Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelainan metabolik kronik serius
yang memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan seseorang, kualitas hidup,
harapan hidup pasien, dan pada sistem layanan hidup pasien.(1) Diabetes melitus
(DM) saat ini termasuk kedalam lima besar penyebab kematian dan jumlah
penderitanya di dunia masih sangat tinggi. Penderita DM di dunia diperkirakan
sekitar 382 juta jiwa. Penderita DM di Indonesia menempati peringkat ke-7
dalam 10 besar Negara dengan penderita DM terbanyak dengan jumlah 8,5 juta
jiwa.(2) Penyakit DM tipe II di Indonesia merupakan salah satu penyebab utama
penyakit tidak menular atau 2,1% dari seluruh kematian. Diperkirakan sekitar
90% kasus DM di seluruh dunia tergolong DM tipe II. Jumlah DM tipe II
semakin meningkat pada kelompok usia dewasa terutama usia >30 tahun dan
pada seluruh status sosial ekonomi.(3) Prevalensi DM tipe II pada tahun 2013 di
provinsi Kalimantan Barat cukup besar yaitu 0,8%.(4) Prevalensi DM tipe II pada
tahun 2007 di kota Pontianak sebesar 3,1%.(5)
Tingginya angka kejadian diabetes disebabkan keterlambatan penegakan
diagnosis penyakit tersebut. Pasien sudah meninggal akibat kompikasi sebelum
adanya penegakan diagnosis.(6) Penyebab keterlambatan penegakan diagnosis
tersebut adalah banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap pilihan-pilihan
yang ada atau beragamnya variabel. Sangat disayangkan bahwa banyak penderita
diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering
disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya
informasi masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.
Penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya tidak mengalami berbagai
gejala sehingga mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing
2

manis. Dampak dramatis dari diabetes mellitus terhadap kesehatan seseorang


sangatlah kompleks. Diabetes mellitus dan penyakit turunannya telah menjadi
ancaman serius. Penyakit ini membunuh 3,8 juta orang per tahun dan dalam
setiap 10 detik seorang penderita akan meninggal karena sebab-sebab yang
terkait dengan diabetes. Pada makalah ini, penulis akan membahas lebih detail
tentang penyakit diabetes mellitus tipe 2, faktor -faktor penyebabnya dan cara
pencegahan dan pengobatannya.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana penyakit diabetes mellitus tipe 2?
1.2.2 Apa faktor penyebab dan gejala penyakit diabetes mellitus tipe 2?
1.2.3 Bagaimana pencegahan dan pengobatan pada penderita penyakit diabetes
mellitus tipe 2?

1.3 Tujuan
1.3.1 Dapat mengetahui dan memahami penyakit diabetes mellitus tipe 2.
1.3.2 Dapat mengetahui faktor penyebab dan gejala penyakit diabetes mellitus
tipe 2.
1.3.3 Dapat melakukan pencegahan dan pengobatan pada penderita penyakit
diabetes mellitus tipe 2.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Diabetes Mellitus Tipe 2


Diabetes Mellitus (DM) Tipe II merupakan penyakit hiperglikemi akibat
insensivitas sel terhadap insulin. Kadar insulin mungkin sedikit menurun atau
berada dalam rentang normal. Karena insulin tetap dihasilkan oleh sel-sel beta
pankreas, maka diabetes mellitus tipe II dianggap sebagai non insulin Dependent
Diabetes Mellitus (NIDDM).(7) Diabetes Melitus tipe 2 biasanya disebabkan
karena adanya malnutrisi disertai kekurangan protein.(6) gangguan genetik pada
fungsi sel β dan kerja insulin, namun dapat pula terjadi karena penyakit eksokrin
pankreas (seperti cystik fibrosis), endokrinopati, akibat obat-obatan tertentu atau
induksi kimia.(8) Dalam DM Tipe 2, pankreas dapat menghasilkan cukup jumlah
insulin untuk metabolisme glukosa (gula), tetapi tubuh tidak mampu untuk
memanfaatkan secara efisien. Seiring waktu, penurunan produksi insulin dan
kadar glukosa darah meningkat.(9)

2.2 Patofisiologi Diabetes Mellitus Tipe 2


DM tipe II disebabkan kegagalan relatif sel β dan resisten insulin. Resisten
insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan
glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glikosa oleh hati.
Sel β tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi
defensiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi
insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan glukosa bersama
bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel β pancreas mengalami
desensitisasi terhadap glukosa.(10)
Pada DM tipe 2, sekresi insulin di fase 1 atau early peak yang terjadi dalam
3-10 menit pertama setelah makan yaitu insulin yang disekresi pada fase ini
4

adalah insulin yang disimpan dalam sel beta (siap pakai) tidak dapat menurunkan
glukosa darah sehingga merangsang fase 2 adalah sekresi insulin dimulai 20
menit setelah stimulasi glukosa untuk menghasilkan insulin lebih banyak, tetapi
sudah tidak mampu meningkatkan sekresi insulin sebagaimana pada orang
normal. Gangguan sekresi sel beta menyebabkan sekresi insulin pada fase 1
tertekan, kadar insulin dalam darah turun menyebabkan produksi glukosa oleh
hati meningkat, sehingga kadar glukosa darah puasa meningkat. Secara
berangsur-angsur kemampuan fase 2 untuk menghasilkan insulin akan menurun.
Dengan demikian perjalanan DM tipe 2, dimulai dengan gangguan fase 1 yang
menyebabkan hiperglikemi dan selanjutnya gangguan fase 2 di mana tidak terjadi
hiperinsulinemi akan tetapi gangguan sel beta. Penelitian menunjukkan adanya
hubungan antara kadar glukosa darah puasa dengan kadar insulin puasa. Pada
kadar glukosa darah puasa 80-140 mg/dl kadar insulin puasa meningkat tajam,
akan tetapi jika kadar glukosa darah puasa melebihi 140 mg/dl maka kadar
insulin tidak mampu meningkat lebih tinggi lagi; pada tahap ini mulai terjadi
kelelahan sel beta menyebabkan fungsinya menurun. Pada saat kadar insulin
puasa dalam darah mulai menurun maka efek penekanan insulin terhadap
produksi glukosa hati khususnya glukoneogenesis mulai berkurang sehingga
produksi glukosa hati makin meningkat dan mengakibatkan hiperglikemi pada
puasa. Faktor-faktor yang dapat menurunkan fungsi sel beta diduga merupakan
faktor yang didapat (acquired) antara lain menurunnya massa sel beta, malnutrisi
masa kandungan dan bayi, adanya deposit amilyn dalam sel beta dan efek toksik
glukosa (glucose toXicity). (11)
Pada sebagian orang kepekaan jaringan terhadap kerja insulin tetap dapat
dipertahankan sedangkan pada sebagian orang lain sudah terjadi resistensi insulin
dalam beberapa tingkatan. Pada seorang penderita dapat terjadi respons
metabolik terhadap kerja insulin tertentu tetap normal, sementara terhadap satu
atau lebih kerja insulin yang lain sudah terjadi gangguan. Resistensi insulin
merupakan sindrom yang heterogen, dengan faktor genetik dan lingkungan
5

berperan penting pada perkembangannya. Selain resistensi insulin berkaitan


dengan kegemukan, terutama gemuk di perut, sindrom ini juga ternyata dapat
terjadi pada orang yang tidak gemuk. Faktor lain seperti kurangnya aktifitas fisik,
makanan mengandung lemak, juga dinyatakan berkaitan dengan perkembangan
terjadinya kegemukan dan resistensi insulin.(11)
2.3 Faktor Resiko Diabetes Melitus Tipe 2
Peningkatan jumlah penderita DM yang sebagian besar DM tipe 2, berkaitan
dengan beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko
yang dapat diubah dan faktor lain. Menurut American DiabetesAssociation
(ADA) bahwa DM berkaitan dengan faktor risiko yang tidak dapat diubah
meliputiriwayat keluarga dengan DM (first degree relative), umur ≥45 tahun,
etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi >4000 gram atau
riwayat pernah menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan berat badan
rendah (<2,5 kg).(12,13) Faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas
berdasarkan IMT ≥25kg/m2 atau lingkar perut ≥80 cm pada wanita dan ≥90 cm
pada laki-laki, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemi dan diet tidak
sehat.(14)
Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes adalah penderita polycystic
ovarysindrome (PCOS), penderita sindrom metabolikmemiliki riwatyat toleransi
glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
sebelumnya, memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau
peripheral rrterial Diseases (PAD), konsumsi alkohol,faktor stres, kebiasaan
merokok, jenis kelamin,konsumsi kopi dan kafein.(15,16,17)
1. Obesitas (kegemukan)
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada
derajat kegemukan dengan IMT > 23 dapat menyebabkan peningkatan kadar
glukosa darah menjadi 200mg%.(12,15)
6

2. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam
tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.
3. Riwayat Keluarga Diabetes Mellitus
Seorang yang menderita Diabetes Mellitus diduga mempunyai gen diabetes.
Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang
bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes
Mellitus.
4. Dislipedimia
Adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah
(Trigliserida > 250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin
dengan rendahnya HDL (< 35 mg/dl) sering didapat pada pasien Diabetes.
5. Umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Mellitus adalah
> 45 tahun.
6. Riwayat persalinan
Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau berat badan bayi >
4000gram
7. Faktor Genetik
DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental Penyakit
ini sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko
emperis dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam
kali lipat jika orang tua atau saudara kandung mengalami penyakitini.
8. Alkohol dan Rokok
Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan
peningkatan frekuensi DM tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini
dihubungkan dengan peningkatan obesitas dan pengurangan ketidak aktifan
fisik, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan perubahan dari lingkungan
7

tradisional kelingkungan kebarat- baratan yang meliputi perubahan-perubahan


dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam peningkatan DM
tipe 2. Alkohol akan menganggu metabolisme gula darah terutama pada
penderita DM, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan
meningkatkan tekanan darah. Seseorang akan meningkat tekanan darah
apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60ml/hari yang setara dengan
100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml. Faktor resiko penyakit tidak
menular, termasuk DM Tipe 2, dibedakan menjadi dua. Yang pertama adalah
faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya umur, faktor genetik, pola
makan yang tidak seimbang jenis kelamin, status perkawinan, tingkat
pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol,
Indeks Masa Tubuh.(15,17)
2.4 Gejala Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2
Beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat perhatian ialah: (18)
a. Penurunan berat badan
Penurunan berat badan yang berlangsung dalam waktu relatif singkat harus
menimbulkan kecurigaan. Hal ini disebabkan glukosa dalam darah tidak
dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk
menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan hidup, sumber tenaga terpaksa
diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot. Akibatnya penderita
kehilangan jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.
b. Banyak kencing
Karena sifatnya, kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan banyak
kencing. Kencing yang sering dan dalam jumlah banyak akan sangat
mengganggu penderita, terutama pada waktu malam hari.
c. Banyak minum
Rasa haus sering dialami oleh penderita karena banyaknya cairan yang keluar
melalui kencing. Keadaan ini justru sering disalah tafsirkan. Dikira sebab rasa
8

haus ialah udara yang panas atau beban kerja yang berat. Untuk
menghilangkan rasa haus itu penderita minum banyak.
d. Banyak makan
Kalori dari makanan yang dimakan, setelah dimetabolisme menjadi glukosa
dalam darah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, penderita selalu merasa
lapar.
e. Gangguan saraf tepi/Kesemutan
Penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di waktu
malam, sehingga mengganggu tidur. Gangguan penglihatan Pada fase awal
penyakit Diabetes sering dijumpai gangguan penglihatan yang mendorong
penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali agar ia tetap dapat
melihat dengan baik.
f. Gatal/Bisul
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan atau daerah
lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah payudara. Sering pula dikeluhkan
timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhnya. Luka ini dapat timbul akibat
hal yang sepele seperti luka lecet karena sepatu atau tertusuk peniti.
g. Gangguan Ereksi
Gangguan ereksi ini menjadi masalah tersembunyi karena sering tidak secara
terus terang dikemukakan penderitanya. Hal ini terkait dengan budaya
masyarakat yang masih merasa tabu membicarakan masalah hubungan badan,
apalagi menyangkut kemampuan atau kejantanan seseorang.
h. Keputihan
Pada wanita, keputihan dan gatal merupakan keluhan yang sering ditemukan
dan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan.

2.5 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2


Tujuan utama pada penatalaksanaan DM adalah menormalkan aktivitas
insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya
9

komplikasi vaskuler serta neuropatik, pengobatan primer dari diabetes tipe I


adalah insulin, sedangkan untuk pengobatan utama diabetes mellitus tipe II
adalah penurunan berat badan.(19) Penatalaksanaan DM dimulai dengan pola
hidup sehat, dan bila perlu dilakukan intervensi farmakologis dengan obat
antihiperglikemia secara oral dan/atau suntikan. Beberapa prinsip pengelolahan
diabetes melitus adalah :
1. Edukasi
Edukasi kepada pasien, keluarga dan masyarakat agar menjalankan perilaku
hidup sehat. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam perubahan perilaku
sehat yang memerlukan partisipasi aktif dari pasien dan keluarga pasien.
Upaya edukasi dilakukan secara komphrehensif dan berupaya meningkatkan
motivasi pasien untuk memiliki perilaku sehat.(20,21) Tujuan dari edukasi
diabetes adalah mendukung usaha pasien penyandang diabetes untuk mengerti
perjalanan alami penyakitnya dan pengelolaannya, mengenali masalah
kesehatan/komplikasi yang mungkin timbul secara dini/saat masih reversible,
ketaatan perilaku pemantauan dan pengelolaan penyakit secara mandiri, dan
perubahan perilaku/kebiasaan kesehatan yang diperlukan. Edukasi pada
penyandang diabetes meliputi pemantauan glukosa mandiri, perawatan kaki,
ketaatan pengunaan obat-obatan, berhenti merokok, meningkatkan aktifitas
fisik, dan mengurangi asupan kalori dan diet tinggi lemak.(21)
2. Terapi Gizi Medis
Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes yaitu makanan yang
seimbang, sesuai dengan kebutuhan kalori masing-masing individu, dengan
memperhatikan keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah makanan.
Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari karbohidrat 45%-65%,
lemak 20%-25%, protein 10%-20%, Natrium kurang dari 3g, dan diet cukup
serat sekitar 25g/hari.(20)
10

3. Latihan Jasmani
Latihan jasmani secara teratur 3-4 kali seminggu, masing-masing selama
kurang lebih 30 menit. Latihan jasmani dianjurkan yang bersifat aerobik
seperti berjalan santai, jogging, bersepeda dan berenang. Latihan jasmani
selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan
meningkatkan sensitifitas insulin.(20)
4. Intervensi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan
jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan
bentuk suntikan.
a. Obat Antihiperglikemia Oral Berdasarkan cara kerjanya, obat
antihiperglikemia oral dibagi menjadi 5 golongan:
1) Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue): Sulfonilurea dan Glinid
1. Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama memacu sekresi insulin
oleh sel beta pankreas.
2. Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea,
dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama.
Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial.
2) Peningkat Sensitivitas terhadap Insulin: Metformin dan Tiazolidindion
(TZD)
1. Metformin mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati
(glukoneogenesis), dan memperbaiki ambilan glukosa perifer.
Metformin merupakan pilihan pertama pada sebagian besar kasus
DMT2.
2. Tiazolidindion (TZD) merupakan agonis dari Peroxisome Proliferator
Activated Receptor Gamma (PPAR-γ), suatu reseptor inti termasuk
di sel otot, lemak, dan hati. Golongan ini mempunyai efek
11

menurunkan resistensi insulin dengan jumlah protein pengangkut


glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Obat ini
dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung (NYHA FC
IIIIV) karena dapat memperberat edema/retensi cairan. Hati-hati pada
gangguan faal hati, dan bila diberikan perlu pemantauan faal hati
secara berkala. Obat yang masuk dalam golongan ini adalah
Pioglitazone.
3) Penghambat Absorpsi Glukosa: Penghambat Glukosidase Alfa.
Obat ini bekerja dengan memperlambat absorbsi glukosa dalam usus
halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah
sesudah makan. Penghambat glukosidase alfa tidak digunakan bila GFR
≤30ml/min/1,73 m2, gangguan faal hati yang berat, irritable bowel
syndrome.
4) Penghambat DPP-IV (Dipeptidyl Peptidase-IV)
Obat golongan penghambat DPP-IV menghambat kerja enzim DPP-IV
sehingga GLP-1 (Glucose Like Peptide-1) tetap dalam konsentrasi yang
tinggi dalam bentuk aktif. Aktivitas GLP-1 untuk meningkatkan sekresi
insulin dan menekan sekresi glukagon bergantung kadar glukosa darah
(glucose dependent).
5) Penghambat SGLT-2 (Sodium Glucose Co-transporter 2)
Obat golongan penghambat SGLT-2 merupakan obat antidiabetes oral
jenis baru yang menghambat reabsorpsi glukosa di tubuli distal ginjal
dengan cara menghambat transporter glukosa SGLT-2. Obat yang
termasuk golongan ini antara lain: Canagliflozin, Empagliflozin,
Dapagliflozin, Ipragliflozin.
12

Tabel 1. Profil obat antihiperglikemia oral yang tersedia di Indonesia(20)

b. Obat Antihiperglikemia Suntik(20)


1) Insulin
Tabel 2. Farmakokinetik Insulin Eksogen Berdasarkan Waktu Kerja
Awitan Puncak Lama
Jenis Insulin Kemasan
(onset) Efek Kerja
Kerja Cepat (Rapid-Acting) (Insulin Analog)
Insulin Lispro
(Humalog®)
Insulin Aspart Pen/cartridge
5-15 menit 1-2 jam 4-6 jam
(Novorapid®) Pen, vial Pen
Insulin Glulisin
(Apidra®
Kerja Pendek (Short-Acting) (Insulin Manusia, Insulin Reguler )
Humulin® R
Vial,
Actrapid® 30-60 menit 2-4 jam 6-8 jam
pen/cartridge
Sansulin®
Kerja Menengah (Intermediate-Acting) (Insulin Manusia, NPH)
Vial,
Humulin N®
pen/cartridge
Insulatard® 1,5–4 jam 4-10 jam 8-12 jam
Insuman Basal®
13

Kerja Panjang (Long-Acting) (Insulin Analog)


Insulin Glargine
Hampir
(Lantus®)
1–3 jam tanpa 12-24 jam Pen
Insulin Detemir
puncak
(Levemir®)
Kerja Ultra Panjang (Ultra Long-Acting) (Insulin Analog)
Hampir
Degludec Sampai 48
30-60 menit tanpa
(Tresiba®)* jam
puncak
Campuran (Premixed) (Insulin Manusia)
70/30 Humulin®
(70% NPH, 30%
reguler) 70/30
30-60 menit 3–12 jam
Mixtard® (70%
NPH, 30%
reguler)
Campuran (Premixed, Insulin Analog)
75/25
Humalogmix®
(75% protamin
lispro, 25%
12-30 menit 1-4 jam
lispro) 70/30
Novomix®
(70%protamine
aspart, 30%
aspart)
NPH:neutral protamine Hagedorn; NPL:neutral protamine lispro. Nama obat disesuaikan dengan
yang tersedia di Indonesia. [Dimodifikasi dari Mooradian et al. Ann Intern Med. 2006;145:125-34]

2) Agonis GLP-1/Incretin Mimetic


Pengobatan dengan dasar peningkatan GLP-1 merupakan pendekatan
baru untuk pengobatan DM. Agonis GLP-1 dapat bekerja sebagai
perangsang pengelepasan insulin yang tidak menimbulkan hipoglikemia
ataupun peningkatan berat badan yang biasanya terjadi pada pengobatan
insulin ataupun sulfonilurea. Agonis GLP-1 bahkan mungkin
14

menurunkan berat badan. Efek samping yang timbul pada pemberian


obat ini antara lain rasa sebah dan muntah.
c. Terapi Kombinasi
Terapi dengan obat antihiperglikemia oral kombinasi baik secara terpisah
ataupun fixed dose combination dalam bentuk tablet tunggal, harus
menggunakan dua macam obat dengan mekanisme kerja yang berbeda.
Pada keadaan tertentu dapat terjadi sasaran kadar glukosa darah yang
belum tercapai, sehingga perlu diberikan kombinasi tiga obat
antihiperglikemia oral dari kelompok yang berbeda atau kombinasi obat
antihiperglikemia oral dengan insulin. Pada pasien yang disertai dengan
alasan klinis dimana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai, terapi
dengan kombinasi tiga obat antihiperglikemia oral dapat menjadi pilihan.
Kombinasi obat antihiperglikemia oral dan insulin yang banyak
dipergunakan adalah kombinasi obat antihiperglikemia oral dan insulin
basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang), yang diberikan
pada malam hari menjelang tidur. Pendekatan terapi tersebut pada
umumnya dapat mencapai kendali glukosa darah yang baik dengan dosis
insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10
unit yang diberikan sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis
tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya. Pada
keadaaan dimana kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak
terkendali meskipun sudah mendapat insulin basal, maka perlu diberikan
terapi kombinasi insulin basal dan prandial, serta pemberian obat
antihiperglikemia oral dihentikan.
15

2.6 Contoh Kasus Diabetes Mellitus Tipe 2


Seorang pasien wanita bernama Ibu Lauren berumur 32 tahun (BB 53 Kg,
TB 158 cm) mengeluh sering merasa lapar, sering buang air kecil, sering
merasakan haus yang berlebihan, cepat lelah dan sering kesemutan. Pasien
memiliki riwayat penyakit DM sejak 2 tahun yang lalu dan hipertensi 1 tahun
yang lalu. Data pemeriksaan menunjukkan kadar glukosa darah sewaktu pasien
275 mg/dL, dengan tekanan darah 165/100 mmHg. Riwayat pengobatan pasien:
metformin 2 kali sehari (DM), dan untuk hipertensi HCT 25 mg 1 kali sehari,
captopril 12,5 mg 2 kali sehari, dan aspirin 160 mg 1 kali sehari. Ibu Lauren
tinggal bersama putri semata wayangnya bernama Cinta, ia seorang Janda,
suaminya meninggal 1 tahun yang lalu akibat kecelakaan kerja. Ia aktif sebagai
wanita karir di sebuah perusahaan swasta.
Dokter memberikan resep sebagai berikut:

dr. Alif
SIP.455/6096/DU/416.103B/2014
Alamat: Jl. Tanjung Raya 2, No. 7- Pontianak

Resep No : 27 Tgl : 27-03-2017

R/ Metformin 500 mg No. X


S 3 dd 1
R/ HCT 25 mg No. X
S 1 dd 1
R/ Captopril 12,5 mg No. X
S 2 dd 1
R/ Aspirin 160 mg No. X
S 1 dd 1
Pro : Ny Lauren
Umur : 32 tahun
Alamat : Jl. Ahmad Yani komp. Sepakat II
residen
16

Berikut adalah simulasi konseling pada pasien (wawancara yang dilakukan


antara apoteker dengan pasien) :
Apoteker : “Selamat pagi, bu. Benar dengan Ibu Lauren?
Pasien : “Ya, dengan saya sendiri”.
Apoteker : “Perkenalkan saya Fidriansyah, apoteker yang bertanggung jawab di
apotek ini. Sebelumnya bu, dokter sudah menjelaskan tentang
pengobatan?”
Pasien : “Sudah. Dokter bilang ini obat untuk tekanan darah dan gula darah
saya”.
Apoteker : “Ibu, sebelumnya sudah pernah menggunakan obat-obat ini?”
Pasien : “Ya, sudah pernah”.
Apoteker : “Ada perubahan tidak ibu setelah menggunakan obat ini?”
Pasien : “Turun naik sih pak. Kadang gula darah dan tekanan darah saya naik,
kadang turun juga. Biasanya kalau habis minum obat rasanya enakan
sih”.
Apoteker : “Tadi pas ke dokter, ada cek tekanan darah dan gula darah tidak?”
Pasien : “Iya, tadi sempat diukur sama petugasnya”.
Apoteker : “Ohhh.. Berapa nilainya bu?”
Pasien : “Kalau gula darah sih 275, agak naik sih soalnya obat saya lagi habis.
Makanya nebus lagi. Kalau tekanan darah 165/100”.
Apoteker : “Ohh.. Cukup tinggi ya.. Biasanya berapa?”
Pasien : “Biasanya sih lebih rendah dari itu pak. Saya lupa juga tapi.”
Apoteker : “Oh. Sebentar ya bu. Saya ambilkan obatnya dulu ya.”
Pasien : “Iya”
3 menit kemudian
Apoteker : “Ibu, ini obatnya (sambil menyerahkan obat yang diresepkan). Ini ada
kaptopril dan HCT sebagai antihipertensinya. Kaptopril diminum 2 kali
sehari, dan HCT sekali sehari pada pagi hari. Metforminnya 2 kali sehari
untuk gula darah ibu. Dan ini aspirin 1 kali sehari sebagai tambahan
17

terapi untuk memperlancar aliran darah. Semua diminum setelah makan


ya.Gimana bu, sudah jelas? Bisa diulang?”
Pasien : “Jelas lah. Saya sudah tahu. Setiap hari saya minum soalnya.”
Apoteker : “Oh.. Baiklah kalau begitu. Oh iya, ini ada saran sedikit untuk ibu, kalau
bisa kurangi asupan garam dan gula, dan jangan banyak makan makanan
berlemak serta karbohidrat sederhana. Turunkan berat badan juga ya.”
Pasien : “Iya. Saya usahakan. Tapi pak, boleh nanya tidak? Maksudnya apa
makanan karbohidrat sederhana? Soalnya kemarin juga disarankan sama
dokter seperti itu.”
Apoteker : “Makanan karbohidrat sederhana itu makanan yang mudah diolah oleh
tubuh, sehingga cepat meningkatkan gula darah, misalnya nasi, mie
instan, kwe tiau, kue-kue manis, minuman bersoda. Bagusnya diganti
dengan makanan berkarbohidrat kompleks seperti beras merah, jagung,
dan roti gandum. Diselang seling aja.”
Pasien : “Oh iya. Ok. Ok. Ok. Makasih pak.”
Apoteker : “Oh iya, maaf sebelumnya, apakah ibu merokok ?”
Pasien : “tidak pak, memang kenapa pak?.”
Apoteker :“Oh gitu. Jadi tuh bu. Sebenarnya rokok dapat mempengaruhi
keberhasilan pengobatan, maka kemungkinan pengobatannya tidak
efektif. Dan jangan lupa sering-sering cek tekanan darah dan gula darah
ya supaya bisa dimonitoring terapinya ya bu.”
Pasien : “OK lah. Terimakasih buat sarannya. Saya permisi dulu”.
Apoteker : “Sama-sama bu. Semoga sehat selalu.”

1) Subjektif
Nama : Lauren
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 32 tahun
Tinggi badan : 158 cm
18

Berat badan : 53 kg
Keluhan : Sering merasa lapar, sering buang air kecil, sering
merasakan haus yang berlebihan, cepat lelah dan
sering kesemutan
Riwayat penyakit : Hipertensi sejak 1 tahun yang lalu, dan Diabetes
sejak 2 tahun yang lalu

2) Objektif
Tekanan darah : 165/100mmHg
Gula darah sewaktu : 275mg/dL
Pengobatan saat ini : Metformin 500 mg 3 kali sehari
Captopril 12,5 mg 2 kali sehari
HCT 25 mg 1 kali sehari
Aspirin 162 mg 1 kali sehari

3) Assesment
 Dari data tekanan darah pasien dapat diketahui bahwa pasien mengalami
hipertensi tipe 2
 Dari nilai gula darah diketahui bahwa pasien tersebut menderita diabetes
mellitus karena nilai gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dL
 Tekan darah pasien hipertensi dengan diabetes yang dianjurkan JNC VII
adalah 130/80 mmHg
 hipertensi pada pasien dapat disebabkan karena diabetes melitus, resistensi
insulin, obesitas, kurangnya asupan kalsium dan kalium serta kebiasaan
merokok (pc hipertensi)

4) Plan
 pasien yang menderita komplikasi hipertensi dan diabetes melitus
memerlukan pengobatan yang sesuai.
19

 Apabila tekanan darah melebihi 20/10 mmHg di atas target, dapat


dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan dua obat, namun yang harus
diperhatikan adalah resiko terjadinya hipotensi ortostatik, terutama pada
pasien-pasien dengan diabetes, disfungsi autonomik dan lansia.
 Pilihan terapi pada pasien dengan hipertensi dan diabetes, ACEI dan
dikombinasikan dengan diuretik thiazid. ACEI digunakan karena dapat
melindungi ginjal dan dapat mencegah serangan jantung
 Captopril yang digunakan untuk pemeliharaan 25-50mg/hari setiap 8 jam
atau 12 jam, sehingga dipilih 25 mg 2 kali sehari.
 HCT dapat diberikan 12,5mg/hari diberikan sekali sehari pada pagi hari,
karena HCT dapat menyebakan diuresis.
 Metformin dapat digunakan sebagai antidiabetes pada pasien obesitas.
Metformin digunakan secara oral bersamaan dengan makanan. Dosis
pemeliharaan 1500-2550 mg/hari; tidak boleh melebihi 2550 mg/hari
 Aspirin digunakan untuk mecegah serangan jantung dan untuk
memperlancar aliran darah. Untuk pemeliharaan biasanya digunakan 80-
325 mg sehari
20

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Diabetes Mellitus (DM) Tipe II merupakan penyakit hiperglikemiakibat
insensivitas sel terhadap insulin. Kadar insulin mungkin sedikitmenurun atau
berada dalam rentang normal. Karena insulin tetap dihasilkan oleh sel-sel beta
pankreas, maka diabetes mellitus tipe II dianggapsebagai non insulin
Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM).
2. Faktor penyebab dari DM tipe II adalah obesitas, hipertensi, riwayat keluarga
DM, dislipidemia, umur, riwayat persalinan, faktor genetik, alkohol dan
rokok. Gejala dari DM tipe 2 adalah penurunan berat badan, banyak buang air
kecil, banyak minum, banyak makan, gangguan saraf tepi/kesemutan,
gatal/bisul, gangguan ereksi, keputihan.
3. Pencegahan dan pengobatan pada penyakit DM tipe 2 adalah dengan cara
edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani, dan intervensi farmakologis (oral
dan suntik)

3.2 Saran
Jika ingin mengurangi resiko terkena diabetes, maka kita harus menjaga pola
makan kita sehari-hari dan juga rajin berolahraga. Banyak penyakit dapat dicegah
dengan gaya hidup dan pola makan yang sehat. Di antaranya adalah diabetes,
yang juga salah satu penyebab utama kematian di banyak negara, termasuk di
Indonesia. Ada banyak hal yang diduga menjadi pemicu munculnya penyakit
diabetes, dan salah satu di antaranya adalah pola makan yang tidak baik. Di
samping itu, pola makan sehat juga terbukti bermanfaat mencegah terjadinya
penyakit jantung koroner, kanker, hipertensi, dan kerusakan ginjal.
21

DAFTAR PUSTAKA
1. Subroto, Akham. “VCO Dosis Tepat Taklukkan Penyakit”. Jakarta : Penebar
Swadaya; 2006.

2. International Diabetes Federation. “IDF Diabetes Atlas, Sixth Edition”.


Brussels: International Diabetes Federation; 2013.

3. Soegondo S. “Konsesus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe


2 di Indonesia”. Jakarta: Penerbit Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
(PERKENI); 2011.

4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. “Riset Kesehatan Dasar


(Riskesdas) 2013”. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2013.

5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. “Laporan Nasional


Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi Kalimantan Barat Tahun
2007”. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI;
2008.

6. Suyono S. Diabetes melitus di Indonesia. Dalam : Sudoyo AW, Setyo’hadi B,


Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 4”.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2006.

7. Corwin, E. J. “Patofisiologi”. Jakarta: EGC. 2001.

8. American Diabetes Association. “Diagnosis and Classification of Diabetes


Mellitus”. Diabetes Care 2010; 33: 562-569.

9. Adhi. “An Early Detection Method of Type-2 Diabetes Mellitus in Public


Hospital”. Telekomnika. 2011.

10. Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. “Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner dan Suddarth”. Jakarta: EGC. 2002.

11. Schteingart D.E. “Pankreas Metabolisme Glukosa dan Diabetes Mellitus”.


Jakarta: EGC. 2005.
22

12. Bennett,P. “Epidemiology of Type 2 Diabetes Millitus. In Le Roithet.al,


Diabetes Millitus a Fundamental and Clinical Text”. Philadelphia: Lippincott
William &Wilkin s.2008;43(1): 544-7.
13. Wild S , Roglic G, GreenA, Sicree R, king H. “Global prevalence of diabetes:
estimates for the year 2000 and projections for 2030”. Diabetic care..

14. Waspadji S. Kaki diabetes. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,


Simadibrata M, Setiati S, editors. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III,
edisi kelima”. Jakarta: Interna publishing, 2009.h.1961.

15. Buraerah, Hakim. “Analisis Faktor Risiko Diabetes Melitus tipe 2 di


Puskesmas Tanrutedong, Sidenreg Rappan”. Jurnal Ilmiah Nasional;2010. 28
Okt. 17. Available from : http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=
61&src=a&id=186192.

16. Harding, Anne Helen et al. “Dietary Fat adn Risk of Clinic Type Diabetes”.
A,erican Journal of Epidemiology.2003;15(1);150-9.

17. Hastuti, Rini Tri. “Faktor-faktor Risiko Ulkus Diabetika Pada Penderita
Diabetes Melitus Studi Kasus di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
[dissertation]”. Universitas Diponegoro (Semarang). 2008.

18. Agustina. “Gambaran Sikap Pasien Diabetes Melitus di Poli Penyakit Dalam
RSUD dr. Moewardi Surakarta Terhadap Kunjungan Ulang Konsultasi
Gizi”. KTI D3. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadyah Surakarta.
2009.

19. Brunner & Suddarth. “Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah”. Volume II.
Edisi 8. Jakarta: EGC; 2002.

20. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. “Konsensus Pengendalian dan


Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia”, PB. PERKENI. Jakarta.
2015.

21. J Piette. “Effectiveness of Self-management Education”. Dalam: Gan D,


Allgot B, King H, Lefebvre P, Mbanya JC, Silink M, penyunting. Diabetes Atlas.
Edisi ke-2. Belgium: International Diabetes Federation; 2003.