang biak hingga menimbulkan gejala penyakit dalam waktu yang
berlangsung hingga 14 hari (Ade, 2014).
Insidens terbanyak terjadi di India dengan kasus 43 juta dan Bangladesh,
Indonesia, Nigeria masing-masing 6 juta kasus. Dari semua kasus yang terjadi di
masyarakat, 7-13% kasus berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. ISPA
merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas (40%-
60%) dan rumah sakit (15%-30%) (Kemenkes, 2014).
Di Indonesia, ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan
pasien ke sarana kesehatan, yaitu 40-60% dari seluruh kunjungan ke puskesmas
dan 15-30% dari seluruh kunjungan rawat jalan dan rawat inap RS. Jumlah
episode ISPA di Indonesia diperkirakan 3-6 kali pertahun, tetapi berbeda antar
daerah (Kemenkes, 2014)
Pulau Sulawesi memiliki 6 provinsi yang terdiri dari Sulawesi Utara,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Gorontalo. Prevalensi
tertinggi ISPA terdapat di provinsi Gorontalo, dimana prevalensi ISPA
berdasarkan diagnosis dan gejala sebesar 33,99 %. Provinsi dengan prevalensi
ISPA terendah di Pulau Sulawesi adalah provensi Sulawesi Utara berdasarkan
tanda dan gejala sebesar 20,52%, sedangkan Sulawesi Tengah memiliki prevalensi
ISPA tertinggi kedua setelah provinsi Gorontalo dimana prevalensi berdasarkan
diagnosis dan gejala sebesar 28,36% (Departemen Kesehatan,2013).
Sulawesi Tengah yang terdiri dari Kota atau Kabupaten dengan persentase
penemuan penderita ISPA terbanyak adalah Kota Palu (64,2%) dan yang terendah
adalah Kabupaten Tojo Una-una (2,4%) (Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah,
2014)
2

Angka kejadian ISPA pada balita di Kota Palu pada tahun 2014 mencapai
17.524 kasus. Wilayah Kerja Puskesmas Tipo, Menurut data UPTD Puskesmas
Tipo angka kejadian ISPA termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas
Tipo tahun 2015 yaitu menempati urutan pertama, dengan jumlah kasus 1566
kasus. Kemudian mengalmi penurunan pada tahun 2016 1324 kasus ISPA. Pada
tahun 2017 hingga bulan agustus ditemukan 626 kasus ISPA. (Profil Puskesmas
Tipo, 2015)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka
rumusan masalah yang akan diteliti yakni apakah terdapat hubungan Faktor resiko
Kejadian ISPA pada balita usia 0-59 bulan di Puskesmas Tipo Kota Palu Periode
Oktober 2017 ?
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan BBLR, asi eksklusif dan status gizi
terhadap kejadian ISPA pada balita usia 0-59 bulan di Puskemas Tipo Tahun
2017.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat kejadian ISPA pada balita usia 0-59 bulan di
Puskesmas Tipo
b. Untuk mengetahui prevalensi berdasarkan usia yang mengalami ISPA
pada balita usia 0-59 bulan di Puskesmas Tipo.
c. Untuk mengetahui risiko BBLR terhadap kejadian ISPA pada balita usia
0-59 bulan di Puskesmas Tipo.
d. Untuk mengetahui hubungan pemberian asi eksklusif terhadap kejadian
ISPA pada balita usia 0-59 bulan di Puskesmas Tipo.
e. Untuk mengetahui hubungan status gizi terhadap kejadian ISPA pada
balita usia 0-59 bulan di Puskesmas Tipo.
f. Untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadia
ISPA pada balita usia 0-59 bulan di Puskesmas Tipo.

B. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap :
1. Manfaat bagi Dinas Kesehatan
3

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukkan dan


informasi untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas gizi pada ibu hamil
untuk mencegah terjadinya berat badan lahir rendah. Selain itu, manfaat lain
untuk memberikan informasi tentang pentingnya ASI Eksklusif dan makan
bergizi guna mencegah terjadinya Infeksi Saluran Pernapsan Akut (ISPA).
2. Manfaat bagi masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan
manfaat kepada masyarakat dalam upaya pencegahan dan penurunan angka
kejadian ISPA.
3. Manfaat bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk
melakukan penelitian selanjutnya dan sebagai pembanding bagi peneliti
berikutnya dengan judul atau kasus yang sama.

C. Keaslian Penelitian
1. Sadono (2008) meneliti tentang “Hubungan BBLR dan kelengkapan status
imunisasi sebagai faktor risiko infeksi saluran pernapasan akut pada bayi di
Kabupaten Blora”. Kesimpulannya bayi berat lahir rendah secara statistik
terbukti merupakan faktor risiko infeksi saluran pernafasan akut pada bayi.
Selain itu, ada kecenderungan semakin rendah berat lahir, maka frekuensi
ISPA semakin sering. Penelitian kelengkapan status imunisasi juga
merupakan salah satu faktor risiko ISPA. Bayi yang tidak mendapat imunisasi
sesuai dengan umurnya, maka mempunyai risiko menderita ISPA sebesar 2,6
kali.
2. Lebuan dan Somia (2014) meneliti tentang “ Faktor yang berhubungan
dengan infeksi saluran pernapasan akut pada siswa taman kanak-kanan di
kelularah dangin puri kecatan denpasar timur tahun 2014” Penelitian ini
menggunakan studi analitik cross-sectional. Sampel yang digunakan
berjumlah 165 orang yang diambil secara konsekutif pada lima taman kanak-
kanak di Kelurahan Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur. Hasil penelitian
menggunakan uji chi-square menyatakan bahwa terdapat hubungan antara
status gizi ( p < 0,0001), paparan terhadap asap rokok (p < 0,0001), pola
pemberian ASI (p < 0,0001; dan kepadatan hunian (p < 0,0001) dengan
4

kejadian ISPA. Sedangkan status imunisasi dasar, berat, dan tingkat


pendidikan ibu tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian
ISPA. Prevalensi ISPA pada siswa taman kanak-kanak cukup tinggi (63%)
dan terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi, paparan asap rokok,
pola pemberian ASI, dan kepadatan hunian dengan kejadian ISPA pada siswa
taman kanak-kanak.
3. Sukmawati dan Ayu (2013) meneliti tentang “ Hubungan status gizi, Berat
badan lahir, imunisasi dengan kejadian ispa pada balita di wilayah kerja
puskesmas Tunikamaseang kecamatan Bontoa kabupaten Maros. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara status gizi dengan
kejadian ISPA pada balita dengan nilai p0,031, tidak ada hubungan bermakna
antara berat badan lahir (BBL) dengan kejadian ISPA pada balita dengan nilai
p0,636 dan ada hubungan bermakna antara imunisasi dengan kejadian ISPA
pada balita dengan nilai p0,026.

Berdasarkan paparan diatas, perbedaan penelitian kami dengan penelitian


yang lain yakni terletak pada metode, subjek, waktu, tempat, dan variabel yang
diteliti. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan
mengambil subyek penelitian di Puskesmas Tipo Palu tahun 2017.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


a. Definisi ISPA
ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernapasan akut.
Istilah ISPA meliputi 3 unsur yakni infeksi, saluran pernapasan dan akut.
Dengan pengertian sebagai berikut :
 Infeksi adalah masuknya kuman atau mikro organisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
5

 Saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli. ISPA secara


anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas dan saluran
pernafasan bagian bawah.
 Akut adalah proses yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14
hari diambil untuk menunjukkan proses akut.
Jadi secara klinis infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah
merupakan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk ke
dalam tubuh manusia kemudian menyerang salah satu atau lebih saluran
pernapasan dari hidung (saluran pernapasan bagian atas) hingga alveoli
(saluran pernapasan bagian bawah) hingga menimbulkan gejala penyakit
dalam waktu yang berlangsung hingga 14 hari (Ade, 2012 & WHO,
2013).

b. Epidemiologi ISPA
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak. Episode penyakit
batuk pilek pada balita di Indonesi diperkirakan 3-6 kali per tahun (rata-
rata 4 kali per tahun), artinya seorang balita rata-rata mendapatkan
serangan batuk pilek sebanyak 3-6 kali setahun. Penyakit ISPA merupakan
25% penyebab kematian pada anak, terutama pada bayi berusia kurang
dari dua bulan. Dari Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986
diketahui bahwa morbiditas pada bayi akibat ISPA sebesar 42,4% dan pada
balita sebesar 40,6%, sedangkan angka mortlitas pada bayi akibat ISPA
sebesar 25% dan pada balita sebesar 36% (Widoyono, 2015).

c. Etiologi ISPA
Dari studi mikrobiologik ditemukan penyebab utama bakteriologik
ISPA pada neonatus disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu Klebsiella
spp dan E coli, sedangkan penyebab bakteri gram positif seperti S
pneumoniae (Mardjanis, 2014).
Penyebab utama pada anak balita adalah Streptococcus pneumoniae
(30-50 % kasus) dan Hemo philus influenzae (10-30% ) (Mardjanis, 2014).
Penyebab utama ISPA pada anak pra-sekolah yang disebabkan oleh
virus, yaitu: Adenovirus dan Parainfluenza, sedangkan penyebab bakteri
6

yaitu: S. pneumoniae, Hemophilus influenzae dan Streptococci A


(Kemnekes RI, 2014).
Pada anak usia sekolah dan usia remaja ISPA disebabkan oleh virus,
yaitu Adenovirus dan Parainfluenza, sedangkan penyebab bakteri yaitu S.
pneumoniae, Streptococcus A dan Mycoplasma. (Kemenkes RI, 2014).

d. Cara Penularan
1) Penularan melalui udara
Bila seseorang sakit batuk-pilek, saat dia batuk, bersin atau berbicara
bisa menularkan virus pada bayi dan anak (Yuli & Khasanah, 2013).
2) Menyentuh benda yang terkontaminasi virus
Virus dari orang yang sedang sakit dapat melekat di permukaan
benda dalam waktu 2 jam atau lebih. Pada bayi dan anak bisa tertular
bila menyentuh benda yang terkontaminasi tersebut (Yuli & Khasanah,
2013).

e. Patogenesis
Secara umum efek dari pencemaran udara terhadap saluran
pernapasan dapat menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat
dan kaku bahkan dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan
saluran pernapasan yang menyebabkan iritasi.
Jika silia rusak maka kotoran akan masuk ke dalam sistem
pernapasan bersama dengan udara. Sehingga menunjukkan bahwa tidak
ada proses penyaringan sehingga menimbulkan pada infeksi.
Ketika virus atau bakteri masuk ke dalam saluran pernapasan
kemudian menempel pada saluran pernafasan sehingga menimbulkan
infeksi pada saluran pernafasan yang mengakibatkan sekresi mucus
meningkat dan mengakibatkan sesak nafas dan batuk produktif.
Ketika saluran pernafasan telah terinfeksi oleh virus dan bakteri
yang kemudian terjadi reaksi inflamasi yang ditandai dengan rubor dan
dolor yang mengakibatkan aliran darah meningkat pada daerah inflamasi
yang ditandai dengan kemerahan pada faring dan menyebabkan
timbulnya nyeri. Tanda inflamasi berikutnya adalah kalor, yang
mengakibatkan suhu tubuh meningkat. Tumor yakni adanya pembesaran
pada tonsil yang mengakibatkan kesulitan dalam menelan yang
7

menyebabkan intake nutrisi dan cairan inadekuat.Fungsiolesa, adanya


kerusakan struktur lapisan dinding saluran pernafasan sehingga
meningkatkan kerja kelenjar mucus meningkat yang menyebabkan batuk.
(Media Informasi Kesehatan Indonesia, 2013).

f. Prosedur Diagnostik
1) Anamnesis
Pasien balita biasanya mengalami demam tinggi, batuk, gelisah,
rewel, dan sesak nafas. Sedangkan pada anak kadang mengeluh sakit
kepala, nyeri abdomen disertai muntah.
2) Manifestasi Klinik
a) ISPA ringan
 Batuk
 Rinorea
 Demam subfebris
b) ISPA sedang
 Tenggorokan berwarna merah
 Febris
 Timbul bercak merah pada kulit
 Telinga terasa sakit
c) ISPA berat
 Bibir atau kulit tampak sianosis
 Kesadaran menurun
 Anak tampak gelisah
 Stridor
 Tidak dapat minum
 Kejang

(Ade, 2014).

3) Penatalaksanaan
a) Terapi non-farmakologi
 Berikan minum lebih banyak untuk mengencerkan lendir
di tenggorokanya
 Memposisikan bayi dengan posisi pronasi atau posisi
tengkurap dengan demikian sekret dapat mengalir dengan
lancer sehingga drainase secret akan lebih mudah.
b) Terapi farmakologi
 Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol
atau dengan kompres. Parasetamol dengan dosis 10-15
8

mg/KgBB/kali diberikan 4 kali tiap 6 jam selama waktu 3


hari.
 Decongestan oral pseudoefedrin dan fenilpropanolamin
dengan dosis 25-50 mg/KgBB.
 Ekspektoran yakni merangsang pengeluaran dahak,
contohnya gliseril guaiakolat dengan sedian sirup dan dosis
yang tersedia 100mg/5 ml.
 Mukolitik adalah obat yang mengencerkan sekret dengan
memecahkan mukoprotein dan mukopolisakarida dari
sputum. Contohnya yaitu bromhexin dan ambroxol dengan
dosis 4-8mg/kgBB/hari.
(Depkes RI, 2014).

4) Pemeriksaan Penunjang
 Darah Perifer Lengkap
Pada pasien ISPA yang disebabkan oleh bakteri terjadi
leukositosis (15.000-40.000/mm³) dengan predominan
Polimorfonuklear (PMN). Kadang-kadang terjadi anemia dan
laju endapan darah (LED) menigkat.
 Transiluminasi
Pemeriksaan ini menunjukan adanya perbedaan sinus kanan
dan kiri. Sinus yang sakit akan tampak lebih gelap.
 Pemeriksaan radiologi
Foto posisi waters tampak adanya edema mukosa dan
cairan dalam sinus. Jika cairan tidak penuh akan tampak
gambaran air fluid level
(Rahajoe,2013).

2. Faktor resiko ISPA


1. Faktor internal
 BBLR
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan
fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir
9

rendah mempunyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan


dengan berat badan lahir normal. Pada keadaan BBLR pembentukan
zat anti kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna sehingga lebih
mudah terkena penyakit infeksi, terutama ISPA dan penyakit saluran
pernapasan lainnya (Rudolph,2015).
 Status gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi diklasifikasikan
menjadi status gizi buruk, kurang, dan baik.
Keadaan gizi buruk muncul sebagai faktor yang penting untuk
terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang
adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru, sehingga anak-
anak yang bergizi buruk sering mendapat ISPA. Balita dengan gizi
yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA di bandingkan balita
dengan gizi normal karena daya tahan tubuh yang kurang. penyakit
infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu
makan dan mengakibatkan kekurangan gizi (Yuli& Khasanah,2013).
 Imunisasi
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan tubuh
kepada bayi dan anak dengan memasukan vaksin kedalam tubuh
dengan tujuan untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Pemberian
imunisasi penting diberikan pada tahun pertama usia anak karena pada
awal kehidupan, anak belum mempunyai kekebalannya sendiri, hanya
immunoglobulin G yang didapatkannya dari ibu dan setelah usia dua
sampai tiga tahun, anak akan membentuk Immunoglobulin G sendiri.
Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA
yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi
akan berperan besar dalam upaya peberantasan ISPA. (Yuli &
Khasanah, 2013).
2) Faktor eksternal
 Kebiasaan merokok anggota keluarga di lingkungan balita
tinggal.
10

Perilaku merokok orang tua adalah bahaya utama bagi anak.


Dalam studi kasus, disimpulkan bahwa anak dengan orang tua
perokok dalam satu tempat tinggal dapatberesiko 2 kali untuk
mengalami gangguan pernapsandari pada anak yang tinggal dirumah
orang tuanya yang bukan perokok. Asap rokok dengan konsentrasi
tinggi dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga akan
memudahkan timbulnya ISPA(Santrock, 2015).
 Kepadatan tempat tinggal
Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri
kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan
kesehatan rumah, satu orang minimal menempati luas rumah 8m².
Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan
penyakit dan melancarkan padatempat tinggal yang padat dapat.
Penelitian sebelumnya menunjukkan ada hubungan bermakna antara
kepadatan dan kematian dari bronkopneumonia pada bayi (Yuli&
Khasanah,2013).
 Ventilasi kurang memadai
Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara
ke atau dari ruangan baik secara alami maupun secara mekanis.
Fungsi dari ventilasi adalah mensuplai udara bersih yaitu udara yang
mengandung kadar oksigen yang optimum bagi pernapasan,
membebaskan asap ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan
cara pengenceran udara(Yuli& Khasanah, 2013).
2. BBLR (berat badan lahir rendah)
a. Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat
kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi (berat lahir adalah
berat bayi yang di timbang dalam 1 jam setelah lahir) (Waspodo, et al.,
2014).
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang ketika dilahirkan
mempunyai berat badan kurang dari 2500 gram. Berat lahir yang rendah
dapat disebabkan oleh kelahiran prematur atau retardasi pertumbuhan.
Kelaina prematur adalah kelahiran bayi yang terjadi sebelum usia
kehamilan mencapai 37 minggu. Retardasi pertumbuhan intrauteri (yang
11

kadang-kadang disebut ‘small for dates’) didiagnosis apabila berat bayi


dibawah persentil 10 untuk usia gestasional (kehamilannya) (Farrer, 2014).
Berat badan merupakan indikator kesehatan masyarakat. Berat badan
lahir rendah adalah berat badan bayi lahir yang kurang dari 2500 gram.
Rerata berat bayi normal (gestasi 37-41 minggu) adalah 3000-3600 gram.
Berat badan bayi bergantung pada pola diet, ras, status ekonomi, ukuran
tubuh orang tua, paritas ibu dan tinggi badan. Berat badan lahir rendah
sangat erat kaitannya dengan kematian janin dan neonatus, menghambat
pertumbuhan dan perkembangan kognitif serta menyebabkan penyakit
kronis di kemudian hari (Cunningham et.al., 2015).
Berat badan lahir rendah merupakan indikator terhadap derajat
prematuritas. Sebagian besar bayi dilahirkan pada usia 39-41 minggu
gestasi dengan berat 3-4 kg. Kebanyakan bayi dengan berat kurang dari
2,5 kg saat lahir merupakan bayi preterm (Rudolph, 2006). BBLR
merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi pada neonatus. Akibat
lain dari BBLR adalah immaturitas sistem neurologi dan
ketidaksempurnaan fungsi motorik dan autonom pada awal bulan
kehidupan bayi (Bambang, et al., 2013)

b. Etiologi BBLR
1. Persalinan kurang bulan / prematur
Bayi lahir pada umur kehamilan antara 28 minggu sampai 36
minggu. Pada umumnya byi kurang bulan disebabkan tidak
mampunya uterus menahan janin, gangguan selama kehamilan,
lepasnya plasenta lebih cepat dari waktunya atau rangsangan yang
memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Bayi
lahir kurang bulan mempunyi organ dan alat tubuh yang belum
berfungsi normal untuk bertahan hidup diluar rahim. Semakin muda
umur kehamilan, fungsi organ tubuh semakin kurang sempurna dan
prognosisnya semakin kurang baik. Kelompok BBLR ini sering
mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ
karena masa gestasi yang kurang ( Prematur ) (Waspodo, et a.l, 2014).
2. Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan
12

Bayi lahir kecil untuk masa kehamilannya karena ada hambatan


pertumbuhan saat dalam kandungan (janin tumbuh lambat). Retardasi
pertumbuhan intrauterin berhubungan dengan keadaan yang
mengganggu sirkulasi dan efisiensi plasenta dengan pertumbuhan dan
perkembangan janin atau dengan keadaan umum dan gizi ibu.
Keadaan ini mengakibatkan kurannya oksigen dan nutrisi secara
kronik dalam waktu yang lama untuk pertumbuhan dan perkembangan
janin. Kematangan fungsi organ tergantung pada usia kehamilan
walaupun berat lahirny kecil (Waspodo, et al., 2014).

c. Klasifikasi BBLR
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bila berat
badannya kurang dari 2500 gram. Sebelum tahun 1961, berdasarkan berat
badan saja, dianggap bayi prematur atau berdasarkan umur kehamilan,
yaitu kurang dari 37 minggu. Ternyata tidak semua bayi dengan berat
badan lahir rendah , bermasalah sebagai bayi prematur, tetapi terdapat
beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Berat badan lahir rendah, sesuai dengan umur kehamilannya,
menurut perhitungan hari pertama haid terakhir.
2. Bayi dengan ukuran kecil masa kehamilan (KMK) artinya bayi
yang berat badannya kurang dari persentil ke -10 dari berat
sesungguhnya yang harus dicapai menurut umur kehamilannya
3. Atau berat badan lahir rendah ini disebabkan oleh kombinasi
keduanya artinya :
a. Umur hamilnya belum waktunya untuk lahir.
b. Tumbuh kembang intrauteri, mengalami gangguan sehingga
terjadi kecil untuk masa kehamilannya
(Manuamba, 2015).

d. Faktor risiko BBLR


Faktor yang mempengaruhi BBLR adalah sebagai berikut ;
1. Faktor intrinsik yaitu jenis kelamin, genetika, dan pertumbuhan
plasenta.
2. Faktor ibu yang meliputi
13

a. Faktor biologi yaitu umur, paritas, tinggi badan, berat badan


sebelum hamil, pertambahan berat badan selama kehamilan, dan
lingkar lengan atas (LILA).
b. Faktor lingkungan yaitu taraf sosial ekonomi, jarak antar
kehamilan, penyakit infeksi, kegiatan fisik, perawatan kesehatan,
pendidikan, kebiasaan merokok, atau minum alkohol, dan
ketinggian tempat tinggal.
Faktor utama yang sering menyebabkan BBLR yaitu status gizi ibu
selama kehamilan, ibu yang berat badannya kurang dari 45 kg dan selama
kehamilan disertai penambahan berat badan yang rendah atau turun sampai
10 kg mempunyai risiko paling tinggi untuk melahirkan bayi dengan
BBLR. Ibu hamil harus mengalami kenaikan berat badan berkisar 11-12,5
kg atau 20% dari berat badan sebelum hamil. Ibu yang memiliki ukuran
lingkar lengan atas di bawah 23,5 cm juga berisiko melahirkan bayi
BBLR. Status anemia juga digunakan sebagai salah satu indikator status
gizi ibu. Ibu hamil dikatakan anemia jika kadar Hb <11 g% pada trimester
I, kadar Hb <10,5 g% pada trimester II dan kadar Hb <11 g% pada
trimester III. Ibu hamil yang disertai kondisi anemia dapat meningkatkan
risiko terjadinya BBLR (Ruseng, 2014).

e. Manifestasi klinis BBLR


Menurut rustam 1998 diagnosis dan gejala klinik BBLR di bagi
menjadi dua, yakni sebelum bayi lahir dan setelah bayi lahir. Manifestasi
pada bayi sebelum lahir didapatkan melaui anamnesis dan di jumpai
adanya riwayat abortus, pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan
kehamilan, dan biasa di jumpai ologohidroamnion. Manifestasi klinis
setelah bayi lahir adalah bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin,
tanda-tanda yang dapat ditemukan antara lain gerakan bayi terbatas dan
kulit tampak tipis. Pada bayi perempuan, genitalia tampak labia mayor
belum menutupi labia minor, sedangkan pada laki-laki tampak banyak
lipatan pada skrotum dan testis biasanya belum turun (Syarifuddin, 2013).
14

f. Manajemen BBLR
Penanganan pada bayi dengan berat lahir rendah mencakup
beberapa hal yaitu : memepertahankan suhu bayi, mencegah infeksi dan
penimbangan berat badan secara rutin. Mempertahankan suhu bayi
dilakukan untuk mencegah terjadinya hipotermia karena bayi dengan berat
lahir rendah mudah mengalami hipotermia. Pencegahan infeksi pada bayi
dengan berat lahir rendah perlu memperhatikan prinsip-prinsip pencegahan
infeksi dengan cara mencuci tangan sebelum memegang bayi karena bayi
dengan berat lahir rendah belum memiliki sistem imun yang matang
sehingga mudah mengalami infeksi. Penimbangan berat badan pada bayi
dengan berat lahir rendah harus dilakukan secara rutin untuk menilai
peningkatan berat badan (Syarifuddin, 2013).

g. Komplikasi BBLR
1. Bayi Preterm
BBLR dapat menyebabkan kondisi ketidakmatangan secara
anatomi dan fisiologis sehingga dapat mengakibatkan asfiksia lahir
hipotermia, tertundanya adaptasi peredaran darah setelah kelahiran
dengan ditandai pulmonary hypertension, hipotensi sistemik, dan
tertunda penutupan foramen ovale. Vaskular yang imatur
menyebabkan pendarahan intraventrikuler dan retinopati. Pada
susunan kulit yang belum sempurna mengakibatkan ketidakmatangan
fungsi imun selular dan humoral (Sigh G.et. al., 2014).
2. Bayi Aterm
Pada bayi yang mengalami IUGR akan lebih meningkatkan
risiko komplikasi posterm dibandingkan dengan pertumbuhan
intrauterin yang memadai. Pada bayi aterm akan menimbulkan
masalah pernapasan misalnya asfiksia walaupun jauh lebih jarang
dibandingkan pada bayi preterm. Penyebab umumnya antara lain
sepsis dan pneumonia intrauterin, hipertensi pulmonal persisten pada
neonatus (Persistent pulmonary hypertension of the newborn),
sindrom aspirasi mekonium, dan pendarahan paru. Septikemia,
terutama akibat Steroptococus grup B merupakan penyebab gawat
15

napas tersering. Selain itu dapat pula terjadi hipotermia, infeksi


inutero akibat virus TORCH, gangguan metabolit dan kelainan
kongenital (Hull, 2014).

3. Air Susu Ibu (ASI)


a. Definisi ASI
Air Susu Ibu (ASI) merupakan emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa dan garam-garam organik yang akan disekresikan oleh kelenjar
payudara ibu. (Soetjiningsih,2012). ASI eksklusif adalah pemberian ASI
(air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal
dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih, sampai bayi
berumur 6 bulan. (Purwanti,2015)
b. Manfaat ASI bagi ibu :

1. Menyusui dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan. Karena


terjadi peningkatan kadar oksitoksin yang berguna juga untuk
konstriksi pembuluh darah.
2. Menjarangkan Kehamilan. Menyusui merupakan kontrasepsi yang
aman dan cukup berhasil, selama ibu memberikan ASI eksklusif dan
belum haid 98 % tidak akan hamil pada 6 bulan pertama setelah
melahirkan.
3. Mengurangi kemungkinan menderita kanker. Penelitian menunjukkan
angka kejadian kanker payudara dan indung telur akan berkurang
sampai sekitar 25% pada ibu menyusui.
4. Tidak merepotkan dan hemat waktu.
5. Lebih ekonomis/murah
(Roesli dkk,2015)

c. Manfaat ASI bagi bayi antara lain :


1. Sebagai nutrisi terbaik dan sumber kekebalan tubuh. ASI merupakan
sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang
16

karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa


pertumbuhannya. Secara alamiah, bayi yang baru lahir mendapat zat
kekebalan atau daya tahan tubuh dari ibunya melalui plasenta. Akan
tetapi, kadar zat tersebut akan cepat menurun setelah kelahirannya.
Adapun kemampuan bayi membantu daya tahan tubuhnya sendiri
menjadi lambat, maka selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya
tahan tubuh. Kesenjangan tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi
ASI sebab ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh.
(Mustofa & Prabandi, 2014)
2. Melindungi bayi dari infeksi. ASI mengandung berbagai antibodi
terhadap penyakit yang disebabkan bakteri, virus, jamur dan parasit
yang menyerang manusia. (Mustofa & Prabandi, 2014)
3. Menghindarkan bayi dari alergi. Bayi yang diberi susu sapi terlalu dini
dapat menderita lebih banyak masalah, misalnya asma dan alergi.
(Mustofa & Prabandi, 2014)

d. Komposisi ASI antara lain :


i. Protein
Rasio protein”whey” : kasein = 60:40. Pengendapan protein “whey”
lebih halus sehingga lebih mudah dicerna. Asam amino esensial taurin
yang tinggi untuk pertumbuhan retina dan konjugasi bilirubin. Sistin
(asam amino) yang sangat penting bagi pertumbuhan otak bayi. Kadar
tirosin dan fenilalanin pada ASI rendah, suatu hal yang sangat
menguntungkan bagi bayi prematur karena kadar tirosin yang tinggi
dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan otak.
(Soetjiningsih,2014)
ii. Karbohidrat
Laktosa oleh fermentasi akan diubah menjadi laktat yang
memberikan suasana asam di dalam usus bayi sehingga akan
menghambat pertumbuhan bakteri yang patologis, memacu
pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi asam organik
untuk sintesis vitamin, membantu pengendapan Ca-casein, dan
memudahkan terjadinya absorpsi mineral (kalsium, fosfor, dan
magnesium). (Soetjiningsih,2014)
17

iii. Lemak
Lemak merupakan sumber kalori yang utama bagi bayi, dan
sumber vitamin yang larut dalam lemak (A,D,E dan K) dan sumber
asam lemak yang esensial. (Soetjiningsih,2014)
Fraksi asam ASI mempunyai aktivitas antiviral. Diperkirakan
monogliserida dan asam lemak tak jenuh yang ada pada fraksi ini
dapat merusak sampul virus. (Mataram,2014)
iv. Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap. Garam organik yang
terdapat dalam ASI adalah kalsium, kalium dan natrium dari asam
klorida dan fosfat. Cu, Fe dan Mn yang merupakan bahan untuk
pembuatan darah relatif sedikit. Ca dan P merupakan bahan
pembentuk tulang kadarnya cukup dalam ASI. (Soetjiningsih,2014)
v. Air
ASI merupakan sumber air yang secara metabolik adalah aman. Air
yang relatif tinggi dalam ASI akan meredakan rangsangan haus dari
bayi. (Soetjiningsih,2014)
vi. Vitamin
Vitamin A, D dan C dalam ASI cukup, sedangkan golongan
vitamin B, kecuali riboflavin dan asam pantotenik adalah kurang.
(Soetjiningsih,2012). Menurut Arvin (2000) kekurangan vitamin A
jelas dihubungkan dengan peningkatan insiden, morbiditas, dan
mortalitas penyakit saluran pernapasan, Vitamin A menstabilkan
struktur dan fungsi permukaan mukosa dan terlibat dalam respon
imun dan produksi mukus

e. ASI Menurut Stadium Laktasi


1) Kolostrum
Air susu ibu yang dihasilkan pada hari pertama sampai hari kedua
setelah bayi lahir. Kolostrum merupakan cairan yang kekuning-kuningan
dan lebih encer , mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih
dapat membunuh kuman penyakit. Membersihkan zat yang tidak terpakai
dari usus bayi yang baru lahir. Lebih banyak mengandung protein
dibanding ASI yang matang. Mengandung zat anti-infeksi 10-17 kali
18

lebih banyak dibanding ASI yang matang. Kadar karbohidrat dan lemak
rendah dibandingkan dengan ASI matang. (Roesli dkk,2015)
Sel BALT diduga bermigrasi dari daerah limfoid lain dan berperan
dalam respon terhadap antigen kuman yang terhirup. MALT merupakan
agregat jaringan limfoid yang berperan dalam pertahanan imun lokal dan
regional melalui kontak langsung dengan antigen asing. MALT salah
satunya terdapat pada mukosa saluran nafas yang akan mengawali respon
imun terhadap antigen yang terhirup. (Mataram,2014)
2) ASI Transisi/Peralihan
Air susu ibu yang dihasilkan mulai hari keempat sampai hari
kesepuluh. Kadar protein semakin berkurang, sedangkan kadar
karbohidrat dan lemak semakin meningkat (Roesli dkk,2015)
Pada ASI 2 minggu pertama mengandung leukosit lebih dari 4000
sel/unit. Terdiri dari 3 macam sel yaitu Bronchial-Associated Lymphoid
Tissue (BALT) sebagai antibodi saluran pernapasan, Gut-associated
Lymphoid Tissue (GALT) sebagai antibodi saluran cerna, dan Mucosal-
Associated Lymphoid Tissue (MALT) sebagai antibodi mamae.
(Mataram,2014)
3) ASI Matang (Matur)
Air susu ibu yang dihasilkan mulai hari kesepuluh sampai seterusnya.
ASI merupakan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi
sampai umur 6 bulan. (Roesli dkk,2015)

f. Peran ASI terhadap kejadian ISPA


Sebagian besar imunoglobulin ASI mengandung aktivitas antibodi
terhadap bakteri enteral. Hal ini terjadi karena limfosit B ibu pada plak
peyer yang teraktivasi bakteri enteral pada usus bayi, bermigrasi ke lamina
propria payudara. Pada payudara, sel B aktif ini berdiferensiasi menjadi sel
plasma dan menghasilkan imunoglobulin yang disekresikan pada ASI. Sel
limfosit di lamina propria payudara, akan memproduksi IgA yang disekresi
berupa sIgA untuk melindungi molekul IgA dari enzim proteolitik. SIgA
ASI dapat mengandung aktivitas antibodi terhadap virus seperti influenza,
Haemophilius Influenzae, virus respiratori sinsitial, Streptococcus
19

pneumoniae, Kalbsiela, Shigella, Salmonela, dan masih banyak lagi


sehingga ASI dapat mengurangi morbiditas akibat infeksi pernapasan dan
saluran cerna. (Mataram,2014)
Fungsi utama sIgA adalah mencegah melekatnya kuman patogen pada
dinding mukosa dan menghambat proliferasi kuman. ASI meningkatkan
sIgA pada mukosa traktus respiratorius dan kelenjar saliva bayi, ini
disebabkan karena faktor dalam ASI yang merangsang perkembangan
sistem imun lokal bayi. Hal ini terlihat dari lebih rendahnya penyakit
pernapasan seperti pneumonia. (Mataram,2014)
Komplemen terdiri dari sejumlah besar protein yang bila diaktifkan
akan memberikan proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam respon
inflamasi. Komplemen berperan sebagai opsonin yang meningkatkan
fagositosis dan menimbulkan lisis bakteri dan parasit. Laktoferin dapat
menghambat pertumbuhan bakteri karena merupakan glikoprotein yang
dapat mengikat besi yang dibutuhkan untuk perkembangan bakteri aerobik.
(Mataram,2014)
ASI memacu perkembangan yang memadai dari sistem imunologi
bayi sendiri. ASI memberikan zat kekebalan yang belum dapat dibuat oleh
bayi sendiri. Selain itu ASI juga mengandung berbagai komponen
antiinflamasi sehingga bayi jarang mengalami sakit terutama pada awal
kehidupan. (Soetjiningsih,2014)

4. Status Gizi
a. Definisi
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,
penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat gizi untuk mem-
pertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal organ tubuh serta
untuk menghasilkan suatu energi untuk beraktifitas (Supariasa, 2014).
20

Gizi merupakan unsur yang yang sangat penting bagi pembentukan


tubuh manusia yang berkualitas, maka dipelajari tentang cara pemberian
makanan pada bayi dan anak dimana golongan ini merupakan generasi
yang akan mengisi masa depan. Makanan bayi sejak di dalam kandungan
sampai lahir, tumbuh dan berkembang secara normal memerlukan
pemenuhan kebutuhan akan pangan dan zat-zat gizi. Ketidakcukupan zat
gizi yang diperlukan akan menimbulkan gangguan fisiologis dan
metabolisme tubuh bayi dan anak (Adriani dan Wirjatmadi, 2014). Zat gizi
yang diperoleh dari asupan makanan memiliki efek kuat untuk reaksi
kekebalan tubuh dan resistensi terhadap infeksi (Hadiana, 2013).
Faktor yang mempengaruhi status gizi anak balita yang menyebabkan
timbulnya masalah gizi yaitu : a) Zat gizi dalam makanan, b) Ada tidaknya
program pemberian makanan diluar keluarga , c) Daya beli keluarga d)
Kebiasaan makan , e) Pemeliharaan Kesehatan (Supariasa, 2014).

b. Penilaian Status Gizi


Identifikasi dini dan pengkajian penurunan berat badan sangat penting
untuk penanganan dini gizi kurang. Beberapa metode pengkajian status
gizi termasuk pengukuran antropometri, biokimia, dan pengkajian
fungsional digunakan untuk mengkategorikan tingkat masalah gizi yang
terjadi(Kurniasari, 2015).
Penilaian status gizi terdiri dari penilaian secara langsung dan
penilaian secara tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung ter-
bagi menjadi empat penilaian, yaitu : antropometri, klinis, biokimia, dan
biofisik. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung terbagi
menjadi tiga, yaitu : survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor
ekologi (Supariasa, 2014).
1. Penilaian status gizi secara langsung :
a) Antropometri
Secara umum antropometri adalah ukuran tubuh manusia.
Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh
21

dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan den-
gan mengukur beberapa parameter(Supariasa, 2012). Indikator
antropometri bisa merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap
satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur
(Hatriyanti dan Triyanti, 2007). Klasifikasi Status Gizi Anak ber-
dasarkan berat badan menurut umur adalah sebagai mana terdapat
pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.1 Klasifikasi Status Gizi Anak berdasarkan berat badan
menurut umur

Ambang Batas Kategori


Indeks
(Z-score) Status Gizi
Berat Badan Menurut < -3 SD Gizi Buruk
-3 SD s/d < -2 SD Gizi Kurang
Umur (BB/U) Anak
> -2 SD s/d +2 SD Gizi Baik
Umur 0-60 bulan > +2 SD Gizi Lebih
Sumber : Kemenkes RI , 2011
Indikator Berat Badan Menurut Umur (BB/U) Berat Badan
adalah suatu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh
yang sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang
mendadak, misalnya terserang penyakit infeksi, menurunnya
nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang di konsumsi
(Kementerian Kesehatan RI, 2013).
b) Pemeriksaan klinis
Metode yang sangat penting untuk menilai status gizi
masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan
yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi.
Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervisial epithelial
tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau organ-
organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

2. Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi menjadi


tiga (Supariasa, 2014), yaitu:
a) Survei konsumsi makanan
22

Survei konsumsi makanan adalah metode penilaian status gizi


secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi
yang dikonsumsi. Survei konsumsi makanan terbagi atas dua,
yaitu :
1. Metode kuantitatif adalah metode survei konsumsi makanan
untuk mengetahui jumlah konsumsi bahan makanan sehingga
dapat dihitung konsumsi zat gizi seperti recall 24 jam.
2. Metode kualitatif adalah metode survei konsumsi makanan
untuk mengetahui data frekuensi konsumsi bahan makanan
atau makanan jadi dan menggali informasi mengenai pola
konsumsi bahan makanan individu.
b) Statistik vital, pengukuran status gizi dengan menganalisis data
beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan
umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu
data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
c) Faktor ekologi mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan
masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik,
biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia
sangat tergantung dari keadaan ekologi, seperti : iklim, tanah,
irigasi dan lain-lain.
B. KERANGKA TEORI

Infeksi Saluran Pernapasan Akut

(ISPA)

Faktor yang mempengaruhi

Faktor Individu Balita Faktor Lingkungan


1. Kebiasaan Merokok
Pada Lingkungan Balita
Tinggal
BBLR Asi ekslusif 2. Ventilasi Rumah
3. Kepadatan Hunian
23

Status Gizi

1. Protein 1. Lebih
2. Karbohidrat 2. Baik
3. Lemak 3. Kurang
Faktor Internal
4. Mineral 4. buruk
5. Air 1. Usia ibu hamil
6. vitamin 2. Jarak kelahiran
3. Status gizi ibu
4. Kadar Hb

Faktor External

1. Faktor lingkungan
2. Faktor ekonomi
3.
Keterangan Variabel yang diteliti
Variabel yang tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian(Bambang et al, 2013; Behrman et al, 2014;
Rudolph, 2015;Santrock, 2015; Supryanto, 2013Yuli & Khasanah 2014;)

C. KERANGKA KONSEP

 Berat Badan
Lahir Rendah
(BBLR) Infeksi Saluran
 Asi Eksklusif Pernapasan Akut(ISPA)
 Status Gizi

Variabel Bebas Variabel Terikat


Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

D. Landasan Teori
24

Secara klinis infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah merupakan


infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh
manusia kemudian menyerang salah saluran pernapasan dari hidung hingga
alveoli yang menimbulkan gejala penyakit dalam waktu yang berlangsung hingga
14 hari (Ade, 2014)
Faktor resiko yang dapat meningkatkan frekuensi kejadian ISPA yakni bayi
dengan berat badan lahir rendah, status gizi (terutama pada gizi kurang dan gizi
buruk yang dapat memperbesar resiko terjadinya ISPA), ketidaklengkapan status
imunisasi, polusi udara dalam kamar terutama asap rokok dan asap bakaran dari
dapur, ventilasi yang kurang memadai (Yuli & Khasanah, 2013).
BBLR merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi pada
neonatus. BBLR menyebabkan kematian sebesar 51% bayi di dunia. BBLR juga
merupakan penyebab utama dari morbiditas.
ASI meningkatkan sIgA pada mukosa traktus respiratorius dan kelenjar
saliva bayi pada 4 hari pertama kehidupan. Ini disebabkan karena faktor dalam
kolostrum yang merangsang perkembangan sistem imun lokal bayi. Hal ini
terlihat dari lebih rendahnya penyakit pernapasan seperti pneumonia.
(Mataram,2014)

Status gizi adalah derajat ekspresi terhadap pemenuhan kebutuhan fisiologi.


Gangguan gizi akan terjadi jika pemenuhan fisiologis ini tidak terpenuhi atau
terpenuhi berlebihan dalam kurun waktu tertentu, sehingga bermanifestasi dalam
bentuk gangguan gizi, baik masalah kelebihan gizi maupun kekurangan
gizi(Yuwono, 2014).
Pada kasus gizi kurang, individu akan lebih rentan terhadap infeksi akibat
menurunnya kekebalan tubuh terhadap invasi patogen. Kekurangan gizi dapat
terjadi dari tingkat ringan sampai dengan tingkat berat dan terjadi secara perlahan-
lahan dalam waktu yang cukup lama. Balita yang kurang gizi mempunyai risiko
meninggal lebih tinggi dibandingkan balita yang mempunyai status gizi yang baik
(Hadiana, 2013).

E. Hipotesis
25

H0 : Tidak terdapat hubungan antara Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), ASI
Eksklusif dan Status Gizi dengan Kejadian Ispa pada anak usia 0-59 bulan
di Puskesmas Tipo pada 2 Oktober sampai 22 Oktober 2017

H1 : Terdapat hubungan antara Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), ASI


Eksklusif dan Status Gizi dengan Kejadian Ispa pada anak usia 0-59 bulan
di Puskesmas Tipo pada 2 Oktober sampai 22 Oktober 2017

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan
menggunakan pendekatan Cross sectional yang dilakukan dengan menganalisis
data primer dan data sekunder (Notoatmodjo, 2010).

B. Waktu dan Lokasi Penelitian


a. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini akan dilaksanakan di Puskemas Tipo Kota Palu.
b. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah mulai tanggal 2 Oktober 2017 -
20 Oktober 2017

C. Populasi dan Sampel


a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien balita usia 0 - 59 bulan
yang berada di Puskesmas Tipo periode Oktober 2017.
b. Sampel
26

Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, yang


didasarkan atas pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti berdasarkan
kriteria inklusi (Notoatmodjo, 2010).
1. Inklusi :
a) Pasien balita usia 0-59 bulan
b) Rekam medis lengkap
2. Eksklusi :
a) Pasien berdomisili diluar wilayah kerja Puskesmas Tipo
b) Keluarga menolak

D. Sample Minimal
Besar sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus untuk besar populasi
yang tidak diketahui karena dalam hal ini peneliti tidak mengetahui besar populasi
yang akan diteliti. Rumusnya yaitu :
Z21 – α/2P(1 – P)
n=
d2

n = 96,4

Besar sampel minimal yang akan digunakan adalah 96 (pembulatan ke


bawah). Sampel yang akan digunakan telah memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi.

Keterangan :
n = besar sampel
P = proporsi subyek dalam penelitian
Q = (1 – P) proporsi non subyek dalam populasi
d2 = presisi (nilaiabsolut)
Z21 – α/2 = tingkat kemaknaan yang diinginkan

E. Variabel dan Defenisi Operasional


a. Variabel bebas
1) Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) adalah Berat badan bayi yang
rendah (< 2500 gram) saat ditimbang dalam jangka waktu 1 jam pertama
setelah lahir, dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu atau lebih.
27

Alat ukur : Kuisioner


Skala ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Berat Bayi Lahir Rendah ( < 2500 gram)
2. Berat Bayi Lahir Normal ( ≥ 2500 gram)
2) Asi Ekslusif adalah tidak memberi bayi makanan atau minuman
lain, termasuk air putih, selain menyusui (kecuali obat-obatan dan vitamin
atau mineral tetes; ASI perah juga diperbolehkan.
Pada penelitian ini ASI ekslusif dikategorikan sebagai bayi yang
mendapat ASI dari usia 0 bulan sampai usia bayi saat ini atau sampai
minimal usia 6 bulan, tanpa menambahkan minuman atau makanan
maupun makanan atau minuman pendamping, yang cara pemberiannya
tidak di batasi waktu dan frekuensinya (pagi, siang dan malam hari).
Alat ukur : Kuisioner
Skala ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Asi Ekskusif
3. Tidak Asi Eksklusif

3) Status Gizi adalah Keadaan gizi balita, yang diukur dengan BB/TB
berdasarkan indeks antropometri: BB (Kg) yang diukur dibandingkan
dengan TB (cm) dengan menggunakan grafik z-score.
Alat ukur : Pengisian grafik Z-Score
Skala ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Gizi Baik -2 sampai +2 SD
2. Gizi kurang < -2 SD
3. Gizi buruk < -3 SD
(Kemenkes, 2011)

b. Variabel Terikat
Pasien usia 0-59 bulan yang datang dengan keluhan umum ISPA seperti
demam, batuk, flu, sesak napas, dan telah di diagnosis ISPA di Puskesmas
Tipo Palu.
Alat ukur : Rekam medik
Skala ukur : Nominal
Hasil Ukur : 1. ISPA
2. Tidak ISPA

F. Alur Penelitian

Usulan judul
penelitian
28

 Membuat surat izin penelitian di


Prosedur menjaga
Fakultas Kedokteran dan Ilmu
etika penelitian
Kesehatan UNTAD
 Memberikan surat pengantar sebagai
permohonana izin untuk melakukan
penelitian kepada Kepala Puskesmas
Tipo Palu

Pengolahan data Pengambilan data di


Puskesmas Tipo

Gambar 3.1 Alur penelitian

G. Pengolahan Data

Pengolahan data penelitian dilakukan dengan tahap- tahap sebagai berikut:


1. Editing, yaitu memeriksa kelengkapan data sehingga apabila ada kekurangan
dapat segera dilengkapi.
2. Coding, yaitu memberikan kode-kode untuk memudahkan proses pengolahan
data.
3. Entry, yaitu memasukkan data untuk diolah menggunakan komputer.
4. Tabulating, yaitu mengelompokkan data sesuai variabel yang akan diteliti
guna memudahkan analisis data.

H. Analisis Data
29

Data diolah dengan alat bantu perangkat komputer software Statistical


Package for the Social Science (SPSS) for windows. Untuk analisis data
digunakan analisis data univariat dan analisis data bivariat.
1. Analisis Univariat
Analisa ini digunakan untuk memberikan gambaran umum terhadap data
hasil penelitian dalam bentuk tabel frekuensi dan pesentase dari tiap variabel
sebagai bahan informasi.
2. Analisis Bivariat
Analisis ini digunakan untuk mengetahui interaksi antara variabel variabel
yaitu varibel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan derajat
kemaknaan 95%. Analisis bivariat dalam penelitian ini digunakan untuk
mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA.
Karena analisis yang dilakukan adalah analisis hubungan antara variabel
kategori dengan variabel kategori maka uji statistik yang digunakan adalah uji Kai

 f  fh 
2
O
Kuadrat yaitu  2

fh

Keterangan :

 2  Kai Kuadrat

f O  Frekuensi hasil observasi dari sampel penelitian

f h  Frekuensi yang diharapkan pada populasi penelitian

3. Analisis Multivariat
Analisis multivariat dilakukan dengan tujuan untuk melihat hubungan
beberapa variabel (lebih dari satu) independen dengan satu atau beberapa
variabel dependen (umumnya satu variabel dependen). Dalam analisa
multivariat akan diketahui variabel independen mana yang paling besar
pengaruhnya terhadap variabel dependen (Hastono, 2007). Langkah-langkah
dalam analisis multivariat menggunakan regresi logistic.

Pada penelitian ini jenis analisis multivariat yang digunakan adalah


regresi logistik ganda. Model regresi logistik dapat digunakan pada data yang
dikumpulkan melalui rancangan kohort, case control maupun cross sectional.
30

Analisis regresi logistik adalah salah satu pendekatan model matematis yang
digunakan untuk menganalisis hubungan satu atau beberapa variabel
independen dengan variabel dependen. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini yakni variable kategorik dikotom. Variabel dikotom adalah
variabel yang mempunyai dua nilai variasi. (Hastono dan Sabri, 2007)

I. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti memandang perlu adanya
rekomendasi dari pihak institusi dengan mengajukan :
1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti memandang perlu adanya
rekomendasi dari pihak institusi dengan mengajukan permohonan izin kepada
instansi tempat penelitian dilaksanakan yang di keluarkan oleh Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako dan disetujui oleh
Kepala Puskesmas Tipo Palu.
2. Anonymity (Tanpa Nama)
Setelah mendapat persetujuan tersebut, barulah dilakukan penelitian
dengan menekankan masalah etika penelitian diantaranya anonymity (tanpa
nama) untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama
tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya
oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil
penelitian.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tipo pada tanggal 2 Oktober 2017 -
20 Oktober 2017. Data yang diambil adalah data pasien balita yang datang
berobat ke Puskesmas Tipo pada tanggal 2 Oktober sampai 22 Oktober tahun
31

2017 yang berjumlah 96 orang. Pengambilan data dilakukan di bagian Rekam


Medis Puskesmas Tipo dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi
Peneliti kemudian melakukan pengambilan sampel dengan metode purposive
sampling. Analisis data dari hasil penelitian ini dilakukan dengan tiga cara yaitu
analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariate dengan menggunakan
uji lambda.
1. Analisa Data Univariat
a. Usia
Tabel 4.1 Distribusi sampel berdasarkan usia
Usia Jumlah %
0 – 12 bulan 16 16,7
13 – 24 bulan 26 27,1
25 - 36 bulan 27 28,1
37 – 48 bulan 14 14,6
49 – 59 bulan 13 13,5
Total 96 100
Sumber : Data sekunder ( Rekam Medik, 2017)
Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa jumlah pasien balita
yang datang berobat di puskesmas Tipo Palu dengan usia 0 - 12 bulan
sebanyak 16 orang (16,7%), jumlah pasien usia 13 - 24 bulan adalah
sebanyak 26 orang (27,1%), jumlah pasien usia 25 - 36 bulan adalah
sebanyak 27 orang (28,1%), jumlah pasien usia 37 - 48 bulan adalah
sebanyak 14 orang (14,6%) dan jumlah pasien usia 49 - 59 bulan adalah
sebanyak 13 orang (13,5%).

b. Jenis Kelamin
Tabel 4.2 Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Jumlah %


Laki-laki 54 56,2
Perempuan 42 43,8
Total 96 100.0
Sumber : Data Primer (Kuisioner)
Berdasarkan data di atas sebanyak 54 orang (56,2%) memiliki
berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 42 orang (43,8%) berjenis kelamin
perempuan.
32

c. Berat Badan Lahir


Tabel 4.3 Distribusi sampel berdasarkan berat lahir

Berat lahir Jumlah Persentase (%)


< 2500 gram 28 29.2
≥ 2500 gram 68 70.8
Total 96 100.0
Sumber : Data Primer (Kuisioner)
Berdasarkan data di atas sebanyak 28 orang (29.2%) memiliki
berat lahir < 2500 gram dan sebanyak 68 orang (70.8%) dengan berat lahir
≥ 2500 gram.
d. Asi Eksklusif
Table 4.4 Distribusi ssampel berdasarkan Asi Eksklusif

Asi Eksklusif Jumlah Persentase (%)


Ya 46 47.9
Tidak 50 52.0
Total 96 100
Sumber : Data Primer (Kuisioner)
Berdasarkan data di atas sebanyak 46 balita (47.9%) mendapatkan
ASI Eksklusif dan sebanyak 50 balita (52.0%) tidak mendapatkan ASI
Eksklusif.
e. Status Gizi
Tabel 4.5 Distribusi sampel berdasarkan status gizi
Berat Lahir Jumlah Persentase (%)

Baik 33 34.4
Kurang 63 65.6
Buruk 0 0

Total 96 100

Sumber : Data sekunder (Rekam Medik, 2017)


Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa jumlah pasien dengan
status gizi kurang lebih banyak yaitu 63 orang (65,6%), dibandingkan
pasien dengan status gizi baik yaitu sebanyak 33 orang (34,4%).

f. ISPA
33

Tabel 4.6 Distribusi sampel berdasarkan ISPA


ISPA Jumlah Persentase (%)

Ya 58 60.4
Tidak 38 39.6

Total 96 100.0

Sumber : Data sekunder (Rekam Medik, 2014)


Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa jumlah pasien yang
menderita ISPA sebanyak 58 (60,4%) dan 38 orang (39,6%) pasien tidak
mengalami ISPA.
2. Analisa Data Bivariat
Analisis data bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara yaitu
kejadian infeksi saluran pernapasan akut terhadap factor resiko dari ISPA
yakni Berat Bayi Lahir Rendah, Asi Eksklusif dan Status Gizi. Uji statistik
yang digunakan untuk mencari tahu hubungan tersebut adalah uji korelasi
Lambda.
a. Hubungan Berat Bayi Lahir Rendah dengan Kejadian ISPA
Tabel 4.7 Hubungan Berat Bayi Lahir Rendah dengan Keladian ISPA

ISPA
Berat TOTAL P
value
Lahir ISPA Tidak ISPA

n % n % n %

< 2500 28 29.2% 0 0 28 29.2 0,121


gram %

≥ 2500 30 31.2% 38 39.6% 68 70,8


gram

Jumlah 58 60.4 38 39.6 96 100

Dari hasil analisis data dengan menggunakan program SPSS


menggunakan uji lambda diperoleh bahwa tidak ada hubungan antara
BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dengan kejadian ISPA pada pasien balita
34

usia 0-59 bulan yang berobat di Puskesmas Tipo Palu pada bulan oktober
tahun 2017. Berdasarkan data pada tabel 4.7 terlihat bahwa sebanyak 28
orang (29.2%) balita yang memiliki berat lahir < 2500 gram menderita
ISPA dan 0 orang (0%) balita dengan berat lahir < 2500 gram tidak
menderita ISPA. Pada pasien yang memiliki berat lahir ≥ 2500 gram
sebanyak 30 orang (31.2%) menderita ISPA dan sebanyak 38 orang
(39.6%) balita dengan berat lahir ≥ 2500 gram tidak mengalami ISPA. Dari
data di atas terlihat bahwa pasien balita yang memiliki berat lahir ≥2500
gram lebih banyak mengalami ISPA daripada balita yang memiliki berat
lahir < 2500 gram. Hal ini juga didukung dengan uji statistik dimana nilai
p < nilai α yaitu 0,121, artinya H0 diterima dan H1 ditolak.
b. Hubungan Asi Eksklusif dengan Keladian ISPA
Tabel 4.8 Hubungan Asi Eksklusif dengan Keladian ISPA

ISPA
ASI TOTAL P
Eksklusif value
ISPA Tidak ISPA

n % n % n %
0,012
Asi 29 30,2 16 16,7 45 46,9
Tidak Asi 30 31.25 21 21,9 51 53,1

Jumlah 59 61,4 37 38,6 96 100

Dari hasil analisis data dengan menggunakan program SPSS


menggunakan uji lambda diperoleh bahwa terdapat hubungan antara asi
eksklusif dengan kejadian ISPA pada pasien balita usia 0-59 bulan yang
berobat di Puskesmas Tipo Palu pada bulan oktober tahun 2017.
Berdasarkan data pada tabel 4.8 terlihat bahwa sebanyak 29 orang (30,2%)
balita yang mendapatkan asi eksklusif menderita ISPA dan 16 orang
(16,7%) balita yang mendapatkan asi eksklusif tidak menderita ISPA.
Pada pasien yang tidak mendapatkan asi eksklusif sebanyak 30 orang
(31.25%) menderita ISPA dan sebanyak 21 orang (21,9%) balita yang
tidak mendapatkan asi eksklusif tidak mengalami ISPA. Dari data di atas
35

terlihat bahwa pasien balita yang tidak mendapatkan asi eksklusif lebih
banyak mengalami ISPA daripada balita yang mendapatkan asi eksklusif.
Hal ini juga didukung dengan uji statistik dimana nilai p < nilai α yaitu
0,012, artinya H0 ditolak dan H1 diterima.

c. Hubungan Status Gizi dengan Keladian ISPA


Tabel 4.9 Hubungan Status Gizi dengan Keladian ISPA

ISPA
Status TOTAL P
value
Gizi ISPA Tidak ISPA

n % n % n %
0,025
Baik 26 27.1% 7 7.3% 33 34.4%

Kurang 32 33.3% 31 32.3% 63 65.6%

Jumlah 58 60.4% 38 39.6% 96 100

Dari hasil analisis data dengan menggunakan program SPSS


menggunakan uji lambda diperoleh bahwa terdapat hubungan antara status
gizi dengan kejadian ISPA pada pasien balita usia 0-59 bulan yang berobat
di Puskesmas Tipo Palu pada bulan oktober tahun 2017. Berdasarkan data
pada tabel 4.9 terlihat bahwa sebanyak 26 orang (27.1%) balita yang
memiliki status gizi baik menderita ISPA dan 7 orang (7.3%) balita yang
memiliki status gizi baik tidak menderita ISPA. Pada pasien yang memiliki
status gizi kurang sebanyak 32 orang (33.3%) menderita ISPA dan
sebanyak 31 orang (32.3%) balita yang memiliki status gizi kurang tidak
mengalami ISPA. Dari data di atas terlihat bahwa pasien balita yang
memiliki status gizi kurang lebih banyak mengalami ISPA daripada balita
yang memiliki status gizi baik. Hal ini juga didukung dengan uji statistik
dimana nilai p < nilai α yaitu 0,025, artinya H0 ditolak dan H1 diterima.
36

B. Pembahasan
a. Berat Lahir
Berdasarkan data dari tabel 4.3 menurut distribusi berat lahir bayi di
Puskesmas Tipo Kota Palu bulan Oktober Tahun 2017 menunjukkan jumlah
bayi yang lahir dengan berat < 2500 gram sebanyak 28 orang (29,2%) dan
jumlah bayi yang lahir dengan berat ≥ 2500 gram sebanyak 68 orang (70,8%).
Dari data tabel 4.6 sebanyak 58 (60,4) bayi mengalami ISPA dan sebanyak 38
orang (39,6%) bayi tidak mengalami ISPA. Berdasarkan hasil analisis bivariat
pada tabel 4.7 diketahui distribusi antara BBLR dan kejadian ISPA pada bayi.
Pada kelompok BBLR didapatkan 28 orang (29,2%) menderita ISPA dan 31
orang (81,57%) tidak menderita pneumonia.
Untuk mengetahui hubungan antara BBLR dengan kejadian ISPA pada
bayi dilakukan uji statistic menggunakan Lambda dan diperoleh nilai p 0,121
yang secara statistik dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara
BBLR dengan kejadian ISPA pada bayi usia 0-59 bulan yang terdiagnosis
ISPA di Puskesmas Tipo Tahun 2017. Oleh karena itu, hipotesis kerja (H1)
ditolak.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang sebelumnya
dilakukan oleh Ribka (2013) dan yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan antara BBLR dengan kejadian ISPA pada balita. Hasil penelitian
yang sama juga dikemukakan oleh Sukmawati dan Sri (2014) bahwa tidak
terdapat hubungan antara BBLR dengan kejadian ISPA Pada balita.
Namun hasil penelitian yang berbeda didapatkan oleh Musdalifah
(2013) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara Berat Bayi Lahir
Rendah dengan kejadian ISPA. Sadono, et al (2011) menyimpulkan dari hasil
penelitian yang dilakukannya bahwa terdapat hubungan antara Berat Bayi
Lahir Rendah dengan kejadian ISPA.
Hasil dari penelitian ini didapatkan 28 orang pasien pneumonia bayi
dengan BBLR. Nilai p (0,001) pada penelitian ini menunjukkan nilai negatif,
dimana tidak terdapat hubungan antara berat bayi lahir rendah dengan
kejadian ISPA pada balita. Pada penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tipo
37

Tahun 2017 menunjukkan bahwa dari 59 kasus BBLR terpadapat 43


diantaranya memiliki riwayat dengan kelahiran prematur.
Bayi berat lahir yang rendah dapat disebabkan oleh kelahiran prematur
atau retardasi pertumbuhan (Farrer, 2013). Bayi prematur adalah bayi lahir
pada umur kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu. Pada umumnya
bayi kurang bulan disebabkan oleh ketidakmampuan uterus ibu dalam
menahan janin, gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat
dari waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus
sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyi organ dan alat
tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup diluar rahim.
Semakin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh semakin kurang
sempurna dan prognosisnya semakin kurang baik (Waspodo, et a.l, 2013).
Tingkat kematangan fungsi sistem organ neonatus merupakan syarat
untuk dapat beradaptasi dengan kehidupan luar rahim. Secara anatomi dan
fisiologi fungsi sistem organ yang belum matang pada bayi prematur
cenderung mengalami masalah masalah yang bervariasi. Salah satunya adalah
imaturitas sistem organ pernapasan yang disebabkan oleh kurangnya
surfaktan pada paru-paru. Membran hialin surfaktan paru yang merupakan
suatu zat yang dapat menurunkan tegangan dinding alveoli paru. Fungsi lain
surfaktan berkaitan dengan imunologi yaitu melindungi paru dari cedera dan
infeksi yang disebabkan oleh partikel ataumikroorganisme yang terhirup saat
bernafas.
Paru terlindung dari infeksi melalui beberapa mekanisme termasuk
barier anatomi dan barier mekanik juga sistem pertahanan tubuh lokal
maupun sistemik. Sistem pertahanan tubuh yang terlibat baik sekresi lokal
imunoglobulin A maupun respon inflamasi oleh sel-sel leukosit, komplemen,
sitokin, imunoglobulin, alveolar makrofag dan cell mediated immunity.
Pneumonia terjadi bila satu atau lebih mekanisme diatas mengalami gangguan
sehingga kuman patogen dapat mencapai saluran nafas bagian bawah.
Inokulasi patogen penyebab pada saluran nafas menimbulkan respon
inflamasi akut pada penjamu yang berbeda sesuai dengan patogen
penyebabnya.
38

Syarifuddin (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa bayi


dengan BBLR rentan terhadap infeksi. Untuk mencegah terjadinya infeksi
pada bayi dengan berat lahir rendah perlu memperhatikan prinsip-prinsip
pencegahan infeksi dengan cara mencuci tangan sebelum memegang bayi
karena bayi dengan berat lahir rendah belum memiliki sistem imun yang
matang sehingga mudah mengalami infeksi. Bayi dengan daya tahan tubuh
yang terganggu akan mudah mengalami pneumonia berulang.
Menurut Erlina (2008), upaya preventif pada kasus Berat Lahir Rendah
(BBLR) adalah langkah yang penting. Beberapa hal-hal yang dapat dilakukan
diantaranya adalah melakukan antenatal care secara berkala minimal empat
kali selama kehamilan. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko
yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan
dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu. Upaya lainnya
yang dapat dilakukan dalam menurunkan kasus BBLR adalah pemberian gizi
yang adekuat terhadap ibu hamil.
b. Asi Eksklusif
Berdasarkan data dari tabel 4.4 menurut distribusi Asi eksklusif di
Puskesmas Tipo Kota Palu bulan Oktober Tahun 2017 menunjukkan jumlah
bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif sebanyak 46 balita (47,9%) sedangkan
yang tidak mendapat ASI Eksklusif sebanyak 50 balita (52,0%). Dari data
tabel 4.6 sebanyak 58 (60,4%) orang balita mengalami ISPA dan sebanyak 38
orang (39,6%) balita tidak ISPA.

Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.8 diketahui distribusi


antara Asi Eksklusif dan kejadian ISPA pada balita. Pada kelompok Asi
Eksklusif yang menderita ISPA didapatkan 29 orang (30,2%) dan 16 orang
(16,7%) tidak menderita ISPA.

Untuk mengetahui hubungan antara Asi Eksklusif dengan kejadian


ISPA pada balita dilakukan uji statistic menggunakan uji Lambda dan
diperoleh nilai p 0,012 yang secara statistic dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan antara Asi Eksklusif dengan kejadian ISPA pada balita usia 0-59
39

bulan yang di terdiagnosis ISPA di Puskesmas Tipo Tahun 2017. Oleh karena
itu, hipotesis kerja (H0) ditolak dan hipotesis kerja (H1) diterima.
Hasil penelitian ini di dukung oleh penelitian Nataprawira et al (2010)
melaporkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI
eklusif terhadap kejadian pneumonia dengan diperoleh nilai p 0,02, kemudian
diuji dengajika dilihat dari nilai RR = 3 berarti balita yang tidak mendapatkan
ASI Eksklusif dapat meningkatkan kejadian pneumonia 3 kali.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sugiharto (2012) bahwa balita yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif
mempunyai hubungan yang signifikan terhadap terjadinya ISPA dengan
diperoleh nilai p=0,000 dan mempunyai risiko 8 kali lebih besar untuk
menderita ISPA, dibandingkan dengan balita yang mendapatkan ASI
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa Air Susu Ibu merupakan
makanan terbaik dan utama bagi bayi karena di dalam ASI terkandung
antibodi yang diperlukan bayi untuk melawan penyakit-penyakit yang
menyerangnya. Pada dasar-nya ASI adalah imunisasi pertama karena ASI
mengandung bergbagai zat kekebalan antara lain immunoglobulin. (Umboh et
al,2013)

ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan
lain. Pemberian ASI secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu
setidaknya selama 6 bulan, dan setelah 6 bulan bayi mulai diperkenalkan
dengan makanan padat. Sistem pertahanan tubuh balita akan berusaha
mempertahankan atau melawan benda asing yang masuk kedalam tubuh,
sistem pertahanan tubuh yang paling baik diperoleh dari ASI. Bayi yang
diberi ASI terbukti lebih kebal terhadap berbagai penyakit infeksi.
(Sugihartono & Nurjazuli,2012)

ASI menyediakan vitamin A yang diperlukan selama usia 6 bulan


pertama dan sebagian besar kebutuhan hingga usia 2 tahun Vitamin A
menstabilkan struktur dan fungsi permukaan mukosa dan terlibat dalam
respon imun dan produksi mucus. (Arvin dkk,2000)
40

Komplemen terdiri dari sejumlah besar protein yang bila diaktifkan


akan memberikan proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam respon
inflamasi. Laktoferin dapat menghambat pertumbuhan bakteri karena
merupakan glikoprotein yang dapat mengikat besi yang dibutuhkan untuk
perkembangan bakteri aerobik. (Agusjaya Mataram,2011)

Secara teori, telah diketahui bahwa ASI mengandung komponen-


komponen yang memiliki efek perlindungan seperti sel limfosit B dalam ASI
juga dapat masuk ke dalam kelenjar limfe mesenterika, berproliferasi dan
masuk ke dalam pembuluh darah. Dari pembuluh darah, sel limfosit B akan
bermigrasi ke mukosa tempat lain seperti mukosa traktus respiratorius. Pada
tempat ini sel limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang akan
memproduksi IgA, IgA yang dihasilkan akan berikatan dengan komponen
sekretori sel epitel mukosa menjadi sIgA . Antibodi sIgA berfungsi utama
sebagai inhibitor penempelan bakteri atau virus ke epitel (Matondang et
al,2008)

c. Status Gizi
Berdasarkan data dari tabel 4.5 menurut distribusi status gizi balita yang
di berobat jalan di puskesmas Tipo selama bulan oktober 2017 menunjukkan
bahwa jumlah balita dengan status gizi kurang sebanyak 63 orang (65,6%)
dan jumlah balita dengan status gizi baik sebanyak 33 orang (34,4%).).
Berdasarkan data dari tabel 4.6 menunjukkan jumlah pasien balita yang
menderita ISPA sebanyak 58 (60,4%) dan 38 orang (39,6%) balita tidak
menderita ISPA. Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.9 diketahui
distribusi antara status gizi dan kejadian ISPA pada balita di dapatkan 32
orang (33,3%) balita yang memiliki status gizi kurang menderita ISPA dan
sebanyak 31 (32,3%) balita yang memiliki status gizi kurang tidak menderita
ISPA.
Untuk mengetahui hubungan antara Status gizi dengan kejadian ISPA pada
balita dilakukan uji statistic menggunakan lambda dan diperoleh nilai p 0,025
( p < α ) yang secara statistik dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan
antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita usia 0-59 bulan yang
41

berobat jalan di Puskesmas TIpo Palu tahun 2017. Oleh karena itu, hipotesis
kerja (H1) diterima.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang sebelumnya dilakukan
oleh Athanasia dkk (2012) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara
status gizi dengan kejadian ISPA. Sudan Yos (2013) menyimpulkan dari hasil
penelitian yang dilakukannya bahwa terdapat hubungann antara status gizi
terhadap terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di
Puskesmas Pajang Surakarta. Sukmawati & Sri Dara Ayu (2010) di wilayah
kerja Puskesmas Tunikamaseang Kabupaten Maros Sulawesi juga
menunjukkan kejadian ISPA berulang yang lebih banyak pada balita dengan
status gizi kurang dengan p = 0,03, hal ini disebabkan karena status gizi yang
kurang menyebabkan ketahanan tubuh menurun dan virulensi patogen lebih
kuat, sehingga akan menyebabkan keseimbangan terganggu dan akan terjadi
infeksi.
Gizi merupakan salah satu penentu dari kualitas sumber daya manusia.
Akibat kekurangan gizi akan menyebabkan beberapa efek serius seperti
kegagalan dalam pertumbuhan fisik serta tidak optimalnya perkembangan dan
kecerdasan. Akibat lain adalah terjadinya penurunan produktifitas,
menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit yang akan meningkatkan
resiko kesakitan salah satunya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Status gizi yang kurang atau tidak normal akan lebih rentan terhadap infeksi
akibat menurunnya kekebalan tubuh terhadap invasi patogen. Sebaliknya,
pertumbuhan fisik yang terhambat biasanya disertai dengan status imunologi
yang rendah sehingga mudah terkena penyakit. Pada anak dengan keadaan
malnutrisi, proses fisiologi ini tidak berjalan dengan baik, sehingga agen
penyakit yang seharusnya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
42

.
Berdasarkan hasil penelitian dari yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa :

1. Terdapat sebanyak 58 orang (60,4%) balita yang menderita ISPA dan 38


orang (39,6%) balita tidak menderita ISPA.
2. Berdasarkan usia, kunjungan yang paling banyak yakni berusia 25 - 36 bulan
adalah sebanyak 27 orang (28,1%), dan kunjungan yang paling sedikit
berusia 49 - 59 bulan adalah sebanyak 13 orang (13,5%).
3. Berdasarkan uji statistic dapat disimpulkan yakni tidak terdapat hubungan
antara Berat Bayi Lahir Rendah dengan kejadian ISPA pada balita di
Puskesmas Tipo pada bulan oktober tahun 2017 dengan nilai p=0,121
4. Berdasarkan uji statistic dapat disimpulkan yakni terdapat hubungan antara
Asi Eksklusif dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Tipo pada
bulan oktober tahun 2017 dengan nilai p=0,012
5. Berdasarkan uji statistic dapat disimpulkan yakni terdapat hubungan antara
Status Gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Tipo pada bulan
oktober tahun 2017 dengan nilai p=0,025

B. Saran

1. Bagi instansi kesehatan


Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan dimanfaatkan bagi petugas
kesehatan dalam memberikan pengetahuan mengenai penyakit ISPA serta
memberi informasi kepada lembaga atau instansi kesehatan lainnya untuk dapat
mengadakan Health Promotion mengenai bahaya penyakit ISPA

2. Bagi penelitian selanjutnya


Untuk penelitian selanjutnya, disarankan kepada peneliti agar melanjutkan
penelitian dengan mencari faktor-faktor lain yang berpengaruh, seperti :
43

etiologi, sanitasi lingkungan tempat tinggal, tingkat kaparahan maupun terapi


pada pasien ISPA.
3. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat tentang Penyakit ISPA dan
menambah pengetahuan masyarakat tentang bahaya BBLR, gizi kuran, serta
manfaat pemberian ASI.

DAFTAR PUSTAKA

Ade, I.A, 2012, Hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian infeksi
saluran pernafasan akut pada anak balita di kabupaten wonosobo provinsi
44

jawa tengah, Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi


Epidemiologi, Vol.2, No.1, diakses 02 20 Oktober 2017

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia, 2012, Pedoman Pemberantasan


Penyakit Saluran Pernapasan Akut, Depkes RI, Jakarta

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia, 2013, Laporan nasional riset


kesehatan dasar (RESEKDAS), Jurnal Badan Penilitian & Pengembangan
Kesehatan RI, diakses20 Oktober 2017, dari
<http://www.k4health/files/laporanNasionalRisekdas>

Departemen Kesehatan RI, 2015,Informasi tentang ISPA pada balita,Pusat


Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Jakarta

Dinkes Sulteng, 2014,Profil Kesehatan Provinsi Sulteng, Dinas Kesehatan


Daerah UPT Surveilans, Data dan Informasi Provinsi Sulawesi Tengah,
Palu

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, 2012, Profil kesehatan provinsi


sulawesi tengah,Direktorat Pelayanan Kesehatan dan Pengendalian
Masalah Kesehatan, diakses20 Oktober 2017, dari
<http://dinkessulteng.go.id>

Hadiana, S.Y., 2013. Hubungan Status Gizi terhadap terjadinya Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ispa) pada balita di Puskesmas Pajang Surakarta.
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta, pp. 3-12. 20
Oktober 2017. Dari [http://eprints.ums.ac.id/22566/9/NASKAH_ PUBLI-
KASI.pdf].

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Infeksi saluran pernapasan


balita, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
45

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Peraturan menteri republik


indonesia nomor 1077/Menke/PER/V/2011 tentang pedoman penyehatan
udara dalam ruangan rumah, Kemenkes Republik Indonesia, Jakarta

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Sub direktorat pengendalian


ISPA, Direktorat Pengendalian Penyakit Menular & Pengendalian Penyakit
Penyehatan Lingkungan, diakses 25 April 2015, dari
<http://www.ispa.pppl.depkes.go.id>

Kementerian Kesehatan RI., 2013. Rencana Kerja Pembinaan Gizi tahun 2013 .
Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI. Jakarta

Kurniasari ,F.N., Surono,A., Pangastuti, R., 2015. Status Gizi Sebagai Prediktor
Kualitas Hidup Pasien Kanker Kepala Dan Leher. Indonesian Journal of
Human Nutrition, pp 61 – 68.

Mardjanis, S., 2014, Pengendalian pneumonia anak balita dalam rangka


pencapaian MDF4,Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia,Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta

Mataram, I.K. 2011. ‘Aspek Imunologi Air Susu Ibu’. Jurnal Ilmu Gizi, Vol.2,
No.1. Diakses pada 20 Oktober 2017. Dari <http://poltekkes-denpasar.ac.id>

Media Informasi Kesehatan Indonesia, Penyebab ISPA, viewed20 Oktober 2017,


from<http://www.kesehatan/penyebabISPA/128/pdf>

Mustofa, A., Prabandi, H. 2014.‘Pemberian ASI Eksklusif dan Problematika


Menyusui’. Jurnal Studi Gender dan Anak. Diakses pada 20 Oktober 2017.
Dari <http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=49190&val=3910>
46

Purwanti, H.S. 2015. Konsep Penerapan ASI Eksklusif. EGC : Jakarta

Rahajoe, N.N, Supriyanto, B, Setyanto, D.B, 2013, Buku Ajar Respirologi Anak,
EGC, Jakarta

Roesli, U. 2015.Mengenal ASI Eksklusif. Trubus Agriwidya : Jakarta

Rudolph, C.D., Hostette, M.K., Siegel, J.N., Lister, G., 2014, Buku Ajar Pediatrik,
Edisi 20, Vol.1, EGC, Jakarta

Santrock, J.W., 2015, Perkembangan Anak, Edisi 11, Jilid, Erlangga, Jakarta

Scott J.A., dkk, 2014, Review series : Pneumonia research to reduce childhoold
mortality in the developing world, Jurnal Clin Invest, Vol.118,No.4.

Soetjiningsih. 2014. ASI : Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. EGC : Jakarta

Supariasa, 2014. Penilaian Status Gizi Edisi Revisi. Jakarta : EGC.

Sylvia, Price A., 2014, Patofisiologi:Konsep Klinis Proses–Proses Penyakit, EGC,


Jakarta

Widoyono, 2014,Penyakit Tropis, Erlangga, Jakarta

WHO, 2013, Pencegahan & pengendalian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
yang menjadi epidemi & pendemi di pelayanan kesehatan primer,Jurnal
World Health Organization, Vol.6, diakses20 Oktober 2017, dari
<http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/69707/14/WHO_CDS_EPR>

Yuli T., dan Khasanah, K., 2013, Analisis faktor intrinsik & ekstrinsik yang
berpengaruh terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada balita
tahun 2013, Jurnal Kebidanan, Vol.5, No.1, diakses 3 Mei 2015, dari
<http://journal.akbideub.ac.id/index.php/>