Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN KASUS

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Nn. M
Umur : 26 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Kel. Pemayung, Kec. Batang Hari, Jambi
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA

1.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama : Penglihatan kedua mata kabur

Riwayat Penyakit Sekarang :


Sejak ± 1 tahun yang lalu penderita merasakan pandangan kabur pada
kedua mata. Pandangan kabur apabila membaca jarak jauh dan huruf terlihat
membayang. Pandangan kabur terjadi perlahan dan makin lama makin kabur,
pasien juga mengeluh harus mengernyitkan mata untuk melihat fokus pada suatu
benda. Keluhan mata merah (-), nyeri (-), berair (+), gatal (+), silau (+), kotoran
mata (-).

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat sakit mata sebelumnya disangkal. Riwayat kencing manis
disangkal. Riwayat trauma pada daerah mata disangkal. Riwayat minum obat-
obatan dalam jangka waktu lama disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga disangkal.

1
Riwayat Gizi
Baik

Keadaaan Sosial Ekonomi


Baik

Penyakit Sistemik
 Tractus Respiratorius : Tidak ada keluhan
 Tractus Digestivus : Tidak ada keluhan
 Kardiovaskuler : Tidak ada keluhan
 Endokrin : Tidak ada keluhan
 Neurologi : Tidak ada keluhan
 Kulit : Tidak ada keluhan
 THT : Tidak ada keluhan
 Gigi dan Mulut : Tidak ada keluhan
 Lain – lain

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


1.3.1 Status Oftalmologikus
PEMERIKSAAN VISUS
DAN REFRAKSI
VISUS OD OS
6/15 6/12
Pemeriksaan dilakukan Pemeriksaan dilakukan
dengan cara: dengan cara:
- Pasien menutup mata - Pasien menutup mata
kirinya dengan kanannya dengan
menggunakan telapak menggunakan telapak
tangan tangan.
- Pasien diminta untuk - Pasien diminta untuk
membaca angka membaca huruf
terbesar pada kartu terbesar pada kartu
snellen. snellen.
- Pasien mampu - Pasien mampu
membaca huruf pada membaca huruf pada
kartu snellen hingga kartu snellen hingga

2
baris ke empat. baris ke lima.
- Kemudian dengan - Kemudian dengan
menggunakan Pinhole menggunakan Pinhole
mengalami kemajuan mengalami kemajuan
visus. visus.
KOREKSI Visus 6/15  6/6 Visus 6/12  6/6
- Dilakukan koreksi - Dilakukan koreksi
Dengan langkah: dengan menggunakan dengan menggunakan
- Pasien diminta untuk sferis -0,50 / + 0,50 sferis -0,50 / + 0,50
memakai trial frame - Pasien merasa lebih - Pasien merasa lebih
- Mata kanan diperiksa terang dengan terang dengan
terlebih dahulu dan menggunakan lensa menggunakan lensa
mata kiri ditutup sferis -0,50. sferis -0,50.
dengan occlude - Pasien mampu - Pasien mampu
- Pasien diminta untuk membaca angka pada membaca angka pada
mengidentifikasi kartu snellen hingga kartu snellen hingga
angka terbesar pada baris keenam, sehingga baris keenam, sehingga
kartu snellen. visus 6/9. visus 6/6
- Setelah mata kanan - Kemudian dilakukan - Kemudian dilakukan
diperiksa dilanjutkan penambahan lensa penambahan lensa
pada mata kiri dan sferis -0,50 ketajaman sferis +0,25 dan
mata kanan ditutup. penglihatan pasien dibandingkan dengan
maju menjadi 6/6 sferis -0,25 ketajaman
namun pasien merasa penglihatan pasien 6/6
tidak nyaman/pusing. namun pasien merasa
- Kemudian dilakukan tidak nyaman/pusing.
penambahan lensa - Sferis -0,5  6/6
sferis +0,25 sehingga
visus 6/6 dan pasien
merasa nyaman.
- Sferis -0,75  6/6
MUSCLE BALANCE OD OS
Kedudukan bola mata

ortoforia ortoforia

3
PERGERAKAN BOLA
MATA

Versi baik, Duksi baik Versi baik, duksi baik

PEMERIKSAAN OD OS
EKSTERNAL
SUPERSILIA Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
PALPEBRA SUPERIOR Edema (–), hiperemis (-) Edema (–), hiperemis (-)
PALPEBRA INFERIOR Edema (–), hiperemis (-) Edema (–), hiperemis (-)
MARGO PALPEBRA Ektopion (-), ektropion (-) Ektopion (-), ektropion (-)
DAN SILIA Sekret (-), trikiasis (-) Sekret (-), trikiasis (-)
APPARATUS Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
LAKRIMALIS
KONJUNGTIVA Folikel (-), papil (-) Folikel (-), papil (-)
TARSALIS SUPERIOR

KONJUNGTIVA Folikel (-), papil (-) Folikel (-), papil (-)


TARSALIS INFERIOR
KONJUNGTIVA Injeksi siliaris (-), injeksi Injeksi siliaris (-), injeksi
BULBI konjungtiva (-) konjungtiva (-)
KORNEA Jernih Jernih
COA Dangkal Dangkal
PUPIL
- DIAMETER 3 mm 3 mm
- REFLEKS CAHAYA
- Direct + +
- Konsekuil + +
IRIS Warna coklat, kripte (+) Warna coklat, kripte (+)
LENSA Keruh (-) Keruh (-)

PEMERIKSAAN SLIT OD OS
LAMP
Tidak dilakukan Tidak dilakukan

TONOMETRI
- SCHIOTZ Tidak dilakukan Tidak dilakukan
VISUAL FIELD Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa

4
PEMERIKSAAN Tidak dilakukan Tidak dilakukan
PADA KEADAAN
MIDRIASIS

1.3.2 Pemeriksaan Umum


- Keadaan Umum : Compos mentis
- Tekanan darah : 120/70 mmHg
- Nadi : 84 x/menit
- Suhu : Afebris
- Pernapasan : 20 x/menit
- Berat badan : 54 Kg

1.4 DIAGNOSIS KERJA


Miopia Simpleks ODS

1.5 PENATALAKSANAAN
Umum :
 Membaca dengan pencahayaan yang cukup
 Menghindari membaca sambil tiduran
 Kacamata harus terus dipakai
 Beristirahat jika mata mulai terasa lelah

Khusus :
Kacamata lensa sferis konkaf sesuai dengan koreksi :
OD S – 0.75 D 6/6
OS S – 0.50 D 6/6

1.6 PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KELAINAN REFRAKSI


Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk
pada retina. Pada kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik mata
sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Pada mata normal kornea dan lensa
mebelokkan sinar pada titik fokus yang tepat pada sentral retina. Keadaan ini
memerlukan susunan kornea dan lensa yang sesuai dengan panjangnya bola mata.
Pada orang normal daya bias media penglihatan dan panjangnya bola mata
seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media refraksi dibiaskan tepat
di daerah makula lutea.1
Secara keseluruhan status refraksi dipengaruhi oleh :
1. Kekuatan kornea (rata-rata 43 D)
2. Kekuatan lensa (rata-rata 21 D)
3. Panjang aksial (rata-rata 24 cm)

Dikenal beberapa titik didalam bidang refraksi, seperti Punctum Proksimum


merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas.
Puctum Remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat
dengan jelas. Titik ini merupakan titik didalam ruang yang berhubungan dengan
retina atau foveola bila mata istirahat.1
Emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar
mata dan berfungsi normal.1
Ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata yang
tidak seimbang. Hal ini akan terjadi kelainan kekuatan pembiasan sinar media
penglihatan atau kelainan bentuk bola mata. Ametropia dalam keadaan tanpa
akomodasi atau dalam keadaan istirahat memberikan bayangan sinar sejajar pada
fokus yang tidak terletak pada retina. Pada keadaan ini bayangan pada selaput jala
tidak sempurna terbentuk. Ametropia dapat disebabkan kelengkungan kornea atau
lensa yang tidak normal (ametropia kurvatur) atau indeks bias abnormal di dalam

6
mata (ametropia indeks). Panjang bola mata normal. Ametropia dapat ditemukan
dalam bentuk-bentuk kelainan, seperti miopia, hipermetropia, dan astigmat.1

2.2 MIOPIA
2.2.1 Definisi
Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang
memasuki mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina.
Dalam keadaan ini objek yang jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar
yang datang saling bersilangan pada badan kaca, ketika sinar tersebut sampai di
retina sinar-sinar ini menjadi divergen,membentuk lingkaran yang difus dengan
akibat bayangan yang kabur.1,2

Gambar 1. Miopia

Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai
dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang miopia mempunyai
kebiasaan mengernyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk
mendapatkan efek pinhole (lubang kecil).
Pasien miopia mempunyai punctum remotum yang dekat sehingga mata
selalu dalam atau berkedudukan konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap,
maka penderita akan terlihat juling kedalam atau esotropia.2

7
2.2.2 KLASIFIKASI1-3
Dikenal beberapa tipe dari miopia :
1. Miopia Aksial
Bertambah panjangnya diameter anteroposterior bola mata dari normal. Pada
orang dewasa panjang axial bola mata 22,6 mm. Perubahan diameter
anteroposterior bola mata 1 mm akan menimbulkan perubahan refraksi
sebesar 3 dioptri.
2. Miopia Refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada
katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan
lebih kuat.

Menurut derajat beratnya, miopia dibagi dalam :


1. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1-3 D (-0,25 Dioptri s/d -3,00
Dioptri)
2. Miopia sedang, dimana miopia kecil daripada 3-6 D (-3,25 Dioptri s/d -6,00
Dioptri)
3. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 D (≥ -6,25 Dioptri)

Menurut perjalanannya, miopia dikenal denan bentuk :


a. Miopia stasioner, miopia yang menetap
b. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat
bertambah panjangnya bola mata
c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan
ablasi retina dan kebutaan. Miopia maligna biasanya bila mopia lebih dari 6
dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata
sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal
papil disertai dengan atrofi korioretina.

Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat kelainan pada fundus okuli
sepertimiopik kresen yaitu bercak atrofi koroid yang berbentuk bulan sabit pada

8
bagian temporal yang berwarna putih keabu-abuan kadang-kadang bercak atrofi
ini mengelilingi papil yang disebut annular patch. Dijumpai degenerasi
dari retina berupa kelompok pigmen yang tidak merata menyerupai kulit harimau
yang disebut fundus tigroid, degenerasi makula, degenerasi retina bagian perifer
(degenerasi latis).2,3
Degenerasi latis adalah degenerasi vitroretina herediter yang paling sering
dijumpai, berupa penipisan retina berbentuk bundar, oval atau linear, disertai
pigmentasi, garis putih bercabang-cabang dan bintik kuning keputihan.
Degenerasi latis lebih sering dijumpai pada mata miopia dan sering disertai
ablasio retina, yang terjadi hampir 1/3 pasien dengan ablasio retina.2,3

Gambar 2. Degenerasi Latis

Berdasarkan gambaran klinisnya, miopia dibagi menjadi :2,-5


1. Miopia simpleks
Ini lebih sering daripada tipe lainnya dan dicirikan dengan mata yang terlalu
panjang untuk tenaga optiknya (yang ditentukan dengan kornea dan lensa)
atau optik yang terlalu kuat dibandingkan dengan panjang aksialnya.

2. Miopia nokturnal
Ini merupakan keadaan dimana mata mempunyai kesulitan untuk melihat
pada area dengan cahaya kurang, namun penglihatan pada siang hari
normal.

9
3. Pseudomiopia
Terganggunya penglihatan jauh yang diakibatkan oleh spasme otot siliar.

4. Miopia yang didapat


Terjadi karena terkena bahan farmasi, peningkatan level gula darah,
sklerosis nukleus atau kondisi anomali lainnya.

2.2.3 GEJALA KLINIS2,4,5,6


Gejala subjektif miopia antara lain:
 Kabur bila melihat jauh
 Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat
 Lekas lelah bila membaca (karena konvergensi yang tidak sesuai dengan
akomodasi).2-3

Gejala objektif miopia antara lain:


1. Miopia simpleks :
 Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang
relatif lebar. Kadang-kadang ditemukan bola mata yang agak menonjol.
 Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau
dapat disertai kresen miopia (myopic cresent) yang ringan di sekitar
papil saraf optik.2.3

2. Miopia patologik :
Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks Gambaran
yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan pada:
 Badan kaca : dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau
degenerasi yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang
mengapung dalam badan kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi badan
kaca yang dianggap belum jelas hubungannya dengan keadaan myopia.
 Papil saraf optik : terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil
terlihat lebih pucat yang meluas terutama ke bagian temporal. Kresen

10
miopia dapat ke seluruh lingkaran papil sehingga seluruh papil
dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi yang tidak
teratur.2,3

Gambar 2. Myopic cresent

 Makula : berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan


perdarahan subretina pada daerah makula.
 Retina bagian perifer : berupa degenersi kista retina bagian perifer.
 Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan
retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas
dan disebut sebagai fundus tigroid.

Gambar 3. Fundus Tigroid

11
2.2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG2,4,5
Untuk mendiagnosis miopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan
pada mata, pemeriksaan tersebut adalah :
1. Refraksi Subjektif
Diagnosis miopia dapat ditegakkan dengan pemeriksaan rekraksi subjektif,
metode yang digunakan adalah dengan metode “trial and error”. Jarak
pemeriksaan 6 meter dengan menggunakan kartu Snellen.

2. Refraksi Objektif
Yaitu menggunakan retinoskopi, dengan lensa kerja sferis +2.00 D
pemeriksa mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan
arah gerakan retinoskop (against movement).

3. Autorefraktometer
Yaitu menentukan miopia atau besarnya kelainan refraksi dengan
menggunakan komputer.

2.2.5 PENATALAKSANAAN
a. Lensa Kacamata
Kacamata masih merupakan yang paling aman untuk
memperbaiki refraksi. Untuk mengurangi aberasi nonkromatik,
lensa dibuat dalam bentuk meniskus (kurva terkoreksi) dan
dimiringkan ke depan (pantascopic tilt). 1-4

b. Lensa Kontak
Lensa kontak pertama merupakan lensa sklera kaca yang berisi cairan.
Lensa ini sulit dipakai untuk jangka panjang serta menyebabkan edema
kornea dan rasa tidak enak pada mata. Lensa kornea keras, yang terbuat dari
polimetilmetakrilat, merupakan lensa kontak pertama yang benar-benar
berhasil dan diterima secara luas sebagai pengganti kacamata.
Pengembangan selanjutnya antara lain adalah lensa kaku yang permeabel

12
udara., yang terbuat dari asetat butirat selulosa, silikon, atau berbagai
polimer plastik dan silikon; dan lensa kontak lunak, yang terbuat dari
beragam plastik hidrogel; semuanya memberikan kenyamanan yang lebih
baik, tetapi risiko terjadinya komplikasi serius lebih besar.2-4
Lensa keras dan lensa yang permeabel-udara mengoreksi kesalahan
refraksi dengan mengubah kelengkungan permukaan anterior mata. Daya
refraksi total merupakan daya yang ditimbulkan oleh kelengkungan
belakang lensa (kelengkungan dasar) bersamsa dengan daya lensa
sebenarnya yang disebabkan oleh perbedaan kelengkungan antara depan dan
belakang. Hanya yang kedua yang bergantung pada indeks refraksi bahan
lensa kontak. Lensa keras dan lensa permeabel-udara mengatasi
astigmatisme kornea dengan memodifikasi permukaan anterior mata
menjadi bentuk yang benar-benar sferis.2-5
Lensa kontak lunak, terutama bentuk-bentuk yang lebih lentur,
mengadopsi bentuk kornea pasien. Dengan demikian, daya refraksinya
hanya terdapat pada perbedaan antara kelengkungan depan dan belakang,
dan lensa ini hanya sedikit mengoreksi astigmatisme kornea, kecuali bila
disertai koreksi silindris untuk membuat suatu lensa torus.

c. Bedah Keratorefraktif
Bedah keratorefraktif mencakup serangkaian metode untuk mengubah
kelengkungan permukaan anterior mata. Efek refraktif yang diinginkan
secara umum diperoleh dari hasil empiris tindakan-tindakan serupa pada
pasien lain dan bukan didasarkan pada perhitungan optis maternatis.3-6

d. Lensa Intraokular
Penanaman lensa intraokular (IOL) telah menjadi metode pilihan
untuk koreksi kelainan refraksi pada afakia. Tersedia sejumlah rancangan,
termasuk lensa lipat, yang terbuat dari plastik hidrogel, yang dapat
disisipkan ke dalam mata melalui suatu insisi kecil; dan lensa kaku, yang
paling sering terdiri atas suatu optik yang terbuat dari polimetilmetakrilat

13
dan lengkungan (haptik) yang terbuat dari bahan yang sama atau
polipropilen. Posisi paling aman bagi lensa intraokular adalah didalam
kantung kapsul yang utuh setelah pembedahan ekstrakapsular.4,5

e. Ekstraksi Lensa Jernih Untuk Miopia


Ekstaksi lensa non-katarak telah dianjurkan untuk koreksi refraktif
miopia sedang sampai tinggi; hasil tindakan ini tidak kalah memuaskan
dengan yang dicapai oleh bedah keratorefraktif menggunakan laser. Namun,
perlu dipikirkan komplikasi operasi dan pascaoperasi bedah intraokular,
khususnya pada miopia tinggi.3-5

2.2.6KOMPLIKASI2
Komplikasi lebih sering terjadi pada miopia tinggi. Komplikasi yang dapat
terjadi berupa :

- Dinding mata yang lebih lemah, karena sklera lebih tipis


- Degenerasi miopik pada retina dan koroid. Retina lebih tipis sehingga
terdapat risiko tinggi terjadinya robekan pada retina
- Ablasi retina
- Orang dengan miopia mempunyai kemungkinan lebih tinggi terjadi
glaukoma.

2.2.7 PROGNOSIS
Prognosis miopia sederhana adalah sangat baik. Pasien miopia sederhana
yang telah dikoreksi miopianya dapat melihat objek jauh dengan lebih baik.
Prognosis yang didapat sesuai dengan derajat keparahannya. Penyulit yang dapat
timbul pada pasien dengan miopia adalah terjadinya ablasi retina dan juling.
Juling biasanya esotropia akibat mata berkonvergensi terus-menerus. Bila terdapat
juling keluar mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia.1-3

14
BAB III
PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan keluhan :


- Pandangan kedua mata kabur yang timbul secara perlahan, pertama kali 1
tahun yang lalu
- Pandangan kabur saat melihat jauh dan membaik jika melihat dalam jarak
dekat
- Mata cepat terasa lelah saat membaca
- Memiliki kebiasaan membaca ditempat gelap dan sambil tiduran

Dari pemeriksaan fisik didapatkan :


- VOD 6/15 S -0.75 D 6/6
- VOS 6/12 S -0,50 D 6/6
- ODS : Kornea jernih, COA sedang, lensa jernih

Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan suatu keadaan
refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam
keadaan mata istirahat, dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan
lingkaran difus dan bayangan kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih
dekat mungkin dibiaskan tepat di retina tanpa akomodasi.
Pasien ini diterapi dengan lensa sferis negatif. Ukuran lensa yang digunakan
adalah yang terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat dilakukan
koreksi. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa pada
penderita miopia diberikan lensa sferis negatif yang terkecil yang memberikan
visus maksimal.
Prognosis quo ad vitam pada kasus ini adalah ad bonam, dan quo ad
fungtionam pada kasus ini dubia ad bonam Prognosis miopia simpleks adalah
sangat baik. Pasien miopia sederhana yang telah dikoreksi miopianya dapat
melihat objek jauh dengan lebih baik. Prognosis yang didapat sesuai dengan
derajat keparahannya.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, HS. 2006. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Cetakan I. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.
2. Vaughan A dan Riordan E 2000. Ofthalmologi Umum. Ed 17 .Cetakan 1.
Widya Medika, Jakarta.
3. Nana Wijana S.D. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-6. Jakarta. Abadi
Tegal.1993.
4. Ilyas S, Tanzil M, Salamun dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2003: 5.
5. Hartono, Yudono RH, Utomo PT, Hernowo AS. Refraksi dalam:
Ilmu Penyakit Mata. Suhardjo, Hartono (eds). Yogyakarta:
Bagian Ilmu Penyakit Mata FK UGM, 2007; 185-7.
6. Ilyas S. 2002. Optik dan refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata
untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: Balai penerbit
Sagung Seto.

16