Anda di halaman 1dari 48

KELOMPOK

“POST POWER SYNDROME”

Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Kesehatan Mental

Dosen Pengampu
Sri Adi N, S.Psi, S.Pd, MM
Disusun Oleh :

1. Aenggit Aji Perdana 3C (1114500064)

2. Midha Azmilatul Ulfa 3C (1114500090)

3. Indriana Titi Nurjanah 3D (1114500085)

4. Khairuzaki 3D (1114500017)

5. Novi Damayanti 3D (1114500028)

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

TAHUN 2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas
limpahan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
pembuatan makalah tepat pada waktunya. Makalah ini berisikan tentang “Post
Power Syndrome”.

Dalam penyusunan makalah ini penulis sudah berusaha semaksimal


mungkin, namun kesempurnaan hanya milik Tuhan. Penulis mengharapkan kritik
dan saran dari pembaca yang membangun dengan kesempurnaan pembuatan
makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya bagi semua pihak atau pembaca.

Tegal, 22 Oktober 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................... i

Kata Pengantar .................................................................................................... ii

Daftar Isi.............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang .......................................................................................... 1


2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
3. Tujuan Masalah ......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Post Power Syndrome ............................................................. 3


2. Orang Yang Rentan Terkena Post Power Syndrome ................................ 9
3. Terjadinya Post Power Syndrome ............................................................. 11
4. Waktu Terjadinya Post Power Syndrome ................................................. 16
5. Cara Mengatasi dan Mencegah Post Power Syndrome............................. 24
BAB III KESIMPULAN

1. Kesimpulan ............................................................................................... 42
2. Saran.......................................................................................................... 42
Daftar Pustaka ........................................................................................... 43
Lampiran ................................................................................................... 45

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ada suatu penyakit kejiwaan yang terjadi dalam masyarakat yang sangat
ditakuti yaitu Post Power Syndrome. Fenomena ini biasanya muncul atau terjadi
pada orang-orang yang baru saja kehilangan kekuasaan maupun kelebihan-
kelebihan lainnya, baik karena pensiun, PHK, mutasi, kehilangan popularitas, atau
karena sebab lainnya. Pada saat tidak menjabat atau berkuasa dan tidak populer
lagi, seketika itu terlihat gejala-gejala kejiwaan atau emosi yang kurang stabil
yang biasanya bersifat negative. Mereka kecewa terhadap hidup, karena yang
bersangkutan tidak lagi dihormati dan dipuja-puji seperti ketika masih berkuasa
maupun saat memiliki kelebihan-kelebihan lainnya. Kondisi ini disebut sebagai
post power syndrome.
Pada gejala post power syndrome ini, khususnya adalah adanya gejala
yang terjadi dimana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalu
(kekuasaannya, karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kepopulerannya,
kecerdasannya, dll), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat
ini. Ketika semua itu tidak dimilikinya, maka timbullah berbagai gangguan psikis
dan phisik yang semestinya tidak perlu. Mereka bereaksi dan mendadak menjadi
sangat sensitive dan merasa hidupnya akan segera berakhir hanya karena masa
kejayaannya telah berlalu (Kartono, 1997)

B. Rumusan Masalah
1. Apa Post Power Syndrome ?
2. Siapa Yang Rentan Terkena Post Power Syndrome?
3. Mengapa Post Power Syndrome Dapat Terjadi ?
4. Kapan Post Power Syndrome Terjadi?
5. Bagaimana Cara Mengatasi Dan Mencegah Post Power Syndrome?

4
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian Post Power Syndrome.
2. Mengetahui orang yang mengalami Post Power Syndrome.
3. Menjelaskan terjadinya Post Power Syndrome.
4. Mengetahui kapan terjadinya Post Power Syndrome.
5. Menjelaskan cara mengatasi dan mencegah Post Power Syndrome.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2. 1. Pengertian Post Power Syndrome


Syndrome adalah kumpulan gejala-gejala negatif, sedangkan power adalah
kekuasaan, dan post adalah pasca. Dengan demikian terjemahan dari post power
syndrome adalah gejala-gejala setelah berakhirnya kekuasaan. Gejala ini
umumnya terjadi pada orang-orang yang tadinya mempunyai kekuasaan, namun
ketika sudah tidak berkuasa lagi, seketika itu terlihat gejala-gejala kejiwaan yang
biasanya bersifat negatif atau emosi yang kurang stabil.
Post power syndrome adalah gejala sindrom yang cukup populer di
kalangan orang lanjut usia khususnya sering menjangkit individu yang telah usia
lanjut dan telah pensiun atau tidak memiliki jabatan lagi di tempat kerjanya. Post
power syndrome merupakan salah satu gangguan keseimbangan mental ringan
akibat dari reaksi somatisasi dalam bentuk dan kerusakan fungsi-fungsi jasmaniah
dan rohaniah yang bersifat progresif karena individu telah pensiun dan tidak
memiliki jabatan ataupun kekuasaan lagi (Kartono, 2000:231).
Post power syndrome adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup
dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya,
ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa
memandang realita yang ada saat ini. Seperti yang terjadi pada kebanyakan orang
pada usia mendekati pensiun. Selalu ingin mengungkapkan betapa begitu bangga
akan masa lalunya yang dilaluinya dengan jerih payah yang luar biasa.
Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya post power syndrome.
Pensiun dini dan PHK adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang
mendapatkan pensiun dini tidak bisa menerima keadaan bahwa tenaganya sudah
tidak dipakai lagi, walaupun menurutnya dirinya masih bisa memberi kontribusi
yang signifikan kepada perusahaan, post power syndrom akan dengan mudah
menyerang. Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif

6
dan ditolak ketika melamar di perusahaan lain, post power syndrom yang
menyerangnya akan semakin parah.
Kejadian traumatik juga menjadi salah satu penyebab terjadinya post
power syndrome. Misalnya kecelakaan yang dialami oleh seorang pelari, yang
menyebabkan kakinya harus diamputasi. Bila dia tidak mampu menerima keadaan
yang dialaminya, dia akan mengalami post power syndrome. Dan jika terus
berlarut-larut, tidak mustahil gangguan jiwa yang lebih berat akan dideritanya.
Post power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah
lanjut usia dan pensiun dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil
melalui fase ini dengan cepat dan dapat menerima kenyataan dengan hati yang
lapang. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, dimana seseorang tidak mampu
menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang terus
mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, resiko
terjadinya post-power syndrome yang berat semakin besar.
Beberapa kasus post power syndrome yang berat diikuti oleh gangguan
jiwa seperti tidak bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi yang
berat, atau pada pribadi-pribadi introfert (tertutup) terjadi psikosomatik (sakit
yang disebabkan beban emosi yang tidak tersalurkan) yang parah.

Menurut
http://www.suyotohospital.com/index.php?option=com_content&view=art
icle&id=99:memahami-post-power-syndrome&catid=3:artikel&Itemid=2
dipostkan oleh Unit Psikologi Rehab Medik RSDS, diunduh pukul 10:00 tanggal
22 Oktober 2015.

7
Post power syndrome memiliki beberapa fase, antara lain :

Fase Penyesuaian Diri pada Saat Pensiun

Penyesuaian diri pada saat pensiun merupakan saat yang sulit, dan
terdapat tiga fase proses pension, yaitu :

1) Preretirement phase (fase pra pensiun)

Fase ini bisa dibagi pada 2 bagian lagi yaitu remote dan near. Pada
remote phase, masa pensiun masih dipandang sebagai suatu masa yang jauh.
Biasanya fase ini dimulai pada saat orang tersebut pertama kali
mendapat pekerjaan dan masa ini berakhir ketika orang terebut mulai
mendekati masa pensiun. Sedangkan pada near phase, biasanya orang mulai
sadar bahwa mereka akan segera memasuki masa pensiun dan hal ini
membutuhkan penyesuaian diri yang baik. Ada beberapa perusahaan yang
mulai memberikan program persiapan masa pensiun.

2) Retirement phase (fase pensiun)

Masa pensiun ini sendiri terbagi dalam 4 fase besar, dan dimulai
dengan tahapan pertama yakni honeymoon phase. Periode ini biasanya terjadi
tidak lama setelah orang memasuki masa pensiun. Sesuai dengan istilah
honeymoon (bulan madu), maka perasaan yang muncul ketika memasuki fase
ini adalah perasaan gembira karena bebas dari pekerjaan dan rutinitas.
Biasanya orang mulai mencari kegiatan pengganti lain seperti
mengembangkan hobi.
Kegiatan ini pun tergantung pada kesehatan, keuangan, gaya hidup
dan situasi keluarga. Lamanya fase ini tergantung pada kemampuan
seseorang. Orang yang selama masa kegiatan aktifnya bekerja dan gaya
hidupnya tidak bertumpu pada pekerjaan, biasanya akan mampu
menyesuaikan diri dan mengembangkan kegiatan lain yang juga
menyenangkan. Setelah fase ini berakhir maka akan masuk pada fase kedua

8
yakni disenchatment phase. Pada fase ini pensiunan mulai merasa depresi,
merasa kosong. Untuk beberapa orang pada fase ini, ada rasa kehilangan baik
itu kehilangan kekuasaan, martabat, status, penghasilan, teman kerja, aturan
tertentu. Pensiunan yang terpukul pada fase ini akan memasuki reorientation
phase, yaitu fase dimana seseorang mulai mengembangkan pandangan yang
lebih realistik mengenai alternatif hidup, mereka mulai mencari aktivitas
baru. Setelah mencapai tahapan ini, para pensiunan akan masuk pada stability
phase yaitu fase dimana mereka mulai mengembangkan suatu set kriteria
mengenai pemilihan aktivitas, dimana mereka merasa dapat hidup tentram
dengan pilihannya.

3) End of retirement (fase pasca masa pensiun)

Biasanya fase ini ditandai dengan penyakit yang mulai menggerogoti


seseorang, ketidak-mampuan dalam mengurus diri sendiri dan keuangan yang
sangat merosot. Peran saat seorang pensiun digantikan dengan peran orang
sakit yang membutuhkan orang lain untuk tempat bergantung.

Menurut http://srireskipsikologi.blogspot.co.id/2013/05/makalah-
psikologi-lansia-post-power.html dipostkan oleh Sri reski, diunduh pukul
10:00 tanggal 22 Oktober 2015.
Ahli gerontologi Robert Archley (1976), dalam Santrock, John W)
menggambarkan tujuh tahapan pensiun. Ketujuh tahapan pensiun ini dibagi
dalam dua tahapan yaitu pra-pensiun dan masa pensiun yaitu :
1) Fase Remote
Adalah fase permulaan fase pra-pensiun dimana para pekerja hanya sedikit
sekali yang memikirkan persiapan untuk pensiun dan mereka kebanyakan
mengharapkan bahwa pensiun tidak akan terjadi.
2) Fase Near
Para pekerja mulai berpartisipasi dalam sebuah program persiapan pensiun.
Program tersebut biasanya membantu para calon pensiun memutuskan kapan

9
dan bagaimana mereka akan membiasakan diri dengan penghasilan dan
aktivitas, hal ini juga terkait dengan hal fisik dan kesehatan mental.
3) Fase Honeymoon
Adalah fase paling awal dari masa pensiun dan pada fase ini banyak individu
yang merasa eforia (bersenang-senang). Mereka dapat mengerjakan beberapa
banyak hal yang dahulu tidak sempat dikerjakan karena padatnya waktu
bekerja, dan mereka menikmati waktu luang dengan lebih banyak aktivitas
serta bersenang – senang dengan uang yang mereka terima.
4) Fase Disenchantment
Setelah fase Honeymoon, para pensiunan sering merasa dalam kerutinan. Jika
itu memuaskan, maka keputusan untuk pensiun dianggap berhasil. Tetapi
para pensiunan yang gaya hidupnya hanya berorientasi seputar pekerjaannya
seperti sebelum pensiun, maka keputusan pensiun merupakan kekecewaan.
5) Fase Reorientantion
Para pensiun menerima cadangan penghasilan dan menarik seluruh miliknya
serta menghasilkan alternatif hidup yang lebih realistik. Mereka menganalisa
dan mengevaluasi gaya hidup yang mungkin membawa mereka pada
kehidupan yang lebih memuaskan .
6) Fase Stability
Para pensiunan memutuskan dan mengevaluasi terhadap suatu kriteria
perkumpulan yang akan dipilih sebagai sarana kegiatan dalam masa pensiun.
Jika masa peralihan dari fase Honeymoon menuju fase Disenchantment dan
fase Reorientantion sangat lambat maka fase stability akan sukar dicapai.
7) Fase Termination
Para pensiunan berperilaku sebagai orang yang “sakit” dan “ketergantungan”
karena para pensiunan merasa orang yang menjadi tua tidak berfungsi lebih
lama secara suatantra dan hanya sendirian.

Para pensiunan dengan mempunyai waktu luang yang banyak sangat


membosankan dan mereka juga memerlukan uang untuk menunjang kehidupan
keluarga. Dari kebosanan waktu luang dan tuntutan waktu luang tersebut

10
membuat mereka menjadi stres menjalani masa pensiun. Hal ini terkait dengan
dengan persepsi para pensiun terhadap waktu, aktivitas dan rangkaian dari tujuh
tahapan pension.

Contoh Analisa Pensiun Yang Post Power Syndrome


1) Tahap perkembangan menjadi tua
a) Fase Stagnasi : tidak mau beraktvitas, marah-marah terhadap
lingkungan, beraktivitas orientasi kerja dulu, mengarahkan untuk
kepentingan dirinya. Tidak mendidik anak sendiri, memikirkan dirinya
sendiri, tidak mengarahkan sesuatu pada anak muda, tidak sabar
mengarahkan pada anak muda, acuh tak acuh.
b) Fase Putus-Asa : punya keinginan cepat menghadap tuhan, merasa
menjadi laskar tidak berguna, jiwanya tidak stabil, putus asa,
egocentris. Bicaranya tidak konsisten, dirinya merasa masih bos, tidak
menerima keadaan selama pensiun, berontak, tidak menyadari dirinya
sudah tua, depresi, sering lupa, sensitif, kurang pergaulan, rendah diri.
2) Pra pensiun
a) Fase Remote : tidak sadar pensiun.
b) Fase Near : tidak mencari informasi pensiun, tidak ikut pelatihan pra
pensiun.
3) Masa pensiun
a) Fase Honeymoon : uang untuk kesenangan, waktu untuk melamun, dan
marah-marah.
b) Fase Disenchantment : merasa tidak puas dengan kerutinan, capai
dengan kegiatan sehingga kerutinan dirasakan melelahkan, mengurung
diri di kamar.
c) Fase Reorientantion : tidak cari aktivitas yang berguna, cari ativitas
untuk mencari pengakuan.
d) Fase Stability : masih bimbang, masih diragukan, mencari yang cocok.

11
e) Fase Termination : menjadi gangguan dalam keluarga, sering bengong
dan marah pada lingkungan di luar rumah, menjadi perhatian keluarga.
(Andreson & Weber, dalam Santrock, John W, 2002).

2.2. Orang Yang Rentan Terkena Post Power Syndrome

Tidak semua lansia akan mengalami post power syndrome saat memasuki
masa pensiun. Pada umumnya ciri kepribadian yang rentan terhadap post power
syndrome adalah mereka yang senang dihargai dan dihormati orang lain, gila
jabatan, dan suka dilayani orang lain atau biasa disebut orang yang memiliki need
of power yang tinggi. Tetapi sebaliknya, orang-orang dengan kepercayaan diri
yang kurang kuat, sehingga selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain, dan
merasa aman melalui jabatannya saat memasuki masa pensiun pun rentan terkena
post power syndrome.

Menurut http://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/waspadai-post-
power-syndrome-pada-lansia dipostkan oleh Amelia Rusli Asali, diunduh pukul
21.00 tanggal 22 Oktober 2015.

Adapun ciri-ciri lain kepribadian yang rentan terhadap post power


syndrome di antaranya adalah :
1. Orang-orang yang senangnya dihargai dan dihormati orang lain, yang
permintaannya selalu dituruti, yang suka dilayani orang lain.
Orang-orang yang senangnya dihargai dan dihormati orang lain, yang
permintaannya selalu dituruti, yang suka dilayani orang lain.
2. Orang-orang yang membutuhkan pengakuan dari orang lain karena
kurangnya harga diri, jadi kalau ada jabatan dia merasa lebih diakui oleh
orang lain.
3. Orang-orang yang menaruh arti hidupnya pada prestise jabatan dan pada
kemampuan untuk mengatur hidup orang lain, untuk berkuasa terhadap
orang lain. Istilahnya orang yang menganggap kekuasaan itu segala-
galanya atau merupakan hal yang sangat berarti dalam hidupnya.

12
4. Antara pria dan wanita, pria lebih rentan terhadap post power sindrome
karena pada wanita umumnya lebih menghargai relasi dari pada prestise,
prestise dan kekuasaan itu lebih dihargai oleh pria.

Menurut Sawitri corak kepribadian yang rentan terhadap post power


syndrome yaitu :

1. Seseorang yang pada dasarnya memiliki kepribadian yang ditandai


kekurangtangguhan mental sehingga jabatan dianggapnya menjadi satu-
satunya pegangan, penunjang bagi kehidupan secara menyeluruh.
2. Seseorang yang pada dasarnya sangat terpaku pada orientasi kerja dan
menganggapnya pekerjaan sebagai satu-satunya kegiatan yang dinikmati
dan seolah-olah menjadi pegangan seluruh hidupnya.

Menurut http://houseofsuccess99.blogspot.co.id/2014/08/post-power-
syndrome-apakah-itu.html dipostkan oleh Head Office HOUSE OF SUCCESS,
diunduh pukul 11:00 tanggal 23 Oktober 2015.

Secara umum, ciri-ciri kepribadian yang rentan terhadap sindrom pasca-


kekuasaan adalah mereka yang suka dihargai dan dihormati oleh orang lain, posisi
gila, dan disajikan seperti orang lain - atau disebut orang yang memiliki
kebutuhan tinggi kekuasaan. Tapi sebaliknya, orang - orang dengan keyakinan
bahwa kurang kuat, sehingga selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain, dan
merasa aman melalui kantor - ketika pensiun adalah rentan terhadap sindrom
pasca-kekuasaan. http://peaceandfit.blogspot.co.id/2013/07/anticipating-post-
power-syndrome.html Artikel Posted by Sidik Paningal.

13
2.3. Terjadinya Post Power Syndrome

1. Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Post Power Syndrome

http://peaceandfit.blogspot.co.id/2013/07/anticipating-post-power-
syndrome.html Artikel Posted by Sidik Paningal menyatakan bahwa, menjadi tua
dengan bahagia dan sejahtera merupakan harapan semua orang. Kondisi ini hanya
dapat dicapai jika orang merasa sehat secara fisik, mental, dan sosial-untuk
merasa dibutuhkan, dicintai, dan merasakan rasa harga diri yang masih dapat
berpartisipasi dalam kehidupan bahkan setelah pensiun. Namun pada
kenyataannya, banyak orang yang mengalami masalah psikologis ketika
memasuki masa pensiun. Stres, depresi, tidak bahagia, merasa kehilangan harga
diri dan kehormatan adalah hal-hal yang sering keluhan oleh orang tua di masa
pensiun-dalam istilah medis ini disebut sebagai sindrom pasca-kekuasaan.
Menurut Turner dan Helms (dalam Supardi, Sawitri) terdapat beberapa
faktor internal penyebab berkembangnya post power syndrome pada diri
seseorang yang kehilangan jabatan yaitu :
1. Menurunnya harga diri karena dengan hilangnya jabatan,
2. Kehilangan hubungan dengan kelompok ekslusif
3. Kehilangan perasaan berarti dalam satu kelompok tertentu
4. Kehilangan orientasi kerja
5. Kehilangan sebagian sumber penghasilan yang terkait dengan jabatan
yang pernah dipegangnya
Keadaan tersebut mudah sekali menimbulkan berbagai gangguan
perasaan seperti : ketidak bahagiaan, stress, dan depresi.

 Stress

Peristiwa yang memberikan perubahan-perubahan dalam kehidupan yang


berpotensi menimbulkan stress dalam kehidupan disebabkan karena adanya
berbagai perubahan yang membutuhkan usaha-usaha penyesuaian dari individu.

14
Menurut Cox & McKay (dalam Cooper & Payne), pengertian stress dapat
dilihat berdasarkan tiga pendekatan, yaitu :

a. Engineering approach atau the stimulus-based, yaitu stress dilihat


sebagai stimulus.
Contoh : kehilangan pekerjaan.

b. Medico-psychological atau the response-based, dimana stress dapat


dilihat sebagai respon yang umum atau non-spesifik terhadap stimulus
yang dianggap membahayakan. Respon ada dua komponen yaitu
psikologis (kecewa, sedih, marah,dll)dan fisologis (jantung melemah,
tekanan darah meningkat,dll) semuanya itu dikarenakan keputusan
terhadap pension.

c. Psychological approach atau interactional and appraisal theories,


dimana stress dilihat sebagai transaksi antara individu dengan
lingkungannya.

Contoh : marah terhadap lingkungan atau mendekatkan diri pada


Tuhan menghadapi masa pension.

Dari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa stress


adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh adanya tuntutan internal maupun
eksternal (stimulus) sehingga individu akan bereaksi baik secara fisiologis
maupun psikologis (respon) serta melakukan usaha-usaha penyesuaian diri
terhadap situasi tersebut (proses).

 Depresi

Depresi merupakan keadaan kemurungan (sedih, patah semangat) yang


ditandai dengan perasaan tidak puas, menurunnya kegiatan dan pesimis
menghadapi masa yang akan datang.

Menurut American Association for Griatric Psychiatry, AAGP, 1996


(dalam Papalia, 2001) sindroma depresi menunjukkan paling sedikit selama dua

15
minggu individu memperlihatkan kesedihan yang sangat berat dan kehilangan
minat atau kesenangan dalam hidupnya. Simtom tersebut meliputi perubahan
berat badan, kesulitan tidur, merasa tidak berharga atau merasa tidak pantas,
penurunan daya ingat, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, dan memiliki
pemikiran untuk mati atau bunuh diri.

Pernyataan AAGP (1996) sindroma depresi dari orang lanjut usia juga
memberikan gambaran pada para pensiunan yang mengalami ketidaksiapan
menghadapi masa pension, yang yang biasa disebut dengan istilah post power
syndrome. Kepribadian (temperamen, karakter) dan sikap mental seseorang
tampaknya yang terutama menentukan apakah ia akan mengalami post power
syndrome atau tidak mengalami post power syndrome setelah memasuki masa
pensiun.

2. Gejala - Gejala Post-Power Syndrome

Seseorang yang masuk usia tua biasanya akan terbayang-bayang oleh


kehidupan yang biasanya dijalani saat masih bekerja. Kondisi ini biasanya disebut
dengan post-power syndrome. Mereka tidak mampu mengendalikan dan
menerima kondisinya sekarang serta tidak mampu melepaskan diri dari pekerjaan
dan kesuksesan masa lalunya. Biasanya orang tidak menyadari bahwa ia terkena
post-power syndrom. Padahal semakin cepat Anda atau keluarga menyadarinya,
Anda bisa lebih cepat mengatasi dan memperbaiki kualitas hidup.
Orang yang mengalami post-power syndrome umumnya akan menjadi
sering kecewa, bingung, kesepian, ragu-ragu, khawatir, takut, putus asa,
ketergantungan, kekosongan dan kerinduan terhadap suasana kerja. Lebih jauh
lagi, orang dengan sindrom ini akan merasa harga dirinya turun karena merasa
tidak dihormati atau terpisah dari kelompoknya. Selain itu, ada juga tanda-tanda
yang mudah dikenali sehingga kita bisa segera mengatasinya, seperti:

16
1) Tanda fisik
Post-power syndrome bisa menyebabkan seseorang mengalami
tanda-tanda penurunan fisik seperti terlihat mudah lemah, kondisi fisik
menurun sehingga mudah sakit, dan terlihat tampak lebih tua.
2) Gangguan emosi
Tanda-tanda post-power syndrome juga dapat dilihat dari
menurunnya cara mengendalikan emosi seperti mudah marah, mudah
tersinggung dan pendapatnya tidak suka dibantah.
3) Gangguan perilaku
Biasanya orang yang mengalami post-power syndrome akan
mengalami perubahan perilaku, misalnya menjadi pendiam, memiliki
kecenderungan menarik diri dari pergaulan, serta suka berbicara tentang
kehebatan masa lalu yang pernah dilakukannya.

Post-power syndrome bisa terjadi pada pria dan wanita dan merupakan
tanda kurang berhasilnya seseorang menyesuaikan diri. Untuk ini, Anda pun perlu
mengatasinya dengan cara positif, agar tidak menurunkan kualitas hidup Anda.

Menurut http://www.1health.id/id/article/category/mens-health/kenali-
tanda-tanda-post-power-syndrome-881.html dipostkan oleh Ilhamdi diunduh
pukul 11:00 tanggal 23 Oktober 2015.

Jika dia tidak bisa menerima situasi yang terjadi, ia akan mengalami
pasang power syndrome. Dan jika terus berlarut-larut, itu mungkin bahwa
gangguan jiwa yang lebih berat akan menderita. Post power syndrome hampir
selalu dialami, terutama mereka yang sudah lanjut usia dan pensiun dari
pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang membuatnya melalui fase ini dengan
cepat dan dapat menerima dengan hati terbuka.

Namun dalam kasus-kasus tertentu, di mana orang tidak dapat menerima


kenyataan, ditambah dengan tuntutan mendesak hidup, dan ia adalah kehidupan
dukungan keluarga tunggal, risiko pasca - power syndrome bobot yang lebih

17
besar. Beberapa kasus pasca power syndrome diikuti oleh penyakit mental yang
berat seperti tidak bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi
berat, atau individu introfert (ditutup) terjadi psikosomatik (sakit yang disebabkan
oleh beban emosional yang tidak tersalurkan) yang parah.
http://psycologywithus.blogspot.co.id/2013/12/understanding-post-power-
syndrome.html Artikel F English dipostkan Lailatul Badriyah

Gejala yang cenderung muncul kepada orang yang mengalami Post Power
Syndrome, antara lain adalah:

1) Lunturnya antusias menghadapi hidup.


2) Mudah tesinggung dan marah, kendati untuk hal yang sepele.
3) Tidak mau menerima saran.
4) Menjadi pendiam.
5) Suka bernostalgia masa masa kejayaannya.
6) Rentan terhadap berbagai perubahan.

Kegalauan dan kegelisahan hati, serta rasa khawatir berlebihan


menghadapi masa masa yang berada diluar zona keamanan dan kenyamanannya,
dapat mendistorsi jiwa seseorang yang tidak mempersiapkan diri sedari awal.
Sebenarnya terlepas dari siapapun adanya diri kita adalah wajar, ada rasa
kekuatiran, menghadapi masa masa pensiun. Karena pension bukan hanya
pemasukan uang tidak lagi berjalan seperti biasa tetapi pensiun juga berarti,ia
tidak lagi memiliki “kekuasaan” untuk “memerintah” orang lain. Bila gejala ini
merambat dan menguasi dirinya, maka kegalauan dan keresahan tidak hanya
merugikan diri sendiri, tetapi langsung atau tidak akan menebar dan mendistorsi
anggota keluarga. Oleh karena itu pilihan terbaik adalah jika kita memasuki
masa pensiun, tanpa rasa kekhawatiran yang berlebihan .

18
Menurut http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/langkah-
langkah-menghadapi-post-power-syndrome_5528bad1f17e61677d8b459f
dipostkan oleh Tjiptadinata Effendi, diunduh pukul 11:30 tanggal 23 Oktober
2015.

2.4. Waktu Terjadinya Post Power Syndrome

A. Masa Lanjut Usia

Memasuki lanjut usia merupakan periode akhir dalam rentang kehidupan


manusia di dunia ini. Banyak hal penting yang perlu di perhatikan guna
mempersiapkan memasuki masa lanjut usia dengan sebaik-baiknya. Kisaran usia
yang ada pada periode ini adalah enam puluh tahun ke atas. Ada beberapa orang
yang sudah menginjak usia 60 tetapi tidak menampakkan gejala-gejala penuaan
fisik maupun mental. Oleh karena itu, usia 65 dianggap sebagai batas awal
periode usia lanjut pada orang yang memiliki kondisi hidup yang baik (Hurlock,
1980:380). Setelah usia 65 tahun manusia akan menghadapi sejumlah
permasalahan. Permasalahan pertama adalah penurunan kemampuan fisik
sehingga kekuatan fisik berkurang, aktifitas menurun, sering mengalami gangguan
kesehatan yang menyebabkan mereka kehilangan semangat. Pengaruh dari
kondisi penurunan kemampuan fisik ini menyebabkan mereka yang telah
memasuki usia lanjut merasa dirinya tidak berharga atau kurang dihargai. Namun
ada juga beberapa usia lanjut yang menepiskan anggapan bahwa akan timbul
perasan tidak berharga ketika mereka memasuki masa tersebut. Mereka justru
mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif seperti membuka bisnis baru untuk
mengisi hari-hari yang dulu penuh 27 dengan jadwal kerja yang padat.
Kemunduran fisik pasti akan mereka alami namun itu tidak dijadikan hambatan
oleh orang yang berpikiran positif tentang masa tuanya. Berolahraga, menjaga
konsumsi makanan yang masuk dalam tubuh, istirahat cukup, memeriksakan fisik
secara berkala dan tidak memikirkan masalah hingga berlarut-larut malah
melakukan antisipasi atau memperkecil dampak negatif dari masalah tersebut

19
menjadi senjata ampuh mereka untuk menghadapi masalah di masa usia lanjut
(Yusuf, 2009:28-30).
Hasil penelitian Neugarten (dalam Jalaluddin) masalah utama yang
dihadapi pada usia 70-79 tahun menunjukkan 75 persen dari mereka yang
dijadikan responden menyatakan puas dengan status mereka setelah menginjak
masa bebas tugas. Sebagian besar dari mereka menunjukkan aktifitas yang positif
dan tidak merasa dalam keterasingan dan hanya sedikit yang sudah berada dalam
kondisi uzur serta mengalami gangguan kesehatan mental (Atkinson).
Semakin bertambah tua usia seseorang maka status penganggurannya akan
makin serius. Akibat dari itu tidak hanya menjadi sulit bagi mereka untuk mencari
pekerjaan baru, tetapi efek menganggur terhadap kepribadiannya jauh lebih serius
dan jangkauannya lebih jauh dan luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Studi
tentang efek enganggur orng usia lanjut terhadap kesehatan mentalnya
menghasilkan kesimpulan bahwa efek psikologisnya begitu besar. Pengukuran
terhadap efisiensi dan sikap mental orang-orang usia lanjut yang bekerja dan
menganggur menunjukkan bahwa mereka yang terkait dengan pekerjaan reguler
atau memperoleh pekerjaan penuh secara keseluruhan mempunyai superioritas
mental terhadap mereka yang menganggur. Kurangnya latihan, kurangnya
motivasi dan sikap yang tidak menyenangkan merupakan faktor penunjang utama
terhadap menurunnya skap mental yang terjadi karena menganggur
ketidakmampuan untuk memperoleh pekerjaan memperburuk perasaan bahwa
dirinya tidak berguna. Orang usia lanjut yang percaya bahwa organisasi dimana
dulu mereka bekerja tidak dapat melepaskannya begitu saja dan sewaktu-waktu
dapat memanggilnya untuk bekerja lagi membuat penyesuaian dirinya denggan
masa pensiun menjadi buruk.
Orang usia lanjut menghadapi masalah krisis identitas yang tidak sama
dengan krisis identitas yang dihadapi seseorang pada masa dewasanya. Krisis
identitas yang menimpa rang setelah pensiun adalah sebagai akibat dari
keharusannya untuk melakukan perubahan peran yang drastis dari seorang pekerja
yang sibuk dan penuh optimis, menjadi seorang penganggur yang tidak menentu.
Perlu dikethui bahwa perubahan terhadap kebiasaan dan pola yang sudah mantap

20
yang telah dilakukan sepanjang hidup yang pernah dialaminya, sering
mengakibatkan perasaan yang sangat traumatik bagi orang usia lanjut.
B. Masa Pensiun

Masa pensiun bisa memengaruhi konsep diri karena pensiun menyebabkan


seseorang kehilangan peran, status, dan identitasnya dalam masyarakat menjadi
berubah sehingga dapat menurunkan harga diri. Bila anggota keluarga
memandang pensiunan sebagai orang yang sudah tidak berharga lagi dan
memperlakukan mereka secara buruk, bukan tak mungkin juga akan memicu
munculnya sindrom ini.

Seseorang yang memasuki masa pensiun, bisa merubah arah hidupnya


dengan mengerjakan aktivitas lain, tetapi bisa juga tidak mengerjakan aktivitas
tertentu lagi. Pensiun sering kali dianggap sebagai kenyataan yang tidak
menyenangkan sehingga menjelang masanya tiba sebagian orang sudah merasa
cemas karena tidak tahu kehidupan macam apa yang akan dihadapi kelak. Dalam
era modern seperti sekarang ini, pekerjaan merupakan salah satu faktor terpenting
yang biasa mendatangkan kepuasan (karena uang, jabatan, dan memperkuat harga
diri). Oleh karena itu, sering kali terjadi orang yang pensiun bukannya bisa
menikmati masa tua dengan hidup santai, sebaliknya ada yang justru mengalami
problem serius (kejiwaan ataupun fisik). Individu yang melihat masa pensiun
hanya dari segi finansial kurang bisa beradaptasi dengan baik dibandingkan
dengan mereka yang dapat melihat masa pensiun sebagai masa di mana manusia
beristirahat manikmati hasil jerih payahnya selama ini di masa tuanya.

Manusia yang bermental lemah dan belum siap secara psikis menghadapi
masa pensiun akan mengalami pukulan batin apalagi apabila terjadi pencopotan
jabatan yang tidak terhormat maka akan tercabik-cabiklah mentalnya di seluruh
masa hidupnya. Pada awalnya bermunculanlah gejala psikis seperti perasaan
sedih, takut, cemas, rasa inferior/rendah diri, tidak berguna, putus asa, bingung,
yang semuanya jelas mengganggu fungsi-fungsi kejiwaan dan organiknya. Maka
tidak lama kemudian semua simptom itu akan berkembang menjadi satu

21
kumpulan penyakit dan kerusakan-kerusakan fungsional. Orang tersebut akan
mengalami sakit secara berkepanjangan dengan macam-macam komplikasi, yaitu
menderita penyakit post-power syndrome (sindrom purna-kuasa atau sindrom
pensiun).
Menurut buku Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanjang
rentang kehidupan, Elizabeth B. Hurlock, Jakarta : Erlangga (2000).

Prediktor Penentu Terjadinya Masalah Pada Masa Pensiun

1) Kepuasan kerja dan pekerjaan

Pekerjaan membawa kepuasan tersendiri karena disamping mendatangkan


uang dan fasilitas, dapat juga memberikan nilai dan kebanggaan pada diri sendiri
(karena berprestasi atau pun kebebasan menuangkan kreativitas).Namun ada
catatan, orang yang mengalami problem saat pensiun biasanya justru mereka yang
pada dasarnya sudah memiliki kondisi mental yang tidak stabil, konsep diri yang
negatif dan rasa kurang percaya diri terutama berkaitan dengan kompetensi diri
dan keuangan/penghasilan. Selain itu, masalah harga diri memang sering menjadi
akar depresi semasa pensiun karena orang-orang dengan harga diri yang rendah
semasa produktifnya cenderung akan jadi overachiever semata-mata untuk
membuktikan dirinya sehingga mereka habis-habisan dalam bekerja sehingga
mengabaikan sosialisasi dengan sesamanya pula. Pada saat pensiun, mereka
merasa kehilangan harga diri dan ditambah kesepian karena tidak punya teman-
teman.

Pada orang dengan kondisi kejiwaan yang stabil, konsep diri positif, rasa
percaya diri kuat serta didukung oleh keuangan yang cukup, maka orang tersebut
akan lebih dapat menyesuaikan diri dengan kondisi pensiun tersebut karena
selama tahun-tahun ia bekerja, ia “menabung” pengalaman, keahlian serta
keuangan untuk menghadapi masa pensiun.

2) Usia

22
Banyak orang yang takut menghadapi masa tua karena asumsinya jika
sudah tua, maka fisik akan makin lemah, makin banyak penyakit, cepat lupa,
penampilan makin tidak menarik dan makin banyak hambatan lain yang membuat
hidup makin terbatas. Pensiun sering diidentikkan dengan tanda seseorang
memasuki masa tua. Banyak orang mempersepsi secara negatif dengan
menganggap bahwa pensiun itu merupakan pertanda dirinya sudah tidak berguna
dan dibutuhkan lagi karena usia tua dan produktivitas makin menurun sehingga
tidak menguntungkan lagi bagi perusahaan/organisasi tempat mereka bekerja.
Seringkali pemahaman itu tanpa sadar mempengaruhi persepsi seseorang sehingga
ia menjadi over sensitif dan subyektif terhadap stimulus yang ditangkap. Kondisi
ini lah yang membuat orang jadi sakit-sakitan saat pensiun tiba.Memang, masa tua
harus dihadapi secara realistis karena tidak mau menghadapi kenyataan bahwa
dirinya getting older dan harus pensiun juga membawa masalah serius seperti
halnya post power-syndrome dan depresi. Salah satu cara mengatasi persepsi
negatif terhadap masa tua adalah dengan mengatakan pada diri sendiri :“Act your
age, but I don’t want to act old”

3) Kesehatan

Beberapa orang peneliti melakukan penelitian dan menemukan bahwa


kesehatan mental dan fisik merupakan prekondisi yang mendukung keberhasilan
seseorang beradaptasi terhadap perubahan hidup yang disebabkan oleh
pensiun.Hal ini masih ditambah dengan persepsi orang tersebut terhadap penyakit
atau kondisi fisiknya. Jika ia menganggap bahwa kondisi fisik atau penyakit yang
dideritanya itu sebagai hambatan besar dan bersikap pesimistik terhadap hidup,
maka ia akan mengalami masa pensiun dengan penuh kesukaran. Menurut hasil
penelitian, pensiun tidak menyebabkan orang jadi cepat tua dan sakit-sakitan,
karena justru berpotensi meningkatkan kesehatan karena mereka semakin bisa
mengatur waktu untuk berolah tubuh (lihat fakta seputar pensiun).

4) Status sosial sebelum pensiun

23
Status sosial berpengaruh terhadap kemampuan seseorang menghadapi
masa pensiunnya. Jika semasa kerja ia mempunyai status sosial tertentu sebagai
hasil dari prestasi dan kerja keras (sehingga mendapatkan penghargaan dan
pengakuan dari masyarakat atau organisasi), maka ia cenderung lebih memiliki
kemampuan adaptasi yang lebih baik (karena konsep diri yang positif dan social
network yang baik). Namun jika status sosial itu didapat bukan murni dari hasil
jerih payah prestasinya (misalnya lebih karena politis dan uang/harta) maka orang
itu justru cenderung mengalami kesulitan saat menghadapi pensiun karena begitu
pensiun, maka kebanggaan dirinya lenyap sejalan dengan hilangnya atribut dan
fasilitas yang menempel pada dirinya selama ia masih bekerja.

Adapun kondisi yang dapat mempengaruhi penyesuian terhadap masa


pensiun yaitu sebagai berikut :

1) Para pekerja yang pensiun secara sukarela akan menyesuaikan diri lebih
baik dibandingkan dengan mereka merasa pensiun dengan terpaksa trauma
bagi mereka yang masih ingin melanjutkan bekerja.
2) Kesehatan yang buruk pada waktu pensun memudahkan penyesuaian
sedangkan orang sehat mungkin cenderung melawan untuk melakukan
penyesuaian diri
3) Banyak pekerja yang merasabahwa berenti dari pekerjaan secara tertahap
ternyata lebih baik efeknya dibandingan dengan mereka yang tiba – tiba
berhenti dari kebiasaan bekerja karena mereka tidak bisa mengatur
persiapan pola hidup tanpa pekerjaan.
4) Bimbingan dan perencanaan pensiun akan membantu penyesuaian diri.
5) Pekerja yang mengembangkan minat tertentu guna menggantikan aktvitas
kerja rutin, yang bermanfaat bagi mereka,dan menghasilkan kepuasan yang
dulu diperoleh dari pekerjaan, tidak akan menentukan masalah
penyesuaian terhadap masa pensiun, yang secara emosional
membingungkan eeka yang berbata-bata mengembangkan minat pengganti.
6) Kontak sosial, sebagaimana diketemukan dalam rumah-rumah jompo,
membantu mereka dalam penyesuaian diri terhadap masa pensiun. Baik

24
tinggal dalam rumah mereka sendiri, atau dirumah anak yang sudah
menikah atau anggota keluarga lainnya, menyebabkan orang pensiunan
memutuskan untuk melakukan kontak sosial.
7) Semakin sedikit perubahan yang harus dilakukan terhadap kehidupan
semasa pensiun semakin baik penyesuian dapat dilakukan.
8) Status ekonomi yang baik, yang memungkinkan seseorang untuk hidup
dengan nyaman dan dapat menikmati yang menyenangkan, adalah penting
untuk penyesuaian yang baik pada masa pensiun.
9) Status perkawinan yang bahagia sngat membantu penyeuaian diri terhadap
masa pensiun sedangkan perkawinan yang banyak diwarnai olek
percekcokan cenderung menghambat.

 Menghadapi Pasca Lepasnya Kekuasaan (Pensiun)

Tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk menghadapi pasca


lepasnya kekuasaan yang menyebabkan terjadinya post power syndrome ,
menurut psikolog Jacinta F. Rini, dapat ditempuh dengan cara-cara:
1) Mampukan menempatkan diri (menyadari) tentang perbedaan hak
dan kewajiban selaku seorang yang telah kehilangan jabatan atau kekuasaan.
2) Luangkan waktu untuk terus berdoa.
3) Hadapi secara rileks. Ketegangan dan kecemasan tidak menyelesaikan
masalah.
4) Bercermin dan belajarlah dari pengalaman (keberhasilan maupun kegagalan)
dimasa lalu, sebagai bahan rencana masa depan.
5) Buatlah rencana kegiatan setiap hari.
6) Lakukan kegiatan sosial yang menarik, disertai optimisme bahwa
hidup anda akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
7) Jangan suka berdiam diri dan melamun, karena hanya akan membangkitkan
emosi dan pikiran negative.
8) Hilangkan rasa kesepian dan libatkan diri pada orang-orang disekitar anda.

25
9) Lakukan olah raga santai atau kegiatan kebersamaan dengan teman-teman
untuk menjaga kondisi dan kesehatan tubuh.
10) Baca buku-buku yang dapat membangkitkan motivasi.
11) Jangan biarkan pesimisme menguasai pikiran dan perasaan.
12) Menyiapkan diri untuk menjadi bawahan jika terpaksa harus bekerja di
tempat lain.
13) Kembangkan hobi yang selama ini belum sempat terlaksana.
14) Pikirkan untuk menekuni usaha atau pekerjaan baru sesuai dengan usia dan
hobi.
15) Ambil kursus singkat untuk menunjang hobi dan usaha baru.
16) Ambil inisiatif untuk terlibat dalam kegiatan rumah tangga.
17) Hubungi teman-teman lama, siapa tahu ada sesuatu yang baru dan menarik
yang bisa di dapatkan.
Menurut http://srireskipsikologi.blogspot.co.id/2013/05/makalah-
psikologi-lansia-post-power.html dipostkan oleh Sri reski, diunduh pukul 11:30
23 Oktober 2015.

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pasca - power syndrome.


Pensiun dan PHK dini merupakan salah satu faktor tersebut. Ketika orang yang
mendapatkan pensiun dini tidak bisa menerima keadaan bahwa energi tidak
digunakan lagi, meskipun dia pikir dia masih bisa memberikan kontribusi yang
signifikan kepada perusahaan, post-power syndrome akan mudah diserang.
Terutama ketika ternyata dia sudah termasuk usia kurang produktif dan ditolak
ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrome yang menyerang akan
bertambah buruk.
http://psycologywithus.blogspot.co.id/2013/12/understanding-post-power-
syndrome.html Artikel F English dipostkan Fauzul Mutmainah.

26
2.5. Cara Mengatasi dan Mencegah Post Power Syndrome

1. Mengatasi Post-Power Syndrome

Terapi untuk meringankan gejala-gejala sindrom pensiun dan untuk


memperoleh kembali kesehatan jasmani serta kesejahteraan jiwa mengarah pada
integrasi struktur kepribadian, menurut Kartini Kartono (2000) dalam bukunya
Hygiene Mental disarankan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1) Mau menerima semua kondisi baru. yaitu masa pensiun/ purnakarya tersebut
dengan perasaan rela, ikhlas, lega, bahagia, karena semua tugas-tugas pokok
selaku manusia dan pejabat sudah selesai. Maka kini tiba saatnya pribadi
yang bersangkutan belajar menyesuaikan diri lebih baik lagi terhadap
tuntutan situasi-kondisi baru yang masih penuh tantangan, yang harus
dijawab dan dijalani.
2) Masa purnakarya ini diantisipasikan sebagai pengalaman baru, atau sebagai
satu periode hidup baru, yang mungkin masih akan memberikan kesan-
kesan indah dan menakjubkan di masa mendatang. Pribadi yang
bersangkutan harus bisa menerima, bahwa masa lampau memang sudah
lewat, dan harus dilupakan atau dilepaskan dengan perasaan tulus ikhlas.
Dan tidak mengharapkan pengulangan kembali pengalaman lama dengan
rasa kerinduan mitis (mitos) atau secara sentimentil.
3) Segala kebahagiaan, dan puncak kehidupan yang sudah digariskan oleh
Yang Maha Kuasa, juga semua ujian dan derita-nestapa sudah dilalui dengan
hati pasrah. Namun perjalanan hidup seterusnya masih harus dilanjutkan
dengan ketabahan dan rasa tawakal. Sebab pada masa usia tua ini masih saja
ada misi-misi hidup yang harus diselesaikan sampai tuntas; di samping harus
memberikan kebaikan dan kecintaan kepada lingkungan sekitar.
4) Peristiwa kepurnakaryaan supaya diterima dengan kemantapan hati sebagai
anugerah Ilahi, dan sebagai kebahagiaan yang diberikan oleh lingkungan
masyarakat manusia sebagai edisi hidup baru yang harus diisi dengan
darmabakti dan kebaikan. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan oleh

27
para mantan pada sisa hidupnya yang sudah “senja”. Tetapi setidak-tidaknya
seperti keindahan panorama senja yang masih memberikan kecemerlangan
mistis yang gilang-gemilang, memberikan kebaikan kepada anak-cucu,
generasi penerus serta masyarakat pada umumnya.
5) Sebaiknya tidak melakukan pembandingan dengan siapa atau apapun juga;
sebab usaha sedemikian itu akan sia-sia, dan menjadikan hatinya
“nelangsa“, serta meratap sedih, ngresula/kecewa. Ada kalanya bisa
memacu diri-nya untuk berbuat “ngaya” di luar batas kemampuan sendiri
dan tidak wajar. Setiap relasi sosial yang baru di masa sekarang, sudah tidak
lagi dibebani oleh ikatan dan kekecewaan macam apapun. Hidup ini
dihadapi dengan hati tulus, polos, sabar, narima, jernih.
6) Membebaskan diri dari nafsu-nafsu, ambisi-ambisi, keinginan berkuasaan
atau nafsu untuk memiliki. Apa yang didambakan dalam sisa hidup sekarang
ialah: tenang, damai dan sejuk di hati. Kalbunya sudah mantap, tidak
terbelah oleh macam-macam kontradiksi, ambisi, dan fikiran khayali. Sebab
sekarang sudah menjadi pribadi yang mampu menyambut akhir hayat
dengan senyum dan kemantapan.

Bagi jiwa-jiwa yang menerima, maka segala apa pun yang kan terjadi di
depannya akan mampu dihadapi dengan besar hati. Karena dari setiap kejadian
pasti ada hikmah yang menyertainya. Setiap kita hendaknya sadar bahwa dimensi
kesehatan bukan hanya jasmaniah saja, tetapi rohani (mentalitas) juga memegang
peranan penting (important role) dalam menentukan kesehatan seseorang. Awali
segala sesuatu dengan pikiran positif (positive thingking/huznudzon) sehingga
mental-mental positif dalam diri kita akan tumbuh dengan subur. Mari kita
wujudkan cita-cita Indonesia Sehat dimulai dari diri kita masing-masing, keluarga
dan lingkungan sekitar kita.

Post-power syndrome adalah gejala yang terjadi dimana penderita hidup


dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya,
ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa
memandang realita yang ada saat ini. Seperti yang terjadi pada kebanyakan orang

28
pada usia mendekati pensiun. Selalu ingin mengungkapkan betapa begitu bangga
akan masa lalunya yang dilaluinya dengan jerih payah yang luar biasa.

Seseorang yang mengalami post-power syndrome biasanya menganggap


bahwa jabatan atau pekerjaannya merupakan hal yang sangat membanggakan
bahkan cenderung menjadikan pekerjaannya sebagai dunianya. Sehingga
hilangnya pekerjaan karena pensiun atau PHK memberikan dampak psikologis
pada mental seseorang. Penanganan yang bisa dilakukan pada kasus seperti ini
adalah dengan memberikan terapi kognitif/cognitive behavioral therapy. Dengan
terapi kognitif, diharapkan seseorang dapat mengubah pola pikir yang sebelumnya
membanggakan prestasi, jabatan, dan pekerjaannya, menjadi yakin, percaya dan
menerima bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Setelah itu, temukanlah hal-
hal baru yang bisa membanggakan atau memberikan kebermaknaan hidup. Dalam
keadaan seperti ini, keluarga juga memiliki pengaruh pada terlewatinya fase post-
power syndrome. Seseorang bisa menerima kenyataan dan keberadaannya dengan
baik akan lebih mampu melewati fase ini dibandingkan seseorang yang memiliki
konflik emosi.

Post power syndrome banyak dialami oleh mereka yang baru saja
menjalani masa pensiun. Pensiun merupakan masa seseorang secara formal
berhenti dari tugasnya selama ini, bisa merupakan pilihan atau keharusan.

Para pensiunan terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang bahagia karena
dapat menyelesaikan tugas dan pengabdiannya dengan lancar. Sebaliknya, ada
juga yang mengalami ketidakpuasan atau kekecewaan akan kehidupannya.

Sindrom ini bisa dialami oleh pria maupun wanita, tergantung dari
berbagai faktor, seperti ciri kepribadian, penghayatan terhadap makna dan tujuan
kerja, pengalaman selama bekerja, pengaruh lingkungan keluarga dan budaya.
Berbagai faktor tersebut menentukan keberhasilan individu dalam menyesuaikan
diri menghadapi masa pensiun. Post power syndrome merupakan tanda kurang
berhasilnya seseorang menyesuaikan diri.

29
Tujuan bekerja tak hanya untuk memenuhi kebutuhan primer manusia, tapi
secara psikologis, bekerja dapat memenuhi pencapaian identitas diri, status,
ataupun fungsi sosial lainnya. Beberapa orang sangat menghargai prestise dan
kekuasaan dalam kehidupannya, hal ini bisa diperoleh selama ia memegang
jabatan atau mempunyai kekuasaan. Apalagi bila lingkungan kerjanya juga
mengondisikan dirinya untuk terus memperoleh prestise tersebut, misalnya anak
buah yang tak berani memberikan masukan untuk perbaikan atau adanya fasilitas
berlebihan yang diberikan perusahaan baginya selama menjabat.

Secara ringkas disebut sebagai orang dengan need of power yang tinggi.
Selain itu, ada pula mereka yang sebenarnya kurang kuat kepercayaan dirinya
sehingga sebenarnya selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain, melalui
jabatannya dia merasa ”aman”.

Menurut artikel 1 Mahaning Riyana, ada beberapa saran yang bisa


dikumpulkan dari pengalaman beliau sendiri, sehingga Anda dapat menangani
sendiri, sekarang atau nanti.

1) Jika Anda berada di posisi teratas, siap untuk memiliki sindrom ini, jangka
pendek atau jangka panjang. Untungnya aku sudah selesai dengan saya,
dalam waktu satu bulan setelah saya meninggalkan posisi saya. Jadi saya
percaya, yang lebih tua Anda, persiapan mental yang lebih Anda butuhkan.
2) Bagaimana rasanya? Ada sensasi 'identitas' di minggu pertama, ini adalah
yang terburuk. Ini adalah minggu transisi, sehingga fisika dan pikiran akan
sangat lelah, dari sebelumnya terisi dengan 1000 hal karena posisi Anda,
sekarang tiba-tiba Anda tidak di piring Anda. Jam tubuh Anda tiba-tiba
berubah, dan tidak ada yang bisa kita lakukan tetapi memberikan waktu
untuk menyesuaikan diri. Bahkan ketika aku secara sukarela mengundurkan
diri, masih sangat banyak berdampak. Pada fase ini, saya akan menyarankan
Anda hanya bersantai, membebaskan pikiran Anda dari semua sibuk dari
judul lama, membiarkannya pergi, dan hanya mengosongkan otak dan
pikiran dari apapun yang berhubungan dengan ini. Berhenti menghubungi

30
rekan-rekan yang hanya akan membuatnya sulit untuk membiarkan pergi.
Pada periode ini, saya akan menyarankan untuk tidak merencanakan apa pun
untuk masa depan. Pada periode ini, otak Anda tidak dapat memproses
apapun obyektif. Ini adalah semua tentang perasaan campur aduk.
Merangkul, dan hanya pergi dengan itu. Saya memiliki ratusan daftar
keinginan apa yang akan saya lakukan, setelah pengunduran diri saya, tapi
percayalah, tidak banyak yang bisa kita lakukan minggu pertama ini, karena
tubuh dan jiwa kita, tidak menghadapi perubahan drastis tersebut. Jadi hanya
diam. Ini adalah minggu melepaskan.
3) Pada minggu kedua, Anda akan merasa jauh lebih baik, dan mampu
menenangkan diri. Anda mulai memasukkan zona baru, zona anda. Ini akan
menjadi sedikit goyah di awal, tapi Anda mulai mendapatkan semua energi
untuk mulai berpikir apa yang akan saya lakukan selanjutnya? Masih Anda
tidak melupakan topi tua, tetapi Anda berada di tempat yang jauh lebih baik
dari menerima kenyataan itu sejarah. Mengambil perlahan-lahan, dan hanya
pergi dengan itu. Namun, bukan waktu yang tepat untuk memulai
perencanaan masa depan yang serius baru. Anda dapat mengatakan ini
adalah minggu malas, tapi ya, memungkinkan tubuh dan jiwa untuk
mendapatkan istirahat setelah bertahun-tahun kerja keras dalam siklus.
4) Oke, sekarang minggu ketiga, bangun! Ini benar-benar minggu melepaskan.
Anda akan merasa begitu baik, sampai Anda hanya ingin berdiri diam, dan
merasa begitu bebas !. ini adalah saat di mana Anda sangat rileks, dan dalam
periode ini, yang terbaik adalah untuk mulai bekerja keluar mimpi Anda
berikutnya. Lebih baik untuk mendiskusikan dengan mitra Anda, keluarga,
tentang apa masa depan yang Anda inginkan. Ini bagi saya, saat di mana
Anda dapat menemukan begitu banyak momen AHA, selama Anda telah
membebaskan pikiran dan jiwa untuk merangkul hari baru.
5) minggu keempat - yeehaaa .. !! jika Anda memiliki anggaran untuk
perjalanan, melakukannya! Apakah itu untuk perjalanan dan mengambil
petualangan gila, untuk mendapatkan energi dibebankan fullly sebelum
Anda memulai awal yang baru! Anda tidak dapat melakukan lebih awal dari

31
ini, pandangan saya, karena Anda lebih baik menghabiskan uang Anda
bepergian ketika Anda memiliki pikiran yang bebas dan jiwa! Jadi
menikmati hidup Anda, membuat pikiran dan jiwa siap untuk memulai
mimpi Anda sudah diatur pada minggu ketiga. Waktu untuk mempersiapkan
peluncuran, dan untuk peluncuran, Anda hanya perlu landasan pacu besar,
mesin besar, dan kru yang besar, yang merupakan tubuh, pikiran dan jiwa!
6) Menerima kenyataan bahwa setelah melewati minggu keempat, Anda
mungkin telah berubah tujuan Anda yang telah ditetapkan sebelumnya
(sebelum melewati beberapa minggu perubahan), dan itu adalah cukup
normal. Kita tidak pernah tahu apa yang masa depan, dan setiap hari
kebebasan, mungkin mari kita lihat hal-hal baru yang kita tidak pernah
benar-benar melihat sebelumnya. Jadi, adaptif dan fleksibel dalam
menetapkan masa depan Anda dan impian. Anda mungkin menemukan
bahwa Anda memiliki kepentingan baru benar-benar merek yang Anda
bahkan tidak pernah menyadari sebelumnya!

Jadi, cepat atau lambat, Anda akan harus melewati periode ini. Jadi saya
kira yang terbaik, semakin lama Anda memegang posisi senior Anda, rentang
waktu di atas mungkin tidak bekerja, jadi berhati-hatilah, bahwa ini post power
syndrome, ya, ada. https://www.linkedin.com/pulse/20140915110829-71574762-
how-scary-is-post-power-syndrome-and-how-to-deal-with-it Arikel sumber dari
Mahaning Riyana.

2. Mencegah Power Post Syndrome


Ada beberapa nasihat psikologis untuk menghindarkan diri dari post
power syndrome, yakni:
a) Pada saat melakukan suatu pekerjaan atau sebelum menjabat, perlu disadari
bahwa segala sesuatu adalah karunia dari Tuhan termasuk kekusaan dan
jabatan.
b) Kekuasaan itu tidak bersifat permanen sehingga harus mempersiapkan diri
apabila suatu waktu kuasa itu lepas, pribadi yang siap akan menjadi pribadi
yang lebih tahan dalam menghadapi krisis ini.

32
c) Sebaiknya selama memegang jabatan, tidak hanya memikirkan bagaimana
cara untuk memertahankan kekuasaan, tetapi memikirkan bagaimana cara
untuk melakukan kaderisasi / regenerasi.
d) Penghargaan akan diberikan bukan karena kekuasaan yang dimiliki, tetapi
karena telah melakukan suatu regenerasi yang baik. Perlu selalu ditanamkan
bahwa tujuan kekuasaan bukanlah agar kita dihargai oleh orang lain, tetapi
supaya kita dapat berbuat lebih banyak bagi kesejahteraan orang lain.
Menurut http://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/waspadai-post-
power-syndrome-pada-lansia dipostkan oleh Amelia Rusli Asali Kesehatan
Umum, diunduh pukul 10:30 24 Oktober 2015.

Menurut para ahli psikologi, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan
untuk mencegah terjadinya post-power syndrome pada diri individu, yaitu:

1) Langkah preventif dapat dilakukan dengan mengembangkan pola hidup


positif. Pengembangan pola hidup yang positif memberikan energi positif
pada pemikiran seseorang, sehingga memiliki kecenderungan untuk tidak
terpuruk dalam permasalahannya.
2) Langkah perseporatif dapat dilakukan dengan membuka diri pada ajakan
untuk membuka kesempatan aktualisasi diri. Dengan memiliki banyak
pengalaman, seseorang akan memiliki wawasan yang luas dalam berpikir.
Sehingga hilangnya pekerjaan tidak menjadi hal yang mematikan semangat
hidup seseorang.
3) Langkah kuratif dapat dilakukan dengan bergembira menjalani tantangan
hidup. Seseorang yang memiliki pandangan positif pada setiap kesulitan akan
mencari solusi dalam setiap masalah hidupnya, bukan memikirkan masalah
sebagai problematika yang tak ada solusinya.

Menurut https://psychologystudyclubuii.wordpress.com/2012/12/30/post-
power-syndrome/n dipostkan oleh Sub divisi PIO, Divisi Akademik dan
Aplikasi, diunduh pukul 20:30 tanggal 22 Oktober 2015.

33
Untuk meminimalisir permasalahan penyebab berkembangnya post
power syndrome, lebih lanjut Turner dan Helms mengemukakan kiat- kiat yang
harus dilakukan, yaitu :

1) Pada saat kita melakukan sesuatu atau sebelum menjabat, kita perlu belajar
menyadari bahwa segala sesuatu itu adalah karunia dari Allah termasuk
kekuasaan dan jabatan. Tugas kita adalah hanya sebagai alat yang dipakai
Allah untuk melakukan pekerjaan-Nya. Jadi, kita ngga boleh mengganggap
kuasa/ jabatan yang dipercayakan kepada kita sebagai milik kita yang harus
kita pertahankan sepenuhnya.
2) Kita juga harus selalu menyadari bahwa kekuasaan itu tidak bersifat
permanen dan kita harus menyiapkan diri apabila suatu ketika kuasa itu lepas
dari diri kita. Apabila tiba-tiba kita kehilangan kekuasaan, tetapi kita
mempunyai persiapan sebelumnya, maka kita akan lebih tahan menghadapi
krisis ini.
3) Sebaiknya selama memegang jabatan, kita tidak memikirkan bagaimana
mempertahankan kekuasaan, tetapi kita memikirkan untuk melakukan
kaderisasi. Justru karena dengan kita melatih dan mendidik, maka nantinya
kita dihargai, karena kita telah melakukan suatu regenerasi dan melakukan
pendidikan, tugas mendidik orang lain, bukan karena kekuasaan yang kita
miliki.
4) Kita perlu belajar rendah hati, tidak perlu sombong apalagi congkak. Apalagi
mengungkit-ungkit kiprah dan hasil kerja keras kita selama ini. Keep low
profile.Sebanyak mungkin menanamkan kebaikan selama kita berkuasa.
Kalau kita banyak menyakiti hati orang, kita banyak menindas orang,
waspadalah bahwa gejala post power syndrome ini dekat dengan kita. Tujuan
utama kekuasaan bukan agar kita dihargai orang, tetapi supaya kita berbuat
banyak bagi kesejahteraan orang lain.

Menurut http://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/waspadai-post-
power-syndrome-pada-lansia dipostkan oleh Amelia Rusli Asali Kesehatan
Umum, diunduh pukul 10:30 24 Oktober 2015.

34
Langkah-langkah untuk mencegah terjadinya post power syndrome :

1. Mempersiapkan diri sedini mungkin dengan menanamkan di dalam hati


bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup selamanya. Bahwa suatu waktu suka
ataupun tidak, kedudukan kita akan digantikan oleh orang lain.

2. Tanamkanlah pada diri kita bahwa pensiun adalah sesuatu yang wajar yang
merupakan proses alami. Yang tidak dapat dihindarkan oleh siapapun. Dengan
jalan menerima bahwa hal tersebut adalah suatu kenyataan hidup maka hati
kita menjadi tenang jauh dari kerisauan memikirkan masa pensiun.
3. Mempersiapkan tabungan sebaik-baiknya atau rencana investasi jangka
panjang dengan resiko yang seminim mungkin. Misalnya buka warnet, kursus,
kost-kosan .Walaupun hasilnya tidak besar, tapi setidaknya untuk pengeluaran
sehari harian. "Dalam bisnis, tidak ada sahabat yang sejati" Sharing and
connecting (berkomunikasi dan memasyarakatkan diri) dengan baik pada
siapa saja tanpa memandang apakah itu selevel ataupun tidak dengan kita.
Sehingga ketika memasuki masa pensiun, bila kita memiliki kepribadian yang
baik pasti akan tetap akan dihargai dengan baik, tapi sebaliknya bila memiliki
kepribadian yang tidak menyenangkan maka siapapun akan cuek kepada kita.
4. Jangan pernah membanggakan diri, baik karena jabatan maupun kekuasaan
yang kita miliki pada saat masa jaya. Janganlah kita pernah mengabaikan
prinsip hidup yang satu ini “Bahwa segala sesuatu yang sudah berhasil
dicapai, tidak akan selamanya kita miliki”. Sehingga kelak bila waktunya
memasuki masa pensiun, maka kita dengan berbesar hati dan percaya diri,
berani melenggang masuk kegelangang arena pensiunan. Hal ini akan
mengatur dan mengarahkan langkah langkah kita, sehingga kita mampu
melengkapi motto : “Muda berkarya, tua berguna”. Post Power Syndrom
ibaratkan penyakit kanker yang menular. Dia bisa menggerogoti seluruh jiwa
dan harapan yang ada didalam diri si penderita, dan bukan berhenti disitu saja,
penyakit ini bisa menular kepada orang-orang yang ada disekitar penderita.

35
Solusi dalam Menghadapi Penderita Bagaimanapun juga, mencegah lebih
baik daripada mengobati. Tetapi apabila sudah terlanjur menderita Post-power
syndrome, maka diperlukan kesabaran dan penerimaan yang luar biasa dari
pasangan maupun anggota keluarga yang tinggal serumah.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah pemahaman bahwa penderita
tidak sepenuhnya menyadari gejala yang dia alami. Tetapi dengan melawan secara
frontal pun bukan merupakan suatu cara yang bijaksana. Lebih baik meminta
pihak ketiga, seseorang yang mendapat respek dari yang bersangkutan untuk
memberikan nasihat atau melalui kegiatan-kegiatan yang dapat mendekatkan diri
kepada Tuhan.
Kedua, sebaiknya belajar untuk menerima penderita apa adanya. Tidak
merespons kemarahan dengan hal yang sama. Disarankan agar penderita
mempunyai berbagai aktivitas untuk menyalurkan emosi negatif atau
ketidakpuasan hidupnya secara lebih konstruktif.
Dukungan lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga dan kematangan
emosi seseorang sangat berpengaruh dalam melewati masa krisis ini. Jika
penderita melihat bahwa orang-orang terdekatnya mampu memahami dan
mengerti tentang keadaan dirinya atau ketidakmampuannya mencari nafkah, ia
akan lebih bisa menerima keadaannya dan lebih mampu untuk berpikir secara
dingin. Hal tersebut akan kembali memunculkan kreativitas dan produktivitasnya,
walaupun tidak sehebat sebelumnya, sehingga akhirnya penderita dapat
menemukan aktualisasi diri yang baru dan melewati masa krisis ini dengan baik.

Menurut http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/langkah-
langkah-menghadapi-post-power-syndrome_5528bad1f17e61677d8b459f
dipostkan oleh Tjiptadinata Effendi, diunduh pukul 11:30 tanggal 23 Oktober
2015.

Ada beberapa hal juga yang dapat dilakukan ketika post power syndrome
sudah menyerang dalam diri seseorang yaitu sebagai berikut :

36
1) Arahkan kepada kegiatan yang membuatnya merasa nyaman, misalnya
kegiatan olah raga, kerohanian, dan peduli lingkungan, sebisa mungkin
kegiatan yang melibatkan orang banyak, dengan begitu akan meminimalisir
pengaruh post power syndrome.
2) Tidak ada salahnya pula kita memahami penderita dengan menyimak setiap
cerita-cerita heroiknya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dari
pengalaman yang dilaluinya, lebih bagus lagi mereka dijadikan narasumber
pada setiap seminar atau perkumpulan.

Yang terpenting dari kasus ini adalah peranan orang sekitar termasuk kita
yang harus memahami bahwa post power syndrome dapat menyerang siapa saja,
dan kapan saja. Oleh karena itu dengan menjadi pribadi yang banyak bersyukur
dan berbagi kepada sesama kita dapat terhindar dari penyakit tersebut.
Menurut http://srireskipsikologi.blogspot.co.id/2013/05/makalah-
psikologi-lansia-post-power.html dipostkan oleh Sri reski, diunduh pukul 11:30
23 Oktober 2015.

Post Power Syndrome tak akan menghinggapi kita jika kita menganggap
kekuasaan yang sedang kita pegang ini hanyalah sementara. Jika hanya sementara,
maka kita tak akan mengejar kekuasaan itu dan bahkan menyalahgunakan
kekuasaan itu untuk kepentingan dirinya sendiri.
Selain itu, saat kita sedang berjaya, kita mestilah menyediakan rencana
cadangan jika tak lagi memiliki jabatan. Paling tidak, kita memiliki rencana
tentang apa yang akan kita lakukan jika masa kekuasaan itu berakhir. Untuk yang
purnatugas bisa merencanakan kegiatan hariannya.
Tetap bergaul seperti biasa, karena bergaul merupakan salah satu ciri kita
sebagai makhluk sosial. Kalau kita mengasingkan diri, tentu kehidupan kita akan
terasa suram. Beberapa orang mungkin akan berubah sikap ketika kita tak lagi
punya kekuasaan. Tetapi yakinlah, akan banyak orang yang lebih menghargai kita
ketika kita mampu untuk tetap bersosialisasi. Bahkan, akhirnya kita tahu mana
orang yang tulus, mana orang yang tak tulus terhadap kita.

37
Melakukan kegiatan bermanfaat yang dulu tidak bisa sering kita lakukan.
Tanpa kekuasaan, mungkin kita akan memiliki pemasukan yang lebih sedikit.
Namun, tanpa kekuasaan, kita jadi punya lebih banyak waktu luang. Jika dulu kita
tak sempat untuk sekadar berhandai-handai dengan tetangga atau keluarga,
sekarang waktu yang terluang lebih banyak sehingga kita bisa melakukan apa
yang dulu tak kita lakukan.
Menghadapi semuanya dengan sudut pandang positif sangatlah penting.
Dengan demikian, kita terhindar dari sikap berburuk sangka yang justru bisa
merusak nood kita. Kita pun tetap bahagia dengan apa yang kita punya sekarang.
Kekuasaan bukanlah segalanya. Berakhirnya kekuasaan juga bukan akhir
segalanya. Banyak orang yang tak bisa mengatasi post power syndrome, tetapi
banyak pula yang cerdas menghadapinya sehingga hidupnya menjadi lebih baik
meskipun tak lagi berjaya. Semuanya tergantung pada caranya menghadapi
kenyataan.
Menurut http://www.1health.id/id/article/category/mens-health/5-cara-
hadapi-post-power-syndrome-884.html dipostkan oleh Ayuningtias, psikolog
Siloam Hospitals Simatupang, diunduh pukul 11:00 tanggal 24 Oktober 2015.

Menurut Ayuningtias, psikolog Siloam Hospitals Simatupang


menyarankan agar keluarga terdekat dapat menyikapi orangtua yang mengalami
post-power syndrome dengan bijaksana. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan
adalah :

1) Memaklumi

Apabila ada perubahan emosi dan perilaku dari orangtua dengan post-
power syndrome, Anda harus lebih memaklumi dan memahami keadaan
tersebut. Jadi Anda sebaiknya tidak ikut emosi saat menghadapinya.

38
2) Menerima

Anda juga sebaiknya menerima apapun keadaan orangtua termasuk


yang mengalami post-power syndrome. Jangan menghindar atau menjauhi
orangtua yang mengalami post-power syndrome.

3) Berkomunikasi

Orangtua yang mengalami post-power syndrome juga sebaiknya


sering-sering diajak untuk berkomunikasi untuk meredakan emosinya. Tentu
saja Anda harus dapat berkomunikasi dengan baik tanpa melibatkan emosi.

4) Meminta bantuan orang ketiga

Saat Anda tidak bisa menghadapi orangtua dengan post-power


syndrome, anda bisa meminta bantuan orang ketiga yang dipercaya atau
memiliki pengaruh terhadap orangtua anda, misalnya teman orangtua,
pemuka agama atau psikolog.

5) Berikan kesibukan

Anda bisa memfasilitasi orangtua dengan berbagai kesibukan yang


disukainya, misalnya berkebun, melukis dan lain sebagainya. Dengan
memiliki kesibukan maka pikiran orangtua Anda dapat teralihkan dan tidak
lagi merasa stres.

Keluarga mempunyai pengaruh yang paling besar ketika terjadinya


post power syndrome yang terjadi pada seseorang, berikut ini merupakan
alasan mengapa unit keluarga harus menjadi fokus sentral dari perawatan
pada seseorang yang menderita post power syndrome :

1) Dalam unit keluarga, disfungsi apa saja yang mempengaruhi satu atau lebih
anggota keluarga, dan dalam hal tertentu, seringkali akan mempengaruhi
anggota keluarga yang lain dan unit ini secara keseluruhan.

39
2) Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan
anggotanya, bahwa peran dari keluarga sangta penting bagi setiap aspek
perawatan kesehatan anggota keluarga secara individu, mulai dari strategi-
strategi hingga fase rehabilitasi.
3) Dapat mengangkat derajat kesehatan keluarga secara menyeluruh, yang mana
secara tidak langsung mengangkat derajat kesehatan dari setiap anggota
keluarga.
4) Dapat menemukan faktor-faktor resiko.
5) Seseorang dapat mencapai sesuatu pemahaman yang lebih jelas terhadap
individu-individu dan berfungsinya mereka bila individu-individu tersebut
dipandang dalam konteks keluarga mereka.
6) Mengingat keluarga merupakan sistem pendukung yang vital bagi individu-
individu, sumber dari kebutuhan-kebutuhan ini perlu dinilai dan disatukan
kedalam perencanaan tindakan bagi individu-individu.
Menurut http://srireskipsikologi.blogspot.co.id/2013/05/makalah-
psikologi-lansia-post-power.html dipostkan oleh Sri reski, diunduh pukul 11:30 23
Oktober 2015.

3. Menghadapi Penderita Post Power Syndrome

Menghadapi orang yang sudah telanjur menderita memang diperlukan


kesabaran luar biasa. Sebagai pasangan atau anggota keluarga yang serumah,
pertama hendaknya memahami dulu bahwa penderita tidak sepenuhnya menyadari
gejala yang dia alami. Tapi dengan melawan atau mencoba menyadarkan mereka
secara langsung juga tidak bijak.

Lebih baik meminta pihak ketiga, yaitu seseorang yang cukup mendapat
respek dari yang bersangkutan, untuk memberikan wejangan, atau melalui doa
bersama, meditasi atau berzikir. Melalui kegiatan yang dapat mendekatkan diri
kepada Tuhan, dia bisa belajar memahami bahwa ternyata kekuasaan itu tidak
abadi.

40
Kedua, sebaiknya kita belajar menerima dia apa adanya, tidak merespons
kemarahan dengan hal yang sama. Saya lebih menyarankan agar yang
bersangkutan diusahakan untuk mempunyai berbagai aktivitas yang dapat
menyalurkan emosi negatif atau ketidakpuasan hidupnya secara lebih konstruktif,
seperti mengikuti kegiatan sosial yang menarik, diminta memberikan ceramah
dengan topik yang dikuasainya ketika ada acara keluarga, mengajar keterampilan
tertentu kepada orang yang memerlukan, menjalani hobi berkebun, dan
berolahraga.

Sikap yang dapat dilakukan terhadap pensiun yang ada di sekitar kita,
sampai saat ini, pensiun masih merupakan masalah yang mempengaruhi sebagian
kecil pekerja. Dewasa ini bagaimanapun juga dengan makin meluasnya kesadaran
untuk kebijaksanaan menerima pensiun yang diwajibkan dan tumbuhnya
kecenderungan pria dan wanita yang ingin hidup lebih lama dan sebelumnya,
pensiun merupakan salah satu masalah sosial yang penting didalam keudayaan
kita. Setiap tahun, jurang antara rentang seluruh kehidupan dengan rentang
kehidupan bekerja bagi pria dan wanita semakin melebar. Akibatnya, lama masa
pensiun semakin bertambah panjang dan bertabah lama bagi kebanyakan orang.

Bagi orang yang lebih muda, yang hari – harinya sering kali dipengaruhi
dengan tugas dan tanggung jawab tahun – tahun pensiun atau semi pensiun
nampak seperti masa emas dalam kehidupan. Pada masa usia madya pikiran
mengenai masa pensiun tubuh semakin ketat, bukan hanya pria dan wanita merasa
bahwa tanggungjawabnya terhadap pekerjaan menjadi semakin berat tetapi juga
karena mereka menyadari bahwa tenaga mereka semakin berkurang dengan
bersaingg dengan karyawan muda.

Apabila masa pensiun itu betul betul tiba, bagaimanapun juga masa itu
nampak kurang diinginkan dari pada masa sebelumnya. Orang – orang usia lanjut
merasa bahwa tunjangan pensiunnya tidak mencukupi untuk memungkinkan
mereka hidup sesuai dengan rencana dan harapan mereka. Akibatnya, mereka
merasa perlu untuk mencari pekerjaan guna menambah pendapatan mereka. Hal

41
ini berarti bahwa bagi sebagian orang usia lanjut terdapat perbedaan antara
pengharapan dan kenyataan pesiun. Seperti yang dijelaskan oleh Beverly atas
dasar bahan – bahan yang dikumpulkan dari penelitian tentang orang usia lanjut,
bahwa “pensiun nampak leih baik bagi kelompok yang lebih muda dari pada
mereka orang - orang yang sedang memasuki pensiun. Nilai – nilai yang ditaruh
pada masa senggang nampaknya menngkat dalam roporsi langsung terhadap
pendapatan dan pendidikan.

Havighurst membagi orang usia lanjut dalam dua kategori umum atas
dasar sikap mereka terhadap pensiun. Kategori pertama disebut “pengalihan
peran” (transformer) mereka yang mampu dan mau mengubah gaya hidupnya
dengan mengurangi kegiatan-kegiatan berdasarkan pilihan sendiri dengan
menciptakan gaya hidup yang baru yang dan menyenangkan diri mereka sendiri.
Hal iini mereka lakukan dengan cara melepaskan berbagai peran lama dan
menjalankan peran baru. Mereka sendiri jarang rileks dan tidak mengerjakan
apapun, kecuali mereka mengembangkan hobi, melakukan perjalanan, dan
menjadi aktif dalam berbagai pertemuan yang diadakan oleh masyarakat.

Bekerja adalah suatu keharusan untuk memenuhi kebutuhan dan


kesenangan hidup. Bekerja juga merupakan rangkaian ibadah untuk mengabdi
kepada Tuhan. Bekerja dengan dilandasi skill maka akan menemukan banyak
kemudahan. Bekerja dengan rasa kecintaan pada bidang yang digelutinya akan
mendatangkan kesuksesan dan kenyamanan sehingga orang dengan mudah
dipromosikan, memiliki komunikasi sosial yang terbuka, dan mendapatkan
kedudukan di tengah masyarakat. Tetapi dengan bekerja dapat pula membawa
pada masalah besar ketika terjadi pemberhentian di tengah-tengah kenikmatan
bekerja. Sedangkan tidak bekerja karena pensiun, tidak menjabat lagi pada
umumnya ditanggapi oleh banyak orang dengan perasaan negatif dan cenderung
secara mental belum siap menerima perubahan itu. Mereka benar-benar
mengalami shock (kejutan mental hebat) karena dianggap sebagai kejadian yang
merugikan, menimbulkan aib/kenistaan, dan dianggap sebagai hal yang
memalukan yang dapat mengakibatkan degradasi sosial. Realita di lapangan

42
menunjukkan bahwa orang-orang yang dikenakan PHK ataupun para pensiunan
cenderung mengalami penyakit mental yang akhirnya berdampak pada psikis
mereka.

Di sisi lain, menganggur dapat menimbulkan perasaan-perasaan inferior


(minder, rendahdiri), rasa tidak berguna, tidak dipakai lagi, dan tidak dibutuhkan,
juga menimbulkan banyak frustrasi. Bagi orang-orang yang sudah pensiun
(mantan pegawai, purnawirawan) yang sudah dirumahkan, segala fasilitas jabatan,
kemudahan birokrasi, pujian, serta kemewahan yang biasa diterima sewaktu
masih menjabat dahulu semuanya sudah habis. Perasaan kehilangansemua
fasilitas dan keenakan yang pernah didapatkan dirasakan sebagai beban mental
yang berat membebani psikis. Secara umum orang belum bisa menerima
perubahan dari yang dulu menjadi (pejabat yang disegani) dan sekarang tidak
menjadi (bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa).

. Syndrome/sindrom adalah sekumpulan kompleks gejala penyakit


(symptoms) yang saling berkaitan berupa reaksi somatis (tubuh) dalam bentuk
tanda-tanda penyakit, luka-luka, atau kerusakan-kerusakan. Post-Power Syndrome
adalah reaksi somatisasi dalam bentuk sekumpulan simptom penyakit, luka-luka,
dan kerusakan-kerusakan fungsi-fungsi jasmani dan mental yang progresif, karena
orang yang bersangkutan sudah tidak bekerja pensiun. tidak menjabat, atau tidak
berkuasa lagi. Simptom-simptom penyakit ini pada intinya disebabkan oleh
banyaknya stress (ketegangan, tekanan batin), rasa kekecewaan, kecemasan dan
ketakutan, yang mengganggu fungsi-fungsi organik dan psikis, sehingga
mengakibatkan macam-macam penyakit, luka-luka dan kerusakan yang progresif
(terus berkembang/meluas). Sindrom purna kuasa tersebut banyak diidap oleh
para pensiunan, Kemudian mereka tidak mampu melakukan adaptasi yang sehat
terhadap tuntutan kondisi hidup baru.

Gejala psikis dan fisik yang sering tampil antara lain ialah: layu, sayu,
lemas, apatis, depresif, semuanya “serba- salah”; tidak pernah merasa puas, dan
berputus asa. Atau tanda-tanda sebaliknya, yaitu menjadi mudah ribut, tidak

43
toleran, cepat tersinggung, gelisah, agresif, dan suka menyerang baik dengan kata-
kata atau ucapan-ucapan maupun dengan benda-benda, dan lain-lain. Bahkan
tidak jarang menjadi beringas, setengah sadar. Kondisi psikis sedemikian ini jika
tidak bisa dikendalikan oleh si pelaku sendiri, bahkan juga tidak bisa diperingan
dengan bantuan medis dan psikiatris, maka menjadi semakin gawat, dan pasti
akan memperpendek umur penderitanya.

Perasaan-perasaan negatif. terutama keengganan menerima situasi baru


dengan kebesaran jiwa, pasti menimbul-kan banyak stress, keresahan batin,
konflik-konflik jiwani, ketakutan. kecemasan, rasa inferior, apatis, melankholis
dan depresi, serta macam-macam ketidakpuasan lainnya. Jika semua itu
berlangsung berlarut-larut, kronis berkepanjangan. maka jelas akan menyebabkan
proses dementia (kemunduran mental) yang pesat. dengan menyandang
kerusakan-kerusakan pada fungsi-fungsi organis (alat/ bagian tubuh) dan fungsi-
fungsi kejiwaan yang saling berkaitan. dan kita kenal sebagai gejala post-power
syndrome.

Tentunya bagi mental sakit ini telah ada solusinya. Namun terkadang
manusia tidak menyadarinya ketika dia masih asyik masyuk bekerja. Persiapan
mental untuk dapat menerima apapun yang akan terjadi merupakan cara merawat
mental agar tetap sehat. Islam telah mengajarkan dan mengingatkan manusia
tentang takdir ”Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”
(QS. Qomar 49). Sayid Sabiq mengartikan takdir adalah suatu peraturan yang
telah dibuat oleh Allah SWT untuk segala yang ada di alam semesta ini. Imam
Nawami menambahkan takdir itu sendiri telah ditulis sejak sebelum manusia
dilahirkan. Allah mengetahui apa saja yang akan terjadi sesuai dengan waktu yang
telah ditetap atau digariskan-Nya. Dalam falsafah Jawa ”nrima ing pandum” akan
membuat manusia menjadi nyaman dan tidak mudah putus asa.

44
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Post Power Syndrome adalah gejala-gejala setelah berakhirnya kekuasaan.
Gejala ini umumnya terjadi pada orang-orang yang tadinya mempunyai
kekuasaan, namun ketika sudah tidak berkuasa lagi, seketika itu terlihat gejala-
gejala kejiwaan yang biasanya bersifat negatif atau emosi yang kurang stabil.
Faktor-faktor penyebab Post Power Syndrome :
Pensiun, PHK atau pudarnya ketenaran seorang artis adalah salah satu dari
faktor tersebut, kejadian traumatik juga misalnya kecelakaan yang dialami oleh
seorang pembalap, yang menyebabkan kakinya harus diamputasi, Post-power
syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan
pensiun dari pekerjaannya .

3.2. Saran
Ada beberapa saran psikologis untuk menghindari sindrom pasca-
kekuasaan.
- Saat melakukan pekerjaan atau sebelum disajikan, kita perlu menyadari
bahwa segala sesuatu adalah hadiah dari Tuhan, termasuk kekusaan dan
posisi.
- Sebaiknya sambil memegang kantor, tidak hanya untuk mempertimbangkan
bagaimana mempertahankan kekuasaan, tapi untuk mencari tahu bagaimana
melakukan suksesi perencanaan / regenerasi. Penghargaan akan diberikan
bukan karena kekuasaan yang dimiliki, tetapi karena telah melakukan
regenerasi yang baik.
- Butuh selalu menanamkan bahwa tujuan kekuasaan tidak bahwa kita dihargai
oleh orang lain, tapi kita bisa berbuat lebih banyak untuk kesejahteraan orang
lain.

45
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Kartini Kartono, Patologi Sosial 3 Gangguan-gangguan Kejiwaan, Jakarta :


Rajawali, 2012.

Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan,


Elizabeth B. Hurlock, Jakarta : Erlangga.

(http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2012/02/13/cerdas-menghadapi-post-
power-syndrome/)

http://psycologywithus.blogspot.co.id/2013/12/understanding-post-power-
syndrome.html Artikel F English dipostkan Lailatul Badriyah

http://peaceandfit.blogspot.co.id/2013/07/anticipating-post-power-syndrome.html
Artikel Posted by Sidik Paningal

https://www.linkedin.com/pulse/20140915110829-71574762-how-scary-is-post-
power-syndrome-and-how-to-deal-with-it Arikel sumber dari Mahaning Riyana

http://www.suyotohospital.com/index.php?option=com_content&view=article&id
=99:memahami-post-power-syndrome&catid=3:artikel&Itemid=2 dipostkan oleh
Unit Psikologi Rehab Medik RSDS

http://srireskipsikologi.blogspot.co.id/2013/05/makalah-psikologi-lansia-post-
power.html dipostkan oleh Sri reski

http://houseofsuccess99.blogspot.co.id/2014/08/post-power-syndrome-apakah-
itu.html dipostkan oleh Head Office HOUSE OF SUCCESS

46
http://www.1health.id/id/article/category/mens-health/kenali-tanda-tanda-post-
power-syndrome-881.html 0

http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/langkah-langkah-
menghadapi-post-power-syndrome_5528bad1f17e61677d8b459f dipostkan oleh
Tjiptadinata Effendi

https://psychologystudyclubuii.wordpress.com/2012/12/30/post-power-
syndrome/n dipostkan oleh Sub divisi PIO, Divisi Akademik dan Aplikasi

http://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/waspadai-post-power-syndrome-
pada-lansia dipostkan oleh Amelia Rusli Asali Kesehatan Umum

http://www.1health.id/id/article/category/mens-health/5-cara-hadapi-post-power-
syndrome-884.html dipostkan oleh Ayuningtias, psikolog Siloam Hospitals
Simatupang

47
LAMPIRAN

48