Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium
yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di
dalam darah (Sudoyo, 2006).
Malaria adalah penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh sporozoa
dari genus plasmodium yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Anopheles
(Pedoman dan Diagnosis Terapi, 2008).
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan hal ini terjadi maupun tidak setelah
orang tersebut melakukan penginderaan melalui panca indera terhadap suatu objek
tertentu (Notoatmodjo, 2003).
Berdasarkan data WHO, 2010 terdapat sebanyak 247 juta kasus malaria di
seluruh dunia yang menyebabkan lebih dari 1 juta kematian dari tahun 2008
sebagian besar dan kasus kematian malaria ditemukan di Afrika dan beberapa
negara di Asia. Menurut World Malaria Report tahun 2013 diperkirakan jumlah
kasus malaria di dunia sebanyak 207 juta dan kematian yang diakibatkan malaria
sebanyak 627 ribu. Penduduk dunia yang berisiko terkena penyakit malaria
hampir setengah dari keseluruhan penduduk di dunia, terutama negara-negara
berpenghasilan rendah. Penyebaran malaria tersebar luas di berbagai negara
beberapa diantaranya adalah Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, Oceania,
Amerika Tengah, Haiti, Republik Dominika, Brazil serta Negara Amerika Latin
lainnya.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi
malaria di Indonesia pada tahun 2013 adalah 6,0%. Terdapat 5 provinsi yang
mempunyai insidensi dan prevalensi tertinggi yaitu Papua, Nusa Tenggara Timur,
Papua Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku. Beberapa provinsi di wilayah
Kalimantan, Sulawesi, Sumatera merupakan provinsi dengan kategori sedang
sementara provinsi di Jawa dan Bali masuk dalam kategori rendah (Riskesdas,
2013). Di Indonesia penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang multi kompleks, sebab dapat meningkatkan kematian pada bayi,
anak di bawah lima tahun dan ibu melahirkan serta dapat menurunkan
produktifitas kerja dan bahkan dapat menimbulkan gangguan dan menurunkan
citra dan nilai politis suatu negara. Penyakit ini sebagian besar penderitanya
berasal dari daerah pedesaan dan golongan ekonomi lemah.
Menurut Profil Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur, jumlah penderita
malaria pada tahun 2014 sebanyak 68.967 orang, pada tahun 2015 berjumlah
36.128 orang, dan pada tahun 2016 berjumlah 233. 585 orang. Berdasarkan Dinas
Kesehatan Sumba Timur jumlah penderita malaria pada tahun 2015 sebanyak
1.446 orang, pada tahun 2016 berjumlah 3.964 orang, dan pada tahun 2017
berjumlah 7.621 orang. Berdasarkan data yang didapatkan di Puskesmas Mangili
jumlah penderita malaria pada tahun 2015 sebanyak 233 orang, pada tahun 2016
berjumlah 191 orang, dan pada tahun 2017 berjumlah 411 orang.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Pernyataan Masalah
Berdasarkan data WHO, 2010 terdapat sebanyak 247 juta kasus
malaria di seluruh dunia yang menyebabkan lebih dari 1 juta kematian dari
tahun 2008. Menurut World Malaria Report tahun 2013 diperkirakan
jumlah kasus malaria di dunia sebanyak 207 juta dan kematian yang
diakibatkan malaria sebanyak 627 ribu. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2013, prevalensi malaria di Indonesia pada tahun 2013 adalah 6,0%.
Terdapat 5 provinsi yang mempunyai insidensi dan prevalensi tertinggi
yaitu Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tengah dan
Maluku. Nusa Tenggara Timur, jumlah penderita malaria pada tahun 2014
sebanyak 68.967 orang, pada tahun 2015 berjumlah 36.128 orang, dan pada
tahun 2016 berjumlah 233. 585 orang. Sumba Timur jumlah penderita
malaria pada tahun 2015 sebanyak 1.446 orang, pada tahun 2016 berjumlah
3.964 orang, dan pada tahun 2017 berjumlah 7.621 orang. Puskesmas
Mangili jumlah penderita malaria pada tahun 2015 sebanyak 233 orang,
pada tahun 2016 berjumlah 191 orang, dan pada tahun 2017 berjumlah 411
orang.
1.2.2. Pertanyaan Masalah
Bagaimana Gambaran Pengetahuan Penderita Malaria Tentang
Kontrol Ulang Pasca Pengobatan di Desa Tamma Wilayah Kerja Puskesmas
Mangili Kecamatan Pahunga Lodu Kabupaten Sumba Timur ?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan Gambaran Pengetahuan Penderita Malaria
Tentang Kontrol Ulang Pasca Pengobatan di Desa Tamma Wilayah Kerja
Puskesmas Mangili Kecamatan Pahunga Lodu Kabupaten Sumba Timur.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengidentifikasi karakteristik penderita malaria.
2. Untuk mengidentifikasi pengetahuan penderita malaria tentang
kontrol ulang pasca pengobatan di Desa Tamma Wilayah Kerja
Puskesmas Mangili Kecamatan Pahunga Lodu Kabupaten
Sumba Timur.
3. Mengidentifikasi kontrol ulang pasca pengobatan malaria.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Puskesmas Mangili
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai landasan program dalam
pelaksanaan pengembangan penanggulangan atau pencegahan awal penyakit
malaria bagi masyarakat di Puskesmas Mangili Kecamatan Pahunga Lodu
Kabupaten Sumba Timur
1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebuah bahan masukan bagi institusi dan literature bagi peneliti
1.4.3. Bagi Peneliti
Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman secara langsung dalam
melakukan peneliti gambaran pengetahuan penderita malaria tentang kontol
ulang pasca pengobatan
1.5. Keaslian Penelitian
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Malaria
2.1.1. Definisi
Malaria adalah penyakit yang bersifatakut maupun kronik yang di sebabkan
oleh protozoa genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemi dan
splenomegali (Mansjoer, 2001)
Penyakit malaria adalah penyakit menular yang menyerang dalam bentuk
infeksi akut ataupun kronis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa genus
plasmodium bentuk aseksual, yang masuk ke dalam tubuh manusia dan di
tularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Istilah malaria di ambil dari dua kata
bahasa italia yaitu mal = buruk dan area = udara atau udara buruk karena dahulu
bayak terdapat di daerah rawa- rawa yang mengeluarkan bau busuk. Penyakit ini
juga mempunyai nama lain seperti demam roma, demam rawa, demam tropik,
demam charges, demam kura dan paludisma ( probowo, 2004)
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit plasmodium
yang hidup akan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini
secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk anopeles betina ( Depkes RI
1999) spesies plasmadium pada manusia:
a. Plasmodium falciparum ( P.falciparum)
b. Plasmodium vivax (P.vivax)
c. Plasmodium ovale (P.ovale)
d. Plasmodium malarie (P.malaria)
Dari keempat jenis malaria tersebut yang paling banyak dan sering kali
menimbulkan kematian adalah jenis plasmodium faciparum.
2.1.2. Siklus hidup plasmodium
a. Siklus pada manusia
Pada saat nyamuk anopheles infeksif mengisap darah manusia,sporazoit
yang berada di kelenjar liur nyamuk akan masuk dalam peredaran darah selama
lebih kurang ½ jam. Setelah itu sporazoit akan masuk kedalam sel dan menjadi
troposoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari
10.000 – 30. 000 merozoit hati ( tergantung spesiesnya). Siklus ini di sebut siklus
exsoeritrositer yang berlangsung selama lebih kurang 2 minggu. Pada p.vivax dan
p.ovale sebagai tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi
ada yang menjadi bentuk dormant yang di sebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut
dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan- bulan samapai bertahun- tahun.
Pada suatu saat bila imunisasi tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat
menimbulkan relaps (kambuh).
Merozoid yang berasal dari skison hati yang pecah akan masuk ke
peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah dalam sel darah merah, parasit
tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skison ( 8- 30 merozoit,
tergantung spesiesnya). Proses perkembangan aseksual ini di sebut skizogoni.
Selanjutnya erittrosit yang terinfeksi (skisin pecah merozoit yang keluar akan
menginfeksi sel darah merah lainnya. Setengan 2-3 siklus skizogoni di zarah,
sebagian merozoit yang menginfeksi sel darah merah akan membentuk stadium
seksual ( ganetosit jantung dan betina)
b. Siklus pada nyamuk anopheles betina
Apalagi nyamuk anopeles betina mengisap darah yang mengandung
dametosit, gamet jantan dan betina melakukan pembuahan menjadi sigot. Sigot
berkembang menjadi akibet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Pada
dinding luar nyamuk okinet akan menjadi okista dan selanjutnya menjadi
sporazoit. Sporazoit ini bersifat infekstif dan siap di tularkan ke manusia.
2.1.3. Masa inkubasi
Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporazoit masuk sampai timbul
gejala klinis yang di tandai dengan demam. Masa inkubasi berfariasi tergantung
spesies plasmodium ( tabel 2).
Tabel. 1. Masa inkubasi parasit malaria
Parasit Masa inkubasi (hari)
Plasmadium falciparum 9-14 (12hari)
Plasmodium vivax 12-17(15 hari)
Plasmodium ovale 16-18 (17 hari)
Plasmodium malariae 18-40 (28hari)
Sumber : Modul Penatalaksanaan Kasus Malaria, 2003
2.1.4. Cara penularan
Penyakit malaria seperti yang telah di terangkan di atas bahwa merupakan
salah satu jenis penyakit menular. Cara penularan penyakit malaria ini adalah di
tularkan melalui gigitan nyamuk malaria ( anopheles) bila nyamuk anopheles ini
menggigit orang lain yang sakit malaria, maka parasit akan ikut terhisap bersama
darah penderita. Dalam tubuh nyamuk, parasit tersebut berkembang biak. Sesudah
7-14 hari apalagi nyamuk tersebut menggigit orang sehat, maka parasit tersebut
akan di tularkan ke orang tersebut. Di dalam tubuh manusia parasit akan
berkembang biak, menyerang sel- sel darah merah. Dalam waktu kurang lebih 12
hari, orang tersebut akan terserang penyakit malaria.
Orang yang terinfeksi, sporosit memasuki sel- sel hati dan membentuk
stadium yang di sebut skizon exsoeritrosoter. Sel –sel hati yang tersebut pecah
dan parasit akseksual ( merosoit jarinagan ) memasuki aliran darah, berkembang
( membentuk siklus eritrositer). Umumnya perubahan dari troposoit mendi skison
yang matang dalam darah memerlukan waktu 48-72 jam, sebelum melepaskan 8-
30 merosoit eritrositik ( tergantung spesies) untuk menyerang eritrosit- eritrosit
lain. Gejala klinis terjadu pada tiap siklus karena pecahnya sebagian besar skison-
skison eritrosit. Di daam eritrosit- eritrosit yang terinfeksi, beberapa merosoit
berkembang menjadi bentuk seksual yang gamet jantan (mikro gamet) dan gamet
betina ( makro gamer).
Periode antara nyamuk yang terinfeksi dengan di temukannya parasit
dalam sediaan darah tebal disebut periode prepaten yang biasanya berlangsung
antara 6-12 hari pada plasmodium malarie (mungkin lebih singkat atau lebih
lama). Penundaan serangan pertama pada beberapa strain plasmodium vivax
berlangsung selama 6-12 bulan setelah gigitan nyamuk.
2.1.5. Manifestasi klinis
Gejala ringan penyakit malaria ini di tandai dengan:
a. Demam menggigil secara berkala dan biasanya di sertai sakit
kepala.
b. Terkadang di mulai dengan badan terasa lemah, mual atau muntah
tidak napsu makan.
c. Pucat. Hal ini di sebabkan karena kurang darah.
Gejala berat penyakit malaria ini di tandai dengan:
a. Kehilangan kesadaran
b. Demam tinggi
c. Kejang- kejang
d. Napas cepat
e. Muntah terus
f. Kuning pada mata
g. Kencing berwarna teh tua
h. Pingsan sampai koma
2.1.6. Pencegahan
a. Pencegahan berbasis masyarakat
Masyarakat perilaku hidup bersih dan sehat antara lain dengan
memperhatikan kebersihan lingkungan untuk menghilangkan perindukan
nyamuk. Gerakan kebersihan lingkungan ini dapat menghilangkan
tempat- tempat perindukan nyamuk secara permanen dari lingkungan
pemukiman. Air tergenang di alirkan di keringkan atau di timbu. Saluran –
saluran di kolam – kolam air di bersihkan. Aliran air pada selokan dan
parit – parit di percepat
Sebelum di lakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida
dengan efek residuan terhadap nyamuk dewasa. Lakukan setelah yang di
teliti terhadap bionomik dari nyamuk di daerah tersebut. C
Telah bionomik ini perlu juga di lakukan di daerah di mana sifat –
sifat nyamuk anopheles beristrahat dan mengisap darah di dalam rumah
(faktor yang endophilic dan endohaigic).
b. Tindakan pencegahan perorangan
Bagi mereka yang melakukan ke daerah endemik yng endemis
malaria harus memperhatikan hal- hal sebagai berikut:
1. Jangan bepergian antara senja dan malam hari
karena pada saat itu umumnya nyamuk menggigit.
Kenakan celana panjang dan baju lengan panjang
dengan warna terang karena warna gelap menarik
perhatian nyamuk
2. Gunakan lotion anti nyamuk ( autan )pada kulit
yang terbuka.
3. Tinggalkan dalam rumah yang mempunyai
konstruksi yang baik dan gedung yang terpelihara
denagn baik yang terletak di perkotaan yang paling
maju.
4. Gunakan kawat kasa anti nyamuk pada pintu dan
jendela, jika tidak ada tutuplah jendela dan pintu
pada malam hari.
5. Jika tempat tinggal dapat di masuki nyamuk
gunakan kelambu pada saat tidur.
2.1.7. Pemberantasan
Upaya pemberantasan penyakit malaria di daerah endemis di dasarkan
pada diagnosa dan pengobatan dini dengan obat dan upaya pencegahan yang
tepat. Sesuai dengan situasi lokal. Pengobatan yang tepat dan dini mencegah
kematian tinggi di mna anak- anak merupakan kelompok resiko utama, maka
institusi pelayanan kesehatan formal tidak cukup, dalam situasi seperti ini
pengobatan harus di tingakatkan ke rumah. Tesistensi obat juga menjadi masalah.
Untuk faksiparum di anjurkan pemakaian obat kombinasi termasuk penggunaan
artimisin.
Cara memberantas Malaria dapat di alakukan dengan tiga cara yaitu:
a. Memutuskan Siklus Hidup Plasmodium
b. Memutuskan vektor plasmodium di lakukan dengan cara
menghilangkan tempat – tempat larva nyamuk bersarang. Cara
memutuskan siklus hidup nyamuk tersebut dengan cara:
 Menutup tempat – tempat air
 Menimbun genasan –genasan air
 Menguras bak mandi atau tempat penampungan air
lainnya minimal seminggu sekali.
c. Memberantas Vektor
Memberantas vektor dengan menggunakan obat pembunuh serangga
(insektisida). Menurut WHO dalam Giudeline For Laboratory And
field Testing of LLINs adalah kelambu berinsektisida ( kelambu yang
sudah di lapisi racun serangga) buatan pabrik yang di harapkan dapat
mempertahankan aktifitas biologi sampai jumlah minimum dari standar
WHO untuk pencucian dan periode waktu minimum dibawah kondisi
lapangan.
2.1.8. Pengobatan pada penderita
Pengobatan pada penderita penyakit malaria dengan menggunakan obat
malaria yang sesuai misalnya obat malaria kina atau kloriquine. Pemberantasan
dari penyakit malaria sangat berhubungan erat dengan aspek Entomologi yang
mengandung bionomik nyamuk vektornya.
2.2. Konsep Pengetahuan
2.2.1. Definisi
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan hal ini terjadi maupun tidak setelah
orang tersebut melakukan penginderaan melalui panca indera terhadap suatu objek
tertentu (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan tentang penularan penyakit malaria
tidak mengalami kenaikan, kecuali dalam hal cara mengobati penyakit malaria.
Hal ini di sebabkan tingkat pengetahuan yang sudah di miliki oleh masyarakat
sebelum intervensi karena sudah merupakan daerah yang telah banyak melakukan
upaya penanggulangan penyakit malaria, seperti penyemprotan. Demikian juga
dengan pengetahuan tentang pencegahan gigitan nyamuk juga hanya mengalami
sedikit perubahan, sebelum intervensi masih cukup banyak masyarakat yang
mengusir nyamuk mengunakan daun kelapa dan lain sebagainya sebagai
kebiasaan masyarakat. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sengat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, mengungkapkan bahwa sebelum
orang mengadopsi baru
(baru) didalam diri orang terjadi berurutan, yaitu:
1. Awarenees (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui stimulus (obyek) terlebih dahulu.
2. Interest (merasah tertarik),yaitu orang mulai tertarik terhadap stimulus,
disini sikap subjek sudah mulai timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya.hal ini sikap responden sudah mulai baik.
4. Trial dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa
yang dikehendaki stimulus
5. Adaption dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan,kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian dari peneliti selanjutnya rogers menyempulkan bawa
perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap di atas. Apabilah
penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku malalui proses seperti ini
dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif
makan perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting) sebaliknya
apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka
tidak akan berlansung lama.
Mengunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah kesehatan dari
kasus yang di berikan.
a) Analisis ( analysis).
Suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau obyek
kedalam komponen –komponen tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tersebut. Kemampuan analisah ini dapat dilihat dengan
kata kerja membuat bagan, membedakan, memisakan,
menglompokan,dan sebagainya.
b) Sintesin(synthesis).
Suatu kemampuan untuk meletakan atau menhubunkan bagian-
bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau
kemampuan untuk menyusun formulah baru misalnya dapat
memecakan, merencanakan, dapat menyesuaikan dan sebagainya
terhadap suatu teori atau rumusan –rumusan yang telah ada.
c) Evaluasi(evaluation).
Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penalaran terhadap
materi atau obyek. Penalaran ini berdasarkan suatu kriteria yang
di tentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.
2.2.2. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), dari berbagai macam yang telah digunakan
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat
dikelompokkan menjadi :
1) Cara Tradisional : Cara tradisional atau cara kuno ini dipakai orang
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum diketemukan metode
ilmiah ini atau metode penemuan secara sistematik dan logis. Cara
tradisional meliputi :
a. Cara coba salah (Trial and Error), merupakan cara yang paling
tradisional dan dipakai orang sebelum adanya kebudayaan,
bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba-coba ini
dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak
berhasil maka dicoba kembali dengan kemungkinan yang lain.
Apabila kemungkinan yang kedua ini gagal pula maka dicoba
kembali dengan kemungkinan ketiga dan seterusnya sampai
masalah tersebut terpecahkan. Penggunaan metode ini arah yang
lebih sempurna
b. Kekuasaan dan otoritas dalam kehidupan manusia sehari-hari,
banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi yang dilakukan
oleh orang tanpa melalui penalaran tapi kebiasaan ini biasanya
diwariskan turun-temurun dan generasi ke generasi berikutnya.
Kebiasaan-kebiasaan ini seolah-olah diterima dari sumbernya
kebenaran yag mutlak. Sumber pengetahuan ini dapat diperoleh
berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik tradisi, otoritas
pemerintahan, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu
pengetahuan.
c. Berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman adalah guru yang
terbaik. Bunyi pepatah ini mengandung maksud bahwa
pengalaman itu merupakan memperoleh kebenaran pengetahuan.
Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai
upaya memperoleh pengetahuan dan untuk kesimpulan dari
pengalaman dengan benar diperlukan berpikir kritis dan logis.
d. Melalui jalan pikiran, sejalan dengan perkembangan kebudayaan
umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang.
Kemudian dari sini manusia telah mampu menggunakan
penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya, dengan kata
lain dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah
menjalankan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun
deduksi.
2) Cara modern: Cara ilmiah atau cara modern, yakni cara baru atau
modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis,
logis dan ilmiah. Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah” atau lebih
populer disebut metodologi penelitian.
2.2.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai
berikut (Notoatmojo,2003) :
a. Pen didikan: Pendidikan berarti timbangan yang diberikan seseorang
kepada orang lain terhadap suatu hal agar mereka dapat memahami.
Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi dan pada
akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya,
sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah akan
menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan
informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan. Pendidikan dalam
arti formal sebenarnya adalah suatu proses penyampaian bahan/materi
pendidikan oleh pendidik kepada sasaran guna mencapai perubahan
tingkah laku.
b. Pekerjaan: Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang
memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung
maupun secara tidak langsung.
c. Umur: Bertambah umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek
fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan pada fisik secara garis
besar ada empat kategori perubahan. Pertama perubahan ukuran,
kedua perubahan proporsi, ketiga hilangnya ciri-ciri lama, keempat
timbulnya ciri-ciri baru. Perubahan ini terjadi akibat pematangan
fungsi organ. Aspek psikologis atau mental, taraf berpikir seseorang
semakin matang dan semakin dewasa. Bertambahnya umur seseorang
dapat berpengaruh terhadap pertambahan pengetahuan yang
diperolehnya, akan tetapi pada umur tertentu atau menjelang usia
lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan
akan berkurang.
d. Minat: Sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi
terhadap sesuatu minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan
menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang
lebih mendalam.
e. Pengalaman: Pengalaman adalah kejadian yang pernah dialami
seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada
kecenderungan pengalaman yang kurang baik seseorang akan
berusaha untuk melupakannya, namun jika pengalaman terhadap
objek tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul
kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi
kejiwaannya dan akhirnya dapat pula membentuk sikap positif dalam
kehidupannya.
f. Kebudayaan lingkungan sekitar: Lingkungan merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Lingkungan
memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, di mana seseorang
dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk
tergantung pada sifat kelompoknya. Lingkungan seseorang akan
memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berpikir
seseorang. Kebudayaan di mana kita hidup dan dibesarkan
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukkan sikap kita.
Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga
kebersihan lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya
mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan,
karena lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukkan sikap
pribadi atau sikap seseorang.
g. Informasi: Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat
membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan
yang baru. Informasi akan memberikan pengaruh terhadap
pengetahuan seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan
yang rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari
berbagai media misalnya TV, radio atau surat kabar maka hal itu akan
dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.
2.2.4. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek peneliti atau
responden kedalam pengetahuan yang ingin diukur atau dapat disesuaikan dengan
tingkatan tersebut diatas,sedangkan kualitas pengetahuan dapat dilakukan dengan
Kriteria Tingkat Pengetahuan : Menurut Arikunto (2011), mengemukakan bahwa
untuk mengetahui secara kualitas tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh
seseorang dapat dibagi menjadi tiga tingkat yaitu : a. Baik : 76 – 100, b. Cukup :
56 – 75 %, c. Kurang : 40 - 55 %.
2.3. Konsep Kontrol Ulang
BAB 3
KERANGKA KONSEP
3.1. Kerangka Konsep

Pengetahuan Pasca pengobatan Kontrol Ulang


penderita malaria

Keterangan :
: Diteliti
: Mempengaruhi

Gambar 3.2 Kerangka Konsep


3.2. Definisi Operasional
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang di gunakan penelitian ini adalah kuantitatif untuk
mendapatkan gambaran pengetahuan penderita malaria tentang kontrol
ulang pasca pengobatan di desa tamma wilayah kerja Puskesmas Mangili
Kecamatan Pahunga Lodu Kabupaten Sumba Timur.
4.2. Rancangan penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif yang bertujuan
untuk mengetahui gambaran pengetahuan penderita malaria tentang kontrol
ulang pasca pengobatan di desa tamma wilayah kerja puskesmas mangili
Kecamatan Pahunga Lodu Kabupaten Sumba Timur
4.3. Populasi dan Sampel
4.3.1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan dari variabel yang menyangkut
dengan masalah yang diteliti (Nursalam,2013).
4.3.2. Sampel
Sampel adalah populasi terjangkau yang dapat di pergunakan
sebagai subjek melalui sampling (Nursalam,2013).
4.4. Variabel Penelitian
4.4.1. Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau
nilainya menentukan variabel lain atau suatu kegiatan stimulus yang di
manipulasi oleh peneliti menciptakan suatu dampak pada variabel
dependen (Nursalam,2013).
4.4.2. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah respon akan muncul sebagai akibat dari
manipulasi suatu variabel – variabel lain (Nursalam,2013).
4.5. Instrumen Penelitian
4.6. Lokasi dan Waktu Penelitian
4.6.1. Lokasi
Lokasi penelitian adalah Puskesmas Mangili Kecamatan Pahunga Lodu
Kecamatan Sumba Timur.
4.6.2. Waktu
4.7. Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa cara dalam
memperoleh data-data :
1. Teknik pengumpulan data
a. Data Primer
Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh
melalui lembaran kuesioner.
b. Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh atau
didapatkan dari Puskesmas Mangili.
2. Pengolahan Data
Pengolahan data dengan menggunakan editing, decoding, dan membuat
tabulasi.
a. Editing : Yaitu untuk melihat apakah data yang diperoleh sudah terasa
lengkap atau kurang.
b. Coding : Mengklasifikasikan jawaban dari responden menurut
macamnya dengan memberi kode pada masing-masing jawaban
menurut item pada kuesioner.
c. Scoring : Pemberian Skor/nilai pada masing-masing jawaban
responden.
d. Tabulasi : Mengelompokkan data dalam bentuk tabel.
4.8. Cara Analisis Data
4.9. Etika Penelitian
1. Informed consent (lembar persetujuan menjadi responden)
Tujuannya adalah subyek mengetahui maksudt dan tujuan peneliti, jika
subyek bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan.
Jika subyek menolak untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan tetap
menghormati haknya.
2. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak akan
mencantumkan nama subyek pada lembar pengumpulan data (kuesioner)
dimana lembar persetujuan hanya diberi nomor kode tertentu.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subyek dijamin oleh peneliti.
4.10. Jadwal Penelitian