Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Industri adalah suatu kelompok usaha yang menghasilkan produk yang serupa
atau sejenis. Sedangkan produk adalah barang atau jasa yang ditawarkan oleh suatu
usaha. Kegiatan industri bertujuan untuk menghasilkan suatu produk dengan
spesifikasi tertentu. Dalam melakukan kegiatan proses produksi dipeerlukan bahan
baku, energi dan air serta penunjang lain. Kebutuhan bahan baku industri di penuhi
oleh sumber daya alam.
Suatu industri khususnya industri dalam skala besar, komponen pergudangan
atau penyimpanan bahan baku merupakan aspek yang sangat penting untuk
diperhatikan. Industri pakan skala besar melakukan proses penerimaan bahan baku
dalam jumlah yang banyak dan waktu penyimpanan yang cukup lama. Jika bahan
baku jumlahnya banyak, dan tidak habis sekali pakai, namun pemakaiannya bertahap,
maka kestabilitasan barang tersebut harus dapat dijaga untuk menjaga kualitas. Hal
ini tentunya membutuhkan sistem pergudangan dan penyimpanan yang efektif untuk
bahan baku serta produk jadi yang diproduksi tersebut.
Dalam proses penyimpanan, setiap bahan dan produk jadi tersebut akan
berpeluang terjadi kerusakan. Kerusakan tersebut dapat berupa kerusakan fisik
ataupun kerusakan kimia dan biologis. Kerusakan fisik dalam penyimpanan bisa saja
menjadi pemicu untuk kerusakan secara kimia dan biologis. Oleh sebab itu, sifat fisik
suatu bahan sangat penting untuk diketahui terlebih dahulu sebelum dilakukan
penyimpanan terhadap bahan. Sifat fisik bahan tersebut meliputi kadar air, berat jenis,
aktivitas air, sudut tumpukan, kehalusan bahan, kerapatan tumbukan, kerapatan
pemadatan bahan, dan lain sebagainya.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan bahan baku dan penunjang dalam kimia industri?
2. Bagaimana penanganan bahan baku dan penunjang dalam kimia industri?
3. Bagaimana penyimpanan bahan dalam kimia industri?

C. Manfaat

Manfaat dari makalah ini yaitu :


1. Dapat mengetahui apa itu bahan baku dan penunjang dalam kimia industri
2. Dapat mengetahui penanganan bahan baku dan penunjang dalam kimia industri
3. Dapat mengetahui penyimpanan bahan baku dan penunjang dalam kimia industri
BAB II
PEMBAHASAN

A. Bahan Baku Dan Penunjang Dalam Kimia Industri

Bahan baku merupakan salah satu unsur yang paling aktif didalam perusahaan
yang secara terus-menerus diperoleh, diubah yang kemudian dijual kembali.
Sebahagian besar dari sumber-sumber perusahaan-perusahaan juga sering dikaitkan
dalam persediaan bahan baku yang akan digunakan dalam operasi perusahaan pabrik.
Bahan baku adalah bahan baku yang diolah menjadi produk bahan jadi dan
pemakaian dapat diindentifikasikan secara langsung atau diikuti jejaknya atau
merupakan integral dari produk tertentu.
Beberapa bahan baku diperoleh secara langsung dari sumber-sumber alam.
Namun demikian, lebih sering lagi bahwa bahan baku diperoleh dari perusahaan lain
dan ini merupakan produksi akhir dari para pensuplai. Sebagai contoh, kertas cetak
merupakan produk akhir dari pabrik kertas, akan tetapi merupakan bahan baku bagi
perusahaan percetakan. Meskipun istilah bahan baku dapat digunakan secara luas
untuk menutup seluruh bahan baku yang dipergunakan dalam produksi. Sebutan
acapkali dibatasi untuk barang-barang yang secara fisik dimasukkan dalam produk
yang diproduksi.
Istilah Bahan Pembantu Pabrik (factory supplies) atau Bahan Pembantu
Produksi (Manufacturing Supplies), kemudian dipergunakan untuk menyebut bahan
tambahan, yaitu bahan baku yang diperlukan dalam proses produksi tetapi tidak
secara langsung dimasukkan dalam produk. Minyak dan bahan bakar untuk peralatan
pabrik, bahan pembantu pembersih, dan pos-pos serupa digolongkan dalam bentuk
kelompok ini karena pos-pos ini tidak dimasukkan dalam suatu produk tetapi hanya
membantu dalam produksi secara keseluruhan. Bahan baku yang secara langsung
digunakan dalam produksi barang-barang tertentu disebut bahan langsung; bahan
pembantu pabrik disebut bahan tidak langsung.
Bahan penunjang yang digunakan dalam proses produksi yang dikenakan
langsung terhadap bahan baku yang sifatnya hanya membantu atau mendukung
kelancaran proses produksi dan bahan ini bukan bagian dari produk akhir. Bahan
penolong ini tidak tampak pada barang jadi.

B. Penanganan Bahan Baku dan Penunjang Kimia Industri

Material handling (penanganan bahan) dapat diartikan sebagai menangani


material dengan menggunakan peralatan dan metode yang benar. Perencanaan sistem
material handling merupakan suatu komponen penting dalam perencanaan fasilitas
terutama dalam kaitannya dengan desain tata letak. Oleh karena itu, perencanaan tata
letak dan perencanaan penanganan material selalu saling terkait satu dengan yang
lainnya.
Kegiatan penanganan bahan baku dan penunjang bertujuan untuk efisiensi
penggunaan bahan baku danpenunjang, dengan cara :
1. Memantau konsumsi bahan baku dan penunjang serta merencanakan produksi
secara maksimal.
2. Mengkaji kehilangan bahan baku dan penunjang secara rutin dan terencana mulai
dari pengangkutan pada saat pembelian, penyimpanan dan pemakaian.
3. Menghindari kehilangan akibat tumpahan dan / atau kebocoran pada pipa maupun
peralatan.
4. Melaksanakan pemeliharaan peralatan untuk mencegah terjadinya kerusakan bahan
baku dan penunjang.
5. Mengganti dan / atau mengurangi pemakaian bahan baku dan penunjang yang
bersifat berbahaya dan beracun (B3) terhadap lingkungan dan manusia.
Beberapa prinsip dasar yang perlu mendapat perhatian di dalam perencanaan
penanganan material (material handling) adalah sebagai berikut:
- Sistem material handling yang disusun harus memenuhi tujuan dan persyaratan
dasar.
- Sistem penanganan dan penyimpanan hendaknya terintegrasi.
- Peralatan material handling dan prosedurnya didisain sedemikian rupa dengan
mempertimbangkan faktor kemampuan manusia dan keterbatasanya
- Metode dan peralatan material handling yang dipilih harus memberikan biaya per
unit angkut yang rendah
- Faktor pemakaian energi dari sistem material handling dan prosedurnya harus
diikutsertakan dalam melakukan justifikasi ekonomi.
- Pemakaian ruangan yang seefektif mungkin
- Sedapat mungkin memanfaatkan gaya berat dalam memindahkan material dengan
tetap memperhatikan keterbatasan
- Gunakan komputerisasi dalam material handling
- Dalam penanganan dan penyimpanan arus data harus terintegrasi dengan arus fisik
material
- Urutan operasi dan tata letak peralatan harus efektif dan efisien
- Standarisasikan metode dan peralatan material handling.
- Mekanisasikan peralatan material handling untuk efisiensi
- Metode dan peralatan material handling harus mempunyai dampak minimal
terhadap lingkungan
- Metode penanganan harus sesederhana mungkin dengan mengeliminasi,
mengurangi atau mengkombinasikan gerakan dan atau peralatan yang tidak perlu
- Metode dan peralatan harus bisa menangani berbagai kondisi operasi
- Metode dan peralatan material handling harus sesuai dengan peraturan keselamatan
yang berlaku.
- Sistem material handling harus mencakup jadwal pemeliharaan, jadwal perbaikan,
serta kebijakan jangka panjang.
Jenis Peralatan Material Handling

Tulang punggung sistem material handling adalah peralatan material handling.


Sebagian besar peralatan yang ada mempunyai karakteristik dan harga yang berbeda.
Semua peralatan material handling diklasifikasikan ke dalam tiga tipe utama yaitu:

1. Conveyors

Conveyors adalah suatu peralatan yang memindahkan bahan-bahan baik dengan


arah horizontal maupun vertical antara dua tempat tetap. Tipe-tipe peralatan lain yang dapat
ditempatkan dalam kategori ini adalah escalator, pipa, elevator, belt, dll.
Karakteristik pertama conveyors adalah bahwa peralatan ini memberikan route
perpindahan yang tetap. Karakteristik kedua adalah bahwa conveyors memanfaatkan
ruangan secara terus menerus. Beberapa tipe conveyor: Roller conveyor dan Privoted
bucket conveyor.

2. Truk dan Peralatan Mobil

Kendaraan-kendaraan ini digerakan dengan tenaga tangan, minyak, atau listrik dan
mempunyai kemampuan mengankut barang-barang dengan arah horizontal. Berlawanan
dengan conveyors, truk dan kendaraan sejenisnya merupakan variable-path equipment,
karena dapat bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain sepanjang permukaan jalan yang
tersedia memungkinkan dan tidak dirintangi.
Peralatan-peralatan ini juga tidak seperti conyeyors, dalam hal ini pemanfaatan ruang
secara tertentu secara “intermittent”. Sebagai konsekuensinya, walaupun ruangan
digunakan untuk kendaraan pada lokasi tertentu, ruangan tersebut bebas untuk penggunaan
lainnya. Dari situasi tertentu, perusahaan menggunakan tipe peralatan penanganan bahan
ini Karena karakteristik-karakteristiknya yang tidak memerlukan route tetap dan tidak
memanfaatkan ruangan secara terus menerus. Beberapa tipe peralatan mobil
industrial tractor, Platform truck
3. Derek dan Kerekan (cranes and hoists)

Peralatan-peralatan ini dalam kondisi tertentu, mampu memindahkan bahan-bahan


secara verikal dan lateral dalam ruangan dengan kepanjangan, kelebran, ketinggian
terbatas. Tentu saja berbagai jenis perlatan ini dapat dipindah-pindahkan daru satu lokasi ke
lokasi lain bila dinaikan ke atas traktor truk, atau kendaraan lainnya.
Cranes and hoists bisa digunakan pada pekerjaan-pekerjaan konstruksi, pengangkutan
barang-barang berat dari tempat kerja satu ke departemen lainnya serta pembokaran cargo
di dok-dok pelabuhan. Beberapa tipe derek dan kerekan: Crane , Chain Hoist dan clawler
crane

Faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memilih tipe-tipe peralatan


penanganan bahan yang akan digunakan dan berapa banyak setiap tipe akan diperlukan.
Faktor-faktor pertimbangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jalur pengangkutan

Jalur pengangkutan yang akan diikuti oleh bahan atau orang yang akan
meninggalkan lokasi tertentu. Bila jalur adalah tetap, perusahaan akan mempertimbangkan
menggunakan conveyer, atau fixed path equipment lainnya. Sebaliknya bila jalur harus
dilalui bersifat variable, sebagai karakteristik produksi terputus-putus (intermittent),
perusahaan sebaiknya menggunakan truk dan derek, atau variable path equipment lainnya.

2. Sifat objek yang diangkut

Bila mengangkut orang-orang peralatan seperti elevator, escalator, dan bus adalah
alternatif peralatan yang dapat dipilih. Bila mengangkut bahan- bahan perlu pertimbangan
tentang bentuk, ukuran, ketajaman, berat, dan daya tahannya.

3. Karakteristik-karakteristik bangunan

Kapasitas beban lantai akan mempengaruhi berat peralatan material handling yang
dapat digunakan. Ketinggian atap, dan kekuatan tiang-tiang penyangga, penempatan
lorong-lorong dan ukuran pintu sering membatasi jenis dan ukuran peralatan yang dapat
digunakan. Dismaping itu, bentuk bangunan yang bertingkat memerlukan peralata khusus
seperti elevator, dan juga sistem ventilasi mempengaruhi penggunaan truk-truk bertenaga
bahan bakar.

4. Keadaan ruang yang tersedia

Bila luas lantai terbatas, tetapi ruangan di atap tersedia, derek dan kerekan aka lebih
cocok dibandingkan truk dan conveyor. Dalam kejadian dimana jenis ruangan tersebut
terbatas, truk-truk kecil, conveyor dan derek akan sesuai.

5. Kapasitas peralatan penanganan yang diperluka

Faktor ini akan menentukan jumlah peralatan tipe tertentu dibutuhkan, dimana ini
juga tergantung pada jumlah ahan yang diangkut per periode.

6. Biaya setiap metode alternative

Faktor biaya menyangkut dana yang tersedia bagi pengadaan peralatan-peralatan


penanganan bahan.

B. Penyimpanan Bahan Baku dan Penunjang Kimia Industri

Penyimpanan bahan baku atau produk jadi sangatlah penting khususnya


industri skala besar. Karena dalam prosesnya, industri skala besar selalu berproduksi
dalam jumlah banyak. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan
pasokan bahan, atau menjaga stabilitas jumlah produksi diperlukan suatu
penyimpanan. Volume bahan pakan yang disimpan berbeda-beda, semakin besar
volume, teknologi penyimpanan semakin rumit. Bentuk bahan yang disimpan pun ada
yang berupa bahan baku ataupun produk jadi. Jenis penyimpanan juga terdiri dari dua
jenis, yakni jenis penyimpanan diam/statis dan jenis penyimpanan bergerak, misalnya
impor bahan pakan dengan kapal laut. Teknik penyimpanan harus diperhatikan
dengan baik karena kerusakan atau kehilangan dapat terjadi selama proses
penyimpanan.
Beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan atau kehilangan tersebut yaitu
perubahan kimia, perkembangan mikroorganisme, perkembangan serangga, serangan
tikus, penggunaan wadah yang tidak baik, kondisi bahan yang tidak baik pengaruh
lingkungan yang buruk dan kesalahan penanganan oleh manusianya sendiri.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi terjadinya tumpahan, rusaknya
kualitas bahan baku dan penunjang akibat kadaluarsa maupun kontak dengan media
lain (udara, air, tanah, bahan lain, dll), dengan cara:
1. Memantau mutu bahan baku dan penunjang yang dibeli, termasuk kemasan.
Kemasan yang rusak dapat menyebabkan rusaknya kualitas bahan.
2. Menyimpan bahan baku dan penunjang secara benar dan baik. Misalnya tempat
penyimpanan harus terhindar dari banjir maupun kebocoran atap.
3. Melakukan penyimpanan dan pengambilan bahan dengan menerapkan prinsip
“yang terlebih dahulu masuk harus terlebih dahulu keluar/digunakan” atau istilah
umumnya adalah first in first out (FIFO)
4. Menyimpan bahan berbahaya dan beracun sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5. Membersihkan dan membuang dengan benar kemasan bekas, terutama kemasan
bahan berbahaya dan beracun sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6. Menangani bahan yang berbahaya dan beracun dengan baik sesuai dengan aturan
keselamatan kerja. Misalnya harus mengenakan masker dan sarung tangan.

Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi dan operasi industri


farmasi yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku, bahan kemas, dan obat jadi
yang belum didistribusikan. Selain untuk penyimpanan, gudang juga berfungsi untuk
melindungi bahan (baku dan pengemas) dan obat jadi dari pengaruh luar dan binatang
pengerat, serangga, serta melindungi obat dari kerusakan. Agar dapat menjalankan
fungsi tersebut, maka harus dilakukan pengelolaan pergudangan secara benar atau
yang sering disebut dengan manajemen pergudangan (Priyambodo, 2007).
Pergudangan adalah segala upaya pengelolaan gudang yang meliputi penerimaan,
penyimpanan, pemeliharaan, pendistribusian, pengendalian dan pemusnahan, serta
pelaporan material dan peralatan agar kualitas dan kuantitas terjamin (Badan
Nasional Penanggulangan Bencana, 2009).

1. Tujuan Penyimpanan
- Untuk menjamin pasokan (supply) bahan pangan untuk masa depan.
- Untuk menjamin ketahanan pangan.
- Persediaan bahan pangan dalam menghadapi paceklik.
- Menunjang kegiatan ekionomi.
- Persediaan benih.
- Persediaan logistik peperangan.
- Membantu memerangi kelaparan di daerah atau negara tertentu.
2. Peranan Penyimpanan dan Penggudangan
- Penangguhan hasil lebih
- Penyelamatan hasil panen
- Penyediaan bagi konsumen mendatang
- Secara tidak langsung merupakan usaha penuaan (aging), mendidik untuk
berhemat dan merangsang kenaikan produksi
- Penanganan hasil dalam rangka mengurangi kehilangan
- Sebagai perantara pengguna sendiri, industri atau pemasaran
- Untuk mendapatkan keuntungan lebih baik
- Untuk ketahanan nasional antara lain stabilitas keamanan & politik
- Untuk senjata politik
3. Macam-macam Penyimpanan Hasil Pertanian
A. Tata niaga
1. Penyimpanan di tingkat petani
2. Penyimpanan di tingkat pengumpul,pedagang,koperasi,industri pengolahan
3. Penyimpanan stok nasional (khusus untuk bahan pokok)
4. Penyimpanan di tingkat konsumen (pasar,swalayan)
B. Waktu Penyimpanan
1. Penyimpanan jangka panjang
2. Penyimpanan jangka menengah
3. Penyimpanan jangka pendek
4. Penyimpanan Transit
5. Penyimpanan Pajang
4. Kehilangan Dan Kerusakan Bahan Pangan Selama Penyimpanan
1. Sebagaimana pada mata rantai sistem pangan yang lain (panen, pra-pengolahan,
transportasi, pengolahan, distribusi, pemasaran) pada penyimpanan juga terjadi
kehilangan dan kerusakan, jika sistem penyimpanan tidak dilakukan dengan benar.
2. Kehilangan adalah segala bentuk perubahan dalam ketersediaan, kelayakan
konsumsi (edibility), dan mutu bahan pangan, yang mengakibatkan bahan pangan
tersebut tidak dapat atau tidak layak dikonsumsi oleh manusia.
PROSES PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN DI INDUTRI

Penyimpanan Hortikultura (Sayur dan Buah) dan produk Olahan


1. Penyimpanan pada Suhu rendah
2. Penyimpanan dengan Pengendalian Atmosfir
3. Penyimpanan dengan Modifikasi Atmosfir
Penyimpanan Bebijian & Produk Olahan
- Penyimpanan pada kadar air normal
- Penyimpanan pada kadar air tinggi
- Penyimpanan Vakum dan Modifikasi Atmosfer
Penyimpanan Daging & Produk Olahannya
1. Pendinginan (Chilig)
2. Perawatan (Curing)
3. Pembekuan
4. Atmosfir Terkendali
Penyimpnan Ikan & Produk Olahan
1. Pendinginan
2. Pembekuan
3. Suhu ruang (Tepung dlm kemasan)
SYARAT-S YARAT GUDANG UNTUK PENYIMPANAN
1. Harus ada prosedur tetap (Protap) yang mengatur tata cara kerja bagian gudang
termasuk di dalamnya mencakup tentang tata cara penerimaan barang,
penyimpanan, dan distribusi barang atau produk.
2. Gudang harus cukup luas, terang dan dapat menyimpan bahan dalam keadaan
kering, bersuhu sesuai dengan persyaratan, bersih dan teratur.
3. Harus terdapat tempat khusus untuk menyimpan bahan yang mudah terbakar
atau mudah meledak (misalnya alkohol atau pelarut-pelarut organik).
4. Tersedia tempat khusus untuk produk atau bahan dalam status ‘karantina’ dan
‘ditolak’.
5. Tersedia tempat khusus untuk melakukan sampling (sampling room) dengan
kualitas ruangan seperti ruang produksi (grey area).
6. Pengeluaran bahan harus menggunakan prinsip FIFO (First In First Out) atau
FEFO (First Expired First Out) (Priyambodo, 2007).
BANGUNAN GUDANG INDUSTRI
Area penyimpanan harus dirancang untuk memastikan kondisi
penyimpanan yang baik sebagai berikut:
a. Kebersihan dan hygiene.
b. Kelembaban (kelembaban relatif tidak lebih dari 60%).
c. Suhu harus berada dalam batasan yang diterima (8-250C).
d. Bahan dan material yang disimpan tidak boleh bersentuhan langsung dengan lantai.
e. Jarak antar bahan mempermudah pembersihan dan inspeksi.
f. Pallet harus disimpan dalam kondisi yang bersih dan terawat (United Arab
Emirates Ministry of Health Drug Control Department, 2006).
PEMBAGIAN AREA GUDANG
Gudang di industri farmasi terbagi dalam beberapa area antara lain:
1. Area penyimpanan
Area penyimpanan harus memiliki kapasitas yang memadai untuk menyimpan
dengan rapi dan teratur. Bahan-bahan yang disimpan dalam gudang antara lain bahan
awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan, produk jadi, produk dalam
status karantina, produk yang telah diluluskan, produk yang ditolak, produk yang
dikembalikan atau produk yang ditarik dari peredaran. Produk ditangani dan disimpan
dengan cara yang sesuai untuk mencegah pencemaran, campur baur dan pencemaran
silang. Area penyimpanan diberikan pencahayaan yang memadai sehingga semua
kegiatan dapat dilakukan secara akurat dan aman. Bahan atau produk yang
membutuhkan kondisi penyimpanan khusus (seperti suhu dan kelembaban) harus
dikendalikan, dipantau dan dicatat, seperti:
a. Obat, vaksin dan serum memerlukan tempat khusus seperti lemari pendingin
khusus (cold chain) dan harus dilindungi dari kemungkinan putusnya aliran listrik.
b. Bahan kimia harus disimpan dalam bangunan khusus yang terpisah dari gudang
induk.
c. Peralatan besar/alat berat memerlukan tempat khusus yang cukup untuk
penyimpanan dan pemeliharaannya.
2. Area penerimaan dan pengiriman
Area penerimaan dan pengiriman barang harus dapat memberikan perlindungan
terhadap bahan dan produk dari pengaruh cuaca. Area penerimaan harus didesain
dan dilengkapi dengan peralatan untuk
pembersihan wadah barang. Suhu penyimpanan pada area ini sesuai dengan suhu
kamar (≤30oC).
3. Area karantina
Area karantina harus dibuat terpisah dengan penandaan yang jelas berupa label
kuning untuk produk karantina dan label hijau untuk produk yang diluluskan dan
hanya boleh diakses oleh personil yang berwenang.
4. Area pengambilan sampel
Area pengambilan sampel dibuat terpisah dengan lingkungan yang dikendalikan dan
dipantau untuk mencegah pencemaran atau pencemaran silang dan tersedia prosedur
pembersihan yang memadai untuk ruang pengambilan sampel.
5. Area bahan dan produk yang ditolak
Bahan dan produk yang ditolak disimpan dalam area terpisah dan terkunci serta
mempunyai penandaan yang jelas berupa label merah dan hanya boleh diakses oleh
personil yang berwenang.
6. Area bahan dan produk yang ditarik
Produk yang ditarik kembali dari peredaran karena rusak atau kadaluarsa harus
disimpan dalam area terpisah dan terkunci serta mempunyai penandaan yang jelas
dan hanya boleh diakses oleh personil yang berwenang.
7. Area penyimpanan produk psikotropik
Bahan yang berpotensi tinggi dan bahan radioaktif, narkotika, obat berbahaya lain
dan zat atau bahan yang berisiko tinggi terhadap penyalahgunaan, kebakaran atau
ledakan disimpan di daerah yang terjamin keamanannya. Obat narkotika dan obat
berbahaya disimpan di tempat terkunci.
8. Area bahan pengemas
Bahan pengemas cetakan merupakan bahan yang kritis karena menyatakan
kebenaran produk. Bahan label disimpan di tempat terkunci (BPOM, 2006).
SPESIFIKASI GUDANG UNTUK INDUSTRI
Gudang di industri farmasi mempunyai spesifikasi antara lain:
1. Lantai:
a. Terbuat dari beton padat dengan hardener, bersifat menahan debu dan tidak tahan
terhadap tumpahan larutan bahan kimia.
b. Terbuat dari beton dilapisi ubin keramik berwarna putih dengan kriteria harus
tahan terhadap bahan kimia dan goresan, mudah diperbaiki, memerlukan penutupan
celah, keras dan tangguh, licin bila basah.
2. Pencahayaan: 200 Lux (satuan kekuatan cahaya) (BPOM, 2009).
PEMBAGIAN GUDANG
Gudang di industri farmasi diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan Suhu Penyimpanan, yaitu:
a. Gudang suhu kamar (≤30oC).
b. Gudang ber-AC (≤25oC).
c. Gudang dingin (2-8oC).
d. Gudang beku (<0oC).
2. Berdasarkan Jenis, yaitu:
a. Gudang bahan baku: gudang bahan padat dan bahan cair.
b. Gudang bahan pengemas.
c. Gudang bahan beracun.
d. Gudang bahan mudah meledak/mudah terbakar (Gudang api).
e. Gudang bahan yang ditolak.
f. Gudang karantina obat jadi.
g. Gudang obat jadi (BPOM, 2009).
BAB V
PENUTUP