Anda di halaman 1dari 10

EFEKTIFITAS TERAPI ACUPRESSURE PADA TELAPAK KAKI TERHADAP

SENSITIVITAS KAKI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II.


1
Darmilis, 2Yesi Hasneli, 3Ganis Indriati

Abstract

The purpose of the research is to analize the effect of acupressure therapy on the level of foot
sensitivity in diabetic patients. The research used quasy experiment design with non-
equivalent control group which divided into experimental group and control group. Sample
of this research is 30 people divided into15 people as the experimental group and 15 people
as a control group. Instruments of this research using monofilament in both groups to
measuring respondent foot sensitivity. The experimental group were given intervention with
acupressure therapy three times in 1 week. Data then analyzed into univariate and bivariate
using independent t test dan dependent t test. The result of the research showed that mean level
of foot sensitivity before acupressure therapy was 5.93 points and mean level of foot
sensitivity after acupressure therapy was 7.14 poin. There is increase in the foot sensitivity
after given intervention with p value 0,000 (<0,05). And it’ mean that acupressure therapy are
effective against increasing the foot sensitivity.

Keywords: Diabetes mellitus, Foot sensitivity, Acupressure therapy.

PENDAHULUAN pada tahun 2005 dan meningkat menjadi 366


juta orang pada tahun 2025 mendatang,
Diabetes Melitus (DM) adalah dengan persentase 14,2% setiap tahunnya
gangguan metabolisme yang secara genetik (Amirudin, 2008). Hasil survey World
dan klinis termasuk heterogen dengan Health Organization (WHO) pada tahun
manifestasi berupa hilangnya toleransi 2005, penyakit DM di Indonesia menduduki
karbohidrat (Price, 2005). Diabetes Melitus peringkat ke 4 setelah Amerika Serikat,
merupakan gangguan metabolisme kronis India dan China. Survey yang dilakukan
yang ditandai dengan metabolisme oleh Internasional Diabetes Federation
karbohidrat, protein, dan lemak yang (IDF) pada tahun 2007 Indonesia
abnormal akibat kegagalan sekresi insulin, menduduki peringkat ke 3 dan tahun 2025
kerja insulin, atau keduanya (Chang, Daly, diprediksikan Indonesia memiliki penderita
& Elliott, 2010). Ronald (2004) mengatakan DM terbesar di dunia setelah India dan
gejala yang dapat timbul pada penderita DM China.
adalah glikosuria, dan setelah sakit beberapa Penyakit DM di Provinsi Riau
tahun bila tidak terkontrol dengan baik akan termasuk kedalam 3 besar penyakit
terdapat komplikasi yang berefek terhadap terbanyak yang menyebabkan kematian,
sistem vaskular, penyakit ginjal, neuropati, pada tahun 2006 DM adalah penyakit
retinopati. tertinggi ke 2 yang menyebabkan kematian
Dua dasawarsa ini penyakit DM (35) setelah stroke (143) (Depkes, 2006).
merupakan penyakit yang tercepat dan Data penderita DM di Kota Pekanbaru pada
terbesar terjadi di Asia Pasifik. Tahun 2025, tahun 2011 terdapat 10.955 jiwa, dan pada
Asia diperkirakan memiliki populasi DM triwulan I tahun 2012 terdapat 2.897 jiwa
terbesar di dunia, yaitu dari 82 juta orang
penderita DM (Dinas Kesehatan Kota Hilangnya sensasi merupakan salah satu
Pekanbaru, 2012). faktor utama risiko terjadinya ulkus
Data dari Rekam Medik Instalasi (Smeltzer & Bare, 2002).
Rawat Inap RSUD Arifin Achmad Terdapat beberapa terapi yang telah
Pekanbaru pada tahun 2012 dari bulan dilakukan untuk mengatasi penurunan
Januari hingga Juli sebanyak 534 penderita sensitivitas kaki pada penderita DM,
DM dirawat jalan dan 66 penderita dirawat diantaranya adalah senam kaki dengan koran
di ruang inap. Sedangkan data pasien DM (Setiawan, 2011), senam kaki dengan
pada tahun 2013 dapat dilihat pada tabel tempurung kelapa (Natalia, Hasneli,
dibawah ini. Novayelinda, 2013). Senam kaki dapat
Tabel 1. Jumlah Penderita Diabetes Melitus membantu memperbaiki peredaran darah
di Ruang Poli Penyakit Dalam RSUD Arifin yang terganggu dan memperkuat otot-otot
Achmad Tahun 2013 kecil kaki pada pasien DM dengan
neuropati. Selain itu dapat memperkuat otot
NO Bulan Jumlah Pasien Total betis dan otot paha, mengatasi keterbatasan
Lama Baru gerak sendi dan mencegah terjadinya
1 Januari 296 55 351 deformitas. Keterbatasan jumlah insulin
2 Februari 334 61 395
3 Maret 437 63 500
pada penderita DM mengakibatkan kadar
4 April 387 72 459 gula dalam darah meningkat hal ini
Sumber: Rekam Medis RSUD Arifin Achmad menyebabkan rusaknya pembuluh darah,
Pekanbaru (2013) saraf, dan struktur internal lainnya sehingga
pasokan darah ke kaki semakin terhambat,
Data mengenai angka kejadian ulkus akibatnya pasien DM akan mengalami
kaki di RSUD Arifin Achmad tidak gangguan sirkulasi darah pada kakinya
diperoleh karena ulkus kaki tidak masuk (Nasution, 2010).
dalam catatan rekam medis. Namun dari Terapi acupressure merupakan salah
hasil observasi peneliti dari 34 orang satu terapi yang dapat dilakukan untuk
penderita DM di ruang rawat inap setiap mengembalikan fungsi sensitivitas kaki.
bulan sekitar 7 orang mengalami ulkus kaki, Acupressure merupakan metode non invasif
sedangkan di ruang Poli Penyakit Dalam yang prinsip kerjanya didasarkan pada
sebanyak 11 orang dari 72 kunjungan pasien prinsip akupuntur (Black & Hawk, 2009).
DM setiap bulan. Acupressure telah hadir sekitar 5000 tahun
Penyakit DM dapat memicu yang lalu dan berasal dari Tiongkok. Hingga
komplikasi berbagai penyakit penyerta yang kini acupressure masih digunakan sebagai
timbul akibat komplikasi dari penyakit salah satu cara penyembuhan yang populer
tersebut (Kartini, 2007). Syafei (2006) dibeberapa negara Asia seperti RRC, Cina,
menyatakan, penyakit DM apabila tidak India, Jepang dan Korea, dan kini makin
ditangani dengan baik akan mengakibatkan dikembangkan oleh berbagai institusi-
timbulnya komplikasi penyakit serius institusi penyembuhan di negara Barat.
lainnya, diantaranya penyakit jantung, Bahkan WHO mengakui acupressure
stroke, disfungsi ereksi, gagal ginjal dan sebagai suatu terapi yang dapat
kerusakan sistem saraf. Selain itu mengaktifkan neuron pada sistem saraf,
komplikasi penyakit DM salah satunya dimana hal ini merangsang kelenjar-kelenjar
adalah neuropati, yang dapat menyebabkan endokrin dan hasilnya dapat mengaktifkan
pasien diabetes mengalami penurunan organ-organ yang bermasalah (Dupler &
sensitivitas di kaki (Echeverry, Diana, Douglas, 2005).
Duran, Bonds, Lee, & Davidson, 2007).
Nasution (2010) dalam penelitiannya TUJUAN PENELITIAN
“Pengaruh senam kaki terhadap peningkatan Tujuan penelitian adalah untuk
sirkulasi darah kaki pada pasien penderita membandingkan sensitivitas kaki terhadap
Diabetes Melitus di RSUD Haji Adam terapi acupressure pada pasien DM tipe 2
Malik” menyimpulkan bahwa senam kaki pada kelompok eksperimen dan kelompok
dapat membantu memperbaiki otot-otot kontrol
kecil kaki pada pasien DM dengan neuropati
yang menunjukkan bahwa ada perbedaan METODOLOGI PENELITIAN
peningkatan sirkulasi darah antara kelompok Desain: Penelitian ini menggunakan
eksperimen dan kelompok kontrol. Adam rancangan penelitian quasi experiment.
(2011) dalam penelitiannya menjelaskan Penelitian rancangan ini berupaya untuk
bahwa rata-rata skor kekuatan otot mengungkapkan hubungan sebab akibat
ekstremitas atas setelah dilakukan dengan cara melibatkan kelompok kontrol
acupressure berbeda secara bermakna dan kelompok eksperimental.
dibandingkan dengan kelompok yang tidak Sampel: Sampel dalam penelitian ini
dilakukan acupressure. Penelitian Natalia, adalah 30 orang dengan 15 orang sebagai
Hasneli dan Novayelinda (2013) kelompok kontrol dan 15 orang sebagai
menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan kelompok eksperimen.
sensitivitas kaki pasien DM pada kelompok Analisa Data: Anallisa yang
eksperimen sesudah mendapatkan senam digunakan adalah analisa univariat dan
kaki diabetik dengan batok kelapa. bivariat. Analisa bivariat menggunakan uji t
Penelitian lain yaitu Hasneli (2010) dalam dependent dan t independent.
penelitiannya “Hubungan tingkat
pengetahuan dan sikap klien diabetes HASIL PENELITIAN
melitus terhadap perawatan kaki diabetes” 1. Analisa Univariat
mengatakan bahwa orang yang memiliki Hasil analisa univariat pada penelitian
tingkat pengetahuan dengan kategori baik ini adalah sebagai berikut:
mampu melakukan perawatan kaki diabetes 1. Karakteristik responden
yang baik. Tabel 1
Berdasarkan latar belakang tersebut, Tabel Karakteristik Responden dan Uji
maka peneliti tertarik untuk melakukan Homogenitas
penelitian pada penderita DM dengan judul Karakteristik Eksperimen dan p value
“Efektifitas terapi acupressure pada telapak kontrol
kaki terhadap sensitivitas kaki pada pasien n %
Diabetes Melitus type II”. Jenis Kelamin
Perempuan 18 60.0 0,427
Laki-Laki 12 40.0

Usia
Dewasa Awal 9 30.0 0,456
(21-45 Tahun)
Dewasa Akhir 21 70.0
(>46-60Tahun)

Tabel diatas menunjukkan bahwa


sebagian besar responden pada kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol adalah
perempuan (60,0%) dan berusia dewasa
akhir (70.0%). Karakteristik jenis kelamin eksperimen (6.312) dengan standar deviasi
dan umur responden setelah dilakukan uji 1.236, sedangkan nilai mean kelompok
homogenitas menggunakan uji Chi-Square kontrol (5.600) dengan standar deviasi
didapatkan p value jenis kelamin 0,456 dan 1.353.
p value umur 0,427 (masing-masing p>0,05) Tabel 4
berarti karakteristik responden pada Distribusi Tingkat Sensitivitas Kaki pada
kelompok eksperimen dan kontrol adalah Kelompok Eksperimen dan Kelompok
homogen. Kontrol Sesudah Diberikan Terapi
Tabel 2 Acupressure
Tabel Karakteristik Responden dan Uji
Homogenitas Pekerjaan Variabel Jumlah Mean SD
Tingkat sensitivitas
Karakteristik Ekperimen dan p kaki rata-rata sesudah
control value diberikan terapi
n % acupressure
Pekerjaan Kelompok 15 7.286 1.315
PNS 3 10 0.999 Eksperimen
Wiraswasta 14 46.6 Kelompok Kontrol 15 5.555 1.313
Swasta 5 16.6
IRT 8 26.6 Berdasarkan Tabel di atas menunjukkan
nilai mean tingkat sensitivitas kaki sesudah
Tabel 2 menunjukkan bahwa paling
diberikan terapi acupressure pada kelompok
banyak responden bekerja sebagai wiraswasta
(46.6%). Karakteristik pekerjaan responden eksperimen lebih tinggi (7.286) dengan
setelah dilakukan uji homogenitas karena tidak standar deviasi 1.315 daripada mean tingkat
memenuhi syarat untuk uji Chi-Square, maka sensitivitas kaki pada kelompok kontrol
menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, (5.555) dengan standar deviasi 0.131.
didapatkan hasil p value pekerjaan 0,999
(p>0,05) berarti karakteristik responden pada B. Analisa Bivariat
kelompok eksperimen dan kontrol adalah Tabel 5
homogen. Tabel Uji Homogenitas Pretest pada Kelompok
Eksperimen dan Kontrol
Tabel 3
Distribusi Tingkat Sensitivitas Kaki pada p
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Variabel Jumlah Mean SD value
Kontrol Sebelum Diberikan Terapi
Kelompok
Acupressure 15 6.312 1.236 0.143
Eksperimen
Variabel Jumlah Mean SD Kelompok
15 5.600 1.352
Tingkat sensitivitas Kontrol
kaki rata-rata sebelum
diberikan terapi Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai
acupressure mean pretest pada kelompok eksperimen
Kelompok 15 6.312 1.236 lebih tinggi yaitu 6.312 daripada kelompok
Eksperimen
Kelompok Kontrol 15 5.600 1.353 kontrol yaitu 5.600. Hasil analisa bivariat
dengan menggunakan uji t independent
diperoleh p value = 0.143 (p>0,05), berarti
Tabel 3 menunujukkan nilai mean
sensitivitas kaki pada kelompok eksperimen
tingkat sensitivitas kaki sebelum diberikan
terapi acupressure pada kelompok
dan kontrol sebelum diberikan terapi Hasil analisis diperoleh p value= 0,001
acupressure adalah homogen. (p<0,05), berarti ada perbedaan yang
Tabel 6 signifikan antara rata-rata tingkat sensitivitas
Perbedaan Tingkat Sensitivitas Kaki Pretest kaki sesudah diberikan terapi acupressure
dan Posttest pada Kelompok Eksperimen pada kelompok eksperimen dengan rata-rata
Setelah Diberikan Terapi Acupressure tingkat sensitivitas kaki yang tidak diberikan
terapi acupressure pada kelompok kontrol.
Variabel p
Jumlah Mean SD
value Meningkatnya sensitivitas kaki pada
Rata-rata kelompok eksperimen kemungkinan hal ini
Posttest disebabkan karena responden mengikuti
Kelompok 15 7.286 1.313 prosedur yang telah dijelaskan oleh peneliti
0,001
Eksperimen tentang acupressure, responden juga
Kelompok 15 5.555 1.315
Kontrol
komunikatif, keingintahuan dan kemauan
dari responden untuk melakukan terapi
acupressure untuk meningkatkan
Tabel 6 menunjukkan bahwa dari sensitivitas kakinya, support dari keluarga
hasil uji statistik didapatkan mean tingkat responden sangat baik dan mendukung
sensitivitas kaki sesudah diberikan terapi terapi acupressure yang dilakukan untuk
acupressure pada kelompok eksperimen keluarganya.
lebih rendah pada saat pretest yaitu sebesar
6.312 dengan standar deviasi 1.236 daripada PEMBAHASAN
saat posttest yaitu sebesar 7.286 dengan
standar deviasi 1.315. Hasil analisa 1. Karakteristik responden
diperoleh p value= 0,000 (p<0,05), berarti a. Umur
ada perbedaan yang signifikan rata-rata Hasil yang diperoleh pada kelompok
tingkat sensitivitas kaki sebelum dan eksperimen didapatkan peningkatan
sesudah diberikan terapi acupressure pada sensitivitas kaki pada usia dewasa akhir ˃
kelompok eksperimen. 46-60 tahun sebanyak 12 orang (80.0%).
Faktor usia pada penyakit DM merupakan
Tabel 7 penyakit yang dapat menyerang semua
Perbedaan Rata-rata Posttest Tingkat Sensitivitas kalangan salah satunya yaitu usia ≥ 45
Kaki pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok tahun. Pada usia ≥ 45 tahun terjadi
Kontrol penurunan fungsi organ tubuh, sehingga
Variabel p kemampuan pankreas untuk mensekresikan
Jumlah Mean SD
value insulin juga akan menurun. Hal inilah yang
Kelompok menyebabkan pada rentang usia 45-60 tahun
Eksperimen
- Pretest 15 6.312 1.236
kemungkinan terkena DM lebih besar,
0,000
karena pada usia ini terjadi penurunan fungsi
- Posttest 15 7.286 1.315
organ tubuh (Hembing, 2005).
Black dan Hawks (2005)
Berdasarkan tabel di atas, dari hasil menyatakan bahwa DM tipe 2 merupakan
uji statistik t independent didapatkan mean tipe dari penyakit DM yang tidak
posttest tingkat sensitivitas kaki pada bergantung pada insulin, penyakit ini sering
kelompok eksperimen adalah 7.286 dengan terdiagnosa pada orang dewasa berumur
SD adalah 1.313. Mean posttest tingkat lebih dari 40 tahun serta DM tipe 2 ini lebih
sensitivitas kaki pada kelompok kontrol umum terjadi pada orang dewasa dengan
adalah 5.555 dengan SD adalah 11.315.
suku bangsa tertentu. Seiring bertambahnya pernyataan oleh American Diabetes
usia, sel menjadi semakin resisten terhadap Association (2011) yang menyatakan bahwa
insulin, menurunkan kemampuan tubuh aktivitas fisik memiliki manfaat yang besar
lansia untuk memetabolisme glukosa. karena kadar glukosa dapat terkontrol
Selanjutnya, pengeluaran insulin dari sel melalui aktivitas fisik serta mencegah terjadi
beta pankreas menurun dan terhambat. komplikasi. Salah satu komplikasi terjadi
Faktor umur juga akan mempengaruhi kulit pada kaki yaitu neuropati, yang berpengaruh
terhadap rangsang dimana semakin tua usia terhadap sensitivitas kaki sebagai tanda yang
seseorang maka semakin rendah tingkat berpengaruh terhadap gejala terjadinya
sensitivitasnya (Bullock, 2001). komplikasi.
b. Jenis kelamin 2. Efektifitas Terapi Acupressure Terhadap
Hasil penelitian yang dilakukan Sensitivitas Kaki Pada Pasien DM Tipe
terhadap 30 orang responden, diperoleh II.
responden yang berjenis kelamin perempuan Hasil penelitian yang telah dilakukan
yaitu berjumlah 18 orang atau 60.0 %, pada 30 responden yang dibagi ke dalam 2
sedangkan untuk responden yang berjenis kelompok, kelompok eksperimen dan
kelamin laki-laki hanya 12 orang atau 40.0 kelompok kontrol adalah pada kedua
%. Kejadian DM lebih tinggi pada wanita kelompok sensitivitas kaki diukur dengan
dibanding pria terutama pada DM tipe II. menggunakan alat monofilamen. Kelompok
Hal ini disebabkan oleh penurunan hormon eksperimen diberikan terapi acupressure
estrogen akibat menopause. Estrogen pada tiga kali dalam seminggu, sedangkan
dasarnya berfungsi untuk menjaga kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan
keseimbangan kadar gula darah dan seperti kelompok eksperimen. Hasil
meningkatkan penyimpanan lemak, serta penelitian ini mendukung hipotesis
progesteron yang berfungsi untuk penelitian bahwa terdapat perbedaan tingkat
menormalkan kadar gula darah dan sensitivitas kaki antara sebelum dan sesudah
membantu menggunakan lemak sebagai melakukan terapi acupressure pada
energi (Taylor, 2005). Mayoclinic (2010) kelompok eksperimen dibandingkan dengan
menyatakan bahwa hormon estrogen dan kelompok kontrol. Hasil penelitian ini dapat
progesteron mempengaruhi sel-sel untuk menunjukkan bahwa terapi acupressure
merespon insulin. Setelah menopause, yang dilakukan dapat meningkatkan
perubahan kadar hormon akan memicu sensitivitas kaki pada pasien DM tipe II.
fluktuasi kadar gula darah. Hal inilah yang Loupatty et al (1996) dalam Adam
menyebabkan kejadian DM lebih tinggi (2011) mengemukakan bahwa pemberian
pada wanita dibanding pria terapi acupressure dengan pemijatan tertuju
c. Pekerjaan untuk mengembalikan keseimbangan yang
Penelitian pada 30 orang pasien DM ada di dalam tubuh, dengan memberikan
menunjukkan bahwa paling banyak rangsangan agar aliran energi kehidupan
responden bekerja sebagai wiraswasta dapat mengalir dengan lancar. Manfaat
sebanyak 14 orang (46.6%) dan paling terapi acupressure adalah untuk
sedikit berprofesi sebagai pegawai PNS 3 meningkatkan daya tahan dan kekuatan
orang (10%). Black dan Hawks (2005) tubuh, mencegah terjadinya penyakit,
menyatakan bahwa aktifitas fisik dapat mengatasi keluhan dan penyakit ringan serta
meningkatkan sensitivitas insulin dan memulihkan kondisi tubuh.
memiliki efek langsung terhadap penurunan Rangsangan yang diberikan dari sesi
kadar glukosa darah. Hal ini sejalan dengan refleksiologi yang baik akan membuat rileks
dan melancarkan peredaran darah. perawatan kaki 13 kali lebih besar risiko
Lancarnya peredaran darah karena dipijat, terjadinya ulkus diabetika dibandingkan
memungkinkan darah mengantar lebih kelompok yang melakukan perawatan kaki
banyak oksigen dan gizi ke sel-sel tubuh, secara teratur. Oleh karena itu, perawatan
sekaligus membawa lebih banyak racun kaki yang baik dapat mencegah terjadinya
untuk dikeluarkan. Terapi acupressure yang kaki diabetik, karena perawatan kaki
dilakukan pada telapak kaki terutama di area merupakan salah satu faktor
organ yang bermasalah, akan memberikan penanggulangan cepat untuk mencegah
rangsangan pada titik-titik saraf yang terjadinya masalah pada kaki yang dapat
berhubungan dengan pankreas agar menjadi menyebabkan ulkus kaki. Praktek yang lebih
aktif sehingga menghasilkan insulin melalui baik dalam melakukan perawatan kaki akan
titik-titik saraf yang berada di telapak kaki mengurangi risiko terkena kaki diabetik.
(Mangoenprasodjio & Hidayati, 2005). Adanya temuan hasil penelitian ini
Temuan dalam penelitian ini sejalan dan penelitian sebelumnya, peneliti dapat
dengan penelitian yang dilakukan oleh berkesimpulan bahwa terapi acupressure
Natalia, Hasneli & Novayelinda (2013) pada dapat meningkatkan sensitivitas kaki secara
30 responden (n kontrol = n eksperimen = bermakna pada pasien DM tipe II,
15). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan hal ini disebabkan karena
pemberian senam kaki diabetik dengan responden mengikuti prosedur yang telah
menggunakan tempurung kelapa dapat dijelaskan oleh peneliti tentang acupressure,
meningkatkan sensitivitas kaki pada pasien selain itu responden juga komunikatif.
DM tipe II. Senam kaki tersebut terbukti Meningkatnya sensitivitas kaki pada
dapat membuat rileks dan melancarkan kelompok eksperimen kemungkinan hal ini
peredaran darah. disebabkan karena responden mengikuti
Penelitian Nasution (2010) tentang prosedur yang telah dijelaskan oleh peneliti
“Pengaruh senam kaki terhadap peningkatan tentang acupressure, responden juga
sirkulasi darah kaki pada pasien penderita komunikatif, keingintahuan dan kemauan
Diabetes Melitus di RSUD Haji Adam dari responden untuk melakukan terapi
Malik”, dari hasil penelitian yang dilakukan acupressure untuk meningkatkan
bahwa sirkulasi darah kaki setelah sensitivitas kakinya, dukungan dari keluarga
melakukan senam kaki meningkat secara responden sangat baik dan mendukung
signifikan dengan p=0,002 berarti p< α terapi acupressure yang dilakukan untuk
0,05. Pada kelompok kontrol p=0,903 (p> α keluarganya.
0,05). Praktek senam kaki berpengaruh
memperbaiki keadaan kaki, dimana akral
yang dingin meningkat menjadi lebih KESIMPULAN DAN SARAN
hangat, kaki yang kaku menjadi lentur, kaki
kebas menjadi tidak kebas, dan kaki yang A. Kesimpulan
atrofi perlahan-lahan kembali normal. Responden dalam penelitian ini
Hasil penelitian ini sesuai dengan didapatkan berusia rata-rata dewasa akhir
penelitian yang dilakukan oleh Sihombing yaitu ˃ 45-60 tahun yang berjenis kelamin
(2012) yang meneliti tentang “Gambaran terbanyak adalah perempuan dengan status
perawatan kaki dan sensasi sensorik kaki pekerjaan wiraswasta. Hasil pengukuran
pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di diperoleh nilai rata-rata tingkat sensitivitas
Poliklinik DM RSUD”. Hasil penelitian ini kaki pada kelompok eksperimen sebelum
yaitu kelompok yang tidak melakukan melakukan terapi acupressure adalah
sebesar 6.312 dan pada kelompok kontrol acupressure terhadap kesehatan dengan
sebesar 5.600. Setelah diberikan perlakuan jumlah sampel yang lebih banyak dan
dengan terapi acupressure tiga kali dalam teknik penelitian yang lebih baik.
seminggu, pada kelompok eksperimen
terjadi peningkatan rata-rata sensitivitas kaki DAFTAR PUSTAKA
menjadi 7,286 titik. Hasil penelitian ini
menunjukkan adanya peningkatan Adam, M. (2011). Pengaruh akupresure
sensitivitas kaki yang signifikan pada terhadapp kekuatan otot ekstremitas
kelompok eksperimen setelah diberikan atas pada pasien stroke Pasca Rawat
perlakuan dengan hasil uji statistik p<0,05. Inap di RSUP Rahmawati Jakarta.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan Tesis. Tidak dipublikasikan.
bahwa dengan melakukan terapi
acupressure selama tiga kali dalam Black, J. M., & Hawk, J. H. (2009). Medical
seminggu mampu meningkatkan sensitivitas surgical nursing: clinical
kaki pada pasien DM tipe II. management for positive outcomes
(Vol 2, 8th Ed). St. Louis, Missiouri:
B. Saran Saunders Elseiver.
1. Bagi Ilmu Keperawatan
Bagi institusi pendidikan Bullock, J. (2001). Physiology (4th Edition).
khususnya keperawatan disarankan USA: Lippincott Williams and
untuk dapat memakai hasil penelitian ini Wilkins.
sebagai salah satu sumber informasi
mengenai efektifitas terapi acupressure
dalam meningkatkan sensitivitas kaki Chang, E., Daly, J., dan Elliott, D. (2010).
sehingga dapat dijadikan sebagai salah Patofisiologi aplikasi pada praktik
satu bentuk alternatif lainnya. keperawatan. Jakarta: EGC.
2. Bagi Pasien Diabetes Melitus
Hasil penelitian ini agar dapat Depkes. (2006). Profil kesehatan Indonesia
diaplikasikan oleh responden dan 2006. Diperoleh Tanggal 24 Juni
keluarga dalam membantu 2013 dari http://www.depkes.go.id.
meningkatkan sensitivitas kaki secara
efisien dan efektif. Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru. (2012).
3. Bagi Pihak Pelayanan Kesehatan Mengenal diabetes mellitus.
Bagi Pihak kesehatan di RSUD Diperoleh Tanggal 18 Agustus 2013
terutama perawat di poliklinik DM dari
hendaknya melakukan tindakan http://www.fortunefar.health.co.id.
pencegahan terhadap pasien diabetes
melitus. Tindakan tersebut bertujuan Dupler, Douglas. (2005). Gale encyclopedia
untuk mencegah terjadinya komplikasi of alternative medicine. Acupressure.
diabetes melitus terutama pada kaki. Diperoleh Tanggal 15 Mei, 2013 dari
4. Bagi Peneliti Selanjutnya http://www.encyclopedia.com/topic/
Hasil penelitian ini dapat Acupressure.aspx.
dijadikan sebagai evidence - based dan
tambahan informasi untuk Echeverry, Diana, Duran, P., Bonds, C.,
mengembangkan penelitian lebih lanjut Lee, M., Davidson, M. (2009). Effect
tentang manfaat lain dari terapi of pharmacological treatment of
depression on A1C and quality of
life in low-income Hispanics and Januari 2014 dari
African Americans with diabetes. http://www.mayoclinic.com.
Diabetes Care. Vol. 32, No.12.
Diperoleh tanggal 8 November 2012 Nasution, J. (2010). Pengaruh senam kaki
dari http: //libra .msra.cn./ terhadap peningkatan sirkulasi
Publication/ 31126244/effect-of- darah kaki pada pasien penderita
pharmacological-treatment-of- diabetes melitus di RSUP Haji Adam
depression-on-a1c-and-quality-of- Malik. Diperoleh tanggal 11 Oktober
life-in-low-income. 2012 dari http:/ /repository.usu.ac.id
Hasneli, Y., Amir, F., Utomo, W. (2010). /bitstream/ 123456789/20590/ 7/
Hubungan tingkat pengetahuan dan Cover.pdf.
sikap klien diabetes melitus terhadap
perawatan kaki diabetes. Jurnal Natalia, N., Hasneli, Y., Noveliza, R.
Keperawatan Profesional Indonesia. (2013). Efektifitas Senam Kaki
Vol. 2, No. 2. Diabetik Dengan Batok Kelapa
Terhadap Tingkat Sensitivitas Kaki
Hasneli, Y. (18 November 2013). Pada Pasien Diabetes Melitus.
Wawancara Personal tentang alat Skripsi: Tidak Dipublikasikan.
acupressure.
Ronald, S. A. (2004). Tinjauan klinis hasil
Hembing, W. (2005). Bebas diabetes pemeriksaan laboratorium. Ed. 11
mellitus ala Hembing. Jakarta: Puspa Jalarta: EGC.
Swara.
Sihombing, D. (2012). Gambaran
Instalasi Rekam Medis RSUD Arifin perawatan kaki dan sensasi sensorik
Achmad Pekanbaru. (2010). Jumlah kaki pada pasien diabetes melitus
kunjungan pasien rawat jalan di poli tipe 2 di poliklinik DM RSUD.
penyakit dalam. Pekanbaru: IRM Diperoleh tanggal 5 Oktober 2012
dari
International Diabetes Federation (IDF). http://journals.unpad.ac.id/ejournal/a
(2005). Prevalensi diabetes dunia. rticle/view/677
Diperoleh Tanggal 24 Juni 2013 dari
http://www.health.com. Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2002). Buku
ajar keperawatan medikal-bedah.
Kartini. (2007). Makanan seimbang untuk Jakarta: EGC.
diabetes. Diperoleh Tanggal 24 Juni
2013 dari http://www. gizi.net. Syafei. (2006). Penderita diabetes.
Diperoleh Tanggal 10 Juni 2010. dari
Mangoenprasodjo, A. S. & Hidayati, S. M. http://www.wordpress.co.id.
(2005). Terapi alternatif dan gaya
hidup sehat. Yogyakarta: Pradipta Tandra, H. (2007). Segala sesuatu yang
Publishing. harus anda ketahui tentang diabetes.
Jakarta: Gramedia.
Mayoclinic. (2010). What to expect diabetes
and menopause. Diperoleh tanggal 2 Taylor, C., Lillis, C., & Lemone, P. (2005).
Fundamental of nursing. (5th).
Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.

Tjokroprawiro, A. (2007). Hidup sehat dan


bahagia bersama diabetes melitus.
Jakarta: Gramedia.

WHO. (2003). Angka kejadian diabetes.


Diperoleh Tanggal 24 Juni 2013 dari
http://www. Health. Com.