Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Globalisasi ekonomi dunia sebagai suatu fenomena pada dekade terakhir ini
tidak bisa dihindari. Kehadiran Indonesia dalam peta ekonomi dunia menuntut
kemampuan untuk berkembang sebagai suatu kekuatan ekonomi baru dari dunia
ketiga. Perkembangan ekonomi yang begitu cepat menuntut kesiapan dalam
mengikuti perkembangan ekonomi sebagai akibat dari globalisasi ekonomi dunia
tersebut.

Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) telah terbukti memberikan


kontribusi yang signifikan pada perekonomian nasional, baik saat normal ataupun
saat krisis ekonomi. Dalam hal ini, mampu berperan dan berfungsi dalam
menyediakan alternatif kegiatan usaha ekonomi produktif (sektor riil), alternatif
penyaluran kredit (sektor moneter), maupun dalam penyerapan tenaga kerja. Lebih
dari 99% unit usaha di Indonesia berskala kecil, seperti terlihat pada Tabel 1.
berikut ini:

Tabel 1

Unit Usaha Kecil, Menengah, dan Besar Tahun 2000 – 2006

Tahun Usaha Kecil Menengah Besar Jumlah

2 39.70 78.832 5.675 39.78


000 5.204 9.711

2 39.88 80.969 5.915 39.96


001 3.111 9.995

2 41.85 85.050 6.132 41.95


002 9.444 0.626

1
2 43.37 87.357 6.514 43.46
003 2.885 6.756

2 44.68 93.036 6.686 44.78


004 4.351 4.073

2 47.00 95.855 6.811 47.10


005 6.889 9.555

2 48.82 106.71 7.204 48.93


006 2.925 1 6.840

Sumber : Golrida. 2008

Usaha kecil di Indonesia mampu menyerap 88% tenaga kerja,memberikan


kontribusi terhadap produk domistik bruto sebesar 40%, dan mempunyai potensi
sebagai salah satu sumber penting pertumbuhan eksport, terutama eksport non
migas (Indonesian Small Business ResearchCenter, 2003). Di dunia internasional,
usaha kecil juga mempunyai peran yang penting, seperti di Amerika Serikat, usaha
kecil membayar 44,3% dari total gaji karyawan sektor swasta, dan menciptakan
60% sampai 80%lapangan kerja baru selama satudekade terakhir (US Small
BusinessAdministration, 2005 dalam Pinasti, M, 2007).

Menurut Profesor CK Prahalad(dalam Hadinoto,2006), kegiatan bisnis


produktif yang dilakukan dalam skala kecil, yang dinamakan usaha mikro, kecil
dan menengah (UMKM), sangat berperan dalam perekonomian. Sektor tersebut,
jelas menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sehingga menjadi komponen
utama penciptaaan lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran,
selanjutnya dapat berdampak pada turunnya tingkat kemiskinan. Peran UMKM
sangat penting untuk memperkuat kelompok masyarakat kelas menengah yang
tangguh, kuat, rasional, tidak mudahdibeli, menuntut aturan main dan kepastian
hukum.

2
Pada bidang akuntansi internasional, perhatian terhadap usaha kecil juga
cukup besar, terbukti dengan adanya suatu discussion papertentang standard
akuntansi untuk usaha kecil dan menengah (Preliminary view on
accountingstandard for small and medium-sizedentities) yang dilakukan oleh
International Accounting StandardBoard (IASB) pada Bulan Juni 2004 (Pinasti, M,
2007). Berikutnya berkembang menjadi exposure draft pada tahun 2007. Selain itu,
perhatian pada usaha kecil juga ditunjukkan oleh AICPA terutama dalam hal
dampak penetapan suatu standar akuntansi bagi usaha kecil. Menurut Metser, 2005,
dalam Pinasti, M, 2007, AICPA mempunyai program-program untuk membantu
para akuntan dalam menyediakan jasa yang berkualitas tinggi bagi klien usaha
kecil.

Perkembangan dunia usaha saat ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan


perusahaan untuk bersaing di pasar. Seorang manajer harus mempunyai strategi
yang baikuntuk memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada, serta menutupi
kelemahan dan mengatasi hambatan yang dihadapi dalam dunia bisnis. Dalam
melaksanakan kegiatan bisnisnya, manajemen perusahaan sangat memerlukan
informasi yang disajikan sesuai kebutuhannya. Akuntansi merupakan salah satu
cara untuk menghasilkan informasi keuangan yang dapat digunakan oleh
manajemen sebagai dasar mengambil keputusan strategis.

Akuntansi adalah kegiatan mengidentifikasi, menghimpun, memproses, dan


mengkomunikasikan informasi ekonomi khususnya keuangan suatu organisasi
bisnis. Siklus akuntansi dimulai dengan menganalisis transaksi keuangan,
selanjutnya dicatat dalam jurnal, diposting ke buku besar, dan dibuat laporan.
Laporan yang dihasilkan antara lain: neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan
modal, dan laporan arus kas. Semua laporan tersebut dapat dimanfaatkan oleh
pemakai informasi, dalam hal ini manajer perusahaan untuk mengambil keputusan
bisnis. (http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJAKUN/article/view/1064)

3
1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan Judul Penelitian yang telah ditetapkan tersebut, maka masalah


penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Bagaimana pemahaman, konsep dan implementasi pencatatan laporan


keuangan pada usaha mikro kecil menengah (UMKM) menurut SAK ETAP
pada usaha rumah makan ?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian tersebut adalah:
1. Untuk mengetahui dan menelusuri pemahaman pelaku UMKM atas
penggunaan laporan keuangan.
2. Untuk memahami konsep dan implementasi laporan keuangan menurut
pemahaman pelaku usaha kecil dan menengah pada rumah makan tersebut.

1.4 Manfaat Penelitian

Tercapainya tujuan penelitian yang telah disebutkan diatas, maka


hasilpenelitian akan memiliki manfaat praktis dan teoritis.

a. Manfaat Praktis
Studi penerapan pencatatan akuntansi telah dilakukan dengan baik,
makaakan bermanfaat untuk menelusuri lebih detail lagi dari aktifitas
yangmendatangkan keuntungan sehingga dapat meningkatkan mutu layanan
yangditawarkan tersebut, dengan kata lain penelitian berharap pengelola
dapatmengelola unit usaha menjadi lebih prefesional.
b. Manfaat teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan ilmu
akuntansi terutama pada aspekpencatatan transaksi di industri kecil rumahan
serta meningkatkan kewirausahaan di masyarakat.

4
BAB II

KERANGKA TEORITIS

2.1 Pengertian Akuntansi


Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian
mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan
pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam
perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah seni dalam
mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Secara
luas, akuntansi juga dikenal sebagai "bahasa bisnis". Akuntansi bertujuan untuk
menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh
para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti
pemegang saham, kreditur, atau pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam
proses ini dikenal dengan istilah pembukuan. Akuntansi keuangan adalah suatu
cabang dari akuntansi di mana informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat,
diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan. Auditing, satu
disiplin ilmu yang terkait tetapi tetap terpisah dari akuntansi, adalah suatu proses
di mana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan suatu organisasi
untuk memberikan suatu pendapat atau opini - yang masuk akal tetapi tak
dijamin sepenuhnya - mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip
akuntansi yang berterima umum.

Definisi Akuntansi menurut American Institute of Certified public


Accountants (AICPA) yang kiranya dapat menjadi landasan yang kuat sebagai
langkah awal mempelajari akuntansi sebagai sistem informasi adalah sebagai
berikut, “Accounting is the art of recording,classifying,and summarizing in a
significant manner and in terms of money, transactitions and events which
are, in part at least, of a financial character and interpreting the result there
of.” “Akuntansi adalah seni pencatatan,pengelompokan,pengikhtisaran menurut
cara yang berarti dan dinyatakan dalam nilai mata uang,semua transaksi serta
kejadian yang sedikit dikitnya bersifat finansial dan dari catatan itu dapat
ditafsirkan hasilnya.

5
Seni pencatatan artinya dalam melakukan pencatatan diusahakan serapih
mungkin, dengan menggunakan bahasa yang khas dalam akuntansi dan tekhnik
tertentu sehingga menarik dan mudah dipahami oleh para pemakai sedangkan
teknik pengelompokan dan pengikhtisaran dilakukan menurut aturan yang
tercantum dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

2.2 Definisi Pemahaman

Pemahaman berasal dari kata paham yang mempunyai arti mengerti


benar, sedangkan pemahaman merupakan proses perbuatan cara memahami
(Em Zul, Fajri & Ratu Aprilia Senja, 2008 : 607-608)

Pemahaman berasal dari kata paham yang artinya (1) pengertian;


pengetahuan yang banyak, (2) pendapat, pikiran, (3) aliran; pandangan, (4)
mengerti benar (akan); tahu benar (akan); (5) pandai dan mengerti benar.
Apabila mendapat imbuhan me- i menjadi memahami, berarti : (1) mengerti
benar (akan); mengetahui benar, (2) memaklumi. Dan jika mendapat imbuhan
pe- an menjadi pemahaman, artinya (1) proses, (2) perbuatan, (3) cara
memahami atau memahamkan (mempelajari baik-baik supaya paham)
(Depdikbud, 1994: 74). Sehingga dapat diartikan bahwa pemahaman adalah
suatu proses, cara memahami cara mempelajari baik-baik supaya paham dan
pengetahuan banyak.

Menurut Poesprodjo (1987: 52-53) bahwa pemahaman bukan kegiatan


berpikir semata, melainkan pemindahan letak dari dalam berdiri disituasi atau
dunia orang lain. Mengalami kembali situasi yang dijumpai pribadi lain
didalam erlebnis (sumber pengetahuan tentang hidup, kegiatan melakukan
pengalaman pikiran), pengalaman yang terhayati. Pemahaman merupakan suatu
kegiatan berpikir secara diam-diam, menemukan dirinya dalam orang lain.

6
2.3 Akuntansi UMKM

Akuntansi didefinisikan oleh para ahli dengan berbagai cara dan


pendekatan, atas beberapa pengertian akuntansi dapat disimpulkan bahwa pada
dasarnya akuntansi berfungsi memberikan informasi kepada pihak-pihak yang
berkepentingan sebagai dasar untuk mengambil keputusan atas aktivitas
ekonomi/keuangan suatu entitas dengan prosedur tertentu. Informasi yang
dihasilkan dalam proses akuntansi berwujud laporan keuangan, diantaranya
laporan laba rugi, neraca/laporan posisi keuangan, laporan perubahan ekuitas,
dan laporan arus kas.

Tujuan laporan keuangan sebagaimana dinyatakan dalam Standar


Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP) adalah
menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas
suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan
keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta
laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Dalam
memenuhi tujuannya, laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah
dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen atas
sumber daya yang dipercayakan kepadanya (IAI, 2009).

Untuk memenuhi tujuan tersebut maka informasi akuntansi atau laporan


keuangan harus memenuhi syarat kualitatif sebagai berikut: dapat dipahami,
relevan, materialitas, keandalan, substansi mengungguli bentuk, pertimbangan
sehat, kelengkapan, dapat dibandingkan, tepat waktu dan keseimbangan antara
biaya dan manfaat.

2.3.1 Peranan UMKM

Pemerintah memberi perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan


Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM). Tidak saja jumlah Umkm di
Indonesia mendominasi, tetapi juga UMKM dapat lebih bertahan dari terpaan
krisis global. Salah satu tantangan utama dan kongkrit yang dihadapi oleh
wirausahawan UMKM adalah terkait dengan pengelolaan dana. Ketidak-beresan

7
pengelolaan dana seringkali menjadi pemicu terjadinya permasalahan-
permasalahan yang berujung kegagalan UMKM.

Penerapan Akuntansi merupakan langkah mudah tetapi memberi manfaat


luar biasa bagi UMKM. Dengan Akuntansi yang memadai maka UMKM anda
dapat memenuhi persyaratan dalam pengajuan kredit berupa laporan keuangan,
mengevaluasi kinerja, mengetahui posisi keuangan, menghitung pajak, dan
manfaat-manfaat lainnya yang mungkin tidak anda duga selama ini.

2.3.2 Permasalahan Dalam UMKM


Usaha kecil dan menengah mempunyai beberapa permasalahan, yaitu sebagai
berikut :
I. Faktor Internal
a. Kurangnya Permodalan
Permodalan merupakan faktor utama yang diperlukan untuk
mengembangkan suatu unit usaha. Kurangnya permodalan UMKM,
karena pada umumnya usaha mikro, kecil dan menengah merupakan
usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya tertutup.
b. Sumber Daya Manusia yang terbatas
Keterbatasan SDM usaha kecil baik dari segi pendidikan formal
maupunpengetahuan dan keterampilannya sangat berpengaruh pada
manajemenpengelolaan usahanya, sehingga usaha tersebut sulit untuk
berkembang secara optimal.
c. Lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi usaha kecil Jaringan
usaha yang sangat terbatas dan kemampuan penetrasi rendah maka produk
yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas dan mempunyai kualitas yang
kurang kompetitif.
II. Faktor Eksternal
a. Iklim usaha belum sepenuhnya kondusif dengan kebijaksanaan
Pemerintah untuk menumbuhkembangkan Usaha Kecil dan Menengah
(UKM). Terlihat dari masih terjadinya persaingan yang kurang sehat
antara pengusaha –pengusaha kecil dan pengusaha besar.

8
b. Terbatasnya Sarana dan Prasarana Usaha.
Kurangnya informasi yang berhubungan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi menyebabkan sarana dan prasarana yang
mereka miliki juga tidak cepat berkembang dan kurang mendukung
kemajuan usaha.
2.3.3 Pelaku UMKM

Dalam pembangunan ekonomi kerakyatan, UMKM mempunyai peranan


yang penting dan strategis untuk mewujudkan struktur dunia usaha nasional
yang kokoh. Sehubungan dengan hal tersebut maka UMKM perlu ditingkatkan
jumlahnya dan diberdayakan menjadi usaha yang tangguh, mandiri dan unggul,
sehingga peranannya dalam penyerapan tenaga kerja, ekspor dan pembentukan
produk domestik bruto semakin meningkat.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008


Tentang Usaha Mikro Kecil Dan Menengah dinyatakan bahwa Kriteria Usaha
Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah sebagai berikut:

a. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:


- Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
- Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah).
b. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
- Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
- Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00
(dua milyar lima ratus juta rupiah).

9
c. Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
- Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
- Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Berdasarkan kriteria UMKM tersebut maka pelaku UMKM merupakan


pemilik atau pendiri usaha baik secara perseorangan maupun berkelompok yang
memenuhi kriteria UMKM sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tersebut.

2.4 Laporan Keungan


Suatu informasi mengenai keuangan perusahaan dalam suatu periode
tertentu yang digunakan untuk menggambarkan kinera suatu
perusahaan.Umumnya laporan keungan dikelompokkan menjadi 4 bagian yakni
Laporan rugi/lugi (R/L), Neraca, Arus kas dan laporan perubahan modal. Untuk
Menyusun suatu laporan keuangan hendaknya kita harus mengerti step by step
misalkan dalam neraca, terlebih dahulu kita harus mengetahui dalam neraca
terdari dari beberapa pos dan informasi yang dibutuhkan untuk mengisi pos
tersebut kita juga harus ketahui.

2.4.1 Tujuan Laporan Keuangan


Laporan keuangan dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran
atau laporan kemajuan yang secara periodik dilakukan pihak manajemen
perusahaan yang bersangkutan. Dengan kata lain laporan keuangan bertujuan
untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Berikut ini terdapat
pengertian laporan keuangan dari pendapat beberapa ahli dan pakar akuntansi :

10
Menurut Sofyan Syafri Harahap, (2007 : 201) mengemukakan bahwa :

Laporan Keuangan merupakan output dan hasil dari proses akuntansi yang
menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam
proses pengambilan keputusan.” Sedangkan menurut Michell Suherli, (2006 :
10) mengemukakan bahwa :
“Tujuan Laporan Keuangan adalah menyediakan informasi yang
menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi.” Dari beberapa pendapat para ahli dan pakar akuntansi di
atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa laporan keuangan merupakan
informasi yang berkaitan tentang posisi atau keadaan keuangan perusahaan pada
periode tertentu yang nantinya akan dipakai oleh pemakainya dalam hal
pengambilan keputusan.

2.5 SAK ETAP


SAK ETAP adalah Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa
Akuntabilitas Publik, artinya SAK ETAP diperuntukkan bagi entitas yang
laporan keuangannya tidak akuntabel untuk publik secara luas.Biasanya SAK
ETAP diterapkan oleh usaha kecil dan menengah, karena tidak
memperjualbelikan sahamnya di pasar modal. Menurut SAK ETAP (2009)
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik (SAK
ETAP) dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik.
Ikatan Akuntan Indonesia telah menerbitkan Standar Akuntansi
Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada tanggal
17 Juli 2014 dan berlaku efektif 1 Januari 2011. Diterbitkannya SAK ETAP
bertujuan untuk diimplementasikan pada entitas tanpa akuntabilitas publik. Pada
umumnya, UKM adalah entitas tanpa akuntabilitas publik karena UKM pada
umumnya belum memiliki akuntabilitas publik signifikan dan tidak menerbitkan
laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial stetment).
Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat
menggunakan SAK ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi
mengizinkan penggunaan standar tersebut. Hal ini dimungkinkan apabila

11
misalnya pihak otoritas berwenang merasa ketentuan pelaporan dengan
menggunakan PSAK terlalu tinggi biayanya ataupun terlalu rumit untuk entitas
yang mereka awasi.
SAK ETAP pada dasarnya merupakan turunan dari PSAK. Bahkan
sebenarnya SAK ETAP merupakan bentuk penyederhanaan dari PSAK. SAK
ETAP memberikan banyak kemudahan bagi perusahaan dibandingkan dengan
PSAK yang memiliki ketentuan pelaporan yang lebih kompleks.

12
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Rumah Makan “AYAM BAKAR MAS


JA” yang berlokasi di Kampung Pisang wilayah Kota Ternate Provinsi Maluku
Utara. Waktu penelitian dilaksanakan dari bulan November 2017.

3.2 Jenis dan Sumber Data

3.2.1 Jenis Data

1. Data Primer
Data primer yang didapat dari Rumah Makan “AYAM BAKAR
MAS JA” adalah berupa sejarah singkat dari awal mulanya berdiri pada
tahun 2011 sampai sekarang. Dalam waktu 5 tahun rumah makan tersebut
sudah membuka cabang sebanyak 3 tempat diantaranya di Kampung
Makasar Barat, Kampung Pisang dan yang terakhir di Jerbus.
2. Data Sekunder
Data sekunder yang didapat dari Rumah Makan “AYAM BAKAR
MAS JA” adalah pencatatan transaksi keuangan hanya menggunakan
penulisan transaksi saja.

3.2.2 Sumber Data

Pada penelitian ini menggunakan informan sebagai sumber data


penelitian, tidak menggunakan populasi dan sampel karena bentuk penelitiannya
merupakan penelitian deskriptif, untuk memperoleh data secara jelas, akurat, dan
terpercaya dibutuhkan informan, yang menjadi informan kunci dalam penelitian
ini adalah pemilik tempat usaha dan seorang karyawan pada rumah makan
AYAM BAKAR MAS JA.

13
3.3 Teknik Pengumpulan Data

a. Metode Dokumentasi
Dokumentasi pada penelitian ini akan memuat data yang terkait
dengan penyajiannya dalam Laporan Keuangan, tetapi pada kasus ini
selaku pemilik usaha rumah makan AYAM BAKAR MAS JA mereka
tidak melakukan penctatan secara siklus akuntansi tetapi mereka hanya
menulis transaksinya saja.
b. Metode Wawancara
Wawancara bertujuan untuk mendapatkan informasi yang ingin
diketahui oleh peneliti yang tidak didapatkan dari laporan atau data yang
terkait dengan masalah yang akan diteliti, wawancara akan dilakukan
dengan memberikan pertanyaan lisan kepada subyek penelitian dalam hal
ini karyawan bagian kasir dan pemilik usaha Restoran “AYAM BAKAR
MAS JA”.

14