Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENNDAHULUAN

KONSEP DASAR LANSIA

A. DEFINISI
Tahap terakhir dalam perkembangan ini dibagi menjadi usia lanjut dini yang
berkisar antara usia enam puluh sampai tujuh puluh tahun dan usia lanjut yang dimulai
pada usia tujuh puluh tahun hingga akhir kehidupan seseorang. Orangtua muda atau usia
tua (usia 65 hingga 74 tahun) dan orangtua yang tua atau usia tua akhir (75 tahun atau
lebih) dan orang tua lanjut (85 tahun atau lebih) dari orang-orang dewasa lanjut yang
lebih muda. (Hurlock, 2002).
Lansia atau usia lanjut adalah tahap akhir dari siklus kehidupan manusia dan hal
tersebut merupakan bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat dihindarkan dan akan
dialami setiap individu (Prasetya, 2010).
Lansia merupakan suatu proses alami. Semua orang akan mengalami proses
menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimasa ini
seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap (Kartika,
2014).

B. BATASAN UMUR LANSIA


Batasan umur pada usia lanjut dari waktu ke waktu berbeda. Menurut World
Health Organitation (WHO) lansia meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun
Berbeda dengan WHO, menurut Departemen Kesehatan RI (2006)
pengelompokkan lansia menjadi :
a. Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakkan kematangan
jiwa (usia 55-59 tahun)
b. Usia lanjut dini (senescen) yaitu kelompok yang mulai memasuki masa usia lanjut dini
(usia 60-64 tahun)
c. Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit degeneratif (usia >65 tahun)

C. TIPE LANSIA
Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup,
lingkungan, kodisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho 2000 dalam Maryam
dkk, 2008). Tipe tersebut dijabarkan sebagai berikut :
1. Tipe arif bijaksana. Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan
perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana,
dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.
2. Tipe mandiri. Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam
mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
3. Tipe tidak puas. Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi
pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak
menuntut.
4. Tipe pasrah. Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan
melakukan pekerjaan apa saja.
5. Tipe bingung. Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal,
pasif, dan acuh tak acuh.
6. Tipe lain dari lansia adalah tipe optimis, tipe konstruktif, tipe independen
(ketergantungan), tipe defensife (bertahan), tipe militan dan serius, tipe
pemarah/frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu), serta tipe
putus asa (benci pada diri sendiri).

D. KLASIFIKASI LANSIA
1. Menurut Departemen Kesehatan RI lansia dibagi sebagai berikut:
a. Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa virilitas
b. Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium
c. Kelompok usia lanjut (kurang dari 65 tahun) senium
2. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), usia lanjut dibagi menjadi empat kriteria
berikut ini:
a. Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun
b. Usia lanjut (elderly) antara 60-74 tahun
c. Usia tua (old) antara 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun
3. Menurut pasal 1 Undang-Undang no. 4 tahun 1965:
Seseorang dikatakan sebagai orang jompo atau usia lanjut setelah yang bersangkutan
mencapai usia 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri
untuk keperluan hidupnya sehari-hari, dan menerima nafkah dari orang lain‖ (Santoso,
2009).

E. TEORI PROSES PENUAAN


Teori-teori yang mendukung terjadinya proses penuaan, antara lain: teori biologis,
teori kejiwaan sosial, teori psikologis, teori kesalahan genetik, dan teori penuaan akibat
metabolisme (Santoso, 2009).
1. Teori Biologis Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsik dan
ekstrinsik. Intrinsik berarti perubahan yang timbul akibat penyebab di dalam sel
sendiri, sedang teori ekstrinsik menjelaskan bahwa penuaan yang terjadi diakibatkan
pengaruh lingkungan.
a. Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik
untuk spesies tertentu. Tiap spesies di dalam inti selnya mempunyai suatu jam
genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu dan akan menghitung
mitosis. Jika jam ini berhenti, maka spesies akan meninggal dunia.
b. Teori Mutasi Somatik (Error Catastrophe Theory) Penuaan disebabkan oleh
kesalahan yang beruntun dalam jangka waktu yang lama melalui transkripsi dan
translasi. Kesalahan tersebut menyebabkan terbentuknya enzim yang salah dan
berakibat pada metabolisme yang salah, sehingga mengurangi fungsional sel.
c. Teori Autoimun (Auto Immune Theory) Menurut teori ini proses metabolisme
tubuh suatu saat akan memproduksi zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang
tidak tahan terhadap suatu zat, sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
d. Teori Radikal Bebas, Menurut teori ini penuaan disebabkan adanya radikal bebas
dalam tubuh.
e. Teori Pemakaian dan Rusak, Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel
tubuh lelah (rusak).
f. Teori Virus, Perlahan-Lahan Menyerang Sistem Sistem Kekebalan Tubuh
(Immunology Slow Virus Theory). Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai
akibat dari sistem imun yang kurang efektif seiring dengan bertambahnya usia.
g. Teori Stres, Menurut teori ini penuaan terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa
digunakan oleh tubuh.
h. Teori Rantai Silang, Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat adanya
reaksi kimia sel-sel yang tua atau yang telah usang menghasilkan ikatan yang
kuat, khususnya jaringan kolagen.
i. Teori Program, Menurut teori ini penuaan terjadi karena kemampuan organisme
untuk menetapkan jumlah sel yang membelah sel-sel tersebut mati.

2. Teori Kejiwaan Sosial


a. Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory) Menurut Havigusrst dan Albrecht
(1953) berpendapat bahwa sangat penting bagi lansia untuk tetap beraktifitas dan
mencapai kepuasan.
b. Teori Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory) Perubahan yang terjadi pada
lansia sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang dimiliki.
c. Teori Pembebasan (Disengagement Theory) Teori ini menyatakan bahwa dengan
bertambahnya usia, seseorang berangsurangsur mulai melepaskan diri dari
kehidupan sosialnya.

3. Teori Psikologi
Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang
ada. Teori tugas perkembangan yang diungkapkan oleh Hanghurst (1972) adalah
bahwa setiap tugas perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan
memberikan persaan bahagia dan sukses. Tugas perkembangan yang spesifik ini
bergantung pada maturasi fisik, penghargaan kultural, masyarakat, nilai aspirasi
individu. Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi penerimaan adanya
penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, penerimaan masa pensiun dan penurunan
pendapatan, respon penerimaan adanya kematian pasangan, serta mempertahankan
kehidupan yang memuaskan.

4. Teori Kesalahan Genetik


Proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetik DNA di mana sel genetik
memperbanyak diri sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang berakibat
pula pada terhambatnya pembentukan sel berikutnya, sehingga 13 mengakibatkan
kematian sel. Pada saat sel mengalami kematian orang akan tampak menjadi tua.

5. Teori Rusaknya Sistem Imun Tubuh


Mutasi yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan sistem imun untuk
mengenali dirinya berkurang (self recognition), sehingga mengakibatkan kelainan
pada sel karena dianggap sel asing yang membuat hancurnya kekebalan tubuh.

F. TUGAS PERKEMBANGAN LANSIA


Lansia harus menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik yang terjadi seiring
penuaan. Waktu dan durasi perubahan ini bervariasi pada tiap individu, namun seiring
penuaan sistem tubuh, perubahan penampilan dan fungsi tubuh akan terjadi. Perubahan
ini tidak dihubungkan dengan penyakit dan merupakan perubahan normal. Adanya
penyakit terkadang mengubah waktu timbulnya perubahan atau dampaknya terhadap
kehidupan sehari-hari.
Adapun tugas perkembangan pada lansia dalam adalah : beradaptasi terhadap
penurunan kesehatan dan kekuatan fisik, beradaptasi terhadap masa pensiun dan
penurunan pendapatan, beradaptasi terhadap kematian pasangan, menerima diri sebagai
individu yang menua, mempertahankan kehidupan yang memuaskan, menetapkan
kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa, menemukan cara mempertahankan
kualitas hidup (Potter & Perry, 2009).
G. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia menurut Nugroho (2000) yaitu :
1. Perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada lansia diakibatkan oleh terjadinya proses
degeneratif yang meliputi :
a. Sel terjadi perubahan menjadi lebih sedikit jumlahnya dan lebih besar ukurannya,
serta berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya intraseluler.
b. Sistem persyarafan terjadi perubahan berat otak 10-20, lambat dalam respon dan
waktu untuk bereaksi dan mengecilnya syaraf panca indera yang menyebabkan
berkurangnya penglihatan, 10 hilangnya pendengaran, menurunnya sensasi perasa
dan penciuman sehingga dapat mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan
misalnya glukoma dan sebagainya.
c. Sistem pendengaran terjadi perubahan hilangnya daya pendengaran pada telinga
dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang
tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia di atas umur 65 tahun
dan pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan jiwa atau stress. Hilangnya kemampuan pendengaran meningkat
sesuai dengan proses penuaan dan hal yang seringkali merupakan keadaan
potensial yang dapat disembuhkan dan berkaitan dengan efek-efek kolateral
seperti komunikasi yang buruk dengan pemberi perawatan, isolasi, paranoia dan
penyimpangan fungsional.
d. Sistem penglihatan terjadi perubahan hilangnya respon terhadap sinar, kornea
lebih terbentuk spesies, lensa lebih suram sehingga menjadi katarak yang
menyebabkan gangguan penglihatan, hilangnya daya akomodasi, meningkatnya
ambang pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan
susah melihat dalam cahaya gelap, menurunnya lapang pandang sehingga luas
pandangnya berkurang luas.
e. Sistem kardiovaskuler terjadi perubahan elastisitas dinding aorta menurun, katup
jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan 11 jantung memompa darah
menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volume kehilangan elastisitas pembuluh darah karena
kurangnya efektivitas pembuluh darah feriver untuk oksigenasi, perubahan posisi
dari tidur ke duduk, duduk keberdiri bisa mengakibatkan tekanan darah menurun
menjadi mmHg yang mengakibatkan pusing mendadak, tekanan darah meninggi
diakibatkan oleh meningkatnya resitensi dari pembuluh darah perifer.

2. Perubahan mental
Meliputi perubahan dalam memori secara umum. Gejala-gejala memori cocok
dengan keadaan yang disebut pikun tua, akhir-akhir ini lebih cenderung disebut
kerusakan memori berkenaan dengan usia atau penurunan kognitif berkenaan dengan
proses menua. Pelupa merupakan keluhan yang sering dikemukakan oleh manula,
keluhan ini di anggap lumrah dan biasa oleh lansia, keluhan ini didasari oleh fakta
dari peneliti cross sectional dan logitudional didapat bahwa kebanyakan, namun tidak
semua lansia mengalami gangguan memori, terutama setelah usia 70 tahun, serta
perubahan IQ (intelegentia quotient) tidak berubah dengan informasi matematika dan
perkataan verbal, berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor
terjadi perubahan daya membayangkan karena tekanan-tekanan dari factor waktu.

3. Perubahan-perubahan psikososial
Meliputi pensiun, nilai seseoarang sering di ukur oleh produktivitasnya dan
identitas di kaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seorang pension (purna
tugas) ia akan mengalami kehilangan financial, status, teman dan pekerjaan.
Merasakan sadar akan kematian, semakin lanjut usia biasanya mereka menjadi
semakin kurang tertarik terhadap kehidupan akhirat dan lebih mementingkan
kematian itu sendiri serta kematian dirinya, kondisi seperti ini benar khususnya bagi
orang yang kondisi fisik dan mentalnya semakin memburuk, pada waktu
kesehatannya memburuk mereka cenderung untuk berkonsentrasi pada masalah
kematian dan mulai dipengaruhi oleh perasaan seperti itu, hal ini secara langsung
bertentangan dengan pendapat orang lebih muda, dimana kematian mereka
tampaknya masih jauh dank arena itu mereka kurang memikirkan kematian.
4. Perubahan psikologis
Masalah psikologis yang dialami oleh lansia ini pertama kali mengenai sikap
mereka sendiri terhadap proses menua yang mereka hadapi, antara lain penurunan
badaniah atau dalam kebingungan untuk memikirkannya. Dalam hal ini di kenal apa
yang di sebut disengagement theory, yang berarti ada penarikan diri dari masyarakat
dan diri pribadinya satu sama lain. Pemisahan diri hanya dilakukan baru dilaksanakan
hanya pada masa-masa akhir kehidupan lansia saja. Pada lansia yang realistik dapat
menyesuaikan diri 13 terhadap lingkungan baru. Karena telah lanjut usia mereka
sering dianggap terlalu lamban, dengan gaya reaksi yang lamban dan kesiapan dan
kecepatan bertindak dan berfikir yang menurun. Daya ingat mereka memang banyak
yang menurun dari lupa sampai pikun dan demensia, biasanya mereka masih ingat
betul peristiwa-peristiwa yang telah lama terjadi, malahan lupa mengenal hal-hal
yang baru terjadi

H. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
Tujuan :
1. Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri.
2. Melengkapi dasar – dasar rencana perawatan individu.
3. Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien.
4. Memberi waktu kepada klien untuk menjawab.
Meliputi aspek :
a. Fisik
Wawancara
a) Pandangan lanjut usia tentang kesehatan.
b) Kegiatan yang mampu di lakukan lanjut usia.
c) Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri.
d) Kekuatan fisik lanjut usia : otot, sendi, penglihatan, dan pndengaran.
e) Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, BAB/BAK.
f) Kebiasaan gerak badan / olahraga /senam lanjut usia.
g) Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan.
h) Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam minum
obat.
i) Masalah-masalah seksual yang telah di rasakan.

Pemeriksaan fisik
a) Pemeriksanaan di lakukan dengan cara inspeksi, palpilasi, perkusi, dan auskultasi
untuk mengetahui perubahan sistem tubuh.
b) Pendekatan yang di gunakan dalam pemeriksanaan fisik,yaitu :
1) Head to tea
2) Sistem tubuh

b. Psikologis
a) Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan.
b) Apakah dirinya merasa di butuhkan atau tidak.
c) Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan.
d) Bagaimana mengatasi stress yang di alami.
e) Apakah mudah dalam menyesuaikan diri.
f) Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan.
g) Apakah harapan pada saat ini dan akan datang.
h) Perlu di kaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat, proses pikir, alam
perasaan, orientasi, dan kemampuan dalam penyelesaikan masalah.

c. Sosial ekonomi
a) Darimana sumber keuangan lanjut usia
b) Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang.
c) Dengan siapa dia tinggal.
d) Kegiatan organisasi apa yang di ikuti lanjut usia.
e) Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya.
f) Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
g) Siapa saja yang bisa mengunjungi.
h) Seberapa besar ketergantungannya.
i) Apakah dapat menyalurkan hoby atau keinginannya dengan fasilitas yang ada.

d. Spiritual
a) Apakah secara teratur malakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya.
b) Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan,
misalnya pengajian dan penyantunan anak yatim atau fakir miskin.
c) Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah apakah dengan berdoa.
d) Apakah lanjut usia terlihat tabah dan tawakal.

PENGKAJIAN DASAR
1. Temperatur
a. Mungkn serendah 95° F(hipotermi) ±35°C.
b. Lebih teliti di periksa di sublingual.
2. Pulse (denyut nadi)
a. Kecepata, irama, volume.
b. Apikal, radial, pedal.
3. Respirasi (pernapasan)
a. Kecepatan, irama, dan kedalaman.
b. Tidak teratutnya pernapasan.
4. Tekanan darah
a. Saat baring, duduk, berdiri.
b. Hipotensi akibat posisi tubuh.
5. Berat badan perlahan – lahan hilang pada tahun-tahun terakhir.
6. Tingkat orientasi.
7. Memori (ingatan).
8. Pola tidur.
9. Penyesuaian psikososial.

Sistem persyarafan
1. Kesemetrisan raut wajah
2. Tingkat kesadaran adanya perubahan-perubahan dari otak
a. Tidak semua orang mnjadi snile
b. Kebanyakan mempunyai daya ingatan menurun atau melemah
3. Mata : pergerakan, kejelasan melihat, adanya katarak
4. Pupil : kesamaan, dilatasi
5. Ketajaman penglihatan menurun karena menua :
a. Jangan di tes depan jendela
b. Pergunakan tangan atau gambar
c. Cek kondisi mata
6. Sensory deprivation ( gangguan ssensorik )
7. Ketajaman pendengaran
a. Apakajh menggunakan alat bantu dengar
b. Tinutis
c. Serumen telinga bagian luar, jangan di bersihkan
8. Adanya rasa sakit atau nyeri.

Sistem kardiovaskuler
1. Sirkulasi periper, warna, dan kehangatan
2. Auskultasi denyut nadi apikal
3. Periksa adanya pembengkakan veba jugularis
4. Pusing
5. Sakit
6. Edema

Sistem Gastrointestinal
1. Status gizi
2. Pemasukan diet
3. Anoreksia, tidak di cerna, mual, dan muntah
4. Mengunyah dan menelan
5. Keadaan gigi, rahang dan rongga mulut
6. Auskultasi bising usus
7. Palpasi apakah perut kembung ada pelebaran kolon
8. Apakah ada konstipasi (sembelit), diare, dan inkontinensia alvi

Sistem Genitourinarius
1. Warna dan bau urine
2. Distensi kandung kemih, inkontinensia (tidak dapat menahan untuk BAK )
3. Frekwensi, tekanan, desakan
4. Pemasukan dan pengeluaran cairan
5. Disuria
6. Seksualitas
a. Kurang minat untuk melaksanakan hubungan seks
b. Adanya kecacatan sosial yang mengarah ke aktivitas seksual

Sistem Kulit / Integumen


1. Kulit
a. Temperatur, tingkat kelembaban
b. Keutuhan luka, luka terbuka, robekan
c. Perubahan pigmen
2. Adanya jaringan parut
3. Keadaan kuku
4. Keadaan rambut
5. Adanya gangguan-gangguan umum

Sistem Muskuloskeletal
1. Kontraktur
a. Atrofi otot
b. Mengecilkan tendo
c. Ketidakadekuatannya gerakan sendi
2. Tingkat mobilisasi
a. Ambulasi dengan atau tanpa bantuan / peralatan
b. Keterbatasan gerak
c. Kekuatan otot
d. Kemampuan melangkah atau berjalan
3. Gerakan sendi
4. paralisis
5. kifosis

Psikososial
1. Menjauhkan tanda-tanda meningkatnya ketergantungan
2. Fokus-fokus pada diri bertambah
3. Memperlihatkan semakin sempitnya perhatian
4. Membutuhkan bukti nyata akan rasa kasih sayang yang berlebihan

3. Pengkajian status kognitif


a. Pengkajian SPMSQ (Short Portable Mental Status Questioner)

NO Pertanyaan Jawaban
1 Tanggal berapa hari ini?
2 Hari apa sekarang ini?
3 Apa nama tempat ini?
4 Dimana alamat anda?
5 Berapa umur anda?
6 Kapan anda lahir?
7 Siapa presiden Indonesia
sekarang?
8 Siapa presiden sebelumnya?
9 Siapa nama kecil ibu anda?
10 Kurang 3 dari 20 dan tetap
pengurangan 3 dari setiap angka
baru, semua secara menurun !

Kesimpulan:

1. Kesalahan 0 – 2 = Fungsi intelektual utuh


2. Kesalahan 3 – 4 = Kerusakan intelektual Ringan
3. Kesalahan 5 – 7 = Kerusakan intelektual Sedang
4. Kesalahan 8 – 10 = Kerusakan intelektual Berat

Keterangan:
a. Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 (satu) kesalahan bila subyek hanya berpendidikan SD
b. Bisa dimaklumi bila kurang dari 1 (satu) kesalahan bila subyek mempunyai pendidikan lebih
dari SD
c. Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 (satu) kesalahan untuk subyek kulit hitam, dengan
menggunakan kriteria pendidikan yang lama.

b. MINI MENTAL STATE EXAM ( MMSE )


( Menguji Aspek-Aspek Kognitif dari Fungsi Mental )
c.
Nilai Pasien Pertanyaan
Maksimum
Orientasi
5 (Tahun) (Musim) (Tanggal) (Hari) (Bulan apa sekarang)?
5 Dimana kita: (Negara bagian) (Wilayah) (Kota) (Rumah sakit)
(Lantai )?
Registrasi
3 Sebutkan Nama 3 Objek : 1 detik untuk mengatakan masing-
masing. Kemudian tanyakan klien ketiga objek setelah anda telah
mengatakannya. Beri 1 poin untuk setiap jawaban yang benar.
Kemudian ulangi sampai ia mempelajari ketiganya.
Jumlah percobaan dan catat.
Percobaan: ………
Perhatian dan Kalkulasi
5 Seri 7’s 1 poin untuk setiap kebenaran
Berhenti setelah 5 jawaban. Berganti eja “kata” ke belakang
Mengingat
3 Meminta untuk mengulang ketiga objek diatas
Berikan 1 poin untuk setiap kebenaran
Bahasa
9 Nama Pensil dan melihat ( 2 poin )
Mengulang hal berikut : “tidak ada jika, dan, atau tetapi” ( 1 poin )
Nilai Total

Kaji tingkat kesadaran sepanjang kontinum:


1. Composmentis
2. Apatis
3. Somnolen
4. Suporus
5. Coma
Keterangan:
1. > 23 : aspek kognitif dari fungsi mental baik
2. 18-22 : kerusakan aspek fungsi mental ringan.
3. ≤ 17 : terdapat kerusakan aspek mental berat.

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, W. 2008.Gerontik dan Geriatik. EGC: Jakarta


Nugroho, W.2000.Keperawatan Gerontik & Geriatric. Edisi 3. EGC. Jakarta
Maryam, S dkk, 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya .Salemba Medika:Jakarta
Almatsier, S.2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC
Azwar, A.2006. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan.
Depkes: Jawa Timur