Anda di halaman 1dari 18

MORNING REPORT

REAKSI KONVERSI

Oleh :
dr. Aqidatul Izzah

Pendamping :
dr. Dheni Pramudia H.

RSUD Kota Malang


Kota Malang Provinsi Jawa Timur
2017

0
BAB 1
PENDAHULUAN

Gangguan disosiasi atau konversi adalah perubahan kesadaran mendadak


yang mempengaruhi memori dan identitas. Para individu yang menderita
gangguan disosiatif tidak mampu mengingat berbagai peristiwa pribadi penting
atau selama beberapa saat lupa akan identitasnya atau bahkan membentuk
identitas baru. Disosiasi timbul sebagai suatu pertahanan terhadap trauma.
Pertahanan disosiatif memiliki fungsi ganda untuk menolong korban melepaskan
dirinya sendiri dari trauma sambil juga menunda menyelesaikannya.1
Pada penderita didapatkan hilangnya fungsi seperti memori (amnesia
psikogenik), berjalan-jalan dalam keadaan trans (fugue), fungsi motorik (paralisis
dan pseudoseizure) atau fungsi sensorik (anesthesia sarung tangan dan kaus
kaki).2 Gangguan tersebut cukup lazim terjadi sebagai suatu pertahanan terhadap
trauma, khususnya timbul pada orang yang masa kanak-kanaknya mengalami
kekerasan fisik atau seksual dan sering timbul dalam bentuk komorbiditas dengan
depresi mayor, gangguan somatisasi, gangguan stress pasca trauma,
penyalahgunaan zat, gangguan kepribadian ambang, gangguan konduksi dan
gangguan kepribadian antisosial.3
Hal yang paling umum terlihat pada gangguan disosiatif adalah adanya
kehilangan (sebagian/seluruh) dari integrasi normal antara: ingatan masa lalu,
kesadaran akan identitas dan penghayatan dan kendali terhadap gerakan tubuh.
Onset dan berakhirnya keadaan disosiatif sering kali berlangsung mendadak akan
tetapi jarang sekali dapat dilihat kecuali dalam interaksi atau prosedur teknik-
teknik tertentu seperti hipnosis.

BAB 2
DATA KASUS

1
I. IDENTITAS PASIEN
 No. RM : 117036xx
 Nama : Nn. S
 Umur : 17 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Agama : Kristen
 Suku : Jawa
 Pekerjaan : Pelajar SMA
 Alamat : SMAN Taruna Nala Jatim
 Waktu Datang ke IGD: Jumat, 20 Oktober 2017 pukul 05.15 WIB

II. SUBJEKTIF
ANAMNESIS
 Keluhan Utama : Kaku di kedua tangan dan kaki
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien diantar oleh dua perawat di klinik kesehatan sekolah dengan
mengendarai sepeda motor ke IGD RSUD Kota Malang. Pasien harus
dibantu oleh kedua perawat ketika masuk ke IGD. Pasien mengatakan
kedua tangan dan kaki tiba-tiba kaku semua. Pasien menangis terus dan
hanya sesekali menjawab pertanyaan. Perawat menceritakan bahwa ketika
sedang lari pagi di sekolahannya, ada teman pasien yang membawa pasien
ke klinik karena ketika kegiatan lari pagi, tiba-tiba badan pasien kaku
semua dan pasien menangis.
 Riwayat Penyakit Dahulu :
- Pernah mengalami kejadian serupa di kelas beberapa bulan yang lalu
saat akan menghadapi ujian.
- Pasien mengatakan bahwa saat kecil sering kejang. Tetapi pasien tidak
dapat menjelaskan karakteristik kejang yang pernah dialami. Pasien
juga menceritakan bahwa jika terdapat petir, dia merasa petir itu akan
menyambar dirinya.
- Riwayat alergi makanan dan obat disangkal.
 Riwayat Penyakit Keluarga : -

2
 Riwayat Sosial : pasien adalan pelajar kelas XII di sebuah sekolah. Sehari
hari pasien tinggal di asrama sekolah. Pasien mengatakan bahwa kegiatan
di sekolah sangat padat dan melelahkan. Kemarin malam latihan futsal
sampai malam, dilanjutkan dengan latihan seni, kemudian jam 3 pagi
besoknya harus sudah bangun pagi untuk kegiatan selanjutnya. Selain itu
pasien juga akan menghadapi ujian bahasa jerman saat hari itu. Pasien
menceritakan bahwa sekolah SMA yang dipilih adalah atas pilihan
orangtuanya, bukan kemauan pasien sendiri.

III. PEMERIKSAAN FISIK


KEADAAN UMUM
 Inspeksi umum : tampak kaku
 Kesadaran : Compos mentis
 GCS : E4V5M6
VITAL SIGN
 Tekanan darah : 126/90 mmHg
 Nadi : 89 x/min, regular, kuat angkat
 RR : 22 x/min, reguler
 Suhu : 36,8oC
 SpO2 : 99%
KEPALA DAN LEHER
 Kepala, Wajah : dbn
 Konjungtiva : Anemis (-/-),
 Sclera : Ikterus (-/-)
 Turgor Kulit : Normal
 Hidung : Simetris
: Pernafasan cuping hidung (-)
Nyeri tekan (-), krepitasi (-)
 Telinga : Simetris, sekret (-), hiperemi (-)
 Mulut : Sianosis (-)
: Faring hiperemi (-), Tonsil sde
 Peningkatan JVP : (-)

3
 Pembesaran KGB : submandibula (-), cervicalis posterior (-),
supraclavicula (-)
 Pembesaran Kelenjar Tiroid : (-)
 Deviasi Trakea : (-)

THORAX
 Normochest
 Penggunaan otot bantu nafas (-)
Pulmo
I : gerak nafas simetris, spatium intercosta melebar (-),
retraksi intercostal (-)
P : fremitus raba normal, nyeri tekan (-), jejas (-)
P : sonor seluruh lapangan paru
A :
Suara Nafas
Dextra Sinistra
Vesikuler Vesikuler
Vesikuler Vesikuler
Vesikuler Vesikuler

Rhonki Wheezing
Dextra Sinistra Dextra Sinistra
- - - -
- - - -
- - - -

Jantung
I : Pulsasi ictus cordis tidak tampak
P : Ictus cordis tidak teraba, thrill (-)
P : Batas kiri atas ICS II LMC sinistra
Batas kanan atas ICS II LPS dekstra
Batas kiri bawah ICS V LMC sinistra
Batas kanan bawah ICS IV LPS dekstra

4
A : S1 S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)

ABDOMEN
I : simetris
A : Bising usus positif normal
P : Timpani seluruh kuadran abdomen
P : Supel, nyeri tekan abdomen (-), H/L/R tidak teraba

EKSTREMITAS
Akral hangat kering merah Edema tungkai
+ + - -
+ + - -
Clubbing finger - / -
Sianosis - / -
CRT ≤ 2 detik

STATUS NEUROLOGIS
1. GCS : 456
2. Meningeal Sign : -
3. Nervus Cranialis : pupil bulat isokor +/+, refleks cahaya langsung, tak
langsung +/+, nervus cranialis lain dbn
4. Tonus : normal
5. Pemeriksaan Motorik : sde
6. Pemeriksaan Sensorik: dbn
7. Pemeriksaan Keseimbangan dan Koordinasi : dbn
8. Pemeriksaan Reflek : dbn
9. Sistem Saraf Otonom: dbn

STATUS PSIKIATRI
1. Kesan Umum

5
 Seorang perempuan menggunakan celana olahraga
berwarna hitam, kaos olahraga berwarna putih, dan
memakai sandal. Tampak menangis. Kedua tangan dan kaki
kaku sehingga sulit untuk digerakkan.
2. Kontak
 Verbal dan non verbal
3. Kesadaran
 Baik
4. Mood-Afek
 Mood afek kongruen
5. Proses Berpikir
 Bentuk : realistis
 Isi : adekuat (preokupasi -, waham-, ekstasi-, fobi-,
obsesi-, waham-)
 Arus : relevan dan koheren (perseverasi-, asosiasi
longgar-, flight of idea-, neologisme, logorea-,
bloking-)
6. Persepsi
 Halusinasi-, ilusi-,depersonalisasi-, derealisasi-
7. Intelegensi
 Kesan cukup, sesuai umur dan pendidikan
8. Kemauan
 Pekerjaan : baik
 Sosial : baik
 Perawatan diri : baik

9. Psikomotor
 Penurunan
10. Insight (Tilikan)
 Tilikan derajat 5  menyadari penyakitnya dan faktor-
faktor yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak
menerapkan dalam perilaku praktisnya.

6
V. ASSESMENT
 Axis I
 F44.4 Gangguan Motorik Disosiatif
 Axis II
 Ciri kepribadian tidak khas
 Axis III
 -
 Axis IV
 Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
 Axis V
 GAF scale 90-81 (gejala minimal, berfungsi baik, cukup
puas, tidak lebih dari masalah harian yang biasa)

V. PLANNING
Planning Terapi:
 Nebul PZ 4cc
 Oksigen nasal 4 lpm
 Obat KRS
o Paracetamol 3x500 mg
o Multivitamin 2x1 tab

Planning Edukasi:
 Psikoterapi pada pasien
 Menjelaskan bahwa lemas yang dialami pasien merupakan reaksi konversi
dan merupakan wujud dari rasa cemas, stres yang dialami pasien yang
tidak terselesaikan yang diubah wujudnya ke dalam bentuk tersebut.
 Menjelaskan pada perawat klinik sekolahnya untuk menceritakan pada
teman dekat pasien agar selalu memberi dukungan pada pasien

7
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Gangguan konversi (conversion disorders) menurut DSM-V
didefinisikan sebagai suatu gangguan yang ditandai oleh adanya satu atau

8
lebih gejala neurologis (sebagai contohnya paralisis, kebutaan, dan parastesia)
yang tidak dapat dijelaskan oleh gangguan neurologis atau medis yang
diketahui. Disamping itu diagnosis mengharuskan bahwa faktor psikologis
berhubungan dengan awal atau eksaserbasi gejala. Adapun menurut PPDGJ III
gangguan konversi atau disosiatif adalah adanya kehilangan (sebagian atau
seluruh) dari integrasi normal antara: ingatan masa lalu, kesadaran akan
identitas dan penghayatan segera (awareness of identity and immediate
sensations), dan kendali terhadap gerakan tubuh. 1,3
Secara normal terdapat pengendalian secara sadar, sampai taraf
tertentu, terhadap ingatan dan penghayatan, yang dapat dipilih untuk digunakan
segera, serta gerakan-gerakan yang harus dilaksanakan. Pada gangguan
konversi diperkirakan bahwa kemampuan mengendalikan secara sadar dan
selektif ini terganggu, sampai suatu taraf yang dapat bervariasi dari hari ke hari
atau bahkan dari jam ke jam. Biasanya sangat sulit untuk menilai sejauh mana
beberapa kehilangan fungsi masih berada dalam pengendalian volunter.3
Dalam penegakan diagnosis gangguan konversi harus ada gangguan
yang menyebabkan kegagalan mengkordinasikan identitas, memori persepsi
ataupun kesadaran, dan menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi
sosial, pekerjaan dan memanfaatkan waktu senggang.3
2. Epidemiologi
Gangguan konversi bukanlah penyakit yang umum ditemukan dalam
masyarakat. Tetapi juga gangguan konversi ini tidak jarang ada dalam kasus-
kasus psikiatri. Prevelensinya hanya 1 berbanding 10.000 kasus dalam
populasi. Dalam beberapa referensi bisa terlihat bahwa ada peningkatan yang
tajam dalam kasus-kasus gangguan konversi yang dilaporkan, dan menambah
kesadaran para ahli dalam menegakkan diagnosis, menyediakan kriteria
yang spesifik, dan menghindari kesalahan diagnosis antara disosiatif identity
disorder, schizophrenia atau gangguan personal. 1,2,4
Orang-orang yang umumnya mengalami gangguan konversi ini sangat
mudah dihipnotis dan sangat sensitiF terhadap sugesti dan lingkungan
budayanya, namun tak cukup banyak referensi yang membetulkan pernyataan
tersebut. 5,6

9
Dalam beberapa studi, mayoritas dari kasus gangguan konversi ini
mengenai wanita 90% atau lebih, Gangguan konversi bisa terkena oleh orang di
belahan dunia manapun, walaupun struktur dari gejalanya bervariasi.1
3. Etiologi
Gangguan konversi belum dapat diketahui penyebab pastinya, namun
biasanya terjadi akibat trauma masa lalu yang berat, namun tidak ada gangguan
organik yang dialami. Gangguan ini terjadi pertama pada saat anak- anak
namun tidak khas dan belum bisa teridentifikasikan, dalam perjalanan
penyakitnya gangguan konversi ini bisa terjadi sewaktu-waktu dan trauma
masa lalu pernah terjadi kembali, dan berulang-ulang sehingga terjadinya
gejala gangguan konversi.2,4,5
Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa trauma yang terjadi
berupa :1,2,4,5,7
 Kepribadian yang labil
 Pelecehan seksual
 Pelecehan fisik
 Kekerasan rumah tangga ( ayah dan ibu cerai )
 Lingkungan sosial yang sering memperlihatkan kekerasan
4. Tanda dan Gejala
Pada gangguan konversi, kemampuan kendali dibawah kesadaran dan
kendali selektif tersebut terganggu sampai taraf yang dapat berlangsung dari
hari kehari atau bahkan jam ke jam. Gejala umum untuk seluruh tipe gangguan
konversi meliputi : 8,9
 Hilang ingatan (amnesia) terhadap periode waktu tertentu, kejadian dan
orang
 Masalah gangguan mental, meliputi depresi dan kecemasan
 Persepsi terhadap orang dan benda di sekitarnya tidak nyata (derealisasi)
 Identitas yang buram
 Depersonalisasi
5. Faktor Resiko
Orang-orang dengan pengalaman gangguan psikis kronik, seksual
ataupun emosional semasa kecil sangat berisko besar mengalami gangguan

10
konversi. Anak-ana dan dewasa yang juga memiliki pengalaman kejadian yang
traumatic, semisalnya perang, bencana, penculikan, dan prosedur medis yang
infasif juga dapat menjadi faktor resiko terjadinya gangguan konversi ini.
6. Gejala Klinis
Hal yang umum terlihat pada gangguan dissosiatif (konversi) adalah
adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) integrasi normal (di bawah kendali
kesadaran) antara lain : 10
 Ingatan masa lalu (amnesia)
 Kesadaran akan identitas (awareness of identity) dan penginderaan segera
(immediate sensations), dalam bentuk depersonalisasi, derealisasi,
kebingungan identitas, dan perubahan identitas
 Kendali terhadap gerakan tubuh.
7. Diagnosis
Gangguan disosiatif (konversi) dibedakan atau diklasifikasikan atas
beberapa pengolongan yaitu : 1,3
F444.0 Amnesia Disosiatif
F.44.1 Fugue Disosiatif
F.44.2 Stupor Disosiatif
F44.3 Gangguan Trans dan Kesurupan
F44.4-F44.7 Gangguan konversi dari gerakan dan Penginderaan
F44.4 Gangguan motorik Disosiatif
F.44.5 Konvulsi Disosiatif
F.44.6 Anestesia dan Kehilangan Sensorik Disosiatif
F44.7 Gangguan konversi campuran
F44.8 Gangguan konversi lainnya
F44.9 Gangguan konversi YTT
Untuk diagnosis pasti maka hal-hal berikut ini harus ada :
1. Ciri-ciri klinis yang ditentukan untuk masing-masing gangguan
yang tercantum pada F44.
2. Tidak ada bukti adanya gangguan fisik yang dapat menjelaskan gejala
tersebut.

11
3. Bukti adanya penyebab psikologis dalam bentuk hubungan waktu yang
jelas dengan problem dan peristiwa yang stressful atau hubungan
interpersonal yang terganggu (meskipun disangkal pasien).
Sedangkan berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
edisi keempat (DSM IV) ada 4 diagnostik spesifik gangguan dissosiatif:
 Amnesia Disosiatif
 Fugu Disosiatif
 Gangguan Identitas Disosiatif
 Gangguan Depersonalisasi
8. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dengan menggali kondisi fisik dan neurologiknya.
Bila tidak ditemukan kelainan fisik, perlu dijelaskan pada pasien dan
dilakukan pendekatan psikologik terhadap penanganan gejala-gejala yang ada.
Penanganan penyakit ini sebagai berikut:
 Medikamentosa. Terapi ini sangat baik untuk dijadikan penangan awal,
walaupun tidak ada obat yang spesifik dalam menangani gangguan
konversi ini. Biasanya pasien diberikan anti-depresan dan obat anti-cemas
untuk membantu mengontrol gejala mental pada gangguan konversi ini.
Barbiturat kerja sedang dan singkat, seperti tiopental, dan natrium
amobarbital diberikan secara intravena dan benzodiazepine
seperti lorazepam 0,5-1 mg tab.
 Psikoterapi adalah penanganan primer terhadap gangguan konversi ini.
Bentuk terapinya berupa terapi bicara, konseling atau terapi psikososial,
meliputi berbicara tentang gangguan yang diderita. Terapinya akan
membantu anda mengerti penyebab dari kondisi yang dialami. Psikoterapi
untuk gangguan konversi sering mengikutsertakan teknik seperti hipnotis
yang membantu untuk mengingat trauma yang menimbulkan gejala
disosiatif.
 Terapi kognitif. Terapi kognitif ini bisa membantu untuk
mengidentifikasikan kelakuan yang negatif dan tidak sehat dan
menggantikannya dengan yang positif dan sehat, dan semua tergantung

12
dari ide dalam pikiran untuk mendeterminasikan apa yang menjadi
perilaku pemeriksa.

BAB IV
PEMBAHASAN

Teori Kasus
• Bentuk yang paling umum dari • Pasien datang dengan kaku di
gangguan motorik dissosiatif kedua tangan dan kaki sulit
adalah ketidakmampuan untuk digerakkan.

13
menggerakkan seluruh atau • Pernah mengalami kejadian
sebagian dari anggota gerak serupa di kelas beberapa bulan
(tangan atau kaki). yang lalu saat akan menghadapi
• Gejala tersebut seringkali ujian.
menggambarkan konsep dari
penderita mengenai gangguan
fisik yang berbeda dengan
prinsip fisiologik maupun
anatomik.

• Gangguan konversi belum dapat • Kegiatan di sekolah sangat


diketahui penyebab pastinya, padat dan melelahkan.
namun biasanya terjadi akibat • Pernah mengalami kejadian
trauma masa lalu yang berat, serupa di kelas beberapa bulan
namun tidak ada gangguan yang lalu saat akan menghadapi
organik yang dialami. ujian.
• Gangguan ini terjadi pertama • Akan menghadapi ujian bahasa
pada saat anak- anak namun jerman saat hari itu.
tidak khas dan belum bisa • Sekolah SMA yang dipilih
teridentifikasikan, dalam adalah atas pilihan
perjalanan penyakitnya orangtuanya.
gangguan konversi ini bisa
terjadi sewaktu-waktu dan
trauma masa lalu pernah terjadi
kembali, dan berulang-ulang
sehingga terjadinya gejala
gangguan konversi.

 Medikamentosa sepenuhnya  Nebul PZ 4cc


belum dapat terbukti. Beberapa  Oksigen nasal 4 lpm
ahli menyarankan menggunakan  Obat KRS
tiopental dan natrium  Paracetamol 3x500 mg
amobarbital diberikan secara

14
intravena. Benzodiazepine  Multivitamin 2x1 tab
seperti lorazepam 0,5-1 mg tab.  Psikoterapi pada pasien
 Psikoterapi
 Teori kognitif

• Prognosis lebih baik terjadi  Diharapkan pada kasus ini,


pada anak yang masih muda prognosis pasien baik,
daripada remaja dan dewasa. mengingat usia yang masih
muda serta insight yang
baikmasih bisa diberi
pengertian secara bertahap dan
manajemen stres yang baik

DAFTAR PUSTAKA

1. Hadisukanto Gitayanti. Gangguan konversi. Dalam: Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:


Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2010. hal. 268-272.
2. Kaplan HI., Sadock BJ., dan Grebb JA. Gangguan konversi. Dalam: Sinopsis
psikiatri Jilid 2. Edisi ke-7. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. hal. 74-78.
3. WHO. Gangguan disosiatif (Konversi). Dalam: Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan Pertama. Jakarta: Dept.
Kesehatan RI; 1993. hal. 196-208.

15
4. Anonym. Conversion disorder. In: Diagnostic Criteria DSM-IV-TR. Washington,
DC: American Psychiatric Associaton. y: 2000.p231-2.
5. Gelder M, Mayou R, and Geddes J. Dissociative and conversion disorder. In:
Psychiatry. Third Edition. New York: Oxford. y: 2005. p94-5.
6. Anonyme. Conversion disorders. In: Neuropsychiatry and Behavioral
Neuroscience. New York: Oxford. y:2003. p339-42
7. Kay J, Tasman A, and Lieberman JA. Conversion disorder. In: Psychiatry
Behavioral Science and Clinical Essentials. USA: W.B. Sauders Company. y:
2000. P 419-22.
8. Powsner sith. Conversion disorder in emergency medicine. [online]. 2011. [cited
2011 Marc 20]. Available from:URL: http//emedicine.com
9. Anonym. Conversion disorder. [online]. 2011. [cited 2011 Marc 20]. Available
from:URL: http//merckmanuals.com
10. Agung NM<, Daeng BH, Hidayat SS. 2008. Gangguan Dissosiatif dalam PDT
Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Universitas Airlangga.

16
17