Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum ke: 5 Hari/ Tanggal: Senin/ 5 Maret 2018

Teknik Laboratorium Nutrisi dan Pakan Tempat Praktikum: Laboratorium


Biokimia Nutrisi dan
Mikrobiologi Nutrisi
Nama Asisten:
Afdola Riski Nasution

SENTRIFUGASI
REZA AULIA PUTRA
D24150058
KELOMPOK 2/ G2

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Campuran dapat tersusun atas beberapa unsur ataupun senyawa. Komponen


– komponen penyusun suatu campuran tersebut dapat dipisahkan berdasarkan sifat
fisika zat penyusunnya. Salah satu metode yang digunakan dalam pemisahan
campuran adalah sentrifugasi. Sentrifugasi adalah metode sedimentasi untuk
memisahkan partikel-partikel dari suatu fluida berdasarkan berat jenisnya dengan
memberikan gaya sentripetal (Robinson 1975). Sentrifugasi bertujuan untuk
memisahkan sel menjadi organel- organel utama sehingga fungsinya dapat
diketahui (Miller 2000). Dalam bentuk yang sederhana centrifuge terdiri atas
sebuah rotor dengan lubang-lubang untuk melatakkan wadah/tabung yang berisi
cairan dan sebuah motor atau alat lain yang dapat memutar rotor pada kecepatan
yang dikehendaki. Centrifuge merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan
organel berdasarkan massa jenisnya melalui proses pengendapan. Dalam
prosesnya, centrifuge menggunakan prinsip rotasi atau perputaran tabung yang
berisi larutan agar dapat dipisahkan berdasarkan massa jenisnya. Larutan akan
terbagi menjadi dua fase yaitu supernatant yang berupa cairan dan padatan atau
organel yang mengendap.
Macam – Macam Sentrifugasi terdiri dari sentrifugasi diferensial dan
sentrifugasi gradien densitas. Sentrifugasi Diferensial merupakan pemisahan
dicapai terutama didasarkan pada ukuran partikel dalam sentrifugasi diferensial.
Densitas partikel yang berbeda atau ukuran dalam suspensi akan mengendap pada
tingkat yang berbeda, dengan partikel lebih besar dan padat cepat mengendap.
Tingkat sedimentasi ini dapat ditingkatkan dengan menggunakan gaya sentrifugal.
Sentrifugasi gradien densitas adalah metode yang disukai untuk memurnikan
organel subselular dan makromolekul. Gradien densitas dapat dihasilkan dengan
menempatkan lapisan demi lapisan media gradien. Sentrifugasi gradien densitas
diklasifikasikan menjadi dua sentrifugasi zona tingkat dan sentrifugasi isopiknik.
Dalam sentrifugasi zona tingkat masalah kontaminasi silang dari partikel
yang berbeda tingkat pengendapannya dapat dihindari dengan pelapisan sampel
sebagai zona sempit di atas gradien densitas. Sampel berlapis sebagai zona sempit
di atas gradien densitas. Dalam gaya sentrifugal, partikel bergerak berlainan
tergantung pada massanya. Dengan cara ini partikel lebih cepat mengendap dimana
tidak terkontaminasi oleh partikel lambat seperti yang terjadi pada sentrifugasi
sederhana.
Dalam pemisahan isopiknik, disebut juga pemisahan kesetimbangan,
partikel dipisahkan atas dasar kepadatannya. Ukuran partikel hanya mempengaruhi
tingkat dimana partikel bergerak sampai kepadatannya sama sebagai media gradien
sekitarnya. Kepadatan media gradien tersebut harus lebih besar dari densitas
partikel yang dipisahkan.
Teknik sentrifugasi telah dimanfaatkan baik untuk keperluan penelitian,
misalnya pada bidang biologi sel dan biologi molekular, maupun untuk bidang
peternakan, misalnya dalam pemeriksaan darah. Oleh karena itu, diperlukan
praktikum sentrifuse untuk meningkatkan skill teknik laboratorium.
Tujuan

Praktikum ini bertujuan memisahkan campuran larutan menjadi dua bagian,


yaitu filtrat dan residu. Selain itu, untuk mengetahui teknik sentrifuse campuran
larutan yang baik dan benar.

MATERI DAN METODE

Materi

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah mikro sentrifuse, makro
sentrifuse, gelas kimia, tabung sentrifuse, tabung eppendorf, pipet tetes, minitube,
tip, pipet mikro, dan timbangan. Sedangkan, bahan yang digunakan adalah aquades,
cairan rumen, HgCl, H2SO4, dan formaldehide.

Metode

Mikrosentrifuse

Cairan rumen disiapkan lalu dimasukkan ke dalam 15 tabung eppendorf


masing- masing sebanyak satu ml. Setiap lima tabung diberi satu perlakuan.
Perlakuan terdiri dari penambahan HgCl2, H2SO4, dan formaldehide sebanyak tiga
tetes. Lalu, tiga tabung eppendorf ditimbang dan diisi aquades seberat dengan
tabung eppendorf perlakuan. Kemudian, disentrifuse selama 1 menit. Lalu, ukur
volume filtratnya.

Makrosentrifuse

Cairan rumen disiapkan lalu dimasukkan dan ditimbang ke dalam 3 tabung


sentrifuse masing- masing tiga per empat bagian dengan berat yang sama pada
semua tabung. Setiap satu tabung diberi satu perlakuan. Perlakuan terdiri dari
penambahan HgCl2, H2SO4, dan formaldehide sebanyak tiga tetes. Lalu, saru
tabung sentrifuse ditimbang dan diisi aquades seberat dengan mini tube perlakuan.
Kemudian, disentrifuse selama 1 menit. Lalu, ukur volume filtratnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Dibawah ini merupakan hasil pengukuran volume cairan rumen.


Pengukuran menggunakan alat mikrosentrifuse. Hasil pengukuran didapat dengan
mengukur volume filtrat. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1 Hasil Pengukuran Volume Cairan Rumen Menggunakan Mikrosentrifuse
Perlakuan Kecepatan (rpm)
(ml) 3000 5000 8000 10.000 13.000
HgCl2 0.66 0.71 0.77 0.8 0.8
Formaldehyde 0.63 0.78 0.71 0.78 0.83
H2SO4 0.73 0.76 0.77 0.77 0.84

Dibawah ini merupakan hasil pengukuran volume cairan rumen.


Pengukuran menggunakan alat makrosentrifuse. Hasil pengukuran didapat dengan
mengukur volume filtrat. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2 Hasil Pengukuran Volume Cairan Rumen Menggunakan Makrosentrifuse
Perlakuan (ml) Kecepatan 3000 rpm
HgCl2 24.21
Formaldehyde 24.55
H2SO4 23.30

Pembahasan

-Prinsip kerja sentrifugasi


Sentrifugasi ialah proses pemisahan partikel berdasarkan berat partikel
tersebut terhadap densitas layangnya (bouyant density). Dengan adanya gaya
sentrifugal maka akan terjadi perubahan berat partikel dari keadaan normal pada 1
xg (sekitar 9,8 m/s2) menjadi meningkat seiring dengan kecepatan serta sudut
kemiringan perputaran partikel tersebut terhadap sumbunya. Pada pemisahan,
partikel yang densitasnya lebih tinggi daripada pelarut turun (sedimentasi), dan
partikel yang lebih ringan mengapung ke atas. Perbedaan densitas yang tinggi,
membuat partikel bergerak lebih cepat. Jika tidak terdapat perbedaan densitas
(kondisi isoponik), partikel tetap setimbang.
Pemisahan sentrifugal menggunakan prinsip dimana objek diputar secara
horizontal pada jarak tertentu. Apabila objek berotasi di dalam tabung atau silinder
yang berisi campuran cairan dan partikel, maka campuran tersebut dapat bergerak
menuju pusat rotasi, namun hal tersebut tidak terjadi karena adanya gaya yang
berlawanan yang menuju kearah dinding luar silinder atau tabung, gaya tersebut
adalah gaya sentrifugasi. Gaya inilah yang menyebabkan partikel – partikel menuju
dinding tabung dan terakumulasi membentuk endapan.

-Fungsi jenis2 sentrifugasi


Ada beberapa fungsi sentrifugal dalam pemisahan bioteknologi. Pertama,
pemisahan (padat/cair, padat/cair/cair dan padat/padat/cair) Sentrifugasi dapat
digunakan untuk pemisahan padat – cair menyediakan padatan berat dari cairan.
Centrifuge juga dapat digunakan untuk memisahkan fase berat, dan dua fasa cair
ringan, dengan salah satu fase ringan yang lebih ringan dari lainnya. Padatan dapat
lebih ringan dari cairan dan pemisahan adalah dengan flotasi dari fase padat
terdispersi.
Kedua, klasifikasi urutan berdasarkan ukuran dan densitas Centrifuge
digunakan untuk mengklasifikasikan padatan dengan ukuran yang berbeda. Salah
satu aplikasi adalah untuk mengklasifikasikan kristal berbagai ukuran yang
berbeda, dengan kehalusan ukuran submikron dengan fase ringan dan hanya
mempertahankan ukuran yang lebih besar pada fase berat yang dipisahkan. Salah
satu dari padatan dipisahkan menjadi produk. Sebagai contoh, kristal yang lebih
besar dapat menjadi kristal produk sedangkan kristal halus yang kembali ke
kristalisator untuk tumbuh kristal yang lebih besar. Aplikasi lain yang serupa adalah
untuk mengklasifikasikan ukuran puing – puing sel yang lebih kecil dalam fase cair
dari berat produk setelah homogenisasi sel.
Ketiga, menghilangkan partikel kebesaran dan asing (Degritting). Degritting
mirip dengan klasifikasi di mana partikel yang tidak diinginkan, lebih besar atau
lebih padat, ditolak diendapan, dengan produk (lebih kecil atau kurang padat)
meluap di fase cair yang lebih ringan. Situasi lain adalah dimana partikel yang tidak
diinginkan lebih kecil ditolak dalam fase cair ringan, dan padatan berat yang
berguna diselesaikan dengan fase berat.
Keempat, penebalan atau menghapus konsentrasi cair. Centrifuge sering
digunakan untuk berkonsentrasi fase padat dengan pengendepan dan pemadatan,
menghilangkan fase cairan berlebih di overflow. Ini mengurangi volume produk
dalam pengolahan berkonsentrasi padatan.
Kelima, pemisahan kotoran dengan mencuci atau pengenceran (repulping)
dengan suspensi pekat yang mengandung kontaminan seperti garam dan ion, itu
diencerkan dan dicuci sehingga kontaminan dilarutkan dalam cairan pencuci.
Selanjutnya, suspensi tersebut disentrifugasi untuk menghilangkan cairan pencuci
dengan kontaminan terlarut atau padatan tersuspensi halus. Selanjutnya, produk
dapat lebih terkonsentrasi dengan sentrifugasi.

-Bahas hasil

-Jelaskan perbedaan hasil dari kedua jenis sentrifugasi dan perlakuan yang
dilakukan

-Mengapa posisi sentrifuse harus seimbang


prinsip kerja alat ini adalah pemisahan dan putaran tertentu, dan menimbulkan gaya
sentrifugasi (medan gerak) yang akan menggabungkan antara partikel yang sejenis.
Dalam penggunaannya, volume sampel yang dimasukkan ke dalam tabung harus
sebanding dengan tabung yang lian. Tabung yang diletakkan dalam sentrifuge harus
berhadapan dan dalam jumlah yang genap, agar kecepatan dan gaya sentrifugal bisa
konstan. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap kerja alat, kecepatan, dan
hasilnya. Jika jumlah tabung yang digunakan ganjil, kecepatan yang dihasilkan alat
tidak akan maksimal, selain itu ada kemungkinan alat menjadi rusak dan tabung
terpental dari tempatnya kemudian pecah.

-Fungi hgcl, h2so4, dan formaldehide yg ditambahkan pada cairan rumen


SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Andaka dan Ganjar. 2011. Hidrolisis Ampas Tebu menjadi Furfural dengan
Katalisator Asam Sulfat. Jurnal Teknologi. 4 (2): 180-188.
Dewati dan retno. 2010. Kinetika Reaksi Pembuatan Asam Oksalat dari Sabut
Siwalan dengan Oksidator H2O2. Jurnal Teknologi.10 (1): 29-37.
Faisol A, Rizka F, dan Tiara N. 2015. Pengaruh Konsentrasi NaOH dan waktu
Peleburan pada Pembuatan Asam Oksalat dari Ampas Tahu. Jurnal Teknik
Kimia. 3(21): 9-15.
Irmawaty S, Edia R, Bendiyasa I M. 2009. Kinetika Reaksi pada Pembuatan
Glifosat dari N-PMIDA (Neophosphonomethyl Iminodiacetic Acid) dan
H2O2 dengan Katalisator Pd/Al2O3. Jurnal Rekayasa Proses. 3(2):45-49.
Khasani. 2009. Prosedur Alat- Alat Kimia. Yogykarta(ID): Liberty.
Yantika R, Tetra N O, Alif A, dan Emriadi. 2014. Pengaruh Elektrolit H2SO4
Terhadap Sifat Listrik Elektroda Campuran Zeolit dari Bottom Ash dan Resin.
Jurnal Kimia. 3(40): 24- 28.

Agus Budiman. 2009. Metode Sentrifugasi untuk pemisahan biodiesel dalam proses
pencucian. Jurnal riset industry. III :173-178.
Triarjo, Sugeng R, Anwar M, dan Edy M. 2016. ANALISIS KERUSAKAN
CENTRIFUGE (XD-301) PADA PROSES PEMISAHAN URANIL NITRAT
SEKSI 300 INSTALASI PCP. 16(9): 13-20
LAMPIRAN