Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang dan unik.
Secara historis, pesantren termasuk pendidikan Islam yang paling awal dan masih bertahan
sampai sekarang. Berbeda dengan lembaga – lembaga pendidikan yang muncul kemudian,
pesantren telah sangat berjasa dalam mencetak kader – kader ulama, dan kemudian berperan
aktif dalam penyebaran agama Islam dan transfer ilmu pengetahuan. Namun, dalam
perkembangan pesantren telah mengalami transformasi yang memungkinkannya kehilangan
identitas jika nilai – nilai tradisonalnya tidak dilestarikan.
Disini pesantren merupakan peran yang sangat mendukung terutama dalam pendidikan
luar sekolah dan manajemen lah yang akan membantu dan mendukung peran tersebut
sehingga akan lebih memantapkan dan memaksimalkan pendidikan luar sekolah itu sendiri.
Masyarakat juga banyak berpandangan bahwa pesantren itu hanya pendidikan formal tanpa
mengetahui bagaimana sebenarnya pesantren itu muncul serta aspek-aspek lain yang
berkaitan dengan pondok pesantren. Pendidikan pesantren merupakan pendidikan yang
bertujuan untuk pembentukan rasa kekeluargan dan juga pembentukan akhlak yang mulia
sehingga berguna bagi anak didik dan juga bagi agama dan bangsa.
Memang sudah seharusnya manajemen itu diperlukan terutama dalam pendidikan
islam, sebagaimana kita ketahui bahwa dengan adanya manajemen akan lebih terarah dari
pada tujuan pendidikan islam itu sendiri , sama halnya dengan pendidikan luar sekolah yang
sama-sama memerlukan manajemen yaitu dengan menerapkan fungsi=fungsi dan juga
maknanya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Dinamika Perkembangan Pesantren?
2. Bagaimana Manajemen Pesantren Tatapan Dari Luar?
3. Bagaimana Pondok Pesantren Antara Madrasah dan Sekolah?
4. Apa Karakteristik Pendidikan Pesantren?
5. Apa Fungsi, Prinsip-Prinsip dan Ciri-Ciri Pendidikan Pesantren?
6. Bagaimana Sarana dan Tujuan Pesantren?

1
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Dinamika Perkembangan Pesantren
2. Untuk Mengetahui Manajemen Pesantren Tatapan Dari Luar
3. Untuk Mengetahui Pondok Pesantren Antara Madrasah dan Sekolah
4. Untuk Mengetahui Karakteristik Pendidikan Pesantren
5. Untuk Mengetahui Fungsi, Prinsip-Prinsip dan Ciri-Ciri Pendidikan Pesantren
6. Untuk Mengetahui Sarana dan Tujuan Pesantren

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Dinamika perkembangan pesantren

Pesantren jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul di


Indonesia, merupakan system pendidikan tertua saat ini dan dianggap sebagai produk
budaya Indonesia yang indigenous, pendidikan inni semula merupakan pendidikan agama
islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat islam di Nusantara pada abad ke-13.
Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan
munculnya tempat-tempat pengajian. Bentuk ini kemudian berkembang dengan pendirian
tempat-tempat menginap bagi para pelajar (santri), yang kemudian disebut pesantren.
Meskipun bntuknya masih sangat sederhana, pada waktu itu pendidikan pesantren
merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang terstruktur, sehingga pendidikan ini
dianggap sangat bergengsi. Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami
doktrin dasar Islam, khususnya menyangkut praktek kehidupan keagamaan.1Pendidikan
pesantren ini telah muncul di Nusantara pada abad ke-16. Raden Rahmad, salah seorang
Wali di tanah Jawa, sebagai seorang ulama menyandang tugas untuk menyampaikan
ajaran islam yang berkaitan dengan nilai-nilai Tauhid. Setelah masyarakat memeluk
agama islam, mereka dianjurkan untuk belajar mengaji Al-kitab Al-qur’an belajar tentang
masalah fiqh, akhlak dan sebagainya.2

Pada masa-masa awal, pesantren sudah memiliki tingkatan yang berbeda-


beda.Tingkatan pesantren yang paling sederhana hanya mengajarkan cara membaca huruf
Arab dan Al-qur’an. Sementara, pesantren yang yang agak tinggi adalah pesantren yang
mengajarkan berbagai kitab fiqh, ilmu aqidah, dan kadang-kadang amalan sufi, disamping
tata bahasa Arab (Nahwu sharf).Secara umum, tradisi Intelektual pesantren baik sekarang
maupun waktu itu ditentukan tiga serangkai mata pelajaran yang terdiri dari fiqh menurut
Madzhab Syafi’I, akidah menurut Madzhab Asy’ari, dan amalan-amalan sufi dari karya-
karya Imam al-Ghazali (Martin van Bruineesen, 1999:21).

Ciri umum yang dapat diketahui adalah pesantren memiliki kultur khas yang berbeda
dengan budaya sekitarnya. Beberapa penelti menyebut sebagai sebuah sub-kultur yang
bersifat idio-syncratic. Baru memasuki era 1970-an pesantren memiliki perubahan
signifikan. Perubahan dan perkembangan itu bisa ditilik dari dua sudut pandang.Pertama,
pesantren mengalami perkembangan kuantitas luar biasa dan menakjubkan, baik di
wilayah rural (pedesaan), sub-urban (pinggiran kota), maupun urban (perkotaan).Data
Departemen Agama menyebutkan pada 1977 jumlah pesantren masih sekitar 4.195 buah
dengan jumlah santri sekitar 677.394 orang. Cukuup banyaknya jumlah pesantren dengan
beragam corak ini selayaknya menjadi catatan pemerintah terutama dalam rangka

1
M. Sulthon Masyhud dan Moh.Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren,(Jakarta:Diva Pustaka,2005), hlm
1
2
Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial (Jakarta:Penamadani,2005), hlm 214-215

3
realisasi gerakan pendidikan untuk semua (Education for all). Keberadaan pesantren yang
menyebar dan meluas di pedesaan (sekitar 8.829 atau 788,05%) bisa dijadikan sebagai
basis gerakan pemeberantasan buta huruf, akselerasi program wajib belajar, bisa
meningkatkan HDI (Human Development Indext) Indonesia di mata dunia yang saat ini
anjlok, jauh berada di bawah Negara-negara tetangga Asia.

Perkembangan kedua, menyangkut penyelenggaraan pendidikan. Sejak tahun 1970-an


bentuk-bentuk pendidikan yang diselenggarakan di pesantren sudah sangat
bervariasi.Bentuk-bentuk pendidikan dapat di klasifikasikan menjadi empat tipe, yakni :

1. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan


kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan
(MI,MTs,SMU dan PT Umum).
2. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk
madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan
kurikulum nasional.
3. Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk Madrasah
Diniyah (MD).

Secara umum pesantren tetap mmemiliki fungsi-fungsi sebagai :

1. Lembaga pendidikan yang melakukan transfer ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi


aldin) dan nilai-nilai islam (Islamic values).
2. Lembaga keagamaan yang melakukan control social (social control).
3. Lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa social (social control.)3

Sementara itu, Ki Hajar Dewantara meluaskan penyelenggaraan pendidikan dengan


“tricentra” yang merupakan tempat pergaulan anak didik dan sebagai pusat pendidikan
yang amat penting baginya. “tricentra” itu ialah :1) Lembaga keluarga yang membentuk
lembaga pendidikan keluarga, 2) Lembaga perguruan yang membentuk lembaga
pendidikan sekolah, dan 3) lembaga pemuda yang berbentuk lembaga pendidikan
masyarakat.

Sidi Gazalba, seorang pakar agama islam berpandangan bahwa lembaga-lembaga


yang mempunyai tanggung jawab pendidikan ialah : 1) rumah tangga, yaotu pendidikan
primer untuk fase bayi dan fase kanak-kanak sampai usia sekolah. Pendidiknya adalah
orangtua, sanak kerabat,family, saudara-saudara, teman sepermainan, 2) Sekolah, yaitu
pendidikan sekunder yang mendidik anak mulai usia sekolah sampai ia keluar dari
sekolah tersebut. Pendidiknya adalah guru yang professional, 3) Kesatuan Sosial, yaitu
pendidikan tertier yang merupakan pendidikan yang terakhir tetapi bersifat permanen.
Pendidiknya adalah kebudayaan, adat-istiadat, suasana masyarakat setempat.4

3
M. Sulthon Masyhud dan Moh.Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren,(Jakarta:Diva Pustaka,2005), hlm
2-6
4
Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial (Jakarta:Penamadani,2005), hlm 213-214

4
B. Manajemen Pesantren Tatapan Dari Luar

Sudah menjadi common sense bahwa pesantren lekat dengan figur kiai. Kiai
dalam pesantren merupakan figur sentral, otoritatif, dan pusat seluruh kebijakan dan
perubahan. Pertama, kepemimpinan yang tersentralisasi pada individu yang bersandar
pada charisma serta hubungan yang bersifat paternalistik. Otoritas individu kiai
sebagai pendiri sekaligus pengasuh pesantren sangat besar dan tidak bisa di ganggu
gugat.Faktor nasab (keturunan) juga kuat sehingga kiai bisa mewariskan
kepemimpinan pesantren kepda anak (istilahnya putra mahkota) yang dipercaya tanpa
ada komponen pesantren yang berani memprotes. Sistem alih kepemimpinan di
pesantren seperti ini kerapkali mengundang sindiran bahwa pesantren layaknya
‘kerajaan kecil”.

Kasus lain, beberapa pesantren sudah membentuk badan pengurus harian


sebagai “lembaga paying” yang khusus mengelola dan menangani kegiatan-kegiatan
pesantren, misalnya pendidikan formal, diniyah, pengajian majelis Ta’alim, sampai
pada masalah penginapan santri, kerumahtanggaan, kehumasan, dan sebagainya. Pada
tipe pesantren ini pembagian kerja antar unit sudah berjalan dengan baik, meskipun
tetap saja kiai memiliki pengaruh yang kuat.Sayangnya perkembangan tersebut tidak
merata di semua pesantren. Secara umum pesantren masih menghadapi kendala serius
menyankut ketersediaan sumberdaya manusia professional dan penerapan manajemen
yang umunnya masih konvensional, misalnya tiadanya pemisahan yang jelas antara
yayasan, pimpinan madrasah, guru dan staf administrasi ; tidak adanya tranparansi
pengelolaan sumber-sumber keuangan, belum terdistribusinya peran pengelolaan
pendidikan dan banyaknya penyelenggaraan administrasi yang tidak sesuai dengan
standar, serta unit-unit kerja tidak berjalan sesuai aturan baku organisasi.

Keadaan ini jika ditilik dari sudut pandang manajemen modern memang
kurang baik. Namun, pernyataan ini harus dikatakan secara hati-hati. Sebab, kultur
pesantren tidak bisa dilihat secara hitam-putih dan di pertentangkan dengan kultur
moderen.Bagi sebagianpengasuh pesantren barangkali ada beban psikologis untuk
menerapkan begitu saja manajemen modern.Hubungan personal yang lekat di
pesantren tidak bisa diganti dengan pola hubungan impersonal seperti berlaku dalam
manajemen modern.

Kerumitan dan permasalahan ini menyebabkan antara normativitas dan


kondisi obyektif pesantren ada kesenjangan, termasuk dalam penerapan teori
manajemen pendidikan.Semata-mata berpegangan pada normativitas dengan
mengabaikan kondisi obyektif yang terjadi di pesantren adalah tindakan kurang
bijaksana, kalau tidak dikatakan gagal memahami pesantren. Akan tetapi,
membiarkan kondisi itu berjalan terus tanpa ada pembenahan juga tidak ariif. Disini
penerapan manajemen pendidikan tidak bisa serta-merta diterapkan tanpa

5
mempertimbangkan atau mengakomodasi keadaan yang riil di pesantren.Harus ada
toleransi dalam menyikapi kesenjangan itu secara wajar tanpa mengundang konflik.5

C. Pondok Pesantren Antara Madrasah dan Sekolah.


Peran pesantren dalam memajukan pendidikan nasional telah membuktikan
eksistensinya. Keperipurnaan pondok pesantren harus dipahami dan dilihat dari
berbagai aspek.
Pada awal tahun70-an, sebagian kalangan menginginkan pesantren
memberikan pelajaran umum bagi para santrinya.6 Hal ini melahirkan perbedaan
pendapat di kalangan para pengamat dan pemerhati pondok pesantren. Sebagian
berpendapat bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang khas dan
unik harus mempertahankan ketradisionalannya. Namun pendapat lain menginginkan
agar pondok pesantren mulai mengadopsi elemen-elemen budaya dan pendidikan dari
luar7.
Dari dua pandangan yang berbeda tersebut, terlahir pula keinginan yang
berbeda di kalangan para pengelola pesantren. Kelompok pertama menginginkan agar
pesantren tetap mempertahankan posisinya seperti semula dengan sistem yang khas.
Sedangkan kelompok ke dua menginginkan agar pesantren mulai mengadopsi atau
mengakodmodasi sistem pendidikan sekolah atau madrasah ke dalam sistem
pendidikan pesantren.
Akhirnya terjadilah persentuhan antara pondok pesantren dengan madrasah
dan sekolah. Dalam sejarah perkembangan pesantren, disebutkan bahwa pondok
pesantren, masih berbentuk surau, yang pertamakali membuka pendidikan formal
adalah Tawalib di Padang Panjang pada tahun 1921, sedangkan di Jawa adalah
pesantren Tebu Ireng Jombang pada tahun 1919 menyusul pondok modern
Darussalam Gontor pada tahun 1926.8
Pondok pesantren yang memiliki kreteria tertentu dianggap telah mapan,
didukung oleh persyaratan yang cukup mapan, seperti bangunan, tanah, guru yang
berkompeten, murid-murid yang banyak serta tersedianya tenaga administrasi.

5
M. Sulthon Masyhud dan Moh.Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren,(Jakarta:Diva Pustaka,2005), hlm
14-17
6
Mahpuddin Noor, Potret Dunia Pesantren (Bandung: Humaniora, 2006), hlm. 56.

7
Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren (Jakarta: P3M, 1985), hlm. 126.

8]
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 193.

6
Pondok pesantren yang seperti inilah yang dianggap layak untuk mengakomodasi
sistem pendidikan formal atau elemen pendidikan lainnya yang berasal dari luar.
Sebaliknya, pondok pesantren yang tidak memiliki dan memenuhi kriteria di atas
tentu saja tidak bisa memaksakan kehendak untuk mengadopsi sistem pendidikan dari
luar.9
Selain itu ada beberapa alternatif yang juga dikembangkan di lingkungan
pesantren. Ada yang mengakomodasi sistem pendidikan formal ala sekolah umum
atau madrasah dengan tetap mempertahankan sistem pendidikan pesantren, dengan
memisahkan area untuk sekolah madrasah atau sekolah umum dengan area khusus
untuk pesantren. Murid-murid yang bersekolah di sekolah umum pesantren tersebut
mengikuti kurikulum pendidikan nasional, seperti mengikuti uas dan uan. Mereka
tidak tinggal di asrama, akan tetapi tinggal di rumah masing-masing. Sementara santri
yang mengikuti pendidikan pesantren tinggal di asrama dan mengikuti program
pendidikan pesantren yang relatif independen dari kebijakan-kebijakan departemen
agama dan pendidikan. Guru-guru yang mengajar di pondok pesantren dengan sistem
seperti ini secara umum dikategorikan kepada dua kelompok yakni guru-guru yang
berasal dari pesantren dan yang berasal dari luar. Umumnya, guru-guru tersebut
mengjar pelajaran umum. Contoh pesantren seperti ini adalah Pondok Pesantren
Darunnajah Cipining Bogor.
Bentuk atau opsi ke dua adalah pesantren yang menggabungkan sistem
pendidikan formal ala madrasah atau sekolah umum lainnya dengan sistem
pendidikan pesantren tanpa memisahkan kelas-kelas atau area untuk ke dua sistem
pendidikan yang berbeda ini. Para santri tetap tinggal di asrama, mengikuti uas dan
uan dan juga mengikuti agenda-agenda kepesantrenan yang tidak terdapat di
madrasah atau sekolah lainnya. Guru-guru yang mengajar di pesantren ini relatif sama
dengan di atas. Bentuk pesantren yang seperti inilah yang sekarang banyak ditemui.
Akomodasi pesantren terhadap sistem atau elemen pendidikan luar ini tentu
saja membawa pengaruh negatif terhadap pesantren itu sendiri:
1. kehadiran para siswa sekolah atau madrasah di lingkungan pondok pesantren
sedikit banyak akan mengganggu aktifitas dan agenda-agenda kepesantrenan. Para

9
Mahpuddin Noor, Potret Dunia Pesantren, (Bandung: Humaniora, 2006), hlm. 58.

7
santri yang memang ingin mengecap pendidikan pesantren akan merasa tidak betah
dengan kondisi yang demikian.
2. kemungkinan terjadinya kesenjangan antara murid, guru dan pengelola pesantren
dengan madrasah atau sekolah umum pesantren besar peluang terjadi.
3. ada juga kemungkinan bahwa pesantren akan terkucilkan.10
Permasalahan status pesantren di antara pesantren, madrasah dan sekolah
umum tampaknya dipicu oleh sistem pendidikan nasional yang terlalu lamban
mengakui ijazah pesantren yang tidak mengikuti program pendidikan nasional.
Terbengkalainya agenda-agenda kepesantrenan sering bermula dari keinginan untuk
menggabungkan sistem pendidikan nasional dengan sistem pendidikan pesantren.
Pesantren yang begitu padat aktifitas kepesantrenan mau tidak mau harus memikirkan
nasib para santri setelah lulus dari pesantren tersebut, sementara ijazah pesantren pada
umumnya (kecuali akhir-akhir ini) tidak diakui di perguruan tinggi di Indonesia. Hal
ini tentu memaksa pengelola pesantren untuk tetap mengikuti agenda departemen
pendidikan dan departemen agama.
Contoh yang sangat mudah di temui adalah agenda ujian di pesantren, pada
umumnya, di pesantren modern yang telah menggunakan sistem kelas
mengagendakan dua ujian kepesantrenan dalam setahun. Ujian ini kemudian
ditambahi dengan dua agenda ujian dalam setahun yang berasal dari dinas pendidikan
atau departemen lainnya.
Contoh lain adalah sistem pesantren yang tidak membagi jenjang pendidikan
kepada dua tsanawiyah atau smp dan aliyah atau smu. Santri yang pindah dari
pesantren tanpa menyelesaikan pendidikan hingga jenjang terakhir, ketika mendaftar
ke madrasah atau sekolah umum, jika ia tidak memiliki ijazah sah nasional, maka ia
harus mengulang dari kelas awal.
Akhir-akhir ini, peluang pesantren untuk bisa mengembangkan diri secara
independen tampaknya mulai terbuka. Sebut saja seperti lahirnya undang-undang
yang mewajibkan pendidikan sembilan tahun, beberapa dekade ke depan besar
kemungkinan diwajibkannya pendidikan hingga jenjang SMU dan sederajat.

10
Ibid, hlm. 82.

8
D. Karakteristik Pendidikan Pesantren
Potret pesantren dapat dilihat berbagai segi system pendidikan secara
menyeluruh, yang meliputi : materi pelajaran dan metode pengajaran, prinsip-prinsip
pendidikan, sarana dan tujuan pendidikan pesantren, kehidupan kiai dan santri serta
hubungan keduanya, masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Materi pelajaran dan metode pengajaran
Pada dasarnya pesantren hanya mengajarkan ilmu dengan sumber kajian atau mata
pelajarannya kita-kitab yang tertulis atau berbahasa Arab.Sumber-sumber tersebut
mencakup Al-Qur’an beserta tajwid dan tafsirnya, aqa’id dan ilmu kalam, fiqh dan
ushul fiqh, al-Qur’an hadist dan mushthalahah al-hadist dan lain-lain.
Adapun metode yang lazim digunakan dalam pendidikan pesantren adalah
wetonan sorogan, dan hafalan.Metode yang wetonan merupakan metode kuliah
dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai yang
menerangkan pelajaran.Santri menyimak kitab masing-masing dan mencatat jika
perlu.
2. Jenjang pendidikan
Jenjang pendidikan dalam pesantren tidak dibatasi seperti dalam lembaga
lembaga yang memakai system klasikal. Umumnya, kenaikan tingkat seorang
santri didasarkan kepada isi matapelajaran tertentu yang ditandai dengan tamat
dan bergantinya kitab yang dipelajarinya.

E. Fungsi, Prinsip-prinsip dan ciri-ciri Pendidikan Pesantren


a. Fungsi pesantren
Dari waktu ke waktu fungsi pesantren berjalan secara dinamis, berubah dan
berkembang mengikuti dinamika social masyarakat global. Betapa tidak, pada awalnya
lembaga tradisional ini mengembangkan fungsi sebagai lembaga social dan penyiaran
agama (Horikoshi, 1987:232). Sementara itu Azyumardi Azra (dalam Nata, 2001:112)
menawarkan adanya tiga fungsi pesantren, yaitu; 1. Transmisi dan transfer ilmu-ilmu
islam, 2. Pemeliharaan tradisi islam, dan 3. Reproduksi ulama.dalam perjalanannya
hingga sekarang, sebagai lembaga pendidikan social, pesantren telah menyelenggarakan
pendidikan formal baik berupa sekolah umum maupun sekolah agama (madrasah, sekolah
umum, dan perguruan tinggi). Di samping itu, pesantren juga menyelenggarakan
pendidikan non-formal berupa madrasah diniyah yang mengajarkan bidang-bidang ilmu
agama saja. Pesantren juga telah mengembangkan fungsinya sebagai lembaga solidaritas
9
social dengan menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim dan
memberi [elayanan yang sama kepada mereka, tanpa membedakan tingkat social ekonomi
mereka.
Dengan berbagai peran yang potensial dimanikan oleh pesantren diatas, dapat
dikemukakan bahwa pesantren memiliki tingkat integritas yang tinggi dengan masyarakat
di sekitarnya, sekaligus menjadi rujukan moral (reference of morality) bagi kehidupan
masyarakat umum (Nata, 2001:113). Fungsi-fungsi ini akan tetapterpelihara dan efektif
manakala para kyai pesantren dapat menjaga indenpendensinya dari intervensi “pihak
luar”.
b. Prinsip-prinsip pendidikan pesantren
Nurcholish Majid (dalam Nata, 2001:113) menjelaskan setidaknya ada dua belas
prinsip yang melekat pada pendidikan pesantren, yaitu:
 Teosentrik
 Ikhlas dalam pengabdian
 Kearifan
 Kesederhanaan ( bukan berarti miskin)
 Kolektivitas
 Mengatur kegiatan bersama
 Kebebasan terpimpin
 Kemandirian
 Tempat menuntut ilmu dan mengabdi
 Mengamalkan ajaran agama
 Belajar dipesantren untuk mencari sertikat / ijazah saja
 Kepatuhan terhadap kyai

c. Ciri-ciri Pendidikan Pesantren

Merujuk kepada uraian terdahulu, maka dapat diidentifikasi ciri-ciri pesantren


sebagai berikut:

 Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kyainya


 Kepatuhan santri terhadap kyai
 Hidup hemar dan sederhana benar-benar diwujudkan dalam lingkungan
pesantren
 Kemandirian amat terasa di pesantren
 Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan (ukhuwah islamiyah)
 Disiplin sangat dianjurkan

10
 Keprihatinan untuk mencapai tujuan mulia
 Pemberiah ijazah

F. Sarana dan Tujuan Pesantren

Dengan menyandarkan diri kepada Allah SWT, para kyai pesantren memulai
pendidikan pesantrennya dengan modal niat ikhlas kepada dakwah untuk menegakkan
kalimat-Nya, didukung dengan sarana prasarana sederhana dan terbatas. Inilah ciri
pesantren, tidak tergantung kepada sponsor dalam melaksanakan visi dan
misinya.Memang sering kita jumpai dalam jumlah kecil pesantren tradisonal dengan
sarana prasarana yang megah,namun para kyai dan santrinya tetap mencerminkan
prilaku-prilaku kesederhanaan. Akan tetapi sebagian besar pesantren tradisional
tampil dengan sarana dan prasarana sederhana.

Relevan dengan dengan jiwa kesederhanaan di atas, maka tujuan pendidikan


pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu
kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Alllah SWT, berakhlak mulia,
bermanfaat bagi masyarakat, sebagai pelayan masyarakat, mandiri, bebas dan teguh
dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan agama islam dan kejayaan
umut islam di tengah-tengah mayarakat (izzul islam wal muslimin), dan mencintai
ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.11

11
M. Sulthon Masyhud dan Moh.Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren,(Jakarta:Diva Pustaka,2005), hlm
88-94

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pesantren jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul di


Indonesia, merupakan system pendidikan tertua saat ini dan dianggap sebagai produk
budaya Indonesia yang indigenous, pendidikan ini semula merupakan pendidikan agama
islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat islam di Nusantara pada abad ke-13.
Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan
munculnya tempat-tempat pengajian. Sementara itu, Ki Hajar Dewantara meluaskan
penyelenggaraan pendidikan dengan “tricentra” yang merupakan tempat pergaulan anak
didik dan sebagai pusat pendidikan yang amat penting baginya. “tricentra” itu ialah :1)
Lembaga keluarga yang membentuk lembaga pendidikan keluarga, 2) Lembaga
perguruan yang membentuk lembaga pendidikan sekolah, dan 3) lembaga pemuda yang
berbentuk lembaga pendidikan masyarakat.

Sudah menjadi common sense bahwa pesantren lekat dengan figur kiai. Kiai
dalam pesantren merupakan figur sentral, otoritatif, dan pusat seluruh kebijakan dan
perubahan. Pertama, kepemimpinan yang tersentralisasi pada individu yang bersandar
pada charisma serta hubungan yang bersifat paternalistik. Otoritas individu kiai sebagai
pendiri sekaligus pengasuh pesantren sangat besar dan tidak bisa di ganggu gugat.Faktor
nasab (keturunan) juga kuat sehingga kiai bisa mewariskan kepemimpinan pesantren
kepda anak (istilahnya putra mahkota) yang dipercaya tanpa ada komponen pesantren
yang berani memprotes. Sistem alih kepemimpinan di pesantren seperti ini kerapkali
mengundang sindiran bahwa pesantren layaknya ‘kerajaan kecil”.
Potret pesantren dapat dilihat berbagai segi sistem pendidikan secara menyeluruh,
yang meliputi : materi pelajaran dan metode pengajaran, prinsip-prinsip pendidikan,
sarana dan tujuan pendidikan pesantren, kehidupan kiai dan santri serta hubungan
keduanya, masing-masing di bagi menjadi dua, yaitu: Materi pelajaran dan metode
pengajaran dan Jenjang pendidikan.

12
DAFTAR PUSTAKA

M. Sulthon Masyhud dan Moh.Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren,(Jakarta:Diva


Pustaka,2005)

Noor Mahpuddin, Potret Dunia Pesantren, (Bandung: Humaniora, 2006)

Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992)

Majhid Nurcholish, Bilik-Bilik Pesantren (Jakarta: P3M, 1985)

Indra Hasbi, Pesantren dan Transformasi Sosial (Jakarta:Penamadani,2005)

13