Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pulau Dewata atau pulau bali merupakan salah satu objek wisata terbaik
yang dimiliki Indonesia oleh karena itu banyak turis lokal maupun mancanegara
mengunjungi pulau tersebut, yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi pulau
Bali sangatlah pesat. Pertumbuhan ekonomi yang pesat harus didukung dengan
infrastuktur, teknologi dan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu
infrastruktur yang paling berperan dalam dalam kemajuan suatu wilayah adalah
listrik.

Listrik merupakan infrastruktur strategis untuk memacu pertumbuhan


ekonomi dan pembangunan suatu wilayah, kebutuhan akan listrik di pulau Bali
sangatlah besar oleh karena itu sebagian besar pasokan listrik di pulau bali di
suply dari pulau jawa melalui underwater cabel, dan sebagiannya lagi didirikan
beberapa pembangkit listrik di tiga titik tempat di pulau bali yaitu pembangkit
listrik tenaga gas di Gilimanuk, pembangkit listrik tenaga diesel dan gas di
Pessanggaran, pembangkit listrik tenaga uap di Celukan Bawang dan pembangkit
listrik tersebut dikelola oleh BUMN dan Swasta.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa mesin dan listrik adalah suatu
bidang yang tidak dapat dipisahkan, hal ini dapat dibuktikan pada pembangkit
listrik tenaga gas (PLTG) yang dikelola oleh PT Indonesia Power unit
Pessanggaran, Bali, untuk menghasilkan energi listrik perlu generator yang
dikopel atau diputar dengan suatu mekanis penggerak yaitu mesin turbin gas.

Dengan latar belakang diatas praktikan ingin mengetahui dan


memperdalam pengetahuan tentang sistem dan tata kelola daripembangkit listrik
tenaga gas yang ada di PT Indonesia Power unit Pessanggaran, Bali. Melaui kerja
praktek, praktikan mampu dan dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan
dan pengaplikasian ilmu yang didapat selama menjalani masa perkuliahan dan
memiliki bekal terhadap dunia kerja secara nyata.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalah yang diangkat dalam penulisan laporan kerja praktek


ini adalah sebagai berikut :

1. Mekanisme dan pengoprasian pembangkit listrik tenaga gas


2. Fungsi dari tiap tiap bagian PLTG 1 dan PLTG 2
3. Menghitung efesiensi Turbin Gas 1 dan Turbin Gas 2

1.3 Batasan Masalah

Dengan begitu kompleknya permasalahan dan banyaknya unit pembagkit


yang ada di PT Indonesia Power unit Pessanggaran, Bali. Maka penulis hanya
akan membahas tentang sistem kerja dan pengoprasian pembangkit listrik tenaga
gas, fungsi dan cara kerja dari tiap tiap bagian PLTG 1 dan PLTG 2 serta efesiensi
turbin gas 1 dan turbin gas 2

1.4 Tujuan Kerja Praktek

Adapun tujuan yang ingin dicapai praktikan dalam pembuatan kerja


praktek anatara lain :

1. Mempelajari teknologi pembangkit listrik tenaga gas di PT


Indonesia Power unit Pesanggaran, Bali
2. Mengetahui sistem kerja pembangkit listrik tenaga gas serta cara
kerja dari tiap tiap komponen pendukung pembangkit listrik tenaga
gas

1.5 Waktu dan Pelaksanaan

Sesuai dengan bobot mata kuliah kerja praktek sebesar 2 SKS, maka
Praktek Kerja lapangan ini direncnakan selama 1 bulan yaitu pada :

Waktu : 26 Januari – 26 Februari 2016

Tempat : PT Indonesia Power unit jasa pembangkit Pessangaran, Bali

Alamat : JL. Brigjen I.G Ngurah Rai, No 535 Pesanggaran, Bali


Tabel 1.1 Jadwal Kegiatan Kerja Praktek

Minggu

Jenis Kegiatan I II III IV

Survey

Studi Pustaka

Identifikasi masalah

Penyelesaian masalah

Pengimplementasian

Penyusunan laporan

1.6 Metode pelaksanaan kerja praktek

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam pelaksanaan kerja


praktek di PT Indonesia Power ini mencakup :

1. Studi Lapangan
Dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap proses
yang terjadi dilapangan. Kegiatan ini juga meliputi pengarahan,
penjelasan, tanya jawab dan konsultasi terhadap operator.

2. Studi Literatur
Mencari informasi, keterangan – keterangan serta data – data
yang diperlukan untuk menunjang penyusunan laporan, meliputi studi
terhadap buku buku perpustakaan, dokumentasi, serta data oprasi

3. Metode Interview
Merupakan metode pengumpulan data dengan cara
mewawancarai karayawan, staf dan operator yang berkaitan dengan
masalah yang dibahas.
1.7 Sistematika Penulisan Laporan
Untuk memberikan kemudahan dalam mempelajari isi laporan maka
penulis membagikan sistematika penulisan laporan ini menjadi lima bab dengan
rincian sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisikan tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan
masalah, tujuan kerja praktek, waktu dan pelaksanaan kerja praktek, metode
pelaksanaan kerja praktek, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini berisikan tentang teori mekanisme pembangkit listrik tenaga
gas serta kegunaannya dan juga teori tentang perhitungan yang berkaitan dengan
“Analisa efesiensi turbin”
BAB III METODELOGI
Pada bab ini berisikan tentang alur pengambilan data, dan data data
spesifikasi pembangkit listrik tenaga gas serta cara kerja turbin gas berikut juga
skema turbin gas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini berisikan tentang perhitungan dan pembahasan yang
dilakukan menggunakan objek tersebut
BAB V PENUTUP
Pada bab ini berisikan tentang kesimpulan dari kegiatan kerja praktek
lapangan, dan saran saran yang bermanfaat agar kedepannya dalam kerja praktek
bisa lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Turbin


Turbin adalah mesin yang berputar yang mengambil energi dari aliran
fluida. Turbin sederhana memiliki satu bagian yang bergerak, “asembli rotor –
blade”, dimana fluida yang bergerak yang keluar melalui nozel di teruskan kesudu
sudu turbin sehingga berputar dan menghasilkan energi untuk menggerakkan
rotor. Bagian turbin yang berputar dinamai rotor atau roda turbin, sedangkan
bagian yang tidak berputar dinamai stator atau rumah turbin. Roda turbin terletak
didalam rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan
atau memutar bebannya diantaranya generator listrik, pompa, kompresor, atau
mesin lainnya. Didalam turbin fluida kerja mengalami proses ekspansi, yaitu
proses penurunan tekanan, dan mengalir secara kontinu. Fluida dapat berupa air,
uap atau gas

2.2 Pembangkit Listrik Tenaga Gas


Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) adalah pembangkit listrik yang
menggunakan tenaga yang dihasilkan oleh hasil pembakaran bahan bakar dan
udara bertekanan tinggi untuk memutar turbin gas sebagai penggerak generator.
Turbin gas merupakan sebuah mesin panas pembakaran dalam, proses kerjanya
seperti motor bakar yaitu udara dihisap masuk kompresor dan dikompresi,
kemudian udara mampat masuk ruang bakar dan dipakai untuk proses
pembakaran, sehingga diperoleh suatu energi panas yang besar. Energi panas
tersebut diekspansikan pada turbin dan menghasilkan energi mekanik pada poros.
Jadi jelas bahwa turbin gas adalah mesin yang dapat mengubah energi panas
menjadi energi mekanik. Persamaan turbin gas dengan motor bakar adalah pada
proses pembakarannya yang terjadi didalam mesin itu sendiri.
Disamping itu proses kerjanya adalah hisap, kompresi, pembakaran,
ekspansi dan buang, perbedaannya adalah terletak pada kontruksinya. Motor
bakar kebanyakan bekerja gerak bolak balik sedangkan turbin gas adalah mesin
rotasi, proses kerja motor bertahap, untuk turbin gas adalah kontinyu dan gas
buang pada motor bakar tidak pernah dipakai untuk gaya dorong. Turbin gas
bekerja secara kontinyu ntidak bertahap, semua proses yaitu hisap, kompresi,
pembakaran dan buang adalah berlangsung bersamaan.

PT. Indonesia Power UBP Bali memiliki 4 unit PLTG, dalam


pertimbangan penggunaan PLTG sebagai pembangkit listrik memiliki beberapa
keuntungan antara lain:

1. Pemasangan turbin gas memerlukan waktu yang yang relatif lebih


singkat dan dalam pengoprasiannya juga lebih mudah.
2. Gas buang lebih bersih.
3. Bahan bakar lebih fleksibel.
4. Memiliki dimensi yang kecil dan berat yang relatif lebih ringan.
5. Pelumasannya lebig hemat (tidak berhubungan dengan ruang bakar).
6. Mampu beroprasi pada putaran yang sangat tinggi.
7. Pemeliharaannya lebih mudah.
8. Harga perakitan yang rendah dan bila terjadi kerusakan dapat
diperbaiki dengan mudah sehingga dalam segi ekonomis cukup
menguntungkan.

Selain memiliki keuntungan-keuntungan diatas, turbin gas juga memiliki


beberapa kekurangan yaitu umur mesin relatif lebih pendek karena kerja turbin
pada temperatur yang sangat tinggi dengan variasi yang tajam menyebabkan
tegangan thermis yang dapat menyebabkan kealelahan material. Oleh karena itu
penelitian terhadap ketahanan panas ditingkatkan agar mesin memiliki ketahanan
yang lebihbagus terhadap temperatur yang tinggi sehingga umur mesin dapat
diperpanjang.

2.3 Prinsip Kerja PLTG


Pada dasarnya prinsip kerja turbin adalah merubah energi thermis (bahan
bakar) menjadi energi mekanis dan energi mekanis ini akan dirubah lagi menjadi
energi listrik. Pada umumnya sistem kerja turbin dibagi di 2 sistem, yaitu: sistem
terbuka dan sistem tertutup. Berikut gambar siklus turbin gas
Gambar 2.1 Diagram P – V dan T – S siklus Brayton turbin gas

Keterangan:
1–2 : Proses kompresi udara secara adiabatik dalam kompresor.
2–3 : Proses pembakaran secara isobarik dalam combustor.
3–4 : Proses ekspansi secara adiabatik dalam turbin gas.
4–1 : Proses pembuangan gas hasil pembakaran secara isobarik.

2.3.1 Turbin Gas Siklus Sistem Terbuka


Skema siklus sistem terbuka pada gambar di bawah dapat dilihat siklus
dari prinsip kerja turbin gas. Gas yang masuk melalui kompresor terjadi pada titik
1, yang kemudian dimampatkan hingga bertekanan tinggi pada titik 2, dan udara
bertekanan tinggi tersebut menerima kalor pada tekanan konstan sehingga terjadi
pembakaran. Gas hasil pembakaran mempunyai temperatur yang sangat tinggi
kemudian di alirkan keluar dari ruang bakar titik 3, dan kemudian di ekspansikan
melalui turbin pada titik 4. Selanjutnya gas yang dikeluarkan dari turbin langsung
dikeluarkan ke atmosfir di luar siklus. Udara dihisap kembali dari kompresor pada
titik 1 dan begitu seterusnya selama mesin beroperasi.

Gambar 2.2 Siklus terbuka


2.3.2 Turbin Gas Sistem Tertutup

Skema siklus sistem tertutup dapat pada gambar dibawah, dapat dilihat
siklusnya yang pada dasarnya sama seperti siklus tebuka hanya saja gas hasil
ekspansi pada turbin masih dimanfaatkan dan tidak dibuang ke atmosfir langsung.
Diawali dengan masuknya fluida melalui kompresor terjadi pada titik 1, yang
kemudian dimampatkan hingga bertekanan tinggi pada titik 2, dan udara
bertekanan tinggi tersebut menerima kalor pada tekanan konstan sehingga terjadi
pembakaran. Gas hasil pembakaran mempunyai temperatur yang sangat tinggi
kemudian di alirkan keluar dari ruang bakar titik 3, dan kemudian di ekspansikan
melalui turbin pada titik 4. Selanjutnya gas hasil ekspansi dikeluarkan dari turbin
melalui heat excharge, di excharge gas panas tersebut didinginkan kemudian
disalurkan kembali ke kompresor, begitu seterusnya siklus ini berlangsung.

Gambar 2.3 Siklus tertutup

2.4 Laju Kalor


Pada perencanaan dan operator instalasi daya biasanya lebih tertarik
pada perhitungan efisiensi sebagai ukuran ekonomis instalasi pembangkit daya
karena akan mempengaruhi biaya investasi, bahan bakar, dan operasi biaya.
Faktor yang sangat berpengaruh untuk mengetahui keekonomisan suatu instalasi
pembangkit daya adalah konsumsi bahan bakar. Parameter yang menggambarkan
pengkonsumsian bahan bakar suatu instalasi pembangkit daya adalah laju kalor
(Heat rate). Laju kalor adalah jumlah kalor yang ditambahkan, biasanya dalam
satuan Btu, untuk menghasilkan satu satuan jumlah kerja, biasanya dalam satuan
kilowatt-jam (kwh). Jadi satuan laju kalor adalah Btu/kwh. Tetapi dalam
pembangkit listrik satuan laju kalor biasanya dalam kcal/kwh. Laju kalor akan
berbanding terbalik dengan efisiensi termal, artinya semakin rendah laju kalor
berarti akan semakin baik.
Perhitungan laju kalor sangat dipengaruhi oleh besarnya Specific Fuel
Consumption (SFC). Spesific Fuel Consumption (SFC) adalah jumlah konsumsi
bahan bakar spesifik yang digunakan pembangkit untuk menghasilkan energi
listrik setiap jamnya, biasanya satuannya dalam liter/kwh. Spesific Fuel
Consumption (SFC)dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Jumlah pemakaian bahan bakar (lt)


SFC (lt/kwh) = …….. (1)
Produksi 𝑘𝑊ℎ bruto (kWh)

Besarnya Laju kalor dapat dihitung berdasarkan perhitungan SFC di atas yaitu:

HR (kcal/kWh) = SFC (lt/kWh) x LHV (kcal/Kg) x SG (kg/lt)…….. (2)

Dimana:
 LHV = Low Heat Value
 SG = Spesific Gravity (Berat spesifik)
 SFC = Spesific fuel consumption
 HR = Hate rate (laju kalor)

Seperti yang telah disampaikan di atas, bahwa laju kalor akan berbanding
terbalik dengan efisiensi thermal, maka akan didapatkan persamaan untuk
menghitung efisiensi thermal dari PLTG PT Indonesia Power UPJP Bali. Oleh
karena itu 1 kwh = 860 kcal, maka efisiensi thermal:

860
ηth = Heat Rate x 100% actual ........ (3)

T4−T1
ηth = [1 − (T3−T2)] x 100% ideal ........ (4)
Dimana:
 HR = Hate rate (laju kalor)
 T1 = Temperatur udara masuk
 T2 = Temperatur udara masuk compresor
 T3 = Temperatur udara didalam turbin
 T4 = Temperatur udara keluar turbin ( Exhaust)
2.5 Komponen PLTG
Turbin gas mempunyai fungsi ganda dalam pembangkit listrik yaitu
sebagai penggerak sudu kompresor dan poros keluaran. Bagian utama dari turbin
gas adalah sebagai berikut:

1. Pemasukan Udara ( air inlet)


Bagian ini adalah tempat pemasukan udara yang diserap dari udara
sekitar. Pada bagian pemasukan udara ini dilengkapi dengan beberapa komponen
seperti filter, peredam, dan penyearah aliran. Udara luar yang masuk akan disaring
terlebih dahulu oleh filter agar terbebas dari kotoran, debu dan benda-benda asing
yang dapat merusak sudu-sudu kompresor. Aliran udara yang telah melewati filter
masih memiliki aliran yang turbulen (acak), sehingga diberikan penyearah aliran
dan diarahkan langsung ke air inlet assembly housing.

Air Inlet

Gambar 2.4 Air Inlet


2. Kompresor
Bagian ini berfungsi sebagai penghisap udara dan kemudian
dimampatkan hingga mencapai tekanan tertentu yang kemudian akan disalurkan
ke ruang bakar. Kompresor yang dipergunakan adalah tipe axial flow compressor,
kompresor ini dipasang satu poros dengan turbin yang dihubungkan dengan
kopling yang sering disebut dengan single shaft, kopling yang dipergunakan
adalah jenis sentrifugal, saat putaran turbin lebih tinggi dari kompresor maka
secara otomatis kopling akan terlepas dari turbin. Bagian-bangian utama dari
turbin yaitu:

a. Guide vane
Bagian ini memiliki fungsi untuk menjaga terjadinya surging, surging
adalah aliran udara bolak-balik yang terjadi didalam kompresor. Selain itu
guide vane juga memiliki fungsi untuk mengarahkan aliran udara dan
mengatur volume aliran udara.

b. Blades (sudu) kompresor


Pada kompresor terdapat 2 macam sudu yaitu sudu pertama bergerak
bersama rotor dan sudu kedua diam bersama stator. Sudu yang bergerak
bersama rotor berfungsi sebagai penambah energi gas yang dialirkan oleh
kompresor. Sedangkan sudu yang diam dengan stator berfungsi sebagai
perubah energi fluida dari energi kinetik menjadi energi tekanan.

c. Impeller
Impeller berfungsi memberikan tambahan energi pada udara. Energi
yang diberikan berupa energi mekanik, sedangkan energi yang diterima oleh
adalah energi tekanan dan kecepatan.

d. Diffuser
Merupana bagian kompresor yang berbentuk saluran yang semakin
membesar, hal ini akan menyebabkan kecepatan udara menurun sesuai
dengan meluasnya penampang yang dilewatinya, sehingga tekanannya naik
seiring dengan penurunan kecepatan udara. Kemudian udara dimasukkan
keruang bakar pada tekanan disffuser dan udara ini yang akan digunakan
untuk pembakaran dan untuk keperluan pendinginan.
Gambar 2.5 Rotor Kompresor

3. Ruang Bakar
Ruang bakar merupakan ruang dimana proses pembakaran terjadi, rung
bakar terdiri dari combusting cassing, linnier, dan trantition piece. Dalam ruang
bakar tekanan ditentuka oleh tekanan udara yang keluar dari kompresor yang pada
umumnya perbandingan udara dan bahan bakar adalah 15-20 berbanding 1.
Pembakaran campuran udara bersih yang berasal dari kompresor dengan bahan
bakar akan menghasilkan tekanan gas panas yang dapat menggerakkan poros
turbin.
Pada combustion chamber terdapat beberapa sistem yang bekerja sehingga
terjadi pembakaran. Sistem tersebut terdiri dari:

a. Fuel nozzel
Merupakan alat yang dipergunakan untuk mengabutkan bahan bakar
kedalam ruang bakar dan fuel nozzel terdapat di setiap combustion chamber.

b. Spark plug
Unit penyala bahan bakar yang terdiri dari kapasitor berenergi tinggi,
ignition lead dan ignition plug (busi).
c. Cross fire tube
Merupakan pipa interkoneksi diantara ruang bakar untuk menyalakan
ruang bakar berikutnya serta mempertahankan keseimbangan tekanan
ketika mesin sedang beroperasi.

d. Ultrafiolet flame detector


Digunakan untuk adanya nyala api di dalam ruang bakar.

Gambar 2.6 Ruang bakar pada turbin

4. Turbin
Turbin adalah bagian mesin yang merubah energi thermah menjadai energi
mekanik. Turbin memiliki beberapa sudu-sudu berputar yang disebut sengan
rotor, sedangkan sudu-sudu yang diam pada turbin disebut stator. Stator pada
turbin digunakan untuk mempercepat aliran gas hasil pembakaran, menurunkan
tekanan dan mengarahkan aliran gas sesuai sudut masuk turbin.
Dua komponen yang selalu ada dalam turbin adalah vane dan turbin rotor.
Vane befungsi sebagai pengarah aliran gas panas hasil pembakaran yang akam
mengenai sudu turbin. Diantara vane ini akan terjadi ekspansi gas dimana
kecepatan gas akan semakin meningkat seiring dengan penampang vane yang
menyempit dibagian keluarannya. Dengan kecepatan ini dan disertai dengan
massa gas yang mengalir digunakan untuk menggerakkan turbin
1

Gambar 2.7 Turbin

No. 1 pada gambar adalah fisrt stage Turbine Wheel


No. 2 pada gambar menunjukkan second stage Turbine Wheel

5. Load Gear
Load Gear atau Main Gear adalah roda gigi menurun kecepatan putaran
yang dipasang diantara Poros Turbin Compresor dengan Poros Generator. Pada
Load Gear ini menggunakan 1 stage.

Gambar 2.8 Load Gear


6. Generator
Yang fungsi utamanya adalah sebagai alat untuk meruah energy mekanis
menjadi energy listrik.

Gambar 2.9 Generator

7. Pembuangan (exhaust)
Pada bagian ini berfungsi sebagai saluran pembuangan gas bekas hasil kerja
dari turbin, suhu pembuangan mencapai sekitar 4930C. Pada pembuangan sebagai
peredam suara akibat mengalirnya gas panas dipasang diffuser pada housing
flame bagiab belakang.

Gambar 2.10 Exhaus


2.6 Pemeliharaan PLTG

Untuk pemeliharaan PLTG pada PT Indonesia Power UBP Bali secara


garis besar di bagi menjadi 2 jenis, yaitu pemeliharaan terencana dan
pemeliharaan tidak terencana.

A. Pemeliharaan terencana

Merupakan pemeliharaan yang direncanakan sebelmnya sesuai dengan


tahun anggaran yang bersangkutan. Pemeliharaan terencana dibagi menjadi 2
yaitu, pemeliharaan preventif dan pemeliharaan korektif.

1. Pemeliharaan Preventif
Merupakan pemeliharaan yang sesuai denga ketentuan yang berlaku pada
buku pedoman (instuction manual), yang meliputi pemeliharaan periodik dan
pemeliharaan rutin.

a. Pemeliharaan Periodik
Pemeliharaan periodik dilakukan terhadap peralatan utama instalasi dan
peralatan baru serta perlengkapan penyaluran tenaga listrik yang jangka waktu
pelaksanaannya berpedoman pada jumlah jam kerja unit tersebut.

Tabel 2.1 Jenis-jenis Pemeliharaan Periodik PLTG

Jangka Waktu Operasi (jam)


No Jenis Pemeliharaan
PLTG 1 & 2

1 Combustion Inspecion 4.000

2 Hot Gas Path Inspectian 8.000

3 Combustion Inspection II 12.000

4 Major Inspection 16.000


1. Combustion Inspection (CI)
Pemeliharaan pada combustion inspection meliputi :
 Memeriksa dan menganalisa keadaan nozzle bahan bakar.
 Memelihara keadaan combustion lines.
 Memeriksa bagian penyalur transition pieces.
 Memeriksa croos fire tube.
 Spark Plug.
 Filter Cartridge Replacement.
 Seale.

2. Hot Gas Path Inspection (HGPI)


Pemeliharaan pada Hot Gas Path Inspection meliputi :
 Fist stage nozzle inspection.
 Second stage nozzle inpection.
 Transition piece inpection.
 Clearance check between turbin bucket type and shrouds.
 Nozzle thermocouple check.
 Inlet platinum, exhaust planum and duct.

3. Major Inspection
Pemeliharaan pada Major Inspection meliputi:
 Starting device.
 Pemeriksaan terhadap semua bagian ruang bakar.
 Pemeriksaan terhadap saluran gas panas pipa-pipa udara.
 Pemeriksaan terhadap keretakan dan erosi pada cashing.
 Pemeriksaan terhadap jarak rotor dan stator blades turbin.
 Turbin bucket.
 Bantalan.
 Deflector and seal.
 Roda gigi transmisi.
 Kebersihan secara keseluruhan.
b. Pemeliharaan Rutin
Merupakan pemeliharaan kecil yang dilakukan pada tahun anggaran yang
bersangkutan yang berpedoman juga pada jam kerja dari unit. Pemeliharaan ini
antara lain:
 Pemeliharaan harian.
 Pemeliharaan mingguan.
 Pemeliharaan bulanan.
 Pemeliharaan triwulan.
 Pemeliharaan semesteran.

2. Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan Korektif dilakukan apabila terjadi kegagalan berulang pada
suatu mesin atau komponen mesin dalam rangka mencegah jangan samapai
kembali di masa depan dengan melakukan studi (Reverse Engeneering),
merancang ulang, menetapkan kembali spesifikasi material, memasang dan
menguji komponen yang gagal tersebut.
Dengan berjalanya waktu, maka jumlah asset dan biaya yang digunakan
untuk merawat asset makin bertamabah besar menyebabkan manusia mulai
mencari-cari perwatan baru dengan mana meraka dapat memaksimalkan umur
peralatan. Pemeliharaan korektif mencangkup :

 Perbaikan
Pemeliharaan tidak periodic, meliputi pekerjaan rekondisi dan perbaikan
beberapa komponen dengan mengebalikan kondisi semula atau maksimal.
 Pergantian
Pemeliharaan ini meliputi pekerjaan rekondisi dan pergantian sejumlah
besar dengan tujuan mengembalikan kepada kondisi semula secara maksimal.
 Penyempurnaan
Pemeliharaan ini meliputi pekerjaan perubahan desain dari komponen
dengan tujuan menaikkan kemampuan dan efesiensi.
B. Pemeliharaan tidak terencana
Pemeliharaan tidak terencana merupakan pemeliharaan yang dilakukan
tidak berdasarkan anggaran atau tidak direncanakan dalam tahun anggaran yang
sedang berjalan, namun karena akibat gangguan atau kerusakan yang tidak
terduga pada mesin yang sedang berjalan dan harus dilakukan pengerjaan pada
tahun anggaran tersebut.

PEMELIHARAAN

TERENCANA TIDAK TERENCANA

PREVENTIF KOREKTIF AKIBAT GANGGUAN

PENYEMPURNAAN & PERBAIKAN

COMB. INSPECTION

RUTIN HGPI

MAJOR INSPECTION

RUTIN HARIAN

PERIODIK RUTIN MINGGUAN

RUTIN BULANAN

Gambar 2.11 Diagram alur pemeliharaan


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Skema penelitian


Langkah – langkah yang dilakukan dalam melakukan penelitian adalah
seperti terlihat pada Gambar 3.1 Diagram Alir Pengujian.

Gambar 3.1 Diagram alur penelitian


3.2 Data Data Spesifikasi PLTG
Dalam pengambilan data data spesifikasi pembangkit listrik tenaga gas
(PLTG) dipisah dalam beberapa komponen komponen inti yang berfungsi
mendukung bekerjanya turbin gas.

3.2.1 Spesifikasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas


Berikut tabel dibawah ini berisi informasi informasi spesifikasi
Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG)

Tabel 3.1 Spesifikasi Turbin Gas


TURBIN GAS
Uraian PLTG 2
Bahan Bakar HSD
Pabrik General Electric
Merk/Tipe MS 5000 L
No. Seri 244567
Daya terpasang base 20,1 MW
Daya terpasang Peak 23,7 MW
Putaran 5100 rpm
Jumlah Tingkat 2
Jumlah ruang
10
pembakaran
Suhu gas buang 493OC
Suhu gas pembakaran 945OC
Sistem control MARK IV
/ TS3000
Alat start Diesel
Tahun operasi 1993
Tabel 3.2 Spesifikasi Kompresor
KOMPRESOR
Uraian PLTG 2
Jumlah tingkat sudu 17
Perbandingan Kompresi 10:1

Tabel 3.3 Spesifikasi Generator


GENERATOR
Uraian PLTG 2
Pabrik pembuat General Electric

Daya terpasang base 21 MVA

Daya terpasang peak 30,4 MVA

Tegangan 1.500 Volt


Arus Beban 3,08 kA
Putaran 3.000 rpm
Phase 3
Faktor Daya 0,8
Frekuensi 50 Hz
Sistem Pendingin Udara
No. Seri HM 244567

3.3 Mekanisme Kerja PLTG

Sistem kerja PLTG merubah energi thermis menjadi energi mekanik


yang kemudian dirubah kembali menjadi energi listrik. Pembangkit listrik ini
menggunakan bahan bakar gas sebagai sumber energi primer. Pembangkit yang
digunkan menggunakan udara dan solar sebagai bahan untuk pembakaran.
Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) adalah pembangkit yang digerakan oleh
tenaga gas dari hasil pembakaran diruang bakar. Peralatan utamanya terdiri dari
kompresor, turbin gas dan generator.
Proses kerja PLTG dilakukan Start awal oleh Motor Diesel (Diesel
Start) untuk melakukan putaran awal dengan putaran 3600 rpm, putaran ini
diteruskan kekompresor dan kompresor pun mulai berputar, dengan berputarnya
kompresor maka udara dimasukan melalui kompresor dengan melalui air
filter/penyaringan udara agar partikel debu tidak ikut masuk kedalam kompresor.
Udara yang dimasukan kekompresor kemudian dikompresikan oleh kompresor
sehingga mencapai tekanan tertentu. Kemudian udara bertekanan di alirkan ke
ruang bakar. Diruang bakar juga terdapat saluran bahan bakar sehingga diruang
bakar terjadi pencampuran bahan bakar dan udara. Campuran bahan bakar dan
udara ini di nyalakan pertama oleh busi dan seterusnya pembakaran akan berjalan
sendiri akibat pembakaran sebelumnya.

Gas panas hasil pembakaran kemudian dialirkan ke turbin, tekanan dan


temperatur gas yang sangat tinggi kemudiann menggerakkan turbin sehingga
turbin berputar. Putaran turbin (max putaran turbin 5100 rpm) ini diteruskan ke
load gear dimana penurunan rpm terjadi, dari putaran 3600 rpm (putaran turbin)
ke 3000 rpm (putaran turbin) penurunan rpm ini terjadi dikarenakan kapisatas
maksimum putaran generator adalah 3000 rpm. Kemudian energi mekanik
(putaran) yang dihsilkan diubah menjadi energi listrik. Gas yang telah di lalui ke
turbin kemudian di alirkan ke exhaus untuk dibuang ke atmosfir. Setelah turbin
beoperasi secara normal namun belum mencapai putaran puncak sekitar 65%
diesel start akan terputus dari sistem dan akan berhenti beroperasi. Dan proses
kerja turbin akan berjalan sendiri yang memutar kegenerator yang menghasilkan
listrik yang disalurkan ke Main Transformer (trafo) yang kemudian disalurkan ke
Gardu Induk (switch yard), jaringan transmisi dan distribusi sampai akhirnya
memenuhi kebutuhan pelanggan.
3.4 Standart Oprational Procedure (SOP) PLTG
Dalam mengoprasikan pembangkit listrik tenaga gas harus megikuti
standart oprational procedure (SOP) yang telah ditetapkan, hal ini dilakukan
dengan tujuan untuk memperkecil kemungkinan kegagalan kegagalan yang terjadi
dalam mengoprasikan turbin

3.4.1 Persiapan Awal Sebelum Start


Adapun persiapan awal yang harus dilakukan sebelum start yaitu sebagai
berikut:

Unit posisi stanby

1. Reset semua alarm


2. Switch auxiliary ke posisi auto
3. Periksa semua level level tanki BBM, Oli, Air tambah bila kurang
4. Periksa disekitar unit dan yakinkan tidak ada benda benda yang menganggu
operasi
5. Periksa semua kebocoran system
6. Unit siap dioprasikan

3.4.2 MenjalankanTurbin Gas


Dalam menjalankan turbin gas harus mengikuti langkah langkah sebagai
berikut:
1. Selector Switch (saklar pengontrol utama) pada posisi auto (siap)
2. Lampu ready to start harus nyala
3. Alat bantu siap secara “AUTO” (Aux Running nyala)
4. Beri signal start dengan memutar Master Control
5. Lampu signal star akan menyala
6. Coupling masuk dan unit turbin akan diputar oleh Diesel start
7. Lampu 14 HR akan nyala (putaran nol)
8. Saat putaran (RPM) mencapai 17% - 20% lampu HM nyala (putaran min ±
1020 RPM)
9. Lampu tanda start up nyala
10. VCE akan naik sampai harga penyalaan (8 volt)
11. VCE akan naik sampai maximum 10 volt
12. Lampu pengontrol temperature akan nyala
13. Lampu start akan mati
14. Lampu14 HA nyala saat putaran 40% (2040 RPM)
15. AVR akan menunjuk dan generator akan membangkitkan tegangan
16. Sampai putaran turbin mencapai 3500 RPM Diesel start lepas
17. Putaran turbin akan naik sampai putaran 95% lampu 14 HS dan excitasi
masuk sampai FSNL (Full Speed No Load)
18. Emergency Lub. Oil PUMP akanmati
19. Unit PLTG 1 siap di syncrone atau parallel
20. Proses start FSNL lamanya± 5 menit

3.4.3 Syncrone PLTG


Adapun syncrone PLTG terdiri dari beberapa tahap yaitu:
1. Switch syncron dibawa keposisi “AUTO” dan atur tegangan Incoming dan
tegangan running
2. Jarum syncron akan berputar apabila, frequency dan phase sudah sama maka
52 G akan masuk (//) secara automatis
3. Kemabli switch syncrone keposisi nol
4. Atur pembebanan sesuai kebutuhan

3.4.4 Proses Stop PLTG


Setelah proses proses diatas dilalui maka berikut cara untuk
menghentikan PLTG
1. Turunkan beban sampai 200 – 300 KW
2. Switch 52 G dengan jalan memutar keposisi horizontal dan ditekan
3. Maka 52 G lepas dan langsung stop unit secara manual dengan memutar
“Master Control” keposisi stop
4. Tunggu putaran turbin sampai 0 RPM
5. Selector switch kembalikan keposisi “OFF”
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari kerja praktek yang telah dilakukan di PT. Indonesia Power unit jasa
pembangkit, Pesanggaran, Bali didapat data data hasil observasi yang dilakukan
selama 1 bulan. Berikut hasil data yang didapat dalam bentuk tabel sebelum dan
sesudah major inspection

Tabel 4.1 Data data hasil pengukuran sebelum major inspection (MI)

TINGKAT PEMBEBANAN
No Measurement Name Satuan
50% 100%
1 Ambient Temperature °C 27 27

2 Ambient Pressure Bar 10,980 10,980

T2 ( Temperatur Setelah
3 Kompressor ) °C 340 370

4 Compresror Discharge Bar 7 7.5

5 Active Load MW 10 16.6

6 Frequency HZ 49.89 49.91

7 Turbine Inlet Temp °C 965 995

8 Power Factor Cos Q 0.98 0.98

9 Exhaust Gas Temperatur °C 475 502

10 Specifik fuel comsumtion l/kWh 0.495 0.573

11 Turbin speed rpm 5.1 5.1

12 Fuel comsumtion ltr 4700 9000

13 SG Kg / liter 0.8491 0.8491

14 LHV kcal/kg 10,831 10,831

15 Desired fuel flow Kg/sec 1.1084 2.1228

16 Produced Power kWh 9500 15680


Tabel 4.2 Data data spesifikasi pengukuran sesudah major inspection (MI)

TINGKAT PEMBEBANAN
No Measurement Name Satuan
25% 50% 75% 100%
1 Ambient Temperature °C 27 27 27 27

2 Ambient Pressure Bar 1,98 10,98 10,98 10,98

T2 ( Temperatur
3 Setelah Kompressor ) °C 325 347 358 368

Compresror
4 Discharge Bar 7.1 7.3 7.7 7.8

5 Active Load MW 8 12 16 18.2

6 Frequency HZ 50.12 49.90 49.70 50.11

7 Turbine Inlet Temp °C 855 915 965 995

8 Power Factor Cos Q 0.97 0.97 0.97 0.97

Exhaust Gas
9 Temperatur °C 392 423 474 496

Specifik fuel
10 comsumtion l/kWh 0.676 0.525 0.456 0.432

11 Turbin speed rpm 5.1 5.1 5.1 5.1

12 Fuel comsumtion ltr 2500 3100 3600 3800

13 SG Kg / ltr 0.849 0.849 0.849 0.849

14 LHV kcal/kg 10,83 10,83 10,83 10,83

15 Desired fuel flow Kg/sec 0.5896 0.7312 0.8491 0.8963

16 Produced Power kWh 7700 10800 15800 17800


4.1.1 Hasil Perhitungan Sebelum Major inspection (MI)
Sebelum dilakukan major inspection akan diambil data untuk mengetahui
efisiensi turbin gas. Berikut dibawah ini perhitungan secara manual sebelum
major inspection.

 PLTG 2 dengan beban 50%

Jumlah pemakaian bahan bakar (lt) = 4700 lt

Produksi kWh = 9500 kwh

Maka, jumlah konsumsi bahan bakar spesifik Specific Fuel Consumption (SFC)
adalah:

4700 lt
SFC = = 0,495 𝑙𝑡/𝑘𝑊ℎ
9500 kwh

Laju kalor ( Heat rate,HR) adalah:

HR = 0,495 (lt/kWh) x 10.831 (kcal/Kg) x 0,8491 (kg/lt)

HR = 4549,46 (kcal/kWh)

Efisiensi termal secara aktual:


860
ηth = 4559,46 x 100% = 18,90 %

Efisiensi termal secara ideal:


475−27
ηth = [1 − (965−340)] x 100% = 28,32 %

 PLTG 2 dengan beban 100%


Jumlah pemakaian bahan bakar (lt) = 9000 lt
Produksi kWh = 15680 kwh

Maka, jumlah konsumsi bahan bakar spesifik Specific Fuel Consumption (SFC)
adalah:
9000 lt
SFC = = 0,573 𝑙𝑡/𝑘𝑊ℎ
15680 kWh

Laju kalor ( Heat rate,HR) adalah:

HR = 0,573 (lt/kWh) x 10.831 (kcal/Kg) x 0,8491 (kg/lt)

HR = 5278,66 (kcal/kWh)

Efisiensi termal secara aktual:


860
ηth = 5278,66 x 100% = 16,29 %

Efisiensi termal secara teoritis:


502−27
ηth = [1 − (855−325)] x 100% = 24 %

4.1.2 Perhitungan Setelah Major inspection (MI)

Setelah dilakukan major inspection akan diambil data untuk mengetahui


efisiensi turbin gas. Berikut dibawah ini perhitungan secara manual etelah major
inspection.

 PLTG 2 dengan beban 25%

Jumlah pemakaian bahan bakar (lt) = 2500 lt

Produksi kWh = 3700 kwh

Maka, jumlah konsumsi bahan bakar spesifik ( Specific Fuel Consumption,


SFC) adalah:

2500 lt
SFC = = 0,68 𝑙𝑡/𝑘𝑊ℎ
3.700 kWh
Laju kalor ( Heat rate,HR) adalah:

HR = 0,68 (lt/kWh) x 10.831 (kcal/Kg) x 0,8491 (kg/lt)

HR = 6213,22 (kcal/kWh)

Efisiensi termal secara aktual,


860
ηth = 6213,22 x 100% = 13,84 %

Efisiensi termal secara teoritis,


392−27
ηth = [1 − (855−325)] x 100% = 31,13 %

 PLTG 2 dengan beban 50%


Jumlah pemakaian bahan bakar (lt) = 3100 lt
Produksi kWh = 5900 kwh

Maka, jumlah konsumsi bahan bakar spesifik ( Specific Fuel Consumption,


SFC) adalah:

3100 lt
SFC = = 0,53 𝑙𝑡/𝑘𝑊ℎ
5900 kwh

Laju kalor ( Heat rate,HR) adalah:

HR = 0,53 (lt/kWh) x 10.831 (kcal/Kg) x 0,8491 (kg/lt)

HR = 4832,11 (kcal/kWh)

Efisiensi termal secara aktual,


860
ηth = 4832,11 x 100% = 17,84 %
Efisiensi termal secara teoritis,
423−27
ηth = [1 − (915−347)] x 100% = 30,28 %

 PLTG 2 dengan beban 75%


Jumlah pemakaian bahan bakar (lt) = 3600 lt
Produksi kWh = 7889 kwh

Maka, jumlah konsumsi bahan bakar spesifik ( Specific Fuel Consumption,


SFC) adalah:

3600 lt
SFC = = 0,46 𝑙𝑡/𝑘𝑊ℎ
7900 kWh

Laju kalor ( Heat rate,HR) adalah:

HR = 0,46 (lt/kWh) x 10.831 (kcal/Kg) x 0,8491 (kg/lt)

HR = 4190,86 (kcal/kWh)

Efisiensi termal secara aktual,


860
ηth = 4190,86 x 100% = 20,52 %

Efisiensi termal secara teoritis,


474−27
ηth = [1 − (965−38)] x 100% = 26,36 %

 PLTG 2 dengan beban 100%


Jumlah pemakaian bahan bakar (lt) = 3800 lt
Produksi kWh = 8789 kwh

Maka, jumlah konsumsi bahan bakar spesifik ( Specific Fuel Consumption,


SFC) adalah:
3800 lt
SFC = = 0,46 𝑙𝑡/𝑘𝑊ℎ
8800 kWh

Laju kalor ( Heat rate,HR) adalah:

HR = 0,46 (lt/kWh) x 10.831 (kcal/Kg) x 0,8491 (kg/lt)

HR = 3971,26 (kcal/kWh)

Efisiensi termal secara aktual,


860
ηth = 3971,26 x 100% = 21,66 %

Efisiensi termal secara teoritis,


496−27
ηth = [1 − (995−368)] x 100% = 25,20 %

4.2 Pembahasan
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan, untuk memepermudah
pembahasan hasil penelitian tersebut maka dapat dibuat dalam bentuk grafik
perbandingan nilai efisiensi termal actual sebelum major inspection dan sesudah
major inspection.

Grafik perbandingan efisiensi termal actual


sebelum dan sesudah Major Inspection (Mi)
25

20
Efisiensi %

15 Sebelum Major
inspection
10
Sesudah Major
5 inspection

0
25% 50% 75% `100%

Gambar 4.1 Grafik perbandingan efisiensi termal actual sebelum dan


sesudah Major Inspection (Mi)
Dari gambar diatas dapat dilihat setiap penambahan beban terjadi
kenaikan efisiensi termal setelah dilakukannya major inspection (garis merah)
sementara sebelum dilakukannya major inspection (garis biru) efisiensi termal
mengalami penurunan setiap ditambahnya beban. Pengambilan data efisiensi
termal sebelum major inspection hanya diambil pada tingkat pembanan 50% dan
100% dengan durasi pengoprasian mesin selama 60 menit. Dimana pada tingkat
pembebanan 50% dengan beban active 10 Mega watt menghasilkan tegangan
listrik sebesar 9500 Kilo watt, efisiensi termal yang didapat pada tingkat
pembebanan 50% yaitu 28,32% dan pada tingkat pembebanan 100% dengan
beban active 16,6 Mega watt mengahasilkan tegangan listrik sebesar 15680 Kilo
watt, efisiensi termal yang didapat yaitu 16,29%.
Sedangkan nilai efisiensi termal setelah dilakukan major inspection
diambil pada 4 bagian yaitu pada tingkat pemebebanan 25%, 50%, 75%, dan
100% hal ini dilakukan bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih rinci pada
setiap pembebanan yang diberikan setelah dilakukannya major inspection dan
durasi pengoprasian mesin selama 30 menit. Pada tingkat pembebanan 25%
dengan beban active 8 Mega watt tegangan listrik yang dihasilkan sebesar 7700
Kilo watt, efisiensi termal yang didapat yaitu 13,84%. Kemudian dilakukan
penambahan beban 50% dengan beban active 12 Mega watt menghasilkan
tegangan listrik sebesar 10800 Kilo watt, efisiensi termal yang didapat 17,81 %.
Kemudian beban ditambah 75% dengan beban active 16 Mega watt dan produksi
tegangan listrik yang dihasilkan 15800 Kilo watt dan efisiensi termal yang didapat
20,50 %. Lalu diberikan beban maksimum yaitu 100% dengan beban active 18,2
Mega watt dan tegangan listrik yang dihasilkan 17800 Kilo watt dan efisiensi
termal yang didapatkan pada beban maksimum yaitu 21,64%.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil alisis yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
antara lain yaitu:

Tabel 5.1 Selisih efisiensi termal (η th) turbin gas sebelum dan sesudah major
inspection

Efisiensi termal Efisiensi termal


Tingkat Pembebanan sebelum major sesudah major Selisih
inspection (ηth) inspection (ηth)
25% - 13.84% -
50% 18.90% 17.84% 1.06%
75% - 20.52% -
100% 16.29% 21.66% 5.37%