Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Pemahaman
a. Definisi
Pemahaman adalah Suatu kemampuan menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan

materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap

materi atau objek harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,

menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang

dipelajari. (Notoatmodjo, 2003)


b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman
Menurut Notoatmodjo (2003), pemahaman yang dimiliki

seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :


a.Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi

respon yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan akan berfikir

sejauh mana keuntungan yang akan mungkin mereka peroleh dari

gagasan tersebut.
b. Paparan Media Massa Melalui berbagai media baik cetak maupun

elektronika berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat,

sehingga seseorang yang lebih sering terpapan media masa (televisi,

radio, majalah, pamflet) akan memperoleh informasi yang lebih

hanya dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar

informasi media masa.


c. Ekonomi Dalam memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder,

keluarga dengan status ekonomi baik lebih mudah tercukupi

dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan

mempengaruhi kebutuhan akan informasi yang termasuk kebutuhan

sekunder.
d. Hubungan Sosial Manusia adalah makhluk sosial, dimana dalam

kehidupan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Individu


yang dapat berinteraksi secara batinnya akan lebih terpapar

informasi.
e. Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal bisa diperoleh

dan lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya.


2. Definisi Gizi Seimbang
Gizi seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang

mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan

kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman

pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan mempertahankan

berat badan normal untuk masalah gizi. Pedoman Gizi Seimbang

yang telah diimplementasikan di Indonesia sejak tahun 1955

merupakan realisasi dari Konferensi Pangan Sedunia di Roma tahun

1992. Pedoman tersebut menggantikan slogan “4 sehat 5 sempurna”

yang telah diperkenalkan sejak tahun 1952 dan sudah tidak sesuai

lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)

Zat-zat gizi yang dapat memberikan energy adalah karbohidrat,

lemak, dan protein, oksidasi zat-zat gizi ini mengahsilkan energy

yang diperlukan tubuh untuk melakukan kegiatan atau aktivitas.

(Almatsier 2010).
3. Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)
Pedoman Umum Gizi seimbang adalah sebagai alat memberikan

penyuluhan pangan dan gizi kepada masyarakat luas dalam rangka

memasyarakatkan gizi seimbang pada tahun 1995 Direktor Gizi

Depkes telah mengeluarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang

(PUGS). Pedoman ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu

rekomendasi Konferensi Gizi Internasional di Roma tahun 1992

untuk mencapai dan memelihara kesehatan dan kesejahteraan gizi

semua penduduk yang merupakan prasyarat untuk pembangunan


sumber daya manusia. PUGS merupakan penjabaran lebih lanjut

dari pedoman 4 sehat 5 sempurna yang memuat pesan-pesan yang

berkaitan dengan pencegahan baik masalah gizi kurang, maupun gizi

lebih yang selama 20 tahun terakhir telah memulai menampakkan

diri di Indonesia.
PUGS memuat tiga belas pesan dasar yang diharapkan dapat

digunakan masyarakat sebagai pedoman praktis untuk mengatur

makanan sehari-hari yang seimbang dan aman guna mencapai dan

mempertahankan status gizi dan kesehatan yang optimal. Ketiga

belas pesan dasar tersebut adalah sebagai berikut :


1. Makanlah anekaragam makanan.
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan

energi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari

kebutuhan energi.
5. Gunakan garam beriodium
6. Makanlah makanan sumber zat besi
7. Berikan ASI saja kepada bayi sampai umur enam bulan.
8. Biasakan makan pagi
9. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya
10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur
11. Hindari minum-minuman beralkohol
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas.
14. Gizi Seimbang untuk Anak prasekolah
Anak diartikan seseorang yang berusia kurang dari delapan

belas tahun dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan

khusus, baik kebutuhan fisik, psikologi, sosial, dan spiritual.

(Hidayat, 2005)
Anak prasekolah adalah anak yang berusia 3 sampai 6 tahun

yang mempunyai berbagai macam potensi. Potensi-potensi itu

dirangsang dan dikembangkan agar pribadi anak tersebut

berkembang secara optimal. (Supartini, 2004)


Kebutuhan zat gizi anak pada usia 3-5 tahun meningkat karena

masih berada pada masa pertumbuhan cepat dan aktivitasnya

tinggi. Demikian juga anak sudah mempunyai pilihan terhadap

makanan yang disukai termasuk makanan jajanan. Oleh karena itu

jumlah dan variasi makanan harus mendapatkan perhatian secara

khusus dari ibu atau pengasuh anak, terutama dalam

“memenangkan” pilihan anaka agar memilih makanan yang bergizi

seimbang. Disamping itu anak pada usia ini sering keluar rumah

sehingga mudah terkena penyakit infeksi dan kecacingan, sehingga

perilaku hidup bersih perlu dibiasakan untuk mencegahnya.


Perkembangan mental anak dapat dilihat dari

kemampuannya mengatakan “tidak” terhadap makanan yang

ditawarkan. Penolakan itu tentu saja tidak boleh dijadikan alasan

oleh para orangtua untuk memulai ‘’perang dimeja makan” karena

ketegangan justru akan memicu dan memacu sikap yang lebih

defensif. Ada baiknya diadakan kompromi, anak diberi piihan satu

atau dua macam makanan. (Arisman, 2008)


4. Status gizi
a. Definisi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi

makanan dan penggunanaan zat-zat gizi. Dibedakan anatar status gizi

buruk, kurang, baik, dan lebih (Almatsier, 2010). Secara klasik kata

gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk

menyediakan energy, membangun, dan memelihara jaringan tubuh,

serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh.


Tetapi, sekarang kata gizi mempunyai pengertian lebih luas,

disamping untuk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi

seseorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak,


kemampuan belajar, dan produktivitas kerja. Apalagi anakpra

sekolah sangat rentan terkena masalah gizi. Masalah gizi anak

prasekolah secara garis besar merupakan dampak dari

ketidakseimbangan anatar asupan dan keluaran zat gizi, yaitu

asupan yang melebihi keluaran atau sebaliknya, disamping

kesalahan dalam memilih bahan makanan untuk disantap. Buah dari

ketergantungan ini utamanya berupa penyakit kronis, berat badan

lebih dan kurang, pica, karies dentis, serta alergi (Arisman, 2008).
b. Menurut Adriani & Wirjatmadi (2014) determinan status gizi

ada 2 macam yaitu :


1. Faktor gizi internal
Faktor gizi internal merupakan faktor yang berasal dari
seseorang yang menjadi dasar pemeriksaan tingkat kebutuhan

gizi seseorang (Almatsier, 2010)


Faktor gizi internal yang mempengaruhi gizi balita

meliputi :
1. Nilai cerna makanan
Penganekaragaman makanan erat kaitannya dengan

nilai cara makanan. Makanan yang disediakan untuk

dikonsumsi manusi mempunyai nilai cerna yang berbeda.

Hal ini dipengaruhi oleh keadaan makanan misalnya keras

atau lembek.
2. Status kesehatan
Status kesehatan seseorang turut menentukan

kebutuhan gizi. Kebutuhan zat gizi orang sakit berbeda

dengan orang sehat, karena sebagiam sel tubuh orang

sakit telah mengalami kerusakan dan perlu diganti,

sehingga membutuhkan zat gizi lebh banyak. Selain untuk

membangun kembali sel tubuh yang telah rusak. Zat gizi

lebih ini diperlukan untuk pemulihan.


3. Keadaan fisik
Infeksi bias berhubungan dengan gangguan gizi

melalui berbagai cara, yaitu mempengaruhi nafsu makan,

menyebabkan kehilangan bahan makanan karena muntah,

diare atau mempengaruhi metabolism makanan. Gizi

buruk dan infeksi, keduanya dapat bermula dari

kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat dengan

sanitasi yang buruk. Selain itu, juga diketahui bahwa

infeksi menghambat reaksi imunologis yang normal

dengan menghabiskan sumber ernergi pada tubuh.


Infeksi akut akan menyebabkan kurangnya nafsu

makan dan toleransi terhadap makanan. Diberbagai

tempat didunia, makanan dapat tercemar oleh berbagai

bibit penyakit yang menimbulkan gangguan dalam

penyerapan zat gizi (Suharjo, 1989)


4. Umur
Anak balita yang sedang mengalami pertumbuhan

memerlukan makanan bergizi yang lebih banyak

dibandingkan orang dewasa per kilo gram berat

badannya. Dengan demikian bertambanya umur, semakin

meningkatkan pula kebutuhan zat tenaga bagi tubuh.


Pada usia 2-5 tahun merupakan masa golden age

dimana pada masa itu dibutuhkan zat tenaga yang

diperlukan tubuh untuk pertumbuhannya. Semakin

bertambah untuk pertumbuhan maka semakin meningkat

kebutuhan zat tenaga yang dibutuhkan oleh tubuh untuk

mendukung meningkatnya dan semakin beragamnya

kegiatan fisik (Apriadji, 1986)


5. Jenis kelamin
Jenis kelamin menentukan besar kecilnya

kebutuhan gizi seseorang. Anak laki-laki lebih banyak

membutuhkan tenaga dan protein daripada anak

perempuan. Hal ini karena dapat dilihat dari aktivitas

yang dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan.

(Soetjiningsih,1995)
6. Riwayat ASI Ekslusif
Pemberian ASI secara ekslusif untuk bayi hanya

diberikan ASI, tanpa diberikan tambahan cairan lain

seperti susu formula, jeruk, madu, teh dan air putih. ASI

ekslusif dianjurkan untuk jangka waktu minimal 4 bulan

atau 6 bulan. (Roesli, 2000)


7. Riwayat Makanan Pendamping ASI (MP- ASI)
Memasuki usia 4-6 bulan bayi telah siap

menerima makanan bukan cair, karena gigi telah tumbuh

dan siap menelan makanan setengah padat. Disamping

itu, lambung juga telah baik menerima zat tepung. Di

awal kehidupannya, lambung dan usus bayi

sesungguhnya belum sepenuhnya matang. Bayi dapat

mencerna gula dalam susu (laktosa) tetapi belum mampu

menghasilkan amilase dalam jumlah yang cukup. Jika

kemudian bayi disapih pada usia 4-6 bulan, tidak berarti

karena bayi telat siap menerima makanan selain ASI,

tetapi karena kebutuhan gizi bayi tidak lagi cukup

dipasok hanya dari ASI. (Almatsier, 2001)


2. Faktor Gizi Eksternal
Faktor gizi eksternal adalah faktor yang berpengaruh

diluar diri seseorang (Almatsier, 2001). Menurut Adriani &


Wirjatmadi (2014) faktor gizi eksternal yang dapat

mempengaruhi gizi sebagai berikut :


1. Tingkat Pendidikan Orang tua
Pendidikan adalah suatu usaha sadar seseorang

untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan

didalam dan diluar sekolah. Disebutkan pula bahwa

tingkat pendidikan yang rata-rata masih rendah,

khususnya kalangan wanita merupakan masalah pokok

yang berpengaruh terhadap masalah kesehatan. Makin

tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah

menerima informasi mengenai penyediaan makanan

yang baik (Notoatmojo, 1985)


2. Jenis Pekerjaan orangtua
Tingkat pendapatan akan menentukan jenis dan

ragam makanan yang akan dibeli dengan uang

tambahan (Berg A. Dan Sayogno, 1986). Kelurga

dengan penghasilan rendah akan menggunakan

sebagian besar dari keuangannya untuk membeli

makanan dan bahan makanan. Penghasilan yang rendah

berarti rendah pula jumlah uang yang akan dibelanjakan

sehingga bahan makanan untuk keluarga tersebut tidak

tercukupi untuk mendapatkan dan memelihara

kesehatan seluruh keluarga.


3. Tingkat pendapatan Keluarga
Faktor ekonomi merupakan akar masalah

terjadinya gizi kurang. Kemampuan keluarga untuk

mencukupi kebutuhan bahan makanan dipengaruhi oleh

tingkat pendapatan keluarga. Kelurga yang mempunyai


pendapatan relatif rendah sulit mencukupi kebutuhan

makanannya. Keadaan seperti ini biasanya terjadi pada

anaka balita dari kelurga berpenghasilan rendah.


4. Tingkat pengetahuan ibu
Menurut Suhardjo (1986), jika pengetahuan gizi

ibu baik, maka diharapkan status gizi ibu dan balitanya

baik, sebab gangguan gizi adalah kurangnya

pengetahuan tentang gizi. Ibu yang cukup pengetahuan

gizi akan memperhatikan kebutuhan gizi yang

dibutuhkan anaknya supaya dapat tumbuh dan

berkembang seoptimal mungkin. Sehingga ibu akan

berusaha memiliki bahan makanan sesuai yang

kebutuhan anaknya.
5. Penilaian Status Gizi Anak Prasekolah
Pada prinsipnya, penilaian status gizi anak serupa

dengan penilaian pada periode kehidupan lain. Pemeriksaan

yang lebih perlu diperhatikan tentu saja bergantung pada

bentuk kelaianan yang betalian dengan kejadian penyakit

tertentu. Kurang kalori protein, misalnya lazim menjangkiti

anak, Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap tanda dan gejala

kearah sana termasuk pula kelainanan lain yang menyertainya,

perlu dipertajam.
Anamnesis tentang asupan pangan harus

mencantumkan pula (selain wawamcara asupan pangan)

pertanyaan yang tekait dengan baik status gizi maupun

kesehatan gigi, asupan flour baik secara sistematik maupun

tropikal, frekuensi ngemil, jumlah mkananan yang disantap

antara dua waktu makan, asupan minuman bergula, seperti jus,


kopi, teh atau minuman bersoda. Anamnesis juga wajib

mencantumkan pola konsumsi obat karena kemungkinan

interaksi anatar makanan dan obat. Obat (baik yang diperoleh

dengan resep dokter maupun yang dibeli dengan sendiri)

berpotensi mengganggu pencernaan, penyerapan, metabolisme,

utilisasi, serta ekskresi terhadap zat gizi.


Pemeriksaan klinis diarahkan untuk mencari

kemungkinan adanya bintik bitot, xeriosis konjungtiva anemia,

pembesaran kelenjar parotis, kheilosisi angular, fluorosis,

karies, gondok, serta hepato, dan splenomegalin. Pemeriksaan

antropometri yang penting dilakukan adalah penimbangan

berat dan pengukuran tinggi badan, lingkar lengan, lipatan

kulit triseps. Pemeriksaan ini penting, terutama pada anak

prasekolah yang berkelas ekonomi dan sosial rendah.


Pengamatan anak dipusatkan terutama pada

percepatan tumbuh. Iaju pertumbuhan pada golongan usia ini

setidaknya diselenggarakan setahun sekali karena laju

pertumbuhan pada fase ini relatif lambat. Sebagai patokan,

pertambahan berat anak usia 5-10 tahun berkisar sampai 10 %

nya, sementara tinggi badan hanya bertambah sekitar 2 cm

setahun. Uji biokimiawi yang penting ialah pemeriksaan kadar

hemoglobin, serta pemeriksaan apusan darah untuk malaria.

Pemeriksaan tinja cukup hanya pemeriksaan occult blood dan

telur cacing saja.


6. Kerangka Teori

Pemahaman ibu tentang pesan


gizi seimbang
Faktor predisposisi :
Pendidikan
Sikap dan keyakinan
Ekonomi Status Gizi
Sosial budaya Anak Prasekolah
Pengalaman

Faktor pemungkin :
Sarana, dan prasarana :
puskesmas, posyandu

Faktor penguat :
Tokoh masyarakat petugas
kesehatan

Keterangan :

: yang diteliti

: yang tidak diteliti

Gambar 1.1 Kerangka Teori Hubungan Pemahaman Ibu Tentang Pesan Gizi

Seimbang Terhadap Status Gizi Anak Prasekolah Di TK RA Melati DesaParit

Padang Sungailiat

(Lawrence Green dalam Notoatmodjo,2003, Notoatmodjo,2003)

7. Kerangka Konsep

Pemahaman ibu
tentang pesan gizi
seimbang Status Gizi
(independen) (dependen)

8. Hipotesis
Ha : Ada hubungan pemahaman ibu tentang pesan gizi seimbang

terhadap status gizi anak prasekolah di TK Negeri Pembina 2

Kelurahan Air Itam Kota Pangkalpinang


Ho : Tidak ada hubungan pemahaman ibu tentang pesan gizi

seimbang terhadap status gizi anak prasekolah di TK Negeri

Pembina 2 Kelurahan Air Itam Kota Pangkalpinang